• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Pajak

Dalam dokumen Keuangan Publik. Mail Hilian Batin, ME (Halaman 116-120)

BAB II BARANG PUBLIK

TEORI DASAR PERPAJAKAN

1. Pengertian Pajak

Pajak dalam istilah asing disebut tax (Inggris); import contribution, taxe, droit (Prancis); steur, abgabe, gebuhr (Jerman); impuesto contribution, tributo, gravamen, tasa (Spanyol) dan belasting (Belanda).

dalam literatur Amerika selain istilah tax dikenal pula istilah tariff. Kata tax pertama kali muncul dalam bahasa Inggris pada abad ke-14 berasal dari taxare latin yang berarti untuk menilai.

Sesuai kamus bahasa Indonesia, pajak diartikan sebagai pungutan wajib, biasanya berupa uang yang harus dibayar oleh penduduk sebagai sumbangan wajib kepada Negara atau pemerintah sehubungan dengan pendapatan, pemilikan, jual beli barang, dan sebagainya. Istilah lain yang juga masih dipakai dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengganti kata pajak adalah fiscal dan cukai, dalam kamus besar bahasa Indonesia, dijelaskan sebagai pajak atau bea yang dikenakan pada barang impor dan barang konsumsi; atau sebagian dari hasil tanah (seperti sawah atau lading) yang wajib diberikan kepada tuan (pemilik) tanah sebagai ongkos tanah.

Cukai merupakan kata yang berasal dari bahasa Melayu namun istilah ini tidak dipakai dalam Undang-undang Perpajakan Indonesia.

Akan tetapi istilah cukai diartikan sebagai pungutan Negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyai sifat dan karakteristik tertentu, yaitu konsumsinya perlu dikendalikan, peredarannya perlu diawasi, pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negative bagi masyarakat atau lingkungan hidup, atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan Negara demi keadilan dan keseimbangan.

Pajak didefinisikan sebagai iuran tidak mendapat jasa imbal (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membayar pengeluaran-pengeluaran umum. Pajak merupakan sumber penerimaan Negara yang sangat penting dalam menopang pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri. Besar kecilnya pajak akan menentukan kapasitas anggaran Negara dalam membiayai pengeluaran Negara, baik untuk pembiayaan pembangunan maupun untuk pembiayaan anggaran rutin. Oleh karena itu, guna mendapatkan penerimaan Negara yang besar dari sector pajak, maka dibutuhkan serangkaian upaya yang dapat meningkatkan, baik subjek maupun objek pajak yang ada.

Adapun pengertian pajak yang dipaparkan oleh beberapa ahli, antara lain:

1. C.F.Bastable, menyatakan bahwa pajak adalah a compulsory contribution of the wealth of a person or body of persons for the service of the publik powers.

2. H.C Adams, (1851-1921) seorang ekonom dan filsuf Bangsa Amerika merumuskan pajak sebagai a contribution from the citizen to the support of the state.

3. Edwin Robert Anderson Seligman, (1861-1939) seorang ekonom, guru besar, pendiri dan presiden pertama dari American Economic Association, merumuskan pajak sebagai a tax is a compulsory contribution from the person to the government to defray the expenses incurred in the common interest of all without reference to special benefits conferred.

4. Mangkoesoebroto, merumuskan pajak adalah suatu pungutan yang merupakan hak preogratif pemerintah, pungutan tersebut didasarkan pada undang-undang, pemungutannya dapat dipaksakan kepada subjek pajak untuk mana tidak ada balas yang langsung dapat ditunjukkan

penggunanya. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa yang berhak memungut pajak adalah Negara (pemerintah).

5. Prof. Dr. Rochmat Soemitro, S.H, menurutnya pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang sifatnya dapat dipaksakan) serta tidak mendapat jasa timbal yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

6. Dr. N. J. Feldman, merumuskan pajak sebagai prestasi yang dipaksakan secara sepihak dan terhutang kepada penguasa berdasarkan norma-norma yang ditetapkan secara umum, tanpa adanya kontrapretasi (timbal-balik), dan semata-mata hanya digunakan untuk menutup pengeluaran umum.

7. Prof. Dr. P. J. A. Andriani, merumuskan pajak sebagai iuran masyarakat pada Negara (yang sifatnya dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayar menurut peraturan-peraturan umum (undang-undanng) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang dapat ditunjukkan secara langsung dan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas-tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.

8. S. I. Djajadiningrat, menurutnya pajak sebagai suatu kewajiban untuk menyerahkan sebagian dari kekayaan kepada kas Negara karena suatu keadaan, kejadian, dan perbuatan yang memberikan kedudukan tertentu, tetapi bukan sebagai hukuman, menurut peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah serta dapat dipaksakan, tetapi tidak ada jasa timbal balik yang diberikan oleh Negara secara langsung, untuk memelihara Negara secara umum.

9. Dr. Soeparman Soemahamidjaja, merumuskan pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau barang, yang dipungut oleh penguasa berdasarkan

norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.

10. Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terhutang oleh Negara pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebedar-besarnya kemakmuran rakyat.

Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pajak adalah pungutan yang ditarik dari masyarakat yang tidak menimbulkan kewajiban bagi pemerintah terhadap pihak pembayar zakat. Menurut sifatnya pajak adalah wajib. Kewajiban pajak menurut undang-undang dapat dipaksakan. Sedangkan terhadap pelanggar ketentuan undang-undang perpajakan maka dapat dikenai sanksi hukuman baik yang bersifat administrasi maupun pidana.

Di samping sebagai sumber penerimaan negara (fungsi budget), pajak juga dapat difungsikan sebagai alat pengaturan (regular/regulator) dan pengawasan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan sektor swasta (fungsi supervisi). Pada fungsi budgeter, pajak dimaksudkan untuk mengumpulkan dana yang akan digunakan bagi pembiayaan kegiatan operasional pemerintah. Sedangkan fungsi regulator, kebijakan perpajakan antara lain dimaksudkan untuk mengatur pola produksi dan konsumsi barang-barang ekonomi, mengatur redistribusi pendapatan, melindungi produsen dalam negeri beserta produknya. Dengan sistem perpajakan, pemerintah dapat menggunakan kebijakan di bidang perpajakan untuk mendorong investasi guna menghasilkan barang-barang produksi tertentu atau sebaliknya.

Mekanisme atau mengurangi pola konsumsi masyarakat.

Dalam dokumen Keuangan Publik. Mail Hilian Batin, ME (Halaman 116-120)