• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH KETERLIBATAN KAUM TAREKAT DALAM GERAKAN BERNEGARA DAN NASIONALISME

A. Negara Dalam Pandangan Kaum Tarekat

1. Pengertian Negara

37

Lihat Hasan Asari, Menyingkap Zaman Keemasan Islam, (Bandung: Mizan, 1994), 91. Lihat pula Agus Riyadi, ―Tarekat Sebagai Organisasi Tasawuf (Melacak Peran Tarekat Dalam Perkembangan Dakwah Islamiyah)‖, Jurnal at-Taqaddum, Volume 6, Nomor 2, Nopember 2014 (357-385), 365. Bandingkan dengan Abu al Wafa al-Ghanimiy al-Taftazaniy, Sufi dari Zaman ke

Zaman, ter. Ahmad Rofi‟i „Utsman, (Bandung: Pustaka, 1985), h. 235.

38

Dewan Redaksi Eksiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), 17. Lihat pula Sahri, ―Dimensi Politik dalam Ajaran Ajaran Tasawuf (Studi Kasus atas Manaqib Syaikh ‗Abd al-Qadir al-Jailani)‖ Asy-Syir‟ah Jurnal Ilmu Syari‟ah dan Hukum, Vol. 45 No. II, Juli-Desember 2011 (1523-1540), h. 1531.

39

24

Pandangan umum yang berkembang menempatkan tarekat pada posisi yang jauh dari dunia politik dan masalah kenegaraan. Pandangan seperti ini dikarenakan kecenderungan para sufi pengikut tarekat yang lebih mengutamakan pembersihan diri dan jiwanya dengan meninggalkan urusan dunia. Namun demikian, perlu kiranya mengetahui pandangan kaum tarekat tentang negara guna mengetahui bagaimana peran mereka dalam politik dan bernegara.

Meminjam klasifikasi strategi politik yang dibuat Imam Suprayogo, terdapat tiga tipologi pandangan politik dalam menghadapi kekuasaan. Pertama, struggle from within. Kelompok ini melakukan interaksi yang aktif dengan pemerintah. Kelompok tarekat ini bersedia menyesuaikan diri dengan pemerintah yang berkuasa. Kedua, struggle from without. Kelompok ini lebih cenderung membuat jarak dengan kekuatan dominan atau pemerintah. Kelompok tarekat ini tidak segan-segan mengambil sikap yang berbeda dengan pemerintah. Ketiga, kelompok kooperatif kondisional. Kelompok ini hanya melakukan komunikasi terbatas dengan pemerintah guna mendapatkan manfaat terkait pengembangan tarekatnya.40

Tipologi pertama, yaitu struggle from within sebagai kelompok yang berinteraksi aktif dengan pemerintah misalnya dapat dilihat dari sikap politik tarekat Naqsabandiyah. Hal ini dapat dilihat dari tarekat Naqsyabandiyah yang lebih cenderung mendekati kekuasaan. Tarekat yang memiliki cabang hampir di semua negara Islam ini banyak mencari pengikut dari kalangan elite politik.41 Sebagai tarekat yang paling besar pengikutnya, banyak Syekh tarekat Naqsyabandiyah menjalin hubungan baik dengan pemerintah. Dengan demikian wajar apabila banyak Syekh tarekat ini memiliki pengaruh kuat di kalangan elite politik.

40

Imam Suprayogo, Kyai dan Politik: Membaca Citra Politik Kyai, (Malang: UIN Malang Press, 2007), h. 119-121.

41 Lihathttp://www.republika.co.id/berita/koran/islam-digest-koran/15/11/22/ny7qpt1-peran-tarekat-lintas-benua Diakses 13 Desember 2016 pkl. 13.12 WIB.

25

Kedekatan tarekat Naqsyabandiyah dengan pemerintah misalnya dapat dilihat dari cerita Syekh ‗Ubaidillah Ahrar, khalifah kedua dari pendiri tarekat Baha‘uddin Naqsaband. Ia adalah seorang Syekh yang kaya raya dan mempunyai pengaruh besar di istana dinasti Timurid (Afghanistan sekarang). Syekh ‗Ubaidillah Ahrar mempunyai banyak murid yang berasal dari semua lapisan masyarakat. Hal ini tentunya memperkokoh bobot politik kelompok tarekat Naqsabandiyah. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh kaum tarekat untuk mendukung salah satu calon pengganti sultan atau penguasa ketika terjadi pergantian kekuasaan. Dukungan kelompok tarekat Naqsyabandiyah tersebut akhirnya dapat mengantarkan Abu Sa‘id menjadi raja. Syekh tarekat tersebut kemudian sebagi guru, penasehat sekaligus pelindung spiritual raja Abu Sa`id yang kemudian digantinya dengan raja `Abd al-Lathif.42 Kekuatan yang dimiliki tarekat ini kemudian juga dimanfaatkan untuk melakukan islamisasi pemerintahan dan mengubah beberapa aturan adat yang berlaku agar sesuai dengan syariat Islam.43

Tarekat Naqsyabandiah juga menyebar ke Asia Barat (Turki Usmani) dan Asia Selatan (India Moghul). Melihat kedekatan tersebut maka dapat diketahui bahwasanya banyak Syekh tarekat Naqsyabandiyah yang mempunyai pengaruh kuat di kalangan elite penguasa. Sebagian dari Syekh tarekat ini bahkan menjadi sultan atau penguasa. Sultan Bayezid II yang memerintah pada akhir abad ke-15 di Turki misalnya, terkenal sebagai salah satu penguasa yang sangat akrab dengan beberapa guru tarekat. Sultan Aurangzeb yang memerintah di India pada pertengahan abad ke-17 juga mendapat pengaruh dari beberapa Syekh tarekat Naqsyabandiyah. Para guru atau Syekh tarekat yang dekat dengan penguasa ini kemudian mempunyai andil besar dalam merubah sistem kehidupan beragama di bawah sultan yang sedang berkuasa. Salah satu surat yang ditulis Syekh Muhammad Ma`sum kepada Sultan

42

Jo-Ann Gross, "Multiple Roles and Perceptions of a Sufi Shaikh", dalam: Marc Gaborieau dkk. (ed), Naqshbandis: Historical Developments and Present Situation of a Muslim Mystical

Order (Istanbul & Paris: Isis, 1990), h. 109-121.

43Martin Van Bruinessen, ―Tarekat dan Politik:Amalan untuk Dunia atau Akherat?‖Majalah Pesantren vol. IX no. 1 (1992), h. 3-14.

26

Aurangzeb misalnya berisikan anjuran untuk menunaikan jihad dalam dua bentuk, yaitu perang melawan orang kafir dan perang melawan hawa nafsu.44

Pendekatan yang mirip juga terjadi ketika Tarekat Naqsyabandiyah masuk ke Indonesia sekitar tahun 1850, Syekh Isma`il Minangkabawi kembali ke Indonesia setelah menjadi khalifah Naqsyabandiah di Makkah. Ia kemudian menjadi guru dan penasehat raja muda Riau (Yang Dipertuan Muda) Raja Ali. Kedekatan para syekh tarekat di Riau dengan penguasa terus berlanjut hingga Raja Abdullah dan Raja Muhammad Yusuf memerintah. Bahkan dikisahkan bahwa Raja Muhammad Yusuf memperkuat legitimasinya sebagai penguasa dengan pergi ke Makkah untuk meminta ijazah khalifah Naqsyabandiyah dari Syekh Muhammad Sâlih al-Zawâwî.45

Pendekatan yang dilakukan oleh para syekh atau guru tarekat terhadap sultan dan penguasa sangat bermanfaat bagi mereka dan perkembangan tarekat yang mereka pimpin. Keberadaan tarekat yang mendapatkan legitimasi dari penguasa akan mampu berkembang dengan pesat. Selain itu, kedekatan para syekh tarekat akan mampu mewarnai dan mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Sebagai contoh kedekatan tarekat dengan penguasa di Riau, Pontianak, Langkat dan beberapa daerah lain. Beberapa daerah tersebut menjadi tempat dimana syariah diindahkan karena pengaruh dari tarekat.46 Adapun peran syekh atau guru tarekat di dalam istana sangat bervariasi. Peran seorang syekh di istana sangat ditentukan oleh kedekatan syekh tersebut dengan penguasa. Seorang syekh bisa menjadi guru agama di istana hingga menjadi ―jimat hidup‖.

Walaupun kedekatan tarekat dengan penguasa sama-sama menguntungkan bagi keduanya, namun tidak semua pihak memandang positif akan akan hal tersebut. Beberapa pihak memandangnya sebagai hal yang kurang baik, utamanya bagi guru atau syekh dan kelompok tarekat. Terdapat ungkapan dengan nada sinis yang dilontarkan kepada pemimpin tarekat yang dekat dengan penguasa. Terkait

44Hamid Algar, "Political Aspects of Naqshbandi History", dalam Gaborieau dkk. (ed), Naqshbandis, h. 123-52.

45Martin Van Bruinessen, ―Tarekat dan Politik..., h. 3-14. 46

27

keberhasilan Syekh Isma`il Minangkabawi di Riau misalnya, dikatakan bahwa, "dan itu Haji Isma`il sudah balik kembali ke negeri Makkah dengan bawa uwang terlalu banyak adanya".47

Kedekatan antara tarekat dan penguasa selain diupayakan oleh mursyid atau guru tarekat juga dilakukan oleh pihak penguasa atau raja.48 Terdapat beberapa hal yang menjadi motif penguasa mengembangkan hubungan yang akrab dengan pemimpin tarekat. Misalnya karena adanya karâmah yang dimiliki oleh seorang syekh tarekat. Karâmah dan kekuatan spiritual yang dimiliki para syekh tarekat diharapkan dapat melindungi dan melestarikan kerajaan yang ia pimpin. Kehadiran syekh yang mempunyai karâmah juga diharapkan dapat mendatangkan keberkahan bagi istana. Selain itu, seorang syekh yang ahl kashf dapat membantu penguasa dalam menentukan keputusan dalam berbagai kebijakan yang akan diambil oleh penguasa. Seorang raja juga akan merasa tenang dengan adanya bimbingan rohani dari seorang syekh tarekat. Motif yang paling utama dari kehadiran seorang syekh di istana adalah legitimasi kekuasaan yang didapatkan oleh para penguasa, utamanya raja, di mata rakyatnya.

Sementara tipologi strategi politik kedua, yaitu struggle from without sebagai strategi politik yang lebih cenderung membuat jarak dengan kekuatan dominan nampak pada gerakan politik tarekat Qadiriyah.49 Pandangan kaum tarekat ini dapat diketahui dari sejarah kemunculan tarekat Qadiriyah. Tarekat Qadiriyah sebagai gerakan atau organisasi sufi paling tua dan paling luas penyebarannya didirikan oleh Syekh Abd al-Qadir al-Jailani. Tarekat ini mempunyai cabang di seluruh dunia dan mempunyai keterikatan dengan pusat atau markasnya di Baghdad.

47Sayyid `Utsman bin `Aqil bin Yahya al-`Alawi, Arti Thariqat dengan Pendek

Bicaranya (Betawi, 1889), 9. Lihat pula Martin Van Bruinessen, ―Tarekat dan Politik..., h. 3-14.

48Ibid.

49Sahri, ―Dimensi Politik dalam Ajaran-ajaran Tasawuf (Studi Kasus atas Manaqib syekh Abd al-Qadir al-Jailani)‖ Asy-Syir‟ah Jurnal Ilmu Syari‟ah dan Hukum, Vol. 45 No. II, Juli-Desember 2011 (1523-1540), h. 1536.

28

Kecenderungan tarekat Qadiriyah yang lebih memilih menjauh dari kekuasaan ini dapat dilihat dari sejarah syekh Abd al-Qadir al-Jailani, sebagaimana tertulis dalam manaqib-nya. Diceritakan bahwa pada suatu malam syekh Abd al-Qadir al-Jailani tidur di iwân (ٌإٌا) atau emperan istana Raja Kisra.50 Pada malam yang dingin tersebut, tiba-tiba beliau bermimpi hingga mengeluarkan sperma. Seketika itu beliau terbangun dan bergegas mandi. Kejadian ini berulang-ulang sampai empat puluh kali. Kemudian pada malam itu juga beliau naik ke tembok iwân agar tidak tertidur lagi.51

Apabila cerita tersebut dipahami dengan mafhûm mukhâlafah, maka akan didapatkan kesimpulan bahwa Syekh Abd al-Qadir al-Jailani tidak akan pernah tidur di bangunan istana. Hal ini dikarenakan ketika beliau tidur di emperan istana saja dapat mengganggu kesucian batin, apalagi ketika beliau tidur di dalam istana. Gangguan kesucian batin tersebut tergambar dari ihtilâm atau mimpi basah yang menyebabkan hadas besar dan mewajibkan mandi. Sebagaimana dalam teori psikologi, mimpi basah disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah terkait dengan khayalan seseorang akan keindahan duniawi.52

Keengganan Syekh Abd al-Qadir al-Jailani untuk mendekati kekuasaan tergambar pula dari keengganan beliau terhadap beberapa hal. Beliau tidak pernah mau berdiri di depan pintu-pintu penguasa, baik menteri ataupun raja. Beliau juga tidak mau memberi hormat kepada raja. Selain itu, beliau tidak pernah mau menerima pemberian dari raja. Keengganan ini tergambar ketika beliau menolak hadiah emas yang diberikan oleh Raja al-Mustanjid Billâh. Digambarkan bahwa

50

Kata iwân bisa diartikan emperan, serambi atau selasar, rumah yang besar dan indah, ataupun aula atau istana. Lihat Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir Kamus Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Ponpes Al-Munawwir, 1984), 273.Bandingkan dengan Mahmud Junus, Kamus

Arab-Indonesia, (Jakarta: Hidayakarya, 1990), 55.Lihat pula Sahri, ―Dimensi Politik dalam

Ajaran-ajaran Tasawuf (Studi Kasus atas Manaqib Syaikh ‗Abd al-Qadir al-Jailani)‖ Asy-Syir‟ah Jurnal

Ilmu Syari‟ah dan Hukum, Vol. 45 No. II, Juli-Desember 2011 (1523-1540), h.1533.

51Ja‘far bin Hasan bin Abdil Karim Al-Barzanji, Terjemah Manaqib (Kisah Kehidupan)

Syaykh „Abd al-Qadir Al-Jailani terj. Moh. Saifullah Al-Aziz, (Surabaya: Terbit Terang, 2000), h.

46.

52Sahri, ―Dimensi Politik dalam Ajaran-ajaran Tasawuf (Studi Kasus atas Manaqib Syaikh ‗Abd al-Qadir al-Jailani)‖ Asy-Syir‟ah Jurnal Ilmu Syari‟ah dan Hukum, Vol. 45 No. II, Juli-Desember 2011 (1523-1540), h.1534.

29

suatu ketika beliau menerima hadiah pemberian raja. Seketika itu beliau memeras kantong hadiah yang diberikan oleh raja dan tiba-tiba mangalir darah dari kantong tersebut. Kejadian ini memberikan isyarat bahwa perilaku raja terindikasi memeras darah rakyat.53

Dalam kisah yang lain, bahwa suatu ketika isi buah apel yang sama menjadi berbeda ketika dipegang oleh Syekh Abd al-Qadir al-Jailani dan Raja Abu Mudzafar Yusuf. Ketika kedua buah apel tersebut dibelah, maka apel yang dipegang Raja Abu Mudzafar Yusuf menjadi penuh dengan ulat. Sedangkan apel yang dipegang Syekh Abd al-Qadir al-Jailani tetap utuh, bahkan mengeluarkan bau harum.54 Kejadian ini mengisyaratkan perbandingan perbuatan dan hati sang raja yang jauh berbeda dengan Syekh Abd al-Qadir al-Jailani.

Sedikit gambaran cerita tentang Syekh Abd al-Qadir al-Jailani tersebut menunjukkan bahwa tarekat Qadiriyah lebih memilih untuk tidak mendekat kapada penguasa. Pilihan tersebut diambil untuk menjaga martabat tasawuf. Sebagaimana dijelaskan dalam manaqib Syekh Abd al-Qadir al-Jailani, terdapat dua hal yang dapat menurunkan martabat tasawuf, yaitu tertarik pada kedudukan dan harta.55

Adapun tipologi strategi politik ketiga adalah kelompok kooperatif kondisional. Kelompok tarekat ini bersikap tengah-tengah antara tipologi pertama dan kedua. Kelompok ini hanya melakukan komunikasi terbatas dengan pemerintah guna mendapatkan manfaat terkait pengembangan tarekatnya.56 Kelompok tarekat ini merupakan perpaduan antara tipologi strugle from within dan tipologi strugle from without. Sebagaimana paparan sebelumnya bahwa kategori tipologi strugle from without, yaitu lebih cenderung membuat jarak

53Ja‘far bin Hasan bin Abdil Karim Al-Barzanji, Al-lujjain al-dani, (Semarang: Maktabah al-‗alawiyah, t.t), h. 26 dan 48.

54

Ibid., h. 27. Lihat pula Sahri, ―Dimensi Politik dalam Ajaran-ajaran Tasawuf (Studi

Kasus atas Manaqib Syaikh ‗Abd al-Qadir al-Jailani)‖ Asy-Syir‟ah Jurnal Ilmu Syari‟ah dan

Hukum, Vol. 45 No. II, Juli-Desember 2011 (1523-1540), 1535.

55Ja‘far bin Hasan bin Abdil Karimal-Barzanji Al-lujjain ... h. 26.

56

30

dengan kekuatan dominan atau pemerintah. Sementara kategori tipologi strugle from within lebih memilih melakukan interaksi yang aktif dengan pemerintah.57

Sebagai contoh dari tipologi ini adalah gerakan tarekat Sattariyah di Benda, Cirebon. Anggota tarekat ini terdiri dari berbagai kalangan masyarakat yang melakukan bay‟at kepada Kyai Soleh. Bay‟at kelompok tarekat ini dilakukan secara inklusif atau terbuka. Kelompok tarekat ini merupakan sebuah komunitas yang berdiri sendiri, tidak mendukung ataupun melawan pemerintah. Ketika pemerintah keraton Kanoman melakukan sayembara untuk membuka hutan sebagai pemukiman, kelompok tarekat ini ikut ambil bagian. Sebagai hadiah dari keraton, kelompok tarekat ini kemudian mendapatkan bagian dari tanah yang telah dibuka. Tanah hadiah dari pemerintah keraton Kanoman ini kemudian digunakan untuk pembangunan pesantren Benda Kerep sebagai basis tarekat Sattariyah. Pesantren ini kemudian mendapat legitimasi penuh dari pemerintah atas jasanya tersebut.58