BAB V Bab ini berisi penutup yang mencakup kesimpulan hasil penelitian dan saran-saran.
KAJIAN PUSTAKA
A. Hasil Pembelajaran IPS
1. Pengertian Hasil Belajar
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, penilaian terhadap sikap, nilai-nilai pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau dalam berbagai aspek kehidupan. Belajar juga merupakan proses berbuat melalui pengalaman dengan melihat, mengamati dan memahami sesuatu yang dipelajari (Khanifatul, 2012: 14). Winkel dalam Basri (2015: 17) belajar adalah suatu aktivitas mental dan psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, katerampilan, dan sikap.
Menurut Gagne dalam Dimyati (2006: 10) belajar merupakan kegiatan yang kompleks, hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai. Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Dua konsep ini menjadi terpadu dalam suatu kegiatan dimana terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta siswa dengan siswa pada saat pembelajaran berlangsung. Bagi Gegne, belajar dimaknai sebagai salah satu upaya memperoleh motivasi dalam pengetahuan , keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku. Gegne
juga menekankan bahwa belajar sebagai salah satu upaya memperoleh pengetahuan atau keterampilan melalui intruksi. Intruksi yang dimaksud adalah perintah atau arahan dan bimbingan dari seorang pendidik atau guru.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku. Tingkah laku tersebut ditetapkan dalam pengertian yang baik, yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan, maupun penilaian terhadap sikap, kebiasaan, pengetahuan maupun kecakapan-kecakapan.
Berdasarkan pengertian belajar menurut para ahli, dapat dipahami tentang makna hasil belajar yaitu perubahan-perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik yang menyangkut aspek koknitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil belajar. Selain itu Nawawi dalam Brahim (2007: 39) yang menyatakan bahwa hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pelajaran tertentu. Secara sederhana yang dimaksud dengan hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Karena belajar itu sendiri merupakan suatu proses dari seorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relatif menetap. Dalam kegiatan pembelajaran atau kegiatan intruksional, biasanya guru menetapkan tujuan belajar. Anak yang
berhasil dalam belajar adalah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan intruksional.
Menurut Hamalik (2014: 160), evaluasi hasil belajar memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:
a. Memberikan informasi tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajar melalui berbagai kegiatan belajar. b. Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk membina
kegiatan-kegiatan belajar siswa lebih lanjut, baik keseluruhan kelas maupun masing-masing individu.
c. Memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa, menetapkan kesulitan-kesulitannya dan menyarankan kegiatan-kegiatan perbaikan.
d. Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendorong motivasi belajar siswa dengan cara mengenal kemajuannya sendiri dan merangsangnya untuk melakukan upaya perbaikan.
e. Memberikan informasi tentang cara bertingkah laku, sehingga akan membantu siswa dalam perkembangannya menjadi warga masyarakat dan pribadi yang berkualitas.
f. Memberikan informasi yang tepat untuk membimbing siswa memilih sekolah atau jabatan yang sesuai dengan kecakapan,minat dan bakatnya.
Syah dalam Lilik (2009: 20) menyatakan bahwa wujud hasil belajar dapat dilihat adanya sembilan wujud perubahan, yaitu:
a. Kebiasaan
Salah satu wujud hasil belajar adalah adanya perubahan kebiasaan dalam diri individu. Orang yang berhasil belajar akan mengurangi kebiasaan-kebiasaan yang tidak diperlukan. Keberhasilan belajar akan menjadikan seseorang berperilaku positif yang relativ menetap dan optimis.
b. Keterampilan
Keterampilan adalah kegiatan yang berhubungan dengan urat syaraf dan otot yang bersifat motorik. Kegiatan ini membutuhkan koordinasi gerak yang teliti dan memerlukan kesadaran yang tinggi. Oleh sebab itu, hasil belajar dapat dilihat tingkat keterampilan yang ada dalam diri individu.
c. Pengamatan
Pengamatan dapat diartikan proses menerima, menafsirkan, dan mengartikan rangsangan yang masuk melalui panca indera, terutama mata dan telinga. Seseorang yang belajar akan menghasilkan pengamatan yang objektif dan benar.
d. Berfikir asosiatif dan daya ingat
Seseorang yang belajar akan menjadikan dirinya mampu berpikir asosiatf dan meningkatkan daya ingat. Berpikir asosiatif maksudnya berpikir untuk menghubungkan sesuatu dengan sesuatu
yang lainnya. Orang yang belajar akan memiliki daya ingat yang lebih baik.
e. Berfikir rasional dan kritis
Proses belajar akan menjadikan seseorang dapat berfikir rasional dan kritis. Berpikir rasional berarti mampu menggunakan logika untuk menentukan sebab dan akibat, menganalisis, menyimpulkan bahkan meramalkan sesuatu.
f. Sikap
Sikap adalah kecenderungan yang bersifat relativ menetap untuk mereaksi terhadap suatu hal. Hasil belajar akan ditandai dengan munculnya kecenderungan baru dalam diri seseorang dalam menghadapi suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya. g. Inhibisi
Inhibisi dalam konteks belajar dapat diartikan kesanggupan individu untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu dan mampu memilih dan melakukan tindakan lain yang lebih baik. Hasil belajar dapat dilihat adanya kesanggupan individu dalam melakukan sesuatu secara baik.
h. Apresiasi
Hasil belajar dapat dilihat adanya apresiasi dalam diri individu yang belajar. Orang belajar akan muncul kemampuan untuk menilai dan menghargai terhadap suatu objek tertentu.
Hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar pada akhirnya difungsikan dan ditujukan untuk keperluan berikut ini (Dimyati, 2006: 200):
a. Untuk diagnostik dan pengembangan, maksudnya adalah penggunaan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar sebagai dasar pendiagnosisan kelemahan dan keunggulan siswa beserta sebab- sebabnya. Berdasarkan pendiagnosisan inilah guru mengadakan pengembangan kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
b. Untuk seleksi, hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar seringkali digunakan sebagai dasar untuk menentukan siswa-siswa yang paling cocok untuk jenis jabatan atau jenis pendidikan tertentu. c. Untuk kenaikan kelas, menentukan apakah seorang siswa dapat
dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi atau tidak. Berdasarkan hasil dari kegiatan evaluasi hasil belajar siswa mengenai sejumlah isi pelajaran yang telah disajikan dalam pembelajaran, guru dapat dengan mudah membuat keputusan kenaikan kelas berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Untuk penempatan, agar siswa dapat berkembang sesuai dengan tingkat kemampuan dan potensi yang dimilikinya, perlu dipikirkan ketepatan penempatan siswa pada kelompok yang sesuai. Guru dapat menggunakan hasil dari evaluasi hasil belajar sebagai dasar pertimbangan.