• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PERLINDUNGAN HUKUM PADA KONSUMEN SELAKU

A. Pengertian Konsumen Secara Umum

Sebagai suatu konsep, “konsumen” telah diperkenalkan beberapa puluh tahun lalu diberbagai negara dan sampai saat ini sudah puluhan negara memiliki undang-undang atau peraturan khusus yang memberikan perlindungan kepada konsumen termasuk penyediaan sarana peradilannya.Sejalan dengan perkembangan itu, berbagai negara telah pula menetapkan hak-hak konsumen yang digunakan sebagai landasan pengaturan perlindungan konsumen.Disamping itu, telah pula berdiri organisasi konsumen Internasional, yaitu International Organization of Consumer Union(IOCU). Di Indonesia telah pula berdiri berbagai organisasi konsumen seperti Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta, dan organisasi konsumen lain di Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan sebagainya.56

Konsumen adalah setiap orang pemakai barangdan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.57

56Celina Tri Siwi Kristiyanti, Hukum Perlindungan Konsumen Jakarta, Sinar Grafika, 2016 hal. 22

57Indonesia Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 1angka 2.

Bagi para ahli hukum pada umumnya sepakat bahwa arti konsumen adalah, pemakai terakhir dari benda dan jasa yang diserahkan kepada mereka olehpengusaha.Dalam buku A.Z. Nasution yang berjudul aspek-aspek hukum masalahperlindungan konsumen, istilah konsumen berasal dari bahasa consumer (InggrisAmerika)atau consument

(Belanda).Secara harfiah arti kata consumer adalah lawan dari produsen, setiap orang yang menggunakan barang.58

Pengertian konsumen dalam arti umum adalah pemakai, pengguna barang dan/atau jasa untuk tujuan tertentu.59Perancis berdasarkan doktrin dan yurisprudensi yang berkembang mengartikan konsumen sebagai “the person who obtains goods or services forpersonal or family purposes”.Dari definisi diatas terkandung dua unsur, yaitu (1)konsumen hanya orang dan (2) barang atau jasa yang digunakan untuk keperluanpribadi atau keluarganya.60

Konsumen pada umumnya diartikan sebagai pemakai terakhir dari produk yang diserahkan kepada mereka oleh pengusaha, yaitu setiap orang yang mendapatkan barang untuk dipakai dan tidak untuk diperdagangkan atau diperjual belikan lagi.61

Berdasarkan pengertian konsumen diatas, maka dapat dikemukakan unsur-unsur definisi konsumen :

Istilah konsumen juga dapat kita temukan dalam peraturan perundangundangan Indonesia. Secara yuridis formal pengertian konsumen dimuat dalam Pasal 1 angka 2 UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, “konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/ atau jasa yang tersedia dalammasyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupunmakhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”.

62

58A.Z. Nasution, Hukum Perlindungan Konsumen, (Jakarta: Diadit Media 2002, hal. 3

59Ibid. hal.6

60 Shidarta, Hukum Perlindungan Konsumen Indonesia edisi Revisi Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 2006, hal. 3

61 Janus Sidabalok, Hukum Perlindungan Konsumen di Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010, hal. 17

62 Az. Nasution, Op.Cit., hal. 13.

a. Setiap orang

Subjek yang disebut sebagai konsumen berarti setiap orang yangberstatus sebagai pemakai barang dan/ atau jasa.Istilah ”orang” disinitidak dibedakan apakah orang individual yang lazim disebut natuurlijkepersoonatau termasuk juga badan hukum (rechtspersoon). Oleh karenaitu, yang paling tepat adalah tidak membatasi pengertian konsumensebatas pada orang perseorangan, tetapi konsumen harus mencakupjuga badan usaha dengan makna lebih luas daripada badan hukum.

b. Pemakai

Kata “pemakai” dalam bunyi Penjelasan Pasal 1 angka (2) UUPerlindungan Konsumen diartikan sebagai konsumen akhir (ultimateconsumer).

c. Barang dan / atau jasa

Undang-Undang Perlindungan Konsumen mengartikan barang sebagai sebagaibenda, baik berwujud maupun tidak berwujud, bergerak maupun tidakbergerak, benda yang dapat dihabiskan maupun yang tidak dapatdihabiskan, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, ataudimanfaatkan oleh konsumen.Sementara itu, jasa diartikan sebagaisetiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakanbagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.

d. Yang tersedia dalam masyarakat

Barang/ jasa yang ditawarkan kepada masyarakat sudah harus tersediadi pasaran.Namun, di era perdagangan sekarang ini, syarat mutlak itutidak lagi dituntut oleh masyarakat konsumen.Misalnya, perusahaanpengembang (developer) perumahan telah biasa mengadakan transaksikonsumen tertentu seperti futures tradingdimana keberadaan barangyang diperjualbelikan bukan sesuatu yang diutamakan.

e. Bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, makhluk hidup lainTransaksi konsumen ditujukan untuk kepentingan diri sendiri, keluarga,orang lain, dan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan.

f. Barang dan/ atau jasa itu tidak untuk diperdagangkan.

Para konsumen merupakan golongan yang rentan dieksploitasi oleh pelaku usaha,karena itu, diperlukan seperangkat aturan hukumuntuk melindungi konsumen.Konsumen adalah “pengguna akhir”(end user) dari suatu produk, yaitu setiap pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun mahkluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.63

Produsen atau pelaku usaha adalah setiap perorangan atau badan usaha yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara Republik Indonesia, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai kegiatan ekonomi.

63 Munir Fuady, Pengantar Hukum Bisnis, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2016, hal 227

Tentang perlindungan konsumen ini diatur oleh seperangkat aturan hukum dibidang perlindungan konsumen.64

a. Untuk mendapatkan keadilan.

Asas dari perlindungan konsumen adalah sebagai berikut:

b. Untuk mencapai asas manfaat.

c. Untuk mendapatkan keamanan dan keselamatan konsumen.

d. Untuk mendapatkan kepastian umum.

Tujuan dari perlindungan konsumen adalah sebagai berikut:65

1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk melindungi diri.

2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan caramenghindarkannya dari akses negatifpemakaian barang dan atau jasa.

3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.

4. Menciptakan system perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi.

5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam berusaha.

64Ibid.

65Ibid.

6. Meningkatkan kualitas barang dan atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha produksi barang dan atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan keselamatan.

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 memiliki ketentuan yang menyatakan bahwa kesemua undang-undang yang ada dan berkaitan dengan perlindungan konsumen tetap berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau telah diatur khusus oleh undang-undang. Oleh karena itu, tidak dapat lain haruslah dipelajari juga peraturan perundang-undangan tentang konsumen dan/atau perlindungan konsumen ini dalam kaidah-kaidahhukumperaturan perundang-undangan umum yang mungkin atau dapat mengatur dan/atau melindungi hubungan dan/atau masalah konsumen dengan penyedia barang atau jasa. Sebagai akibat dari penggunaan peraturan perundang-undangan umum ini, dengan sendirinya berlaku pulalah asas-asas hukum yang terkandun g didalamnya pada berbagai pengaturan dan/atau perlindungan konsumen tersebut. Padahal, nanti akan nyata, diantara asas hukum tersebut tidak cocok untuk memenuhi fungsi pengaturan dan/atau perlindungan pada konsumen, tanpa setidak-tidaknya dilengkapi/diadakan pembatasan berlakunya asas-asas hukum tertentu itu.

Pembatasan dimaksudkan dengan tujuan “menyeimbangkan kedudukan” diantara para pihak pelaku usaha dan/atau konsumen bersangkutan.66

Peraturan perundangan-perundangan umum adalah semua peraturan perundangan tertulis yang diterbitkan oleh badan-badan yang berwenang untuk itu, baik dipusat maupun didaerah-daerah.Peraturan perundang-undangan diantara

66Ibid. hal. 47

lain adalah (dipusat) Undang-Undang DasarNegara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Peraturan Presiden, dan seterusnya, dan (didaerah-daerah) Peraturan Daerah (Peraturan Daerah Provinsi atau Kabupaten/Kota serta peraturan Desa dan sebagainya). Purnadi dalam bukunya menyebut perundang-undangan umum ini sebagai undang-undang dalam arti materiil.67

Az. Nasution menjelaskan konsekuensi dari upaya menyusun rancangan undang-undang tentang perlindungan konsumen yang sekarang sudah diberlakukan dapat disebut sebagai membangun tata hukum konsumen secara tersendiri yang berada dalam Sistem Hukum Indonesia.Sungguh ini pekerjaan yang bukan sederhana sebagai contoh dapat dikemukakan sebagai berikut.68

1. apabila dikaji peraturan yang berkaitan dengan masalah standar, seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan berbagai Menteri lain, dapat dikatakan bahwa standar yang ditetapkan itu selain dimaksud untuk memberi perlindungan kepada konsumen juga melindungi konsumen yang berstatus pengusaha, ataupun masyarakat umum lainnya. Demikian pula pengaturan mengenai ukuran, timbangan, takaran atau ketentuan mengenai abel, ketentuan daluwarsam dan sebagainya.69

2. Ketentuan dalam hukum pidana yang berkaitan dengan penipuan, pemalsuan, penjualan barang dapat membahayakan jiwa manusia (Pasal 383, 263, 202, 382, 383). Ketentuan ini termasuk sebagai delik pidana, yaitu perbuatan yang

67Ibid. hal. 48

68Ibid.

69Ibid.

bersifat melawan hukum yang dilarang dan diancam dengan pidana.

Ketentuan ini termasuk pula melindungi konsumen, namun juga melindungi masyarakat pada umumnya.

3. ketentuandalam hukum perdata yang berkaitan dengan perikatan (Pasal 1233, 1234, 1313, 1351) mengatur hubungan perjanjian para pihak baik yang berstatus konsumen maupun status pengusaha sebagai produsen barang atau jasa.

4. Ketentuan tentang bidang peradilan, Undang-Undang No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman mengatur mengenai peradilan umum yang disebut PengadilanNegeri. Pengadilan ini selanjutnya merupakan lembaga peradilan yang mengadili perkara pidana dan perdata yang bagi perkara yang menyangkut masyarakat umum termasuk konsumen.

B. Hak dan Kewajiban Konsumen Selaku Pengguna Jasa Angkutan Udara

Dokumen terkait