• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI A. Tarekat Qodiriyah

B. Keshalehan Sosial

1. Pengertian kesalehan sosial

Keshehan berasal dari kata “Sheh” dengan awalan “ke” dengan akhiran “an” yang berarti hal keadaan yang berkenaan dengan kata

“sheh” berasal dan bahasa Arab yang berarti baik. Dalam KBBI kata sheh berati taat dan sungguh dalam menjalankan ibadah. Beramal sheh berati bekerja dengan pekerjaan yang baik. Sedangkan sosial dalam KBBI diartikan sebagai masyarakat. Kata sosial berasal dari kata

“Society” yang berati bermasyarakat. Jadi keshehan sosial adalah kebaikan dalam kerangka hidup bermasyarakat.28

Dalam perspektif Islam keshehan sosial tidak bisa dilepaskan dari konsep dasar tujuan penciptaan manusia, sehingga mempengaruhi dalam sistem sosial yang diciptakan. Dalam perspektif para pemikir muslim, manusia tidak semata-mata sebagai makhluk yang harus melakukan ibadah kepada Tuhan semata, melainkan juga memiliki tugas dan peran sosial yaitu untuk menciptakan tata sosial moral ang sesuai syari‟at dan adil, menghilangkan fasad atau bentuk-bentuk kejahatan yang dapat membinasakan masyarakat. Sebagai khifah Allah manusia merupakan makhluk sosial multi-interaksi yakni memiliki tanggung jawab baik kepada Allah maupun sesama manusia.

28. Khoirul Tanami yang berjudul Pengaruh Zikir Tarekat Qodiriyah...h.40

Ayat-ayat tentang ibadah dan ayat-ayat yang berkenaan dengan kehidupan sosial adalah satu banding seratus, untuk satu ayat ibadah ada seratus ayat untuk ayat muamalah. Begitu juga dalam kitab hadits, ada dua puluh yang berkenan dengan fatt al bari: Syarah Shahih Bukhari hanya empat yang berkenan dengan ibadah. Hal tersebut menggambarkan bahwa urusan sosial atau masalah yang berhubungan dengan hak-hak manusia itu mendapat tempat yang sangat penting dalam batang tubuh ajaran Islam. Oleh karena itu banyak para ahli memberikan defenisi tentang keshehan sosial diantaranya:

a. Mustafa Bisri

Keshehan sosial adalah perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami yang bersifat sosial, suka memikirkan dan santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya. Meskipun orang-orang ini tidak setekun kelompok keshehan ritual dalam melalukan ibadah seperti: sembahyang dan sebagainya. Lebih mementingkan hablum minan nass.29 b. Abdurrahman Wahid

Keshehan sosial adalah suatu keshehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, melainkan juga dengan cucuran keringat dalam praksis hidup keseharian kita.30

Dalam perspektif ilmu pengetahuan masih belum ada teori secara khusus yang menjelaskan tentang keshehan sosial, namun terdapat teori

29. Mustafa Bisri, menimbang arti keshehan dalam Islam

30. Mustafa Bisri, menimbang arti keshehan dalam Islam

yang mungkin dapat menggambarkan tentang keshehan sosial yakni teori tentang bentuk kesadaran dalam diri individu yang dalam psikologi kognitif dikenal dengan toeri tentang konsep diri.

Dalam ranah filsafat yang mungkin bisa menjelaskan keshehan sosial yakni tentang makna perbuatan akhlaki, karena dalam filsafat merupakan hasil pemikiran mendalam dari tiap-tiap individu. Banyak mazhab-mazhab filsafat yang berbeda dalam menjelaskan perbuatan akhlaki tersebut, menurut Imanuel Kant, setiap perbuatan yang di kerjakan seseorang dengan alasan mentaati perintah intuisi secara absolut, ia melakukannya berdasarkan perintah yang di berikan intuisinya dan tidak memiliki tujuan lain dari perbuatannya itu maka perbuatannya itu dinamakan perbuatan akhlaki. Kant hanya melihat akhlak yang ada dalam intuisi.

Kemunculan kesalehan sosial merupakan fenomena menarik dikalangan kelas menengah muslim Indonesia kontemporer. Adanya upaya mendefinisikan secara ulang makna spiritual menjadi titik tekan munculnya kesalehan sosial tersebut. Proses terbentuknya kesalehan sosial dapat dilacak dari interseksi antara aspek material dan aspek spiritual dalam beribadah. Spiritual dipahami sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Khik, sementara material dapat dipandang sebagai alat penujang spiritual tersebut. Menjadi orang saleh memang tujuan utama dalam kesalehan sosial ini, karena kesalehan sosial merupakan bagian dari sebuah proses pendefinisian ibadah

agama Islam secara terapan dalam konteks kekinian. Artinya, telah terjadi tafsir baru dalam memahami agama Islam dalam kasus muslim kekinian.31

Secara sederhana, pengertian kesalehan sosial dimaknai sebagai ekspresi dan praktik perilaku orang-orang Islam yang peduli terhadap nilai-nilai Islam secara sosial, seperti hanya menyumbang dana bantuan berupa infaq, shadaqah, maupun amal jariyah, namun cenderung lalai terhadap ibadah pribadi.32 Munculnya praktik kesalehan sosial tersebut merupakan bentuk ekspresi filantropis dan juga spiritualis yang hendak dilakukan kelas menengah muslim Indonesia. Adanya pertumbuhan ekonomi tinggi dengan semakin meratanya redistribusi pendapatan berkelindan dengan adanya kebutuhan akan donasi sosial.

Dalam hal ini, penting juga untuk dilihat bahwa munculnya gerakan kesalehan sosial dengan adanya rumusan agama Islam baru yang hendak dirumuskan oleh kelompok kelas menengah muslim Indonesia. Kesalehan sosial sebenarnya juga merupakan bagian dari sebuah proses pendefinisian ibadah agama Islam secara terapan dalam konteks kekinian. Artinya, telah terjadi tafsir baru dalam memahami agama Islam dalam kasus kelas menengah muslim kekinian. Tulisan ini akan mengulas secara elaboratif mengenai ritual kesalehan sosial bagi umat kelas menengah muslim Indonesia, serta penjelasan berbagai macam tafsir atas Islam yang kemudian melahirkan adanya Islam gaya

31 Wasisto Raharjo Jati Kesalehan Sosial, Sebagai Ritual... h, 337

32 Wasisto Raharjo Jati Kesalehan Sosial, Sebagai Ritual... h, 336

baru yang disesuaikan dengan tingkat religiusitas kelas menengah muslim Indonesia.33

Dari percabangan mengenai kesalehan sosial34 dari sudut pandang Islam Wasat Aniyyah sendiri kemudian terbagi atas dua cabang yakni 1) kesalehan sosial sebagai ritual dan 2) kesalehan sosial sebagai simbol. Pembagian kesalehan sosial tersebut didasarkan pada kedalaman ritual ibadah yang dijalankan oleh kelas menengah muslim tersebut. Dalam pengertian pertama, kesalehan sosial sebagi ritual dapat diartikan sebagai bentuk praktik neosufisme yakni melakukan peribadatan sosial untuk melalui ridha illahhi.35

Hal tersebut ditunjukkan dengan seberapa intensitas mereka hadir dalam majelis ta‟lim maupun juga seberapa intens mereka untuk pergi haji dan umrah. Adapun dalam pengertian kedua sendiri, kesalehan sosial sebagai simbol dapat dipahami sebagai bentuk ritual budaya populer massa yakni keimanan dan ketakwaaan muslim dapat dibentuk melalui konsumsi komoditas religi. Dengan demikian, menjadi orang alim sekarang ini dapat dikonstruksi sekaligus pula diakui oleh orang lain di sekelilingnya. Maka pembahasan mengenai kedua ritual kesalehan sosial tersebut akan dibahas sebagai berikut.

33 Wasisto Raharjo Jati Kesalehan Sosial, Sebagai Ritual... h, 337

34Haris Riadi, Kesalehan Sosialsebagai Parameter Kesalehan Keberislaman :Jurnal Pemikiran,Vol.39,No.1 Januari - Juni 2014.h 51

35Wasisto Raharjo Jati Kesalehan Sosial, Sebagai Ritual... h, 343

Dikutip dari bukunya Hilmy put Islam at the centre of the public domain36, Adanya pola institusionalisasi terhadap pola kesalehan sosial pada dasarnya bertujuan untuk menempatkan Islam sebagai nilai umum yang dominan. Hal itu merupakan bentuk kelanjutan dari adanya wacana Islam publik yang dikembangkan kelompok islamis pasca orde baru.

Dikutip dari buku Latief dikarenakan perlunya adanya pengawalan dari negara dan ulama untuk mengatur dan menjaga umat Islam agar sesuai dengan dengan kaidah agama37. Implikasinya adalah munculnya berbagai macam produk legal mulai dari Kitab Hukum Islam (KHI), ekonomi syariah, dan lain sebagainya yang kesemuanya itu mencerminkan adanya sinergi antara dimensi ukhrawi dan duniawi sehingga kesalehan sosial dibentuk berdasarkan proses taklid terhadap ajaran agama dalam kehidupan.38 Adapun dari segi intimitas, ritual kesalehan sosial bagi kelompok kelas menengah muslim sendiri dibentuk berdasarkan prinsip al-maslahah al-ammah (kebajikan untuk umat).

Dalam perspektif Islam, manusia di samping diberikan kebebasan untuk berusaha dan berikhtiar, dan berrelasi, tetapi Tuhanlah sebagai pusat relasi dan semua keputusan vonis berada di atas iradah-Nya (antropho-theosentris). Sebagaimana kesalihan sosial adalah bentuk perilaku keagamaan seseorang yang lahir dari sikap keagamaan,

36Hilmy put Islam at the centre of the public domain. Thn 2010., h. 343

37Latief Kebajikan Untuk Umat, Thn, 2013, h. 187

38Latief, prinsip al-maslahah al-ammah kebajikan untuk umat. Thn 2013 h. 187

sementara sikap keagamaan lahir dari pemahaman seseorang atas nilai-nilai yang difahami (kognitif), dirasakan (afektif), dan dilakukan (konatif). 39

Sebagai perilaku keagamaan, maka konsepsi Islam di atas, lebih dapat menjelaskan tentang kesalihan sosial sebagai bagian dari perbuatan manusia. Ini didasari atas beberapa pemikiran yaitu, Pertama,perbuatan manusia banyak didasari atas kehendak dirinya dan tidak bisa semata-mata didasari atas determinan sebagaimana dalam psikoanalisa, atau sebagai diri. Kedua, salah satu karakteristik manusia adalah adanya kesadaran untuk selalu introspeksi, berdialog dengan dirinya sendiri, dan selalu berhubungan dengan lingkungan alam fisik.

Manusia selalu berinteraksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian. Semenjak awal telah menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh Ilahi. Kesalihan sosial adalah bagian dari interaksi seseorang dengan pengalaman keruhaniannya. Ketiga, sebagai makhluk berkesadaran, perilaku manusia didasari atas pilihan dan putusan rasional. Maka perilaku manusia seharusnya bisa terlepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Seorang yang salih akan tetap salih meski lingkungan sekitarnya banyak kriminalitas, korupsi, dan kejahatan lainnya.40

39Abdul Jamil WahabIndeks Kesalehan Sosial Masyarakat Indonesia. h. 11

40Abdul Jamil WahabIndeks Kesalehan Sosial.... h.12

2. Bentuk-bentuk Keshalehan sosial

Dalam perspektif para pemikir muslimin manusia tidak semata-mata sebagai makhluk yang harus melakukan pengabdian ibadah kepada Tuhan secara individual semata, namun memeiliki tugas dan peranan sosial taitu menciptakan tata sosial moral yang egalitarin sikap yang cocok dengan masyarakat Islam dan adil, menghilangkan fasad atau bentuk-bentuk kejahatan yang dapat membinasakan masyarakat.41 Oleh sebab itu perlu ditanamkan sikap keshalehan sosial yang meliputi:

1. Solidaritas sosial.

2. Toleransi.

3. Kerja sama.

4. Tengah-tengah.

5. Stabilitas.

Ibadah-ibadah yang memiliki efek terhadap keshalehan sosial adalah perintah-perintah agama yang berkaitan dengan ibadah induvidual selalu memperlihatkan tugas dan fungsinya, pada satu sisi ia merupakan cara seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, membebaskan diri dari ketergantungannya selain kepada Allah Swt dan pada saat yang sama ia menyatakan tuntutannya

41 Khoirul Tamawi, Pengaruh Zikir Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Kerhadap Keshehan Sosial Santri Di Pondok Pesantren Anwarul Huda Karangbesuki Malang,h. 4

kepada manusia untuk melakukan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan. Ibadah-ibadah tersebut antara lain:

a. Ibadah shalat

Shalat merupakan sarana menghadirkan Allah Swt dalam setiap individu, kesadaran akan kehadiran Allah Swt akan menjadikan manusia selalu menjalani hidupnya dengan kebaikan-kebaikan dan menjauhi keburukan-keburukan. Hal ini di jelaskan dalam Al-Qur‟an Qs. Al-Ankabut : 45

ۡ ت ٱ

ِنَع َٰىَه ۡ نَ ت َةَٰوَلَّصلٱ َّنِإ ََۖةَٰوَلَّصلٱ ِمِقَأَو ِبََٰتِكۡلٱ َنِم َكۡيَلِإ َيِحوُأ ٓاَم ل َنوُعَ نۡصَت اَم ُمَلۡعَ ي َُّللَّٱَو ِۗ

ُرَ ب ۡكَأ َِّللَّٱ ُرۡكِذَلَو ِِۗرَكنُمۡلٱَو ِءٓاَشۡحَفۡلٱ

٥٤

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shat. Sesungguhnya shat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan pernyataan yang lebih jelasnya terdapat dalam Qs. Al-Ma‟un :1-7



Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, Maka kecelakaanlah bagi orang yang shat, (yaitu)

orang-orang yang lalai dari shatnya, orang-orang-orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

a. Ibadah puasa

Ibadah puasa, selain merupakan proses menghadirkan Allah Swt, kedalam diri seorang muslim ini merupakan cara untuk mengendalikan ego yang sering kali menuntut dan mendesak kehidupan hedonistik.

Terdapat dalam Al-Qur‟an QS. Al-Baqarah: 183

َلَع َبِتُك اَمَك ُماَيِّصلٱ ُمُكۡيَلَع َبِتُك ْاوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّ يَََٰٓيَ

نِم َنيِذَّلٱ ى

َنوُقَّ تَ ت ۡمُكَّلَعَل ۡمُكِلۡبَ ق ٣٨١

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Bentuk-bentuk keshalehan sosial adalah keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup, bahkan seluruh aspek kehidupan manusia merupakan kunci kesejahteraan. Stabilitas kehidupan memerlukan keseimbangan dan kelestraian di segala bidang, baik yang bersifat kebendaan maupun yang berkaitan dengan jiwa, akal, emosi, nafsu dan jiwa manusia. Islam sebagaimana dalam beberapa ayat Al-Qur‟an dan juga hadits menuntut keseimbangan dalam hal tersebut. Kenyataan dimana-mana menunjukan lingkungan hidup mulai tergeser dari keseimbangannya. Ini merupakan akibat dari berbagai kecendrungan untuk cepat mencapai kepuasan lahiriah, tanpa mempertimbangkan disiplin sosial, dan tanpa mempertimbangkan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang

akan terjadi dimasa yang akan datang yang akan menyulitkan generasi selanjutnya.

BAB III

METODLOGI PENELITIAN

Dokumen terkait