BAB II KERANGKA TEORITIS
F. Pengertian Infotainment
Infotainment, kata infotainment berasal dari dua kata yaitu
information dan entertainment yang berarti hiburan, namun infotainment
bukanlah berita hiburan. Infotainment adalah berita yang menyajikan informasi mengenai kehidupan orang-orang yang dikenal masyarakat
(celebrity), dan karena sebagian besar dari mereka bekerja pada industri
hiburan seperti pemain film/ sinetron, penyanyi dan sebagainya maka berita mengenai mereka disebut juga dengan infotainment. Infotainment adalah salah satu bentuk berita keras karena memuat informasi yang harus segera ditayangkan. Program berita reguler terkadang menampilkan berita mengenai
19
http://www.scribd.com/doc/34518749/Menyoal-Nilai-Beita-Infotainment (Akses 14 Desember 2010)
kehidupan selebritis yang biasanya disajikan pada segmen akhir suatu program berita. Namun dewasa ini infotainment disajikan dalam program berita sendiri yang terpisah dan khusus menampilkan berita-berita mengenai kehidupan selebritis.20
MimetismeInfotainment & Etika Komunikasinya
Mimetisme dalam buku Haryatmoko tentang etika komunikasi
adalah “Gairah yang tiba-tiba menghinggapi media dan mendorongnya seperti
sangat urgen, bergegas untuk meliput kejadian, karena media lain menganggapnya penting.4 Ikut-ikutan semacam ini pada akhirnya akan sampai pada keyakinan bahwa semakin banyak media memberitakan akan suatu hal secara kolektif maka dianggap hal itu penting. Sementara media membiarkan diri untuk selalu membangkitkan keingintahuan pemirsanya dengan menawarkan untuk memberikan informasi secara lebih.
Infotainment merupakan salah satu dari sekian banyak program di
televisi yang mengundang perdebatan. Namun demikian program ini masih semarak di stasiun-stasiun televisi hingga saat ini. Program televisi yang satu ini menggabungkan konsep informasi dengan entertainment (informasi dan hiburan) dalam konsep acaranya. Program infotainment termasuk jenis program yang berkembang dengan cepat dan dari aspek biaya produksi, acara ini relatif termasuk yang termudah dan termurah. Program ini tidak terlalu membutuhkan polesan dalam penyampaiannya. Tidak terlalu membutuhkan banyak property atau kecanggihan teknologi tertentu dalam pembuatannya.
20
Morissan, Jurnalistik Televisi Mutakhir, (Jakarta,)h. 27
4
Karena konsepnya yang sangat natural, dengan asumsi semakin polos cara penyampaiannya maka akan semakin dahsyat efek komunikasinya.
Beberapa infotainment cenderung mengetengahkan gaya bahasa presenternya yang cukup bombastis dan provokatif, meski dengan penguasaan bahasanya yang pas-pasan. Penampilan yang seronok dan dandanan pakaian yang kurang sopan dalam tayangan infotainment kerap dianggap membuat risih dilihat dari tataran etika atau dianggap dapat meracuni publik.
Kehadiran infotainment di televisi sedang mendapat gugatan dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat awam, tokoh masyarakat, LSM, dan bahkan dari kalangan jurnalistik itu sendiri. Ada yang mempertanyakan keabsahannya sebagai kegiatan jurnlistik, dan ada pula yang mempersoalkan konten tayangan yang dianggapnya telah kebablasan.
Pengertian infotainment tersebut adalah: Infotainment berasal dari dua kata yaitu information dan entertainment yang dianggap sebagai informasi yang berisi kabar, kabar burung (tidak ada pada faktanya), dan kabar angin (tidak jelas sumbernya) seputar dunia hiburan. Kabar seputar dunia hiburan ini dianggap sebagai informasi yang kemudian dikaitkan dengan berita. Memang, stasiun televisi menyiarkan berita dalam berbagai bentuk, seperti berita langsung (hard news), reportase, dan lain sebagainya. Sehingga ada kesan
infotainment juga sebagai berita.
Bandingkan dengan informasi dalam infotainment lebih mengutamakan fakta privat yang tidak terkait dengan kepentingan publik. Informasinya lebih menonjolkan kabar burung dan kabar angin maka
informasi yang ada di infotainment tidak mempunyai nilai sebagai berita jurnalistik.
Kabar dalam infotainment dirancang agar memenuhi kritetia berita jurnalistik yaitu dilengkapi dengan 5W + 1H, dengan check dan recheck serta cover both side yang lebih mirip sebagai klarifikasi. Akan tetapi meski informasi atau fakta sudah memenuhi 5W + 1H itu baru sebatas berita. Sedangkan informasi atau fakta yang dikemas sebagai berita jurnalistik selain ada 5W + 1H harus mengandung unsur-unsur layak berita.
Fakta privat bisa menjadi berita jurnalistik jika dibawa ke ranah publik atau terkait dengan masalah publik dan hukum. Misalnya, informasi seputar video porno mirip artis sudah menjadi fakta publik karena menyangkut (pelanggaran) hukum. Maka, tidak ada alasan untuk menyalahkan media massa dalam pemberitaan video mesum itu selama berpijak pada fakta publik (penyidikan polisi), fakta empiris (data), dan fakta opini. (Pendapat yang relevan dari berbagai kalangan).22
Belakangan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyebut infotainment sebagai berita nonfaktual. Ini membingungkan karena informasi yang dimekas
infotainment juga fakta. Semua kabar yang disiarkan infotainment adalah
fakta. Persoalannya adalah infotainment menyasar fakta privat. Padahal, jurnalistik mengedepankan fakta publik dan fakta empiris.
Rencana menyensor materi inforainment oleh lembaga atau badan semacam LSF (Lembaga Sensor Film) tidak akan berguna karena sensor yang dijalankan lebih condong ke arah materi yang terkait dengan (adegan) seks.
22
http://www.unisba.ac.id/index.php/en/Artikel/qinfotainmentq.aspx (Akses 23 Desember 2010)
Sedangkan yang dipersoalkan dalam tayangan infotainment adalah masalah pribadi yang dijadikan sebagai materi dalam cengkeraman gossip.
Dikalangan pertelevisian internasional juga dikenal infotainment sebagai pembeberan fakta seputar film dan musik beserta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Bisa juga berupa resensi film atau musik. Yang ditampilkan adalah kabar tentang film dan tokoh yang terkait dengan film tersebut.
Sudah saatnya kita mengubah paradigma dalam menghadapi siaran televisi dengan mendorong masyarakat untuk memilih acara televisi melalui pendidikan media. Masyarakat didorong agar bisa memilih siaran televisi dengan muatan asas manfaat.23
Oleh karena itu kecepatan memperoleh berita belum cukup untuk menjamin posisi keberlangsungan suatu media. Agar tidak ditinggal oleh konsumen, maka media harus selalu mampu merpertegas kekhasannya dan memberi presentasi yang menarik. Tuntan ini menyeret masuk kecendrungan menampilkan yang spektakuler dan sensasional. Penampilan seperti itu isinya biasanya cendrung superfisial. Karena ingin menyentuh banyak orang dan tidak merugikan, maka dicari yang menyenangkan semua, lalu yang ditampilkan mirip dengan acara serba-serbi.24
Jika demikian apa yang telah di sampaikan dalam buku Dr. Haryatmoko seperti itu, maka infotainment bisa dikategorikan sebagai kepentingan komersial (memperoleh kepentingan semata), bukanlah kepentingan nilai berita dan objektifitas berita
23
http://www.swarakita manado.com/index.php/berita/berita-utama/14671-menyoal-nilai-berita-infotainment.html. Sumber: Harian “Swara Kita”, Manado. (Akses 27 Desember 2010)
24