• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS AKHIR ADE PUTRI SAHARUDDIN (1)

N/A
N/A
nofias Fajri

Academic year: 2022

Membagikan "TUGAS AKHIR ADE PUTRI SAHARUDDIN (1)"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

IDENTIFIKASI RISIKO KECELAKAAN KERJA MENGGUNAKAN METODE HAZARD IDENTIFICATION RISK AND

ASSESMENT AND RISK CONTROL PADA BAGIAN BOILER PTPN XIV PABRIK GULA

CAMMING KAB. BONE

TUGAS AKHIR

OLEH:

ADE PUTRI SAHARUDDIN 19TIA536

D iajukan untuk memenuhi sebagai persyaratan guna menyelesaikan Program Diploma Tiga

Jurusan/Program Studi Teknik Industri Agro

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN R.I POLITEKNIK ATI MAKASSAR

2022

(2)

HALAMAN PERSETUJUAN

JUDUL : IDENTIFIKASI RISIKO KECELAKAAN KERJA MENGGUNAKAN METODE HAZARD IDENTIFICATION AND RISK ASSESMENT AND RISK CONTROL

PADA BAGIAN BOILER PTPN XIV PG. CAMMING KAB. BONE

NAMA : ADE PUTRI SAHARUDDIN

NIM : 19TIA536

PERGURUAN TINGGI : POLITEKNIK ATI MAKASSAR JURUSAN/PRODI : TEKNIK INDUSTRI AGRO

Menyetujui, Pembimbing I

Dr. Ir. Arminas, ST., MM NIP.19670225 200112 2 002

Pembimbing II

Andi Velahyati Baharuddin, ST.,MT NIP.1988 0614 201801 2 001

Mengetahui, Direktur Politeknik ATI Makassar,

Ir. Muhammad Basri, ST., MM NIP.19680406 199403 1 003

Ketua Jurusan Teknik Industri,

Widya Hastuti Afris, S. ST.,MM., Ph.D NIP.19780125 200112 2 001

(3)

iii

HALAMAN PENGESAHAN

Telah diterima oleh Panitia Ujian Akhir Program Diploma Tiga (D3) yang ditentukan sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Politeknik ATI Makassar Nomor : 1217/BPSDMI-Makassar/IV/2022 tanggal 4 April 2022 yang telah dipertahankan di depan Tim Penguji pada hari tanggal sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Ahli Madya (A. Md) Teknik Industri dalam program studi Teknik Industri Agro Pada Politeknik ATI Makassar.

PANITIA UJIAN:

Ketua : Ir. Muhammad Basri, MM, IPM ( )

Sekretaris : Widya Hastuty Afris, S.ST., MM., Ph.D ( )

Penguji I : Ir. Muhammad Basri, MM, IPM ( )

Penguji II : Widya Hastuty Afris, S.ST., MM., Ph.D ( )

Penguji III : Nofias Fajri, ST., M.Eng ( )

Pembimbing I : Dr. Ir. Arminas, ST., MM ( )

Pembimbing II : Andi Velahyati Baharuddin, ST., MT ( )

(4)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Ade Putri Saharuddin

NIM : 19TIA536

Jurusan / Prodi : Teknik Industri Agro

Menyatakan bahwa tugas akhir yang saya buat benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri. Apabila dikemudian hari terbukti dan dapat dibuktikan sesuai dengan hukum yang berlaku di Negara Republik Indonesia bahwa tugas akhir saya adalah hasil karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut tanpa melibatkan institusi Politeknik ATI Makassar atau orang lain.

Makassar, 2022 Yang menyatakan,

Ade Putri Saharuddin

(5)

v

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas ke-hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat merampungkan penyusunan Tugas Akhir ini dengan baik.

Penyusunan Tugas Akhir ini digunakan untuk memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan program Diploma III di Politeknik ATI Makassar. Penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak berupa dukungan moril, fasilitas, bimbingan, dan dorongan. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :

1. Kedua orang tua dan seluruh keluarga penulis, yang senantiasa membesarkan, memberikan dukungan moril, material, dan motivasi selama penulis menjalankan pendidikan.

2. Bapak Ir. Muhammad Basri, MM., selaku Direktur Politeknik ATI Makassar.

3. Ibu DR. Ir. Arminas, ST., MM, selaku Pudir III Politeknik ATI Makassar sekaligus sabagai pembimbing I Tugas Akhir.

4. Ibu Widya Hastuti Afris, S. ST., MM., Ph.D selaku Ketua Jurusan / Program Studi Teknik Industri Agro.

(6)

vi

5. Ibu Velahyati Baharuddin, ST., MT selaku Pembimbing II Tugas Akhir.

6. Seluruh dosen Teknik Industri Agro yang telah memberikan ilmunya kepada penulis selama menjalani perkuliahan.

7. Bapak Yusran Muchsin selaku Manajer PT. Perkebunan Nusantara XIV Pabrik Gula Camming yang telah memberikan kesempatan dalam melakukan penelitian tugas akhir.

8. Bapak Marten Riun Pasangking selaku kepala pabrik yang telah memberikan keterangan serta wawancara untuk penelitian tugas akhir.

9. Bapak Noermansyah M. Rusli selaku asisten boiler pabrik gula Camming sekaligus pembimbing lapangan.

10. Semua teman seperjuangan selama kuliah angkatan tahun 2019 dalam menyusun Tugas Akhir.

11. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Makassar, 2022

Penulis

(7)

vii

ABSTRAK

ADE PUTRI SAHARUDDIN, 2022. “Identifikasi Risiko Kecelakaan Kerja Dengan Menggunakan Metode Hazard Identification Risk Assesment and Risk Control Pada Bagian Boiler PTPN XIV Pabrik Gula Camming Kab. Bone”. Dibawah bimbingan Ibu Arminas selaku pembimbing I dan Ibu Andi Velahyati Baharuddin selaku pembimbing II.

Setiap pekerjaan memungkinkan timbulnya risiko kecelakaan kerja yang berasal dari proses pekerjaan yang sedang berlangsung. Pada PT. Perkebunan Nusantara XIV Pabrik Gula Camming, kecelakaan kerja sering terjadi pada stasiun boiler berdasarkan data tahun 2019 – 2021 meningkat setiap tahunnya yang dilakukan dari observasi langsung pada saat melakukan Kuliah Kerja Praktik (KKP). Kecelakaan tersebut ialah kecelakaan ringan seperti sesak nafas, mata merah, sesak nafas. Kecelakaan sedang seperti kuku terkelupas dan patah tulang.

Kecelakaan tinggi seperti kebakaran dan tersetrum. Kecelakaan ringan dengan jumlah kecelakaan 3 orang di tahun 2019, di tahun 2020 5 orang dan di tahun 2021 7. Kecelakaan sedang dengan jumlah kecelakaan 1 orang di tahun 2020 dengan kecelakaan 4 orang dan 4 orang di tahun 2021, dan kecelakaan berat dengan jumlah kecelakaan 2 orang di tahun 2019 di tahun 2020 kecelakaan 3 orang dan 2 orang di tahun 2021. Dari kecelakaan kerja yang terjadi, perusahaan mengalami kerugian berupa kehilangan jam kerja, pekerjaan yang tertunda, biaya pengobatan, serta produktivitas kerja menurun. Penelitian ini bertujuan mengetahui risiko kecelakaan kerja yang terjadi di stasiun kerja boiler. Metode yang digunakan adalah HIRARC untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menganalisis penyebab risiko kerja, menilai tingkat risiko kecelakaan kerja. Hasil dari penelitian ini didapatkan 17 sumber bahaya dan 17 risiko kecelakaan kerja mulai dari risiko ringan, risiko sedang dan risiko tinggi diantaranya 5 masuk ke dalam kategori tinggi, yaitu terjatuh dari ketinggian, terjepit fiber, suara mesin keras, dapur boiler meledak, dan terjatuh dari ketinggian yang lainnya masuk dalam kategori sedang dengan rekomendasi perbaikan menggunakan cara subtitusi, eliminasi, engineering, administrasi, dan APD.

Kata Kunci : Risiko, Kecelakaan Kerja, HIRARC, Pabrik Gula

(8)

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR ... iv

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...9

A. Bahaya ... 9

B. Risiko ... 16

C. Manajemen Risiko ... 20

D. Keselamatan dan Kesehatan Kerja ... 23

E. HIRARC ... 25

F. Kerangka Berfikir ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 37

A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan ... 37

B. Alat dan Bahan ... 37

C. Jenis Penelitian ... 37

D. Teknik Pengumpulan Data ... 38

E. Analisis Data ... 39

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42

A. Hasil ... 42

B. Pembahasan ... 66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 69

A. Kesimpulan ... 69

(9)

ix

B. Saran ... 70 DAFTAR PUSTAKA ... 71 LAMPIRAN ... 73

(10)

x

DAFTAR TABEL

Tebel 2.1 Faktor kesehatan dan keselakamatan kerja... 23

Tabel 2.2 Skala Likelihood ... 29

Tabel 2.3 Skala Saverity ... 30

Tabel 2.4 Risk Matriks ... 30

Tabel 2.5 Risk Level ... 31

Tabel 4.1 Uraian Kerja Stasiun Boiler ... 43

TAbel 4.2 Data Kecelakaan Kerja 2019-2021 ... 44

Table 4.3 Identifikasi Bahaya ... 49

Tabel 4.4 Penilaian Risiko ... 51

Tabel 4.5 Pengendalian Risiko ... 64

(11)

xi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tingkat Pengendalian Risiko ... 32

Gambar 2.2 Kerangka Berfikir ... 36

Gambar 4.1 Pengelasan ... 46

Gambar 4.2 Pemasangan Batu ... 46

Gambar 4.3 Dumping ... 47

Ganbar 4.4 Pembersihan Boiler ... 48

GAmbar 4.5 Stasiun Boiler ... 50

(12)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menghadapi persaingan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat dalam bidang industri, perlu dilakukan pemanfaan sumber daya manusia secara efektif untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sebuah produk, maka perusahaan perlu menekankan peranan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai konsekuensinya (Khaira, 2018). Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat melindungi pekerja dan bebas dari kecelakaan kerja yang akhirnya dapat melindungi efisiensi dan produktivitas kerja (Alfatiyah, 2017).

Tujuan K3 adalah untuk memelihara kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja, selain itu juga melindungi rekan kerja, keluarga pekerja, konsumen, orang lain yang mungkin terpengaruh kondisi lingkungan kerja (Sinambola, 2017). Program keselamatan dan kesehatan kerja bagi karyawan

(13)

2

sangatlah penting karena bertujuan untuk menciptakan sistem keselamatan dan kesehatan kerja dengan melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mengurangi kecelakaan (Taher, 2016).

PT. Perkebunan Nusantara XIV Pabrik Gula Camming yang berlokasi di Desa Wanuaru, Kec. Libureng, Kab. Bone Sulawesi Selatan merupakan salah satu perusahaan pabrik gula yang telah lama berdiri sejak tahun 1985 di Indonesia dan memproduksi gula kristal dengan hasil sampingan berupa tetesan gula. Utilitas penunjang produksi gula di pabrik gula Camming ada 3 yaitu power house, water treatment, dan boiler. Stasiun boiler adalah salah satu bagian yang paling penting yang berfungsi sebagai penghasil uap yang merupakan jantung dari produksi gula kristal yang akan menggerakkan seluruh turbin untuk menghasilkan listrik dan menjalankan semua mesin untuk menggiling tebu. Pabrik Gula Camming memiliki 2 dapur Boiler dengan kapasitas uap 50 ton/jam. Akan tetapi stasiun boiler termasuk salah satu stasiun yang memiliki tingkat kecelakaan kerja yang tinggi pada proses produksi gula.

(14)

3

Data PTPN XIV Unit Pabrik Gula Camming tahun 2019-2021 menunjukkan setiap tahunnya terjadi kecelakaan di bagian boiler mulai dari yang ringan hingga yang berat. Stasiun boiler memiliki total jumlah pekerja 60 orang, tetapi pekerja tetap hanya sekitar 40 orang lebihnya sering dimutasi ke stasiun kerja lainnya untuk membantu proses produksi. Kecelakaan ringan yaitu seperti mata iritasi, gangguan pernapasan, gangguan pendengaran dan kulit melepuh. Pada tahun 2019 kecelakaan ringan berjumlah 3 orang, di tahun 2020 berjumlah 5 orang dan di tahun 2021 berjumlah 7 orang. Terlihat bahwa setiap tahunnya terdapat kenaikan jumlah kecelakaan yang mengakibatkan pekerja menggunakan waktu kerja menjadi waktu istrahat akibat kecelakaan tersebut, sehingga waktu pengerjaan terhambat.

Kecelakaan sedang yaitu seperti kaki dan tangan terjepit, kaki terpeleset, terbentur pipa. Pada tahun 2019 kecelakaan sedang berjumlah 1 orang, di tahun 2020 berjumlah 4 orang dan di tahun 2021 berjumlah 3 orang. Terlihat bahwa setiap tahunnya terdapat kenaikan jumlah kecelakaan yang mengakibatkan pekerja harus beristirahat di rumah, sehingga waktu pengerjaan alat terlambat dan biaya pengobatan juga diberikan. Kecelakaan berat yaitu seperti lengan terbakar, kaki terbakar, luka sobek. Pada tahun

(15)

4

2019 kecelakaan berat berjumlah 2 orang, di tahun 2020 berjumlah 3 orang dan di tahun 2021 berjumlah 2 orang. Terlihat bahwa setiap tahunnya terdapat kecelakaan yang mengakibatkan pekerja diizinkan ber istrahat di rumah dan juga pemberhentian sementara produksi akibat adanya alat yang perlu perbaikan akibat ledakan. Meskipun kecelakaan berat jumlahnya minim dan lebih didominasi oleh kecelakaan ringan dan sedang, hal ini masih menjadi permasalahan yang darurat bagi perusahaan yang menimbulkan kerugian biaya pengobatan, waktu kerja dan tidak efektifnya mesin saat dipakai.

Guna menyelesaikan permasalahan tersebut, peneliti akan menggunakan metode Hazard Identification Risk Assesment and Risk Control (HIRARC).

Metode HIRARC ini merupakan metode yang digunakan untuk mengidentifikasi bahaya, menilai risiko, dan tindakan pengendalian risiko yang biasanya digunakan, penggunaan metode ini dianggap lebih tepat dan lebih teliti dimana bahaya yang timbul dijelaskan dari setiap aktivitas (Purnama, 2016).

Penelitian yang dilakukan (Sinaga, 2016) di PT. Wijaya Karya Beton Bayolali Tbk, mengidentifikasipotensi bahaya kerja pada jalur 1,2 dan 4 unit

(16)

5

tiang pancang yang memiliki 92 potensi bahaya, sehingga metode HIRARC dipakai untuk menganalisis penyebab terjadinya bahaya yang kemudian diberikan penilaian untuk menentukan pengendalian yang akan dilakukan.

Hasil penelitian menunjukkan dari 92 potensi bahaya kerja dari pengendalian yang sudah dilakukan terdapat 7 pengendalian yang tidak sesuai dilapangan.

Penilaian risiko yang sudah dilakukan oleh perusahaan bahwa dari hasil identifikaasi jalur produksi tergolong risiko tinggi. Dari hasil penelitian masih banyak pekerja yang tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang sudah disediakan perusahaan, masih terdapat Instruksi Kerja yang sudah terdapat unsur safety namun belum memiliki IK.

Penelitian yang dilakukan oleh (Rositasari, 2015) di PT. Beton Elemenindo Perkasa, mengidentifikasipotensi bahaya kerja yang tinggi pada 3 divisi yaitu bagian perawatan, produksi, dan implementasi yang bertujuan meminimalisir potensi bahaya di 3 divisi tersebut dengan menggunakan metode HIRARC.

Setelah dilakukan identifikasi dan penilaian terdapat 17 aktivitas berisiko rendah, 10 berisiko sedang, dan 10 berisiko tinggi. Oleh karena itu dilakukan evaluasi pengendalian yang mamadai dan terlaksana di lapangan.

Pengendalian berupa pengendalian engineering, administrasi, dan APD.

(17)

6

Penelitian yang dilakukan oleh (Socrates, 2013) di PT. Indocement Tunggal Prakarsa, mengidentifikasi pada bagian produksi terdapat 19 jenis pekerjaan pada bagian Suspension Preheater (SP) yang memiliki sumber bahaya berbeda-beda dengan kategori tinggi diantaranya adalah: material panas, tersengat arus listrik, bekerja diketinggian, alat angkut yang manual, lempengan mesin rusak, radiasi panas suhu luar. Dari masalah tersebut dilakukan penilaian risiko menggunakan metode HIRARC agar bahaya yang ada dapat terdeteksi dan segera dibuat pengendaliannya sehingga potensi terjadinya kecelakaan kerja dapat diminimalkan. Dari hasil pengendalian tersebut dilakukan bimbingan mengenai k3 pada pekerja dan juga penggunaan APD yang benar.

Berdasarkan permasalahan yang ada dan mengacu pada penelitian terdahulu maka penulis memilih metode Hazard Identification and Risk Assesment and Risk Control (HIRARC) untuk digunakan di stasiun boiler karena mudah dipahami serta dapat menganalisis kecelakaan kerja secara jelas, untuk melakukan perbaikan sistem K3. Adapun judul yang dipilih adalah

(18)

7

“Identifkasi Risiko Kecelakaan Kerja Menggunakan Metode Hazard

Identification Risk Assesment and Risk Control Pada Bagian Boiler Di PTPN XIV Unit Pabrik Gula Camming Kab. Bone”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah yang telah diuraiakan sebelumnya maka rumusan masalah yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana mengidentifikasi potensi kecelakaan di stasiun kerja boiler menggunakan metode Hazard Identification Risk Assessment and Risk Control (HIRARC) ?

2. Bagaimana mengendalikan risiko kecelakaan kerja di stasiun boiler ? C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi potensi-potensi kecelakaan kerja pada Stasiun Boiler di PTPN XIV Unit Pabrik Gula Camming.

2. Mengendalikan risiko kecelakaan kerja pada Stasiun Boiler di PTPN XIV Unit Pabrik Gula Camming.

(19)

8 D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapakan dapat memberikan manfaat atau kegunaan : 1. Bagi perusahaan

Diharapakan dari hasil penelitian ini dapat memberikan masukan terutama dalam menjaga keselamatan kerja para karyawan Untuk mahasiswa, menambah pengetahuan yang berhubungan dengan K3 di perusahaan.

2. Bagi Mahasiswa

Diharapkan dapat memberikan manfaat dan menambah pengetahuan yang berhubungan dengan K3 yang ada di perusahaan.

3. Bagi Pembaca

Diharapkan dapat menjadi referensi pada masa yang akan datang.

(20)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bahaya

1. Pengertian Bahaya

Bahaya didefinisikan sebagai objek, kondisi, substansi, proses, tindakan, atau perilaku yang menjadi sumber bahaya potensial (Spurlock, 2018). Bahaya merupakan sumber potensi yang menimbulkan kerugian.

Bahaya adalah suatu potensi penyebab terjadinya insiden yang berakibat pada kerugian (ILO, 2013). Contoh bahaya ditempat kerja yaitu bekerja dengan menggunakan tangga yang tidak stabil, bekerja menangani bahan kimia bersifat asam, ataupun tersandung tikar di lantai kantor. Tikar pada umumnya tidaklah berbahaya. Namun, menjadi potensi bahaya apabila posisinya tidak benar. Suatu bahaya dapat menyebabkan gangguan kesehatan apabila kontak dengan yang menyebabkan gangguan terjadi

(21)

10

pajanan (exposure) secara berlebihan. Pajanan yang berlebihan dapat menyebabkan penyakit dari sumber bahaya di tempat kerja (ILO, 2013).

2. Jenis – Jenis Bahaya

Menurut (Ramli, 2010) jenis bahaya diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Bahaya Kimia

Pajanan berbagai bahan kimia dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Menurut (ILO,2013) bahan kimia berbahaya dapat berbentuk padat, cairan, uap, gas, debu, asap atau kabut dan dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga cara utama antara lain:

1) Inhalasi (menghirup): Zat beracun dapat masuk ke dalam paru- paru ketika kita bernapas melalui mulut atau hidung. Orang dewasa saat istirahat menghirup sekitar lima liter udara per menit. Beberapa zat, seperti fiber/serat, dapat langsung melukai paru-paru. Lainnya diserap ke dalam aliran darah dan mengalir ke bagian lain dari tubuh.

2) Pencernaan (menelan): Bahan kimia dapat memasuki tubuh jika makan makanan yang terkontaminasi, makan dengan tangan yang terkontaminasi atau makan di lingkungan yang

(22)

11

terkontaminasi. Zat di udara juga dapat tertelan saat dihirup, karena bercampur dengan lendir dari mulut, hidung atau tenggorokan. Zat beracun mengikuti rute yang sama sebagai makanan bergerak melalui usus menuju perut.

3) Penyerapan ke dalam kulit atau kontak invasif: Beberapa di antaranya adalah zat melewati kulit dan masuk ke pembuluh darah, biasanya melalui tangan dan wajah. Kadang-kadang, zat- zat juga masuk melalui luka dan lecet atau suntikan (misalnya kecelakaan medis). Guna mengantisipasi akibat bahaya faktor kimia di tempat kerja maka perlu dilakukan pengendalian lingkungan kerja secara teknis sehingga kadar bahan-bahan kimia di udara lingkungan kerja tidak melampaui Nilai Ambang Batas (NAB).

b. Bahaya Fisik 1) Kebisingan

Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan

(23)

12

pendengaran (ILO, 2013). Suara keras atau berlebihan dapat merusak jaringan saraf sensitif di telinga, menyebabkan kehilangan pendengaran sementara atau permanen. Hal ini sering diabaikan sebagai masalah kesehatan, tapi itu adalah salah satu bahaya fisik utama. Batasan pajanan terhadap kebisingan ditetapkan nilai ambang batas sebesar 85 dB selama 8 jam sehari.

2) Penerangan

Penerangan di setiap tempat kerja harus memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan. Penerangan yang sesuai sangat penting untuk peningkatan kualitas dan produktivitas. Sebagai contoh, pekerjaan perakitan benda kecil membutuhkan tingkat penerangan lebih tinggi, misalnya mengemas kotak. Studi menunjukkan bahwa perbaikan penerangan, hasilnya terlihat langsung dalam peningkatan produktivitas dan pengurangan kesalahan. Bila penerangan kurang sesuai, para pekerja terpaksa membungkuk dan mencoba untuk memfokuskan penglihatan mereka, sehingga tidak nyaman dan dapat menyebabkan

(24)

13

masalah pada punggung dan mata pada jangka panjang dan dapat memperlambat pekerjaan mereka.

3) Getaran

Menurut Menteri Lingkungan Hidup Nomor: KEP- 49/MENLH/11/1996 getaran adalah gerakan bolak-balik suatu massa melalui keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan.

Menurut (ILO, 2013) getaran adalah gerakan bolak-balik cepat, memantul ke atas dan ke bawah atau ke belakang dan ke depan.

Misalnya, mesin besar di tempat kerja dapat menimbulkan getaran, getaran dapat dirasakan melalui lantai dan dinding oleh orang-orang disekitarnya. Sehingga mempengaruhi pekerja yang tidak memiliki kontak langsung dengan mesin tersebut dan menyebabkan nyeri dan kram otot.

c. Bahaya Biologis

Di tempat kerja tidak hanya terdapat risiko kecelakaan, tetapi juga banyak faktor yang dapat menimbulkan terjadinya penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan kerja. Faktor biologi penyakit akibat kerja sangat beragam jenisnya. Di tempat kerja

(25)

14

banyak menghadapi berbagai penyakit yang disebabkan virus, bakteri maupun jamur. Misalnya penyakit paru oleh jamur sering terjadi pada pekerja yang menghirup debu organik, kasus tersebut pernah dilaporkan dalam kepustakaan tentang aspergilus paru pada pekerja gandum. Demikian juga “grain asma”. Sporotrichosis adalah salah satu contoh penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh jamur.

Penyakit jamur kuku sering diderita para pekerja yang tempat kerjanya lembab dan basah atau bila mereka terlalu banyak merendam tangan atau kaki di air seperti proses pencucian pada pekerja di pabrik tahu. Berbeda dari faktor-faktor penyebab penyakit akibat kerja lainnya, faktor biologis dapat menular dari seorang pekerja ke pekerja lainnya. Untuk itu perlu ditempuh pencegahan penyakit menular, antara lain dengan pemberian vaksinasi atau suntikan, kepada pekerja-pekerja di Indonesia sebagai usaha preventif. Bila memungkinkan diadakan pula imunisasi terhadap TBC dengan BCG yang diberikan kepada pekerja- pekerja dan keluarganya, imunisasi terhadap difteri, tetanus, batuk

(26)

15

rejan, sedangkan di negara maju telah diberikan imunisasi virus influenza sebagai langkah preventif kepada pekerja.

d. Bahaya Ergonomis

Industri barang dan jasa telah mengembangkan kualitas dan produktivitas. Seperti penyusunan tempat kerja dan tempat duduk yang sesuai harus diatur sedemikian sehingga tidak ada pengaruh yang berbahaya bagi kesehatan. Tempat duduk yang cukup, sesuai, serta nyaman harus disediakan untuk pekerja. Risiko potensi bahaya ergonomi akan meningkat apabila:

1) Berulang atau kecepatan tinggi 2) Postur tidak netral atau canggung 3) Tumpuan yang kurang sesuai 4) Kurang istirahat yang cukup.

e. Bahaya Psikologis

Salah satu bahaya yang ada di tempat kerja yaitu bahaya psikososial. Akumulasi stressor di tempat kerja yang tinggi bisa menimbulkan bahaya psikososial (Kurniawidjaja dkk, 2015). Bahaya

(27)

16

psikososial kerja dapat didefinisikan sebagai aspek-aspek dari desain kerja, organisasi kerja dan manajemen kerja, serta segala aspek yang berhubungan dengan lingkungan sosial kerja yang berpotensi dapat menyebabkan gangguan pada psikologi dan fisikfisiologi pekerja (Putri, 2008).

f. Bahaya Mekanik

Bahaya mekanik bersumber dari peralatan yang digerakkan secara manual seperti gerindra, mesin press, mesin potong, mesin tempa, dan lain-lain. Risiko yang dapat ditimbulkan tersebut berupa tersayat, terpotong, terjepit, dan lain-lain.

g. Bahaya Listrik

Listrik merupakan energi dibangkitkan oleh sumber energi biasanya generator dan dapat yang mengalir dari satu titik ke titik lain melalui konduktor dalam rangkaian tertutup. Energi listrik dapat mengakibatkan risiko bahaya seperti kebakaran, tersengat listrik, hubungan arus pendek (Ramli, 2010).

B. Risiko

1. Pengertian Risiko

(28)

17

Menurut (Hyat, 2004), risiko merupakan konsikuensi yang dapat menyebabkan kerusakan. Risiko merupakan kata yang biasanya mempunyai konotasi yang negatif, sesuatu yang tidak kita sukai, sesuatu yang ingin kita hindari. Risiko adalah kombinasi dan konsikueni yang berbahaya, sehingga berpeluang terjadi suatu kejadian (ILO, 2013). Risiko adalah mengukur kemungkinan hal negatif akan terjadi sebagai akibat dari bahaya dan potensi keparahan atau dampak dari hal negatif tersebut (Spurlock, 2018).

2. Sumber – Sumber Risiko

Menurut (Lokobal, dkk 2014) sumber-sumber penyebabnya, risiko dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Risiko Internal

Risiko internal yaitu risiko yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri.

b. Risiko Eksternal

Risiko eksternal yaitu risiko yang berasal dari luar perusahaan atau lingkungan luar perusahaan.

c. Risiko Keuangan

(29)

18

Risiko keuangan yaitu risiko yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi dan keuangan, seperti: perubahan harga, tingkat bunga, dan mata uang.

d. Risiko Operasional

Risiko operasional adalah semua risiko yang tidak termasuk risiko keuangan. Risiko operasional disebabkan oleh faktor-faktor manusia, alam, dan teknologi.

3. Jenis – Jenis Risiko

Menurut Ramli (2010), risiko dari suatu organisasi atau perusahaan dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dari dalam maupun dari luar.

Faktor dari luar berkaitan dengan finansial, kebijakan pemerintah, tuntutan pasar, regulasi dan lainnya. Risiko dari dalam contohnya terkait proses, operasi, atau pekerjaan. Berikut jenis-jenis risiko :

a. Risiko Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Risiko K3 adalah risiko yang berkaitan dengan sumber bahaya yang timbul dalam aktivitas bisnis yang menyangkut aspek manusia, peralatan, material, dan lingkungan kerja. Umumnya risiko K3 di konotasikan negatif meliputi kecelakaan pada manusia maupun aset

(30)

19

perusahaan, kebakaran dan peledakan, penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, kerusakan sarana, dan gangguan operasi.

b. Risiko Keamanan (Security Risk)

Masalah keamanan dapat terjadi, misalnya pencurian aset perusahaan yang dapat mengganggu proses produksi. Perusahaan berada di daerah konflik yang dapat mengganggu operasional dan keamanan perusahaan.

c. Risiko Sosial

Risiko sosial seperti tingkat kesejahteraan, latar belakang budaya dan pendidikan dapat menimbulkan risiko baik negatif maupun positif. Karena itu dikembangkan manajemen risiko korporasi yang melihat seluruh risiko yang dapat mempengaruhi jalannya operasi perusahaan. Salah satu bagian dari manajemen risiko tersebut adalah risiko K3 yang berkaitan dengan risiko akibat kecelakaan yang menimpa manusia, sarana produksi dan lingkungan kerja.

Pertimbangan yang perlu diambil dalam identifikasi risiko antara lain

(31)

20

kerugian harta benda (property loss), kerugian masyarakat, dan kerugian lingkungan.

C. Manajemen Risiko

1. Pengertian Manajemen Risiko

Menurut (Widowati, 2017) secara umum manajamen risiko didefinisikan sebagai proses, mengidentifikasi, mengukur, dan memastikan risiko dan mengembangkan strategi untuk mengelolah risiko tersebut. Dalam hal ini manajemen risiko akan melibatkan proses, metode, dan teknik untuk menentukan probabilitas dan konsekuensi dari even positif maupun even yang berlawanan. Definisi manajemen risiko menurut ISO GUIDE 73:2009 dalam Evi Widowati (2017), adalah dampak dari ketidakpastian terhadap pencapaian obyektif. Dampak menurut SNI ISO 31000 adalah deviasi dari apa yang diharapkan, bisa bersifat positif dan/atau negatif. Sedangkan definisi manajemen risiko adalah aktivitas yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan sebuah organisasi dalam menangani risiko (SNI ISO 31000, 2011 dalam Evi Widowati, 2017). Manajemen risiko merupakan upaya dalam mengelola risiko untuk mencegah terjadinya kecelakaan

(32)

21

kerja maupun penyakit akibat kerja dan penyakit akibat hubungan kerja.

Manajemen Risiko diterapkan dengan tujuan sebagai berikut (ILO, 2013):

a. Proses pengelolaan yang terdiri dari kegiatan identifikasi, evaluasi dan pengendalian yang berhubungan dengan tercapainya tujuan organisasi ataupun perusahaan.

b. Aplikasi kebijakan dan prosedur pengelolaan untuk memaksimalkan kesempatan dan meminimalkan kerugian.

c. Aplikasi sistematik dari kebijakan, prosedur dan pelaksanaan kegiatan identifikasi, analisis, evaluasi, pengendalian dan pemantauan risiko.

2. Standar manajemen Risiko

Konsep manajemen risiko telah dikembangkan oleh berbagai lembaga atau institusi sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Committe of Sponsoring Organization of the Treadway Comission (COSO)

mengeluarkan enterprise risk managemnet-intergrated framework sebagai acuan dalam mengembangkan manajemen risiko korporat dalam perusahaan. Di Inggris, standar manajemen risiko dikembangkan oleh the institute of risk management bersama “national forum for risk

(33)

22

management in the public sector” dan the assosiation of insurance and risk managers. National institute of standars and Technology di USA

mengeluarkan pedoman manajemen risiko untuk bidang IT: risk management guide for information technology system special publication 800-30.2022 yang dikembangkan khusus untuk mngelola

risiko berkaitan dengan sistem informasi (Ramli, 2010). Menurut standar AS/NZS 4360, proses manajemen risiko mencakup langkah sebagai berikut: menentukan konteks, identifikasi risiko, penilaian risiko, analisis risiko, evaluasi risiko, pengendalian risiko, komunikasi dan konsultasi, dan pemantauan serta tinjau ulang.

Manajemen risiko sangat luas dan dapat diaplikasi untuk berbagai keperluan dan kegiatan. Karena itu langkah pertama adalah menetapkan konteks penerapan manajemen risiko yang akan dijalankan agara proses pengelolaan risiko tidak salah arah dan tepat sasaran. Penetapan konteks ini meliputi konteks strategis, konteks manajemen risiko, mengembangkan kriteria risiko, dan menentukan struktur pengelolaannya (Ramli, 2010).

(34)

23 D. Keselamatan dan Kesehatan Kerja

1. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja adalah pengawasan terhadap orang, mesin, material, dan metode yang mencakup lingkungan kerja agar pekerja tidak mengalami cidera (Sedarmayanti, 2009). program keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu sistem yang di buat bagi pekerja sebagai upaya pencegahan timbulnya kecelakaan kerja dan penyakitakibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal - hal yang berpotensi menimbulkan kecelakaan kerja serta

tindakan antisipatif bila terjadi hal yang (Lubis, 2011).

Tebel 2.1 Faktor Keselamatan dan kesehatan kerja (Consultant trainer HSE/K3 ITB 2021)

Faktor Keselamatan Kesehatan

Kerusakan Fasilitas

Manusia Luka, fatality

Sakit akibat debu

dan asap

pembakaran

Pembakaran ampas Mesin,

Peralatan Luka, fatality

Panas terlalu tinggi dan tidak berhenti beroperasi

Meledak, terbakar, rusak

Proses

Produksi Luka, fatality

Kerusakan

pendengaran, sesak nafas, cedera, gatal pada kulit

Terbakar, Meledak

(35)

24 Bangunan

Luka, fatality, kematian

Pusing di tempat yang terlalu gelap

Rusak, rapuh, terbakar

2. Kecelakaan Kerja

Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan, sehingga segala tindakan kriminal yang mengandung unsur kesengajaan atau perencanaan diluar ruang lingkup kecelakaan (Koesyanto, 2016).

Kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi di tempat kerja. Hal ini berarti kecelakaan bia terjadi ditempat kerja ataupun perjalanan menuju ke tempat kerja karena masih lingkup melaksanakan pekerjaan.

Kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang jelas tidk dikehendaki dan sering sekali tidak terduga semul dapat mennimbulakan kerugian baik waktu, harta benda atau poperti maupun korban jiwa yang terjadi di dalam suatu proses kerja industri atau yang berkaitan dengannya (Tarwaka, 2012).

3. Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja

Menurut (Anizar, 2012) setiap kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian yang besar , baik itu kerugian material dan fisik. Kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja antara lain sebagai berikut:

(36)

25 a. Kerugian Ekonomi

Kerugian ekonomi yang meliputi : kerusakan alat, bahan, bangunan, biaya pengobatan, kompensasi kecelakaan, turunya jumlah produksi, pergantian tenaga kerja.

b. Kerugian Non Ekonomi

Kerugian non ekonomi meliputi : penderitaan korban, hilangnya waktu kerja, hilangnya waktu selama sakit.

4. Konsep Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja a. Safety (Keselamatan)

Safety (keselamatan) adalah bagaimana mencegah terjadinya

kecelakaan agar orang selamat dan tidak terjadi kerusakan fasilitas.

b. Health (Kesehatan)

Health (kesehatan) adalah bagimana orang bekerja terhindar dari

penyakit untuk menjaga kesehatan pekerja.

E. HIRARC

1. Pengertian HIRARC

HIRARC adalah serangkaian proses mengidentifikasi bahaya yang dapat terjadi dalam aktifitas rutin ataupun non rutin di perusahaan

(37)

26

kemudian melakukan penilaian risiko dari bahaya tersebut lalu membuat program pengendalian bahaya tersebut agar dapat diminimalisir tingkat risikonya ke yang lebih rendah dengan tujuan mencegah terjadi kecelakaan (Ramli, 2010).

2. Tujuan HIRARC

Tujuan dari dilakukannya HIRARC adalah untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengontrol risiko K3 pada suatu proses kerja. Selain itu HIRARC juga bertujuan untuk mengurangi angka kejadian kecelakaan di tempat kerja dan untuk melindungi semua proses kerja. HIRARC merupakan suatu prosedur yang telah terstruktur diberikan kepada karyawan maupun pihak luar yang terkait dalam kegiatan perusahaan untuk keseragaman suatu proses kerja, supaya tidak terjadi kesalahan komunikasi dalam bekerja serta menentukan pengendalian. Hal ini dilakukan demi melindungi kesehatan tenaga kerja, meningkatkan efisiensi kerja, mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit.

Berbagai arah keselamatan dan kesehatan kerja (Ismi, 2014):

a. Mengantisipasi keberadaan faktor penyebab bahaya dan melakukan pencegahan sebelumnya.

(38)

27

b. Memahami jenis-jenis bahaya yang ada di tempat kerja.

c. Mengevaluasi tingkat bahaya di tempat kerja.

d. Mengendalikan terjadinya bahaya atau komplikasi.

3. Proses Pelaksanaan HIRARC a. Identifikasi Bahaya

Identifikasi bahaya merupakan proses untuk mengetahui adanya satu bahaya dan menentukan karakteristiknya (OHSAS 18001, 2007).

Dalam menentukan manajemen bahaya langkah awal yang harus dilakukan yaitu identifikasi bahaya. Identifikasi bahaya dilakukan untuk menentukan risiko apa yang ditumbulkan dari bahaya yang ada, supaya dapat dilakukan pengendalian (Ramli, 2010). Identifikasi bahaya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan potensi bahaya dan jenis kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang mungkin dapat terjadi. Identifikasi sumber bahaya merupakan tahapan yang dapat memberikan informasi secara menyeluruh dan mendetail mengenai risiko yang ditemukan dengan menjelaskan konsekuensi dari yang paling ringan sampai dengan yang paling berat. Pada tahap ini harus dapat

(39)

28

mengidentifikasi hazard yang dapat diramalkan (foreseeable) yang timbul dari semua kegiatan yang berpotensi membahayakan kesehatan dan keselamatan terhadap karyawan, orang lain yang berada di tempat kerja, tamu dan bahkan masyarakat sekitarnya.

Langkah awal dalam mengidentifikasi bahaya adalah dengan mengetahui, apa saja proses kerjanya. Dalam menemukan sumber bahaya akan dijabarkan menjadi 5 faktor yaitu, man, methode, material, machine, dan environment.

b. Penilaian Risiko

Penilaian risiko adalah upaya untuk menghitung besarnya suatu risiko dan menetapkan apakah risiko tersebut dapat diterima atau tidak. Penilaian risiko digunakan untuk menentukan tingkat risiko ditinjau dari kemungkinan terjadinya (likelihood) dan keparahan yang dapat ditimbulkan (severity). Metode kualitatif menurut standar AS/NZS 4360, kemungkinan atau likelihood diberi rentang antara suatu risiko yang jarang terjadi sampai dengan risiko yang dapat terjadi setiap saat. Untuk keparahan atau severity dikategorikan antara kejadian yang tidak menimbulkan cedera atau hanya kerugian

(40)

29

kecil yang paling parah jika dapat menimbulkan kejadian fatal (meninggal dunia)atau kerusakan besar terhadap aset perusahaan

(Ramli, 2010).

Table 2.2 Skala Probabiliti/Likelihood (AS/NZS 4360 : 2004)

Tingkatan Kriteria Penjelasan

1 Rare

Mungkin terjadi hanya pada kondisi khusus/ setelah setahun sekali

2 Unlikely

Mungkin terjadi pada beberapa kondisi tertentu, namun kecil kemungkinan

3 Possible Mungkin terjadi pada kondisi tertentu

4 Likely Mungkin terjadi pada hamper semua kondisi

5 Almost

Certainly Dapat terjadi pada semua kondisi Tabel kemungkinan (likelihood) adalah tabel yang menunjukkan nilai kecenderungan terjadinya konsikuensi dari sumber risiko pada setiap tahapan pekerjaan. Kemungkinan tersebut akan ditentukan ke dalam kategori tingkat kemungkinan yang mempunyai nilai yang berbeda, tingkatan nilai kemungkinan dapat dilihat pada table 2.2.

(41)

30

Table 2.3 Skala Saverity (AS/NZS 4360 : 2004)

Tingkatan Kriterian Penjelasan

1

Insignifant (tidak bermakna)

Tidak terjadi cedera, kerugian finansial kecil

2 Minor (kecil)

Cedera ringan, kerugian finansial sedang

3

Moderate (Sedang)

Cedera sedang, perlu penanganan medis, kerugian finansial

4

Major (besar)

Cedera berat lebih satu orang, kerugian besar

5 Extrem

Fatal lebih dari satu orang, terhentinya seluruh kegiatan

Tabel keparahan (severity) adalah tabel yang menunjukkan tingkat keparahan kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja yang menimbulkan berbagai kerugian dari kerugian kecil hingga kerugian

yang besar. Tingkat keparahan dapat dilihat pada gambar 2.3.

Table 2.4 Risk Matriks/Rating (AS/NZS 4360 : 2004) Saverity (S)

Likelihood (L) 1 2 3 4 5

5 5 10 15 20 25

4 4 8 12 16 20

3 3 6 9 12 15

2 2 4 6 8 10

1 1 2 3 4 5

Tabel risk rating adalah tabel gabungan antara likelihood dan severity yang di kalikan sehingga mendapatkan nilai risiko yang menjadi

(42)

31

acuan untuk mengetahui jenis level kecelakaan. Hasil perkalian likelihood dan severity dapat dilihat pada tabel 2.4.

Tabel 2.5 Risk Level (AS/NZS 4360 : 2004) Tingkatan

Risiko

Kategori

Risiko Deskripsi Keterangan Warna

17 – 25 E Extreme

Sangat

Tinggi Merah

11 - 16. H High Tinggi Orange

5 – 10 M Medium Sedang Kuning

1 - 4. L Low Ringan Hijau

Tabel risk level adalah tabel yang menunjukkan level setiap risiko dengan melihat hasil risk rating, risiko ringan adalah risiko yang menimbulkan cedera ringan, sehingga karyawan dapat bias kembali bekerja hanya membutuhkan waktu istrahat sebentar nilai risikonya 1-4 dengan lambang warna hijau. Tingkat risiko dengan nilai 5-10 dikategorikan risiko sedangan yaitu risiko dengan kerugian hilangnya jam kerja yang cukup banyak 1x24 jam dan juga biaya pengobatan dengan warna lambang warna kuning. Untuk tingkat risiko dengan nilai 11-16 masuk ketegori tinggi yaitu risiko yang dapat menghentikan proses produksi sehingga menimbulkan kerugian yang besar dengan lambang warna orange. Dan untuk tingkat risiko dengan nilai 17-25 masuk dalam kategori risiko sangat tinggi dengan

(43)

32

lambang warna merah yaitu risiko yang menimbulkan kematian dan rusaknya alat produksi. Level risiko dapat dilihat pada tabel 2.5.

c. pengendalian Risiko

Pengendalian risiko dilakukan terhadap seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan peringkat risiko untuk menemukan prioritas dan cara pengendaliannya. Selanjutnya, dalam menentukan pengendalian harus mempertimbangkan hirarki pengendalian mulai dari eliminasi, substitusi, pengendalian teknis, administratif dan APD (Ramli, 2010).

Adapun tingkat penilaian risiko :

Gambar 2.1 Tingkat Pengendalian Risiko

(Consultan Trainer HSE/K3 ITB 2021) Engineering

(44)

33 1) Eliminasi

Eliminasi adalah pengendalian risiko K3 untuk mengeliminir atau

menghilangkan suatu bahaya. Misalnya saja ketika di tempat kerja kita melihat ada oli yang tumpah atau berceceran maka sesegera mungkin kita hilangkan sumber bahaya ini. Eliminasi merupakan puncak tertinggi dalam pengendalian risiko dalam K3. Karena apabila bahaya sudah dihilangkan maka sangat kecil kemungkinan akan mengancam pekerja.

Hierarki pengendalian risiko ini adalah yang paling utama. Sebab, dengan menghilangkan risiko kecelakaan maka sangat mungkin kecelakaan tidak akan terjadi kembali.

2) Substitusi

Substitusi adalah metode pengendalian risiko yang berfokus pada

penggantian suatu alat atau mesin atau barang yang memiliki bahaya dengan yang tidak memiliki bahaya. Contoh kasusnya adalah pada mesin diesel yang terdapat kebisingan tinggi, maka sebaiknya kita mengganti mesin tersebut dengan yang memiliki suara lebih kecil agar tidak menimbulkan bahaya kebisingan berlebih. Substitusi dilakukan apabila proses eliminasi sudah tidak bisa dilakukan.

(45)

34 3) Engineering

Engineering adalah proses pengendalian risiko dengan merekayasa suatu alat atau bahan dengan tujuan mengendalikan bahayanya. Engineering control kita lakukan apabila proses substitusi tidak bisa dilakukan. Biasanya terkendala dari segi biaya untuk penggantian alat dan bahan oleh karena itu, kita melakukan proses rekayasa engineering. Contoh kasusnya adalah ketika di tempat kerja ada mesin diesel yang memiliki suara bising. Akan tetapi, kita tidak bisa menggantinya dengan yang lain maka kita harus memodifikasi sedemikian rupa agar suara tidak keluar secara berlebihan.

4) Administrasi

Aministrasi adalah proses non teknis dalam suatu pekerjaan dengan tujuan menghilangkan bahaya. Proses non teknis ini diantaranya seperti pembuatan prosedur kerja, pembuatan aturan kerja, pelatihan kerja, penentuan durasi kerja, penempatan tanda bahaya, penentuan label, pemasangan rambu dan juga poster. Contoh kasusnya adalah apabila di tempat kerja ada mesin diesel yang mengeluarkan kebisingan berlebih dan sudah tidak bisa direkaya secara teknis maka langkah yang

(46)

35

harus dilakukan adalah pembatasan jam kerja, pembuatan prosedur, pemasangan tanda bahaya dan lain sebagainya. Dengan tujuan, pekerja tidak berlebihan terpapar kebisingan.

5) APD

APD atau alat pelindung diri adalah hierarki pengendalian risiko terakhir dalam K3. Pengendalian ini banyak digunakan karena sederhana dan murah. Akan tetapi, proteksi yang diberikan tidak sebaik langkah di atas. APD tidak menghilangkan sumber bahaya sehingga proteksi yang diberikan tergantung dari individu masing-masing yang memakai. Contoh

APD adalah helm, earmuff, safety gloves dan lainnya.

(47)

36 F. Kerangka Berfikir

PTPN XIV Pabrik Gula Camming Kabupaten Bone

Potensi bahaya kecelakaan kerja

Penerapan merode HIRARC (Hazard Identifikasi and Risk Assessment and Risk Control)

Identifikasi Bahaya

Pengendalian Risiko Analisis

Risiko

Penilaian

Risiko

(48)

37

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu

Penelitian dilakukan di PT. Perkebunan Nusantara XIV Unit Pabrik Gula Camming yang beralamat di Desa wanuaru, Kec. Libureng, Kab. Bone Sulawesi Selatan pada bagian stasiun kerja Boiler pada tanggal 8 Maret 2021 sampai 1 Maret 2022.

B. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian PT. Perkebunan Nusantara XIV Unit Pabrik Gula Camming bagian stasiun kerja Boileradalah sebagai berikut:

1. Alat Tulis 2. Laptop

3. Software microsoft word dan microsoft excel C. Jenis Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang melakukan pengamatan yang mendalam serta sesuai fakta yang ada di lapangan. Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi dan memberikan

(49)

38

penilaian terhadap sumber bahaya, menjelaskan nilai dari risiko yang terdapat di setiap area kerja dengan menggambarkan proses analisa keselamatan kerja dengan menggunakan metode kualitatif untuk menentukan tingkat likelihood dan severity untuk menentukan kategori bahaya dan pengendalian dari setiap risiko yang ada dan memberikan rekomendasi pengendalian bahaya dengan metode HIRARC.

D. Teknik Pengumpulan Data

Penelitian lapangan yaitu suatu metode pengumpulan data yang dilakukan melalui penelitian langsung pada objek penelitian dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data antara lain:

1. Wawancara (interview) yaitu, teknik pengumpulan data dengan cara tanya jawab langsung kepada karyawan yang memegang tanggung jawap penuh terhadap stasiun kerja boiler setelah kepala pabrik yaitu pengawas guna mendapatkan informasi mengenai objek penelitian.

2. Observasi yaitu, pengambilan data yang dilakukan dengan cara mengamati langsung objek yang diteliti.

3. Studi literatur yaitu mencari dan mengumpulkan teori-teori, konsep- konsep yang kiranya dapat dijadikan sebagai landasan teoritis bagi

(50)

39

penelitian yang dilakukan. Teori-teori tersebut didapatkan dari buku pabrik gula, jurnal, serta penelitian. Adapun teknik pengumpulannya antara lain :

a. Kepustakaan yaitu, mengumpulkan data yang berupa catatan, laporan-laporan, dan dokumentasi yang ada.

b. Browsing internet yaitu, pengumpulan data yang diperoleh dari internet untuk menambah referensi.

E. Analisis Data

Data yang telah diperoleh dianalisis menggunakan metode HIRARC. Adapun langkah-langkah dalam melakukan analisis data sebagai berikut:

1. Identifikasi Bahaya

Melakukan identifikasi bahaya merupakan proses penganalisaan untuk menentukan secara sistematis dan secara berkesinambungan bahaya (kerugian yang potensial) yang menantang perusahaan.

2. Analisis Risiko

Analisis risiko dapat dilakukan baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dimana risiko harus diidentifikasi dan akibat (effect) harus dinilaiatau dianalisis. Tujuan dari analisis risiko adalah membantu

(51)

40

menghindari kegagalan dan memberikan gambaran tentang apa yang terjadi bila proyek yang dijalankan ternyata tidak sesuai dengan rencana.

3. Penilaian Risiko

Pengendalian risiko adalah proses penilaian yang digunakan untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang dapat terjadi. Tujuan dari penilaian risiko adalah memastikan kontrol risiko dari proses, operasi atau aktivitas yang dilakukan berada pada tingkat yang dapat diterima.

Penilaian dalam penilaian risiko yaitu Likelihood dan Saverity. Likelihood menunjukkan seberapa mungkin kecelakaan itu terjadi. Saverity menunjukkan seberapa parah dampak dari kecelakaan tersebut. Nilai dari Likelihood dan Saverity akan digunakan untuk menentukan risk rating. Risk rating adalah nilai yang menunjukkan risiko yang ada

berada pada tingkat rendah, menengah, tinggi atau ekstrim.

4. Rekomendasi Pengendalian Risiko

Pengendalian risiko adalah cara untuk mengatasi potensi bahaya yang terdapat dalam lingkungan kerja. Potensi bahaya tersebut dapat dikendalikan dengan menetukan suatu skala prioritas terlebih dahulu

(52)

41

yang kemudian dapat membantu dalam pemilihan pengendalian risiko yang disebut hirarki pengendalian risiko.

(53)

42

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Data yang diperoleh dengan menggunakan beberapa pengumpulan data sesuai dengan kondisi sumber data yang bersangkutan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah uraian pekerjaan yang menyebabkan kecelakaan kerja dan jumlah kecelakaan kerja yang pernah terjadi pada bagian boiler PTPN XIV Pabrik gula Camming dimana bagian ini adalah bagian penghasil uap untuk produksi gula.

1. Pengumpulan Data

Data uraian aktivitas dari stasiun boiler tahun 2019-2021 dapat dilihat pada table 4.1 terdapat 9 aktivitas, dimana aktivitas pertama pengelasan dengan 3 kategori bahaya yaitu terkena percikan api dengan risiko memar, mata berair dengan risiko mata merah, ganguan pernafasan dengan risiko sesak nafas. Kedua pemasangan batu dengan kategori bahaya yang menimbulkan risiko patah tulang. Ketiga dumping dengan risiko bahaya kebakaran. Keempat pemasangan fiber dengan dengan

(54)

43

risiko kuku terkelupas. Kelima perawatan turbin uap dengan risiko muka merah, tangan melepuh, dan tersetrum. Keenam pengoperasian pompa chemical dengan risiko gatal pada kulit. Ketujuh pengecekan abu dengan

risiko kaki melepuh. Kedelapan yaitu pengoperasian boiler dengan 3 potensi bahaya dengan risiko gangguan pendengaran, terpeleset dan kebakaran. Kesembilan pembersihan boiler dengan risiko patah tulang, cedera kaki, cedera. Data kecelakaan kerja periode 2019 - 2021 dapat dilihat pada tabel 4.2 yang mana kecelakaan yang terdapat pada tabel terbagi 3 kategori ringan, sedang, dan tinggi. Kecelakaan yang menigkat

setiap tahunnya yang mempengaruhi jalannya produksi.

Tabel 4.1 Uraian aktivitas kerja Stasiun Boiler (PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022)

No Kegiatan Bahaya (Hazard) Risiko (Risk)

1 Pengelasan Terkena percikan api Memar Mata perih dan ber air Mata Merah Gangguan pernafasan Sesak nafas 2 Pemasangan

batu Terjatuh dari ketinggian Patah tulang Debu Pembakaran ampas Sesak nafas 3 Dumping Terkena semburan api Kebakaran 4

Pemasangan

Fiber Terjepit fiber Kuku terkelupas

(55)

44

No Kegiatan Bahaya (Hazard) Risiko (Risk)

5 Perawatan turbin uap

Terkena uap panas Muka merah

terkena pipa panas

Tangan dan kaki melepuh Terkena sengatan listrik Tersetrum

6

Pengoperasian pompa

chemical Terkena bahan kimia Gatal pada kulit 7

Pengecekan abu

Terkena panas dari abu

pembakaran Kaki melepuh

8 Pembersihan boiler

Terjatuh dari ketinggian Patah tulang Tersandung di besi Cedera kaki Kejatuhan benda dari

atas Cedera

Tabel 4.2 Data Kecelakaan Kerja 2019-2021 (PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022) Tahun Kategori Aktivitas Jenis

Kecelakaan

Jumlah Kecelakaan

Kerugian Jam Hari

2019

Ringan Pengelasan

Kulit melepuh 1 1 -

Sesak nafas 1 1 -

Iritasi mata 1 2 -

Sedang Penggantian pipa

Kaki Terjepit

pipa 1

24 1

Berat Dumping kebakaran 1 168 7

Terkena api 1 72 3

Total 6 268 11

2020

Ringan Pengelasan

Kulit melepuh 2 24 1

Sesak nafas 2 2 -

Iritasi mata 1 1 -

Sedang Pembersihan Boiler

Patah Tulang 2 120 5

Kuku

terkelupas 2

24 1

Tinggi Dumping Kebakaran 1 168 7

Tersetrum 2 48 2

Total 12 387 15

2021 Ringan Pengelasan Kulit melepuh 2 24 1

(56)

45 Tahun Kategori Aktivitas Jenis

Kecelakaan

Jumlah Kecelakaan

Kerugian Jam Hari

Sesak nafas 3 2 -

Iritasi mata 3 1 -

Sedang Pembersihan Boiler

Patah Tulang 1 120 5

Kuku

terkelupas 2

24 1

Tinggi Dumping Kebakaran 1 120 5

Tersetrum 1 48 2

Total 13 339 13

Adapun beberapa kegiatan yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

a. Aktivitas Pengelasan

Aktifitas pengelasan merupakan aktivitas yang sangat penting di bagian boiler yang dapat dilihat pada gambar 4.1 pekerja bekerja di tempat yang banyak buangan abu yang menimbulkan gangguan pernafasan, pelatakan alat las yang cenderung ke bawah menimbulkan percikan api yang membuat kulit melepuh, serta cahaya las yang membuat mata berair.

(57)

46

Gambar 4.1 Pengelasan (PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022) b. Aktivitas Pemasangan batu

Pemasangan batu pada boiler merupakan dinding dapur yang akan digunakan pada saat pembakaran dapur boiler yang dapat menimbulkan bayaha seperti, terjatuh dari ketinggian dan sesak nafas akibat abu dan debu. Aktivitas tersebut dapat dilihat pada gambar 4.2

Gambar 4.2 Pemasangan Batu(PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022)

(58)

47 c. Aktivitas Dumping

Kegiatan dumping merupakan kegiatan membuang abu dalam dapur boiler yang berpotensi bahaya kebakaran. Aktivitas dumping dapat dilihat pada gambar 4.3.

Gambar 4.3 Dumping (PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022) d. Pembersihan Boiler

Pembersihan boiler dilakukan setiap hari pada saat giling untuk karena uap panas dan hasil pembakaran dapur membuat boiler kotor dan bangunannya harus diperkuat, dengan pembersihan dapat membuat pekerja lebih aman. Bahaya yang bias timbul saat pembersihn ialah terjatuh dari ketinggian, tersandung besi bekas las, serta kejatuhan benda dari atas. Tempat tumpuan yang tidak kuat serta banyaknya lubang akibat kerusakan yang menimbulkan

(59)

48

risiko kecelakaan. Pembersihan boiler dapat dilihat pada gambar 4.4.

Gambar 4.4 Pembersihan Boiler

(PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022) 2. Pengolahan Data

a. Identifikasi Bahaya

Identifikasi bahaya adalah upaya untuk mengetahui adanya bahaya dalam sebuah perusahaan. Setiap tempat kerja memiliki bahaya tersendiri. Pada tabel 4.3 dapat melihat 9 kegiatan yang terjadi di stasiun boiler dengan potensi bahaya yang terjadi di setiap kegiatan tersebut. Bahaya dari pada stasiun boiler ini merupakan sebuah kejadian yang sudah pasti terjadi yang menimbulkan risiko yang menyebabkan pekerja mengalami luka, cacat atau bahkan kematian.

Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahaya serta risiko yang ditimbulkan dari

(60)

49

bahaya tersebut. Gambaran stasiun boiler dapat dilihat pada gambar 4.1 dengan potensi bahaya yang dapat terjadi pada stasiun kerja

boiler.

Tabel 4.3 Identifikasi Bahaya (PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022) No Kegiatan Bahaya (Hazard) Risiko (Risk)

1 Pengelasan

Terkena percikan api Memar Mata perih dan ber air Mata Merah Gangguan pernafasan Sesak nafas

2 Pemasangan

batu Terjatuh dari ketinggian Patah tulang 3 Dumping Terkena semburan api Kebakaran 4

Pemasangan

Fiber Terjepit fiber Kuku terkelupas

5 Perawatan turbin uap

Terkena uap panas Muka merah terkena pipa panas

Tangan dan kaki melepuh Terkena sengatan listrik Tersetrum 6

Pengoperasian pompa chemical

Terkena bahan kimia

(Aquatrol) Gatal pada kulit

7 Pengecekan abu

Terkena panas dari abu

pembakaran Kaki melepuh

8 Pengoperasian boiler

Suara mesin keras

Gangguan pendengaran Lantai boiler licin Terpeleset

Dapur bioler meledak Kebakaran

9 Pembersihan boiler

Terjatuh dari ketinggian Patah tulang Tersandung di besi Cedera kaki Kejatuhan besi Cedera

(61)

50

Gambar 4.5 Stasiun Boiler (PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022) Terkena bahan kimia

Terkena uap panas

Tersandung besi Terkena fiber

Sesak nafas

Terjatuh dari ketinggian

Terkena jatuhan besi Terkena pipa panas

Terkena percikan api Terkena semburan api

Mata perih

(62)

51 b. Penilaian Risiko

Penilaian risiko dilakukan dengan melihat standar yang telah ada sehingga perhitungan nilai dapat dilihat pada table 4.3. Tabel L adalah skala likelihood ukuran kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja mulai dari level 1-5, yaitu dari jarang sekali terjadi – hampir pasti terjadi. Tabel S adalah saverity ukuran keparahan dari kecelakaan mulai dari level 1-5, yaitu dari tidak signifikan – bencana. Tabel risk rating adalah tabel pemberian nilai setiap kategori bahaya dengan mengalikan likelihood dengan saverity setelah dikalikan dapat menentukan level risiko yang akan diberikan di mana, ada 4 level risiko yaitu low, medium, high, dan extrem.

Tabel 4.4 Penilaian Risiko Aktivitas Bagian Boiler (PTPN XIV Pabrik Gula Camming 2022)

No Kegiatan Bahaya

(Hazard) Risiko (Risk) L S Risk

rating Risk level

1 Pengelasan

Terkena

percikan api Memar 5 2 10 Sedang Mata perih

dan ber air Mata Merah 5 2 10 Sedang Gangguan

pernafasan Sesak nafas 5 2 10 Sedang

2 Pemasangan batu

Terjatuh dari ketinggian

Patah tulang 3 4 12 Tinggi

Referensi

Dokumen terkait

Persiapan yang harus di siapkan sekolah dalam kondisi pandemi seperti ini antara lain adalah sarana prasarana, seperti platform dan dan juga tool yang dipakai

Sekitar 50% dari jenis kayu yang diuji dapat dinyatakan sangat tahan dan tahan terhadap organisme perusak tersebut, sedangkan yang lain berkisar antara yang mempunyai

Dari latar belakang yang diutarakan diatas maka penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui implementasi strategi pembelajaran metakognitif dalam meningkatkan

Hausman statistics ini mengikuti distribusi Chi square dengan k degree of freedom dimana k tersebut besarnya sama dengan jumlah koefisien slope hasil estimasi. Dengan

Setelah Presiden Hosni Mubarak jatuh, militer Mesir menghadapi tantangan serius bagaimana mereka menstranformasikan diri menjadi organisasi militer yang profesional dan

Hasanah, kemudian sekolah dasar SDN Angkasa I, selanjutnya sekolah menengah pertama SMP Al-Ma’soem, hingga sekolah menengah atas SMAN 17 Bandung. Terima kasih Bapak dan

Zero waste dalam produksi fasyen ini yang terinspirasi dari pembuatan kimono Jepang, dalam industri fesyen menjadi salah satu teknik yang dapat dikembangkan

Inset (overview map), indeks dan petunjuk letak, peta yang dibaca harus diketahui dari bagian bumi sebelah mana area yang dipetakan tersebut. Inset peta merupakan