TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Intellectual Capital
2.4.1 Pengertian Intellectual Capital
Modal Intelektual (IC) merupakan salah satu sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Intellectual Capital merupakan aset tidak berwujud dan sulit untuk diteliti maupun diukur secara langsung. Menurut Ulum (2009) bahwa Intellectual Capital adalah materi yang telah disusun, ditangkap, dan digunakan untuk menghasilkan nilai aset yang lebih tinggi. Menurut Stewart (1997),
Intellectual Capital adalah materi intelektual yang telah difomalisasi, ditangkap, dan dimaanfaatkan untuk memproduksi asset yang nilainya lebih tinggi. Setiap organisasi menempatkan materi intelektual dalam bentuk asset dan sumber daya, perspektif dan kemampuan eksplisit dan tersembunyi, data, informasi, pengetahuan, dan mungkin kebijakan.
Munurut Ikhsan (2008), Intellectual Capital adalah nilai total dari suatu perusahaan yang menggambarkan aktiva tidak berwujud (intangible asstes) perusahaan yang bersumber dari tiga pilar, yaitu modal manusia, struktural dan pelanggan. Menurut Puspitasari (2011), Intellectual Capital adalah ilmu pengetahuan atau daya pikir yang dimiliki oleh perusahaan, tidak memiliki bentuk fisik (tidak berwujud), dan dengan adanya modal intelektual tersebut, perusahaan akan mendapatkan tambahan keuntungan atau kemapanan proses usaha serta memberikan perusahaan suatu nilai lebih dibanding dengan kompetitor atau perusahaan lain. Intellectual Capital merupakan berbagai sumber daya pengetahuan dalam bentuk karyawan, pelanggan, proses atau teknologi yang dapat digunakan dalam proses penciptaan nilai bagi perusahaan.
Dapat dinyatakan Intellectual Capital merupakan berbagai sumber daya pengetahuan, pengalaman, dan keahlian berkaitan dengan keahlian karyawan, hubungan baik dengan pelanggan, dan kapasitas teknologi informasi milik perusahaan yang secara signifikan berkontribusi dalam proses penciptaan nilai sehingga dapat memberikan keunggulan kompetitif (competitive advantage) bagi perusahaan.
Beberapa peneliti mengungkapkan definisi intellectual Capital sebagai berikut:
1. Intellectual Capital bersifat elusive, tetapi sekali ditemukan dan dieksploitas
akan memberikan organisasi basis sumber baru untuk berkompetisi dan menang (Bontis, 2000).
2. Intellectual Capital adalah istilah yang diberikan untuk mengkombinasikan intangible asset dari pasar, properti intelektual, infrastruktur dan pusat manusia yang menjadikan suatu perusahaan dapat berfungsi (Brooking, 1996).
3. Intellectual Capital adalah materi intelektual (pengetahuan, informasi, properti intelektual, pengalaman) yang dapat digunakan untuk menciptakan kekayaan. Ini adalah suatu kekuatan akan kolektif atau seperangkat pengetahuan yang berdaya guna (Stewart, 1997).
4. Intellectual Capital adalah pengerjaan penggunaan efektif dari pengetahuan (produk jadi) sebagaimana berposisi terhadap informasi (bahan mentah) (Bontis, 2001).
Dapat disimpulkan bahwa modal intelektual (IC) merupakan suatu konsep penting yang dapat memberikan sumber daya berbasis pengetahuan dan mendeskripsikan aset tak berwujud yang jika digunakan secara optimal memungkinkan perusahaan untuk menjalankan strateginya dengan efektif dan efisien. Dengan demikian modal intelektual merupakan pengetahuan yang memberikan informasi tentang nilai tak berwujud perusahaan yang dapat mempengaruhi daya tahan dan memberikan kontribusi pada keunggulan kompetitif perusahaan.
2.4.2 Komponen Intellectual Capital 1. Human Capital (modal manusia)
Human Capital merupakan lifeblood dalam modal intelektual. Disinilah
sumber innovation dan improvement, tetapi merupakan komponen yang sulit untuk diukur. Human Capital juga merupakan tempat bersumbernya pengetahuan yang sangat berguna, keterampilan, dan kompetensi dalam suatu organisasi atau perusahaan. Human Capital mencerminkan kemampuan kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang yang ada dalam perusahaan tersebut. Human Capital akan meningkat jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan, kompentensi dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawannya. Dengan memiliki karyawan yang berkeahlian dan berketerampian, maka dapat meningkatkan kinerja perusahaan tersebut.
Meningkatnya kinerja perusahaan juga akan meningkatkan persepsi pasar.
Oleh karena itu, Human Capital merupakan sumber daya kunci yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif perusahaan, sehingga perusahaannya dapat bersaing dan dapat bertahan di lingkungan bisnis yang dinamis.
Human Capital merupakan kombinasi dari pengetahuan, keahlian (skill), kemampuan melakukan inovasi dalam penyelesaian tugas meliputi nilai perusahaan, kultur dan filsafat (Bontis, 2000). Menurut Coff (1997), teori Human Capital dibedakan dalam 2 kategori:
a. Firm Specific Human Capital
Merupakan pengetahuan mengenai rutinitas dan prosedur yang khas dari sebuah perusahaan, yang membatasi nilai tersebut keluar dari perusahaan tersebut.
b. Industry Specific Human Capital
Merupakan pengetahuan rutinitas yang khas dalam suatu industri yang tidak dapat ditransfer ke industri lain.
Perbedaaan antara keduanya yang utama adalah terletak pada spesifitasnya.
Industry Specific Human Capital kurang memiliki spesifitas perusahaan, sehingga seorang profesional dapat pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya di seluruh pasar (dalam industri yang sama) tanpa menghilangkan nilai industry specific perusahaan sebelumnya.Kemampuan manusia merupakan sumber dari inovasi, sumber dari pandangan. Modal manusia merupakan suatu wadah di mana keseluruhan jenjang atau tingkatan dimulai: sumber dari inovasi dan awal pengetahuan. Sudut pandang kita dalam modal intelektual harus berhubungan dengan organisasi, bukan secara individual. Perusahaan perlu memfokuskan dirinya untuk memperoleh sebanyak mungkin modal intelektual seperti mereka menggunakan laba. Bila tujuan utama kita adalah inovasi, baik produk baru ataupun jasa, atau perbaikan dalam pemprosesan bisnis, maka modal intelektual dibentuk dan disebarkan saat kebanyakan waktu dan bakat orang yang bekerja dalam suatu perusahaan dicurahkan pada aktivitas yang menghasilkan inovasi (Santoso &
Setiawan, 2004). Tugas dan proses modal manusia tergantung pada 3 jenis keterampilan, yaitu:
a. Commodity Skills : kemampuan yang tidak spesifik untuk bisnis tertentu, dapat langsung diperoleh, dan lebih kurang sama nilainya bagi setiap bisnis. Misalnya, perawatan AC, administrasi.
b. Leveraged Skills : pengetahuan yang meskipun tidak spesifik untuk
perusahaan industri, namun relatif berharga bagi suatu perusahaan dari pada perusahaan yang lain. Contohnya: Programmer di suatu perusahaan komputer berbeda nilainya dengan programmer di suatu Bank.
c. Leveraged Skills : pengetahuan yang meskipun tidak spesifik untuk perusahaan industri, namun relatif berharga bagi suatu perusahaan dari pada perusahaan yang lain. Contohnya: Programmer di suatu perusahaan komputer berbeda nilainya dengan programmer di suatu Bank.
d. Propietary Skills : pengetahuan yang spesifik bagi suatu perusahaan, yang menjadi sebuah nilai jual dan berharga.
Tidak semua pekerja, adalah aset penting perusahaan. Pekerja penting adalah pekerja yang memiliki modal manusia. Pengertian modal manusia adalah pekerja yang mampu menciptakan kekayaan (manfaat) dan nilai tambah bagi perusahaan. Pengetahuan, kompetensi, keterampilan, dan pengalaman seorang manajer pada umumnya termasuk kategori modal manusia, dengan syarat pengetahuannya memberi manfaat bagi perusahaan. Semakin tinggi posisi atau jabatan seorang manajer semakin besar pula nilai modal manusianya. Dengan kata lain, ketrampilan manajemen (general management) termasuk modal manusia dan modal intelektual. Manajemen puncak memiliki mutu modal manusia yang termasuk tinggi. Sedangkan bagi karyawan, keahlian dan pengetahuannya dianggap sebagai modal manusia jika memenuhi dua kriteria penting, yaitu:
a. Menjadi milik property perusahaan dan dilindungi hak atas kekayaaan intelektual (HKI), artinya, tidak ada seorangpun yang memiliki keahlian
atau pengetahuan yang lebih baik (berharga).
b. Memiliki nilai pasar, artinya, keahlian dan pengetahuan mampu menciptakan nilai di mana pelanggan bersedia membeli nilai tersebut.
Modal manusia berperan sangat penting dalam sebuah perusahaan. Untuk itu supaya perusahaan itu bisa memiliki modal manusia berarti perusahaan harus bisa menciptakan rasa kepemilikan antar pekerja dan perusahaan itu.
Menurut Stokey (2003) perlunya Human Capital pada masa sekarang berdasarkan pada:
a. Kuatnya tekanan persaingan keuntungan finansial dan nonfinansial.
b. Pemimpin bisnis dan politik mulai mengakui bahwa memiliki orang yang memiliki skill dan motivasi tinggi dapat memberikan perbedaan peningkatan kinerja yang signifikan.
c. Terjadi perubahan yang cepat yang ditandai adanya proses dan teknologi yang baru tidak akan bertahan lama apabila pesaing mampu mengadopsi teknologi yang sama. Namun untuk mengimplementasikan perubahan, tenaga kerja yang dimiliki industri harus memiliki skill dan kemampuan yang lebih baik.
d. Untuk tumbuh dan beradaptasi, kepemimpinan organisasi harus mengenali nilai dan kontribusi manusia.
Adapun hal-hal yang dapat mengembangkan modal manusia sebagai karyawan-investor:
a. Pendidikan
Investasi dalam pendidikan ini tentulah menyangkut waktu dan biaya.
Sehingga secara teori penghasilan mereka yang berlatar belakang pendidikan S1 akan lebih tinggi dari mereka yang lulus sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA).
b. Pelatihan
Menurut Becker (1993), kegiatan investasi yang terpenting setelah pendidikan adalah pelatihan di mana hal ini juga merupakan alat utama perusahaan untuk mengembangkan modal manusia yang dimiliki oleh karyawan mereka berupa keahlian (skill), pengetahuan (knowledge) dan sikap (attitude) yang dibutuhkan dalam pekerjaan. Hal ini tentu akan berpengaruh juga kepada penghasilan serta karir dari si karyawan.
c. Pengalaman
Pengalaman sebagai modal manusia akan terus berkembang selama manusia tersebut menjadi karyawan. Pengalaman akan membuat karyawan beradaptasi lebih cepat dan berkontribusi lebih banyak sehingga dapat meminta gaji yang lebih tinggi daripada karyawan yang belum memiliki pengalaman sama sekali. Terkadang pengalaman dapat menempati urutan pertama sebagai modal manusia dibandingkan dengan pendidikan. Namun tetap harus disadari kemungkinan bahwa seseorang yang sudah bekerja selama 20 tahun pada suatu pekerjaan belum tentu mendapatkan pengalaman kerja yang jauh lebih banyak daripada orang yang baru bekerja selama 2/3 tahun saja pada pekerjaan yang sama.
d. Modal Sosial
Hal ini berkaitan erat dengan relasi serta jaringan yang dimiliki
karyawan. Karyawan dengan jaringan sosial yang lebih besar dapat memiliki kemungkinan yang lebih besar juga untuk memperoleh promosi. Pada dasarnya teori karyawan sebagai investor menggaris bawahi bahwa modal manusia yang dikelola perusahaan bukanlah milik perusahaan, tetapi merupakan investasi dari masing-masing individu karyawan. Sedangkan pengeluaran perusahaan dalam pelatihan dan pengembangan adalah upaya perusahaan untuk menarik dan mempertahankan investasi modal manusia dari karyawan yang dibutuhkan. Secara teori, perusahaan akan menginginkan karyawan dengan modal manusia sebesar mungkin disertai ekspektasi pengembalian sekecil mungkin. Meskipun demikian, pada prakteknya karyawan/Investor dengan modal manusia yang semakin besar akan cenderung mengharapkan tingkat pengembalian yang besar juga.
Ada 3 dimensi Human Capital menurut Adriana (2010):
a. Pengetahuan (knowledge), yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.
Misalnya seorang karyawan mengetahui cara melakukan identifikasi belajar, dan bagaimana melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada di perusahaan.
b. Keterampilan (skill), yaitu sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepada karyawan.
Misalnya, standar perilaku para karyawan dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan efisien.
c. Kemampuan (ability), yaitu kapasitas individu untuk melaksanakan tugas
dalam pekerjaan tertentu.