• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Pendidikan Agama Islam

prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.

BAB IV Bagian ini berisi tentang paparan dan analisis data tentang gambaran umum lokasi penelitian di Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang yang mencakup profil setiap keluarga, letak geografis, keadaan penduduk menurut usia, agama, mata pencaharian dan jumlah keluarga yang bercerai. Temuan penelitian tentang bagaimana cara orang tua mengajarkan Pendidikan Agama Islam dalam keluarga Broken home, faktor penghambat dan pendukung Pendidikan Agama Islam dalam keluarga broken home, cara memecahkan masalah dalam mengajarkan Pendidikan agama Islam dalam keluarga broken home . Data temuan penelitian disajikan dalam bentuk pola, tema, kecenderungan, dan motif yang muncul dari data. Bagian analisis menguraikan gagasan peneliti, keterkaitan antara pola-pola, kategori-kategori.

BAB V Penutup memuat kesimpulan, tindak lanjut penelitian, dan saran atau rekomendasi yang diajukan dalam penelitian Pendidikan Agama Islam dalam keluarga Broken home di Desa Doplang Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan

12

Secara etimologi, pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagogiek . Pae berarti anak, gogos artinya membimbing, dan iek artinya Ilmu. Jadi secara etimologi Paedagogiek ilmu yang membicarakan bagaimana cara mendidik anak. Secara Terminologi Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang (Suparlan, 2007:77).

Menurut UU No. 20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,

bangsa, dan Negara. Sedangkan menurut W.J.S. Poerwadarminta, pendidikan berasal dari kata

dasar didik dan diberi awalan men-, yaitu kata kerja yang artinya memelihara dan memberi latihan ajaran. Menurut tokoh pendidikan dari Indonesia, Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan

bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak (Teguh, 2013:61).

2. Pengertian Agama

Agama secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta yakni kata “a

yang berarti “tidak”dan “gama” yang berarti “kacau”. Berdasarkan

13

teratur, karena memiliki petunjuk yang bersumber dari agama itu. Secara Terminologi Agama menurut Frezer dalam Aslam Hadi yaitu menyembah atau menghormati kekuatan yang lebih agung dari manusia yang dianggap mengatur dan menguasai jalannya alam semesta dan jalannya peri kehidupan

manusia (Syafaat, 2008: 11). Istilah “Agama” menurut Al-Qur’an identik

dengan Al-Din. Al-Qur’anul Karim menggunakan kata Al-Din sesuai dengan pengertian lughawi yang berlaku dalam masyarakat Arab. Pengertian tersebut adalah undang-undang, aturan-aturan berpikir, aturan berbuat, hukum-hukum, dan tata cara beribadah (Mahmud dan dkk, 2013:123). Pengertian ini

tercantum dalam firman Allah surat Asy- Syura ayat 21 sebagai berikut:

َيِّضُقَل ِّلْصَفْلا ُةَمِّلَك َلَْوَلَو ُهللَّا ِّهِّب نَذَْيَ َْلَ اَم ِّنيِّ دلا َنِّ م مَُلَ اوُعَرَش ءاَكَرُش ْمَُلَ ْمَأ

هنَِِّو ْمَُُيَْيَْيب

مِّْلَأ ٌباَذَع ْمَُلَ َينِّمِّلاهظلا

ٌ

Artiya: “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang

mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”. (Hatta, 2009:485). 3. Pengertian Islam

Secara Etimologi kata Islam berasal dari kata aslama, yuslimu, islaman, yang berarti submission (ketundukan), resignation (pengunduran),

reconciliation (perdamaian) dan to the will of god tunduk kepada Allah. Kata aslama ini berasal dari kata salima, berarti peace, yaitu damai, aman, dan

14

sentosa. Pengertian Islam itu sejalan dengan tujuan ajaran Islam, yaitu untuk mendorong manusia agar patuh dan tunduk kepada Tuhan, sehingga terwujud keselamatan, kedamaian, aman dan sentosa, serta sejalan pula dengan misi ajaran Islam, yaitu menciptakan kedamaian di muka bumi dengan cara

mengajak manusia untuk patuh dan tunduk kepada Tuhan Secara Terminologi Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an, yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah

SWT (Abuddin, 2016:27).

4. Pengertian Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam adalah Pendidikan yang seluruh komponen atau aspeknya didasarkan pada ajaran Islam. Visi, misi, tujuan, proses belajar mengajar, pendidik, peserta didik, hubungan pendidik, dan peserta didik, kurikulum, bahan ajar, sarana prasarana, pengelolaan, lingkungan dan aspek atau komponen pendidikan lainnya didasarkan pada ajaran Islam (Abudin, 2010:36).

Pengertian pendidikan agama menurut KPPN (Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional). Agama mempunyai perana yang penting dalam kehidupan manusia pancasila sebab, agama merupakan motivasi hidup dan kehidupan serta merupakan alat pengembangan dan pengendalian diri yang sangat penting. Oleh karena itu Agama perlu diketahui, dipahami, dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat menjadi dasar kepribadian sehingga ia dapat menjadi manusia yang utuh. Agama mengatur hubungan manusia dengan Tuhan yang Maha Esa, hubungan manusia dengan manusia,

15

hubungan manusia dengan alam, dan hubungan manusia dengan dirinya yang dapat menjamin keselarasan, keseimbangan, dan keserasian dalam hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai kemajuan lahiriyah dan kebahagiaan rohaniyah. Agama sebagai dasar tata nilai merupakan penentu dalam perkembangan dan pembinaan rasa kemanusiaan yang adil dan beradab, maka pemahaman dan pengalamannya dengan tepat dan benar diperlukan untuk menciptakan kesatuan bangsa. Bahan pendidikan agama bagi masing-masing pemeluknya berasal dari sumber-sumber agamanya masing-masing. Pelaksanaan pendidikan agama dilakukan oleh pengajar yang meyakini, mengamalkan, dan menguasai agama tersebut. Tujuan pendidikan nasional adalah meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan yang Maha Esa. Pendidikan agama merupakan bagian pendidikan yang amat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, antara lain akhlak dan keagamaan.

Pendidikan Agama Islam menurut Ditbinpaisun adalah suatu usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang terkandung di dalam Islam secara keseluruhan, menghayati makna dan maksud serta tujuannya dan pada

akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan ajaran-ajaran agama Islam yang telah dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat

mendatangkan keselamatan dunia dan akhirat kelak (Zakiyah, 1996:85-86). 5. Pendidikan agama Islam yang harus ditanamkan terhadap Anak

16

Ajaran Islam secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yakni iman (akidah), ibadah dan akhlak. Maka nilai-nilai Pendidikan Agama Islam yang harus ditanamkan orang tua kepada anak harus meliputi nilai iman (akidah), nilai ibadah dan nilai akhlak. Ketiga ajaran pokok Islam ini selengkapnya diungkapkan sebagai berikut

a. Akidah

Secara Etimologi, akidah berasal dari kata aqada yang berarti ikatan atau keterkaitan, Akidah berarti pula janji, karena janji merupakan ikatan kesepakatan antara dua orang yang mengadakan perjanjian (Nina,

2014:56). Akidah secara Terminologi adalah sesuatu yang mengharuskan hati membenarkannya, yang membuat jiwa tenang dan menjadi

kepercayaan yang bersih dari kebimbangan dan keraguan (Taufiq, 2011: 15). Akidah Islam di dalam Al-Qur’an disebut Iman yang dibangun atas dasar keimanan. Iman dipahami sebagai suatu keyakinan yang

dibenarkan dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan yang didasari niat yang tulus dan ikhlas dan selalu mengikuti petunjuk Allah SWT serta Sunah Nabi Muhammad SAW (Mahfud, 2011:12). Akidah adalah inti dasar dari keimanan seseorang yang harus ditanamkan kepada anak oleh orang tua, hal ini telah disebutkan dalam surat Lukman ayat 13 sebagai berikut:

َلِ ََّنَُ ب َيَ ُهُظِّعَي َوُهَو ِّهِّنْب ِّلِ ُناَمْقُل َلاَق ْلِّإَو

َِّّلِِّّ ُُِِّْْْْ

مْلُظَل َِِّْْ ْلا َّنِّإ

17

Artinya :“Dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya di waktu

ia memberikan pelajaran kepadanya: “hai anakku, janganlah

kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedholiman yang besar”. (Hatta, 2009:412).

Dari ayat tersebut Lukman telah diangkat kisahnya oleh Allah SWT dalam Al-Qur‟an yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan

menjadi dasar pedoman hidup setiap muslim. Ini berarti bahwa pola umum pendidikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya menurut Islam dikembalikan kepada pola yang dilaksanakan Lukman dan anaknya. Allah mengingatkan kepada Rasulullah nasihat yang pernah diberikan Luqman kepada putranya ketika ia memberi pelajaran kepadanya. Nasihat itu

adalah “Wahai anakku, Janganlah engkau mempersekutukan Allah,

sesungguhnya mempersekutukan Dia Allah adalah kedzaliman yang

besar.” Mempersekutukan Allah dikatakan ke zaliman karena perbuatan

itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu yang melimpahkan nikmat dan karunia dengan sesuatu yang tidak sanggup memberikan semua itu (Kementrian RI, 2010:545).

Menyamakan Allah sebagai sumber nikmat dan karunia dengan patung-patung yang tidak berbuat apa-apa adalah perbuatan zalim. Perbuatan itu dianggap sebagai kezaliman yang sangat besar karena yang disamakan dengan makhluk yang tidak bisa berbuat apa-apa itu adalah

18

Allah pencipta dan penguasa semesta alam, yang seharusnya semua makhluk mengabdi dan menghambakan dirinya kepada Allah. Anak adalah generasi penerus dari orang tuanya. Cita-cita yang belum dicapai orang tua semasa hidup di dunia diharapkan dapat tercapai oleh anaknya. Demikian pula kepercayaan yang dianut orang tuanya, disamping budi pekerti yang luhur. Cara Luqman menyampaikan pesan itu wajib dicontoh oleh setiap orang tua yang mengaku dirinya muslim. Potongan tafsir tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap orang tua harus mendidik anaknya dalam hal akidah (Chabib, 1996:61).

Pokok bahasan Akidah Islam dibangun atas enam dasar keimanan yang disebut Arkanul Iman atau rukun iman, yang tersimpul dalam Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Rukun iman merupakan pokok bahasan aqidah Islam, terdiri dari iman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhirat, dan ketentuan Allah qadha dan qadhar. Keimanan tersebut harus diperkenalkan pada anak dengan cara sebagai berikut :

1) Memperkenalkan nama Allah SWT dan Rasulnya.

2) Memberikan gambaran tentang siapa pencipta alam raya ini melalui kisah-kisah teladan.

3) Memperkenalkan ke-Maha Agungan Allah (Iman dan Kholifah,2009:6).

19

Dalam kitabnya Al-Ghazali menganjurkan tentang asas pendidikan keimanan ini agar diberikan kepada anak-anak sejak dini, yakni:

“ Ketahuilah, bahwa apa yang telah kami sebutkan itu pengenai

penjelasan akidah (keyakinan) maka sebaiknya didahulukan kepada anak-anak pada awal pertumbuhannya. Supaya dihafalkan dengan baik, kemudian senantiasalah terbuka pengertiannya nanti sedikit demi sedikit sewaktu dia telah besar. Jadi permulaanya dengan

menghafal, lalu memahami,kemudian beri’tikad, mempercayai dan

membenarkan, dan yang berhasil pada anak-anak, tanpa, memerlukan

bukti.”

Jelaslah bahwa asas pendidikan keimanan, terutama akidah tauhid atau mempercayai ke-Esa-an Tuhan harus diutamakan, karena akan hadir secara sempurna dalam jiwa anak “perasaan ketuhanan” yang berperan

sebagai fundamen dalam berbagai aspek kehidupannya.

Akidah tauhid yang tertanam kokoh dalam jiwa anak, maka ia akan mewarnai kehidupannya sehari-hari, karena terpengaruh oleh suatu pengakuan tentang adanya kekuatan yang menguasainya yaitu, Tuhan Allah yang Maha Esa. Sehingga timbul rasa takut berbuat kecuali yang baik-baik dan semakin matang perasaan ke-Tuhanannya, semakin baik pula segala perilakunya. Jadi penanaman akidah iman adalah masalah pendidikan perasaan dan jiwa, bukan akal pikiran sedangkan jiwa telah ada dan melekat pada anak sejak kelahirannya, maka sejak mula

20

pertumbuhannya harus ditanamkan rasa keimanan dan akidah tauhid sebaik-baiknya (Zainudin dkk, 1991:97).

b. Ibadah

Secara Etimologi Ibadah berasal dari kata”abada” yang berarti patuh,

tunduk, menghambakan diri, dan amal yang diridhai Allah. Secara Terminologi Ibadah adalah suatu perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Tuhan, seperti shalat, berdoa dan berbuat baik. Ibadah dalam Islam secara garis besar terbagi kedalam dua jenis, yaitu ibadah mahdah (ibadah khusus) dan ibadah ghoiru mahdah (ibadah umum). Ibadah mahdah meliputi sholat, puasa, zakat, haji. Sedangkan ibadah ghoiru mahdah meliputi shodaqoh, membaca Al-Qur’an dan lain sebagainya (Mahfud, 2011:23). Nilai ibadah, khususnya pada pendidikan sholat disebutkan dalam ayat 17 surat Lukman sebagai berikut:

هنِِّ َكَباَصَأ اَم ىَلَع ِّْبِْصاَو ِّرَكَُمْلا ِّنَع َهْناَو ِّفوُرْعَمْلِّبِ ْرُمْأَو َة َلَهصلا ِّمِّقَأ هَنَُيب َيَ

َكِّلَذ

روُمُْلْا ِّمْزَع ْنِّم

ٌ

Artinya:”Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah manusia untuk mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan munkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya hal yang demikian itu termasuk diwajibkan (oleh Allah). (Hatta, 2009:412).

21

Pendidikan sholat dalam ayat ini tidak terbatas tentang kaifiyah untuk menjalankan sholat yang lebih bersifat fiqhiyah, melainkan termasuk menanamkan nilai-nilai di balik ibadah sholat. Mereka harus mampu tampil sebagai pelopor amar ma’ruf dan nahi munkar serta jiwanya menjadi orang yang sabar. Tata peribadatan menyeluruh sebagaimana termaktub dalam fiqh Islam itu hendaklah diperkenalkan dan dibiasakan oleh orang tua dalam diri anak. Hal ini dilakukan agar kelak mereka tumbuh menjadi insan yang benar-benar takwa, yakni insan yang taat melaksanakan segala perintah agama dan taat pula dalam menjauhi segala larangannya. Ibadah sebagai realisasi dari akidah Islamiyah harus tetap terpancar dan teramalkan dengan baik oleh setiap anak (Mansur, 2005:166-177). Sejak dini anak-anak harus diperkenalkan dengan tentang Ibadah dengan cara sebagai berikut:

1) Mengajak anak ke tempat Ibadah. 2) Memperlihatkan bentu-bentuk Ibadah.

3) Memperkenalkan arti Ibadah (Imam dan Kholifah, 2009:6-7).

c. Akhlak

Secara etimologi Akhlak berasal dari kata ( قلاخأ ) adalah kata jamak dari kata tunggal khuluq ( قلخ ). Kata khuluq adalah lawan dari kata khalq.

22

Khuluq merupakan bentuk batin sedangkan khalq merupakan bentuk lahir. Khalq dilihat dengan mata lahir (bashar) sedangkan khuluq dilihat dengan mata batin (bashirah). Keduanya dari akar kata yang sama yaitu kalaqa. Khuluq atau akhlak adalah sesuatu yang tercipta atau terbentuk melalui proses (Nasirudin, 2010:130).

Secara Terminologi menurut Ibnu Miskawaih akhlak adalah keadaan jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran lebih dulu. Sedangkan menurut al-Ghazali akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa, dari sifat itu timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Jadi menurut Ibnu Miskawaih dan al-Ghazali, akhlak adalah sesuatu dalam jiwa yang mendorong seseorang mempunyai potensi-potensi yang sudah ada sejak lahir. Dan manusia akan menjadi sempurna jika mempunyai akhlak terpuji (akhlaq al-mahmudah) serta menjauhkan segala akhlak tercela (akhlaq al-mazmumah) (Mansur, 2005:221-222). Nilai akhlak sangat penting untuk ditanamkan dalam diri anak, sebagaimana disebutkan dalam surat Lukman ayat 14, 18 dan 19 sebagai berikut:

َو

ِّف ُهُلاَصِّفَو ٍنْهَو ىَلَع ًاَْهَو ُهُّمُأ ُهْتَلََحَ ِّهْيَدِّلاَوِّب َناَسنِّْلْا اََْيْهصَو

ِّلِ ْرُكْشا ِّنَأ ِّْينَماَع

ُيِّصَمْلا هَلِِِّ َكْيَدِّلاَوِّلَو

.

ِّضْرَْلْا ِّف ِّشَْتَ َلََو ِّساهَلِّل َكهدَخ ْرِّ عَصُت َلََو

َم

َلَ َهللَّا هنِِّ ًااَر

23

هلُك ُّبُِّيُ

ٍروُخَف ٍلاَتُْمُ

.

ِّتاَوْصَْلْا َرَكنَأ هنِِّ َكِّتْوَص نِّم ْضُضْغاَو َكِّْْشَم ِّف ْدِّصْقاَو

ُتْوَصَل

ِّيِّمَْلْا

.

Artinya: “Dan kami perintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik)

kepada kedua orang tua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu akan kembali. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakanlah suaramu, sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara khimar”. (Kementrian RI, 2010:546).

Dari ayat tersebut menunjukkan bahwa tekanan utama pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak dalam Islam adalah pendidikan akhlak, dengan jalan melatih anak membiasakan hal-hal yang baik, menghormati kepada kedua orang tua, bertingkah laku yang sopan baik dalam perilaku keseharian maupun dalam bertutur kata. Nilai akhlak tidak

24

hanya dikemukakan secara teoritik, melainkan disertai contoh-contoh konkret untuk dihayati maknanya dicontohkan kesusahan ibu yang mengandung, serta jeleknya suara khimar bukan sekedar untuk diketahui, melainkan untuk dihayati apa yang ada dibalik yang nampak tersebut, kemudian direfleksikan dalam kehidupan kejiwaannya (Chabib, 1996:107-108). Mendidik anak tentang akhlak tidak hanya di didik saja tetapi sebagai orangtua juga harus memberikan tauladan yang baik atau memberikan contoh yang baik sebagaimana yang dijelaskan dalam firman Allah dalam Surat Al-Ahzab ayat 21 :

َمِّ ل ةَنَسَح ةَوْسُأ َِّّلّا ِّلوُسَر ِّف ْمُكَل َناَك ْدَقَل

َ يْلاَو ََّلّا وُجَِْ ي َناَك ن

َمْو

ًايرِّثَك ََّلّا ََِكَلَو َِِّخ ْلَا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Hatta, 2009:420).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi Muhamad memberikan teladan yang baik bagi umatnya, tidak hanya teori saja yang diberikan tetapi juga contoh dan pelaksanaannya.

Akhlaq Islam dibagi menjadi tiga pokok ketika dilihat dalam kehidupan sehari-hari.

25

Akhlak kepada Allah yaitu tidak menyekutukan Allah, bertaqwa kepada Allah dan mencintai Allah dan yang paling utama adalah mempercayai bahwa Allah itu ada dan kekal.

2) Akhlak terhadap sesama manusia

Akhlak terhadap manusia bisa dilakukan terhadap siapa saja seperti sesama teman atau masyarakat, keluarga dan orang tua. Akhlak terhadap sesama manusia dibagi menjadi dua yaitu akhlak mahmudah dan madzmumah. Akhlak mahmudah adalah segala tingkah laku yang baik. Akhlak madzmumah adalah segala tingkah laku yang buruk atau jahat bisa juga dikatakan tercela. Akhlak mahmudah yang dikemukakan ahli akhlak dan tasawuf meliputi al-amanan, pemaaf al-afwu, benar shidiq, menepati janji wafa, adil adl, memelihara kesucian diri al-ifafah, malu al-haya’, berani saja’ah, kuat al-quwuah, sabar ash-sbaru, kasih sayang ar-rahman, murah hati as-sakha’u, tolong menolong at-ta’awun.

Sedangkan akhlak madzmumah meliputi egoistis ananiah, lacur al-baghyu, kikir al-bukhlu, dusta albuhtan, minum khamar al-khamru, khianat al-khianat, ananiya ad-dhulmu, pengecut al-jubn, amarah al-ghadab, curang dan culas al-ghasysyu.

3) Akhlak terhadap Lingkungan

Akhlak terhadap lingkungan diantaranya kepada tumbuhan, hewan, benda-benda tidak bernyawa. Karena semua yang diciptakan

26

oleh Allah dibumi tidak ada yang sia-sia maka harus selalu menjaga dan tidak merusaknya (Aminah, 2014:75-77).

Berkaitan dengan upaya mengambangkan perilaku moral pada anak, ada beberapa kiat yang dapat ditempuh orang tua yaitu:

a) Menciptakan kasih sayang dan kehangantan keluarga

Kasih sayang yang diberikan oleh orang tua sangat mempengaruhi perilaku moral anak. Demikianlah juga hubungan yang hangat dalam keluarga antara anak dan orang tuanya.

b) Menjadi Teladan yang baik (Uswah Hasanah)

Orangtua yang biasa menunjukkan teladan yang baik dilingkungannya, sikapnya akan ditiru oleh anak-anaknya. Hal ini secara positif akan mengembangkan pola perilaku anak dalam pergaulannya.

c) Mengajarkan disiplin dan Empati

Disiplin yang dilakukan oleh orang tua dapat berfungsi sebagai upaya untuk memberikan pelajaran tentang empati kepada anak. Namun perlu diingat orang tua hendaknya tidak melakukan cara-cara kekerasan karena dengan begitu akan membuat kreativitas anak berkurang (Abd, 2005:104-109). Nilai akhlak mengajarkan kepada manusia untuk bersikap dan berperilaku baik sesuai norma atau adab yang benar dan baik, sehingga akan membawa pola kehidupan manusia yang tenteram, damai, harmonis,

27

dan seimbang. Menurut Hasan Langgulung (2004:310-311) orang tua dapat menanamkan ketiga nilai-nilai Pendidikan Agama Islam tersebut pada anak dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

1) Memberi tauladan yang baik kepada anak tentang kekuatan iman kepada Allah dan berpegang teguh dengan ajaran-ajaran agama dengan sempurna.

2) Membiasakan anak menunaikan syiar-syiar agama semenjak kecil sehingga penunaian itu menjadi kebiasaan yang mendarah daging, anak melakukannya atas kemauan sendiri dan dapat merasakan ketentraman sebab mereka melakukannya.

3) Menyiapkan suasana agama dan spiritual yang sesuai di rumah di mana anak berada.

4) Membimbing anak membaca bacaan-bacaan agama yang berguna dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah sebagai bukti keagungan-Nya. 5) Menuntun anak turut serta dalam aktivitas-aktivitas agama. 6. Faktor yang mempengaruhi Pendidikan Agama Islam

Lingkungan dapat membentuk karakter anak, sebagimana anak tersebut berada dalam lingkungan yang seperti apa. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh para ahli psikologi diperoleh petunjuk bahwa faktor lingkungan lebih berpengaruh dalam hal pembentukan kebiasaan, kepribadian, dan nilai-nilai.

28

Pola pembinaan pendidikan dikembangkan dengan menekankan keterpaduan dalam lingkungan yaitu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

a. Lingkungan Keluarga,

Lingkungan Keluarga memegang peran yang sangat penting terutama orang tua, karena orag tua merupakan sumber pendidikan yang pertama dan utama. Anak akan mendapatkan didikan memalui orang tuanya sejak dalam kandungan sampai tumbuh menjadi dewasa. Pada pertumbuhan anak tersebut orang tua harus pintar mendidik anaknya agar tidak terjerumus dalam hal yang negatif (Abdul, 2010:50).

Siswa akan menerima pengaruh dari keluarganya berupa cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga. Kebanyakan orang tua khususnya dalam perhatian yaitu kurannya memperhatikan anaknya, dan penyebabnya adalah orang tuanya sibuk bekerja, kurangnya keharmonisan dalam keluarga, bahkan broken home, hal itu sangat berdampak bagi anak. b. Lingkungan Sekolah

Lingkungan Sekolah yang mempengaruhi belajar mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keteladan, gedung sekolah, metode belajar dan tugas rumah. Lingkungan sekolah memegang peran kedua karena siswa akan mendapatkan berbagai bidang ilmu pengetahuannya melalui sekolah (Slameto, 1991:30). Dimana disekolah akan ada seorang pendidik serta perencanaan mengajar yang

29

harus dilakukan oleh guru. Seorang guru harus sebaik mungkin menciptakan lingkungan didalam sekolah dengan suasana yang nyaman dan dapat memotivasi siswa untuk selalu giat dalam belajar.

Dokumen terkait