• Tidak ada hasil yang ditemukan

ABSTRAK Studi Terhadap Kelompok Tarekat Qodiriyah Dan Keshalehan Sosial Di Surau Suluk Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ABSTRAK Studi Terhadap Kelompok Tarekat Qodiriyah Dan Keshalehan Sosial Di Surau Suluk Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok"

Copied!
101
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

ABSTRAK

Cahaya Rani, Nim. 4515008, Studi Terhadap Kelompok Tarekat Qodiriyah Dan Keshalehan Sosial Di Surau Suluk Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok , Skripsi Sarjana (S1) Prodi Aqidah dan Filsafat Islam IAIN Bukittinggi, 2019.

Tulisan ini akan mencoba memotret perkembangan tarekat Qodiriyah pada era tersebut di sejumlah kawasan negeri muslim, dilanjutkan dengan penelusuran aspek-aspek yang menjadi kekuatan dan daya tahan tarekat. Selain itu juga akan dieksplorasi bentuk adaptasi tarekat, khususnya berhubungan dengan keberhasilannya menggandeng kalangan kelas menengah kota, yang karena faktor psikologis dan sosial-politik mereka mulai menaruh kepercayaan kepada institusi tarekat. Meskipun kesan umum seolah menyatakan bahwa tarekat itu stagnan, jika ditelusuri lebih dalam akan terlihat dinamika dan respon aktualnya dalam menghadapi isu dan trend yang tengah terjadi. Bagi mereka yang mencari ketenangan, ketenteraman, persaudaraan, dan bimbingan spiritual, tarekat-tarekat sufi paling tidak telah memberikan perlindungan sementara dari tekanan perubahan dramatis di dunia sekitar mereka. Meskipun demikian patut dicermati, berbeda dengan tarekat di kebanyakan negeri muslim yang demikian massif, pengikut tarekat di negara-negara Barat dan Amerika Serikat jumlahnya tidak begitu signifikan bila dibandingkan dengan komunitas muslim yang belum masuk tarekat, apalagi dengan komunitas agama lain.

Masalah pokok yang ingin dibahas dalam penelitian skripsi ini adalah:

Pertama, Bagaiamana pelaksanaan tarekat Qodiriyah di Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok. Kedua, Bagaimana tarekat Qodiriyah membentuk keshalehan sosial.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu.hal ini dilihat pada individu yang masuk dalam kelompok tarekat Qodiriyah. Hasil penelitian diketahui bahwa 1). pelaksanaan tarekat qodiriyah di Kasiak Koto Sani Kabupaten yang dikembangkan oleh Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah merupakan salah satu tarekat terbesar yang berkembang di wilayah Solok. Melalui berbagai amalan yang diajarkan, antara lain pengamalan membaca syahadat, menghadiahkan Al- fatihah, istighfar, shalawat, wirid, zikir, dan do‟a, tarekat ini memiliki pengaruh atau dampak positif terhadap kesalehan spiritual dan ritual para jamaah. Seperti terlihat pada meningkatnya rutinitas dan disiplin para jamaah atau penganut tarekat lainnya dalam menjalankan ibadah wajib maupun sunnah, meningkatnya ketaqwaan mereka kepada Allah Swt., memberikan ketenangan hati dan pengaruh agar senantiasa berserah diri kepada Allah Swt, baik dalam keadaan sedang mendapatkan nikmat maupun cobaan selama menjalani hidup. Maka tidak heran, jika kehidupan masyarakat sekitar tampak begitu ramah, tenang, dan damai 2). Tarekat Qodiriyah membentuk kesalehan sosial dengan cara adanya kegiatan gotong royong, melakukan infaq pada saat pengajian ini dilakukan pada hari

(4)

kamis dan sabtu malam itu menjadi rutinitas setiap minggu bagi majelis yang ada di surau suluk, dan itu dilakukan tanpa paksaan dari orang lain, para sebagian jamaah mau memberikan apa yang mereka miliki tanpa berfikir dan mau berkorban waktu maupun tenaga untuk kemajuan surau, karena tidak semua jamaah yang mampu memberikan harta mereka hanya bisa membantu dengan tenaga, mereka tidak mengharapkan imbalan apapun kecuali hanya ridha Allah Swt.

(5)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Agama merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia dan turut serta dalam membentuk jiwa dan pandangan hidup manusia Indonesia.

Pembangunan dibidang agama pada hakekatnya bertujuan untuk memajukan kualitas masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta mampu menciptakan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan baik hidup manusia sebagai pribadi maupun dalam hubungan masyarakat dan alam lingkungan.

Keanekaragaman pemahaman terhadap ajaran agama yang disababkan oleh perbedaan dalam memahami dan memginterprestasi sumber pemahaman dapat melahirkan berbagai paham atau aliran keagamaan.

Dalam Islam, jumlah aliran-aliran keagamaan yang ada cukup banyak.

Salah satu aliran keagamaan dalam Islam yang lebih mementingkan olah batin untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan jalan memperbanyak dzikir dan ibadah serta menjauhi perbuatan tercela dinamakan tarekat.

Pada mulanya tarekat itu dilalui oleh sufi bersangkutan secara perseorangan tetapi dalam perjalanannya waktu tarekat itu diajarkan kepada orang lain, baik secara individual maupun secara kolektif.

Pengajaran tarekat kepada orang lain ini sudah dimulai dizaman al- Hallaj

(6)

Selanjutnya, berkembang pada sufi-sufi besar lainnya. Dengan demikian timbulah dalam sejarah Islam kumpulan-kumpulan sufi yang mampu mempunyai sufi tertentu sebagai syaikhnya dengan tarekat tertentu pula dan pengikutnya-pengikut ataumurid-murid.

Tarekat pun dalam arti yaitu jalan atau proses pensucian diri (QS. Al- Jiin: 16).



Artinya: Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).1

Dalam ayat diatas menjelaskan bahwa beristiqomah dalam melaksanakan suatu amalan yang baik akan menyebabkan turunnya fadlal dari dari Allah SWT yang digambarkan dengan air yang segar.

Tarekat adalah suatu jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dengan tujuan merasa sedekat mungkin dengan Tuhan.2Tarekat Qodiriyah mempunyai ajaran-ajaran yang berupa wirid-wirid dan dzikir-dzikir.

Sedangkan pada dzikirnya dinamakan dzikir nafi‟ itsbat atau dzikir jahr yang dilakukan dengan bersuara اللهلاا هلالا. Hal ini dilakukan demikian, sebab dzikir tidak hanya berarti mengingat Allah, dzikir melibatkan aktivitas menyebut nama Allah berulang-ulang.3

1. Qur‟an Q.S Al- Jiin ayat 16

2Ridwan A. Malik, Riki Saputra, Akhlak Tasawuf, (Padang: Stain Mahmud Yunus Press, 2009), h.. 100.

3Digilib.uinsby.ac.idBAB III Sejarah Munculnya Tarekat.... 37

(7)

Obyek aktivitas mengingat Allah yang realitas terungkap dengan secara padat dalam kalimat pertama syahadat yaitu :اللهلاا هلالا (tidak ada Tuhan selain Allah) mengandung keseluruhan nama Allah yang disebutkan dalam Al-Qur‟an. Dan merupakan dzikir yang paling baik. Orang yang pertama kali menganjurkan dzikir nafi‟ itsbat adalah Sayyidina Ali Karramahu Wajhah, yang kemudian menurun kepada Sultanul Auliya‟

yaitu Syekh Abdul Qadir Jailani. Setelah dzikir ini dijalankan oleh Syekh Abdul Qadir Jailani kemudian dinamakan dzikir Qadiri atau tarekat Qodiriyah.

Pada malam itu juga, antara sadar dan tidak, ia di datangi oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani (471 H- 561 H / 1078 M- 1166 M) untuk memberikan bimbingan keagamaan. Sebelum Abdul Qadir Jailani masuk ia memberi salam terlebih dahulu, kemudian ia memperkenalkan dirinya, tetapi hanafiah tidak menjawab salamnya, karena ia tidak mengetahui siapa Abdul Qadir Jailani itu. Kemudian ia mencari tahu, dan bertanya kepada orang di sekitarnya. Setelah ia mengetahui bahwa dia itu adalah seorang ulama yang memiliki kekeramatan, maka baru malam ketiga dijawab salamnya, dan pada waktu itu juga Syaikh Abdul Qadir Jailani masuk mengajarkan agama, terutama meyakinkan Hanafiah bahwa Tuhan itu benar-benar ada, dan tidak diragukan keberadaan-Nya. Syaikh Abdul

(8)

Qadir Jailani juga menganjurkan Hanafiah membaca surah Al- Kahfi tujuh malam berturut-turut.4

Pada bulan April tahun 2000, Tuangku Hanafiah melaksanakan ibadah haji, beberapa warga negara Saudia Arabiah, keturunan Indonesia belajar kepadanya, di antaranya Lukman berasal dari Jakarta, Jamil Aceh, dan Syamsuddin. Yang terakhir ini pernah menjadi juru masak kerajaan Arab Saudi.

Pada awal 2000, Tuangku Hanafiah bersama majelisnya mendirikan suatu lembaga pengkajian dan pengembangan tasawuf yang di namai TICI (Tasawuf Islamic Centre Indonesia). Lembaga ini diresmikan oleh Gubernur Sumatera Barat, dan Kanwil Departemen Agama Sumbar duduk sebagai penasehat. Tuangku Hanafiah dikenal sebagai Guru Besar TICI, sejak tahun 2004, TICI dipindahkan ke Jakarta.

Tuangku Hanafiah menyunting gadis berdarah Jawa Bukittinggi bernama Yuli (dipanggil Ummi) yang baru dikenalnya beberapa minggu ketika ia mengikuti zikir di TICI. Pada bulan Maret 2002, ia menikah di Kota Solok, tempat kediaman kedua orangtua isterinya. Pada tanggal 27 Desember 2002, Tuangku Hanafiah dan isterinya dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Muhammad Isa Rabbani.

Menurut Tuangku Hanafiah “Seorang yang mencari Tuhan tidaklah mesti ia meninggalkan kehidupan dunia, karena dunia diciptakan untuk kita, namun bukan untuk di cintai. Ambilah manfaat dunia ini untukmu,

4 Ahmad Rahman, Sastra Ilahi Ilham Sirriyah Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah, , No. 16, Jakarta Selatan, Mei 2004. h., 16

(9)

lalu tinggalkan segala keindahannya dari pada dirimu, niscaya kamu akan menemui dunia ini menjadi alat bagimu untuk mencapai Tuhanmu.

Sejak Januari 2004, Tuangku Hanafiah beserta keluarga menetap sementara di Jakarta untuk memimpin TICI. Dari data yang telah diperoleh maka diurutkan silsilah yang ada dalam tariqah qodiriya, maka dapat di uraikan sebagai berikut, Silsilahnya bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir Jailani, lewat putranya Ahmad Musa. Bahkan kalau ditelusuri ke atas sampai pada Nabi Muhammad SAW.5 Untuk jelasnya dapat dilihat silsilah berikut ini:

1. Nabi Muhammad Saw.

2. Fatimah bin Muhamad Saw.

3. Hasan bin Ali.

4. Hasan Al- Mutsanna bin Hasan.

5. Abdullah Al- Mahdi bin Hasan.

6. Musa Al- Junni bin Musa.

7. Abdullah bin Musa.

8. Musa bin Abdullah.

9. Daud bin Musa.

10. Muhammad bin Daud.

11. Yahya az-Zahid bin Muhammad.

12. Abdullah bin Yahya.

13. Abu Shaleh Musa Janaki bin Abdullah.

5. Ahmad Rahman, Sastra Ilahi Ilham Sirriyah...h.. 17

(10)

14. Sulthan Awliya‟ Syaikh Abdul Qadir Jailani bin Abu Shaleh.

15. Ahmad Musa bin Abdul Qadir.

16. Abdullah Quthub bin Ahmad Musa.

17. Muhammad „Arifbillah bin Abdullah.

18. Daud Al- Hakkani bin Muhammad.

19. Abdullah Jamaluddin bin Daud.

20. Abdul Qadir bin Abdullah.

21. Ibrahim As- Sumatrani bin Abdul Qadir.

22. Khairuddin Khatib bin Ibrahim.

23. Abdul Wahab bin Khairuddin.

24. Ahmad Qasim bin Abdul Wahab.

25. Abdullah Rahman bin Ahmad.

26. Muhammad Yusuf bin Abdullah.

27. Ahmad Nashir bin Muhammad.

28. Zainuddin bin Ahmad.

29. Ahmad Kuwat bin Zainuddin.

30. Ibrahim bin Ahmad Kuwat.

31. Anwar Ibrahim bin Ibrahim.

32. Sudirman Anwar bin Anwar Ibrahim.

33. Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah bin Sudirman Anwar.6

Dengan nama lengkap Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Al Qutub Ar Rabbani, Lahir pada tanggal 2 April 1978 M dari kakek yang

6Wawancara dengan Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah, tanggal 06 September 2019 di Pondok Pesantren Taruna Rabbani Kabupaten Solok.

(11)

bernama Ibrahim dan nenek yang bernama Siti Hajar, lengkap dengan tanda- tanda di atas.

Dari silsilah di atas tarekat qodiriyah juga memiliki beberapa khalifah yang ada di dalamnya yang di urutkan mulai dari yang pertama yaitu, Muhammad Jailani Ali. yang kedua, Muhammad Jailani Mahdi. yang ketiga, Muhammad Jailani Ghaffar. yang keempat, Muhammad Jailani Qudus. Yang kelima, Muhammad Jailani Al Wali. Yang keenam, Buya Alizar Zaidan Al Hanafi.

Didalam tarekat qodiriyah juga terdapat beberapa ajaran dasar yang dijalankan oleh para pengikut tarekat qodiriyah yaitu:

1. Mujahadah an nafs.

Mujahadah an nafs atau mengontrol diri adalah perjuangan sungguh- sungguh atau jihad melawan ego atau hawa nafsu pribadi, melawan kehendak hawa nafsu dan membelenggu-nya dengan takwa dan takut kepada Allâh Swt. dengan jalan muraqabah (beribadah kepada Allâh Swt. seakan-akan melihat- Nya jika tidak mampu maka yakinlah bahwa Allâh Swt. Maha Melihat). Dan sebagai penguat tentang adanya mujahadah ini Rasulullah SAW bersabda:

(12)

Artinya: Bukanlah orang kuat itu yang (biasa menang) saat bertarung bergulat, tetapi orang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya ketika marah.

Mujahadah an nafs memiliki beberapa peran penting yaitu:

a. Kontrol diri berperan penting dalam hubungan seseorang dengan orang lain (interaksi sosial).

b. Kontrol diri memiliki peran dalam menunjukkan siapa diri kita (nilai diri).

c. Kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan pribadi.

d. Kontrol diri membantu kita agar dapat menjadi pribadi yang efektif, dengan meminimalkan perilaku buruk yang selama ini banyak kita jumpai dalam kehidupan di masyarakat juga dalam tatanan kenegaraan.

2. Taubat

Taubat adalah kembali kepada jalan Allah dengan mengurai ikatan dosa yang terus menerus dari hati kemudian melaksanakan setiap hak Tuhan. Ibnu Abbas ra. berkata: taubat al-nashuha adalah penyesalan dalam hati, permohonan ampun dengan lisan, meninggalkan dengan anggota badan, dan berniat tidak akan mengulangi lagi.jadi taubat al-nashuha tidak hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh mulut, tidak bersungguh-sungguh bermaksud

(13)

untuk menghentikan perbuatan- perbuatan dosa itu, dan tidak melakukan tindakan nyata untuk menghentikannya. 7

Syaikh Abd al- Qadir menganggap taubat bagaikan air yang menghilangkan najis, begitu juga taubat menghilangkan dosa dan kotoran maksiat. Beliay berwasiat kepada anakanya” wahai anakku, janganlah kamu berputus asa untuk mendapatkan rahmat Allah Swt dengan melakukan kemaksiatan,tetapi basuhlah najis yang ada pada baju agamamu dengan air taubat, konsistenlah terhadapnya, dan ikhlaslah di dalamnya”.

Taubat ini sangat dianjurkan kepada setiap orang mukmin, sebagaimana firman Allah dalam surah at- Taubah ayat 31

















































Artinya: Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib- rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al masih putera Maryam, padahal mereka Hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Menurut Syaikh Abdu al- Qadir jilani, taubat itu ada dua macam, yaitu:

a. Taubat yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Taubat ini tidak terealisasi, kecuali dengan menghindari

7 Sri Mulyati, Tarekat- Tarekat Muktabrah Di Indonesia: (Jakarta: Kencana, 2011), h. 38

(14)

kezaliman, memberikan hak kepada yang berhak dan mengembalikan kepada pemiliknya.

b. Taubat yang berkaitan dengan hak Allah. Taubat ini dilakukan dengan cara selalu mengucapkan istighfar dengan lisan, menyesal dalam hati, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi di masa mendatang.

3. Zuhud

Zuhud secara etimologi adalah zahada fihi, wa zahada’

anhu, wa zahadan, yaitu berpaling darinya dan meninggalkannya

karena menganggapnya hina atau menjauhinya karena dosa.

Zuhud secara terminologi zuhud merupakan gambaran tentang menghindari dari mencintai sesuatu yang menuju kepada sesuatu yang lebih baik darinya atau dengan istilah lain, menghindari dunia karena tahu kehinaannya bila dibandingkan dengan kemahalan akhirat.

Menurut Syaikh Abd al- Qadir bahwa zuhud ada dua yaitu:

zahid hakiki ( mengeluarkan dunia dari hatinya) dan mutazahid shuwari/ zuhud lahir ( mengeluarkan dunia dari hadapannya).

Namun hal ini tidak berarti bahwa seorang zahid hakiki menolak rezeki yang diberikan Allah kepadanya, tetapi dia mengambilnya lalu digunakan untuk ketaatan kepada Allah.

Zuhud memang membawa kesucian kepada diri si salik.

Zuhud mengajarkan betapa si salik harus menahan hawa nafsu

(15)

(sesuatu yang kita sayangi) serta menolak semua tuntutannya. Kita tahu bahwa dalam berbagai hal , hawa nafsulah puncak segala kecelakaan diri, baik di dunia, terlebih lagi di akhirat. Oleh karena itu, nafsu tidak boleh dijadikan sebagai teman, justru harus dianggap sebagai lawan dan pembinasa manusia.

4. Tawakkal

Tawakal artinya berserah diri yakni salah satu sifat mulia yang harus ada pada diri sufi. Bila ia benar- benar telah mengenal Tuhannya melalui ma‟rifat yang telah dicapainya, tidak mungkin sifat tawakal tersisish dari darinya. Sebab, mustahil jika seorang sufi yang selalu berada di sisi Tuhan tidak memiliki jiwa tawakal.

Syaikh Abdul Qadir menekankan bahwa tawakal berada diantara pintu- pintu iman, sedangkan iman tidak terurus dengan baik kecuali dengan adanya ilmu menjadi pokok tawakal, sementara amal adalah buah tawakal.8

Dengan demikian hakikat tawakal adalah menyerahkan segala urusan kepada Allâh Swt dan membersihkan diri dari gelapnya pilihan, tunduk dan patuh kepada hukum dan takdir.

Sehingga dia yakin bahwa tidak ada perubahan dalam bagian apa yang merupakan bagiannya tidak akan hilang dan apa yang tidak ditakdirkan untuknya tidak akan diterima. Maka hatinya merasa tenang karenanya dan merasa nyaman dengan janji Tuhannya.

8Sri Mulyati, Tarekat- Tarekat Muktabrah ..., h. 41

(16)

5. Akhlak yang mulia baik kepada Allâh Swt. maupun kepada sesama hamba Allâh Swt.

Akhlak adalah perangai serta tingkah laku yang terdapat pada diri seseorang yang telah melekat, dilakukan dan dipertahankan secara terus menerus.

6. Syukur

Syukur adalah ungkapan rasa terima kasih atas nikmat yang diterima, baik lisan, tangan, maupun hati. Menurut Syaikh Abd Qadir hakikat syukur adalah mengakui nikamt Allah karena Dialah pemilik karunia dan pemberian sehingga hati mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan patuh kepada syariat-Nya.

7. Sabar

Sabar adalah tidak mengeluh karena sakitnya musibah yang menimpa kita kecuali mengeluh kepada Allah karena Allah SWT.

8. Ridha

Ridha adalah kebahagiaan hati dalam menerima ketetapan (takdir).

9. Jujur

Jujur adalah menetapkan hukum sesuai dengan kenyataan.

Fenomena yang terjadi dalam tarekat Qodiriyah ditemukan bahwa para pengamal tarekat yang walaupun secara individual tidak saling mengenal diantara mereka, namun dengan simbol-simbol yang digunakan mereka dengan cepat dapat beradaptasi dengan lingkungan yang mereka

(17)

temui. Sebagai pengamal tarekat Qodiriyah, pada setiap rumah mereka terdapat gambar Syekh Abdul Qadir Jailani dan Annangguru Shaleh, dari gambar ini maka dengan cepat mudah berkomunikasi berbicara tentang hal-hal yang menyangkut ke Qodiriyahan demikian pula hal lain seperti persoalan politik yang menyangkut tentang politik yang mereka inginkan.9

Mereka berbaur satu sama lain tanpa terlihat adanya status sosial yang berbeda. Ini menunjukkan entitas sosial yang kuat di antara pengamal tarekat. Mereka saling kenal mengenal, memperbincangkan masalah- masalah sosial, agama, ekonomi sampai persoalan-persoalan politik nampak pula sikap individualistik yang tidak peduli terhadap perbincangan tersebut. Namun sikap ukhuwah terasa dalam pertemuan tersebut.10

Hal ini dapat dilihat dengan berkembangnya fungsi eksklusif menjadi inklusif ketika kita melihat peran tarekat yang sangat terbuka, sebagai fakta pada masa perkembangan masa penjajahan di Indonesia lembaga-lembaga tarekat merupakan kekuatan tersendiri bagiupaya melawan penjajah.11 Dalam konteks saat ini pun tarekat terkadang dijadikan sebagai salah satu kekuatan politik. Terlepas dari isu-isu politik tersebut, tarekat yang semula notabene adalah pada kelompok-kelompok marginal12, pedesaan, kini sudah menyebar kepada kelompok menengah

9Musafir Pababbari,Katup Pengaman Sosial: Kajian Sosiologis Tarekat Qodiriyah Di Polmas Sulawesi Barat, Sosio-Religia, Vol. 7 No. 3, Mei 2008, h. 621

10Musafir Pababbari,Katup Pengaman Sosial: Kajian Sosiol...,h. 622

11A. Fauzan Saleh , Tarekat Dan Reposisi Antara Kelas Bawah kelas Menengah, Jurnal Darussalam, Vol. 11, No.2, Juli s/d Desember 2010, h. 1

12https://kbbi.web.id/marginal marginal/mar·gi·nal/ a 1 berhubungan dengan batas (tepi);

tidak terlalu menguntungkan: mereka sama-sama melakukan ekonomi --; 2 berada di

(18)

dan perkotaan. Imprealisasi13 ini terus bergulir ke berbagai kalangan, kawasan dan membawa misi yang tidak terbendung mengingat gerakannya sangat membumi padalapisan grassroot.14

Dari hasil observasi awal yang telah dilakukan bahwa nilai ajaran tarekat dalam kehidupan sosial adalah mendekat diri kepada Allah agar bisa melihat ma‟rifah atau bahkan bersatu al- ittihad dengan Allah tajalli.

Allah adalah Zat Yang Maha Suci, bersifat immateri. Sesuatu yang bersifat immateri dan suci hanya dapat didekati oleh yang bersifat immateri dan suci pula, inilah yang dikenal dengan ruh manusia. Ruh yang suci bisa jadi kotor, apabila tubuh manusia tempat ruh bersemayam dikotori hawa nafsu yang tidak terkendali. Untuk mengendalikan hawa nafsu diperlukan upaya mengosongkan diri dari ketergantungan terhadap kelezatan dunia, kemudian diisi dengan sifat-sifat yang baik. Latihan pengendalian ini melalui jalan panjang, sulit dan memerlukan kesabaran yang dikenal dengan maqam.15 Langkah awal yang harus dilalui apabila seseorang menyadari bahwa dirinya tidak luput dari kesalahan dan bertekad untuk meninggalkan kesalahan-kesalahan tersebut kemudian bertaubat.

pinggir: kalau dahulu kelompok itu dipandang -- , tetapi sejak pemerintah baru sudah amat menentukan;diakses tanggal 20 November 2018.

13https://ms.wikipedia.org/wiki/ImperialismeImperialisme merupakan istilah umum bagi merujuk kepada penjajahan dan penguasaan terhadap negara-negara kecil oleh kuasa-kuasa asing bagi kepentingan ekonomi dan politik, diakses tanggal 20 November 2018.

14https://www.artikata.com/arti-82468-grassroots.html Grassrootmenurut KBBI turut, turut-menurut, berturut, turut menuruti, menurutkan, turutan, diakses tanggal 20 November 2018.

15 Lindung Hidayat Siregar, Sejarah Tarekat dan Dinamika Sosial. Vol XXXIII, No.2 Juli- Desember 2009, h.. 180

(19)

Tulisan ini akan mencoba memotret perkembangan tarekat pada era tersebut di sejumlah kawasan negeri muslim, dilanjutkan dengan penelusuran aspek-aspek yang menjadi kekuatan dan daya tahan tarekat.

Selain itu juga akan dieksplorasi bentuk adaptasi tarekat, khususnya berhubungan dengan keberhasilannya menggandeng kalangan kelas menengah kota, yang karena faktor psikologis dan sosial-politik mereka mulai menaruh kepercayaan kepada institusi tarekat. Meskipun kesan umum seolah menyatakan bahwa tarekat itu stagnan16, jika ditelusuri lebih dalam akan terlihat dinamika dan respon aktualnya dalam menghadapi isu dan trend yang tengah terjadi.

Bagi mereka yang mencari ketenangan, ketenteraman, persaudaraan, dan bimbingan spiritual, tarekat-tarekat sufi paling tidak telah memberikan perlindungan sementara dari tekanan perubahan dramatis di dunia sekitar mereka.17 Meskipun demikian patut dicermati, berbeda dengan tarekat di kebanyakan negeri muslim yang demikian massif, pengikut tarekat di negara-negara Barat dan Amerika Serikat jumlahnya tidak begitu signifikan bila dibandingkan dengan komunitas muslim yang belum masuk tarekat, apalagi dengan komunitas agama lain.18

Berangkat dari latar belakang diatas, penulis mencoba untuk merumuskan atau mengerucutkan masalah mengenai Studi Terhadap

16https://www.selebriti.co.id/kamus/stagnan/Stagnan – stag·nan a cak dl keadaan terhenti, diakses tanggal 20 November 2018.

17A. Fauzan Saleh , Tarekat Dan Reposisi Antara Kelas Bawah..., h.. 8

18A. Fauzan Saleh , Tarekat Dan Reposisi Antara Kelas Bawah..., h.. 13

(20)

Kelompok Tarekat Qodiriyah Dan Keshalehan Sosial dengan mengambil judul “Studi Terhadap Kelompok Tarekat Qodiriyah Dan Keshalehan Sosial Di Surau Suluk Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok”

B. Rumusan dan Batasan Masalah 1. Rumusan Masalah

Dalam penulisan ini, penulis memberi rumusan masalah yang akan dibahas yakni: “ Apa Yang Melatar Belakangi Pelaksanaan kelompok Tarekat Qodiriyah Dan Keshalehan Sosial Di Surau Suluk Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok”

2. Batasan Masalah

a. Bagaiamana pelaksanaan tarekat qodiriyah di kasiak koto sani kabupaten solok?

b. Bagaimana tarekat qodiriyah membentuk keshalehan sosial?

C. Tujuan dan Kegunaan 1. Tujuan

Adapun tujuan yang akan dicapai oleh penulis dalam penelitian ini, adalah:

a. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan Tarekat Qodiriyah tersebut.

b. Untuk mengetahui bagaimana studi pelaksanaan dalam Tarekat Qodiriyah dan keshalehan sosial.

(21)

2. Kegunaan

Adapun kegunaan yang akan dicapai oleh penulis dalam penelitian ini, adalah:

a. Untuk memenuhi salah satu syarat akademik mencapai gelar sarjana (S1) Jurusan Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi.

b. Dapat memberikan sumabangan yang bermanfaat bagi pembaca dan khususnya bagi peneliti sendiri tentang Tarekat Qodiriyah.

D. Defenisi dan Operasional

Supaya tidak terjadi kesalah pahaman dan kekeliruan dalam memaknai istilah dalam judul skripsi ini, maka penulis merasa perlu memberikan penjelasan terhadap berbagai istilah dan maksud dari kata- kata yang ada dalam judul yaitu sebagai berikut:

Pelaksanaan : Pelaksanaan merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh suatu badan atau wadah secara berencana, teratur dan terarah guna mencapai tujuan yang diharapkan

Tarekat : berarti jalan atau metode, dan mengacu pada aliran kegamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan ḥaqīqah atau

"kebenaran sejati", yaitu cita-cita ideal yang ingin

(22)

dicapai oleh para pelaku aliran tersebut.19

Qodiriyah : Qodiriyah adalah nama tarekat sufi berdasarkan nama sang pendiri, yaitu Syaikh Abdul Qadir Jailani (4710- 561 H / 1077- 1166 M).20

Keshalehan Sosial : Kesalehan berasal dari kata “saleh” dengan awalan

“ke” dan akhiran “an” yang berarti hal keadaaan yang berkenaan dengan saleh. Kata “saleh” berasal dari bahasa arab yang berarti baik. Dalam KBBI saleh berarti taat dan sungguh dalam menjalankan ibadah. Beramal saleh berati bekerja dengan pekerjaan yang baik. Sedangkan sosial dalam KBBI diartikan sebagai masyarakat. Kata sosial berasal dari kata “society” yang berarti bermasyarakat. Jadi, kesalehan sosial adalah kebaikan dalam kerangka hidup bermasyarakat.21

E. Sistematika Penulisan

Agar lebih terarah penulisan skripsi ini, maka penulis akan menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:

19Dahlan Tamrin, Tasawuf Irfani Tutup Nasut Buka Lahut, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h. 47

20Zaprul Khan, Ilmu Tasawuf: sebuah kajian tematik, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), h.103

21Abdul Jamil Wahab, Indeks Kesalehan Sosial,(Jakarta: Puslitbang Kehidupan Keagamaan. 2015), h.9

(23)

BAB I : Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, rumusan dan batasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, defenisi operasional, dan sistematika penulisan

BAB II : Kerangka teori yang berisikan landasan teori, penelitian yang relefan, dan kerangka berfikir

BAB III : Metodologi penelitian, yang berisikan tentang. jenis dan objek penelitian, sumber dan teknik pengumpulan data.

BAB IV : Hasil penelitian

BAB V : Merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran-saran

F. Tinjauan Pustaka

Penelitian yang dilakukan Neneng Hasanah yang berjudul Pengaruh tarekat Qadiriah Wa Naqsyabandiyah terhadap Keshalehan Sosial Jamaah Pengajian di Desa Sekincau Kecamatan Sekincau Kabupaten Lampung Barat, Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin IAIN Raden Intan Lampung, 1436 H / 2015 M. penelitian ini membahas 10 pengaruh tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah terhadap kesalehan sosial.

Persamaan skripsi ini terletak pada subyeknya yakni pengikut Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyah. Sedangkan letak perbedaan skripsi yang di tulis peneliti dengan skripsi yang ditulis Neneng Hasanah adalah fokus penelitiannya, yakni fokus penelitian penulis adalah kematangan beragama

(24)

sedangkan skripsi yang ditulis Neneng Hasanah fokus pada kesalehan sosial.

Penelitian yang dilakukan Miftahul Jannah yang berjudul Nilai Pendidikan Sosial Dalam Ajaran Tarekat di Mesjid Pesona Illahi Joresan Mlarak Ponorogo. Tahun 2013, Program Studi Pendidikan Agama Islam.

Fakultas Tarbiyah, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Ponorogo.

Penelitian ini membahas pendidikan spiritual dan pendidikan sosial merupakan sendi penting dalam ajaran spiritual sebagai kiat proses mendidik, mempengaruhi dan memenanamkan dalam diri seorang dalam ibadah dan muamalah yang menjadi salah satu baro meter bagi tingkat keberhasilan pendidikan. Tapi hal ini dianggap kurang maksimal dilakukan oleh perorangan dan perlu di dukung oleh program terlembaga.

Pembentukan keshalehan sosial di tuduh berlebihan, mementingkan aspek spiritual dan mengabaikan peranan sosial. Sehingga Islam yang merupakan agama rohmatallil‟alamin terkesan menjadi agama yang memisahkan antara kepentingan agama dan kepentingan sosial, dalam hal ini ajaran tarekat di Majelis Pesona Ilahi bersinergi melakukan kedua pendidikan baik spiritual maupun sosial dalam mewujudkan rohmatallil‟alamin demi pencapaian khoirul ummah yang di idamkan.

Penelitian yang dilakukan Khoirul Tanami yang berjudul Pengaruh Zikir Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Kerhadap Keshalehan Sosial Santri Di Pondok Pesantren Anwarul Huda Karangbesuki Malang Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan

(25)

Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang penelitian ini membahas tentang Zikir yang ada di Pondok Pesantren Anwarul Huda yang secara aktif memberikan pengarahan kepada santri-santri di pondok pesantren Anwarul Huda, dalam pengendalian emosi dan kebenaran dalam agama. Zikir tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di pondok pesantren Anwarul Huda pada dasarnya diberikan kepada santri-santri karena secara umum santri memiliki berbagai watak dan perilaku yang mengarah kepada hal yang tidak baik, dalam aspek biologis maupun pisikis. Dengan latar belakang kemajuan teknologi dan gejala politik yang terjadi, maka imbasnya pada hilangnya keshalehan seseorang terlebih adalah keshalehan sosial.

Keshalehan seseorang seringkali diukur dengan keshalehan indivudu, sedangkan keshalehan sosial kurang begitu menjadi tolak ukur, sehingga banyak santri yang identitas ibadah individualnya tinggi, namun mengenyampingkan ibadah secara sosial. Walau bila ditinjau dari segi agama pengetahuan santri tentang baik itu ibadah induvidual maupun sosial setidaknya lebih tau dari masyarakat awam, namun masih saja belum bisa mengkondisikan dirinya secara total.

(26)

BAB II

LANDASAN TEORI A. Tarekat Qodiriyah

1. Pengertian Tarekat Qodiriyah a. Pengertian tarekat

Secara etimologi tarekat berasal dari bahasa Arab ةقٌ رط, yakni jalan, kemudian setelah terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “tarekat”. Ia berarti cara, metode, jalan, atau kelompok kaum sufi.22

Secara terminologi, pengertian tarekat dapat dilihat dari ungkapan Zamakhsyari Dhofier yang mengartikannya sebagai suatu kelompok organisasi (dalam lingkungan Islam tradisional) yang melakukan amalan-amalan zikir tertentu dan menyampaikan sumpah yang formulanya telah ditentukan oleh pimpinan organisasi tarekat tersebut.23

Tarekat juga dapat diartikan sebagai lembaga/institusi yang berorintasi kepada pembentukan hubungan yang intensif bagi seorang hamba dengan Allah swt. Definisi ini tampaknya tidak memberikan ruang yang luas bagi gerak dan implikasi lembaga ini, namun kenyataan ini tetap mengalami evolusi dari satu kondisi dan pencitraan dari satu realitas ke realitas lainnya. Hal ini dapat dilihat

22Digilib.uinsby.ac.id BAB III Sejarah Munculnya Tarekat Qadiriyah di Jombang. h. 34- 35

23Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren, cet. 6 (Jakarta: LP3ES, 1994), h. 135.

(27)

dengan berkembangnya fungsi eksklusif menjadi inklusif ketika kita melihat peran tarekat yang sangat terbukan, sebagai fakta pada masa perkembangan masa penjajahan di Indonesia lembaga- lembaga tarekat merupakan kekuatan tersendiri bagi upaya melawan penjajah.24

Dalam konteks saat ini tarekat terkadang dijadikan sebagai salah satu kekuatan politik. Terlepas dari isu-isu politik tersebut, tarekat yang semula notabene adalah pada kelompok-kelompok marginal, pedesaan, kini sudah menyebar kepada kelompok menengah dan perkotaan. Imprealisasi ini terus bergulir keberbagai kalangan, kawasan dan membawa misi yang tidak terbendung mengingat gerakannya sangat membumi.

Pengertian Tarekat seperti dikemukakan oleh Kyai Muslih mengandung arti bahwa penganut tarekat yang tidak mementingkan syari‟at adalah batal. Syari‟at dan tarekat menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam rangka mencapai drajat mengetahui (ma‟rifat) Allah.25 Tarekat yang diamalkan itu memiliki silsilah guru yang bersambung sampai dengan Rasulullah SAW dengan demikian tercapailah pemurnian tarekat dari paham yang memandang rendah syari‟at.26

24A. Fauzan Saleh “Tarekat Dan Reposisi Antara Kelas Bawah kelas Menengah”, Jurnal Darussalam, Vol. 11, No.2, Juli – Desember 2010, h.1

25Ahmad Syafi‟i Mufid, Tangklukan Abangan dan Tarekat: Kebangkitan Agama di Jawa thn 2006.h. 70

26Kyai Muslih thn.1976 h.40-41

(28)

b. Tarekat Qodiriyah

Tarekat ini didirikan oleh Syeikh Muhyiddin Abd Qadir al- Jailani. Seorang sufi yang sangat legendaris, dengan sekian banyak sebutan kehormatan, antara lain : Qutub al-auliya‟, Sahib al- karamat, dan Sultan al-auliya‟. Ia diyakini sebagai pemilik dan pendiri tarekat ini. Syekh Abdul Qadir Jailani lahir di wilayah Tribistan pada tahun 471 H (1078 M) dan wafat di Bagdad tahun 561 H (1168M). Pada mulanya beliau adalah ahli fiqih yang terkenal dalam madzhab Hambali.27

Mustafa Zuhri mengatakan bahwa pada awalnya Syekh Abdul Qadir Jailani berguru kepada seorang ahli sufi yang bernama Hamad. Ia seorang penjual serbet, namun dia adalah seorang wali Allah. Wali inilah yang membimbing Syekh Abdul Qadir Jailani dalam masalah tarekat sufiyah menghindarkan dirinya dari segala kebutuhan dan kemewahan hidup, kecuali h-h yang dirasakan sangat perlu baginya. Dalam masa latihan ini, ia menghindarkan diri dari manusia dan tidak mau bertemu dan berbicara dengan siapapun. Akhirnya ia meninggalkan Baghdad dan tinggal di Shurtan. Beliau mengasingkan diri dari duniaa selama sebelas tahun. Setelah genap sebelas tahun, maka tamatlah latihan kerohaniaanya. Nafsu amarahnya pun kosong dari jiwanya

27Digilib.uinsby.ac.id BAB III Sejarah Munculnya Tarekat....h 36

(29)

dan beliau pun naik keperingkat yang lebih tinggi didalam masalah kerohanian dan hampir berada di dekat.

B. Keshalehan Sosial

1. Pengertian kesalehan sosial

Keshehan berasal dari kata “Sheh” dengan awalan “ke” dengan akhiran “an” yang berarti hal keadaan yang berkenaan dengan kata

“sheh” berasal dan bahasa Arab yang berarti baik. Dalam KBBI kata sheh berati taat dan sungguh dalam menjalankan ibadah. Beramal sheh berati bekerja dengan pekerjaan yang baik. Sedangkan sosial dalam KBBI diartikan sebagai masyarakat. Kata sosial berasal dari kata

“Society” yang berati bermasyarakat. Jadi keshehan sosial adalah kebaikan dalam kerangka hidup bermasyarakat.28

Dalam perspektif Islam keshehan sosial tidak bisa dilepaskan dari konsep dasar tujuan penciptaan manusia, sehingga mempengaruhi dalam sistem sosial yang diciptakan. Dalam perspektif para pemikir muslim, manusia tidak semata-mata sebagai makhluk yang harus melakukan ibadah kepada Tuhan semata, melainkan juga memiliki tugas dan peran sosial yaitu untuk menciptakan tata sosial moral ang sesuai syari‟at dan adil, menghilangkan fasad atau bentuk-bentuk kejahatan yang dapat membinasakan masyarakat. Sebagai khifah Allah manusia merupakan makhluk sosial multi-interaksi yakni memiliki tanggung jawab baik kepada Allah maupun sesama manusia.

28. Khoirul Tanami yang berjudul Pengaruh Zikir Tarekat Qodiriyah...h.40

(30)

Ayat-ayat tentang ibadah dan ayat-ayat yang berkenaan dengan kehidupan sosial adalah satu banding seratus, untuk satu ayat ibadah ada seratus ayat untuk ayat muamalah. Begitu juga dalam kitab hadits, ada dua puluh yang berkenan dengan fatt al bari: Syarah Shahih Bukhari hanya empat yang berkenan dengan ibadah. Hal tersebut menggambarkan bahwa urusan sosial atau masalah yang berhubungan dengan hak-hak manusia itu mendapat tempat yang sangat penting dalam batang tubuh ajaran Islam. Oleh karena itu banyak para ahli memberikan defenisi tentang keshehan sosial diantaranya:

a. Mustafa Bisri

Keshehan sosial adalah perilaku orang-orang yang sangat peduli dengan nilai-nilai Islami yang bersifat sosial, suka memikirkan dan santun kepada orang lain, suka menolong, dan seterusnya. Meskipun orang-orang ini tidak setekun kelompok keshehan ritual dalam melalukan ibadah seperti: sembahyang dan sebagainya. Lebih mementingkan hablum minan nass.29 b. Abdurrahman Wahid

Keshehan sosial adalah suatu keshehan yang tak cuma ditandai oleh rukuk dan sujud, melainkan juga dengan cucuran keringat dalam praksis hidup keseharian kita.30

Dalam perspektif ilmu pengetahuan masih belum ada teori secara khusus yang menjelaskan tentang keshehan sosial, namun terdapat teori

29. Mustafa Bisri, menimbang arti keshehan dalam Islam

30. Mustafa Bisri, menimbang arti keshehan dalam Islam

(31)

yang mungkin dapat menggambarkan tentang keshehan sosial yakni teori tentang bentuk kesadaran dalam diri individu yang dalam psikologi kognitif dikenal dengan toeri tentang konsep diri.

Dalam ranah filsafat yang mungkin bisa menjelaskan keshehan sosial yakni tentang makna perbuatan akhlaki, karena dalam filsafat merupakan hasil pemikiran mendalam dari tiap-tiap individu. Banyak mazhab-mazhab filsafat yang berbeda dalam menjelaskan perbuatan akhlaki tersebut, menurut Imanuel Kant, setiap perbuatan yang di kerjakan seseorang dengan alasan mentaati perintah intuisi secara absolut, ia melakukannya berdasarkan perintah yang di berikan intuisinya dan tidak memiliki tujuan lain dari perbuatannya itu maka perbuatannya itu dinamakan perbuatan akhlaki. Kant hanya melihat akhlak yang ada dalam intuisi.

Kemunculan kesalehan sosial merupakan fenomena menarik dikalangan kelas menengah muslim Indonesia kontemporer. Adanya upaya mendefinisikan secara ulang makna spiritual menjadi titik tekan munculnya kesalehan sosial tersebut. Proses terbentuknya kesalehan sosial dapat dilacak dari interseksi antara aspek material dan aspek spiritual dalam beribadah. Spiritual dipahami sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Sang Khik, sementara material dapat dipandang sebagai alat penujang spiritual tersebut. Menjadi orang saleh memang tujuan utama dalam kesalehan sosial ini, karena kesalehan sosial merupakan bagian dari sebuah proses pendefinisian ibadah

(32)

agama Islam secara terapan dalam konteks kekinian. Artinya, telah terjadi tafsir baru dalam memahami agama Islam dalam kasus muslim kekinian.31

Secara sederhana, pengertian kesalehan sosial dimaknai sebagai ekspresi dan praktik perilaku orang-orang Islam yang peduli terhadap nilai-nilai Islam secara sosial, seperti hanya menyumbang dana bantuan berupa infaq, shadaqah, maupun amal jariyah, namun cenderung lalai terhadap ibadah pribadi.32 Munculnya praktik kesalehan sosial tersebut merupakan bentuk ekspresi filantropis dan juga spiritualis yang hendak dilakukan kelas menengah muslim Indonesia. Adanya pertumbuhan ekonomi tinggi dengan semakin meratanya redistribusi pendapatan berkelindan dengan adanya kebutuhan akan donasi sosial.

Dalam hal ini, penting juga untuk dilihat bahwa munculnya gerakan kesalehan sosial dengan adanya rumusan agama Islam baru yang hendak dirumuskan oleh kelompok kelas menengah muslim Indonesia. Kesalehan sosial sebenarnya juga merupakan bagian dari sebuah proses pendefinisian ibadah agama Islam secara terapan dalam konteks kekinian. Artinya, telah terjadi tafsir baru dalam memahami agama Islam dalam kasus kelas menengah muslim kekinian. Tulisan ini akan mengulas secara elaboratif mengenai ritual kesalehan sosial bagi umat kelas menengah muslim Indonesia, serta penjelasan berbagai macam tafsir atas Islam yang kemudian melahirkan adanya Islam gaya

31 Wasisto Raharjo Jati Kesalehan Sosial, Sebagai Ritual... h, 337

32 Wasisto Raharjo Jati Kesalehan Sosial, Sebagai Ritual... h, 336

(33)

baru yang disesuaikan dengan tingkat religiusitas kelas menengah muslim Indonesia.33

Dari percabangan mengenai kesalehan sosial34 dari sudut pandang Islam Wasat Aniyyah sendiri kemudian terbagi atas dua cabang yakni 1) kesalehan sosial sebagai ritual dan 2) kesalehan sosial sebagai simbol. Pembagian kesalehan sosial tersebut didasarkan pada kedalaman ritual ibadah yang dijalankan oleh kelas menengah muslim tersebut. Dalam pengertian pertama, kesalehan sosial sebagi ritual dapat diartikan sebagai bentuk praktik neosufisme yakni melakukan peribadatan sosial untuk melalui ridha illahhi.35

Hal tersebut ditunjukkan dengan seberapa intensitas mereka hadir dalam majelis ta‟lim maupun juga seberapa intens mereka untuk pergi haji dan umrah. Adapun dalam pengertian kedua sendiri, kesalehan sosial sebagai simbol dapat dipahami sebagai bentuk ritual budaya populer massa yakni keimanan dan ketakwaaan muslim dapat dibentuk melalui konsumsi komoditas religi. Dengan demikian, menjadi orang alim sekarang ini dapat dikonstruksi sekaligus pula diakui oleh orang lain di sekelilingnya. Maka pembahasan mengenai kedua ritual kesalehan sosial tersebut akan dibahas sebagai berikut.

33 Wasisto Raharjo Jati Kesalehan Sosial, Sebagai Ritual... h, 337

34Haris Riadi, Kesalehan Sosialsebagai Parameter Kesalehan Keberislaman :Jurnal Pemikiran,Vol.39,No.1 Januari - Juni 2014.h 51

35Wasisto Raharjo Jati Kesalehan Sosial, Sebagai Ritual... h, 343

(34)

Dikutip dari bukunya Hilmy put Islam at the centre of the public domain36, Adanya pola institusionalisasi terhadap pola kesalehan sosial pada dasarnya bertujuan untuk menempatkan Islam sebagai nilai umum yang dominan. Hal itu merupakan bentuk kelanjutan dari adanya wacana Islam publik yang dikembangkan kelompok islamis pasca orde baru.

Dikutip dari buku Latief dikarenakan perlunya adanya pengawalan dari negara dan ulama untuk mengatur dan menjaga umat Islam agar sesuai dengan dengan kaidah agama37. Implikasinya adalah munculnya berbagai macam produk legal mulai dari Kitab Hukum Islam (KHI), ekonomi syariah, dan lain sebagainya yang kesemuanya itu mencerminkan adanya sinergi antara dimensi ukhrawi dan duniawi sehingga kesalehan sosial dibentuk berdasarkan proses taklid terhadap ajaran agama dalam kehidupan.38 Adapun dari segi intimitas, ritual kesalehan sosial bagi kelompok kelas menengah muslim sendiri dibentuk berdasarkan prinsip al-maslahah al-ammah (kebajikan untuk umat).

Dalam perspektif Islam, manusia di samping diberikan kebebasan untuk berusaha dan berikhtiar, dan berrelasi, tetapi Tuhanlah sebagai pusat relasi dan semua keputusan vonis berada di atas iradah-Nya (antropho-theosentris). Sebagaimana kesalihan sosial adalah bentuk perilaku keagamaan seseorang yang lahir dari sikap keagamaan,

36Hilmy put Islam at the centre of the public domain. Thn 2010., h. 343

37Latief Kebajikan Untuk Umat, Thn, 2013, h. 187

38Latief, prinsip al-maslahah al-ammah kebajikan untuk umat. Thn 2013 h. 187

(35)

sementara sikap keagamaan lahir dari pemahaman seseorang atas nilai- nilai yang difahami (kognitif), dirasakan (afektif), dan dilakukan (konatif). 39

Sebagai perilaku keagamaan, maka konsepsi Islam di atas, lebih dapat menjelaskan tentang kesalihan sosial sebagai bagian dari perbuatan manusia. Ini didasari atas beberapa pemikiran yaitu, Pertama,perbuatan manusia banyak didasari atas kehendak dirinya dan tidak bisa semata-mata didasari atas determinan sebagaimana dalam psikoanalisa, atau sebagai diri. Kedua, salah satu karakteristik manusia adalah adanya kesadaran untuk selalu introspeksi, berdialog dengan dirinya sendiri, dan selalu berhubungan dengan lingkungan alam fisik.

Manusia selalu berinteraksi dengan diri sendiri, lingkungan sekitar, dan alam keruhanian. Semenjak awal telah menjelaskan bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang dalam unsur penciptaannya terdapat ruh Ilahi. Kesalihan sosial adalah bagian dari interaksi seseorang dengan pengalaman keruhaniannya. Ketiga, sebagai makhluk berkesadaran, perilaku manusia didasari atas pilihan dan putusan rasional. Maka perilaku manusia seharusnya bisa terlepas dari pengaruh lingkungan sekitarnya. Seorang yang salih akan tetap salih meski lingkungan sekitarnya banyak kriminalitas, korupsi, dan kejahatan lainnya.40

39Abdul Jamil WahabIndeks Kesalehan Sosial Masyarakat Indonesia. h. 11

40Abdul Jamil WahabIndeks Kesalehan Sosial.... h.12

(36)

2. Bentuk-bentuk Keshalehan sosial

Dalam perspektif para pemikir muslimin manusia tidak semata- mata sebagai makhluk yang harus melakukan pengabdian ibadah kepada Tuhan secara individual semata, namun memeiliki tugas dan peranan sosial taitu menciptakan tata sosial moral yang egalitarin sikap yang cocok dengan masyarakat Islam dan adil, menghilangkan fasad atau bentuk-bentuk kejahatan yang dapat membinasakan masyarakat.41 Oleh sebab itu perlu ditanamkan sikap keshalehan sosial yang meliputi:

1. Solidaritas sosial.

2. Toleransi.

3. Kerja sama.

4. Tengah-tengah.

5. Stabilitas.

Ibadah-ibadah yang memiliki efek terhadap keshalehan sosial adalah perintah-perintah agama yang berkaitan dengan ibadah induvidual selalu memperlihatkan tugas dan fungsinya, pada satu sisi ia merupakan cara seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan hati, membebaskan diri dari ketergantungannya selain kepada Allah Swt dan pada saat yang sama ia menyatakan tuntutannya

41 Khoirul Tamawi, Pengaruh Zikir Tarekat Qodiriyah Wa Naqsyabandiyah Kerhadap Keshehan Sosial Santri Di Pondok Pesantren Anwarul Huda Karangbesuki Malang,h. 4

(37)

kepada manusia untuk melakukan tanggung jawab sosial dan kemanusiaan. Ibadah-ibadah tersebut antara lain:

a. Ibadah shalat

Shalat merupakan sarana menghadirkan Allah Swt dalam setiap individu, kesadaran akan kehadiran Allah Swt akan menjadikan manusia selalu menjalani hidupnya dengan kebaikan-kebaikan dan menjauhi keburukan-keburukan. Hal ini di jelaskan dalam Al-Qur‟an Qs. Al-Ankabut : 45

ۡ ت ٱ

ِنَع َٰىَه ۡ نَ ت َةَٰوَلَّصلٱ َّنِإ ََۖةَٰوَلَّصلٱ ِمِقَأَو ِبََٰتِكۡلٱ َنِم َكۡيَلِإ َيِحوُأ ٓاَم ل َنوُعَ نۡصَت اَم ُمَلۡعَ ي َُّللَّٱَو ِۗ

ُرَ ب ۡكَأ َِّللَّٱ ُرۡكِذَلَو ِِۗرَكنُمۡلٱَو ِءٓاَشۡحَفۡلٱ

٥٤

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shat. Sesungguhnya shat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dan pernyataan yang lebih jelasnya terdapat dalam Qs. Al-Ma‟un :1-7

































































Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin, Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shat, (yaitu) orang-

(38)

orang yang lalai dari shatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

a. Ibadah puasa

Ibadah puasa, selain merupakan proses menghadirkan Allah Swt, kedalam diri seorang muslim ini merupakan cara untuk mengendalikan ego yang sering kali menuntut dan mendesak kehidupan hedonistik.

Terdapat dalam Al-Qur‟an QS. Al-Baqarah: 183

َلَع َبِتُك اَمَك ُماَيِّصلٱ ُمُكۡيَلَع َبِتُك ْاوُنَماَء َنيِذَّلٱ اَهُّ يَََٰٓيَ

نِم َنيِذَّلٱ ى

َنوُقَّ تَ ت ۡمُكَّلَعَل ۡمُكِلۡبَ ق ٣٨١

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Bentuk-bentuk keshalehan sosial adalah keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup, bahkan seluruh aspek kehidupan manusia merupakan kunci kesejahteraan. Stabilitas kehidupan memerlukan keseimbangan dan kelestraian di segala bidang, baik yang bersifat kebendaan maupun yang berkaitan dengan jiwa, akal, emosi, nafsu dan jiwa manusia. Islam sebagaimana dalam beberapa ayat Al-Qur‟an dan juga hadits menuntut keseimbangan dalam hal tersebut. Kenyataan dimana-mana menunjukan lingkungan hidup mulai tergeser dari keseimbangannya. Ini merupakan akibat dari berbagai kecendrungan untuk cepat mencapai kepuasan lahiriah, tanpa mempertimbangkan disiplin sosial, dan tanpa mempertimbangkan antisipasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang

(39)

akan terjadi dimasa yang akan datang yang akan menyulitkan generasi selanjutnya.

(40)

BAB III

METODLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian kualitatif.

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang berprinsip tentang pengelaborasian dan pengolahan gejala yang terjadi atau menemukan unsur-unsur atau pengetahuan yang belum ada dalam teori yang berlaku. Disinilah kedalaman dan keleluasan serta holistik42penelitian kualitatif menjadi penekanan disamping aspek ruang lingkup dan fokus penelitian harus dijaga.43 Peneliti bukan hanya mengumpulkan data sekali jadi atau sekaligus dan kemudian mengolahnya, melainkan tahap demi tahap dan makna disimpulkan selama proses berlangsung dari awal sampai akhir kegiatan.44

B. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang penulis lakukan adalah pendekatan fenomenologi. Penelitian fenomenologi mencoba menjelaskan atau mengungkap makna konsep atau fenomena pengalaman yang didasari oleh kesadaran yang terjadi pada beberapa individu.45 Penelitian ini

42Holistik adalah corak khas dan suatu kelebihan dalam konsepi filosofis, sebab justru filsafat berupaya mencapai kebenaran yang utuh. Anton Bakker, Metodologi Penelitian Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1990), h. 46.

43Syafwan Rozi, Metodologi Penelitian Agama, “Disusun Untuk Disampaikan dalam Mata Kuliah Metodologi Penelitian Pada Jurusan Filsafat Agama Fakultas Ushuluddin Adab Dan Dakwah IAIN Bukittinggi”, Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, 2017, h. 33.

44Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, Jakarta: Prenadamedia Group, 2014), h. 328.

45Danu Eko Agustinova,”memahami metode penelitian kualitatif, teori dan praktik”,(

Yogyakarta : Calpulis),2015 h. 28

(41)

dilakukan dalam situasi yang alami, sehingga tidak ada batasan dalam memaknai atau memahami fenomena yang dikaji. Konsep dasar fenomenologi adalah kompleksitas realitas atau masalah itu disebabkan oleh pandangan atau perspektif subjek. Karena itu, subjek yang berbeda karena memiliki pengalaman berbeda akan memahami gejala yang sama dengan pandangan yang berbeda.46

Pendekatan fenomenologi lebih ditekankan kepada kaum fenomenologi yang subjektif dari perilaku orang.47

C. Lokasi Penelitian Dan Objek Penelitian 1. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi yang peneliti lakukan adalah di Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok. Alasan penulis memeilih lokasi penelitian di Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok ialah karena penulis menemukan suatu permasalahan yang perlu penulis teliti dan pecahkan. Jadi penulis membatasi skop penelitian di Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok, itulah yang menjadi pertimbangan penulis untuk melakukan penelitian di Kasiak Koto Sani Kabupaten Solok tersebut.

2. Objek Penelitian

Adapun objek yang peneliti lakukan ialah terhadap masyarakat di daerah Kasiak Koto Sani, Kabupaten Solok tersebut.

Di mana peneliti akan melakukan wawancara kepada warga

46Syafwan Rozi, Metodologi Penelitian Agama, h. 35.

47Lexy J. Meleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 9

(42)

tersebut tentang bagaimana pelaksanaan Tarekat Qadiriyah dan kesalehan sosial yang dilakukan oleh warga disitu.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian yang dilakukan adalah penelitian lapangan, yaitu suatu penelitian yang dilakukan turun langsung ke lapangan untuk mengamati dan mengumpulkan data yang dapat menunjang serta berkaitan dengan masalah yang penulis teliti. Untuk memperoleh data-data lapangan ini penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-fenomena yang diselidiki. Metode observasi adalah hasil perbuatan jiwa secara aktif dan penuh perhatian untuk menyadari adanya suatu rangsangan tertentu yang diinginkan, atau suatu studi yang disengaja dan sistematis tentang keadaan atau fenomena sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan mengamati dan mencatat. Data yang telah dikumpulkan diolah dan dianalisis secara deskriptif-kualitatif, yaitu menyajikan data secara rinci serta melakukan interpretasi teoritis sehingga dapat diperoleh gambaran akan suatu penjelasan dan kesimpulan yang memadai.

Observasi juga bersumber dari catatan peristiwa. Berguna untuk mencek keraguan validitas data untuk situasi yang rumit dan prilaku yang kompleks. Pada saat-saat tertentu jika metode lain

(43)

tidak memungkinkan maka observasi lebih memungkinkan untuk dilakukan.48

2. Wawancara

Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang berbentuk pertanyaan secara lisan. Melalui wawancara penulis akan dapat mengetahui h-h yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginteroretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, yang mana ini tidak bisa ditemukan hanya dengan observasi saja. Wawancara berbeda dengan interview yaitu metode pengumpulan data dengan cara tanya jawab terstruktur dengan sistematis walaupun pada kesempatan tertentu wawancara terstruktur juga mirip dengan interview. Adapun jenis wawancara, yaitunya:

Pertama, wawancara terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan dengan terlebih dahulu membuat daftar pertanyaan yang kadangkala disertai jawaban alternatif. Bertujuan untuk mengumpulkan data dengan lebih terarah kepada tujuan penelitian.

Wawancara terstruktur digunakan karena informasi yang akan diperlukan penelitian sudah pasti.49

Kedua, wawancara tidak berstruktur yaitu wawancara yang dilakukan dengan tidak menyusun daftar pertanyaan lebih dahulu tetapi merencanakan aspek yang akan ditanyakan supaya lebih mengarah. Dalam h ini pewawancara bebas mengajukan

48Syafwan Rozi, Metodologi Penelitian Agama, h. 71

49Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2013), h. 162

(44)

pertanyaan dan mengorek informasi sepuasnya dari sumber informasi.50

3. Dokumen

Dokumen merupakan catatan atau karya seseorang tentang sesuatu yang sudah berlalu. Dokumen itu dapat berbentuk teks tertulis, gambar maupun foto. Dokumen tertulis dapat pula berupa sejarah kehidupan (life history), biografi, karya tulis, dan cerita.51 E. Analisis Data

Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dikaji dimulai sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, dilanjutkan pada saat peneliti berada dilapangan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh. Kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru.52

F. Teknik Triangulasi Data

Triangulasi data adalah untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Data dari berbagai sumber tersebut, nantinya dideskripsikan, dikategorikan, mana pandangan yang sama, yang berbeda, dan mana yang spesifik dari sumber-sumber itu, tidak bisa dirata-ratakan seperti

50Syafwan Rozi, Metodologi Penelitian Agama..., h. 76-77

51Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif..., h. 391

52Danu Eko Agustinova, memahami metode penelitian...,h. 63

(45)

dalam penelitian kuantitatif. Setelah menghasilakn kesimpulan selanjutnya dimintakan kesepakatan dengan sumber-sumber data tersebut.53

Dalam menguji krediabilitas data terhadap hasil penelitian ini, penulis menggunakan triangulasi data. Dimana triangulasi dalam pengujian kreadibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.54 Triangulasi dengan sumber berarti menggali kebenaran dengan informasi tertentu melalui berbagai sumber untuk memperoleh data.

53Danu Eko Agustinova, memahami metode penelitian...,h. 47

54Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendekatan..., h. 341

(46)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Wilayah Penelitian

1. Sejarah singkat lahirnya tarekat di Kasiak Koto Sani, Kab. Solok Pada awal berdirinya tarekat qodiriyah di Kasiak Koto Sani saat Tuangku berada di Padang, dimana beliau ingin mendaftarkan sir kedalam Litbang, sir adalah kitab khusus membahas ilmu ketuhanan yang akan dipelajari dalam mengembangkan tarekat qodiriyah ini.

Namun pada saat itu Litbang belum ada di Padang, tetapi litbang hanya ada di Jakarta yang berada di bawah pimpinan Prof. Dr.Ahmad Rahman, M. Ag tentang keaslian sir yang di dapat oleh Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah, Prof. Dr. H. Nazarudin Umar dan Prof. Dr. H.M. Bambang Pranowo, M.A sudah menjadi jamaah dan sudah mengambil bai‟at kepada Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah. Setelah diteliti maka lembaga penelitian menyatakan bahwa sir yang turun kepada Syaikh Muhammad Ali Hanafiah itu adalah benar dan dapat dikembangkan. Setelah mendapatkan izin untuk menyebarkan sir, maka sir dibukukan dan disebarluaskan dengan berdiri tarekat qodiriyah di Kasiak Koto Sani.55

Setelah itu baru mulai masuk ke Koto Sani bermula dari Tuangku memiliki seorang kenalan di daerah Padang Belimbing anak Ayah,

55 Wawancara dengan Umi Ridha, Tanggal 25 Oktober 2019 di Pondok Pesantren Taruna Rabbani Kabupaten Solok.

(47)

dan anak itu memiliki nama Buya Andi, maka Buya Andi merupakan orang bertarekat juga dan Tuangku pergi menemui Buya Andi yang bertempat tinggal di Padang Belimbing untuk membahas maslah tarekat yang dimiliki Tuangku untuk dikembangkan dan Buya Andi menerima ajakan bertarekat yang diusulkan oleh Tuangku. Dan Ayah memiliki tanah di daerah Kasiak Koto Sani Nagari Ujung Kampung dan diwakafkanlah oleh Ayah tanah itu kepada Tuangku maka sampaialah tarekat itu di Ujung Kampung. Pertama di bangun jamaah yang datang dari padang berjumlah sekitar 15 orang, Padang Belimbing juga begitu, yang jamaah dari daerah terdekat belum ada hanya Ustad Efriadi yang ada dan datanglah kakak Tati, kakak Rio yang berinisiatif untuk mendirikan sebuah MDA.56

Mereka membangun sebuah pendidikan MDA yang berjumlah murid sekitar 20 orang, dan setelah itu para jamaah mulai berdatangan dari Paninggahan yang dibawa oleh Buya Zul, dan barulah jamaah mulai berdatangan dari Padang, Padang Belimbing, Paninggahan dan mulai bergabung orang Kasiak Ujuang Kampuang.

Setiap kunjungan pengajian jumlah jamaah selalu meningkat dan bertambah hinggga berkembang pesat yang pengajiannya hanya dilakukan sekali dalam seminggu pada sabtu malam. Perkembang tarekat ini berjalan dengan baik hingga sekarang bahkan jumlah jamaah sudah mencapai ribuan. Jumlah surau hanya satu, bangunan

56 Wawancara dengan Putri Ayu, tanggal 15 Juni 2019 di Pondok Pesantren Taruna Rabbani Kabupaten Solok.

Referensi

Dokumen terkait

kesadaran wajib pajak tinggi yang datang dari motivasi untuk membayar pajak,. maka kemauan untuk membayar pajakpun akan tinggi dan

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa materi dan sumber belajar untuk anak lamban belajar sama dengan anak lainnya, Selain itu juga didapat beberapa langkah atau cara guru

Penggunaan metode 5 S Pada proses usulan perawatan menggunakan 5 S berfungsi untuk mengurangi aktivitas yang tidak memberi nilai tambah dan meningkatkan persentase

Edward III (dikutip oleh Widodo, 2012: 98) mengemukakan bahwa faktor sumber daya juga mempunyai peranan penting dalam implementasi kebijakan. Lebih lanjut Edward menegaskan

Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Malang merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab melaksanakan reformasi birokrasi melalui sistem pemasyarakatan dibawah naungan

berpengaruh secara tidak langsung terhadap kinerja manajerial melalui ketidakpastian lingkungan dan informasi yang berhubungan dengan tugas tidak terbukti, hal ini

Penyebab downtime dari beberapa factor antara lain dari mesin yang sering mengalami kerusakan karena mesin sudah digunakan lama, juga penggunaan faktor material yaitu material

Metode ini lebih lanjut dijelaskan oleh Muzayyin Arifin, dengan mengatakan mengigat sasaran studi filsafat terletak pada problema kependidikan dalam masyarakat untuk