Istitha‟ah dalam pengertian kebahasaan berasal dari akar kata thâ‟a, yaitu
tau‟an, berarti taat patuh dan tunduk. Istithâ‟ah berarti keadaan seseorang untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan syara‘ sesuai dengan kondisinya.
22
Abu Ahmadi dan Ansari Umar Sitanggal, Sistem Ekonomi Islam, Prinsip-prinsip dan
Semakin besar kemampuan seseorang semakin besar tuntutan untuk mengerjakan suatu perbuatan.
Bisa dikatakan Istitha‟ah artinya mampu, yaitu mampu melaksanakan ibadah haji ditinjau dari segi jasmani yaitu, sehat dan kuat, rohani yaitu, memahami manasik haji dan berakal sehat, ekonomi yaitu, mampu membayar penyelenggaraan ibadah haji dan memiliki biaya hidup bagi keluarga yang ditinggalkan. keamanan yaitu, Aman dalam perjalanan dan aman bagi keluarga yang ditinggalkan.23
Mengenai dalil istitha‟ah yang menjadi dasar hukum kewajiban ibadah haji adalah surat Ali- Imran ayat 97 :
Artinya:“Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan
perjalanan kesana.” (Q.S Ali Imran: 97)
1. Istitha’ahMenurut Pendapat Para Ulama Fikih
Menurut para ulama, ada tiga kemampuan yang harus dipenuhi dalam rangka meliputi ibadah haji, yaitu: kemampuan kesehatan (badan), kemampuan material/finansial (keuangan), kemampuan keamanan (keselamatan).24
23
Departemen Agama RI, Bimbingan Manasik Haji, (Jakarta: 2003), h, 29.
24
Ahmad Thib Raya dan Siti Mushdah Mulia, Menyelami Seluk- Beluk Ibadah dalam Islam,
a. Menurut Mazhab Hanafi25
Kesanggupan meliputi tiga hal yakni fisik, finansial, dan keamanan. Kesanggupan fisik artinya kesehatan badan. Adapun menurut golongan Hanafiyah, yang termasuk orang yang sakit, lumpuh, orang buta (meskipun memiliki penuntutan), orang yang sangat tua dan tidak dapat duduk sendiri di atas kendaraan, jika dia mampu untuk membayar ongkos kepada orang yang akan menggantikan hajinya, maka ia wajib haji, sebab ia terhitung orang kuasa dengan jalan mengongkosi orang.
Kesanggupan finansial adalah memiliki bekal dan kendaraan. Yakni, mampu menanggung biaya pulang pergi serta punya kendaraan, yang merupakan kelebihan dari biaya tempat tinggal, serta keperluan lain. Harus lebih dari nafkah keluarga yang dinafkahinya sampai waktu kepulangannya.
Adapun keamanan adalah jalan biasanya aman, meskipun dengan membayar uang suap jika perlu. Dan Bagi keamanan wanita sebaiknya menurut pendapat Abu Hanifah wanita harus diiringi oleh mahramnya yang balig dan berakal atau remaja yang terpercaya, punya hubungan darah atau perkawinan.
25
Wahbah Al- Zuhaily, Al-Fiqh al-Islamy waadillatuh, Juz III, (Suriah : Dar‘ al-Fikr, t.t.), h,
b. Kemampuan menurut Mazhab Maliki26
Kemampuan adalah bisa tiba di Mekah menurut kebiasaan, dengan berjalan kaki atau berkendaraan. Artinya, kesanggupan berangkat saja, Adapun kesanggupan untuk pulang itu tidak termasuk hitungan. Kesanggupan itu meliputi tiga hal :
Pertama, kekuatan badan. Artinya, dapat tiba di Mekah menurut kebiasaan, dengan berjalan ataupun dengan berkendaraan.
Kedua, adanya bekal yang cukup sesuai dengan kondisi orang dan sesuai pula dengan kebiasaan mereka, Madzhab Maliki tidak mensyaratkan adanya bekal dan kendaraan itu sendri, jalan kaki bisa menggantikan kendaraan, bagi orang yang mampu, dan keterampilan kerja yang mendatangkan pemasukan yang cukup bisa membuat seseorang tidak perlu membawa bekal atau uang dan bisa dikatakan cukup sebagai ganti bekal.
Tidak wajib haji dengan cara berhutang, meskipun utang kepada anaknya sendiri, jika tidak punya harapan untuk dapat melunasi utangnya. Juga, tidak wajib haji dengan harta pemberian orang lain, (hibah atau sedekah) yang tanpa diminta. Dan tidak wajib bagi orang yang meminta-minta baik itu suatu kebiasaan ataupun tidak.
26
Ketiga, tersedianya jalan, yaitu jalan yang dilalui (darat atau laut) dan biasanya jalan ini aman. Dan jika biasanya tidak aman maka itu tidak wajib haji.
c. Kemampuan menurut Mazhab Syafi‘i27
Mampu menunaikan ibadah haji harus menempuh dua kemampuan yaitu kemampuan fisik dan kemampuan finansial.
Pertama, kemampuan fisik, artinya, orang yang dipandang sehat ialah orang yang mempunyai kekuatan fisik yang memungkinkan ia sampai di Mekkah untuk melakukan ibadah haji, tanpa mengalami kesulitan yang berarti, bahkan, menurutnya, orang buta pun diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji apabila ia mempunyai penuntun yang akan menuntunnya selama dalam perjalanan dan ibadah haji.
Kedua, kemampuan finansial, dengan adanya bekal beserta wadahnya, serta ongkos keberangkatan ke Mekah dan kepulangan ke kampung halaman. Pendapat imam Syafi‘i berbeda dengan pendapat imam Maliki, Imam Syafi‘i memandang bahwa pekerjaan di tengah perjalanan itu tidak dibebani haji, alasannya, ada kemungkinan dia tidak mendapatkan pekerjaan karena sesuatu hal. dan Sekalipun tetap mendapatkan pekerjaan, maka itu akan banyak kesukaran.
Ketiga, adanya kendaraan (sarana transportasi) yang sesuai dengan status seseorang dengan cara membelinya dengan harga rata-rata, bekal
27
dan kendaraan ini disyariatkan harus lebih dari utangnya (yang sudah jatuh temponya maupun yang belum), baik utang itu kepada manusia maupun kepada Allah Ta‟ala (seperti nadzar dan kafarat), maupun menafkahi kepada orang-orang yang harus dinafkahinya selama kepergian dan kepulangannya agar mereka tidak terbengkalai.
Keempat, kesanggupan dari sisi keamanan, yakni keamanan jalan (meskipun sekedar praduga) bagi jiwa dan hartanya disemua tempat sesuai kondisi yang layak baginya.
Kelima, wanita harus disertai oleh suaminya, atau oleh mahram (dari hubungan nasab / darah atau lainya),
d. Kemampuan menurut Mazhab Hambali28
Kesanggupan atau kemampuan yang disyariatkan adalah kemampuan atas bekal dan kendaraan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
Artinya : “Anas Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah sabil (jalan) itu? beliau bersabda: "Bekal dan kendaraan." Riwayat Daruquthni. Hadits shahih menurut Hakim. Hadits mursal menuru pendapat yang kuat30
28
Wahbah Zuhaily, Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh, h. 420.
29
Ali ibni ‗Umar Abu al-Husaini al-Dâru Quthni al-Baghdadi, Sunan al-Daru Quthni, juz 2
(Beirut, Dar al-Ma‘rifah, 1996), h. 215.
30
Walaupun Hadis-hadis yang menafsirkan sabil dengan pembelanjaan dan kendaraan, dha‟if ditinjau dari segi sanadnya, namun kebanyakan ulama mensyariatkan yang demikian untuk mewajibkan haji. Adanya pembelanjaan dan kendaraan adalah bagi orang yang tidak memperoleh perbelanjaan dan kendaraan, tidaklah wajib haji atasnya.
Mazhab Hambali sepakat dengan madzhab Syafi‘i