Keuangan Publik
Mail Hilian Batin, ME
Dilarang memperbanyak, mencetak atau menerbitkan Sebagian maupun seluruh buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit Ketentuan Pidana
Kutipan Pasal 72 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta
1. Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satujuta rupiah), atau pidana penjara paling lama7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000,00 (lima juta rupiah).
2. Barang siapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau hak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyakRp. 500.000.000,00 (lima ratusjuta rupiah).
Keuangan Publik
Penulis : Mail Hilian Batin, ME Editor : Aziz septiatin, SE., M.Si
Sri Delasmi Jayanti, M.ACC, Ak, CA Layout : Nyimas Amrina Rosyada
Desain Cover : Haryono Diterbitkan Oleh:
Rafah Press bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat UIN RF Palembang
Anggota IKAPI Dicetak oleh:
CV. Amanah
Jl. Mayor Mahidin No. 142 Telp/Fax : 366 625
Palembang – Indonesia 30126 E-mail :[email protected] Cetakan I: September 2020 18 x 25 cm
xii, 252 hlm
Hak Cipta dilindungi undang-undang pada penulis All right reserved
ISBN :
ABSTRAK
Keuangan publik merupakan salah satu rumpun Ilmu ekonomi yang mencakup bagaimana pengelolaan keuangan yang dikelola oleh Pemerintah.
Pengelolaan tersebut fokusnya melihat potensi dana yang masuk bersumber dari pajak dan dikelola sebaik mungkin untuk kepentingan bersama terutama bagi masyarakat.
Indonesia merupakan salah satu Negara yang menganut sistem Konstitusi. Beragam suku bangsa dan bahasa menjadi keunikan tersendiri bagi Indonesia. Indonesia dipimpin oleh satu Presiden dan Presiden menjadi jabatan tertinggi. Hingga saat ini Indonesia masih menjadi Negara Berkembang dan masih memerlukan bantuan dari Negara lain. Pengelolaan suatu Negara ditentukan oleh siapa yang memimpin pada saat itu.
Adapun materi kajian dari buku ajar ini berisi: ruang lingkup dan barang publik, peranan pemerintah dalam perekonomian, kebijakan fiskal dan moneter, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), teori dasar perpajakan, dampak pajak terhadap masayarakat dan ekonomi, utang negara, desentralisasi fiskal, pajak daerah, peran dan fungsi negara dalam Islam, instrumen zakat sebagai penerimaan dan pengeluaran keuangan negara, instrumen nonzakat sebagai penerimaan dan pengeluaran keuangan negara, instrumen keuangan publik dalam ekonomi Islam dan Isu kontemporer.
Oleh karena itu buku ini merupakan salah satu bahan kajian yang dapat membantu para akademisi dalam mempelajari keuangan publik.
Kata Kunci : Keuangan Publik, Rumpun Ekonomi, Indonesia Negara Institusi, Materi Bahan Ajar
ABSTRACT
Public finance is one of the clumps of economics which includes how financial management is managed by the government. This management focuses on seeing the potential for incoming funds to come from taxes and is managed as well as possible for the common interest, especially for the community.
Indonesia is a country that adheres to a constitutional system.
Various ethnic groups and languages are unique to Indonesia. Indonesia is led by one President and the President becomes the highest position. Until now, Indonesia is still a developing country and still needs assistance from other countries. The management of a country is determined by who is in charge at that time.
The study material of this textbook contains: the scope and public goods, the role of the government in the economy, fiscal and monetary policies, the State Budget (APBN), basic theories of taxation, the impact of taxes on society and the economy, state debt, fiscal decentralization. , local taxes, the role and function of the state in Islam, the instrument of zakat as revenue and expenditure of state finances, non-zakat instruments as revenue and expenditure of state finances, public financial instruments in Islamic economics and contemporary issues. Therefore this book is one of the study materials that can assist academics in studying public finance.
Keywords : Public Finance, Economic Family, Indonesian State Institution, Teaching Materials
صخهًنا بارك
مثق ٍي حُناًنا جسادلإا جسادئ حُفُك مًشذ ٍرنا داصرقلاا خاعىًجي يذحئ ٍه حياعنا حُناًنا
حيىكحنا . اهذسادئ ىرذو ةئاشضنا ٍي جدساىنا لاىيلأا ٍذأذ ٌأ حَُاكيئ حَؤس ًهع جسادلإا ِزه زكشذ
عًرجًهن حثسُنات حصاخو ، حكشرشًنا ححهصًنا مجأ ٍي ٌاكيلإا سذق .
ٌسىرسذنا واظُنات وزرهَ ذهت اُسَُوذَئ .
ٍي جذَشف حفهرخًنا خاغهناو حُقشعنا خاعىًجًنا
اُسَُوذَئ ٍف اهعىَ
. ةصُي ًهعأ سُئشنا حثصَو ذحاو سُئس اُسَُوذَئ دىقَ
. لازذ لا ، ٌِا ًرح
يشخأ لود ٍي جذعاسًنا ًنئ حجاحت لازذ لاو حُياَ حنود اُسَُوذَئ .
للاخ ٍي ذهثنا جسادئ ذَذحذ ىرَ
دقىنا كنر ٍف لوإسًنا ىه ٍي .
ًهع ٍسسذًنا باركنا ازهن حساسذنا داىي ٌىرحذ :
حيىكحنا سودو ، حياعنا عهسناو قاطُنا
حنوذنا حَُازُيو ، حَذقُناو حُناًنا خاساُسناو ، داصرقلاا ٍف (APBN)
حُساسلأا خاَشظُناو ،
حُناًنا حَزكشيلاناو ، حنوذنا ٌىَدو ، داصرقلااو عًرجًنا ًهع ةئاشضنا شُثأذو ، ةئاشضهن .
،
حُناي خافوشصيو خاداشَاك جاكزنا جادأ ، ولاسلإا ٍف اهرفُظوو حنوذنا سود ، حُهحًنا ةئاشضنا داصرقلاا ٍف حياعنا حُناًنا خاودلأاو ، حنوذهن حُناي خاقفَو خاداشَاك حَىكزنا شُغ خاودلأاو ، حنوذهن جشصاعًنا اَاضقناو ٍيلاسلإا .
ذعاسذ ٌأ ٍكًَ ٍرنا حُساسذنا داىًنا ٍي باركنا ازه شثرعَ كنزن
حياعنا حُناًنا حساسد ٍف ًٍَُُداكلأا .
ةيحاتفملا تاملكلا :
حًُُهعرنا داىًنا ، حُسَُوذَلإا حنوذنا حسسإي ، حَداصرقلاا جشسلأا ، حياعنا حُناًنا
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT, dimana telah menganugerahkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan rahmat bagi segenap alam serta karunia kepada hamba -Nya, dengan bantuan rahman dan rahim-Nya penulisan buku ini dapat terealisasikan.
Salawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Baginda Rasululullah Muhammad SAW, utusan kepada semua umat manusia yang telah memberikan petunjuk dan rahmat bagi umatnya ke jalan yang lurus.
Dalam buku “Keuangan Publik” ini membahas terkait barang publik, peranan pemerintah dalam perekonomian, kebijakan fiskal dan moneter, APBN, perpajakan, utang negara, desentralisasi fiskal beserta instrumen zakat dan nonzakat bagi keuangan Publik secara Islam.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Raden Fatah Palembang yang telah memberikan hibah Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BPOPTN) pada tahun 2020, dimana buku yang diimpikan oleh penulisa dapat diterbitkan.
Penerbit juga berterima kasih kepada penerbit yang telah memberikan kemudahan dalam menerbitkan buku ini. Penulis juga berterima kasih kepada seluruh pembaca yang telah menggunakan buku ini sebagai bahan referensi di kalangan akademis.
Penulis sangat merasakan bahwa buku ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan serta saran dari para pembaca untu perbaikan buku ini di masa mendatang. Besar harapan penulis jika buku “Keuangan Publik” ini menjadi salah satu
referensi buku yang dapat membantu memudahkan para pengajar dan mencerdasakan mahasiswa di seluruh Indonesia.
Palembang, September 2020
Mail Hilian Batin
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ... i
Abstrak ... iii
Kata Pengantar ... vi
Daftar Isi ... viii
Bab I Pengertian Dan Ruang Lingkup Keuangan Publik ... 1
1. Pengertian ... 1
2. Alasan Mempelajari Keuangan Publik ... 2
3. Pentingnya Sector Publik ... 5
4. Karakteristik Keuangan Publik ... 9
5. Ruang Lingkup Keuangan Publik ... 10
Bab II Barang Publik ... 15
1. Pengertian Barang Publik ... 15
2. Identifikasi Barang Publik ... 18
3. Perbedaan Barang Publik dan Barang Pribadi ... 19
4. Free Rider Problem ... 23
5. Eksternalitas ... 25
BAB III Peranan Pemerintah dalam Perekonomian ... 27
1. Peranan Utama Pemerintah ... 27
2. Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi ... 29
3. Fungsi Alokasi ... 33
4. Fungsi Distribusi ... 36
5. Fungsi Stabilisasi ... 40
6. Kebijakan Pemerintah dalam Menghadapi Perekonomian ... 43
7. Otonomi Daerah ... 51
BAB IV Kebijakan Fiskal dan Kebijakan Moneter ... 59
1. Pengertian ... 59
2. Sejarah Kebijakan Fiscal dan Moneter ... 59
3. Fungsi Kebijakan Fiscal dan Moneter ... 66
4. Perbedaan Kebijakan Fiscal dan Moneter ... 68
BAB V Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ... 71
1. Pengertian dan Ruang Lingkup ... 71
2. Tiga Prinsip APBN ... 79
3. Siklus APBN dari Rencana Hingga Hingga Pelaksanaan ... 82
4. Prinsip-Prinsip dalam Menyusun Anggaran ... 87
BAB VI Teori Dasar Perpajakan ... 101
1. Pengertian Pajak ... 101
2. Jenis dan Tariff Pajak ... 105
3. Fungsi dan Ciri-Ciri Pajak ... 110
4. Manfaat Pajak ... 113
5. Syarat Pemungutan Pajak ... 114
6. Pengelompokan Pajak ... 116
7. Hambatan dalam Pemungutan Pajak ... 118
BAB VII Dampak Pajak terhadap Masyarakat dan Ekonomi ... 121
1. Analisis Pajak dengan Kurva Supply dan Demand ... 121
2. Dampak Pajak decara Ekonomi Keseluruhan ... 122
3. Kriteria Tarif Pajak ... 126
BAB VIII Utang Negara ... 131
1. Tujuan dan Fungsi Strategi Pengelolaan Utang ... 131
2. Ruang Lingkup Strategi Pengelolaan Utang Negara ... 132
3. Lingkup Pengelolaan Utang Negara ... 133
4. Kebijakan Utang Negara ... 133
5. Alternative Instrument Pembiayaan Utang Negara ... 133
6. Risiko Utama Portofolio Utang Negara ... 138
7. Dampak Utang Negra/Luar Negeri ... 139
8. Solusi terhadap Utang Negara ... 141
9. Fenomena Chinese Money Trap ... 144
BAB IX Desentralisasi Fiskal ... 147
1. Definisi Desentralisasi Fiscal ... 147
2. Sejarah Desentralisasi Fiscal di Indonesia ... 148
3. Prinsip Desentralisasi Fiscal ... 151
4. Tujuan Desentralisasi Fiscal ... 152
5. Manfaat dan Kelemahan Desentralisasi Fiscal ... 154
6. Model-Model Desentralisasi Fiscal ... 156
7. Dimensi Ekonomi Desentralisasi Fiscal ... 157
8. Syarat-Syarat Keberhasilan dan Pelakasanaan Desentralisasi Fiscal ... 158
9. Hambatan dan Tantangan Desentralisasi Fiscal ... 159
BAB X Pajak Daerah ... 163
1. Dasar Pemungutan Pajak ... 163
2. Jenis-Jenis Pajak Daerah ... 164
3. Prinsip dan Karakteristik Pajak Daerah ... 166
4. Fungsi Pajak Daerah ... 169
5. Permasalahan-Permasalahan dalam Pemungutan Pajak Daerah ... 171
BAB XI Peran dan Fungsi Negara dalam Islam ... 177
1. Peran dan Fungsi Negara dalam Mengelola Sector Publik ... 177
2. Peran dan Fungsi Negara dalam Mengelola Keuangan Publik ... 181
BAB XII Instrumen zakat sebagai sumber penerimaan dan pengeluaran Keuangan Negara ... 185
1. Harta dan Kekayaan dalam Islam ... 185
2. Zakat sebagai Sumber Penerimaan ... 187
3. Sumber Zakat dan Potensi Zakat ... 189
4. Zakat sebagai Alat Ukur Kemakmuran ... 190
5. Hubungan Zakat dengan Ekonomi Makro ... 191
6. Zakat dalam Perspektif Pengeluaran Negara ... 191
7. Pihak yang Berhak Menerima Zakat ... 192
8. Ketentuan Penyaluran ... 196
9. System Pengeluaran Negara Zaman Rasulullah dan Khalifah .... 197
10. System Pengeluaran Zakat Kontemporer Dunia Islam ... 200
BAB XIII Instrumen NonZakat sebagai Sumber Penerimaan dan Pengeluaran Keuangan Negara ... 203
1. Praktik Dagang Rasulullah ... 203
2. Sumber Keuangan Negara Non Zakat ... 204
3. System Pajak Dalam Dunia Islam Kontemporer ... 206
4. Kaidah Belanja Negara Islam ... 208
5. Kebijakan Pengeluaran Negara ... 209
6. Kebijakan Pengeluaran Nonzakat Kontemporer ... 210
BAB XIV Instrumen Keuangan Publik dalam Ekonomi Islam ... 211
1. Institusi Baitulmal ... 211
2. Bait al-Maal wa at-Tamwil ... 214
3. Institusi Keuangan Islam Kontemporer ... 217
BAB XIV Isu kontemporer Keuangan publik ... 225
1. Wakaf ... 225
2. Tabungan Haji ... 231
3. Obligasi Syariah ... 234
Daftar Pustaka ... 241
Indeks ... 244
Glosarium ... 248
Tentang Penulis ... 252
BAB I
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP KEUANGAN PUBLIK
1. Pengertian
Keuangan publik merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari aktivitas finansial pemerintah. Sering disebut juga sebagai publik Sector Economics/publik economics. Fokus dari mata kuliah ini adalah pada fungsi mikroekonomi pemerintah, cara pemerintah mempengaruhi alokasi sumber daya yang ada dan distribusi pendapatan di masyarakat melalui kebijakan di bidang pajak, pengeluaran, dan kebijakan fiskal serta moneter yang berdampak pada pengangguran dan tingkat harga yang diajarkan pada mata kuliah lain. Keuangan Publik juga mengikuti bagaimana bentuk suatu Negara dan system pemerintahannya.
Secara umum, Terminologi Keuangan Publik yaitu dapat diartikan sebagai Keuangan Negara, keuangan pemerintah yang artinya aktifitas finansial pemerintahan (kajian kita tidak termasuk aktifitas pemerintah dalam perekonomian). Secara teori, tidak selalu jelas subjek dari publik finance, karena tergantung bentuk negara, sistem pemerintah dan konstitusi yang mengatur kehidupan kenegaraan suatu negara
Keuangan negara menurut UU 17/2003: semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa keuangan publik merupakan salah satu rumpun dari ilmu ekonomi yang pada dasarnya focus pada pengelolaan keuangan pemerintah, dimana objek peruntukannya untuk membiayai kegiatan operasional Negara dan konsentrasinya untuk kepentingan
masyarakat luas. Suatu Negara dalam mengelola setiap kegiatan perekonomiannya harus mengutamakan Kepentingan masyarakat daripada kepentingan individu atau segelintir orang.
Pandangan filosofis/organis mengatakan bahwa: Masyarakat dipandang sebagai suatu organisme/mahluk hidup yang alami, setiap individu merupakan bagian dari organism tadi dan pemerintah dapat dipandang sebagai jantungnya. Komunitas diletakkan di atas individual Tujuan dari masyarakat ditetapkan oleh pemerintah namun masyara- katlah yang merealisasikannya. Sedang menurut paham mekanis maka dikatakan bahwa pemerintah bukan organik, bagian dari masyarakat. Pemerintah itu diciptakan oleh individual untuk mencapai lebih baik tujuan para individual
Negarawan AS, Henry Clay (1829) mengatakan bahwa:
"Government is a trust and the officers of the government are trustee; and both the trust and the trustee are created for the benefit of the people." Jadi individual lebih diletakkan sebagai fokus dibandingkan dengan kelompok.
2. Alasan Mempelajari Keuangan Publik
Keuangan publik erat kaitannya dengan proses pengambilan keputusan berdasarkan demokrasi. Misal dalam penetapan APBN maka rancangan APBN yang terus membesar harus diajukan oleh pemerintah kepada DPR dan setelah melakukan pembahasan bersama dengan wakil rakyat tersebut kemudian barulah di setujui untuk dilaksanakan dengan menetapkannya dalam lembaran Negara.
Pertumbuhan sektor publik yang terus membesar tersebut Bagaimana penggunaannya apakah sudah sesuai dengan pasal 31 undang- undang 1945 tentang alokasi pendidikan yang minimal harus 20% dari angka APBN? Pengenaan pajak apa wajar dan adil Bagaimana penggunaan
penerimaan pajak itu apa sesuai aspirasi teks player? sektor publik bertanggung jawab mengenai Pertahanan Nasional, keadilan social dan pekerjaan umum, dan apa telah akomodasi dalam APBN. Apabila apabila wakil rakyat dipilih secara langsung dan demokratis maka para pemilih akan memonitor aktivitas para wakilnya, sehingga para wakil rakyat ini diharapkan akan bekerja lebih keras dan berusaha meyakinkan para pemilih bahwa kontribusi mereka akan menyebabkan pencapaian kondisi Negara dan rakyat yang lebih baik Disamping itu kebijakan publik sangat penting dalam kegiatan ekonomi nasional melalui kebijakan fiscal dan moneter nya.
Sebagai tokoh dari paham ekonomi klasik yang mengandalkan kepada ekonomi pasar (kekuatan invisible hands berupa supply dan demand) Adam Smith menghendaki agar pemerintah itu tidak terlibat dalam kegiatan ekonomi, namun cukup memberikan keamanan saja dan ilmu hukum serimg dikatakan bahwa fungsi pemerintah hanya sebagai penjaga malam. Namun seiring dengan perjalanan waktu maka dari berbagai krisis ekonomi seperti depresi ekonomi pada tahun 1932, sub-prime mortgage 2007 yang disusul dengan collapse-nya pasar modal Amerika Serikat pada tahun 2008 yang menyebabkan perusahaan multinasional yang bergerak di sektor keuangan seperti Citigroup, HSBC, Merril Lynch mengalami pengerutan nilai yang sangat signifikan memberikan pendapat Keynes Bahwa perlu adanya intervensi pemerintah pada perokonomin. Hukum say dari jean batiste say yang mengatakan bahwa suplly creates its owned demand dan fleksibiltas harga itu ternyata tidak terbukti sepenuhya.
Segera, Keadaan krisis pada sektor keuangan itu kemudian berimbas ke pelemahan sektor riil yang ditandai dengan kebangkrutan dan kekacauan di berbagai perusahaan besar di AS seperti General Motors, Ford, Chrysler yang terpaksa memutuskan kelangsungan kerja ribuan karyawannya.
Tingkat pengangguran di AS meningkat mencapai 6,7% seiring dengan peningkatan pesimisme di kalangan konsumen dan investor sepanjang kurun September-November 2008. Krisis terus berlanjut ditandai dengan terus terjadinya kebangkrutan pada banyak perusahaan di Amerika Serikat sehingga pemutusan hubungan kerja(PHK) Yang di AS pada tahun 2009 mencapai angka 10% yang merupakan tingkat PHK terbesar dalam 34 tahun terakhir(sumber: departemen tegana kerja AS). Sedang Negara lain juga mengalami hal yang sama tergambar pada data berikut ini:
a. Pengangguran di Inggris MENCAPAI 1,92 juta b. Pengangguran di Spanyol naik dari 13% ke 16%.
c. Pengangguran di Perancis meningkat dari 7,9% menjadi 10%.
d. Beberapa Prusahaan mengurangi pegawai e. Citigroup mengurangi 52.000 pegawai
f. bank of Amerika mengurangi 35.000 pegawai g. Nissan Motor Inggris mengurangi 1.200 pegawai h. Microsoft mengurangi 5.000 pegawai
i. Motorola mengurangi 4.000 pegawai j. Sony mengurangi sebesar 18.000 pegawai k. Honda mengurangi 3000 pegawai
Pada penghujung Tahun 2008 saja, Amerika serikat mengeluarkan kebujakan yang menelan biaya hamper 1,3 triliun USD untuk menyelamatkan perekonomiannya. Tentu kita belum lupa dengan biaya sebesar lebih dari Rp 600 triliun untuk menyelamatkan perbankan nasional pada saat krisis 1997/1998.
Dari krisis yang terjadi tersebut membuktikan bahwa peran sektor publik demikian menentukan dalam pemulihan ekonomi suatu negara.
Sebagai bukti dapat kita lihat misalnya untuk menanggulalangi krisis
ekonomi dan perbankan pada tahun 1998-2000 maka pemerintah Indonesia telah mengeluarkan dana sebesar Rp600 triliun. Sedang untuk mengendalikan dampak dari krisis pasar modal di Amerika Serikat maka telah dilakukan pemberian stimulus fiskal senilai 73,3 triliun dollar Amerika Serikat. Krisis ekonomi global tersebut telah mempengaruhi perekonomian.
a. Penurunan ekspor
b. Penurunan tingkat produksi c. Penurunan pertumbuhan ekonomi
d. Peningkatan pengangguran dan kemiskinan
Negara-negara lainnya seperti China, Austrakia, Jepang, Hongkong, New Zealand, negara-negara ASEAN juga terpengaruh krisis global. Untuk meminimalkan efek negative dari krisis ekonomi global, pemerintah dan DPR sepakat untuk merumuskan langkah penyesuaian melalui program stimulasi fiskal.
a. Stimulasi Fiskal sebesar Rp73,3 T, terdiri dari stimulasi keringanan perpajakan dan kepabeanan sebesar Rp56,4 Triliun, serta stimulasi belanja negara dan pembiayaan sebesar Rp17,0 triliun
b. Defisit APBN 2009 meningkat dari 1% PDB menjadi 2,5% PDB sebagai dampak dari pemberian fasilitas pajak baik dalam bentuk PPn maupun PPh.
c. Kenaikan defisit APBN 2009 tersebut kemudian dibiayai dari:
SILPA (sisa pagu Anggaran) 2008, Pembiayaan utang dari penarikan pinjaman siaga, dan Tambahan pinjaman program.
3. Pentingnya Sektor Publik
Dari uraian pada bagian sebelumnya maka dapat diketahui bahwa sektor publik di banyak negara seperti di Amerika Serikat, China dan juga di
Indonesia, belanja pemerintah memberikan kontribusi lebih dari dua puluh persen kepada pendapatan nasional (GNP). Di negara- negara Eropa Barat ataupun negara yang masih menganut paham komunis, prosentase belanja publik tersebut bisa lebih besar karena pada negara komunis peranan swasta itu sangat kecil. Namun dengan runtuhnya negara federasi Uni Soviet, modernisasi di China dan kegagalan ekonomi pasar menyebabkan kebijakan publik memegang peranan penting dalam mempengaruhi kegiatan ekonomi nasional, baik melalui kebijakan fiskal maupun moneter dan penganggaran.
Sektor publik sekarang dan sektor swasta merupakan kesatuan integral dalam sistem perekonomian kebanyakan negara.
Dalam sistem perekonomian kapitalis, peranan pelaku usaha yang semula sangat signifikan belakangan ini menjadi berkurang. Semula dengan paham ekonomi pasar yang mereka kembangkan dan diyakini bisa menyediakan barang dan jasa secara efesien yang menghendaki adanya kebebasan individu yang mutlak dan tidak membenarkan pengaturan ekonomi oleh pemerintah, kecuali dalam hal-hal yang tidak dapat dilakukan sendiri oleh para individu saat ini paradigma itu telah berubah dengan collapse-nya perusahaan multinasional yang mereka miliki dan kemudian harus di bail-out oleh pemerintahnya. Pada situasi semacam itu, peran pemerintah semakin penting untuk mengatur dan mengelola kepentingan publik dalam bentuk penyediaan publik goods dengan karakteristik bahwa kegiatan tersebut tidak ditujukan untuk memperoleh keuntungan.
John Stuart Mill yang merupakan pengikut paham Keynes menyampaikan alasan-alasan tentang perlunya aktivitas publik yang me- dilakukan oleh pemerintah sebagai berikut:
a. Campur tangan pemerintah, walaupun harus membatasi kebebasan individu melalui perundangan yang ditegakkan, sangatlah dibutuhkan
dalam memelihara perdamaian dan melindungi masyarakat terhadap serangan yang dating dari luar maupun dari dalam.
b. Bahwa pemerintah haruslah bersifat inferior dalam melakukan kegiatan industry dan perdagangan dapat diterima pada kebanyakan Negara, karena ada pepatah yang mengatakan apa yang dilakukan oleh pemerintah juga dapat dikerjakan oleh sector swasta.
c. Bahwa juga yakni bahwa individu akan lebih percaya diri apabila mengerjakan sesuatu untuk kepentingannya sendiri,sehingga pemerintah hanya bergerak dalam renah yang menyangkut kepentingan publik atau umum.
Dalam perkembangannya, paham ekstrim seperti itu yang ber- pendapat bahwa apa yang dikerjakan oleh negara dapat juga dilakukan oleh swasta tidak ada lagi bersifat absolut sehingga negara kapitalis pun memandang perlu adanya peranan pemerintah dalam perekonomian.
Pemerintah semakin diperlukan dalam melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi karena mekanisme pasar dalam sistem kapitalis sebagaimana telah terbukti pada berbagai krisis ekonomi yang terjadi mempunyai beberapa kelemahan. Di antara kelemahan-kelemahan mekanisme pasar tersebut adalah sebagai berikut:
a. Adanya kebutuhan masyarakat akan barang publik yang tidak dapat disediakan oleh mekanisme pasar, sehingga harus disediakan oleh pemerintah.
b. Adanya perbedaan antara biaya pribadi dengan biaya social, manfaat pribadi dan manfaat social, sehingga pemerintah secara nyata diperlukan dalam pengelolaan biaya dan manfaat social karena swasta tidak begitu tertarik mengelolanya.
c. Adanya resiko dan juga modal yang sangat besar yang tidak mungkin disediakan dan dikelola oleh swasta.
d. Adanya sifat monopoli dalam bidang usaha tertentu yang merugikan masyarakat menyebabkan pemerintah harus campur tangan menetralisir distorsi tersebut agar monopoli tidak merugikan rakyat dan pelaku ekonomi yang lain.
e. Adanya inflasi dan penangguhan yang tidak dapat diselesaikan secara otomatis oleh mekanisme pasar.
f. Adanya tuntutan akan redistribusi pendapatan yang lebih merata pada masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mengurangi kesenjangan tidak dapat dilakukan oleh pelaku usaha.
g. Adanya kebutuhan pelayanan social bagi masyarakat yang tidak mampu dan berusia lanjut agar tetap bias hidup layak dan tidak terpinggirkan.
Akan tetapi, fungsi sektor publik berbeda dengan fungsi rumah tangga dan perusahaan dalam perekonomian Terdapat hubungan yang kuat antara arus kegiatan pada sektor swasta (rumah tangga dan perusahaan swasta) dengan sektor pemerintah. Sektor publik (anggaran pendapatan dan belanja pemerintah) memberi kontribusi pada pasar faktor produksi dan pasar produk (komoditas berupa barang dan jasa) sehingga merupakan bagian integral dari sistem pembentukan harga barang dan jasa. Oleh karena itu dalam merancang suatu kebijakan fiskal, perlu diperhatikan bagaimana sektor swasta akan bereaksi.
Penyediaan barang publik tidak dibiayai oleh penjualan barang dan jasa yang disediakan oleh pemerintah, tapi dibiayai melalui penerimaan pajak, penerimaan lain selain pajak atau melalui pembiayaan berupa penggunaan Sisa Lebih Pagu Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya, penggunaan dana cadangan, penjualan asset negara ataupun pinjaman baik
dari dalam ataupun dari luar negeri. Demikian juga pembelian barang dan jasa yang disediakan oleh swasta. Barang dan jasa yang disediakan oleh peme- rintah (publik goods) dapat saja diproduksi oleh pemerintah, atau diproduksi oleh swasta untuk dijual kepada pemerintah. Peranan sektor publik dalam perhitungan GNP (Gross National Product) atau pendapatan nasional adalah bahwa pemerintah memberi kontribusi terhadap GNP melalui penyediaan barang publik dan pembelian barang dan jasa.
4. Karakteristik Keuangan Publik
Dalam menilai pentingnya sektor publik, digunakan kriteria bahwa pengeluaran publik haruslah sesuai dengan keinginan masyarakat umum, adanya preferensi pengambilan kebijakan publik yang terdesentralisasi, dan tidak menyerahkan ekonomi hanya pada kekuatan pasar semata saja karena mekanisme pasar berupa kekuatan supply dan demand yang oleh mahzab klasik dianggap sebagai invisible hands ternyata tidak dapat merespon berbagai perubahan yang ada sehingga perlu adanya intervensi pemerintah.
Dengan demikian karakteristik kebijakan publik mempunyai sifat mengarahkan, mengoreksi, dan melengkapi peranan mekanisme pasar.
Rincian karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Untuk mencapai efesiensi pasar yaitu kondisi di mana produksi barang dan jasa yang mencerminkan keingginan pasar, mensyareatkan adanya informasi yang lengkap mengenai pasar baik bagi produsen maupun konsumen dan peraturan pemerintah diperlukan untuk menjamin persyaratan kelengkapan informasi itu.
b. Peraturan pemerintah diperlukan untuk mengoreksi penyimpangan yang terjadi bila terdapat kondisi persaingan yang tidak efisien dan merukan distorsi terhadap pasar.
c. Pertukaran barang dan jasa tertentu dalam mekanisme pasar terkadang tidak memberikan manfaat kepada pelaku usaha sehingga perlu ada pengaturan dan proteksi dari pemerintah untuk melindungi pelaku pasar.
d. Timbulnya masalah ekternalitas (akan dibahas lebih lanjut pada bagian lain) perlu dipecahkan oleh pemerintah, melalui kebijakan pajak, anggaran, subsidi dan ketentuan pemerintah lainnya.
e. Perlu peran social yang dilakukan oleh pemerintah dalam distribusi pendapatan dan kesejahteraan dalam mekanisme pasar.
f. Kebijakan publik diperlukan intuk menjamin kesempatan kerja, stabilitas harga dan tingkat pertumbuhan ekonomi.
5. Ruang Lingkup Keuangan Publik
Bahasan keuangan publik dimulai dari keadaan dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian, diantaranya:
a. Kondisi-kondisi adanya eksternalitas kegiatan oleh suatu pihak yang berdampak pada kegiatan pihak yang lain yang perlu dikendalikan.
b. Adanya barang publik yang perlu disediakan oleh pemerintah
c. Adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pemerintah karena berbagai alasan perlunya pencapaian stabilitas dalam ekonomi berupa kestabilan harga maupun Tersedianya kebutuhan pokok masyarakat.
Keuangan Publik juga mencoba memberi gambaran tentang pilihan publik yang menyangkut pemilihan anggota lembaga negara seperti DPR/DPD dan lembaga pelayanan publik seperti bupati dan walikota, keseimbangan publik tersebut dapat dicapai melalui proses pemilihan umum. Hasil pemilihan umum ini akan menghasilkan keputusan di
antaranya menyangkut penyediaan barang dan jasa publik, dan juga alokasi dan distribusi sumber daya.
Kemudian, bahasan Keuangan Publik akan mencakup masalah- masalah kreasi memperoleh pendapatan yang dilakukan oleh pemerintah.
Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan nonpajak, dan dalam keuangan publik, sumber-sumber tersebut akan dihubungkan dengan aspek keadilan dan distribusi pendapatan.
Keuangan Publik kemudian akan membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. Contoh-contoh belanja pemerintah tersebut meliputi pendidikan, kesehatan dan pertahanan, di mana bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut. Salah satu titik penting sisi belanja tersebut juga akan mencakup efek pengganda (multiplier) yang diperankan oleh pemerintah.
Aspek pembiayaan merupakan area pembahasan Keuangan Publik berikutnya. Secara tipikal, pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertum- buhan dari waktu ke waktu, di mana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. Untuk menutup kekurangannya, pemerintah dapat melakukan usaha-usaha memperoleh sumber pendanaan lainnya melalui utang, misalnya. Bahasan yang meliputi kegiatan memperoleh pendapatan, kegiatan yang mencakup belanja publik dan kegiatan pembiayaan sering disebut sebagai struktur fiskal (fiscal structure).
Dari aspek penerimaan pajak sendiri yang tendensinya terus meningkat seiring dengan kebutuhan yang juga meningkat terus namun
selalu dapat dipenuhi dengan dicapainya target penerimaan pajak yang telah ditetapkan.
Pembahasan keuangan publik terakhir biasanya juga menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta. Dari berbagai shock atau gejolak yang dampaknya signifikan adalah terjadinya kenaikan harga minyak di pasaran internasional yang apabila tidak ditangani secara hati-hati akan dapat menimbulkan gejolak harga di dalam negeri. Misal kenaikan harga minyak mentah dari $40 Amerika Serikat per barel yang terjadi secara meyakinkan dan mencapai harga $150 yang juga diiringi dengan gejolak dolar Amerika Serikat sangat memukul perekonomian kita.
Pada tahun 2008 harga ICP (Indonesia Crude Price atau asumsi harga minyak mentah) APBN 2008 diasumsikan sebesar 95 USD/barel telah bergerak ke angka 103,2 USD/barel dalam bulan April 2008, dan terus meningkat. Dalam waktu yang sama dolar Amerika Serikat bergerak dari Rp9.100,00 ke angka Rp9.240,00 menguras subsidi pemerintah. Dengan subsidi yang diberikan pemerintah, gejolak harga minyak dapat diredam sehingga stabilitas harga juga dapat dikendalikan yang berdampak positif pada kegiatan perekonomian masyarakat. Terlihat jelas bahwa dengan subsidi maka menyebabkan signifikannya perbedaan harga minyak di dalam negeri dengan pasar internasional sehingga memancing hasrat untuk menyelundupkan atau menjual BBM bersubsidi kepada kapal berbendera internasional di samping timbulnya moral hazard lain dalarn bentuk penumpukkan BBM bersubsidi guna mencari keuntungan dengan mengantisipasi tetrjadinya kenaikan harga lebih lanjut.
Dengan demikian, ruang lingkup Keuangan Publik akan menyangkut ketiga bidang utama sebagai berikut:
a. Permasalahan keuangan pemerintah itu sendiri, dengan keterbatasan- terbatasan yang ada.
b. Segala kegitan yang berhubungan dengan alokasi sumber daya, distribusi pendapatan, dan aspek stabilisasi.
c. Analisis hubungan sector publik dan sektor swasta.
BAB II BARANG PUBLIK
1. Pengertian Barang Publik
Secara umum barang publik biasa dipahami sebagai sesuatu yang dapat dinikmati atau dibutuhkan oleh semua orang. Suatu barang publik merupakan barang-barang yang tidak dapat dibatasi siapa penggunanya dan sebisa mungkin bahkan seseorang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya. Defenisi barang publik yang paling umum menekankan pada dua atribut yang kelihatannya menjadi karakteristik dari banyak barang yang diproduksi pemerintah yang bersifat non eksklusif atau non excludable dan non rivalry.
Barang yang mempunyai ciri Non rivaly in consumption adalah konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi orang lain untuk mengkonsumsi barang tersebut, tidak penting apakah bagian/jumlah barang yang dikonsumsi itu disukai atau tidak atau suatu barang dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama dalam jumlah yang sama tanpa mengurangi kenikmatan orang lain yang mengkonsumsi barang publik tersebut. Sedang yang dimaksudkan dengan non-exclusion/non excludable adalah bahwa tidak mungkin untuk mencegah/mengecualikan seorang anggota masyarakat untuk mengkonsumsi suatu barang publik.
Mengecualikan atau membatasi anggota masyarakat untuk mengkonsumsi suatu barang publik adalah sangat sulit atau tidak mungkin untuk dilakukan.
Contoh barang publik adalah sinyal/gelombang televisi,gelombang radio, dan mercu suar. Masyarakat dapat menikmati siaran televisi atau siaran radio secara bersama-sama tanpa mengurangi kenikmatan orang lain yang sama-sama menikmati siaran suatu stasiun televisi tertentu dan
siapapun tidak bisa dicegah/ dihalangi untuk menikmati siaran tersebut.
Demikian juga setiap kapal yang melewati suatu kawasan di laut yang dipasang mercusuar dapat menikmati manfaat dari mencusuar tersebut, tanpa membedakan apakah kapalnya itu kapal pesiar mewah, kapal tanker atau kapal nelayan yang kecil sekalipun. Barang publik semacam itu disebut sebagai pure publik goods karena manfatnya tidak terbatas.
Di samping itu ada barang publik yang lain seperti jalan raya, jembatan, perpustakaan publik, taman umum dan juga lapangan olahraga yang apabila penggunanya banyak maka sifat nonrivalry in consumptionnya menjadi terbatas sehingga bila sudah penuh pengguna berikutnya bisa di exclude dalam mengkonsumsi barang publik tersebut. Barang publik semacam itu disebut sebagai congestible goods di mana bila penggunanya sudah banyak maka bisa terjadi congestion (kemacetan).
Gambar 2.1
Beberapa contoh Barang Publik
Tower listrik, penerangan jalan, jalan raya dan jembatan merupakan beberapa contoh fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah. Penyediaan infrastruktur tersebut bukan tidak menimbulkan masalah, pertanyaannya yaitu seberapa besar pemerintah harus menyediakan barang publik karena keterbatasan kemampuan anggaran pemerintah.
Penyediaan barang publik dalam jumlah yang terlalu besar akan menyebabkan terjadinya pemborosan sumber-sumber ekonomi, sebaliknya penyediaan barang dan jasa publik yang terlalu sedikit akan menimbulkan ketidakpuasan masyarakat. Pengadaan barang publik banyak dibiayai oleh penerimaan pajak namun tidak tertutup kemungkinannya bahwa swasta juga bisa ikut menyediakaan barang publik misalnya dengan membangun sekolah, rumah sakit atau fasilitas umum lain yang kemudian diserahkan kepada pemerintah daerah. Pengembang perumahan misalnya diharuskan menyedikaan fasum (fasilitas umum) dan fasos (fasilitas sosial). Fasum bisa berupa jalan lingkungan, taman dan sekolah sedang fasos bisa berupa rumah persinggahan anak jalanan ataupun panti jompo.
AC pigou berpendapat bahwa penyediaan barang publik akan memberi manfaat (utility) bagi masyarakat, sebaliknya pajak yang dikenakan akan menimbulkan ketidakpuasan masyaraakat (disutility).
Sebaliknya, semakin banyak barang dan jasa publik, semakin besar biaya yang dibutuhkan, dan konsekuensinya semakin besar pula pajak yang dipungut dari masyarakat. Secara teorotis, penyediaan barang dan jasa publik akan optimal, apabila kepuasan masyarakat yang diperolehnya sama dengan ketidakpuasan masyarakat dari pemungutan pajak. Persoalannya tidak seorang pun yang mau dengan suka rela mengemukakan kesukannya akan barang sosial, karena kesukaan ini akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengenakan tarif. Selain itu apabila barang publik sudah tersedia. Di
sinilah pengenaan pajak memperoleh dasar pembenaran yang harus diterima oleh masyarakat.
2. Identifikasi Barang Publik
Dalam mengklasifikasi barang publik kita dapat gunakan kriteria berupa tingkat excludability dan tingkat rivalry, sebagai berikut. Dengan mempertimbangkan sifat rivalry dan excludability.
Karakteristik barang publik di antaranya adalah:
1. Tidak bersaing dalam konsumsinya (nonrival in consumption): barang publik dapat dinikmati oleh lebih dari satu konsumen tanpa mengurangi jumlah atau kualitas yang dinikmati oleh konsumen lain
Contoh : transimisi televisi, mencusuar , siaran radio
2. Tidak eklusif (nonexclusion): setiap anggota masyarakat tidak mungkin dicegah dalam mengkonsumsi barang publik atau pembatasan untuk mengkonsumsi sangat sulit untuk dilakukan atau sangat mahal. Ada free rider ( penumpang gelap).
Contoh: tidak ada anggota masyarakat yang bisa dihalangi untuk menggunakan jalan raya, menikmati siaran TV atau kembang api walaupun pesta kembang api itu didanai dari iuran / sumbangan masyarakat.
3. Kedua karakteristik tersebut tidak selalu bersifat absolut. Karakteristik nonrival dan nonexclusion bervariasi tingkatannya. Ketika jumlah pengguna meningkat maka kepadatan akan terjadi yang menurunkan jumlah/kualitas dalam berkonsumsi. Misal ketika pengguna jalan raya sudah demikian banyak maka terjadi kemacetan yang menyulitkan pengguna jalan raya baru untuk menggunakan jalan. Hal serupa terjadi pada barang publik lain seperti taman umum, rumah sakit, perpustakan
dan tempat parkir umum. Jadi klasifikasinya tidak absolute. Barang publik yang mempunyai ciri semacam itu disebut sebagai congetible goods.
Gambar 2.2
Kepadatan Jalan Raya dan Taman
3. Perbedaan Barang Publik dan Barang Pribadi
Barang publik adalah barang-barang yang mempunyai dua sifat pokok yaitu non rivalry in consumption dan nonexclusion/nonexcludable.
Nonrivalry in consumption mengandung maksud bahwa orang dapat mengkonsumsi secara bersama-sama terhadap barang tersebut atau, pada tingkat tertentu, konsumsi yang dilakukan atas barang tidak akan mengurangi jumlah barang/kualitas yang tersedia bagi orang lain. Contoh barang publik dengan sifat ini adalah sinyal televisi atau radio, jalan raya dan pertahanan nasional di mana konsumsi terhadap barang tersebut oleh seseorang tidak mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk ikut mengkonsumsinya.
Sedangkan nonexclusion/nonexcludable mengandung arti bahwa orang tidak dapat membatasi manfaat atas barang tersebut pada orang-orang yang sanggup membayar saja. Dengan kata lain, apakah seseorang itu mau
membayar atau tidak (menjadi free rider) dalam mengkonsumsi barang tersebut.
Terdapat beberapa perbedaan karakteristik antara barang pribadi dan barang publik pertukaraan barang pribadi dalam mekanisme pasar tidak menghasilkan eksternalitas, sedangkan pertukaran barang publik selain dapat menghasilkan manfaat eksternal juga dapat menyebabkan beban eksternal bagi pihak lain. Contoh barang publik yang menghasilkan manfaat eksternal positif adalah pertahanan nasional dan contoh barang publik yang menghasilkan beban adalah penyediaan mesin disel atau peralatan yang lain menyebabkan adanya polusi udara.
Perbedaan lain adalah bahwa biaya marjinal untuk distribusi barang publik kepada konsumen adalah nihil.hal ini merupakan efek dari sifat nonrivalry in consumption.suatu unit barang pribadi hanya dapat dinikmati oleh konsumen tertentu dan setelah itu tidak tersedia bagi orang lain,sedangkan suatu barang publik tidak dapat dibagi-bagi menjadi bagian- bagian yang terpisah yg dapat dikonsumsi habis. Jadi, satuan kuantitas barang publik dapat dinikmati bersama-sama secara kolektif oleh sekelompok orang.
Untuk memperjelas karakteristik diatas, misalkan ada sekelompok orang yang berada disatu ruangan tertentu. Setiap hari, penghuni ruangan ini dapat mengkonsumsi sejumlah roti dan udara yang sejuk dari alat pendingin ruangan. Jumlah roti yg tersedia akan dikonsusmsi dengan porsi yang sama oleh orang-orang yang berada diruangan itu dan bila seseorang akan mengkonsumsi lebih dari porsinya, dipastikan akan mengurangi porsi orang lain. Di lain pihak, tidak mungkin membagi udara yg telah didinginkan kepada orang-orang yg berada dalam ruangan tersebut. semua orang akan mengkonsumsi udara dengan temperatur yang sama. Penambahan orang
dalam ruangan sampai batas tertentu, tidak akan mempengaruhi tingkat konsumsi atas udara sejuk tersebut.Tidak mungkin orang akan mengkonsusmsi udara ruangan dengan temperatur yang berbeda satu sama lain.sejumlah roti mempunyai karakteristik sebagai barang pribadi sedangkan udara dingin seperti diuraiankan diatas mempunyai karakteristik sebagai barang publik bagi orang-orang yang menghuni ruangan tersebut.
Dari uraian-uraian tersebut diatas maka secara ringkas dapat disajikan dalam matrik sebagai berikut tentang ciri,perbedaan dan penyediaan barang publik.
Tabel 2.1
Perbedaan antara Barang Publik Murni dan Barang Privat Murni No Barang Publik Murni Barang Privat Murni
1 Tidak bersaing dalam konsumsinya
Bersaing dalam konsumsinya
2 Manfaat bisa dinikmati oleh siapa saja( tidak ekslusif)
Manfaatnya hanya bisa dinikmati bila mau membayar untuk barang tersebut (eklusif) 3 Mengakibatkan manfaat
eksternal bagi banyak orang
Tidak ada eksternalitas baik positif maupun negatif
4 Tidak ada dibagi dalam satuan- satuan tertentu untuk dibagi rata kepada konsumen manfaatnya dinikmati secara kolektif oleh seluruh populasi
Dapat dibagi dalam satuan- satuan tertentu yang dinikmati sendiri-sendiri oleh tiap konsumen maka banyak dikonsumsi oleh satu orang.
Makin sedikit yang tersedia untuk konsumen lain
Penyediaan barang publik tidak harus dilakukan oleh pemerintah melainkan bisa juga oleh swasta.
a. Dilakukan oleh pemerintah melalui institusi politik.
b. Dilakukan oleh swasta melalui pasar.
“Mekanisme distribusi tergantung pada aturan dan kesepakatan yg berlaku dimasyarakat seperti yg diatur dalam Keputusan Presiden nomor 80.
Barang publik tidak selalu disediakan oleh pemerintah dan sebaliknya barang privat juga tidak selalu disediakan swasta”.
“Barang privat yang disediakan pemerintah : jasa transportasi,listrik,air minum”.
“Barang publik yang dikelola swasta melalui pasar : Jasa hiburan televisi dan jasa komunikasi lain”.
“Barang dan jasa dapat juga disediakan oleh swasta melalui pasar dan pemerintah melalui instansi politik : sekolah swasta dan negeri, taman rekreasi, lapangan olahraga (tenis, golf, kolam renang)”.
Gambar 2.3
Beberapa contoh Barang Pribadi
4. Free Rider Problem
Secara umum, Free rider merupakan seseorang atau pihak tertentu yang mendapat manfaat dari barang publik, tetapi tidak berkontribusi terhadap biaya penyediaannya. Mereka dengan demikian bebas menunggangi upaya orang lain. Dengan kata lain, individu tersebut mengkonsumsi atau mengambil manfaat dari barang tanpa membayarnya. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini dikenal dengan sebutan pengendara bebas atau penunggang bebas.
Pengertian yang lain juga menjelaskan bahwa free rider merupakan sebuah mekanisme yang mensyaratkan adanya kontribusi secara sukarela untuk penyediaan dan pembiayaan barang publik agar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam kelompok anggota masyarakat yang kecil seperti masyarakat pedesaan, masing-masing orang kenal satu sama lain dan apabila mempunyai gagasan untuk menyediakan suatu barang akan mudah mencapai kompromi, karena setiap anggota kelompok dengan mudah dapat mengindentidikasi manfaat barang tersebut.
Sebagai contoh, sekelompok orang yang menghuni sebuah pedesaan mempunyai kepentingan yang sama dalam memperbaiki jalan akses ke desa tersebut atau mengadakan fasilitas keamaan seperti portal, akan secara mudah mencapai kompromi untuk menyediakan barang publik tersebut dengan medanai secara bersama-sama. Selain proses mencapai kesepakatannya tidak rumit, ada keterikatan sosial antar mereka.
Tetapi, jika jumlah orang kelompok tersebut yang berdampak pada peningkatan jumlah orang terlibat dalam proses pengambilan keputusan maka bila selera dan kemampuan ekonomi berbeda, sepertinya akan sulit menggambarkan preferensi kelompok tersebut, karena tidak seorangpun dalam kelompok besar tersebut secara akurat memperoleh informasi tentang manfaat nyata pengadaan barang publik. Disatu pihak, seseorang akan
secara sukarela memberikan konstribusi untuk penyediaan barang politik tersebut, namun dilain pihak, akan terdapat orang-orang yang enggan memberikan konstribusi biaya. Mereka mengetahui secara persis bahwa barang publik yang akan dibeli atau diadakan tidak mungkin hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membayar saja.
Apabila kondisi itu terjadi, akan ada orang-orang yang mengambil manfaat barang publik tanpa memberikan konstribusi apa pun terhadap biaya penyediaan barang tersebut. Orang ini disebut free rider. Problem muncul jika free rider berjumlah banyak dan akhirnya penyediaan barang publik, misalnya perbaikan jalan akses ke desa, tidak jadi dilakukan. Semua anggota kelompok tersebut, pada akhirnya tidak dapat menikmati kenyamanan meggunakan jalan tersebut.
Gambar 2.4
Gotong Royong Memperbaiki Jalan
Beberapa contoh lainnya juga seperti Warga sebuah desa patungan untuk membeli lampu penerangan jalan. Setelah terpasang, lampu tersebut sangat bermanfaat bagi warga sekitar. Meskipun bermanfaat bagi warga sekitar, warga luar desa yang melintasi wilayah tersebut juga mendapatkan manfaat yang sama walau mereka tidak ikut patungan membeli.
Contoh lainnya adalah Wikipedia. Meskipun ratusan juta orang menggunakannya, hanya sebagian kecil dari pengguna yang membayar untuk menggunakannya. Meski tidak membayar, mereka dapat mengambil manfaat
dari informasi yang diberikan oleh situs web. Pertahanan nasional adalah contoh lain yang memunculkan free rider. Baik yang membayar maupun yang tidak, semua warga negara memperoleh perlindungan yang sama dari aparat polisi dan tentara.
Ada dua alasan kenapa barang publik memunculkan pengendara bebas.
Alasan pertama adalah karena konsumsi atau jasa barang publik oleh satu pihak tidak mengurangi ketersediaannya bagi pihak lain. Selain itu, tidak mungkin untuk mengecualikan pihak lain dari mengkonsumsi atau menggunakan barang publik. Karena dua alasan ini, konsumen dapat memanfaatkan barang publik tanpa membayarnya.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi adanya free rider atau penumpang gelap tersebut, maka ada beberapa solusi yang dapat dilakukan yaitu meminta sumbangan bagi warga yang menikmati fasilitas tersebut seperti warga luar yang masuk ke dalam komplek perumahan.Sumbangan tersebut dapat membantu dalam perbaikan fasilitas perumahan seperti jalan raya dikemudian hari. Pemerintah juga dapat menarik pajak atas fasilitas yang telah diberikan seperti pengenaan pajak atas pertahanan Nasional guna membiayai anggaran pertahanan karena semua orang telah menikmatinya.
5. Eksternalitas
Eksternaliti adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh suatu pihak yang berdampak pada kesejahteraan pihak lain. Eksternalitas bisa positif atau negatif. Misal seorang warga dengan sukarela memasang lampu jalanan dengan watt yang besar sehingga menerangi jalan di depan rumahnya.
Penerangan jalan tersebut tidak saja berdampak positif bagi rumah warga yang bersangkutan tapi juga bermanfaat bagi orang lain yang mengunakan jalan tersebut sehingga menjadi terasa lebih aman dan dipermudah
perjlanannya. Namun akan berbeda bila seorang membakar sampah dikotak sampahnya yang asapnya masuk ke rumah orang lain dan menimbulkan pencermaran udara sehingga jemuran dan kamar rumah tetangga menjadi bau asap dan menyesakkan pernafasan. Terakhir ini yang disebut sebagai eksternaliti negatif.
Gambar 2.5
Eksternalitas Positif dan Eksternalitas Negatif
BAB III
PERANAN PEMERINTAH DALAM PEREKONOMIAN
1. Peranan Utama Pemerintah
Pemerintah di negara manapun mempunyai peran penting dan strategi dalam kehidupan penyelenggaran bernegara. Penyelenggaraan kehidupan bernegara bertujuan untuk mencapai tujuan bernegara, yakni untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan semua warganya. Secara umum, tugas pemerintah dalam melayani kebutuhan dan melindungi kepentingan publik dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yaitu tugas di bidang ekonomi dan di luar ekonomi. Misi pertama dari dibentuknya dari suatu pemerintahan dalam suatu negara adalah menjalankan fungsi dan tugas negara. Pemerintah sebagai penyelenggara negara bertugas melayani kebutuhan dan melindungi kepentingan masyarakat (publik).
Peran Pemerintah sangat berpengaruh khususnya dibidang perekonomian dan dalam berbagai krisis global yang terjadi maka peran pemerintah tidak saja berfungsi dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi guna meningkatkan standar kehidupan penduduk agar bisa keluar dari jurang kemiskinan, namun sudah menjadi penyelamat perekonomian.
Dalam berbagai krisis yang terjadi, hampir semua negara melakukan bail-out terhadap perusahaan keuangan, tidak saja pada lembaga perbankan namun juga lembaga keuangan bukan bank seperti perusahaan asuransi.
Tanpa uluran tangan pemerintah maka fungsi lembaga keuangan akan hancur yang berdampak pada kehancuran ekonomi nasional walaupun Stiglitz (2008) mengatakan bahwa banyak di antara bank Amerika yang besar bergeser keluar dari “lending business” masuk ke bidang “moving
business”. Mereka berfokus membeli aset, mengemasnya kembali, dan menjualnya seraya menunjukkan ketidakmampuan menilai resiko dan menyaring kelayakan kredit.
Keberhasilan suatu rezim pemerintahan sebagai penyelenggra negara, yaitu pemerintah pusat maupun daerah, sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk menyejahterakan masyarakat. Oleh karena itu, setiap pemerintah harus memikirkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Tugas pemerintah di ekonomi publik adalah meningkatkan dan melindungi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan, sedangkan tugas di luar ekonomi adalah meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang diindikasikan dengan peningkatan PAM dan peningkatan pendapatan asli negara melalui pengelolaan sumber daya ekonomi nasional, yang tergambar dalam APBM, khususnya dibagian penerimaan negara yang bukan dari hutang, sedangkan di bagian penegeluaran tergambar dari pengeluaran atau belanja negara yang berkaitan dengan kesejahteraan publik secara keseluruhan.
Keterkaitan antara tugas dan fungsi pemerintahan dengan kesejahteraan masyarakat dan aktivitas investasi terlihat pada bagaimana pemerintah mengatur, mengelola, dan mendorong aktivitas ekonomi nasionalnya.
Pemerintah pada hakekatnya mengemban tiga fungsi utama yaitu fungsi distribusi, fungsi stabilisasi, dan fungsi alokasi. Fungsi distribusi dan fungsi stabilisasi pada umumnya lebih efektif dan tepat dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Sedangkan fungsi alokasi dilaksanakan oleh Pemerintah daerah yang lebih mengetahui kebutuhan, kondisi, dan situasi masyarakat setempat. Fungsi-fungsi tersebut harus dilaksanakan dengan baik melalui koordinasi, sinkronisasi, dan sinergi antar tingkatan pemerintah.
2. Alasan Keterlibatan Pemerintah dalam Ekonomi
Stiglitz (2008) mengatakan bahwa teori ekonomi sudah lama men- jelaskan mengapa pasar yang tidak diregulasi tak akan mampu melakukan koreksi diri, mengapa diperlukan regulası, mengapa ada peran penting yang bisa dimainkan pemerintah dalam perekonomian. MenurutKeynes, pasar bukan hanya tidak mampu mengoreksi dirinya sendiri, tapi juga dalam keadaan downturn ekonomi yang parah, kebijakan moneter saja tidak efektif. Diperlukan kebijakan fiskal. lapi tidak semua kebijakan fiskal itu setara. Keynes risau dengan apa yang dinamakan liquidity trap ketidakmampuan badan moneter mendorong peningkatan pasokan kredit guna meningkatkan kegiatan ekonomi.
Dalam situasi tertentu, mekanisme pasar mengarah pada alokasi sumber daya yang efisien yang timbul pada saat tidak seorang pun dapatdipuaskan lebih baik tanpa menyebabkan orang lain mengalami penurunan tingkat kesejahteraannya (sering disebut efisiensi Pareto optimum). Mekanisme pasar menghadapi sifat optimal individu sebagai free rider yang pada gilirannya akan menyebabkan barang publik tidak akan tersedia dalam jumlah yang cukup.
Buchanan (1974) menunjukkan bahwadengan penyediaan barang publik yang dipadukan dengan adanya persaingan antar daerah, maka tingkat kesejahteraan masyarakat tidak akan terlalu jauh dari batas optimal Pareto. Namun demikian, suatu masyarakat dapat saja memilih alokasi yang tidak efisien atas dasar kesetaraan atau kriteria lainnya. Kondisi inilah yang menyebabkan adanya suatu intervensi pemerintah dalam operasi pasar bebas. Ada dua argumen perlunya intervensi pemerintah yaitu kegagalan mekanisme pasar merespon perubahan yang terjadi dan aspek
ketidakkeadilan yang terjadi di pasar yang menyebabkan kerugian pada masyarakat yang perlu dinetralisir oleh pernerintah.
a. Kegagalan Mekanisme Pasar
Mekanisme pasar yaitu kekuatan permintaan (demand) dan penawaran (supply) akan menghasilkan produk dengan harga yang efisien. Namun demikian, tidak semua barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dapat dipenuhi oleh pasar karena mungkin suatu produk kurang menguntungkan bila diproduksi. Oleh karena itu terjadi kegagalan pasar, diantaranya:
1) Adanya barang yang bersifat nonviral dan nonexcludable, seperti jasa pertahanan nasional dan penerangan jalan, yang membuat tidak mungkin membebankan biaya penyediaannya kepada para pengguna melalui mekanisme pasar.
2) Konsumsi atau produksi barang/jasa publik mungkin menghasilkan suatu akibat eksternal positif atau negatif kepada masyarakat yang tidak tercermin dalam harga barang. Tanpa intervensi pemerintah, pasar akan memproduksi barang publik tersebut secara berlebihan atau kekurangan, tergantung pada apakah eksternalitas ini baik atau buruk.
3) Tidak bisa bergeraknya sumber daya yang produktif, terutama tenaga kerja, dapat membantu mencegah pencapaian alokasi sumber daya yang efisien.
4) Informasi yang tidak simetris dan tidak sempurna mungkin mengarah pada penilaian yang salah atas barang dan jasa publik, dan dengan demikian menyebabkan penawan dan permintaan yang tidak tepat.
5) Akhirnya, kegagalan pasar juga berhubungan dengan permasalahan dari seleksi yang tidak menguntungkan dan adanya moral hazard
ketika pembeli atau penjual bertindak secara eksklusif atas dasar mecari keuntungan bagi dirinya sendiri.
b. Aspek Keadilan
Pemerintah dalam menyelenggarakan kegiatan perekonomian selalu mengedepankan aspek keadilan, diantaranya:
1) Kepedulian secara luas atas kebutuhan mengatasi kemiskinan secara lebih serius harus menjadi perhatian oleh pemerintah
2) Data empiris di seluruh dunia secara umum menyarankan bahwa peningkatan keberhasilan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pembangunan lebih ceapat, dan kurangnya kemiskinan.
3) Ketidak-adilan sering memunculkan kecemburuan sosial yang menghasilkan ketidaknyamanan, ketidak-amanan dan kejahatan, sehingga terjadi eksternalitas negatif yang mempengaruhi pertumbuhan dan keadilan sosial, secara nasional dan global.
4) Peranan sektor swasta dan kebutuhan kemitraan dalam kesempatan, pemberdayaan dan proteksi perlu fasilitasi oleh pemerintah.
5) Penekanan pada aspek keadilan bukan berarti bahwa hanya negara yang harus atau dapat memberikan kontribusi menekan kemiskinan.
Tugas ini berhubungan dengan penyediaan kesempatan, pemberdayaan dan proteksi. Tiga dimensi pokok dari kemiskinan yang tidak dimiliki secara eksklusif oleh sektor publik.
6) Sektor swasta dapat berperan aktif dalam menciptakan kesmpatan ekonomi (penciptaan lapangan kerja, kredit), mempromosikan tambahan kepada anggota masyarakat (erat hubungannya kepada produsen dan pekerja swasta), dan memberikan kontribusi untuk mengurangi ketidakadilan melalui aktivitas yang berhubungan dengan
pemerintah dan partisipasinya dalam sektor swasta (rumah sakit umum dan sekolah yang dananya dari swasta).
Dengan demikian, peran pemerintah terdiri dari:
a. Sebagai penyedia barang dan jasa publik (Provider Role)
Monopoli yang dialami oleh sektor tertentu seperti energi, tambang dan lain-lain, saat ini menimbulkan pertanyaan berkaitan dengan perkembangan teknologi yang sudah demikian maju. Negara harus menyediakan barang publik untuk menjamin stabilitas ekonomi makro, keadilan, lingkungan yang bersih, penyelesaian konflik, perlindungan hak asasi, dan stabilitas nasional. Namun demikian, tidak semua fungsi tersebut mensyaratkan kehadiran negara sebagai penyedia barang atau jasa publik, melainkan negara cukup mengatur agar tersedianya kepastian hukum dan terciptanya kondisi ekonomi yang adil dan menguntungkan bagi para pelaku usaha.
b. Peran Kemitraan (Partnership Role)
Suatu Negara maupun sektor swasta tidak dapat berfungsi secara tepat jika tidak dilakukan secara bersamaan. Pada kondisi yang normal dimana pengangguran dan tingkat harga terkendali serta produktivitas tetap tinggi, negara lebih banyak dibutuhkan dalam perannya sebagai regulator dari mekanisme pasar dan sebagai fasilitator dari lingkungan kelembagaan dan pengaturan yang kondusif atas pembangunan sektor swasta. Pemerintah dapat menjadi mitra swasta dalam penyediaan peraturan perundangan yang aspiratif, pembangunan infrastruktur dasar dan perlindungan dari risiko dan kerugian dalam pembangunan, misal tersedia sarana asuransi yang memadai.
3. Fungsi Alokasi
Dilihat dari fungsi alokasi, suatu barang publik yang berbeda sifatnya dengan barang pribadi, tidak dapat disediakan melalui mekanisme pasar melalui transaksi antara konsumen dan produsen secara individu.
Seringkali terjadi bahwa mekanisme pasar berfungsi, namun tidak efisien.
Alasannya yaitu:
a. Akibat kegagalan mekanisme pasar, hubungan anatara produsen dan konsumen yang terjadi dalam mekanisme pasar tidak ada dan pemerintah lah yang harus bersedia memproduksi barang publik.
Pemerintah harus mengambil tindakan apabila mekanisme pasar tidak berjalan.
b. Akibat kegagalan mekanisme pasar yang lain adalah bahwa proses politik akan menggantikan mekanisme pasar. Pemerintah harus menjamin bahwa proses politik dalam pengambilan keputusan penyediaan barang publik dapat terjadi secara efisien.
Barang pribadi dapat diproduksi dan dijual kembali baik oleh swasta maupun oleh perusahaan pemerintah. Sedangkan, barang publik dengan cara yang sama dapat diproduksi oleh perusahaan swasta yang dijual kepada pemerintah atau dapat juga diproduksi secara langsung oleh pemerintah.
Masalah-masalah yang timbul dalam fungsi alokasi adalah berapa banyak barang publik yang harus disediakan oleh pemerintah termasuk jenis maupun kualitas barangnya.
Adapun beberapa langkah yang melatarbelakangi fungsi alokasi yang dilakukan oleh Pemerintah, diantaranya:
a. Penyediaan Barang Melalui Anggaran Pemerintah
Sebagaimana telah diterangkan dalam bab sebelumnya, penyediaan barang publik perlu adanya campur tangan pemerintah.
Masalah yang timbul kemudian adalah bahwa setiap individu seharusnya mau membayar atas setiap manfaat yang dia terima, namun karena manfaat yang diterima dari barang publik dirasaakn oleh banyak orang, maka orang tidak bersedia untuk membayar manfaat barang. Akan timbul masalah tentang jenis dan kualitas barang seperti apa yang harus disediakan oleh pemerintah. Masalah lain yang timbul, ketika pemerintah akan menetapkan jumlah uang yang harus disumbangkan untuk memperoleh barang publik.
Oleh karena itu, diperlukan proses politik untuk mengungkapkan preferensi masyarakat kepada pemerintah tentang barang publik apa yang perlu disediakan dan melengkapinya dengan sumber-sumber tersebut.
Untuk ini, dilakukan proses pemungutan suara guna menetapkan keputusan perpajakan dan pengeluaran publik.
Pengungkapan preferensi masyarakat kepada pemerintah dilakukan melalui suatu proses pemungutan suara. Proses ini dimulai dengan pemahaman dari anggota masyarakat tentang pentingnya memberikan suara mereka, karena setiap keputusan pemerintah diambil mebikuti keputusan suara terbanyak. Namun dalam prakteknya, sering anggota masyarakat merasa bahwa biaya yang mereka keluarkan untuk menyatakan tuntutan mereka seringkali lebih besar dari manfaatnya.
Akibatnya, tidak cukup informasi yang disampaikan oleh masyarakat kepada pemerintah.
b. Keterbatasan Jangkauan Manfaat atas Barang Publik
Pada dasarnya, barang publik disediakan untuk semua orang yang mempunyai kepentingan atas barang tersebut. Namun dalam praktiknya, ada barang publik yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat di dalam negara (berskala nasional) dan ada barang publik yang hanya
dapat dimanfaatkan oleh sekelompok orang tertentu (berskala lokal).
Melihat sifatnya tersebut, barang publik berskala nasional lebih tepat disediakan oleh pemerintah pusat, sementara barang publik berskala lokal lebih tepat disediakan oleh pemerintah lokal atau pemerintah daerah.
Barang publik berskala lokal mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. Selain itu dalam skala lokal akan lebih dimungkinkan untuk mengatasi permasalahan free rider. Sebagai contoh, dalam suatu kelompok yang kecil seperti di kampung, kebersamaan dan kerjasama di antara anggota kelompok bisa berjalin baik sehingga kontribusi seseorang baik itu berupa waktu, uang, maupun pemberian suara akan dapat menciptakan perubahan atas suatu keputusan. Dalam kondisi seperti itu terlihat, sehingga akan lebih memperkecil timbulnya masalah free rider karena khwatir sanksi sosial dari masyarakat sekitar.
Barang publik berskala lokal adalah barang-barang yang diproduksi oleh pemerintah lokal, yang dalam garis spektrum mempunyai sifat tidak bersaing yang rendah. Dari berbagai macam barang publik jenis ini, ada yang disebut dengan istilah congestible goods, yaitu hanya pada waktu penggunaannya padat dan penggunanya mencapai jumlah- jumlah tertentu. Sementara di waktu yang lain ketika jumlah pengguna barang ini hanya sedikit, maka sifat tidak bersaingnya akan menjadi tinggi. Sehingga, jika pemerintah lokal harus menarik kontribusi atas pengguna barang publik ini, maka biaya marjinalnya bisa akan lebih mahal dari manfaat marjinalnya. Apabila dimungkinkan, pemerintah lokal tidak perlu menarik kontribusi dari pengguna barang publik ini.
c. Alokasi yang Efisien melalui Mekanisme Pasar
Sekarang kita mempertimbangkan suatu kondisi di mana baik barang publik maupun barang pribadi diproduksi. Bagi barang pribadi