• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Pengertian Pariwisata

Menurut Undang-undang No. 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan, yang dimaksud pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multi disiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha.

Menurut Undang-Undang RI Nomor 10 tahun 2009, daya tarik wisata dijelaskan sebagai segala sesuatu yang memiliki segala keunikan, kemudahan dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau kunjungan wisatawan. Dengan kata lain daya tarik wisata adalah sifat yang dimiliki oleh suatu objek atau daerah berupa keunikan, keaslian, kelangkaan, lain dari pada yang lain, memiliki sifat yang menumbuhkan semangat dan nilai bagi wisatawan. (Marpaung & Sahla, 2017)

Pariwisata adalah serangkaian kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh perorangan atau keluarga ataupun kelompok dari tempat tinggal asalnya ke berbagai tempat lain dengan tujuan melakukan kunjungan wisata dan bukan untuk bekerja atau mencari penghasilan di tempat tujuan. (Soedarso, 2014)

Pengertian pariwisata menurut Norval dalam Muljadi dan Nurhayati (2002, h.80) adalah keseluruhan kegiatan yang berhubungan dengan masuk, tinggal, dan pergerakan penduduk asing di dalam atau di luar suatu negara, kota, atau wilayah

tertentu. Menurut definisi yang lebih luas yang dikemukakan oleh Kodhyat (1983) pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu. Selanjutnya menurut Musanef (1995) mengartikan pariwisata sebagai suatu perjalanan yang dilaksanakan untuk sementara waktu, yang dilakukan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menikmati perjalanan bertamasya dan berekreasi.

Menurut Yoeti (2008) pariwisata harus memenuhi empat kriteria di bawah ini, yaitu:

1) perjalanan dilakukan dari suatu tempat ke tempat lain, perjalanan dilakukan di luar tempat kediaman di mana orang itu biasanya tinggal;

2) tujuan perjalanan dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang, tanpa mencari nafkah di negara, kota atau DTW yang dikunjungi.

3) uang yang dibelanjakan wisatawan tersebut dibawa dari negara asalnya, di mana dia bisa tinggal atau berdiam, dan bukan diperoleh karena hasil usaha selama dalam perjalanan wisata yang dilakukan; dan

4) perjalanan dilakukan minimal 24 jam atau lebih.

5) Dalam pengertian kepariwisataan terdapat empat faktor yang harus ada dalam batasan suatu definisi pariwisata. Faktor-faktor tersebut adalah perjalanan itu dilakukan dari satu tempat ke tempat lain, perjalanan itu harus dikaitkan dengan orang-orang yang melakukan perjalanan wisata semata-mata sebagai pengunjung tempat wisata tersebut. (Primadani, 2015)

2.5. Pengertian Pemasaran 2.5.1. Pengertian Pemasaran

Pemasaran dalam arti sempit oleh para pengusaha sering di artikan sebagai pendistribusian, termasuk kegiatan yang dibutuhkan untuk menempatkan produk yang berwujud pada tangan konsumen rumah tangga dan pemakai industri.

Pengertian ini tidak mencakup kegiatan mengubah bentuk barang . Akan tetapi pengertian tentang pemasaran sebenarnya lebih luas dari kegiatan tersebut.Dari pandangan lain, pemasaran diartikan sebagai kegiatan penciptaan dan penyerahan tingkat kesejahteraan hidup kepada anggota masyarakat. Konsep terlalu luas mengenai pengertian pemasaran ini menimbulkan adanya kekaburan terutama dalam mempelajarinya. Oleh karena itu, timbullah berbagai usaha yang menggunakan berbagai pendekatan dalam rangka mempelajari dan mendalaminya.

Pemasaran telah didefenisikan dalam berbagai pengertian seperti telah diutarakan diatas. Menurut American Marketing Association,pemasaran diartikan sebagai hasil prestasi kerja kegiatan usaha yang langsung berkaitan dengan mengalirnya barang atau jasa dari produsen ke konsumen .Pengertian ini hampir sama dengan kegiatan distribusi, sehingga gagal menunjukkan asas-asas pemasaran, terutama dalam menentukan barang atau jasa apa yang dihasilkan. Hal ini terutama disebabkan karena pengertian pemasaran diatas tidak menunjukkan kegiatan usaha yang khusus terdapat dalam pemasaran.

Pengertian lain adalah yang menyatakan pemasaran sebagai usaha untuk menyediakan dan menyampaikan barang dan jasa yang tepat kepada orang-orang yang tepat pada tempat dan waktu serta harga yang tepat dengan promosi dan

komunikasi yang tepat. Pengertian atau defenisi ini memberikan suatu gagasan kegiatan tertentu yang dilakukan oleh para tenaga pemasaran. Akan tetapi, pengertian ini ternyata gagal menentukan kegiatan pemasaran secara luas, yang mencakup tidak hanya barang dan jasa yang terbatas. Oleh karena itu, terdapat pengertian atau defenisi lain yang lebih luas tentang pemasaran, yaitu sebagai usaha untuk menciptakan dan menyerahkan suatu standar kehidupan. Pengertian ini berbeda dengan yang sebelumnya, karena penekanannya pada pandangan makro atau sosial dari pemasaran.

Disamping pengertian yang telah disebutkan diatas, terdapat pengertian yang sering digunakan dalam pembahasan tentang pemasaran, pengertian tersebut menyatakan pemasaran sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.

Berdasarkan pengertian ini, pembahasan tentang pemasaran dapat lebih jelas dan terbatas dalam pembatasan yang tegas, terkait dengan kegiatan pemasaran yang berlaku universal. (Assauri, 2004)

Pemasaran pariwisata adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana wisatawan dan penyedia jasa wisata mendapatkan kebutuhan dan keinginanannya melaluipertukaran. Penyedia jasa menciptakan, menawarkan jasa wisata, dan bertukar jasa wisata yang berkualitas (nilai) yang ditawarkan sehingga kedua belah pihak memperoleh kepuasan.

Pemasaran kepariwisataan dapat dipersamakan dengan pemasaran jasa lainnya seperi jasa keuangan ( finance service), jasa eceran (retailing services), jasa perdagangan (commercial services) dan sebagainya. Ada beberapa hal yang membuat pemasaran pariwisata berbeda dengan pemasaran barang (marketing of

industrial atau consumer goods) yakni; intanggibility, perishability, heterogeneity, inseparability dan lack of ownership(Morrison, 1996).

Jadi dapat dijelaskan dari model dasar pariwisata bahwa sektor pariwisata mencakup kegiatan bisnis yang luas dan merupakan peluang kegiatan pariwisata yang luas juga bagi wisatawan. (Ginting, 2011)

2.5.2. Strategi dalam Pemasaran Pariwisata

Kotler dan Amstrong (2008), mendefinisikan bahwa strategi pemasaran adalah logika pemasaran dimana unit bisnis berharap untuk menciptakan nilai dan memperoleh keuntungan dari hubungannya dengan konsumen. Kurtz (2008), mendefinisikan bahwa strategi pemasaran adalah keseluruhan program perusahaan dalam menentukan target pasar dan memuaskan konsumen dengan membangun kombinasi elemen dari marketing mix (produk, distribusi, promosi, dan harga).

Kotler dan Amstrong (2008), mendefinisikan bahwa strategi pemasaran pariwisata adalah suatu kumpulan perencanaan alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan perusahaan atau kelompok industri pariwisata untuk menghasilkan respon yang diinginkan di pasar sasaran.

Menurut Diarta (2009), mendefinisikan bahwa pariwisata sebagai layanan khusus yang menyediakan produk layanan atau jasa. Sedangkan menurut Spillane dalam Wahid (2015), mendefinisikan bahwa pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian dan kebahagiaan dengan lingungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam, dan ilmu.

Strategi pemasaran mempunyai peranan yang sangat penting untuk keberhasilan usaha perusahaan umumnya dan bidang pemasaran khususnya. Di

samping itu, strategi pemasaran yang ditetapkan harus ditinjau dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan pasar dan lingkungan pasar tersebut. Dengan demikian, strategi pemasaran harus dapat memberi gambaran yang jelas dan terarah tentang apa yang akan dilakukan perusahaan dalam menggunakan setiap kesempatan atau peluang pada beberapa pasar sasaran. Dalam hal ini dibutuhkan dunia bagian yang sangat penting dan saling berkaitan, untuk mencapai keberhasilan kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan, yaitu sasaran pasar yang dituju (target market), dan acuan pemasaran yang dijalankan (marketing mix) untuk sasaran pasar tersebut. (Assauri, 2004)

Analisis SWOT merupakan salah satu instrument yang tepat untuk merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), sekaligus berperan sebagai alat untuk minimalisasi kelemahan (weaknesses) yang terdapat dalam tubuh organisasi dan menekan dampak ancaman (threats) yang timbul dan harus dihadapi (Siagian, 2008). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan, misi, tujuan, strategi, dan kebijakan. Dengan demikian perencanaan strategis harus menganalisis faktor- faktor strategis (kekuatan, kelemahan, peluang, ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.(Hidayat, 2011)

Pemasaran pariwisata berarti merancang pariwisata untuk dapat memenuhi kebutuhan pasar sasaran. Rancangan pariwisata ini akan berhasil bila masyarakat daerah wisata dan pelaku bisnis pariwisata merasa senang, dan dapat memenuhi harapan-harapan wisatawan dan penanam modal. Strategi perbaikan pariwisata adalah merancang prasarana, jasa pariwisata, dan atraksi-atraksi yang dapat

dipandang sebagai “Building Blok” untuk strategi bersaing yang spesifik. Untuk mengadopsi pendekatan perencanaan pasar strategis dalam persaingan pariwisata perhatian harus ditujukan terhadap fitur-fitur dan atribut-atribut yang dapat menghasilkan landasan strategi pemasaran(Kotler,1993).

Filosofi dalam strategi pemasaran pariwisata Sumatera Utara seyogianya beranjak dari konsep pemasaran sosial Kotler et.al.(1999) yang menyatakan sebagai berikut: konsep pemasaran sosial ini harus menentukan kebutuhan, keinginana, dan kepentingan pasar sasaran dan memberikan kepuasan yang diinginkan lebih efektif dan efisien dari pesaing didalam mempertahankan dan memperbaiki kesejahteraan konsumen dan masyarakat. Jadi strategi pemasaran pariwisata Sumatera ini harus dapat menghasilkan kepuasan wisatawan, pelaku bisnis, dan masyarakat. (Ginting, 2011)