BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Landasan Teori
2.2.3 Pengertian Modal Kerja
Ada tiga konsep modal kerja atau definisi modal kerja yang dipergunakan, yaitu:
1. Konsep Kuantitatif
Konsep ini menitik beratkan pada kwantum yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai operasinya yang bersifat rutin, atau
yang menunjukkan jumlah dana (fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktifa lancar (Gross Working Capital).
2. Konsep Kualitatif
Konsep ini menitik beratkan pada kualitas modal kerja, dalam konsep ini pengertian modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang jangka pendek (Net Working Capital ), yaitu jumlah aktiva lancar yang berasal dari pinjaman jangka panjang maupun dari para pemilik perusahaan.
3. Konsep Fungsional
Konsep ini menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan dari usaha pokok perusahaan. Pada dasarnya dana-dana yang dimiliki oleh suatu perusahaan seluruhnya akan digunakan untuk menghasilkan laba sesuai dengan usaha pokok perusahaan, tetapi tidak semua dana digunakan untuk menghasilkan laba periode ini, ada sebagian dana yang digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba dimasa yang akan datang. (Munawir,2000:116)
Menurut W. B. Taylor dalam Riyanto (1997:52-53) Modal kerja dapat di golongkan menjadi beberapa jenis, yaitu:
a. Modal Kerja Permanen ( Permanent Working Capital ) Yaitu modal kerja minimal yang harus tetap ada dalam perusahaan untuk dapat menjalankan operasinya atau sejumlah modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Modal kerja ini dibedakan menjadi:
Modal kerja primer (Primary Working Capital ) Yaitu, jumlah modal kerja minimum yang harus ada untuk menjamin kontinuitas perusahaan dalam menjalankan usahanya
Modal Kerja Normal (Normal Working Capital) Yaitu modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi normal.
b. Modal Kerja Variabel ( Variable Working Capital) Modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan.
Modal kerja ini dibedakan menjadi:
Modal kerja musiman (Seasonal Working Capital) Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah karena fluktuasi musim
Modal Kerja Siklus (Cyclical Working Capital )
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah karena fluktuasi konjungtur
Modal Kerja Darurat (Emergency WorkingCapital) Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya.
2.2.4 Manajemen Modal Kerja
2.2.4.1Unsur- Unsur Modal Kerja
Sesuai dengan konsep modal kerja yang kita bahas yaitu konsep kuantitatif maka modal kerja sama dengan aktiva lancar. Jadi unsur- unsur modal kerja meliputi:
a. Kas
Kas diperlukan oleh setiap perusahaan yang sedang menjalankan operasinya dan juga dibutuhkan untuk investasi dalam aktiva tetap. Menurut Munawir (2002:14) mengemukakan definisi dari kas yaitu uang tunai yang dapat digunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan. Dengan demikian kas yang cukup harus disediakan oleh perusahaan agar tidak mengalami kesulitan dalam menjaga kontinuitas
usahanya dan kas yang cukup juga perlu untuk menilai likuiditas suatu perusahaan.
b. Piutang
Menurut Munawir (2002:15) piutang adalah tagihan kepada pihak lain (kepada pihak kreditur atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagangan secara kredit. Piutang merupakan unsur yang paling penting dalam neraca sebagian besar perusahaan. Prosedur yang wajar dan cara pengamanan yang cukup terhadap piutang bukan saja untuk keberhasilan perusahaan tetapi juga untuk memelihara hubungan yang memuaskan dengan para pelanggan.
c. Persediaan
Persediaan adalah semua barang diperdagangkan tetapi pada tanggal neraca, barang- barang tersebut masih terdapat di gudang atau belum laku terjual, termasuk juga bahan baku. Menurut SAK (2009:14.2) persediaan adalah aktiva yang:
Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies
untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa).
Perusahaan industri umumnya mengenal tiga jenis persediaan, yaitu persediaan bahan baku, barang dalam proses produksi, dan persediaan barang jadi. Sedangkan perusahaan perdagangan hanya mengenal satu jenis persediaan yang mempunyai sifat perputaran yang sama dan tidak mengalami proses yang lebih lanjut yang mengakibatkan pada perubahan bentuk, yang dikenal dengan Merchandise Inventory (persediaan barang dagang).
2.2.4.2Manfaat Modal Kerja
Modal kerja sebaiknya tersedia dalam jumlah yang cukup agar memungkinkan perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan tidak mengalami kesulitan keuangan, misalnya dapat menutup kerugian- kerugian dan dapat mengatasi keadaan krisis atau darurat tanpa membahayakan keadaan keuangan perusahaan.
Menurut Djarwanto (2004:89), manfaat lain dari tersedianya modal kerja yang cukup adalah:
1. Melindungi perusahaan dari akibat buruk berupa turunya nilai aktiva lancar, misalnya nilai persediaan yang menurun karena harganya merosot.
2. Memungkinkan perusahaan untuk melunasi semua kewajiban- kewajiban jangka pendeknya tepat waktu. 3. Menjamin perusahaan untuk dapat membeli barang
dengan tunai sehingga dapat memetik keuntungan berupa potongan harga.
4. Menjamin perusahaan memiliki credit standing dan dapat mengatasi peristiwa yang tidak dapat diduga sebelumnya seperti adanya kebakaran, pencurian, dan lain sebagainya.
5. Memungkinkan perusahaan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani permintaan konsumennya.
6. Memungkinkan perusahaan untuk dapat memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para pelanggan.
7. Memungkinkan perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan dalam memperoleh bahan baku, jasa, dan supplies yang dibutuhkan.
8. Memungkinkan perusahaan untuk mampu bertahan dalam periode resesi atau depresi.
2.2.4.3Faktor- faktor yang Mempengaruhi Modal Kerja
Untuk menentukan modal kerja yang dianggap cukup bagi suatu perusahaan bukanlah hal yang mudah, karena modal kerja yang dibutuhkan suatu perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu (Djarwanto,2004:91-92):
a. Sifat atau tipe dari perusahaan
Modal kerja dari suatu perusahaan jasa berbeda dengan perusahaan industri. Perusahaan jasa tidak memerlukan investasi yang besar dalam kas, karena kebutuhan uang tunai untuk kegiatan operasinya dapat dipenuhi dari pengasilan atau penerimaan- penerimaan pada saat itu juga, sedangkan untuk perusahaan industri yang cukup besar dalam aktiva lancar agar perusahaannya tidak mengalami kesulitan dalam operasinya sehari- hari.
b. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memproleh barang dan ongkos produksi per unit atau harga beli per unit barang itu
Kebutuhan modal kerja suatu perusahaan berhubungan langsung dengan waktu yang diperlukan untuk memperoleh barang yang akan diproduksi sampai barang
tersebut dijual. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau memperoleh barang tersebut, maka semakin besar pula modal kerja yang dubutuhkan. Disamping itu, harga pokok per satuan barang juga mempengaruhi besar kecilnya modal kerja yang dibutuhkan. Semakin besar harga barang per satuan, maka semakin besar pula modal kerja yang dibutuhkan.
c. Syarat pembeli bahan atau barang dagangan
Syarat pembeli barang dagangan atau bahan dasar yang akan digunakan untuk memproduksi barang sangat mempengaruhi jumlah modal kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan yang bersangkutan. Jika syarat kredit yang diterima pada waktu pembelian menguntungkan, maka semakin sedikit uang kas yang harus diinvestasikan dalam persediaan barang dagangan , begitu juga sebaliknya bila pembayaran atas bahan atau bahan yang dibeli tersebut harus dilakukan dalam jangka waktu yang pendek, maka uang kas yang diperlukan untuk membiayai persediaan semakin besar pula.
d. Syarat penjualan
Semakin lunak kredit (jangka kredit lebih panjang) yang diberikan perusahaan kepada para pelanggan akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja
yang diinvestasikan dalam piutang dan untuk memperkecil resiko adanya piutang yang tidak dapat tertagih, maka sebaiknya perusahaan memberikan rangsangan berupa potongan tunai (cash discount) kepada para pembeli, karena dengan demikian pembeli akan tertarik untuk segera membayar hutangnya dalam periode diskonto tersebut.
e. Tingkat perputaran
Tingkat perputaran persediaan menunjukkan berapa kali persediaan tersebut diganti. Semakin tinggi tingkat perputarannya, maka jumlah modal kerja yang terinvestasikan dalam persediaan semakin rendah. Untuk dapat mencapai tingkat perputaran yang tinggi, maka harus diadakan perencanaan dan pengawasan persediaan secara teratur dan efisien, semakin cepat atau semakin tinggi tingkat perputaran akan memperkecil resiko terhadap kerugian yang disebabkan karena penurunan selera konsumen, disamping itu akan menghemat ongkos penyimpanan terhadap persediaan itu.
2.2.4.4Metode Menentukan Kebutuhan Modal Kerja
Besarnya modal kerja baik yang bersifat permanen maupun variabel perlu ditentukan dengan baik agar efektif dan efisien. Penggunaan modal kerja yang tidak
direncanakan dengan baik mengakibatkan modal kerja yang ada tidak digunakan sesuai kebijakan yang ada. Menurut Martono dan Harjito (2002:77) untuk menentukan kebutuhan modal kerja dapat digunakan dua metode,yaitu:
1. Metode keterkaitan dana
Untuk menentukan kebutuhan modal kerja dengan metode ini, ada dua faktor yang mempengaruhinya,yaitu: a. Periode terikatnya modal kerja
Merupakan waktu yang diperlukan mulai dari kas yang ditanamkan pada komponen-komponen atau elemen-elemen moda kerja sampai menjadi kas kembali. Periode ini meliputi waktu pembelian dan penyimpanan bahan, lama proses produksi, lama barang disimpan di gudang dan lama penerimaan piutang.
b. Pengeluaran kas setiap hari
Merupakan jumlah pengeluaran kas setiap hari untuk keperluan pembelian bahan baku, bahan penolong, upah karyawan dan biaya lainnya.
2. Metode perputaran modal kerja
Berdasarkan metode ini, maka besarnya kebutuhan modal kerja ditentukan oleh perputaran dan
komponen-komponen modal kerja yaitu perputaran kas, perputaran piutang, perputaran persediaan.
2.2.4.5Perputaran Modal Kerja
Menurut Riyanto (1997 : 55- 56), modal kerja selalu dalam keadaan operasi atau berputar dalam perusahaan selama perusahaan yang bersangkutan dalam keadaan usaha. Periode perputaran modal kerja (working capital turn over period) dimulai dari saat dimana kas diinvestasikan dalam komponen-komponen modal kerja sampai saat dimana kembali lagi menjadi kas.
Makin pendek periode tersebut berarti makin cepat perputarannya atau makin tinggi tingkat perputarannya (turn over rate-nya). Berapa lama periode perputaran modal kerja adalah tergantung pada berapa lama periode perputaran dari masing-masing komponen dari modal kerja tersebut. Periode perputaran barang dagangan adalah lebih pendek dari pada barang yang mengalami proses produksi.