• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KRITERIA TANAH YANG BISA DIBERIKAN

A. Pendaftaran Tanah

1. Pengertian Pendaftaran Tanah

Pada awalnya, pendaftaran tanah yang dikenal di dunia ini berasal dari Negara Mesir Kuno, ketika Raja Fir‟aun saat itu memerintahkan pegawai

60H.B. Soetopo, Pengantar Penelitian Kualitatif, UNS Press, Surakarta, 1988, Hlm.34

kerajaannya untuk mengembalikan patok-patok batas tanah pertanian rakyat yang hilang akibat meluapnya sungai Nil.61

Pasal 19 ayat (1) UUPA telah menentukan bahwa untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan Pendaftaran Tanah diseluruh Wilayah Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan PP. Adapun ketentuan yang dimaksud oleh pasal 19 ayat (1) UUPA itu adalah PP No. 10/1961 yang diganti dengan PP No. 24/1997 yang mengatur tentang Pendaftaran Tanah, maka diharapkan terjaminlah kepastian hukum hak-hak atas tanah yang ada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pendaftaran tanah berasal dari dari bahasa Belanda yaitu Cadstre merupakan suatu istilah untuk suatu record (rekaman) yang menunjukan pada luas, nilai dan kepemilikan (atau lain-lain alas hak) terhadap suatu bidang tanah.62 Undang-undang pokok agraria dan peraturan pemerintah Nomor 10 tahun 1961 tentang pendaftaran tanah, keduanya tidak memberikan pengertian tentang pendaftaran tanah itu sendiri. Pengertian pendaftaran tanah itu sendiri dimuat dalam peraturan pemerintah nomor 24 tahun 1997, yang artinya adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan dan penyajian serta data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian sertifikat sebagai surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah

61 Mhd.Yamin Lubis dan Abd.Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah Edisi Revisi, (Bandung; Mandar Maju, 2010), Hal. 17

62 Urip Santoso, Hukum Agraria Kajian Komperhensif, Kencana, Jakarta, 2012, hlm. 29

yang sudah haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.63

Menurut A.P. Parlindungan, Pendaftaran Tanah adalah “suatu proses tata usaha dan tata cara untuk mencapai kepastian hukum yang sah tentang hak atas tanah”.64

Hal ini telah digariskan dalam tujuan Undang-Undang Pokok Agraria itu sendiri yang menyatakan sebagai berikut:

a. Meletakkan dasar-dasar bagi bagi penyususnan Hukum Agraria Nasional, yang akan merupakan alat untuk membawa kemakmuran, kebahagian dan keadilan bagi Negara dan Rakyat tani dalam rangka masyarakat adil dan makmur.

b. Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan.

c. Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum menegani hka-hak atas tanah rakyat seluruhnya.

Menurut Boedi Harsono pendaftaran Tanah adalah “suatu rangkaian kegiatan, yang dilakukan oleh Negara/Pemerintah secara terus menerus dan teratur, berupa pengumpulan keterangan atau data tertentu menegenai tanah-tanah tertentu yang ada di wilayah-wilayah tertentu, pengolahan, penyimpanan dan penyajiannya bagi kepentingan rakyat, dalam rangka memberikan jaminan

63 Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah

64 A.P. Parlindungan, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, Mandar Maju, Bandung, 1993, hlm.115

kepastian hukum di bidang pertanahan, termasuk penerbitan tanda buktinya dan pemeliharaannya.65

Mengutip pendapat Pitlo di dalam buku Bachtiar Effendie, yaitu :

“pendaftaran tanah di Indonesia dan Peraturan-Peraturan Pelaksanaannya menyebutkan bahawa, pada saat dilakukannya pendaftaran tanah maka hubungan hukum pribadi antara seseorang dengan tanah diumumkan kepada pihak ketiga atau masyarakat umum sejak saat itulah anatar orang dengan tanahnya dimaksud, untuk mana ia menjadi terikat dan wajib menghormati hal tersebut sebagai suatu kewajiban yang timbul dari keputusan.66

2. Landasan Pendaftaran Tanah

Dasar hukum dari pendaftaran tanah di Indonesia antar lain yaitu Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria sebagai landasan bagi pembahasan hukum agraria untuk terwujudnya jaminan kepastian hukum bagi masyrakat. Ketentuan pendaftaran tanah diatur dalam pasal 19 UUPA, yang dilakasanakan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 jo. Peraturan Pemerintrah Nomor 24 Tahun 1997, yang berbunyi “untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah”.67

65 Boedi Harsono, Hukum Agraria Sejarah Pembentukan UUPA Isi dan Pelaksanaannya Jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta, 2008, hlm.72

66 Bachtiar Effendie, Pendaftaran Tanah di Indonesia dan Peraturan-Peraturan Pelaksanaannya, Alumni, Bandung, 1983, hlm. 43

67Adrian Sutedi, Peralihan Hak atas Tanah dan Pendaftarnnya, Sinar Garfika, 2009, hlm.112,

Pendaftaran tanah wajib dilakukan bagi pemegang hak atas tanah berdasarkan pasal 23 ayat (1) UUPA menjelaskan bahwa hak milik demikian pula setiap peralihan, hapusnya dan pembebanannya dengan hak-hak lain harus didaftarkan menurut ketentuan-ketentuan yang dimaksud dalam pasal 19 UUPA.

Pendaftaran tanah untuk hak-hak itu ditujukan kepada pemegang hak agar menjadikan kepastian hukum bagi mereka, oleh karena pendaftaran atas peralihan, penghapusan dan pembebanannya, demikian pendaftaran tanah pertama kali maupun pendaftaran tanah karena konversi, ataupun pembebasannya akan banyak menimbulkan komplikasi hukum jika tidak didaftarkan padahal pendaftaran tanah merupakan alat bukti yang kuat bagi pemegang haknya.68

3. Asas Pendaftaran Tanah

Menurut pasal 2 Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, bahwa pendaftaran tanah dilaksanakan berdasarkan asas sederhana, aman, terjangkau, mutakhir dan terbuka. Asas sederhana dimaksudkan agar ketentuan-ketentuan pokoknya maupun prosedurnya dengan mudah dapat dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan terutama para pemegang hak.69

Asas aman maksudnya untuk menunjukkan bahwa pendaftaran tanah perlu diselenggarakan secara teliti dan cermat hasilnya dapat memberikan jaminan kepastian hukum. Asas terjangkau maksudnya keterjangkauan bagi pihak-pihak yang memerlukan, khususnya memperhatikan kebutuhan dan kemampuan golongan ekonomi lemah. Pelayanan yang diberikan dalam rangkaian

68 Ap. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1999, hlm.

17.

69 Zaidar, Dasar Filosofis Hukum Agraria Indonesia, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2006, hlm.162

penyelenggaraan pendaftaran tanah harus bisa dijangkau oleh para pihak yang memerlukan.70

Asas mutakhir dimaksudkan kelengkapan yang memadai dalam pelaksanaanya dan keseimbangan dalam pemeliharaan datanya. Untuk itu perlu dilakukan kewajiban mendaftar dan pencatatan perubahan-perubahan yang terjadi dikemudian hari. Asas mutakhir ini menuntut dipeliharanya data pendaftaran tanah yang secara terus menerus dan berkesinambungan, sehingga data yang tersimpan di kantor pertanahan selalu sesuai dengan keadaan nyata dilapangan dan masyarakat dapat memperoleh keterangan mengenai data yang benar setiap saat untuk itulah diberlakukan asas terbuka.71

4. Tujuan Pendaftaran Tanah

Tugas untuk melakukan pendaftaran tanah di Seluruh Indonesia dibebankan kepada pemerintah yang oleh pasal 19 ayat (1) UUPA ditentukan bertujuan tunggal yaitu untuk menjamin kepastian hukum. Menurut penjelasan UUPA, pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah merupakan kewajiban dari pemerintah bertujuan menjamin kepastian hukum yang bersifat Rechtscadaster.

Rechtscadaster artinya untuk kepentingan pendaftaran tanah saja dan hanya

mempermasalahkan haknya dan siapa pemiliknya, bukan untuk kepentingan lain seperti perpajakan.72

70ibid

71Ibid, hlm.162-163.

72 Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah Edisi Revisi, Mandar Maju, Bandung, 2010, hlm. 167

Muhammad Yamin Lubis dan Abd.Rahim Lubis, mengemukakan bahwa:

Tujuan pendaftaran tanah yang dimaksud Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 (Lembaran Negara Nomor 1961-28) ini adalah demi kepastian hukum Rechtscadaster dan tanahnya meliputi: tanah eks tanah adat, tanah konversi serta

tanah yang lahir karena surat putusan Pemerintah, artinya pendaftaran tanah diselenggarakan dengan mengikat keadilan Negara dan masyarakat, keperluan lalu lintas sosial, ekonomi serta kemungkinan penyelenggaraannya menurut pertimbangan Menteri Agraria.73

A.P.Parlindungan, mengatakan bahwa:

Penyempurnaan yang diadakan meliputi penegasan berbagai hal yang belum jelas dari peraturan yang lama, antara lain pengertian pendaftaran tanah itu sendiri, asas-asas dan tujuan penyelenggaraannya yang disamping untuk menghimpun dan menyajikan informasi yang lengkap mengenai data fisik dan data yuridis mengenai tanah yang bersangkutan.74

Pasal 3 PP No.24/1997 tentang Pendaftaran Tanah menyebutkan bahwa tujuan pendaftaran tanah adalah:

1) Untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan.

73 Mhd. Yamin Lubis dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Mandar Maju, Bandung, 2008, hlm. 167

74 Ap. Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1999, hlm.17.

2) Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan hukum mengenai bidang-bidang tanah dan satuan rumah susun yang sudah terdaftar.

3) Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.

Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa pendaftaran tanah pada prinsipnya bertujuan untuk menjamin kepastian hukum yaitu memungkinkan orang-orang yang memegang hak atas tanah itu dapat dengan mudah membuktikan bahwa dirinyalah yang berhak atas tanah tersebut, selain itu untuk memungkinkan kepada siapa pun, guna dapat mengetahui dengan mudah hal-hal apa saja yang ingin diketahui berkenaan dengan sebidang tanah.75

5. Sistem Pendaftaran Tanah

Dengan pelaksanaan Pendaftaran Tanah atau Pendaftaran Hak diharapkan bahwa seseorang lebih merasa aman tidak ada gangguan atas hak yang dipunyai.

Jaminan kepastian hukum terhadap pemegang hak atas tanah adalah digantungkan kepada sistem apakah sistem yang dianut dalam melaksanakan pendaftaran atau pendaftaran hak atas tanah.

Pelaksanaan Pendaftaran Tanah itu sendiri sangat bergantung pada sistem yang digunakan. Adapun sistem-sistem pendaftaran tanah, antara lain:

a. Sistem Torens

75 Bachtiar Effendi,Pendaftran Tanah di Indinesia dan Pelaksanaannya, Alumni, Bandung, 1993, hlm.42

Indonesia merupakan salah satu negara yang menggunakan sistem torens ini selain sederhana, efisien, murah dan selalu dapat diteliti pada akta pejabatnya siapa-siapa yang bertanda tangan pada akta PPAT-nya dan demikian pula pada sertifikat hak atas tanahnya, maka jika terjadi mutasi hak maka nama-nama dari pemilik sebelumnya dicoret dengan tinta halus, sehingga masih terbaca dan pada bagian bawahnya tertulis nama pemilik yang baru sesuai dengan alas haknya.76

Tujuan ditelitinya alas hak ini dalm sistem torens adalah :

1) Tanah yang dimohon untuk didaftar tersebut baik dan jelas tanpa keraguan untuk memberikan haknya.

2) Permohonan tersebut tidak dijumpai ada sengketa kepemilikan.

3) Tanah yang dimohon diyakini sepenuhnya oleh tim ajudikasi atau panitia pemeriksaan tanah untuk dapat diberikan haknya sesuai yang dimohonkan pemilik tanah.

4) Tanah tersebut diadministrasikan dengan pemberian bukti haknya tidak ada yang bersengketa lagi dan tidak ada yang keberatan terhadap kepemilikannya.77

Sistem pendaftaran yang digunakan adalah sistem pendaftaran hak bukan sistem pendaftaran akta, sebagaimana digunakan dalam penyelenggaraan pendaftaran tanah menurut Peraturan Pemerintah nomor 10 tahun 1961. Hal tersebut nampak dengan adanya buku tanah sebagai dokumen yang memuat data

76 Zaidar, Dasar Filosofis Hukum Agraria Indonesia, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2006, hlm.169

77 Mhd.Yamin Lubis & abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah Edisi Revisi, Mandar Maju, Bandung, 2012, hlm.115

yuridis dan data fisik yang dihimpun dan disajikan serta diterbitkannya sertifikat sebagai surat tanda bukti hak yang didaftar.78

b. Sistem Positif

Sistem positif dalam pendaftaran tanah menunjukan bahawa sertifikat tanah yang diberikan adalah berlaku sebagai tanda bukti hak yang bersifat mutlak (absolut) serta sertifikat merupakan bentuk satu-satunya tanda bukti hak atas tanah yang dimiliki seseorang.

Dalam pelaksanaan pendaftaran tanah, sistem positif memiliki karakteristik utama yaitu pendaftaran tanah yang dilakukan menjamin dengan sempurna nama yang didaftarkan dalam buku tanah dan orang lain tidak dapat membantahnya, walaupun demikian nama yang ada dalam sertifikat bukan pemilik sebenarnya.79

c. Sistem Negatif

Dalam sistem pendaftaran tanah yang negatif menerangkan bahwa apa yang tercantum dalam sertifikat tanah adalah dianggap benar sampai dapat dibuktikan sebaliknya (tidak benar) di muka pengadilan. Ciri khusus pendaftaran ini adalah bahwa pendaftaran tanah tidaklah merupakan jaminan orang yang terdaftar dalam buku tanah adalah pemegang hak atas tanah tersebut.80

Pengertian negatif disini adalah pendaftaran tanah dengan sistem ini tidak boleh begitu saja dipercaya kebenarannya. Negara tidak menjamin kebenaran data

78 Adrian Sutedi, Peralihan Hak Atas Tanah dan Pendaftaranya, Sinar Garfika, Jakarta, 2009, hlm. 119

79 H.S.Muh.Iksan Saleh dan Hamzah HAlim, Politik Hukum Pertanahan konsepsi teoritik menuju artikulasi empirik, PUKAP, Makasar, 2009, hlm.65

80Ibid, hlm.67

yang disajikan. Biarpun sudah melakukan pendaftaran, pembeli selalu masih menghadapi kemungkinan gugatan dari orang yang dapat membuktikan bahawa dialah pemegang hak yang sebenarnya. Jika sistem pendaftarannya adalah sistem pendaftaran akta maka sistem publikasinya selalu sistem publikasi negatif. Sistem yang digunakan dalam undang-undang pokok agraria dan Peraturan Pemerintah nomor 24 tahun 1997 adalah sistem publikasi negatif bertendensi positif.81

d. Sistem Publisitas

Sesuai dengan pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 yang menyatakan bahwa pendaftaran tanah itu juga memberikan informasi pertanahan kepada pemerintah dan kepada umum.82

Sistem pendaftaran tanah yang terkandung dalam Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-Pokok Agraria adalah sistem negatif yang bertendensi positif. Hal ini dapat dilihat di dalam substansi dari Peratuan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang pendaftaran tanah. Sistem yang dianut dalam UUPA sebenarnya adalah sistem campuran antara sistem positif dan sistem negatif.83

Meskipun pendaftaran tanah menurut pasal 19 ayat (1) UUPA bertujuan untuk menjamin perlindungan dan kepastian hukum, maka sistem yang digunakan adalah sistem negatif yang bertendensi positif atau sistem campuran, yang artinya masih diberikannya kemungkinan dilakukannya perubahan dan pembatalan sertifikat, ini merupakan karakteristik dari sistem negatif dan adanya peranan aktif

81Boedi Harsono, Hukum Agraria Sejarah Pembentukan UUPA Isi dan Pelaksanaannya Jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta, 2008, hlm.82

82 Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah

83 Ibid, Hlm. 69-70

dari petugas pelaksana pendaftaran tanah dalam hal ini kantor pertanahan untuk melakukan penelitian hak atas tanah yang didaftarkan tersebut, ini merupakan karakteristik sistem positifnya.

Menurut Muntoha Mantan Kepala Jawatan Pendaftaran Tanah, Departemen Agraria, menyatakan bahawa sistem pendaftaran tanah di Indonesia sekarang adalah sistem negatif dengantendensi positif.84 Artinya dengan sistem negatif yang bertendensi positif tersebut, jika pada keterangan-keterangan yang ada, terdapat ketidakbenaran fakta, maka dapat di ubah dan disesuaikan dengan kondisi sebenarnya. “Ali Achmad Chomzah menyebutkan sistem pendaftaran tanah di Indonesia, disebut juga quasi positif yaitu positif yang semu.85

6. Obyek Pendaftaran Tanah

Obyek pendaftaran tanah ini diatur dalam PP No. 24 Tahun 1997 pada pasal 9 ayat (1) dan ayat (2), yaitu:

(1) Obyek Pendaftaran Tanah meliputi:

a. Bidang-bidang tanah yang dipunyai dengan hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai.

b. Tanah hak pengelolaan.

c. Tanah wakaf

d. Hak milik atas satuan rumah susun e. Hak tanggungan

f. Tanah negara.

84 Ali Ahmad Chomzah, Hukum Agraria Jilid II, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2004, Hlm.16

85Ibid

(2) Dalam hal tanah Negara sebagai obyek pendaftaran tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f, pendaftarannya dilakukan dengan cara membukukan bidang tanah yang merupakan tanah Negara dalam daftar tanah.

Boedi Harsono, mengatakan bahwa:

Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai ada yang diberikan oleh Negara, tetapi di mungkinkan juga diberikan oleh pemegang hak milik atas tanah. Artinya selama belum ada pengaturan mengenai tata cara pembebanannya dan disediakan formulir akta pendiriannya, untuk sementara belum ada Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai yang diberikan oleh pemegang Hak Milik atas tanah.

Maka yang kini merupakan objek pendaftaran tanah beru HGB dan Hak Pakai yang diberikan oleh Negara. Tanah Negara dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 termasuk objek yang didaftar.86

A. PENGERTIAN OPERASI PROYEK NASIONAL AGRARIA (PRONA)

1. PENGERTIAN PRONA Pengertian PRONA adalah :

“semua kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah dibidang pertanahan dengan suatu subsidi dibidang pendaftaran tanah pada khususnya,

86 86 Boedi Harsono, Hukum Agraria Sejarah Pembentukan UUPA Isi dan Pelaksanaannya Jilid 1 Hukum Tanah Nasional, Djambatan, Jakarta, 2008, hlm.460

yang berupa pensertifikatan tanah secara masal dalam rangka membantu masyarakat ekonomi lemah.”87

Prona merupakan salah satu bentuk kegiatan legalisasi aset dan pada hakekatnya merupakan proses administrasi pertanahan yang meliputi: adjukasi, pendaftaran tanah, sampai dengan penerbitan sertifikat atau tanda bukti hak atas tanah dan diselenggarakan secara massal oleh pemerintah.88

Prona awalnya diselenggarakan pada tahun 1981 berdasarkan keputusan menteri dalam negeri nomor 189 tahun 1981 tentang proyek operasi nasional agraria. Berdasarkan keputusan tersebut, Penyelenggara prona bertugas memproses sertifikasi tanah secara massal sebagai wujud dari program catur tertib di bidang pertanahan yang meliputi:

a. Tertib Hukum Pertanahan b. Tertib Administrasi Pertanahan c. Tertib Penggunaan Tanah

d. Tertib Pemeliharaan Tanah dan Lingkungan Hidup

PRONA mulai berlaku pada tanggal 15 Agustus 1981, dilaksanakan sebagai tindak lanjut Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 189 Tahun 1981 Tentang Proyek Operasi Nasional Agraria, dalam rangka pelaksanaan catur tata tertib di bidang pertanahan, sehingga program pensertifikatan tanah secara massal,

87 A.P.Parlindungan, Pendaftaran Tanah di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1990, hlm.38

88 Wawancara dengan Bapak Nasep, di Kantor Badan Pertanahan Kota Peknabru, Tanggal 22-08-2016, Pukul 11.00 WIB

merupakan jaminan kepastian hukum bagi penguasaan dan pemilikan tanah sebagai tanda bukti yang kuat.89

Kegiatan prona pada prinsipnya merupakan kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali. Prona dilaksanakan secara terpadu dan ditujukan bagi segenap lapisan masyarakat terutama bagi golongan ekonomi lemah dan menyelesaikan secara tuntas terhadap sengketa-sengketa tanah yang bersifat strategis.90

Adapun pendaftaran tanah untuk pertama kali dapat dilihat dalam ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah. Pendaftaran tanah meliputi pendaftaran tanah untuk pertama kali dan kegiatan dilakukan melalui data yang tersedia.91

Kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali dilaksanakan melalui dua cara yaitu secara sistemik dan sporadik. Dalam peraturan pemerintah nomor 24 tahun 1997 kedua cara ini di beri penegasan bahwa pendaftaran tanah secara sistematik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali untuk dilakukan secara sistematik yang meliputi semua objek pendaftaran tanah yang belum didaftar dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan. Sementara pendaftaran tanah secara sporadik adalah kegiatan pendaftaran tanah untuk pertama kali mengenai suatu atau beberapa objek pendaftaran tanah dalam wilayah atau bagian wilayah suatu desa/kelurahan secara individual atau massal.

2. LATAR BELAKANG DAN LANDASAN YURIDIS PRONA

89 Dalam Menimbang huruf a Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 189 Tahun 1981 Tentang Proyek Operasi Nasional Agraria.

90www.bpn.go.id

91 Ketentuan pasal 12 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997, meliputi : a.

Pengumpulan dan pengolahan data fisik, b. Pembuktian dan Pembukuannya, c. Penerbitan Sertifikat, d. Penyajian data fisik dan data yuridis, e. Penyimpanan daftar umum dan dokumen.

Dengan berlakunya undang-undang pokok agraria nomor 5 tahun 1960 tentang peraturan dasar pokok-pokok agraria (UUPA) dan peraturan pelaksanaannya, maka pemerintah telah membuat suatu kebijakan untuk meningkatkan pelayanan bidang pertanahan yaitu pemberian sertifikat tanah secara massal melalui PRONA.

Sebenarnya pelaksanaan PRONA ini merupakan Implementasi dari pasal 19 ayat (1) UUPA, yang menyebutkan sebagai berikut:

“untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur oleh peraturan pemerintah.”92

Kebijaksanaan ini dimaksudkan agar setiap masyarakat ekonomi lemah dengan memperhatikan aspek keberpihakan dapat memiliki sertifikat tanah atau hak milik atas tanah dengan biaya yang lebih murah. Program ini diadakan dengan tujuan untuk memberikan jaminan kepastian hukum kepada pemegang hak atas tanah.

Adapun dalam keputusan menteri dalam negeri Nomor 189 Tahun 198i Tentang Proyek Operasi Nasional Agraria, belum mengatur ketentuan mengenai pelaksanaan pendaftaran tanah dan penyelesaian sengketa yang bersifat strategis.

Untuk itu terkait dengan adanya pelaksanaan pendaftaran tanah masih mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, sedangkan untuk penyelesaian sengketa yang dimaksud dalam PRONA dapat dilakukan dengan menggunakan keputusan Kepala BPN RI No.34 Tahun 2007

92 Pasal 19 ayat (1) Undang-Undang Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960

tentang petunjuk teknis penanganan dan penyelesaian masalah pertanahan sebagai dasar hukum pelaksanaan tersebut.

Tujuan prona adalah memberikan pelayanan pendaftaran tanah pertama kali dengan proses yang sederhana, cepat, dan murah dalam rangka percepatan pendaftaran tanah diseluruh indonesia dengan mengutamakan daerah miskin atau tertinggal, daerah pertanian subur atau berkembang, daerah penyangga kota, pinggiran kota atau daerah miskin kota, daerah pengembangan ekonomi rakyat.

Prona bertujuan memberikan peleyanan pendaftraan tanah pertama kali dengan proses yang sederhana, mudah, cepat dan murah dalam rangka percepatan pendaftaran tanah di seluruh Indonesia untuk menjamin kepastian hukum hak atas tanah.93

Prona merupakan salah satu wujud upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan ekonomi lemah sampai dengan menengah.

Dasar Hukum PRONA :94

a. UU No. 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Pokok-Pokok Agraria

b. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 Tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah

c. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah

93 Pasal 2 ayat (1) PERMEN Agraria dan Tata Ruang Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 2015 tentang Progran Nasional Agrraia (PRONA)

94 www.bpn.go.id

d. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 2010 Tentang Tarif Atas Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Badan Pertanahan Nasional

e. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 Tentang Badan Pertanahan Nasional

f. Perkaban No,3/1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No.24/1997

f. Perkaban No,3/1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No.24/1997

Dokumen terkait