BAB II BARANG PUBLIK
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA
2. Tiga Prinsip APBN
APBN di Indonesia disusun atas dasar tiga prinsip, diantaranya:
a. Prinsip anggaran berimbang
Sejak tahun 1999 tidak lagi menggunakan prinsip anggaran berimbang dalam menyusun APBN, tetapi berdasarkan prinsip anggaran defisit.
Bedanya dengan prinsip anggaran berimbang adalah bahwa pada anggaran defisit ditentukan:
1) Pinjaman LN tidak dicatat sebagai sumber penerimaan melainkan sebagai sumber pembiayaan.
2) Defisit anggaran ditutup dengan sumber pembiayaan DN + sumber pembiayaan LN (bersih).
Adapun rumusnya yaitu:
PNH – BN = DA DAP = AP – TP
PbDN = PkDN + Non-Pk DN PbLN = PPLN – PC PULN Keterangan:
PNH = pendapatan Negara dan hibah BN = belanja Negara
DA = defisit anggaran PbDN = pembiayaan DN PkDN = Perbankan DN Non-PkDN = Non-Perbankan DN PbLN = pembiayaan LN
PPLN = penerimaan pinjaman LN
PCPULN = pembayaran cicilan pokok utang luar negeri BN = bantuan luar negeri
Sedangkan rumus dari anggaran berimbang sendiri yaitu:
PDN – PR = TP DAP = AP – TP Keterangan:
PDN = pendapatan DN PR = pengeluaran rutin
TP = tabungan pemerintah
DAP = defisit anggaran perimbangan AP = anggaran pembangunan b. Prinsip Anggaran Dinamis
Terdapat anggaran dinamis absolut dan anggaran dinamis relative.
1) Anggaran bersifat dinamis absolut apabila Tabungan Pemerintah (TP) terus meningkat dari tahun ke tahun.
2) Anggaran bersifat dinamis relative apabila prosentase kenaikan TP (∆TP) terus meningkat atau prosentase ketergantungan pembiayaan pembangunan dari pinjaman luar negeri terus menurun.
c. Prinsip Anggaran Fungsional
1) Anggaran fungsional berarti bahwa bantuan/pinjaman LN hanya berfungsi untuk membiayai anggaran belanja pembangunan (pengeluaran pembangunan) dan bukan untuk membiayai anggaran belanja rutin.
2) Prinsip ini sesuai engan azas “bantuan luar negeri hanya sebagai pelengkap” dalam pembiayaan pembangunan. Artinya semakin kecil sumbangan atau bantuan/pinjaman luar negeri terhadap pembiayaan anggaran pembangunan, maka semakin besar pula fungsionalitas anggaran.
Tolak ukur kuantitatif untuk menentukan sampai seberapa jauh makna
“Sebagai pelengkap” misalkan:
a) Bila nilai Ri: > 50% = bantuan/pinjaman luar negeri sebagai sumber daya utama.
b) Bila nilai Ri: 20% - 50% = bantuan/pinjaman luar negeri sebagai sumber dana penting.
c) Bila nilai Ri: <20% = bantuan/pinjaman luar negeri sebagai sumber dana pelengkap
3. Siklus APBN dari Rencana Hingga hingga Pelaksanaan Fase-fase budget process/cycle ada 5, yaitu:
a. Budget Preparation: persiapan anggaran oleh elsekutif (pemerintah) dan perangkat-perangkatnya. Tahap ini meliputi dua kegiatan, yaitu perencanaan dan pengangguran.
b. Legislative Enacment: persetujuan legislatif (DPR) c. Budget Execution: pelaksanaan APBN
d. Financial Reporting: laporan akhir tahun oleh eksekutif (pemerintah) kepada legislatif (DPR), Di Indonesia, pelaporan APBN dilakukan 2 kali, yaitu laporan pelaksanaan APBN smester I, dan laporan keuangan pemerintah puasat (LKPP), Tahapan ini merupakan bagian dari tahap pertanggungjawaban.
e. Auditing: merupakan tahap akhir dari siklus APBN, di mana realisasi APBN diaudit oleh badan pemeriksa keuangan.
Fase-fase dalam siklus APBN di Indonesia, Menurut UU No. 17 Tahun 2003 dan UU No. 1 Tahun 2004 disajikan dalam diagram dibawah ini.
RKA-KL DALAM SIKLUS PERENCANAAN, PENGANGGARAN, DAN PELAKSANAAN ANGGARAN
BAPPENAS RPJM PP
PERENCANAAN
KEMENTERIAN/LEMBAGA
RENSTRA-KL
-
BAPPENAS-DEPKEU PAGU
INDIKATIF
SEB
KEMENTERIAN/LEMBAGA RENJA-KL
DEP. KEUANGAN NOTA KEU &
RAPBN
PEMERINTAH-DPR LKPP UU PERTNGGJWB
Sumber: Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
Dalam tabel di atas dapat dilihat bahwa siklus APBN terdiri dari 5 tahapan, yaitu tahap perencanaan, penganggaran, pengesahan anggota, pelaksanaan dan pertanggungjawaban. Tahap perencanaan dimulai dari penyusunan arah dan kebijakan umum APBN, yang didasarkan pada rencana pembangunan jangka menengah (RPJM), dan diakhiri pada saat RKP telah disahkan. Tahap penganggaran dimulai sejak pagu sementara ditetapkan hingga pembahasan dengan DPR mengenai Nota Keuangan (NK) dan RAPBN. Sementara itu, tahap pengesahan APBN terdiri dari dua kegiatan penting, yaitu pengesahan UU dan penetapan Perpres mengenai rincian APBN. Setelah RUU APBN disahkan menjadi UU APBN, maka setiap K/L wajib mengusulkan draft DIPA dan menyampaikannya ke
Departemen Keuangan untuk disahkan. DIPA tersebut merupakan instrument untuk melaksanakan APBN. Selanjutnya tahap pertanggungjawaban terjadi pada saat Pemerintah dan DPR membahas laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) menjadi UU.
Dilihat dari kronologis waktu, fase pertama dimulai sekitar bulan Februari tahun berjalan untuk membahas persiapan penyusunan pagu indikatif, berdasarkan asumsi ekonomi makro yang disusun oleh Tim.
Setelah disetujui oleh presiden dalam siding Kabinet, pagu indikatif tersebut selanjutnya diedarkan ke kementerian/Lembaga melalui Surat Edaran Nasional/Kepala Bappenas. Berdasarkan pagu indikatif tersebut, masing-masing K/L tersebut merupakan bahan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah, yang dikompilasikan oleh Bappenas. Selanjutnya, pada pertengahan bulan Mei tahun berjalan Pemerintah menyampaikan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal dan Kerangka Ekonomi Makro kepada DPR RI yang akan dibahas bersama dalam pembicaraan pendahuluan antara Pemerintah dengan DPR RI. Berdasarkan hasil kesepakatan tersebut, Pemerintah menyusun Perpres mengenai RKP tahun berikutnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil pembahasan dan kesepakatan dalam pembicaraan pendahuluan, maka pagu indikatif akan berubah menjadi pagu sementara. Berdasarkan pagu sementara tersebut, K/L menyusun kembali atau menyesuaikan RKA-KL masing-masing. Pagu sementara inilah yang merupakan angka-angka yang akan dipasang dalam buku Nota Keuangan dan RAPBN tahun berikutnya. NK dan RUU APBN tersebut disampaikan oleh presiden bersamaan dengan Pidato Kenegaraan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dalam merespon pidato kenegaraan Presiden dalam mengantarkan NK dan RAPBN, fraksi-fraksi akan menyampaikan pemandangan umumnya
masing-masing dalam Masa Sidang Pertama berdasarkan pemandangan umum fraksi-fraksi tersebut, pemerintah yang diwakili oleh Departemen Keuangan melakukan pembahasan RAPBN tahun berikutnya bersama dengan DPR RI, dalam hal ini Panitia Anggaran. Bersamaan dengan itu, Kementerian/Lembaga melakukan pembahasan dengan Komisi terkait secara parallel mengenai RKA K/L masing-masing K/L RUU APBN tahun berikutnya tersebut harus disahkan menjadi UU APBN pada akhir oktober tahun berjalan. Dengan disahkannya UU APBN, maka pagu sementara akan ditetapkan menjadi pagu definitive.
Tingkat pembicaraan RUU APBN anatara Pemerintah dengan DPR dilakukan dalam 2 tingkat pembicaraan, yaitu Tingkat I yang meliputi: rapat Komisi, rapat gabung Komisi, rapat Badan Legislasi, dan rapat Panitian Anggaran atau rapat pPanitia Khusus, serta Tingkat II yang meliputi: rapat Paripurna pengambilan keputusan. Sebelum dilakukan pembicaraan Tingkat I dan Tingkat II tersebut diadakan Rapat Fraksi.
Berdasarkan UU APBN yang telah disahkan tersebut, K/L bersama dengan Departemen Keuangan dan Bappenas menyusun Rincian Anggaran Belanja K/L untuk menetapkan RAB K/L perjenis belanja dan mencocokan dengan standar biaya agar terjadi efisiensi anggaran. RAB tersebut harus disahkan paling lambat pada akhir November tahun berjalan. Berdasarkan RAB K/L tersebut, K/L menertibkan DIPA K/L yang selanjutnya diserahkan ke Departemen Keuangan c.q Direktorat dengan RAB K/L dan proses pencairan anggaran. DIPA K/L tersebut harus sudah diserahkan oleh masing-masing K/L kepada DJPB paling lambat 31 Desember tahun berjalan.
Secara garis besar, siklus APBN dapat dilihat pada skema gambar di bawah ini:
Sumber: Pusdiklat Anggaran dan Perbendaharaan
Sedangkan jika dirangkum siklus dari APBN di atas, maka:
a. Penyusunan APBN (Januari-Juli tahun n-1) b. Penetapan APBN (16 Agustus-Oktober tahun n-1) c. Pelaksanaan APBN (Januari-Desember tahun n) d. Perubahan APBN (Nopember tahun n)
e. Pertanggungjawaban APBN (Juli n+1)
UU 17/2003 mnentukan bahwa anggaran adalah alat akuntabilitas, manajemen dan kebijakan ekonomi. Sebagai instrument kebijakan ekonomi, anggaran berfungsi untuk mewujudkan pertumbuhan dan stabilitas perekonomian serta pemerataan pendapatan dalam rangka mencapai tujuan bernegara.
Anggaran mempunyai karakteristik:
a. Dinyatakan dalam satuan keuangan dan satuan selain keuangan;
b. Umumnya mencakup jangka waktu tertentu, satu atau beberapa tahun;
c. Berisi komitmen atau kesanggupan manajemen untuk mencapai sasaran yang ditetapkan;
d. Usulan anggaran ditelaah dan disetujui oleh pihak yang berwenang lebih tinggi dari penyusunan anggaran; dan
e. Sekali disusun, anggaran hanya dapat diubah dalam kondisi tertentu.