• Tidak ada hasil yang ditemukan

C. Guru Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam

Dalam pendidikan, guru merupakan kunci utama dalam agenda proses kemanusiaan (pendidikan). Dalam pendidikan manapun guru jadikan sebagai ujung tombak pendidikan, guru harus mampu secara evolutif membangun manusia memiliki norma-norma hidup dan berkata-kata. Sehubungan dengan itu Allah telah memberikan petunjuk kepada para rasul tentang apa yang seharusnya disampiakan kepada umat atau para generasi penerus. Dalam sura al-Jumu’ah yang artinya: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.

(QS.Al-Jumu’ah:2)

Sementara dalam proses belajar-mengajar guru mempunyai tugas untuk mendorong, membimbing dan memberikan fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat segala sesuatu yang terjadi dalam sistem pendidikan, Guru PAI memiliki landasan yang teramat kuat akan keharuan kepemilikan profesional karena Islam adalah agama yang mementingkan keprofesionalan.

Dalam Islam setiap pekerjaan harus dilakukan secara profesional dalam arti harus dengan benar dan benar itu hanya mungkin dilakukan olehorangahli.Rasulullahsaw.bersabda: Bila sesuatu urusan di kerjakan oleh orang yang tidak ahli maka tunggulah kehancurannya. (H.R. Bukhari). Selain itu dasar dari kepemilikan kemampuan atau keharusan kepemilikan kemampuan atau kompetensi seorang guru terdapat dalam al-Qur'ansurat (Az-Zumar: 9) ...Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS. Az-Zumar : 9). Al-Qur'an sebagai landasan paradigma pemikiran pendidikan Islam, telah banyak mengungkapkan analisis kependidikan yang memerlukan

perenungan mendalam, terutama bagi praktisi pendidikan, pemikiran pendidikan yang berlandaskan berdasarkan kepada wahyu Tuhan menuntut terwujudnya suatu sistem pendidikan yang komprehensif, meliputi ketiga pendekatan dalam istilah ilmu pendidikan yaitu kognitif, affektif, dan psikomotorik. Ketiga pendekatan yang nantinya akan mampu melahirkan pribadi-pribadi pendidik yang akan berperan dalam menginternalisasikan nilai-nilai Islam dan mampu mengembangkan peserta didik ke arah pengalaman nilai-nilai Islam secara dinamis dan fleksibel dalam batas-batas konfigurasirealitaswahyuAllahSWT.

Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi (alam). Khalifah berarti memegang amanat, mandataris dan kuasa untuk merealisir dan menjabarkan kehendak dan kekuasaan Allah di alam. dalam hubungannya dengan fungsi rububiyah (kependidikan) terhadap alam manusia, maka manusia sebagai khalifah di bumi mendapat tugas kependidikan, dan hal itu terkandung di dalam firman Allah (Q.S al-Baqarah : 31) “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!". (QS.al-Baqarah:31).

Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu dan pengetahuan dan bertugas sebagai pendidik karena memiliki ilmu pengetahuan dia bertugas sebagai pendidik. Pendidik memiliki tugas yang mulia sehingga Islam memandang pendidikan mempunyai derajat yang lebih tinggi dari pada orang-orang yang tidak berilmu dan orang-orang yang bukan sebagaipendidik.

Guru merupakan salah satu komponen yang penting dalam rangka mewujudkan suatu proses belajar mengajar. Fungsi guru di sini akan menyampaikan, memberikan dan mentransformasikan ilmu kepada anak didik dari apa yang belum bisa menjadi bisa, apa yang belum tahu menjadi tahu, sehingga proses belajar mengajar itu dikatakan berhasil.

26

Guru sangat berperan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, oleh karena itu sebagai seorang guru harus dapat menempatkan diri sebagai tenaga profesional yang baik, bertanggung jawab sesuai dengan tugas profesinya.

Selain itu guru merupakan instrumen proses pendidikan sebab salah satu faktor penentu keberhasilan terletak pada eksistensi guru yang mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam arti seorang yang bertanggung jawab menghantarkan ke arah kedewasaan dan kematangan.

Guru tidak semata-mata sebagai “pengajar” yang bertugas dalam “transfer of knowledge” tetapi juga sebagai “pendidik” yang memiliki tugas “transfer of values” dan sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan membimbing siswa dalam belajar.

Adapun figur yang paling diteladani sebagai guru dalam pribadi Rasulullah saw. Allah sendiri telah menetapkan dalam firman-Nya :

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al-Ahzab : 21).

Pengertian guru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang yang pekerjaanya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.28 Dalam terminologi Islam, Asrarun Ni’am menjelaskan bahwa, guru diistilahkan dengan murabby, satu akar kata dengan rabb yang berarti Tuhan. 29 Sebutan guru atau pendidik banyak persamaannya karena dapat disesuaikan dengan kekhususannya masing-masing. Dalam UUSPN Tahun 2003 disebutkan

bahwa “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai

guru, dosen, konselor, pamong belajar widyaiswara, tutor, instruktur,

28

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007) ed. 3, Cet 4, Hal. 469.

29 Asrarun Ni’am , M.H, Membangun Profesionalitas Guru: Analisis Kronologis atas Lahirnya UU Guru dan Dosen (Jakarta: eLSAS, 2006) hal. 3.

fasilisator dan sebutan lainnya sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyeleggarakan pendidikan.30

Zakiyah Darajat berpendapat “Guru adalah seseorang yang memiliki

kemampuan dan pengalaman yang dapat memudahkan dalam melaksanakan perannya membimbing muridnya”.31

Ini berarti guru harus memiliki peran dan memiliki kemampuan membimbing muridnya. Bagaimana agar guru tersebut dapat memudahkan mendidik dan membimbinga anak didik, kuncinya adalah guru harus melalui pengalaman-pengalaman baik pengalaman pendidikan keguruan dan pengalaman mengajar. Oleh karena itu pengalaman mengajar sangatlah penting dalam pendidikan.

Menurut Muhaimin & Abd. Majid seperti dikutip dalam buku Strategi Belajar Mengajar bahwa “Guru adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaan, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah Swt., khalifah di bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.32Definisi di atas menunjukan bahwa guru bukan hanya sebagai pengajar tetapi juga sebagai pendidik, dan syarat seorang pendidik adalah ia harus dewasa, yang secara sadar membantu anak didik dengan maksud agar tercapai tujuan pendidikan. Seorang pendidik menuntun anak didiknya agar tidak hanya menguasai ilmu tetapi juga harus menguasai adab, tata karma dan sopan santun.

Sedangkan dalam Undang-undang tentang Guru dan Dosen, dalam ketentuan umum, secara fungsional menyebutkan bahwa, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada

30

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional (Direktorat Jendral Pendidikan Islam, Departemen Agama RI, 2006) hal. 5

31

Zakiyah Drajat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarata: Bumi Aksara, 1996) cet. 1. hal. 266

32

Pupuh Fathurahman & M. Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Strategi mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islam

(Bandung: Refika Aditama, 2007) hal. 44.

28

pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.33 Jadi guru adalah pendidik profesional maksudnya seorang yang sangat menguasai dalam profesinya. Dan mengajar adalah menjadi tugas utamanya bukan sebagai pekerjaan tambahan atau sampingan karena itu akan menggangu dalam tugasnya serta kedudukannya sebagai guru, guru juga harus memiliki kemampuan-kemampuan dan kode etik serta prinsip-prinsip supaya dapat memudahkannya dalam mendidik, mengajarkan, membimbing dan mengarahkan siswa agar tercapai tujuan-tujuan, baik tujuan instutisional, tujuan kulikuler, maupun tujuan nasional.

Sedangkan Pendidikan Agama Islam tujuan utamanya ialah membina dan mendasari kehidupan anak didik dengan nilai-nilai agama Islam dan sekaligus menjalankan ilmu agama Islam, sehingga ia mampu mengamalkan syariat Islam agar menjadi manusia yang bertaqwa dan berakhlak mulia.

Menurut M. Arifin, guru agama Islam adalah orang yang membimbing, mengarahkan dan membina anak didik menjadi manusia yang matang atau dewasa dalam sikap dan kepribadiannya sehingga tergambarlah dalam tingkah lakunya nilai-nilai agama Islam (M. Arifin, 1987: 100)

Muhammad Athiyah al-Abrasyi, sebagaimana dikutip oleh Samsul Nizar memberikan batasan tentang karakteristik guru agama Islam, yaitu:

b. Memiliki sifat zuhud, yaitu mencari keridaan Allah c. Bersih fisik dan jiwanya

d. Ikhlas dan tidak riya dalam melaksanakan tugasnya

e. Bersifat pemaaf, sabar, dan sanggup menahan amarah, terbuka, dan menjaga kehormatan

f. Mencintai peserta didik

g. Mengetahui karakter peserta didik

33

Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005, Tentang Guru Dan Dosen,, pasal I, Hal. 3.

h. Menguasai pelajaran yang diajarkannya dengan profesional

i. Mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi dan mampu mengelola kelas

j. Mengetahui kehidupan psikis peserta didik 34

Sementara itu Abdurrahman al-Nahlawi (memberikan gambaran tentang sifat-sifat pendidik muslim yaitu sebagai berikut:

a. Hendaknya tujuan, tingkah laku dan pola pikir guru tersebut bersifat

rabban

b. Hendaknya guru bersifat jujur menyampaikan apa yang diajarkannya c. Hendaknya guru senantiasa membekali diri dengan ilmu pengetahuan

dan kesediaan untuk membiasakan mengajarkannya

d. Hendaknya guru mampu menggunakan berbagai metode mengajar secara bervariasi dan menguasainya dengan baik serta mampu memiliki metode mengajar yang sesuai dengan materi pelajaran serta situasi belajar-mengajarnya

e. Hendaknya guru mampu mengelola siswa, tegas dalam bertindak serta meletakkan berbagai perkara secara profesional

f. Hendaknya guru mempelajari kehidupan psikis para pelajar selaras dengan masa perkembangannya ketika ia mengajar mereka sehingga guru dapat memperlakukan anak didiknya sesuai dengan kemampuan akal dan kesiapan psikis mereka

g. Hendaknya guru tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang mempengaruhi jiwa dan pola berpikir angkatan muda

h. Hendaknya guru bersifat adil di antara para pelajarnya, artinya guru tidak cenderung kepada salah satu golongan di antara mereka serta tidak mengistimewakan seseorang di antara lainnya35

34

Samsul Nizar, 2002: 45-46),

35

30

Pengertian guru Pendidikan Agama Islam—atau kerap disingkat menjadi guru agama Islam—adalah orang yang memberikan materi pengetahuan agama Islam dan juga mendidik murid-muridnya, agar mereka kelak menjadi manusia yang takwa kepada Allah swt. Di samping itu, guru agama Islam juga berfungsi sebagai pembimbing agar para murid sejak mulai sekarang dapat bertindak dengan prinsip-prinsip Islam dan dapat mempraktikkan syariat Islam 36

Menurut M. Arifin, guru agama Islam adalah orang yang membimbing, mengarahkan dan membina anak didik menjadi manusia yang matang atau dewasa dalam sikap dan kepribadiannya sehingga tergambarlah dalam tingkah lakunya nilai-nilai agama Islam (M. Arifin, 1987: 100)

Maka penulis menyimpulkan bahwa guru pendidikan agama Islam ialah pendidik profesional yang mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam, di mana tugas utamanya ialah mendidik, mengajar dan membimbing siswa agar siswa mengamalkan ajaran agama Islam, berakhlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Dokumen terkait