• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Hasil Belajar

Hasil belajar pada dasarnya adalah hasil yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan belajar, di mana hasil tersebut merupakan gambaran penguasaan pengetahuan dan keterampilan peserta didik yang berwujud skor dari hasil tes yang digunakan sebagai pengukur keberhasilan hasil belajar juga merupakan indikator tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran yang telah diberikan sebelumnya oleh guru.

Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai seseorang setelah belajar yang ditandai dengan perubahan pada diri orang tersebut. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan tingkat hasil belajar dan penguasaan. Untuk mengukur hasil belajar harus sesuai dengan tujuan dengan pencapaian kognitif yang disesuaikan dengan kemampuan siswa jika dikaitkan dengan mata pelajaran bahasa Indonesia, maka hasil belajar bahasa Indonesia merupakan hasil yang dicapai seseorang setelah belajar bahasa Indonesia yang ditandai dengan perubahan tingkat hasil belajar penguasaan materi yang telah diajarkan.

Hasil belajar menurut Gagne dan Driskol dalam Djamaah Sopah (2000:

126) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar yang dapat diamati melalui penampilan siswa (Learners Performance). Menurut Dick dan Reisert dalam Djamaah Sopah

(2000: 126) hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran. Mereka membedakan hasil belajar atas 4 macam yaitu pengetahuan, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, dan sikap.

Kemampuan berpikir yang logis, minat terhadap pelajaran bahasa Indonesia dan sikap terhadap pelajaran bahasa Indonesia berkorelasi secara signifikan dengan hasil belajar bahasa Indonesia.

B. Model Pengajaran Langsung

Belajar merupakan proses internal yang kompleks, yang terlihat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif afektif dan psikomotor. Proses belajar yang mengaktualisasikan ranah-ranah tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu (Dimyati dan Mujiono, 1999), ranah kognitif, psikomotor dan afektif merupakan landasan untuk memperoleh hasil maupun kualitas belajar yang lebih baik. Sebelum siswa memperoleh dan memproses sejumlah besar informasi, mereka harus menguasai strategi belajar, sebelum besar informasi, mereka harus menguasai strategi belajar. Sebelum siswa berpikir secara kritis mereka perlu menguasai keterampilan dasar yang berkaitan dengan logika, membuat informasi dan mengenal ketidakobjektivan dalam presentasi.

Indara (2003) menjelaskan teori belajar yang paling banyak sumbangannya pada model pengajaran langsung adalah teori belajar sosial Bandura. Menurut Bandura sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan selektif kemudian mengingat dan meniru tingkah laku orang lain.

Tingkah laku manusia dapat dipelajari melalui pengamatan dari suatu model.

Menurut Kardi dan Nur (2000), model pengajaran langsung dirancang secara khusus atau mengembangkan belajar siswa tentang ―pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Pengetahuan deklaratif adalah merupakan pengetahuan tentang sesuatu, sedangkan pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu. Model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk memfasilitasi siswa mempelajari pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural yang diajarkan selangkah demi selangkah.

Menurut Murshell dan Nasution (1955) mengajar dapat dipandang sebagai menciptakan situasi di mana diharapkan anak-anak agar belajar dengan efektif. Situasi belajar ini adakalanya guru mengatakan apa yang harus dilakukan oleh anak-anak (direction), adakalanya ia membimbing atau membantu anak-anak dalam menyelesaikan rencana atau tugas masing-masing (guidance), pendekatan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan memperoleh informasi yang dapat diajarkan selangkah demi selangkah disebut modul pengajaran langsung (Kardi dan Nur, 2000).

Model pengajaran langsung yang memiliki fase-fase tertentu di mana setiap fase memberikan peluang yang besar kepada guru dan siswa untuk berperan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Menurut Puspilasari (2002). Model pengajaran langsung suatu pendidikan mengajar yang dapat membantu siswa mempelajari keterampilan dasar dan informasi yang dapat dipahami selangkah demi selangkah.

Pengajaran langsung mensyaratkan tiap detail keterampilan atau tiap detail informasi didefinisikan dengan rinci. Tiap keterampilan dasar atau informasi harus didemonstrasikan oleh guru dan diikuti fase pelatihan yang direncanakan dan dilaksanakan secara seksama.

Pengajaran langsung merupakan suatu pendekatan mengajar yang cocok apabila guru menginginkan siswa-siswa belajar pengetahuan deklaratif atau keterampilan tertentu. Pengajaran langsung adalah model yang berpusat pada guru dan mempunyai lima langkah yaitu menyiapkan siswa menerima pelajaran demonstrasi, pelatihan terbimbing, umpan balik dan pelatihan lanjut (mandiri).

Model pengajaran langsung mempunyai ciri-ciri, yaitu: (1) adanya tujuan pengajaran dan pengaruh model pada siswa termasuk prosedur penilaian hasil belajar, (2) sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pengajaran, (3) sistem pengelolaan dan lingkungan belajar yang diperlukan agar kegiatan pengajaran tertentu dapat berlangsung dan berhasil.

Pelaksanaan model pengajaran langsung dalam kegiatan pembelajaran memerlukan perencanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Meskipun tujuan pengajaran ini dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa. Model ini berpusat pada guru. Sistem pengolahan pengajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa terutama melalui memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab) yang terencana. Ini tidak berarti bahwa lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan

tinggi siswa mencapai prestasi belajar yang lebih baik dan kualitas belajar dapat ditingkatkan.

C. Langkah-langkah Pengajaran Langsung

Pada model pengajaran langsung seperti yang diuraikan oleh Kardi dan Nur (2000), terdapat lima tahapan penting, yakni (1) menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa, (2) mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan, (3) membimbing pelatihan, (4) mengecek pelatihan dan memberikan umpan balik, (5) memberikan kesempatan untuk pelatihan lanjutan dan penerapan.

Pada setiap tahap dari lima tahapan tersebut, guru memainkan peranan yang sangat strategis guna berlangsungnya proses pengajaran yang efektif.

Pengajaran yang efektif adalah tercapainya tujuan pengajaran yang telah ditetapkan.

Pada tahap awal misalnya; peran guru adalah menjelaskan Tujuan Pengajaran Khusus (TPK), memberikan informasi tentang latar belakang pelajaran pentingnya pelajaran, serta mempersiapkan siswa untuk belajar.

D. Pelaksanaan Pengajaran Langsung

Pelaksanaan pengajaran langsung dalam proses pembelajaran harus senantiasa berpedoman pada tahap-tahap atau langkah-langkah seperti yang telah diuraikan. Hal tersebut dimaksudkan agar sistematika pengajaran dapat berjalan sesuai program yang telah disusun.

1) Menjelaskan tujuan dan menyiapkan siswa

Kegiatan menyiapkan siswa dimaksud untuk menarik perhatian mereka, memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan dan mengingatkan kembali pada hasil belajar yang telah dimilikinya yang relevan dengan pokok pembicaraan yang akan dipelajarinya. Tujuan tersebut seperti yang dikemukakan oleh Kardi dan Nur (2000) dapat dicapai dengan jalan mengulang-ulang pokok-pokok pembicaraan pelajaran yang lalu ataupun dengan memberikan sejumlah pertanyaan dan latihan yang sesuai dengan materi yang telah diberikan. Dengan demikian, diharapkan siswa mampu memahami konsep yang diajarkan dengan baik.

2) Presentasi dan Demonstrasi

Kunci utama keberhasilan pengajaran langsung adalah menyajikan informasi sejelas mungkin dan mengikuti langkah-langkah demonstrasi yang efektif.

Pelaksanaan demonstrasi didasarkan pada asumsi bahwa sebagian besar yang dipelajari berasal dari mengamati cara yang dilakukan orang lain. Tidak peduli apakah cara yang dilakukan orang lain itu baik atau buruk. Hal ini berarti bahwa cara belajar dengan meniru orang lain dapat menghemat waktu.

3) Menyediakan waktu untuk latihan terbimbing

Latihan terbimbing harus diupayakan agar berjalan secara efektif dengan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pengajaran. Agar latihan terbimbing dapat terlaksana dengan baik, prinsip-prinsip yang dikemukakan Kardi dan Nur (2000), perlu dipertimbangkan, (1)

menugaskan siswa melakukan latihan singkat dan bermakna, (2) berikan pelatihan sampai benar-benar menguasai konsep keterampilan yang dipelajari, (3) hati-hati terhadap kelebihan dan kelemahan latihan berkelanjutan dan latihan terdistribusi, (4) perhatikan tahap-tahap awal pelatihan.

4) Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik

Istilah lain untuk kegiatan ini adalah resitasi yang ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh guru kepada siswa. Kegiatan ini sangat urgen dalam konteks pengajaran langsung. Karena tanpa mengetahui kemampuan atau pemahaman siswa, latihan tidak akan memberikan manfaat yang berhasil. Kardi dan Nur (2000), mengemukakan bahwa pemberian umpan balik bermakna dan pengetahuan tentang hasil latihan yang telah dilakukan merupakan sintaks model pengajaran langsung yang sangat penting. Umpan balik dapat dilakukan dengan berbagai cara baik lisan, tes, maupun komentar tertulis.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat dipertimbangkan untuk melakukan umpan balik yang tepat.

(1) Berikan umpan balik sesegera mungkin setelah latihan.

(2) Upayakan agar umpan balik jelas dan spesifik.

(3) Konsentrasi pada tingkah laku dan bukan pada maksud.

(4) Jaga umpan balik sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.

(5) Berikan pujian dan umpan balik pada kinerja yang benar.

(6) Apabila memberikan umpan balik negatif, tunjukkan bagaimana

melakukan yang benar.

(7) Bantulah siswa memusatkan perhatiannya pada proses dan bukan pada hasil.

(8) Ajari siswa cara memberi umpan balik kepada dirinya dan bagaimana menilai kinerja dirinya sendiri.

E. Kaidah-kaidah Pengajaran Langsung

Model pengajaran langsung menuntut adanya kaidah-kaidah tertentu yang dapat mengatur proses berlangsungnya pengajaran dengan baik. Kaidah-kaidah dimaksud terutama untuk mengatur bagaimana siswa berbicara, prosedur untuk menjamin, tempo pengajaran yang baik, strategi-strategi khusus mengatur giliran keterlibatan siswa dan untuk mengatur tingkah laku yang menyimpang.

(1) Menangani siswa yang suka berbicara

Sering kali ada siswa yang suka berbicara tapi bukan pada saat yang tepat sehingga dapat mengganggu berlangsungnya proses pengajaran. Oleh karena itu, perlu penanganan yang serius berupa larangan berbicara yang diterapkan secara konsisten. Hal ini dimaksudkan untuk melatih siswa agar mampu mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain.

(2) Mengatur tempo pengajaran

Tempo pengajaran langsung harus diatur sedemikian rupa sehingga setiap tahap dapat terlaksana sesuai program pengaturan tempo pengajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa di dalam kelas sehingga ada kemungkinan cara yang ditempuh di satu kelas berbeda dengan yang dilakukan di kelas lain.

(3) Menangani penyimpangan tingkah laku

Pengajaran langsung berkaitan dengan pengorganisasian kelas. Oleh karena itu, sangat mungkin ada siswa yang tidak saja pasif dalam proses belajar, tetapi juga melakukan hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan pengajaran. Keadaan itu harus ditangani secermat dan sesegera mungkin sehingga tidak mengganggu siswa lain.

F. Materi Ajar

MENULIS SURAT PERMOHONAN KERJA DAN MENGENALI BAGIAN-BAGIANNYA

Surat permohonan memiliki isi bermacam-macam bergantung kepada keperluannya. Surat permohonan kerja yang satu dan yang lainnya sudah barang tentu isinya berbeda. Meskipun demikian ada unsur-unsur pokok yang sama yang perlu dituliskan. Bagian-bagian itu dapat diamati pada contoh berikut.

CV. UJUNGLOE

No. : 05/UL/VII/2012 27 Desember 2012 Hal : Permohonan Penggunaan Lokasi SMPN 2 Binamu

Yth. Kepala SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto Jl. ASPOL Binamu

di Jeneponto Dengan hormat,

Dalam rangka menyambut tahun baru 2013, kami bermaksud mengadakan bazar musik dan pameran buku, yang bertema ―Tahun 2013 Kita Jadikan Tahun Gemar Membaca,‖ yang Insya Allah diadakan pada tanggal 11 Januari 2013.

Sehubungan dengan hal di atas kami mengajukan permohonan izin, menggunakan lokasi SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto sebagai tempat pelaksanaan.

Atas izin dan kerja samanya kami mengucapkan terima kasih.

Hormat kami, a.n. Direktur Utama

H. Bundu Dg. Tewang

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian tindakan yang berbasis kelas (class room action research) bertujuan untuk mengungkapkan hasil penelitian sesuai dengan fakta dan data yang diperoleh di lapangan.

B. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto pada semester ganjil tahun pelajaran 2013-2014 dengan jumlah siswa 36 orang. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus - Oktober 2013 yang dimulai minggu III Agustus sampai minggu IV Oktober 2013.

Penelitian ini berlokasi di SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto yang beralamat di Jln. Asrama Polisi (Aspol) Kec. Binamu Kabupaten Jeneponto.

C. Metode Pengumpulan Data 1. Sumber Data

Yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah guru dan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto.

2. Jenis data berupa data kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh melalui (i) observasi (ii) catatan guru (iii) tes hasil belajar.

D. Perencanaan Siklus I dan II

 Siklus I

Siklus I dilaksanakan selama dua minggu (6 kali pertemuan).

1. Perencanaan tindakan

a. Menelaah kurikulum SMP kelas VII yang akan diajarkan b. Membuat RPP

c. Membuat LKS

d. Membuat pedoman observasi untuk merekam pembelajaran di kelas

e. Membuat dan menyusun alat evaluasi (instrumen penilaian) 2. Pelaksanaan Tindakan

a. Mengidentifikasi keadaan siswa berupa minat dan kesiapan siswa.

b. Mengajarkan materi yang telah direncanakan yaitu pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya.

c. Melaksanakan proses pembelajaran kemudian dipantau berdasarkan format observasi.

d. Membuat pedoman observasi untuk merekam proses pembelajaran di kelas.

e. Membuat dan menyusun alat evaluasi memberikan tugas.

3. Observasi dan Evaluasi

a. Mengumpulkan data pada setiap pertemuan dan pemberian tugas untuk pelajaran bahasa Indonesia setelah siklus I.

b. Analisis data hasil observasi

4. Refleksi Hasil Kegiatan

a. Refleksi penelitian berdasarkan hasil yang diperoleh dari hasil observasi dan hasil evaluasi.

b. Mendiskusikan hasil refleksi yang telah dibuat bersama dengan guru lain.

 Siklus II

Siklus II dilaksanakan 6 kali pertemuan.

Langkah-langkah yang dilakukan pada pelaksanaan tindakan siklus II relatif sama dengan perencanaan dan pelaksanaan tindakan siklus I.

Namun demikian, pada beberapa langkah dilakukan beberapa perbaikan, penyempurnaan, untuk penambahan tindakan sesuai dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan.

E. Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil pemberian tes, baik pada pelaksanaan tes awal maupun pada akhir pelaksanaan setiap siklus diolah dengan menggunakan statistik deskriptif. Teknik statistik untuk mendeskripsikan karakteristik siswa dan hasilnya disajikan dalam bentuk nilai tertinggi, nilai terendah, nilai rata-rata dan tabel distribusi frekuensi.

Untuk memperoleh tanggapan yang jelas pada pembelajaran bahasa Indonesia siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto, dituliskan dengan menggunakan lima kategori yang berpedoman pada sistem penilaian Depdiknas 2004 sebagai berikut:

Interval Nilai Kategori

81,0 – 100 sangat tinggi

66,0 – 80,0 Tinggi

56,0 – 65,0 Sedang

41,0 – 55,0 Rendah

0 - 40,0 Sangat rendah

F. Cara Pengambilan Kesimpulan

Dalam mengambil kesimpulan mengacu pada analisis statistik deskriptif. Hasil analisis yang diperoleh berupa data kuantitatif lalu diinterpretasikan melalui teknik kategorisasi yang menjadi kualitas hasil pembelajaran.

Kualitas hasil pembelajaran yang ditunjukkan berdasarkan teknik kategorisasi menjadi kesimpulan terhadap perlakuan tindakan yang diberikan kepada siswa. Pengambilan kesimpulan mengacu pada proses teknik analisis data, teknik kategorisasi dan interpretasi kualitas kategori.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Kuantitatif

Hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto setelah pelaksanaan tindakan siklus I melalui pengajaran langsung.

Dari hasil analisis data deskriptif diperoleh rangkuman nilai statistik yang menunjukkan hasil belajar bahasa Indonesia melalui pengajaran langsung pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannyasiswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto setelah pelaksanaan tindakan siklus I.

Tabel 1. Nilai Statistik hasil belajar bahasa Indonesia melalui pengajaran langsung pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya setelah pelaksanaan tindakan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto pada siklus I.

Statistik Nilai Statistik

Ukuran sampel 36

Nilai tertinggi 74

Nilai terendah 30

Rentang nilai 44

Nilai rata-rata 58,06

Pada tabel 1 menunjukkan bahwa dari 36 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto setelah pelaksanaan tindakan siklus I melalui pengajaran langsung yang menjadi sampel penelitian ini, nilai tertinggi diperoleh adalah 74 nilai terendah 30 dan nilai rata-rata 58,06.

Dari keseluruhan nilai diperoleh siswa jika dikelompokkan dalam lima kategori, maka distribusi frekuensi dan kategori hasil belajar bahasa Indonesia pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto setelah pelaksanaan tindakan siklus I melalui pengajaran langsung pada tabel 2.

Tabel 2. Distribusi frekuensi persentase dan kategori hasil belajar bahasa Indonesia melalui pengajaran langsung pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto setelah pelaksanaan tindakan pada siklus I.

Rentang nilai Kategori

Frekuensi Persentase Relatif Kumulatif Relatif Kumulatif

0-34,0 Sangat rendah 2 2 5,55 5,55

35,0-54,0 Rendah 10 12 27,78 33,33

55,0-64,0 Sedang 13 25 36,11 69,44

65,0-84,0 Tinggi 11 36 30,56 100

85,0-100 Sangat tinggi 0 0 0 0

Jumlah 36 100

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa dari 36 siswa semua kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto yang menjadi sampel penelitian

5,55% memiliki hasil belajar bahasa Indonesia pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya dikategorikan sangat rendah, 27,78% dikategorikan rendah, 36,11% dikategorikan sedang, 30,56%

dikategorikan tinggi, dan 0% dikategorikan sangat tinggi.

B. Hasil Analisis Deskriptif Kualitatif Siklus I

Hasil pengisian lembar observasi dari pengamatan terhadap hasil perilaku siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto selama pelaksanaan tindakan siklus I melalui pengajaran langsung dalam enam kali pertemuan disajikan pada tabel 3. Untuk lebih jelasnya rangkuman rata-rata persentase siswa pada perilaku yang diamati selama enam kali pertemuan disajikan dalam tabel 3.

Tabel 3. Rata-rata persentase hasil belajar melalui pengajaran langsung pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya selama pelaksanaan tindakan pada perilaku yang diamati, siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto pada siklus I.

No. Komponen yang diperhatikan

Pertemuan

% 1 2 3 4 5 6

1. Siswa yang hadir 35 34 36 34 35 34 96,29 2. Siswa yang memperhatikan penjelasan

guru

34 34 35 33 34 34 94,44

3. Siswa yang mengajukan pertanyaan tentang menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya yang belum dipahami

3 4 5 5 6 2 11,57

4. Siswa yang dapat menyelesaikan soal latihan menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya dengan benar

33 34 35 32 33 34 93,06

5. Siswa yang mempresentasikan hasil pekerjaannya dengan baik

34 34 34 33 32 34 93,05

C. Hasil Refleksi Siklus I

Berdasarkan nilai hasil pemberian tes setelah pelaksanaan tindakan siklus I melalui pengajaran langsung terlihat bahwa secara umum hasil belajar bahasa Indonesia pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto dikategorikan sedang, hasil pengamatan menunjukkan bahwa masih

rendah rata-rata perilaku siswa yang menunjukkan aktivitas mereka dalam melakukan proses belajar mengajar.

Selanjutnya, berdasarkan hasil siklus II melalui pengajaran langsung disajikan pada tabel 4.

Tabel 4. Nilai Statistik hasil belajar bahasa Indonesia melalui pengajaran langsung pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya setelah pelaksanaan tindakan siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto pada siklus II.

Statistik Nilai Statistik

Ukuran sampel 36

Nilai tertinggi 82

Nilai terendah 40

Rentang nilai 42

Nilai rata-rata 66,06

Pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 36 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto setelah pelaksanaan tindakan siklus II melalui pengajaran langsung yang menjadi sampel penelitian ini, nilai tertinggi diperoleh adalah 82, nilai terendah 40 dan nilai rata-rata 66,06.

Dari keseluruhan nilai yang diperoleh siswa, jika dikelompokkan dalam lima kategori, maka distribusi frekuensi persentase dan kategori nilai hasil belajar bahasa Indonesia pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto setelah pelaksanaan tindakan melalui pengajaran langsung dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Distribusi frekuensi persentase dan kategori hasil belajar bahasa Indonesia melalui pengajaran langsung pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya setelah pelaksanaan tindakan, siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto pada siklus II.

Rentang nilai Kategori

Frekuensi Persentase Relatif Kumulatif Relatif Kumulatif

0-34,0 Sangat rendah 0 0 0 0

35,0-54,0 Rendah 3 3 8,33 8,33

55,0-64,0 Sedang 10 13 27,78 36,11

65,0-84,0 Tinggi 23 36 63,89 100

85,0-100 Sangat tinggi 0 0 0 0

Jumlah 36 100

Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 36 siswa semua kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto yang menjadi sampel penelitian

0% memiliki hasil belajar bahasa Indonesia pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya dikategorikan sangat rendah, 8,33% dikategorikan rendah, 27,78% dikategorikan sedang, 63,89%

dikategorikan tinggi, dan 0% dikategorikan sangat tinggi.

Hasil pengisian lembar observasi dari pengamatan terhadap hasil perilaku siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto selama pelaksanaan tindakan siklus II melalui pengajaran langsung dalam enam kali pertemuan disajikan dalam tabel 6. Untuk lebih jelasnya rangkuman rata-rata persentase siswa pada perilaku yang diamati selama enam kali pertemuan disajikan dalam tabel 6 berikut ini.

Tabel 6. Rata-rata persentase hasil belajar bahasa Indonesia melalui pengajaran langsung pada konsep menulis surat permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya selama pelaksanaan tindakan pada perilaku yang diamati, siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto pada siklus II.

No. Komponen yang diperhatikan

Pertemuan

% 1 2 3 4 5 6

1. Siswa yang hadir 35 36 36 35 35 35 98,15 2. Siswa yang memperhatikan

penjelasan guru

35 35 36 35 34 35 97,22

3. Siswa yang mengajukan pertanyaan tentang menulis surat permohonan kerja dan mengenali

bagian-bagiannya yang belum dipahami

2 3 3 2 2 3 6,94

4. Siswa yang dapat menyelesaikan soal latihan menulis surat

permohonan kerja dan mengenali bagian-bagiannya dengan benar

35 35 35 34 34 35 96,29

5. Siswa yang mempresentasikan hasil pekerjaannya dengan baik

35 34 35 34 34 35 95,83

D. Hasil Analisis Deskriptif Kualitatif Siklus II

Hasil pengisian lembar observasi dari pengamatan terhadap hasil perilaku siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto selama pelaksanaan tindakan siklus II melalui pengajaran langsung terlihat bahwa secara umum hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 2 Binamu Kabupaten Jeneponto dikategorikan baik dengan nilai rata-rata 66,06. Selanjutnya, berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata mengalami peningkatan.

Hasil refleksi pelaksanaan tindakan siklus II merupakan hasil akhir dari pelaksanaan penilaian yang telah dilaksanakan melalui pengajaran langsung. Hasil penelitian ini selanjutnya dilaporkan sebagai bahan

Hasil refleksi pelaksanaan tindakan siklus II merupakan hasil akhir dari pelaksanaan penilaian yang telah dilaksanakan melalui pengajaran langsung. Hasil penelitian ini selanjutnya dilaporkan sebagai bahan

Dokumen terkait