• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pajak

2. Pajak

2.1 Pengertian Pajak

Pengertian pajakmenurut pendapat beberapa ahli, antara lain:1) Usman dan K. Subroto(Usman dan Subroto, 1980 : 46), “Pajak diartikan sebagai pungutan yang dilakukan oleh pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang hasilnya digunakan untuk pembiayaan pengeluaran umum pemerintah yang balas jasanya tidak secara langsung diberikan pada pembayaran sedangkan pelaksanaannya dimana perlu dapat dipaksakan”; 2) Rochmad Soemitro(Soemitro dalam Mardiasmo, 2003:1), menyatakan: “Pajak adalah iuran kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapat cara timbal (kontra prestasi), yang langsung dapat ditujukan dan digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

Menurut Undang–undang No. 18 Tahun 1987, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 34 Tahun 2000 tentang pajak daerah dan retribusi daerah. Maka yang dimaksud dengan pajak daerah adalah “Pajak daerah yang selanjutnya disebut pajak adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku yang digunakan untuk

membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan daerah”. Bentuk pajak daerah antara lain: Pajak Reklame, Pajak Hotel, Pajak Restauran, Pajak Penerangan Jalan, Pajak Hiburan, Pajak Pengambilan Galian Golongan C.

Berdasarkan pendapat para ahli dan Undang-undang tersebut diatas dapat disimpulkan, bahwa pajak adalah iuran atau pungutan yang digunakan oleh suatu badan yang bersifat umum (negara) untuk memasukkan uang ke dalam kas negara dalam menutupi segala pengeluaran yang telah dilakukan di mana pemungutannya dapat dipaksakan oleh kekuatan publik.

2.2 Fungsi pajak

Dalam pembuatan peraturan pajak daerah, harus didasarkan pada pemungutan pajak secara umum yaitu demi meningkatkan kesejahteraan umum. Untuk meningkatkan kesejahtaraan umum tidak hanya memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke kas negara saja, tetapi juga harus mempunyai sifat mengatur untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Pemasukan uang demi meningkatkan kesejahtaraan umum perlu ditingkatkan lagi serta pemungutannya harus berasaskan dan dilaksanakan menurut norma-norma yang berlaku. Fungsi pajak menurut Mardiasmo (2003:1) dibagi menjadi dua yaitu 1) Fungsi budgetair, dalam fungsi budgetair ini pemungutan pajak bertujuan untuk memasukkan uang sebanyak-banyaknya ke dalam kas negara yang pada waktunya

commit to user

baik untuk pengeluaran rutin dalam melaksanakan mekanisme pemerintahan maupun pengeluaran untuk membiayai pembangunan; dan 2) Fungsi mengatur, pada lapangan perekonomian, pengaturan pajak memberikan dorongan kepada pengusahan untuk memperbesar produksinya, dapat juga memberikan keringanan atau pembesaran pajak pada para penabung dengan maksud menarik uang dari masyarakat dan menyalurkannya, antara lain ke sektor produktif. Dengan adanya industri baru maka dapat menampung tenaga kerja yang lebih bayak, sehingga pengangguran berkurang dan pemerataan pendapatan akan dapat terlaksana untuk mencapai keadilan sosial ekonomi dalam masyarakat.

2.3 Sistem Pemungutan Pajak

Waluyo (2007:17) mengemukakan bahwa ada beberapa sistem

pemungutan pajak, yaitu: a) Official Assessment System. Wewenang

pemungutan pajak ada pada fiskus. Fiskus berhak menentukan besarnya utang pajak orang pribadi maupun badan dengan mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak (SKP), yang merupakan bukti timbulnya suatu utang pajak. Wajib Pajak pasif menunggu ketetapan fiskal mengenai utang

pajaknya; b) SemiSelf Assessment System.Suatu sistem pemungutan pajak

dimana wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh seseorang berada pada kedua belah pihak, yaitu Wajib Pajak dan fiskus. Mekanisme pelaksanaan dalam system ini berdasarkan suatu anggapan bahwa Wajib Pajak pada awal tahun menaksir sendiri besarnya pajak

System. Suatu sistem pemungutan pajak dimana wewenang untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh seseorang berada pada pihak ketiga, dan bukan oleh fiskus maupun oleh Wajib Pajak itu sendiri.

2.4 Syarat Pemungutan Pajak

Agar pemungutan pajak tidak menimbulkan hambatan, maka pemungutan pajak harus memenuhi beberapa persyaratan. Persyaratan-persyaratan sebagai berikut:

a. Pemungutan pajak harus adil (syarat keadilan), bahwa dalam

mengenakan pajak secara umum dan merata, serta disesuaikan dengan kemampuan masing-masing wajib pajak.

b. Pemungutan pajak harus berdasarkan undang-undang (syarat

yuridis), hal ini memberikan jaminan hukum untuk menyatakan keadilan, baik bagi negara maupun warganya.

c. Tidak menggangu perekonomian (syarat ekonomi), pemungutan

pajak tidak boleh menggangu kelancaran kegiatan produksi maupun perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.

d. Pemungutan pajak harus efesien (syarat financial), sesuai dengan

fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan sehingga lebih rendah dari hasil pungutan.

e. Sistem pemungutan pajak harus sederhana, dengan adanya

commit to user

2.5 Pengelompokan Pajak

Ilyas (2001:17) menggolongkan jenis-jenis pajak menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu:

a. Pengelompokan pajak menurut sifatnya terdiri dari:

1) Pajak Langsung yaitu pajak yang dipikul sendiri oleh Wajib

Pajak dan tidak dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain, contoh: Pajak Penghasilan.

2) Pajak Tidak Langsung yaitu pajak yang pada akhirnya dapat

dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain, contoh: Pajak Pertambahan Nilai.

b. Pengelompokan pajak menurut sasaran/objeknya terdiri dari:

1) Pajak Subjektif, yaitu pajak yang

berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya, dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak, contoh: Pajak Penghasilan.

2) Pajak Objektif, yaitu pajak yang

berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak, contoh: Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

c. Pengelompokan Pajak menurut lembaga pemungut terdiri dari:

1) Pajak Pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat

dan digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara, contoh: Pajak Penghasilan.

2) Pajak Daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh Pemerintah Daerah dan untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak Daerah terdiri atas: a) Pajak Propinsi, contoh: Pajak Kendaraan Bermotor, dan b) Pajak Kabupaten/Kota, contoh: Pajak Hotel, Pajak Reklame, Pajak Restoran, Pajak Parkir.

2.6 Hambatan Pemungutan Pajak

Hambatan Pemungutan Pajak menurut terdiri dari dua perlawanan, yaitu: a). Perlawanan Pasif, masyarakat enggan (pasif) membayar pajak disebabkan antara lain: 1. Perkembangan intelektuel dan moral masyarakat, 2. Sistem Perpajakan yang mungkin sulit dipahami masyarakat; 3. Sistem kontrol tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik; b). Perlawanan aktif, meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara secara langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak.

2.7 Tarif Pajak

Tarif pajak ada empat macam yang terdiri dari: a) Tarif Sebanding atau Proporsional, yaitu tarif yang berupa presentase yang tetap, terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenai pajak. Contoh: Pajak Reklame sebesar 25% dari NJOP; b) Tarif Tetap, yaitu tarif yang berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapa jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap. Contoh:

commit to user

nomiunal berapapun adalah Rp 6000,00; c) Tarif Progresif, yaitu presentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar. Contoh: Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan; d) Tarif Degresif, yaitu presentase tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar.

3. Pajak Daerah

Pajak Daerah merupakan salah satu andalan Pendapatan Asli Daerah disamping Retribusi Daerah. Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Lainnya yang dipisahkan. Menurut Undang-Undang nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000, Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada Pemerintah Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang. Pajak Daerah dapat dipaksakan berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku, yang hasilnya digunakan untuk membiayai penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan pembangunan daerah. Berdasarkan kriteria di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian Pajak Daerah adalah pajak yang ditetapkan dan dipungut di wilayah daerah dan ada bagi hasil antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Dalam dokumen Pinastiti Agustina Suciwidati F3409051 (Halaman 36-43)

Dokumen terkait