BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Pengertian Masyarakat Pesisir
Masyarakat adalah sekelompok manusia yang saling berinteraksi dan berhubungan serta memiliki nilai-nilai dan kepercayaan yang kuat untuk mencapai tujuan dalam hidupnya. Pesisir adalah sebuah desa pantai yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan.
Masyarakat dapat diartikan dalam dua konsep, yaitu (Mayo, dalam Suharto, 2005: 39).
1. Masyarakat sebagai sebuah tempat bersama, yakni sebuah wilayah geografi yang sama.
2. Masyarakat sebagai kepentingan bersama, yakni kesamaan berdasarkan budaya dan identitas.
Pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut. ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin. Sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor:
KEP.101/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan
Pesisir Terpadu, Wilayah Pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan propinsi) untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota.
Berdasarkan aspek geografis, masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan pesisir.
Masyarakat ini bergantung hidup dengan megelola sumber daya alam yang tersedia di lingkungannya yaitu kawasan perairan dan pulau-pulau kecil.
Secara umum sumber ekonomi mereka ialah sumber daya perikanan (tangkap dan budidaya) menjadi sumber daya yang sangat penting dan sumber daya ini menjadi penggerak dinamika ekonomi lokal di desa-desa pesisiran (Nano, 2008).
Masyarakat nelayan merupakan pelaku utama yang ikut serta menentukan dinamika ekonomi lokal. Kondisi masyarakat nelayan kini, merupakan hasil dari kebijakan pembangunan di sektor perikanan yang di sebut “modernisasi perikanan” sejak awal 1970-an. Kebijakan yang bertumpu pada orientasi produktivitas ini telah melahirkan berbagai perubahan yang sangat penting di bidang sosial, ekonomi dan ekologi di masyarakat pesisir. Seiring dengan pertumbuhan produktivitas tangkapan dan budi daya perairan, masalah-masalah sosial dan lingkungan pun bermunculan dan belum bisa terselesaikan secara tuntas hingga kini (Arief, 2007).
Pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir yang mengelola adalah semua orang dengan objek segala sesuatu yang ada di wilayah pesisir.
Contoh pengelolaan wilayah pesisir adalah : pengelolaan perikanan, pengelolaan hutan pantai, pendidikan dan kesehatan. Yang paling utama dari konsep pengelolaan wilayah pesisir adalah fokus pada karakteristik wilayah dari pesisir itu sendiri, dimana inti dari konsep pengelolaan wilayah pesisir adalah kombinasi dari pembangunan adaptif, terintegrasi, lingkungan, ekonomi dan sistem sosial. (Belda, 2011).
2.3.1. Karakteristik Masyarakat Pesisir
Masyarakat pesisir adalah sekumpulan masyarakat yang hidup bersama-sama mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki kebudayaan yang khas yang terkait dengan ketergantungannya pada pemanfaatan sumber daya pesisir (Satria, 2002). Tentu masyarakat pesisir tidak saja nelayan, melainkan juga. pembudidaya ikan, pengolah ikan bahkan pedagang ikan.
2.3.2. Ciri Khas Wilayah Pesisir
Ditinjau dari aspek biofisik wilayah, ruang pesisir dan laut serta sumber daya yang terkandung di dalamnya bersifat khas sehingga adanya intervensi manusia pada wilayah tersebut dapat mengakibatkan perubahan yang signifikan, seperti bentang alam yang sulit diubah, proses pertemuan air tawar dan air laut yang menghasilkan beberapa ekosistem khas dan lain-lain.
Ditinjau dari aspek kepemilikan, wilayah pesisir dan laut serta sumberdaya yang terkandung di dalamnya sering memiliki sifat terbuka (open access).
2.3.3. Kehidupan Masyarakat Pesisir.
Masyarakat pesisir adalah masyarakat yang tinggal dan hidup di wilayah pesisiran. Wilayah ini adalah wilayah transisi yang menandai tempat perpindahan antara wilayah daratan dan laut atau sebaliknya di wilayah ini, sebahagian besar masyarakatnya hidup dari mengelola sumber daya pesisir dan laut, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh itu, dari perspektif mata pencariannya, masyarakat pesisir tersusun dari kelompok-kelompok masyarakat yang beragam seperti nelayan, petambak, pedagang ikan, pemilik toko, serta pelaku industri kecil dan menengah pengolahan hasil tangkap.
Pekerjaan nelayan menangkap ikan dilaut sangat tergantung pada sarana kapal motor dan perahu yang digunakan, dan sangat dipengaruhi oleh kondisi alam (musim, angin, ombak dilaut). Sarana angkutan penangkap ikan kapal motor dan perahu umumnya berukuran kecil, wilayah tangkapan ikan tidak jauh dari pantai, ikan yang ditangkap umumnya berukuran kecil, harga jualnya relative murah, penghasilan nelayan yang diterima setiap harinya relatif rendah, umumnya tidak mempunyai pekerjaan sampingan, tingkat kesejahteraan hidupnya para nelayan sangat rendah.
Menurut hasil penelitian, menyatakan bahwa tingkat kesejahteraan hidup nelayan sebagai salah satu kelompok masyarakat berada pada tingkat yang paling rendah, dapat dikatekorikan sebagai penduduk miskin.
Tingkat pendidikan masyarakat pesisir umumnya adalah rendah, jarang sekali yang meneruskan sampai jenjang pendidikan menengah atas,
apalagi sampai tingkat perguruan tinggi, Kesehatan juga rendah, pelayanan kesehatan masyarakat (puskesmas dan posyandu) belum banyak menjangkau masyarakat pantai yang jauh letaknya dari daerah perkotaan. Nelayan yang membutuhkan modal infestasi dan modal kerja (usaha) mengalami kesulitan, karena kesulitan memperoleh akses kepada Bank karena tidak memiliki agunan (jaminan) yang cukup dalam permohonan kredit bank.
Hanya sedikit sakali masyarakat pesisir yang tergolong relative kaya (pendapatan relative tinggi), yaitu para juragan pemilik kapal motor dan perahu besar, para pedagang tengkulak, para pedagang pengumpul, para pengijon, dan rentenir.
Kondisi masyarakat pesisir atau masyarakat nelayan diberbagai kawasan pada umumnya ditandai oleh adanya beberapa ciri, seperti kemiskinan, keterbelakangan sosial-budaya, rendahnya sumber daya manusia (SDM) karena sebagian besar penduduknya hanya lulus sekolah dasar atau belum tamat sekolah dasar, dan lemahnya fungsi dari keberadaan Kelompok Usaha (Kusnadi, 2003)
Pendekatan pendidikan masyarakat nelayan perlu mempertimbangkan aspek-aspek sosial ekonomi rumah tangga nelayan untuk lebih memfokuskan sasaran target pelayanan pendidikan kepada mayoritas rumah tangga nelayan yang miskin. Selanjutnya intervensi pendidikan untuk nelayan harus memberikan prioritas kepada anak laki-laki usia 13 tahun ke atas
Dalam membangun SDM (Sumber Daya Manusia) masyarakat nelayan, maka aspek demografi hendaknya diperhatikan. Tingginya angka
kelahiran (fertilitas) memerlukan program untuk mengendalikannya.
Pengendalian kelahiran pada masyarakat nelayan memang sangat mendesak agar dalam jangka panjang besarnya anggota rumah tangga nelayan dapat dikendalikan secara berangsur-angsur. (Kusnadi, 2003)
Kehidupan para nelayan adalah miskin dan serba susah, namun para nelayan memiliki ketabahan dalam menghadapi kehidupannya yang serba terbatas. Karena ketabahan tersebut, ternyata mereka mampu tetap eksis dalam melanjutkan kehidupannya, mengarungi perairan/laut untuk melakukan kegiatannya menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduk perkotaan yang jauh letaknya dan berkehidupan lebih makmur.
Semangat hidup dan ketabahan hidup yang kuat, semangat kegotong royongan yang dimiliki sejak dulu, partisipasi dan pemberdayaan masyarakat yang tinggi, merupakan modal dasar yang kokoh dalam menghadapi dan melanjutkan kehidupan yang semakin berat.