SEJARAH KETERLIBATAN KAUM TAREKAT DALAM GERAKAN BERNEGARA DAN NASIONALISME
C. Pertumbuhan Nasionalisme di Negara-Negara Asia
Proses lahir dan berkembangnya nasionalisme pada mulanya terjadi di Eropa pada abad XVII. Pada hakekatnya nasionalisme di Eropa memiliki sifat dan berorientasi pada semangat kebangsaan yang berasal dari bangsa Ibrani dan Yunani.
Kedua bangsa ini memiliki kesadaran yang kuat dan tegas bahwa mereka berbeda dari bangsa-bangsa lain. Bangsa Ibrani mengakui sebagai bangsa pilihan dan memiliki tugas khusus di dunia. Sedangkan bangsa Yunani merasa lebih unggul dari bangsa lain dalam bidang filsafat dan kebudayaan disamping itu bangsa Yunani memiliki kesetiaan yang sangat dalam terhadap negara kota (polis) dan tanah airnya.138 Cita-cita kebangsaan seperti ini diikuti dan dikembangkan oleh Inggris pada abad XVII oleh kaum puritan, yang bertujuan untuk melaksanakan secara murni tiga asas kebangsaan bangsa Ibrani, yang akhirnya melahirkan ide nasionalisme. Namun revolusi puritan ini menuju ke arah kediktatoran parlemen, dan kediktatoran militer.139
Nasionalisme Inggris mendukung adanya kemerdekan dan kebebasan individu, hak asasi dan demokrasi sebagaimana yang tertulis dalam Piagam Agung (Bill of Right) tahun 1689, yang memuat ketentuan hukum tentang hak-hak raja Inggris:
1. Kekuasaan parlemen berada diatas kekuasaan raja.
138Robert Siahaan, Sejarah Nasional..., h 26. 139
57 2. Adanya jaminan toleransi beragama. 3. Adanya jaminan kebebasan pers.
4. Adanya anggota parlemen yang dipilih melalui pemilu yang bebas dan rahasia. 5. Pemungutan pajak dilakukan harus berdasarkan persetujuan parlemen yang
diatur dalam undang-undang.
6. Adanya jaminan bahwa tidak ada pengerahan kekuatan militer tanpa persetujuan parlemen. Dalam ketentuan tersebut raja tidak dapat menggunakan kekuasaannya jika bertentangan dengan hukum atau tanpa persetujuan parlemen.140
Dampak perkembangan nasionalisme di Inggris mulai menyebar di beberapa negara-negara Eropa, terutama Eropa Barat, seperti Prancis, Jerman, Irlandia, Swis, sampai ke wilayah Eropa Timur seperti Polandia, Cheko, Slovakia, Serbia, Ukrania, dan Austria.
Berkembangnya nasionalisme di beberapa negara Eropa Timur pada awalnya merupakan suatu gerakan kebudayaan, impian dan harapan para sarjana dan penyair. Sebabnya adalah di negara-negara Eropa Timur struktur masyarakatnya terdiri dari golongan menengah yang lemah. Terdiri dari aristokrasi feodal dan proletariat dusun,141 dengan struktur masyarakat seperti itu akan sulit sekali mengalami perubahan, sebab tidak ada kelompok masyarakat atau individu yang mampu menggerakkan kesadaran nasional diantara warga negara.
Perkembangan nasionalisme di negara-negara Eropa Barat dipelopori oleh golongan borjuis dan golongan liberal dengan tujuan:
1. Tujuan kedalam, berusaha menumbuhkan kekuasaan politik golongan bangsawan, dan kemudian membentuk suatu pemerintahan yang berlandaskan demokrasi dan kebebasan.
140Robert Siahaan, Sejarah Nasional ...hlm 27 141
58
2. Tujuan keluar, berusaha memperoleh integritasnya sebagai bangsa yang bernegara.142
Pertumbuhan dan perkembangan nasionalisme di kawasan Asia dan Afrika berbeda dengan pertumbuhan nasionalisme di negara-negara Eropa . Apabila dilihat secara sepintas, nasionalisme di Eropa lahir dan berkembang dari situasi yang terjadi di kawasan Eropa sendiri yaitu perkembangan negara-negara nasional serta rasa bangga mereka akan negerinya sendiri. Sedangkan
nasionalisme di Asia dan Afrika pada umumnya lahir dan berkembang karena tekanan dari Bangsa Eropa yang telah melakukan politik imperialisme dan kolonialisme.
Perjuangan menentang penjajahan pada hakekatnya merupakan perwujudan dari semangat nasionalisme serta semangat kebangsaan yang muncul dari hati masyarakat sebagai dampak dari adanya penderitaan akibat imperialisme dan kolonialisme.143 Dalam hal ini akan disajikan perkembangan nasionalisme di beberapa negara Asia yang dianggap bisa mewakili perkembangan nasionalisme negara-negara di kawasan tersebut.
1. Nasionalisme Jepang
Sejak tahun 1683 Jepang menjadi negara yang tertutup untuk dunia luar. Hal ini dilakukan pemerintah Jepang untuk menghindari terjadinya percampuran budaya yang memungkinkan terjadinya perubahan sikap masyarakat Jepang terhadap agama dan pemerintahan.144
142Robert Siahaan, Sejarah Nasional..., h. 27
143Pada hakekatnya nasionalisme di Asia dan Afrika mempunyai tiga tujuan utama yang saling berhubungan:
1. Dalan bidang politik, berusaha untuk mengusir kaum penjajah guna memperoleh kembali rasa kebebasan dan kemerdekaan.
2. Dalam bidang sosial ekonomi, nerusaha untuk menghentikan adanya exploitasi ekonomi asing agar kemudian dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahtraan masyrakat secara keseluruhan.
3. Dalam bidang kebudayaan berusaha untuk menghidupkan budaya asli yang telah mengalami penekanan dari penjajah. Lihat Robert Siahaan Sejarah Nasional..., h. 33
144
59
Tahun 1853, Amerika Serikat mengutus Komodor Perry untuk meminta Jepang agar membuka beberapa pelabuhannya agar dapat dimanfaatkan oleh Amerika sebagai tempat berlabuh. Gunanya adalah untuk dapat berhubungan dengan China. Atas permintaan Amerika maka Jepang membuka pelabuhannya Shimoda dan Hokodate untuk kapal-kapal Amerika. Terbukanya pelabuhan tersebut menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat Jepang. Mereka menentang pembukaan pelabuhan tersebut dengan memperotes Yoshinabu Tokugawa (seorang shogun). Maka muncullah gerakan anti Shogun. Gerakan ini menghendaki agar kekuasaan pemerintahan di Jepang langsung dipegang oleh Kaisar atau Tenno.
Tahun 1867 Kaisar Oshahito meninggal dunia dan digantikan oleh Kaisar Meiji. Kaisar Meiji merupakan tokoh pemimpin Jepang yang berjiwa nasionalisme dan menginginkan agar Jepang dapat lebih terbuka, bersatu dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain di Eropa.
Kebijakan yang diambil oleh Kaisar Meiji dalam membangkitkan semangat nasionalisme rakyatnya adalah:
1. Memindahkan ibukota Jepang dari Kyoto ke Tokyo. 2. Diciptakannya bendera Jepang yaitu Hinamaru. 3. Shintoisme diresmikan sebagai agama negara. 4. Diciptakannya lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo. 5. Semangat Bushido menjadi cita-cita masyarakat Jepang. 6. Perlu adanya parlemen yang anggotanya dipilih oleh rakyat.
7. Dihapusnya tentara pribadi milik kaum bangsawan, kemudian dibentuk tentara nasional Jepang.145
Modernisasi dan perkembangan Jepang dalam segala bidang telah mampu membangkitkan semangat nasionalisme dikalangan penduduknya dan akhirnya
145
60
mengantarkan Jepang sebagai salah satu negara yang mempengaruhi perkembangan dunia.
2. Nasionalisme Turki
Bangsa Turki dibawah Kaisar Ottoman pernah menguasai negeri-negeri di sekitar laut Mediterania atau laut Tengah. Kekuasaan Ottoman pada bada XIV mencakup Iran, Iran, Arab Saudi, Mesir, Libia, Aljazair, Hungaria, Yugoslavia, sebagian Rusia, dan Yunani.146
Abad XVIII dan XIX menjadi awal keruntuhan bagi bangsa Turki. Kaum nasionalis Yunani menentang kekuasaan Ottoman. Prancis, Inggris, dan Rusia akhirnya turut bergabung bersama Yunani melawan kekaisaran Turki. Peperangan tersebut kemudian diakhiri dengan perjanjian Adrianopel (Edirne). Yunani akhirnya merdeka, sedangkan Rusia menguasai Danuse. Turki juga kehilangan wilayahnya di Balkan setelah kalah dalam pertempuran dengan Rusia. Isi perjanjian tersebut sangat merugikan Turki, sehingga menimbulkan semangat nasionalisme pada rakyatnya. Semangat Nasionalisme tersebut bertujuan untuk membangkitkan harga diri bangsa Turki yaitu dengan menuntut diadakannya reformasi.Gerakan ini disetujui oleh Sultan Abdul Azis (1861-1876). Reformasi dilakukan dalam bidang pendidikan, hukum, keuangan, dan konstitusi.147
Setelah Sultan Abdul Azis wafat maka digantikan oleh oleh Sultan Abdul Hamid II. Ia tidak menyetujui adanya konstitusi, dan menetang gerakan reformasi. Dengan adanya larangan gerakan reformasi oleh Sultan, maka pembaharuan yang dicanangkan rakyat Turki berangsur-angsur mulai menurun.148
Sultan Abdul Hamid II akhirnya digantikan oleh Sultan Muhammad V setelah terlebih dahulu melakukan pemberontakan yang diprakarsai oleh mahasiswa dan para perwira militer. Ia memerintah dari tahun 1090 sampai 1918. Dalam masa pemerintahannya Sultan Muhammad V sangat lemah akibat
146Asep Lukman, Sejarah Nasional Indonesia...., h. 55. 147Robert Siahaan, Sejarah Arti... h. 38.
148
61
banyaknya campur tangan kelompok konservatif dalam mengendalikan pemerintahannya.
Kelemahan tersebut dimanfaatkan oleh Mustafa Kemal untuk memimpin pergerakan nasional Turki. Tujuan pergerakan tersebut adalah untuk menciptakan Turki sebagai negara nasional. Meskipun pada mulanya ia melandaskan perjuangannya pada Islam, tetapi tujuannya selain untuk mengusir imperialisme Barat, juga untuk menciptakan negara sekuler yang modern, bukan untuk menciptakan kembali imperium Islam dan menjadikan dasar negara dengan kesadaran nasional serta kedaulatan rakyat untuk menuju ―Turki baru‖.149
Penciptaan Turki baru pada dasarnya adalah untuk memurnikan sejarah dan kebudayaannya dari pengaruh-pengaruh asing dengan jalan menyingkirkan sejarah imperium Usmani pada masa lalu, dengan tujuan untuk memulai identitas nasionalisme Turki. Untuk mengukuhkan sumber-sumber identitas nasional dan kebanggaan nasional maka lembaga-lembaga sejarah Turki dan lembaga bahasa dibentuk agar dapat membantu memberi landasan bagi nasionalisme Turki.150 Salah satu cara yang ditempuh adalah:
1. Memindahkan ibukota dari Istambul ke daerah pedalaman Anatolia, yakni ke Ankara.
2. Pengaruh Arab dan Parsi ditolak sebagai suatu yang terbelakang dan kolot. 3. Pergantian huruf Arab dengan huruf latin. Perobahan ini mengakibatkan
angkatan muda Turki terputus dari warisan keagamaan dan kesusastraan Islam pada masa kejayaan imperium Usmani, yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa tulisan dalam bidang keilmuan dan kesusastraan.
Untuk mengukuhkan sumber-sumber identitas nasional dan kebanggaan nasional maka lembaga sejarah dan lembaga bahasa Turki dibentuk untuk membantu memberi akar dan memberi landasan bagi nasionalisme Turki.Sejarah Turki diulang penulisannya dengan memegang teori Mustafa Kemal, bahwa Asia
149Jhon L. Esposito, Islam dan Politik, Terj, (Jakarta: Bulan Bintang, 1990), h. 133. 150
62
Tengah merupakan tempat kediaman yang asli dari bangsa Turki dan merupakan asal usul manusia dan peradaban. Bahasa Turki adalah induk dari seluruh bahasa di dunia. Titik berat perhatian Kemal bukan ketelitian sejarah mengenai masa silam sebelum imperium Usmaniah dan masa silam sebelum Islam akan tetapi memberikan dasar kokoh bagi terbentuknya nasionalisme Turki.151
Terbentuknya nasionalisme Turki tidak terlepas dari peran Mustafa Kemal, yang ingin meningkatkan identitas rakyat Turki melalui perubahan yang mendasar terhadap kebiasan-kebiasan rakyat Turki. Perubahan tersebut lebih bercirikan kepada sekulerisasi, yaitu meninggalkan simbol-simbol agama Islam dengan simbol-simbol yang ada pada masyarakat Turki.
3. Nasionalisme Arab
Kebangkitan modern di dunia Arab bermula dengan didudukinya Mesir oleh Prancis tahun 1798. Sebelum itu negara-negara Arab hampir semuanya tak menyadari kemajuan pesat yang telah dialami oleh negara-negara Barat. Ilmu pengetahuan yang masuk ke dunia Arab membangkitkan semangat bangsa Arab untuk menemukan kembali jati dirinya,sehingga adanya keinginan untuk membangkitkan semangat nasionalisme Arab.152
Meskipun Arab-Kristen dari Imperium Usmani sudah memelihara identitas dan kebanggaan nasionalisme Arab melalui perkembangan literatur dan gerakan-gerakan yang bersifat rahasia, tetapi gagal untuk menjadi idiologi yang populer. Hai ini disebabkab nasionalisme Arab yang bernafaskan Islam lebih populer dan lebih mudah diterima oleh bangsa Arab.153 Kaum Nasionalis Arab senantiasa mengemukakan soal peranan Islam dalam nasionalisme arab.
Sepanjang sejarah dunia Arab, Arabisme dan Islam saling berhungan erat. Bahasa Alquran, Nabi Muhammad, ekspansi Islam pada masa permulaan dan para pahlawannya seluruhnya berasal dari komunitas Arab.
151Ibid., h. 136
152Hazem Zaki Nuseibah, Gagasan-Gagasan Nasionalisme Arab. Terj , (Jakarta: Bhratara, 1969), h. 38.
153
63
Tujuan nasionalisme Arab yang terpenting adalah untuk mempersatukan bangsa-bangsa yang berbahasa Arab dibawah suatu organisasi politik, agar bangsa Arab menjadi bangsa yang kuat dan mempunyai konstribusi dalam percaturan politik dunia.154
Meskipun banyak pihak yang menginginkan kemunculan nasionalisme Arab, tetapi tidak sedikit yang menentang ide tersebut, sebab menurut mereka kemunculan nasionalisme Arab akan menyebabkan timbulnya paham kecintaan kepada sukunya masing-masing, terutama suku Arab. Hal ini akan menyebabkan bangsa Arab menganggungkan dirinya sendiri dan memandang rendah bangsa lain.
Hal ini dikhawatirkan akan memunculkan kembali apa yang terjadi pada zaman Jahiliyah, dimana pada masa itu masing-masing suku saling mengagungkan sukunya masing-masing. Sehingga sering terjadi peperangan antar suku. Paham seperti ini sangat ditentang oleh Rasulullah Muhammad saw.
Kehawatiran tersebut ditentang oleh Abdurrahman al Bazzaz (1913-1972). Menurut beliau nasionalisme Arab dan Islam merupakan suatu keselarasan yang sempurna disebabkan Islam merupakan agama nasional bangsa Arab. Sehingga kekhawatiran tersebut tidak akan terjadi, karena nasionalisme Arab tersebut telah dipayungi oleh nilai-nilai universal Islam. Dimana nilai-nilai Islam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan hak azasi manusia.
Nasionalisme Arab sering dipahami secara keliru. Hal ini disebabkan adanya pendapat yang mengatakan bahwa nasionalisme hanya dapat dibentuk atas dorongan kesamaan ras dan kefanatikan rasial, dan karenanya ia bertentangan dengan hakikat Islam yang bersifat universal. Sikap berlebihan dari kelompok nasionalis merupakan penyebab kesalahan penafsiran terhadap nasionalisme. Nasionalisme Arab dilandasi oleh kesamaan bangsa yang tidak dikaitkan dengan
154
64
kepentingan rasial tetapi dengan ikatan atau kesamaan bahasa, sejarah, dan budaya serta kesamaan kepentingan.155
Menurut Shakib Arsalan (1869-1946), Islam memberikan basis bagi nasionalisme Arab, nasionalisme Muslim, dan pembaharuan Islam. Dia bergerak dengan mudah dari yang satu kepada yang lain. Islam telah memberikan kesatuan, kekuatan dan kemakmuran pada masa lampau, justru jika Umat Islam tabah dan berjuang mengambil inspirasi dari Alquran, mereka akan bisa mencapai seperti negara-negara Eropah yaitu kemajuan dalam segala bidang.156 Untuk meningkatkan kesadaran dan kemajuan kaum Muslimin, seperti yang dicapai oleh bangsa-bangsa modern makakaum muslimin di seluruh dunia ini harus rela melaksanakan jihad.157
Dengan terjadinya pergerakan nasionalisme di negara-negara Asia, maka berita ini terdengar oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang sekolah di luar negeri. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia mulai bergairah untuk membentuk organisasi yang bertujuan menggalang rasa solidarisme dikalangan pemuda. Rasa solidarisme akan menimbulkan semangat nasionalisme yang akhirnya akan berdampak terhadap pergerakan rakyat Indonesia untuk mengusir penjajah dari bumi Nusantara.