BAB IV KENDALA-KENDALA YANG DIHADAPI DALAM
C. Pengaruh Keberhasilan PRONA di Kota Pekanbaru
kesadaran masyarakat bahwa bukti kepemilikan atas tanah sangatlah penting.
Sehingga banyak masyarakat yang datang dan mendaftarkan tanah miliknya. Baik melalui prona maupun program lainnya ataupun mendaftarkan tanahnya secara
biasa. Karna program prona ditujukan untuk masyarakat golongan ekonomi lemah.
Pelaksanaan Program PRONA ini sendiri di Kota Pekanbaru khususnya Tahun 2015, sejauh ini telah mencapai tingkat keberhasilan 70% (tujuh puluh persen), yang ditinjau dari segi pelaksanaannya, hingga penerbitan sertifikat sertifikasi Prona.154
Dan apabila dilihat dari segi kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang PRONA untuk mengikuti Program ini diperkirakan sekitar 55% (lima puluh lima persen) masyarakat yang sadar akan penting dan bermanfaatnya Program ini, dimana masih ada sebagian masyarakat yang belum menerima informasi program ini secara terperinci dan masih meraba-raba tentang program ini.
154 Wawancara dengan Pak Naseb, Op.Cit.
Pendaftaran Tanah 4 Penentapan Hak Tanah
dan Pendaftaran Tanah
500 350 70
Sumber : Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru
Berdasarkan data diatas, target pembuatan sertifikat tanah yang mulanya 500 bidang tanah, dan telah terealisasi sebesar 350 bidang tanah (sertifikat) atau dapat dikatakan, pelaksanaannya telah mencapai 70% (Tujuh Puluh Persen).
Dari pelaksanaan sertifikasi tanah melalui PRONA pada tahun 2015 di Kota Pekanbaru, pelaksanaannya telah mencapai target yaitu 350 bidang tanah.
Hal ini didukung oleh :
1. Adanya penyuluhan intensif yang dilakukan oleh Kantor Badan Pertanahan Kota Pekanbaru kepada Panitia Pelaksanaan, Camat, Lurah maupun masyarakat itu sendiri.
2. Mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki bukti kepemilikan hak atas tanah berupa sertifikat.
Hal ini dapat dilihat dari 2 (dua) tahun terakhir yaitu tahun 2014 & 2015 pelaksanaan PRONA di Kota Pekanbaru :
Tabel 6
Nomor Periode Pelaksanaan Target Hasil Yang dicapai
1 2014 500 300
2 2015 500 350
Sumber : Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru
Dilihat dari tabel diatas, bahwa terjadi peningkatan pelaksanaan program PRONA di Kota Pekanbaru, hal ini berarti dengan tingkat kesadaran masyarakat atas pentingnya mempunyai sertifikat hak atas tanah dan kesadaran masyarakat akan manfaat dari program PRONA ini juga meningkat, karena masyarakat telah merasakan manfaat langsung dari program ini.
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pertumbuhan pelaksanaan prona meningkat, ada hal yang mendasari dari pelaksaan PRONA tahun 2014 dan tahun 2015, antara lain :
1) Pada tahun pelaksanaan PRONA 2014
Dapat dilihat dari LUAS dan JUMLAH TANAH OBYEK PRONA:
a. Tanah Negara:
1. Tanah non pertanian dengan luas sampai dengan 2.000 m2 (dua ribu meter persegi), kecuali obyek PRONA yang berlokasi wilayah Kab/Kota Kantor Pertanahan tipe A sampai dengan luas 500 m2 (lima ratus meter persegi);
dan
2. Tanah pertanian dengan luas sampai 2 ha (dua hektar).
b. Penegasan konversi/pengakuan hak :
1. Tanah non pertanian dengan luas sampai dengan 5.000 m2 (lima ribu meter persegi), kecuali obyek PRONA yang berlokasi wilayah Kab/Kota Kantor Pertanahan tipe A sampai dengan luas 1.000 m2 (seribu meter persegi); dan
2. Tanah pertanian dengan luas sampai 5 ha (lima hektar).
c. Jumlah bidang tanah: Bidang tanah yang dapat didaftarkan atas nama
seseorang atau 1 (satu) peserta dalam kegiatan PRONA paling banyak 2 (dua) bidang tanah155
2) Pada PRONA tahun 2015
Dengan diberlakukannya Peraturan Menteri Agraria dan Tata ruang / Kepala BPN RI Nomor 1 Tahun 2015 tentang Program Nasional Agraria (PRONA) dan Peraturan Menteri Agraria dan Tata ruang / Kepala BPN RI Nomor 4 Tahun 2015 tentang Program Nasional Agraria (PRONA), yang pada salah satu pasalnya berbunyi :
Pasal 4 ayat (3) dan ayat (4)
(3) Luas tanah yang dijadikan objek prona untuk tanah yang berlokasi dikelurahan dibatasi paling luas 200 m2 (dua ratus meter persegi).
(4) Luas tanah objek prona tanah milik badan hukum atau lembaga sosial dan keagamaan paling luas 500m2 (lima ratus meter persegi).
Dari hal diatas bahwa terjadinya perbedaaan luas objek Prona yang mulanya seluas 2000 m2 (dua eribu meter persegi) dengan berlakunya PERKABAN Nomor 1 Tahun 2015 luas objek Prona menjadi 200 m2 ( dua ratus meter persegi), hal ini tentu menjadi kendala dalam pelaksanaan PRONA tahun 2015, karena sulitnya untuk menemukan objek Prona dengan luas 200 m2 (dua ratus meter persegi). Dan berkaitan dengan hal tersebut haruslah dilakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang perubahan luas objek Prona tersebut, supaya tidak terjadinya kesalahpahaman.
155 www.bpn.go.id
Berdasarkan hasil penelitian, bahwa pelaksanaan Prona di Kota Pekanbaru telah sesuai dengan peraturan yang ada, dalam pelaksanaannya lebih mengedepankan masyarakat ekonomi lemah yang tidak mampu mensertifikatkan tanahnya secara individu (pribadi). Dengan adanya program ini sangat membantu masyarakat golongan ekonomi lemah, karena malalui program ini masyarakat dapat mensertifikatkan tanahnya dengan harga yang relatif murah.
Dalam rangka mencapai tujuan Catur Tertib di bidang pertanahan, yang meliputi : Tertib Hukum, Tertib Administrasi, Tertib Penggunaan, dan Tertib Pemeliharaan dan Lingkungan Hidup, dilaksanakan dengan cara pensertifikatan massal bagi masyarakat golongan ekonomi lemah melalui Prona dan mendapatakan subsidi dana dari pemerintah.
Prona dapat dilihat dari tujuan catur tertib pertanahan antara lain:
a. dari segi Tertib Hukum yang bertujuan agar setiap tanah mempunyai sertifikat, sehingga tanah tersebut mempunyai kepastian hukum maupun hak yang kuat.
b. Tertib administrasi yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kantor pertanahan kepada masyarakat dengancara cepat, mudah dan biaya yang murah, serta diharapkan membawa manfaat bagi masyarakat khususnya masyarakat golongan ekonomi lemah.
c. dari tertib penggunaan tanah bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman tentang arti penting penggunaan tanah secara terencana agar diperoleh manfaat yang optimal sebagaimana diatur dalam Undangn-Undang tentang Penataan Ruang No. 24 Tahun 1992.
d. Serta dari tertib pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup dimaksudkan untuk mencegah kerusakan tanah dan pemeliharaan kesuburan tanah serta menjaga kelestarian sumber daya alam yang terkandung di atas dan di dalamnya.
Dengan adanya reforma agraria merupakan jalan keluar dari sejumlah persoalan-persoalan agraria yang mendasar yang menjadi pangkal dari kemiskinan negara, yang dilakukan dengan cara menata ulang atau merestruksikan kepemilikan, penguasaan, dan penggunaan sumber-sumber agraria, terutama tanah guna kepentingan petani, buruh tani, dan rakyat kecil atau golongan ekonomi lemah. Dan PRONA merupakan salah satu Program pendukung reforma agraria.
Reforma agraria bukan hanya untuk mengatasi berbagai persoalan agraria sebagimana disebutkan sebelumnya, tetapi reforma agraria haruslah menjadi dasar pembangunan nasional. Dengan demikian reforma agraria pelaksanaannya haruslah memasuki sistem ekonomi modern (seperti saat ini), karena tanpa reforma agraria, ekonomi modern yang dihasilkan bersifat pincang atau tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Pensertifikatan tanah secara massal melalui Prona ini merupakan salah satu kegiatan pembangunan pertanahan yang mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Dan masyarakat merasa sangat terbantu dengan adanya program ini.
Dengan adanya program ini, pemerintah berkeinginan untuk dapat meningkatkan lagi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga pelaksanaan prona di Kota Pekanbaru dapat mencapai 100% (seratus persen) baik dari segi pelaksananaannya maupun dari segi masyarakat.
Program ini berjalan beriringan dengan program pemerintah lainnya seperti LARASITA, namun itu tidak mengurangi minat masyarakat untuk mengikuti Program prona ini.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Pengertian PRONA berdasarkan PERKABAN No.4/2015 tentang Program Nasional Agraria (PRONA) adalah rangkaian kegiatan pensertifikatan tanah secara massal, pada suatu wilayah administrasi desa/kelurahan atau sebutan lain atau bagian-bagiannya. Pada mulanya Prona sendiri merupakan salah satu prorgam pada masa Orde Baru sebagai salah satu pelaksanaannya, dimana dengan PRONA diharapkan dapat mempercepat program regostrasi tanah. Selain itu, pada masa ini juga mengganti PP no.10 Tahun 1961 menjadi PP NO.24/1997 tentang Pendaftaran Tanah dan juga merupakan salah satu dasar dari pelaksanaan PRONA.
Tujuan dari pelaksanaan PRONA berbanding lurus dengan tujuan Landreform, yaitu bertujuan untuk memberikan pelayanan pendaftaran tanah pertama kali dengan proses yang sederhana, cepat, dan murah dalam rangka percepatan pendaftaran tanah diseluruh indonesia dengan mengutamakan desi miskin atau tertinggal, daerah pertanian subur atau berkembang, daerah penyangga kota, pinggiran kota atau daerah miskin kota, daerah pengembangan ekonomi rakyat. Serta memacu percepatan program registrasi tanah.
2. Pelaksanaan pendaftaranan sertifikasi melalui prona di Kota Pekanbaru dilaksanakan melalui proses yang dimulai dari koordinasi kegiatan hingga penerbitan sertifikat, yang telah sesuai dengan peraturan menteri agraria dan tata ruang / kepala badan pertanahan nasional nomor 4 tahun 2015 tentang program nasional agraria (PRONA) dan peraturan pemerintah nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah. Dengan diadakannya program pendaftaran tanah seperti ini diharapkan lagi tidak ada atau berkurangnya sengketa-sengketa tanah dan masyarakat mendapat kepastian hukum atas kepemilikan hak atas tanah.
Pada dasarnya PRONA adalah proyek pendaftaran tanah yang mendapat bantuan dari pemerintah, sehingga masyarakat yang mengikutin program ini mendapatkan subsidi dana bantuan dari masyarakat yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) yang dibebankan kepada Badan
Pertanahan Nasional, yang kemudian dilaksanakan oleh Badan Pertanahan setiap Provinsi yang ada di Indonesia.
3. Beberapa faktor yang menjadi penghambat program PRONA di Kota Pekanbaru antara lain adalah a) Besarnya biaya BPHTB hak atas tanah peserta prona, sehingga banyak masyarakat golongan menengah kebawah tidak mampu untuk membayar biaya BPHTB tersebut, sehingga mereka tidak dapat mengikuti program tersebut, b) Tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai program ini masih kurang, c) Sebagian masyarakat mengikuti program ini hanya untuk memudahkan mereka apabila ingin meminjam uang di Bank, d) Masih banyak ditemui pungutan liar yang memberatkan peserta PRONA.
Untuk menanggulangi hambatan diatas, pemerintah beserta Kantor Pertanahan Kota Pekanbaru melakukan Upaya guna mengatasi kendala tersebut seperti a) Melakukan sosialisai kepada masyarakat peserta PRONA, b) Pemerintah juga mengajak masyarakat untuk bersifat aktif dalam mengikuti program ini, agar tercapainya kesenambungan antara pemerintah dan masyarakat, c) Pihak Kantor Badan Pertanahan bekerja sama dengan Camat ataupun Lurah disetiap daerah mensosialisakan kepada masyarakat mengenai penting dan tujuan dari Pendaftaaran Tanah ataupun memiliki sertifikat sebagai alas hak kepemilikan, d) Mengawasi dalam pelaksanaan program ini, guna mengurangi terjadinya pungli (pungutan liar) yang memberatkan masyarakat yang akan mengikuti program ini.
B. Saran
1. Untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, Kantor Badan Pertanahan Kota Pekanbaru diharapkan serta secara rutin mengadakan sosialisasi langsung kepada masyarakat tentang Program ini dan pentingnya dilakukan pendaftaran tanah, khususnya masyarakat ekonomi golongan ekonomi lemah dan juga sosialisasi terkait tanah-tanah yang tidak diperbolehkan dalam Prona, hal ini diharapkan guna meningkatkan kesadaran hukum bagi masyarakat.
2. Perlu dilaksanakan penyuluhan secara intensif kapada Panitia,Camat/Lurah, ataupun masyarakat yang dilakukan oleh Kantor Badan Pertanahan Kota Pekanbaru mengenai biaya-biaya yang dibebankan kepada masyarakat, hal ini diharapkan dapat mengurangi pungutan-pungutan liar yang sering terjadi di lapangan yang memeberatkan masyarakat peserta Prona.
3. Diharapkan pada saat pelaksanaan PRONA ini, yang menjadi Panitia Pelaksana hendaknya hanya bertugas untuk pelaksanaan Program ini atau dengan kata lain tidak dibebankan dengan tugas lain, sehingga hal itu dapat menunjang untuk meningkatkan pelaksanaan Program ini.
DAFTAR PUSTAKA 1. BUKU
Achmad Chomzah, Ali, Hukum Pertanahan (Penyelesaian Sengketa Hak Atas Tanah), Jakarta; Prestasi Pustaka Publisher, 2003.
__________, Hukum Agraria Jilid II, Prestasi Pustaka Publisher, Jakarta, 2004, Hlm.16
Ali, Ahmad, Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofis dan Sosiologis), PT.Gunung Agung,TBk, Jakarta, 2002.
Ali, Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta; Sinar Grafika,2011.
Aminuddin dan H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta;
Raja Grafindo Persada, 2005.
Buku Panduan Menulis Skripsi , UIR Press, 2012.
Effendi, Bachtiar, Pendaftran Tanah di Indinesia dan Pelaksanaannya, Alumni, Bandung, 1993.
Fajat dan Yulianto, Dualisme Penelitian Hukum, Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2010.
Harsono, Boedi, Hukum Agraria Indonesia “Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanannya”, Jakarta : Djambatan, 2008.
Hartono, Sunaryati, Penelitian Hukum Indonesia Pada Akhir Abaad ke-20, Bandung; Alumni, 1994.
HR. Otje Salman S dan Anton F Sutanto, Teori Hukum, Bandung; Refika Aditama, 2005.
H.S.Muh.Iksan Saleh dan Hamzah HAlim, Politik Hukum Pertanahan konsepsi teoritik menuju artikulasi empirik, PUKAP, Makasar, 2009.
Kamello, Tan, Hukum Jaminan Fidusi, Suatu Kebutuhan yang Didambakan, Bandung; Alumni, 2014.
Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Edisi Ketiga, Jakarta;Gramedia Pustaka Utama, 1997.
Lubis, M.Solly, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Bandung ; Mandar Maju, 1994.
Marzuki, Peter Mahmud, Pengantar Ilmu Hukum, Kencan Pranada Media Group, Jakarta, 2008.
Mas, Marwan, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta; Ghalia Indonesia, 2004.
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survei, Jakarta;
LP3ES, 1989.
Mhd.Yamin Lubis dan Abd.Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Bandung;
Mandar Maju, 2008.
Mukti, Affan, Pembahasan Pokok-Pokok Agraria Nomor 5 Tahun 1960, USU Press, Medan, 2010
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme penelitian Hukum Normatif dan Empiris, Yogyakarta; Pustaka Pelajar; 2010.
Murhaini,Suriansyah, Kewenangan Pemerintah Dalam mengurus Bidang Pertanahan, Laksbang Justitia, Surabaya, 2009.
Parlindungan, A.P,Pendaftaran Tanah di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1990.
___________, Komentar Atas Undang-Undang Pokok Agraria, Mandar Maju, Bandung, 1993, hlm.115
Saleh, K. Wantjik, Hak Anda Atas Tanah, Ghalia Indonesia; Jakarta, 1984.
Salim HS dan Erlies Septiana Nurbani, Buku Kedua Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Disertasi dan Tesis, Rajawali Pers, Jakarta, 2014
Santoso, Urip,Pendaftaran dan Peralihan Hak Atas Tanah, Jakarta;
Kencana, 2010,
____________, Hukum Agraria Kajian Komperhensif, Kencana, Jakarta, 2012.
Sudjito, Pensertipikatan Tanah Secara Massal dan Penyelesaian Sengketa Tanah Yang Bersifat Strategis, Liberty, Yogyakarta, 1987 Soedewi Mascjchoen Sofwan, Sri, Hukum Perdata : Hak Jaminan Atas Tanah,
Yogyakarta; Liberty, 1981.
Soekanto, Soerjono,Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta; UI Press, 1986.
_______________, Penegakan Hukum, Jakarta; Binacipta, 1983.
Soerjono dan Abdurrahman, Prosedur Pendaftaran Tanah Tentang Hak Milik Sewa Guna dan Hak Guna Bangunan, Jakarta; Rineka Cipta, 1998.
Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta;
Rajagrafindo Persada, 2011.
Soemitro, Ronny Hanitjo, Metodologi PenelitianHukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990.
Soetopo, H.B, Pengantar Penelitian Kualitatif, UNS Press, Surakarta, 1988.
Sugiono, Metode Penelitian Administrasi, Bandung; Alfa Beta, 1983.
Sunggono, Bambang, Metode Penelitian Hukum, Jakarta; Raja Grafindo Persada, 1997.
Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta; Raja Garafindo Persada, 1998.
Sutedi, Adrian,Peralihan Hak atas Tanah dan Pendaftarnnya, Sinar Garfika, 2009.
_____________, Sertifikat Hak Atas Tanah, Sinar Garfika, Jakarta, 2012.
Zaidar, Dasar Filosofi Hukum Agraria Indonesia, Medan: Pustaka Bangsa Pers, 2012.
2. PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN KAMUS
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.
Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta; Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah sebagai pengganti Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 Tentang Pendaftaran Tanah.
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2006.
Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 189 Tahun 1981 Tentang Proyek Operasi Nasional Agraria.
Peraturan Menteri Agraria dan Tata ruang / Kepala BPN RI Nomor 1 Tahun 2015 tentang Program Nasional Agraria (PRONA)
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 4 Tahun 2015 tentang Progran Nasional Agrraia (PRONA).
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.
3. TESIS, JURNAL DAN LAINNYA
http:/ buku pertanahan.blogspot.com/2016/07/ pendaftaran Tanah secara sistematik.html.
Ira Sumaya, Analisis Hukum Landreform Sebagai Uoaya Meningkatkan Pendapatan Ekonomi Masyarakat (Studi pada
Kegiatan Redistribusi Tanah di Kota Medan Periode 2007-2008), USU, 2009.
Lilis Nur Faizah, Landreform Sejarah Dari Masa ke Masa, Tugas Mata Kuliah Landreform (UGM, 2007), diakses melalui www.zeilla.wordpress.com, 5 Maret 2017.
Iswantoro, Perkembangan Landreform dalam Pemerintah Indonesia, Vol.8, NO.3, Mei, 2009.
Marsinta Napitupulu (NIM : 117011117), dengan judul “Sistem Pelaksanaan atas Pendaftaran Tanah Bagi Masyarakat Ekonomi Lemah Melalui PRONA di Kantor Pertanahan Kota Medan, Universitas Sumatera Utara”.