E. Restorative Justice
3. Restorative Justice Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia
Sistem pemidanaan Indonesia masih belum mampu lepas dari hukum pidana peninggalan colonial Belanda, yaitu ‘'Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch-Indie’ sebagai aturan pidana materiil di Indonesia lewat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP.148 Sistem pemidanaan yang dirumuskan ketentuan pasal 10 KUHAP masih menjunjung sistem retributive, sebagai balasan atas kejahatan yang dilakukan pelaku kejahatan.149 Pemidanaan retributive bertujuan memberi efek jera agar pelaku kapok dan tidak mengulangi lagi kejahatannya termasuk,150 alat preventie yang mencegah lahirnya kejahatan serupa.151 Sayangnya, pemidanaan retributive gagal memulihkan kerugian dan/ penderitaan
146 Ibid, hlm. 9.
147 Ibid, hlm. 7
148 Bambang Waluyo, Op.Cit., hlm. 147.
149 Dede Kania, Pidana Penjara Dalam Pembaharuan Hukum Pidana Indonesia, Jurnal Yustisia. Vol. 3. No. 2. 2014, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, hlm. 19.
150 Mohammad Najih, Politik Hukum Pidana Konsepsi Pembaharuan Hukum Pidana dalam Cita Negara Hukum, Malang: Setara Press, 2014, hlm. 47.
151 Topo Santoso & Eva Achjani Zulva, Kriminologi, Jakarta: PT. Raja Graindo Persada, 2013, hlm. 22
55 yang dialami korban sebab,152 tidak mampu mengakomodasi kerugian dan penderitaan yang dialami oleh korban kejahatan.153
Untuk menyikapi dan mencegah lebih jauh dominasi hukum barat yang beraliran pembalasan (Retributive), kita perlu merumuskan dan memperbaharui ketentuan-ketentuan penegakan hukum pidana yang sejalan dengan prinsip keadilan masyarakat kita sendiri yang dilaksanakan melalui pendekatan Restorative Justice.154 Di Indonesia sendiri, semangat keadilan restoratif sebenarnya sudah ada hukum adat sebagai pioneer aplikasi keadilan restoratif.155 Meskipun secara hukum tertulis belum ada satupun ketentuan hukum yang mengatur pemberlakuan Restorative Justice pada sistem peradilan pidana Indonesia secara ‘explicit’,156 antara lain:
a. Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman tepatnya pada
152 Yusona Piadi, Rida Ista Sitepu, Implementasi Restoratif Justice dalam Pemidanaan Pelaku Tindak Pidana Korupsi, Jurnal Rehten: Riset Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Vol. 1. 2019.
Universitas Nusa Putra, Sukabumi, hlm. 4.
153 Bambang Waluyo, Op.Cit., hlm. 148.
154 Hanafi Amrani, Politik Pembaharuan Hukum Pidana, Yogyakarta: UII Press, 2019, hlm.13-14.
155 Eva Achjani Zulfa & Indriyanto Seno Adji, Pergeseran Paradigma Pemidanaan, Bandung: Lubuk Agung, 2011, hlm. 67
156 Hanafi Arief, Ningrum Ambarsari, Penerapan Prinsip Restorative Justice Dalam Sistem Peradilan Pidana di Indonesia, Jurnal Al’Adl, Volume X Nomor 2, Juli 2018, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari, Banjarmasin, hlm. 183.
56 Pasal 5 dengan tegas menyebutkan bahwa: “Hakim wajib menggali nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat (the living law atau local wisdom)”.157
b. Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 1 angka 6, Pasal 5 ayat (1), (2), (3) dan Pasal 8 ayat (1) secara jelas telah mengatur “Keadilan restoratif serta pengutamaan pendekatan keadilan restoraif terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana”, hal itu dapat kita lihat dalam.158
Sedangkan disisi peraturan formil atau hukum acara, pengupayaan keadilan restoratif sudah bukan merupakan suatu hal yang asing karena saat ini semua lembaga penegak hukum di Indonesia sudah dibekali aturan instansional dalam menerapan keadilan restoratif seperti:
a. Tingkat penyidikan
Didalam sistem peradilan pidana, Kepolisian mempunyai fungsi penyidikan dan penyelidikan.159 Kepolisian Republik Indonesia terkait implementasi keadilan restoratif merujuk kepada Surat Edaran Kepala Kepolisian Republik Indonesia
157 Kristian & Christine Tanuwijaya, Penyelesaian Perkara Pidana Dengan Konsep Keadilan Restoratif (Restorative Justice) Dalam Sistem Peradilan Pidana Terpadu Di Indonesia, Jurnal Mimbar Justitia Vol. I No. 02 Edisi Juli-Desember 2015, Universitas surya kancana, Kabupaten Cianjur, hlm. 60
158 Gilang Ramadhan Suharto, Restorative Justice Peradilan Pidana Anak Di Indonesia, Jurnal Lex Crimen Vol. IV/No. 1/Jan-Mar/2015, Universitas sam ratulangi, Manado, hlm.39.
159 Iwan Hertanto, Penegakan Hukum Tindak Pidana Ringan Oleh Polri Melalui Pendekatan Restorative Justice (Studi di Wilayah Hukum Polres Cilacap), Jurnal Idea Hukum Vol.
4. No. 1. 2018, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, hlm. 895.
57 No. 8/VII/2018 yakni, “Pelaksanaan keadilan restoratif oleh kepolisian dalam tingkat penyidikan dan/ penyelidikan”,160 dilaksanakan dengan pertimbangan:
1) Tidak menimbulkan keresahan masyarakat dan tidak ada penolakan masyarakat.;
2) Tidak berdampak konflik sosial;
3) Adanya pernyataan dari semua pihak yang terlibat untuk tidak keberatan dan melepaskan hak menuntutnya dihadapan hukum;
4) Prinsip pembatas;
a) Pada pelaku;
i. Pelaku bukan residivis
ii. Tingkat kesalahan pelaku relatif tidak berat, yakni kesalahan (schuld atau Mens Rea dalam bentuk kesengajaan sebagai maksud atau tujuan;
iii. Surat pernyataan perdamaian (akte van dading) dan penyelesaian perselisihan para pihak yang berperkara;
iv. Pelaku tidak keberatan atas tanggungjawab, ganti rugi, atau dilakukan dengan sukarela;
v. Semua tindak pidana dapat dilakukan restorative justice terhadap kejahatan umum yang tidak menimbulkan korban jiwa;
b) Pada tindak pidana dalam proses;
i. Penyelidikan;
ii. Penyidikan sebelum SPDP dikirim ke penuntut umum.161 b. Tingkat Penuntutan
Kejaksaan adalah lembaga peradilan satu-satunya yang berwenang menyelenggarakan penuntutan.162 Pendekatan keadilan restoratif di tingkat penuntutan merujuk kepada ketentuan Peraturan Jaksa Agung Nomor: 15 tahun
160 Olivia Anggie Johar, Fahmi, Selamat Parlindungan, Pelaksanaan Surat Edaran Kapolri No. 8/VII/2018 tentang Penerapan Restorative Justice Dalam Perkara Pidana di Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, Riau Law Jurnal, Vol. 5. No. 2. 2021, Universitas Riau, Riau, hlm. 128.
161 Alfano Ramadhan, Diskresi Penyidik Polri Sebagai Alternatif Penanganan Perkara Pidana, Jurnal Lex Renaissan Vol. 6. No. 1. 2021, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, hlm.
37.
162 Persatuan Jaksa Indonesia, Luncurkan Case Management system, Jampidum Targetkan 1000 Perkara dapat diselesaikan Melalui Pendekatan Restorative Justice, http://pji.kejaksaan.go.id/index.php/home/berita/1527, access: 30 November 2021.
58 2020.163 Berdasarkan peraturan Jaksa Agung tersebut, “Implementasi keadilan restoratif berbentuk penghentian penuntutan apabila telah ada perdamaian diantara pihak yang berperkara”, dengan disertai pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1) Tersangka baru pertama kali melakukan tindak pidana;
2) Tindak pidana yang dilakukan oleh tersangka diancam dengan pidana denda atau pidana penjara tidak lebih dari lima tahun;
3) Kerugian yang dialami oleh korban tidak lebih dari Rp. 2.500.000,00 (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah).164
c. Pada tingkat pengadilan
Mahkamah Agung menerbitkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 02 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda Dalam KUHP.165 Aturan ini memerintahkan kepada pengadilan agar “Dalam menerima perkara Pencurian, Penipuan, Penggelapan, Penadahan dari Penuntut Umum, wajib memperhatikan nilai barang atau uang yang menjadi obyek perkara yaitu sebesar Rp 2.500.000,00 (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah)”.166
163 Gede Putera Perbawa, Prija Djatmika, Ismail Navianto, Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Eksistensi Asas Dominus Litis Dalam Perspektif Profesionalisme Dan Proporsionalisme Jaksa Penuntut Umum, Jurnal Arena Hukum Vol. 7. No.3. 2014, Universitas Brawijaya, Malang, hlm. 4.
164 Jawa Pos. Pakar Hukum dukung Terbitnya Peraturan Kejaksaan Nomor 15/2020,
https://www.jawapos.com/nasional/19/08/2020/pakar-hukum-dukung-terbitnya-peraturan-kejaksaan-nomor-15-2020/, aceess: 30 November 2021.
165 Agus Sahbani. Mahkamah Agung Terbitkan Peraturan Batasan Tindak Pidana Ringan (Tipiring), https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4f4ca3a934d9b/ma-terbitkan-perma-batasan-tipiring/, aceess: 30 November 2021.
166 Berlian Simarmata, Eksistensi Perma Nomor 02 Tahun 2012 Tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan Dan Jumlah Denda Dalam Kuhp Dan Tantangan Dalam
59 d. Yurisprudensi
Terakhir, dalam tingkat yurisprudensi, “Dalam konteks apabila terdapat perkara yang sudah diselesaikan menurut hukum adat maka, penyelesaian perkara menurut hukum adat tersebut harus diakui dan/ dilegalisasi oleh negara melalui pengadilan”, contohnya adalah sebagai berikut:
1) Putusan MA No. 984 K/Pid/1996 tertanggal 30 Januari 1996.
Dalam putusan ini, majelis menyatakan “Jika pelaku (dader) perzinahan telah dijatuhi sanksi atau mendapat reaksi adat oleh para pemangku desa adat, dimana hukum masih dihormati dan hidup subur maka, tuntutan oleh jaksa harus dinyatakan tidak dapat diterima”.
2) Putusan MA No. 1644K/Pid/1988 tertanggal 15 Mei 1991.
Dalam putusan ini majelis mempertimbangkan “Seseorang yang telah melakukan perbuatan yang menurut hukum yang hidup di masyarakat (Hukum Adat) di daerah tersebut merupakan suatu perbuatan yang melanggar hukum adat dan para mekuka adat telah memberikan sanksi adat terhadap pelaku dan pelaku sudah menjalani sanksi adat tersebut maka, pelaku tidak dapat diajukan lagi (untuk kedua kalinya) sebagai terdakwa dalam persidangan badan peradilan negara”.167
Penerapannya, http://www.ust.ac.id/assets/file/penelitian/dr-berlian-simarmata-shm-hum_1519267116.pdf, access 30 November 2021.
167 Erdianto Effendi, Hukum Pidana Adat (Gagasan Pluralisme dalam hukum pidana dan penerapan hukum menurut keyakinan hukum), Bandung: PT. Refika Aditama, 2018, hlm. 30.