• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4) Pengertian karangan

Menurut Nuraini dalam Listiani (2013: 20) Karangan adalah bentuk yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh. Karangan diartikan pula dengan rangkaian hasil pemikiran atau ungkapan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang teratur.

Mengarang pada hakikatnya adalah mengungkapkan atau menyampaikan gagasan dengan bahasa tulis (Suparno, 2010: 3.1). Pada pembelajaran menulis karangan di tingkat SD/MI yang dihasilkan berupa karangan cerita ataupun dongeng.

Menurut Widyamartaya dalam Dalman (2012: 85-86), mengarang adalah suatu proses kegiatan berpikir manusia yang hendak menggunakan kandungan jiwanya kepada orang lain atau diri sendiri dalam tulisannya. Pada dasarnya, arti kata mengarang adalah menyusun, mengatur, misalnya mengarang bunga, menyusun

bunga-bunga menjadi kesatuan. Mengarang bahasa adalah menggunakan bahasa untuk mengutarakan sesuatu secara tertulis. Dalam hal ini, bahasa yang digunakan harus terpilih dan tersusun dengan baik.

Ciri-ciri karangan menurut student dalam Kuncarani (2015: 34-35)

a. Berisi hal-hal yang bermanfaat. Karangan yang bisa memenuhi kebutuhan pembaca akan dapat penghargaan masyarakat. Sangat mungkin karangan itu tidak begitu mendalam, tetapi memberikan manfaat langsung bagi pembaca.

b. Pengungkapan jelas. Pengungkapan yang jelas dapat ditandai dengan mudahnya sebuah karangan dicerna pembaca. Dengan pengungkapan yanh semakin jelas, sebuah tulisan akan semakin mudah diikuti.

c. Penciptaan kesatuan dan pengorganisasian. Karangan yang

mampu menciptakan kesatuan dan sekaligus terorganisasi dengan baik ditandai oleh mudahnya pembaca memahami karangan. Sebaiknya karangan langsung menjelaskan inti permasalahan dan tidak berbelit-belit.

d. Efektif dan efisien. Yang dimaksud dengan efektif dan efisien adalah pengungkapan suatu maksud dengan mengutamakan efisiensi dan efektifitas, yaitu dengan

menggunakan kalimat dan kata-kata yang ringkas, namun dapat menjangkau makna yang luas.

e. Ketepataan penggunaan bahasa. Karangan yang baik juga ditentukan oleh penggunaan bahasa. Penggunaan bahasa yang baik dan benar akan meningkatkan bobot karangan. Hal yang tercakup di dalamnya adalah kesanggupan pengarang untuk memenuhi berbagai kaidah berbahasa Indonesia secara tepat. Pembentukan kata, penyusunan kelompok kata, penyusunan kalimat, serta penguasaan ejaan dan tanda baca harus memadai. f. Ada variasi kalimat. Variasi yang berkaitan dengan

penggunaan bahasa dalam karangan adalah penyusunan kalimat panjang dan pendek secara berselang-seling.

g. Vitalitas. Karangan yang baik biasanya penuh tenaga dan kaya dengan potensi. Kandungan kekuatan dalam karangan itu menjadikan pembaca merasa bahwa si penulis hadir di dalam karangan yang ditulisnya.

h. Cermat. Karangan yang baik memperahatikan masalah

kecermatan. Hal-hal kecil, seperti titik dan koma tidak boleh dianggap sepele apalagi diabaikan. Kecermatan juga sangat diperlukan ketika memilih kata maupun menyusun kalimat. i. Objektif. Mengarang adalah mengungkapkan sesuatu secara jujur,

teratur. Selain itu, uraian harus mencerminkan bahwa pengarang benar-benar menguasai dan menghayati permasalahan yang diuraikannya.

Mengarang pada hakikatnya adalah mengungkapkan atau menyampaikan gagasan dengan menggunakan bahasa tulis. Dilihat dari keluasan dan keterinciannya, gagasan itu dapat diungkapkan dengan berbagai unsure bahasa. Dalam hal ini, gagasan dapat diungkapkan dalam bentuk kalimat dan paragraph, serta dapat pula diungkapkan dalam bentuk karangan yang utuh.

Menurut Ilmika dalam Kuncarani (2015; 37) tujuan dari karangan antara lain sebagai berikut:

a. Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.

b. Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga

tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.

c. Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.

d. Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan darijurusannya. e. Melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian. 3. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Dari sudut pandang linguistic, bahasa Indonesia dipahami sebagai salah satu dari banyak ragam Bahasa Melayu. Dasar yang dipakai pada bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau sejak abad ke-19. Dalam perkembangannya, bahasa Indonesia mengalami proses pembukuan pada abad ke-20.

Penamaan Bahasa Indonesia diawali sejak diikrarkan sumpah pemuda. Akibat sumpah pemuda tersebut, maka terjadilah proses pembedaan antara bahasa Melayuyang digunakan di Riau dan semenanjung Malaya dengan bahasa Indonesia yang terus mengalami perkembangan hingga awal abad ke-21.

Berdasarkan pidato Muhammad Yamin, bahasa Indonesia diusulkan sebagai bahasa Nasional. Sumpah pemuda menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bila mengacu pada Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa Negara. Sementara berdasarkan keputusan kongres bahasa Indonesia II yang dilaksanakan di Medan pada tanggal 28

Oktober- 2 November 1945, bahasa Indonesia disepakati sebagai bahasa kebangsaan dan sekaligus sebagai bahasa Negara.

Bahasa Indonesia bukan bahasa ibu. Mengingat sebagian besar warga Indonesia menggunakan salah satu dari 748 bahasa ibu. Sungguhpun demikian, bahasa Indonesia dipergunakan sangat luas, misalnya dalam dunia pendidikan, media massa sastra, perangkat lunak, atau surat-menyurat resmi (Santosa, 2012:1.6)

Dalam dunia pendidikan pembelajaran bahasa Indonesia, terutama disekolah dasar tidak akan terlepas dari empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan berbahasa bagi manusia sangat diperlukan. Sebagai makhluk social manusia berinteraksi, berkomunikasi dengan manusia lain dengan menggunakan bahasa sebagai media, baik berkomunikasi menggunakan bahasa lisan, juga berkomunikasi menggunakan bahasa tulis. Keterampilan berbahasa yang dilakukan manusia yang berupa menyimak, berbicara, membaaca, dan menulis yang dimodali kekayaan kosakata, yaitu aktivitas intelektual, karya otak manusia yang berpendidikan. Kita mengetahui kemampuan manusia berbahasa bukanlah instinct, tidak dibawa anak sejak lahir, melainkan manusia

dapat belajar bahasa sampai terampil berbahasa, mampu berbahasa untuk kebutuhan berkomunikasi. (Susanto, 2013: 242)

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan standar isi bahasa

Indonesia sebagai berikut:”Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan

untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikaasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tertulis, serta menumbuhkaan apresiasi terhadap hasil karya

kesaastraan manusia Indonesia.”

Menurut Santosa (2012:2.0-2.1) pembelajaran bahasa Indonesia di lingkup dunia akademik khususnya dan masyarakat pada umumnya memiliki beberapa tujuan, antara lain:

1. Mendidik anak didik dan masyarakat agar dapat berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia secara efektif, efisien, baik, dan benar sesuai etika dan kesopanan.

2. Supaya anak diidik dan asyarakat semakin dapat menghargai serta merasa bangga terhadap bahasa Indonesia sebagai alat pemersatu bangsa.

3. Supaya anak didik dan masyarakat bisa memahami bahasa

Indonesia dan mampu menggunakannya secara tepat.

4. Supaya anak didik dan masyarakat bisa menggunakan bahasa Indonesia guna semakin meningkatkan kemampuannya.

5. Supaya anak didik dan masyaraakat mampu membaca yang

merupakan syarat mutlak didalam memperluas wawasan serta memperhalus budi pekerti.

6. Supaya anak didik fdan masyarakat bisa mampu menghayati karya sastra Indonesia yang fungsinya dapat memberikan inspirasi, edukasi, dan rekreasi yang sehat.

7. Supaya anak didik dan masyarakat bisa menyampaikan

gagasannya ke dalama karya tulis baik fiksi maupun nonfiksi. Belajar bahasa pada dasarnya bertujuan untuk mengungkapkan kemampuan menggunakan bahasa untuk berbagai keperluan. Menurut Vallet dan Disk dalam Santosa (2012: 1.8) mengelompokkan tujuan-tujuan pengajaran bahasa berdasarkan atas keterampilan dan jenis perilakunya. Secara hierarkis ia mengurutkan mulai dari keterampilan yang paling sederhana sampai ke yang paling luas. Keterampilan-keterampilan tersebut dibedakan antara perilaku internal dan perilaku eksternal.

Keterampilan yang paling sederhana adalah keterampilan mekanis

berupa hafalan atau ingatan. Murid menghafal dan mengingat bentuk-bentuk bahasa yang paling sederhana yang paling kompleks. Misal, dimulai dengan mendengar beberapa kosakata baru, membaca suku kata, kelompok kata, dan kalimat. Jenis perilaku yang terbentuk dalam dirinya adalah persepsi terhadap perbedaan dua unsur bahasa. Murid belajar membedakan arti kata dalam bahasa yang dipelajarinya dan membedakannya dengan bahasa ibu yang ia miliki. Perilaku eksternal (produktif) murid meniru ujaran, tulisan bahasa yang ia pelajari.

Keterampilan tahap berikutnya adalah pengetahuan berupa demonstrasi pengetahuan tentang fakta kaidah tentang bahasa yang dipelajari. Jenis perilaku yang internal (reseptif) kedua adalah

pengenalan (metacognition). Tahap ini murid mengenali kaidah

kebahasaan yang dipelajarinya. Perilaku eksternal yang mengiringi tahap kedua ini adalah mengingat. Murid menunjukkan bahwa ada

ingatan tentang informasi kaidah kebahasaan yangsudah diberikan. Tahap ketiga adalah keterampilan transfer. Murid menggunakan

pengetahuan dalam situasi baru. Penerapan kaidah dsesuaikan dengan konteks bahasa yang dihadapi. Perilaku yang mengiringi keterampilan ini adalah kemampuan reseptif. Murd memahami wacana atau paragraf. Perilaku eksternal pada tahap ini adalah aplikasi. Murid berbicara atau menulis dalam situasi latihan atau melibatkan diri dalam simulasi. Misalnya, dalam kegiatan Tanya-jawab, dialog, diskusi, pidato.

Tahap keempat adalah komunikasi. Penggunaan bahasa yang dipelajari sebagai sarana komunikasi. Perilaku internal tahap ini

adalah pemahaman. Murid memahami ucapan tulisan, dan tanda

cultural yang belum pernah dipelajari dalam situasi yang baru.

Di kelas-kelas yang sebagian besar masih menggunakan bahasa ibu, guru perlu mendorong murid-murid untuk menggunakan bahasa yang sedang dipelajari. Ajaklah mereka menggunakan bahasa

Indonesia. Berilah kesan bahwa bahasa Indonesia itu

menyenangkan.sampaikanlah tugas-tugas dan perintah-perintah

menggunakan bahasa Indonesia. Apabila mereka tidak mengerti perjelaslah dengan menggunakan bahasa tubuh atau tangan. Guru akan member perasaan aman di dalam kelas jika menggunakan ungkapan yang sama secara teratur dan menambahkannya secara bertahap.

Perilaku eksternal tahap ini adalah ekspresi diri. Murid

menggunakan bahasa secara lisan atau tertulis untuk menyatakan dirinya, menyatakan gagasan atau ide. Murid membuat karangan sederhana, cerpen, novel, kisah sampai dengan karangan yang berbentuk karya tulis dan karya ilmiah atau pidato.

Tahap kelima adalah kritik. Kemampuan menganalisis dan

mengevaluasi karangan atau karya tulis maupun lisan. Perilaku sikap ini aadalah analisis. Murid memperjelas unsur-unsur sastra cerpen atau roman atau mengurai penggunaan bahasa hubungan antar paragraph, serta isi sebuah karya tulis. Perilaku sintesis merencanakan serta melaksanakan belajar dalam bahasa yang dipelajari.

Tahap manapun yang harus dialami oleh murid dalam belajar bahasa, prinsip belajar harus menjadi pertimbangan. Factor internal, seperti motivasi belajar anak perlu dirangsang. Murid tentu akan

merasa senang belajar bahasa apabila tugas yang diintruksikan berkaitan dengan minat mereka.

Ketika anak berada pada usia sekolah dasar, anak-anak akan terkondisikan untuk mempelajari bahasa tulis. Pada masa ini, anak dituntut untuk berpikir lebih dalam lagi dan kemampuan berbahasa

anakpun mengalami perkembangan. Menulis sebagai suatu

keterampilan individu mengkomunikasikan sebuah pesan dalam sebuaah tulisan. Keterampilan ini berkaitan dengan kegiatan seseorang dalam memilah milah dan menyusun tulisan sebagai pesan untuk ditransaksikan dalam subuah bahasa tulis.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia bagi penulis pemula perlu memperhatikan beberapa cara atau langkah yang dapat mengarahkan mereka kepada proses pembelajaran menulis yang baik, yaitu:

1. Pengenalan, pada taraf pengenalan ini, guru hendaknya

memperhatikan benar-benar tuisan yang hendak dikenalkan kepada anak terutama huruff yang belum pernah diperkenalkan.

2. Menyalin. Pembelajaran menulis bagi kelas pemula dapat

dilakukan dengan alternative berikut:

a) Menjiplak (menyalin tulisan dipapan tulis ke dalam buku latihan sesuai dengan bunyi bacaan tersebut); b) Menyalin dari tulisan cetak (lepas) ke tulisan sambung

c) Menyalin dari huruf kecil menjadi huruff besar pada huruf pertama kata awwal kalimat; dan

d) Menyalin dengan cara melengkapi, yakni dengan cara

melengkaapi dengan tanda baca dan melelngkapi dengan kata.

3. Menulis halus atau indah. Perbedaan pembelajaran menulis halus dikelas awal hanyalah terletak pada bahan yang diajarkan. Dalam pelaksanaannya pembelajaran menulis indah yang harus diperhatikan yaitu bentuk, ukuran, tebal tipis, dan kerapian.

4. Menulis nama. Sebagaimana pengajaran menulis dikelas 1 para

siswa diberi tugas untuk menulis nama benda, orang, jalan, desa, kota, binatang, tumbunhan dan sebagainya. Perbedaannya kalau dikelas 1 masih menggunakan huruf kecil, maka dikelas 2 siswa sudah menggunakan huruf besar pada huruf pertama kata awal kalimat. Latihan ini merupakan latihan dasar mengarang.

5. Mengarang sederhana. Pelajaran mengarang dikelas pemula

diberikan dalam bentuk mengarang sederhana cukup 5-10 baris. Dalam mengarang ini digunakan rangsang visual, dapat juga dengan meminta siswa menuliskan pengalamannya sendiri, cerita dari bangun tidur sampai akan berangkat ke sekolah atau dalam perjalanan menuju ke sekolah dan sebagainya. Dalam

mengarang sederhana dinilai tentang kerapian, ketepatan ejaan, dan isi karangan ditekankan kepada siswa untuk diperhatikan. 4. Strategi Pembelajaran Writing In The Here And Now

Menurut Reigeluth dalam Rusmono (2012: 21-22) strategi pembelajaran adalah pedoman umum yang berisi komponen-komponen yang berbeda dari pembelajaran agar mampu mencapai keluaran yang diinginkan secara optimal dibawah kondisi-kondisi yang diciptakan. Seperti pada situasi kelas dengan karakteristik siswa yang heterogen, baik kelas kecil maupun kelas besar, penanganannya jelas berbeda baik dalam strategi, pengorganisasian, penyampaian maupun strategi pembelajaran

Menurut Kozma dalam Suyadi (2013: 13) strategi pembelajaran adalah sebagai kegiatan yang dilakukan guru untuk memfasilitasi (guru sebagai fasilitator) peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Strategi writing in the here and now ini bertujuan untuk membantu

peserta didik merefleksikan pengalaman-pengalaman yang telah dialami. Cara merefleksikannya adalah dengan cara meminta peserta didik menulis laporan tindakan saat sekarang dari sebuah pengalaman yang telah mereka alami (seolah-olah tindakan itu terjadi disini dan sekarang.

Langkah-langkah strategi writing in the here and now adalah

sebagai berikut:

1. Pilihlah jenis pengalaman yang Anda inginkan untuk ditulis oleh siswa. Ia bisa berupa peristiwa masa lampau atau akan datang. 2. Informasikan kepada peserta didik tentang pengalaman yang telah

mereka pilih untuk tujuan penulisan reflektif. Beri tahu mereka bahwa cara yang berharga untuk merefleksikan pengalaman adalah mengenangkan atau mengalaminya untuk pertama kali disini dan sekarang. Dengan demikian tindakan itu menjadikan pengaruh lebih jelas dan lebih dramatic daripada tertulis tentang

“sana dan kemudian” atau di masa depan yang jauh.

3. Persiapkan permukaan yang jelas untuk ditulis. Bangunlah

privaasi dan ketenangan.

4. Perintahkan kepada peserta didik untuk menulis, sekarang juga, tentang pengalaman yang telah dipilih. Perintahkan mereka untuk memulai awal pengalaman dan menulis apa yang sedang mereka

dan lainnya lakukan dan rasakan, seperti “sekarang adalah hari

sabtu, dan pembagian raport. Aku mendapat rangking 1”.. ajaklah

peserta didik untuk menulis sebanyak mungkin yang mereka inginkan tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dan perasaan-perasaan yang dihasilkannya.

5. Berilah waktu yang cukup untuk menulis. Peserta didik seharusnya tidak merasa terburu-buru. Ketika mereka selesai, ajaklah mereka untuk membacakan tentang refleksinya di sini dan sekarang. (Silberman, 2007: 186-187)

Dokumen terkait