C. Manajemen Risiko
1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Keselamatan dan kesehatan kerja adalah pengawasan terhadap orang, mesin, material, dan metode yang mencakup lingkungan kerja agar pekerja tidak mengalami cidera (Sedarmayanti, 2009). program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu sistem yang di buat bagi pekerja sebagai upaya pencegahan timbulnya kecelakaan kerja dan penyakitakibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal - hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja serta
tindakan antisipatif bila terjadi hal yang (Lubis, 2011).
Tebel 2.1 Faktor Keselamatan dan kesehatan kerja (Consultant trainer HSE/K3 ITB 2021)
Faktor Keselamatan Kesehatan
Kerusakan Fasilitas
Manusia Luka, fatality
Sakit akibat debu
Peralatan Luka, fatality
Panas terlalu tinggi dan tidak berhenti beroperasi
Meledak, terbakar, rusak
Proses
Produksi Luka, fatality
Kerusakan
24 Bangunan
Luka, fatality, kematian
Pusing di tempat yang terlalu gelap
Rusak, rapuh, terbakar
2. Kecelakaan Kerja
Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan, sehingga segala tindakan kriminal yang mengandung unsur kesengajaan atau perencanaan diluar ruang lingkup kecelakaan (Koesyanto, 2016).
Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. Hal ini berarti kecelakaan bia terjadi ditempat kerja ataupun perjalanan menuju ke tempat kerja karena masih lingkup melaksanakan pekerjaan.
Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidk dikehendaki dan sering sekali tidak terduga semul dapat mennimbulakan kerugian baik waktu, harta benda atau poperti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya (Tarwaka, 2012).
3. Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja
Menurut (Anizar, 2012) setiap kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian yang besar , baik itu kerugian material dan fisik. Kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja antara lain sebagai berikut:
25 a. Kerugian Ekonomi
Kerugian ekonomi yang meliputi : kerusakan alat, bahan, bangunan, biaya pengobatan, kompensasi kecelakaan, turunya jumlah produksi, pergantian tenaga kerja.
b. Kerugian Non Ekonomi
Kerugian non ekonomi meliputi : penderitaan korban, hilangnya waktu kerja, hilangnya waktu selama sakit.
4. Konsep Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja a. Safety (Keselamatan)
Safety (keselamatan) adalah bagaimana mencegah terjadinya
kecelakaan agar orang selamat dan tidak terjadi kerusakan fasilitas.
b. Health (Kesehatan)
Health (kesehatan) adalah bagimana orang bekerja terhindar dari
penyakit untuk menjaga kesehatan pekerja.
E. HIRARC
1. Pengertian HIRARC
HIRARC adalah serangkaian proses mengidentifikasi bahaya yang dapat terjadi dalam aktifitas rutin ataupun non rutin di perusahaan
26
kemudian melakukan penilaian risiko dari bahaya tersebut lalu membuat program pengendalian bahaya tersebut agar dapat diminimalisir tingkat risikonya ke yang lebih rendah dengan tujuan mencegah terjadi kecelakaan (Ramli, 2010).
2. Tujuan HIRARC
Tujuan dari dilakukannya HIRARC adalah untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengontrol risiko K3 pada suatu proses kerja. Selain itu HIRARC juga bertujuan untuk mengurangi angka kejadian kecelakaan di tempat kerja dan untuk melindungi semua proses kerja. HIRARC merupakan suatu prosedur yang telah terstruktur diberikan kepada karyawan maupun pihak luar yang terkait dalam kegiatan perusahaan untuk keseragaman suatu proses kerja, supaya tidak terjadi kesalahan komunikasi dalam bekerja serta menentukan pengendalian. Hal ini dilakukan demi melindungi kesehatan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi kerja, mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit.
Berbagai arah keselamatan dan kesehatan kerja (Ismi, 2014):
a. Mengantisipasi keberadaan faktor penyebab bahaya dan melakukan pencegahan sebelumnya.
27
b. Memahami jenis-jenis bahaya yang ada di tempat kerja.
c. Mengevaluasi tingkat bahaya di tempat kerja.
d. Mengendalikan terjadinya bahaya atau komplikasi.
3. Proses Pelaksanaan HIRARC a. Identifikasi Bahaya
Identifikasi bahaya merupakan proses untuk mengetahui adanya satu bahaya dan menentukan karakteristiknya (OHSAS 18001, 2007).
Dalam menentukan manajemen bahaya langkah awal yang harus dilakukan yaitu identifikasi bahaya. Identifikasi bahaya dilakukan untuk menentukan risiko apa yang ditumbulkan dari bahaya yang ada, supaya dapat dilakukan pengendalian (Ramli, 2010). Identifikasi bahaya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya dan jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin dapat terjadi. Identifikasi sumber bahaya merupakan tahapan yang dapat memberikan informasi secara menyeluruh dan mendetail mengenai risiko yang ditemukan dengan menjelaskan konsekuensi dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat. Pada tahap ini harus dapat
28
mengidentifikasi hazard yang dapat diramalkan (foreseeable) yang timbul dari semua kegiatan yang berpotensi membahayakan kesehatan dan keselamatan terhadap karyawan, orang lain yang berada di tempat kerja, tamu dan bahkan masyarakat sekitarnya.
Langkah awal dalam mengidentifikasi bahaya adalah dengan mengetahui, apa saja proses kerjanya. Dalam menemukan sumber bahaya akan dijabarkan menjadi 5 faktor yaitu, man, methode, material, machine, dan environment.
b. Penilaian Risiko
Penilaian risiko adalah upaya untuk menghitung besarnya suatu risiko dan menetapkan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Penilaian risiko digunakan untuk menentukan tingkat risiko ditinjau dari kemungkinan terjadinya (likelihood) dan keparahan yang dapat ditimbulkan (severity). Metode kualitatif menurut standar AS/NZS 4360, kemungkinan atau likelihood diberi rentang antara suatu risiko yang jarang terjadi sampai dengan risiko yang dapat terjadi setiap saat. Untuk keparahan atau severity dikategorikan antara kejadian yang tidak menimbulkan cedera atau hanya kerugian
29
kecil yang paling parah jika dapat menimbulkan kejadian fatal (meninggal dunia)atau kerusakan besar terhadap aset perusahaan
(Ramli, 2010).
Table 2.2 Skala Probabiliti/Likelihood (AS/NZS 4360 : 2004)
Tingkatan Kriteria Penjelasan
1 Rare
Mungkin terjadi hanya pada kondisi khusus/ setelah setahun sekali
2 Unlikely
Mungkin terjadi pada beberapa kondisi tertentu, namun kecil kemungkinan
3 Possible Mungkin terjadi pada kondisi tertentu
4 Likely Mungkin terjadi pada hamper semua kondisi
5 Almost
Certainly Dapat terjadi pada semua kondisi Tabel kemungkinan (likelihood) adalah tabel yang menunjukkan nilai kecenderungan terjadinya konsikuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai nilai yang berbeda, tingkatan nilai kemungkinan dapat dilihat pada table 2.2.
30
Table 2.3 Skala Saverity (AS/NZS 4360 : 2004)
Tingkatan Kriterian Penjelasan
1
Insignifant (tidak bermakna)
Tidak terjadi cedera, kerugian finansial kecil
2 Minor (kecil)
Cedera ringan, kerugian finansial sedang
3
Moderate (Sedang)
Cedera sedang, perlu penanganan medis, kerugian finansial
4
Major (besar)
Cedera berat lebih satu orang, kerugian besar
5 Extrem
Fatal lebih dari satu orang, terhentinya seluruh kegiatan
Tabel keparahan (severity) adalah tabel yang menunjukkan tingkat keparahan kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja yang menimbulkan berbagai kerugian dari kerugian kecil hingga kerugian
yang besar. Tingkat keparahan dapat dilihat pada gambar 2.3.
Table 2.4 Risk Matriks/Rating (AS/NZS 4360 : 2004) Saverity (S)
Tabel risk rating adalah tabel gabungan antara likelihood dan severity yang di kalikan sehingga mendapatkan nilai risiko yang menjadi
31
acuan untuk mengetahui jenis level kecelakaan. Hasil perkalian likelihood dan severity dapat dilihat pada tabel 2.4.
Tabel 2.5 Risk Level (AS/NZS 4360 : 2004) Tingkatan
Risiko
Kategori
Risiko Deskripsi Keterangan Warna
17 – 25 E Extreme
Sangat
Tinggi Merah
11 - 16. H High Tinggi Orange
5 – 10 M Medium Sedang Kuning
1 - 4. L Low Ringan Hijau
Tabel risk level adalah tabel yang menunjukkan level setiap risiko dengan melihat hasil risk rating, risiko ringan adalah risiko yang menimbulkan cedera ringan, sehingga karyawan dapat bias kembali bekerja hanya membutuhkan waktu istrahat sebentar nilai risikonya 1-4 dengan lambang warna hijau. Tingkat risiko dengan nilai 5-10 dikategorikan risiko sedangan yaitu risiko dengan kerugian hilangnya jam kerja yang cukup banyak 1x24 jam dan juga biaya pengobatan dengan warna lambang warna kuning. Untuk tingkat risiko dengan nilai 11-16 masuk ketegori tinggi yaitu risiko yang dapat menghentikan proses produksi sehingga menimbulkan kerugian yang besar dengan lambang warna orange. Dan untuk tingkat risiko dengan nilai 17-25 masuk dalam kategori risiko sangat tinggi dengan
32
lambang warna merah yaitu risiko yang menimbulkan kematian dan rusaknya alat produksi. Level risiko dapat dilihat pada tabel 2.5.
c. pengendalian Risiko
Pengendalian risiko dilakukan terhadap seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan peringkat risiko untuk menemukan prioritas dan cara pengendaliannya. Selanjutnya, dalam menentukan pengendalian harus mempertimbangkan hirarki pengendalian mulai dari eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, administratif dan APD (Ramli, 2010).
Adapun tingkat penilaian risiko :
Gambar 2.1 Tingkat Pengendalian Risiko
(Consultan Trainer HSE/K3 ITB 2021) Engineering
33 1) Eliminasi
Eliminasi adalah pengendalian risiko K3 untuk mengeliminir atau
menghilangkan suatu bahaya. Misalnya saja ketika di tempat kerja kita melihat ada oli yang tumpah atau berceceran maka sesegera mungkin kita hilangkan sumber bahaya ini. Eliminasi merupakan puncak tertinggi dalam pengendalian risiko dalam K3. Karena apabila bahaya sudah dihilangkan maka sangat kecil kemungkinan akan mengancam pekerja.
Hierarki pengendalian risiko ini adalah yang paling utama. Sebab, dengan menghilangkan risiko kecelakaan maka sangat mungkin kecelakaan tidak akan terjadi kembali.
2) Substitusi
Substitusi adalah metode pengendalian risiko yang berfokus pada
penggantian suatu alat atau mesin atau barang yang memiliki bahaya dengan yang tidak memiliki bahaya. Contoh kasusnya adalah pada mesin diesel yang terdapat kebisingan tinggi, maka sebaiknya kita mengganti mesin tersebut dengan yang memiliki suara lebih kecil agar tidak menimbulkan bahaya kebisingan berlebih. Substitusi dilakukan apabila proses eliminasi sudah tidak bisa dilakukan.
34 3) Engineering
Engineering adalah proses pengendalian risiko dengan merekayasa suatu alat atau bahan dengan tujuan mengendalikan bahayanya. Engineering control kita lakukan apabila proses substitusi tidak bisa dilakukan. Biasanya terkendala dari segi biaya untuk penggantian alat dan bahan oleh karena itu, kita melakukan proses rekayasa engineering. Contoh kasusnya adalah ketika di tempat kerja ada mesin diesel yang memiliki suara bising. Akan tetapi, kita tidak bisa menggantinya dengan yang lain maka kita harus memodifikasi sedemikian rupa agar suara tidak keluar secara berlebihan.
4) Administrasi
Aministrasi adalah proses non teknis dalam suatu pekerjaan dengan tujuan menghilangkan bahaya. Proses non teknis ini diantaranya seperti pembuatan prosedur kerja, pembuatan aturan kerja, pelatihan kerja, penentuan durasi kerja, penempatan tanda bahaya, penentuan label, pemasangan rambu dan juga poster. Contoh kasusnya adalah apabila di tempat kerja ada mesin diesel yang mengeluarkan kebisingan berlebih dan sudah tidak bisa direkaya secara teknis maka langkah yang
35
harus dilakukan adalah pembatasan jam kerja, pembuatan prosedur, pemasangan tanda bahaya dan lain sebagainya. Dengan tujuan, pekerja tidak berlebihan terpapar kebisingan.
5) APD
APD atau alat pelindung diri adalah hierarki pengendalian risiko terakhir dalam K3. Pengendalian ini banyak digunakan karena sederhana dan murah. Akan tetapi, proteksi yang diberikan tidak sebaik langkah di atas. APD tidak menghilangkan sumber bahaya sehingga proteksi yang diberikan tergantung dari individu masing-masing yang memakai. Contoh
APD adalah helm, earmuff, safety gloves dan lainnya.
36 F. Kerangka Berfikir