BAB V : ANALISA DATA
TINJAUAN PUSTAKA
5. Perserikatan Bangsa-Bangsa
2.2. Pelayanan Sosial
2.2.1 Pengertian Pelayanan Sosial
Pelayanan dalam istilah kesejahteraan sosial diartikan suatu upaya atau usaha pemberian bantuan atau pertolongan kepada orang lain, baik berupa materi maupun non materi agar orang itu dapat mengatasi masalahnya sendiri. Pelayanan bermakna adanya usaha atau kegiatan untuk menolong, adanya orang yang akan ditolong berupa barang, uang, tenaga dan bantuan lainnya (Jayaputra, 2005:11).
Jadi pelayanan kesejahteraan sosial yaitu semua bentuk kegiatan pelaksanaan yang dilakukan secara profesional. Kesejahteraan itu sendiri merupakan sistem yang terorganisir dari pelayanan-pelayanan individu dan kelompok untuk mencapai taraf hidup dan kesehatan. Relasi pribadi dan sosial yang memungkinkan mereka menggabungkan kemampuan dalam meningkatkan kesejahteraan yang selaras dengan kebutuhan keluarga dan masyarakatnya.
Sedangkan istilah “sosial” berasal dari bahasa latin: socius yang berarti kawan atau teman. Manusia lahir dengan apa adanya kemudian mulai hidup dengan saling membina kesetia kawanan. Menurut Dr. J. A. Ponsioen, sosial dapat diartikan sebagai suatu indikasi daripada kehidupan bersama makhluk manusia, umpamanya dalam kebersamaan rasa, berfikir, bertindak dan dalam hubungan antara manusia, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain itu, sosial juga
dapat diartikan sebagai suatu sikap saling membantu, saling tolong-menolong, saling tenggang rasa dan saling kesetiakawanan antara satu individu dengan individu yang lain, baik dalam memenuhi suatu kebutuhan maupun memecahkan suatu masalah-masalah/persoalan-persoalan yang dialami secara bersamam-sama dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi pelayanan sosial berarti usaha pemberian bantuan atau pertolongan pada orang lain, baik materi maupun non-materi agar orang tersebut dapat mengatasi masalahnya sendiri (Suparlan, 1983:76).
Pelayanan sosial dipahami secara luas dan secara sempit. Pelayanan sosial dalam pengertian luas mencakup pelayanan yang diperuntukkan bagi orang banyak atau kepentingan orang banyak yang memerlukan waktu lebih dari satu hari. Pelayanan yang dilakukan antara lain meliputi pendidikan, kesehatan, pelayanan kerja, perumahan dan lain-lain (Jayaputra, 2005:38).
Sedangkan pelayanan sosial dalam arti sempit sama dengan pelayanan sosial yang dilakukan secara khusus untuk perseorangan atau kelompok tertentu yang menggunakan waktu kurang dari enam jam. Pelayanan yang bersifat khusus antara lain terhadap lanjut usia terlantar, anak terlantar dan penyandang cacat. Pelayanan sosial terhadap lanjut usia dapat dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang peduli terhadap lanjut usia.
Secara konseptual terdapat dua pendekatan pelayanan sosial terhadap lanjut usia yaitu pendekatan berbasis lembaga dan berbasis masyarakat. Pendekatan
berbasis lembaga disebut juga pendekatan dalam panti. Pendekatan yang memberikan
pelayanan antara lain pengasramaan, permakanan, agama, kesehatan, pakaian, pendidikan, relasi sosial, keterampilan dan rekreasi. Pendekatan berbasis masyarakat yang disebut pendekatan luar panti. Sasarannya yaitu organisasi sosial, kelompok,
keluarga dan perorangan. Mereka diharapkan mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memberikan pelayanan sosial lanjut usia (Rudito, 2003:38).
Pelayanan terhadap lanjut usia terbagi dua program yaitu program pokok dan program penunjang. Khususnya program pokok antara lain tentang kesejahteraan sosial, jaminan sosial, sumber daya manusia lanjut usia, kesehatan, kesempatan kerja, pembinaan kerohanian dan keagamaan, bina keluarga lanjut usia, peningkatan sarana dan fasilitas khusus, peningkatan partisipasi keluarga dan masyarakat, organisasi sosial, dunia usaha, dan pembinaan antar generasi (Departemen Sosial RI, 2005:39).
Pelayanan terhadap lanjut usia yang sudah dilakukan pemerintah dan dunia usaha dalam kemudahan untuk sarana dan prasarana. Kegiatan yang dimaksud seperti pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP) seumur hidup bagi tiap orang yang sudah memasuki lanjut usia. Pengurangan harga (reduksi) harga tiket atau karsis penumpang bagi lanjut usia yang menggunakan angkutan darat milik PT. Kereta Api dan bus antar kota antar provinsi dari Perum DAMRI; angkutan laut untuk seluruh kapal penumpang milik PT. PELNI; angkutan udara dari maskapai penerbangan PT. Garuda Indonesia dan PT. Merpati. Pelayanan kesehatan secara cuma-cuma di tiap Puskesmas dan penyediaan sarana khusus bagi lanjut usia seperti di rumah sakit dan pertokoan (Departemen Sosial RI, 2005:39-40).
Sedangkan program penunjang terdiri dari pendataan dan perencanaan, pendidikan dan pelatihan, peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan peraturan perundang-undangan, penelitian dan pengembangan, serta peningkatan organisasi dan tata kerja. Program ini sudah dilakukan oleh lembaga pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap lanjut usia. Berbagai kegiatan yang sudah terbentuk seperti Perhimpunan Gerontologi Indonesia (PERGERI), Pusat Kajian tentang Lanjut Usia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.
Dalam pelayanan sosial lanjut usia yang terpenting dilakukan oleh masyarakat baik yang dilakukan dalam panti maupun luar panti. Pembinaan melalui luar panti memungkinkan masyarakat untuk ikut serta dalam pelayanan lanjut usia, karena pemerintah sampai saat ini memiliki keterbatasan antara lain jumlah dana yang tersedia kurang seimbang dengan kebutuhan pelayanan sosial lanjut usia, pelayanan sosial lanjut usia yang belum optimal dan terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang pelayanan lanjut usia (Departemen Sosial; 2002a: 50-51).
Di masyarakat mereka perlu bersosialisasi dengan melakukan berbagai kegiatan sosial seperti kegiatan keagamaan, kesehatan dan olahraga agar mereka tidak terasing dari lingkungannya. Apabila mereka hidup terasing, tidak ada yang mengurus atau tidak berpenghasilan, maka mereka mempunyai masalah sosial yang pada akhirnya berpotensi terlantar. Oleh karena itu, perlu pemberdayaan lanjut usia agar mereka tetap melaksanakan fungsi sosialnya dan berperan aktif secara wajar dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Sistem nilai budaya bangsa Indonesia masih memegang teguh semangat kekeluargaan yang menempatkan orang tua atau lanjut usia pada posisi yang terhormat. Lingkungan keluarga merupakan wahana yang terbaik bagi lanjut usia untuk memperhatikan dan merawat orang tua. Nilai-nilai tersebut perlu dipertahankan agar keluarga tetap berfungsi sebagai wahana utama bagi pelembagaan lanjut usia (Jayaputra, 2005:2).
Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa dengan demikian bangsa Indonesia masih menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang juga menempatkan orang tua dan lanjut usia sebagai panutan dan yang patut dihormati dan dihargai. Dikaitkan dengan hak dan kewajiban lanjut usia dapat dibedakan, hak lanjut usia untuk
dihormati dan kewajiban bagi mereka yang lebih muda untuk menghormati yang lebih tua.