Pengertian pendidikan secara umum adalah bertujuan untuk
membantu seseorang supaya dapat menggarap hidupnya sendiri, agar
dapat mengembangkan budi dayanya, juga dapat terlibat dalam tata
kemasyarakatan dan dengan demikian dapat tercapai tujuan hidupnya.1
Ahmad Tafsir mengemukakan baltwa kata “Islam” dalam
pendidikan Islam menunjukkan wama yang khas, yaitu pendidikan yang
berwama Islam, pendidikan yang Islami, di mana pendidikan yang
berdasarkan Islam2 3
Sebagai sebuah proses sosialisasi dan aktualisasi dari ajaran-ajaran
Islam, pendidikan Islam tentunya bukanlah pengajaran teologis semata
(Qur’an, Hadist, dan fiqh), tetapi lebih dari itu adalah pola pengajaran
pencarian pengetahuan dan penguatan pranata-pranata pendidikan Islam
itu sendiri sehingga kebodohan dan keterbelakangan dapat diberantas
dengan mengambil langkah-langkah yang bertujuan memperkokoh
kurikulum pendidikan Islam.'
Di pihak lain, Achmadi mengemukakan pendapat baltwa yang
dimaksud dengan pendidikan Islam adalah usaha yang lebih khusus
‘Martin Sardy, Pendidikan Manusia, Penerbit Alumni, Bandung, 1985, him. 18.
2Ahmad Tafsir, Ilm u Pendidikan dalam P erspetif Islam, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1994, him. 24.
3Ali Ashraf, Horison Baru Pendidikan Islam. Ed. Terj. Son Siregar. Pustaka Firdaus, Bandung. 1992, him. 85. •
29
ditekankan untuk mengembangkan fitrah keberagamaan subyek didik
agar memahami, menghayati daii mengamalkan ajaran-ajaran Islam.4
Implikasi dari pengertian tersebut, pcndidikan Islam merupakan
komponen yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan Islam. Bahkan
tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa pendidikan agama Islam
berfimgsi sebagai jalur pengintegrasian wawasan Islam dengan bidang-
bidang studi (pendidikan yang lain. Sebagai implikasi lebih lanjut,
pendidikan agama harus sudah dilaksanakan sejak dini sebelum anak
memperoleh pendidikan atau pengajaran ilmu-ilmu yang lain).
Bertolak dari pengertian di atas, dan mengingat betapa
kompleknya risalah Islamiah maka rumusan tentang pengertian
pendidikan Islam dapatlah dikatakan segala usaha untuk memelihara dan
mengembangkan fitrah manusia serta sumberdaya insani yang ada
padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai
dengan nonna Islam.
Setelah membahas secara umum tentang pengertian pendidikan di
atas, sebenamya sudah mulai tarnpak “sosok” pengertian pendidikan
Islam yang hendak penulis bahas selanjutnya. Istilah “pendidikan”
dalam konteks agama Islam memang tidak ditemukan rumusan yang
begitu jelas, meskipun di awal pembahasan ini telah sedikit
dikemukakan beberapa pengertian tentang pendidikan Islam. Dalam
First World Confence on Muslim Education yang diselenggarakan
4Achmadi. Islam sebagai Paradigma Pendidikan. IAIN Walisongo Press, Semarang, 1992, him. 20.
yar.g terkandung dalam term tarbiyah, ta 'Urn, dan tc 'bid:
Istilah tarbiyah misalnya, seperti yang dikemukakan Muhammad Ibn Abi Bakr ibn Abd-Al-Qadir Al-Razi, menilik asal katanya vaitu
rabwah (QS.23:50) yang berarti “tanah yang meninggi” atau “bukit". memaknakan tarbiyah pada dasamya sebagi “meningkatkan”. Yahu meningkatkan potensi manusia, di mana manusia memang
berkecenderungan suci, yaitu sifatnya yang hanif
Selain term tarbiyah, pendidikan dalam Islam juga memakai term ta ’Iim. Dengan berdasarkan pada Q.S. A1 Baqarah: 30-34 dan 151, Abdul Fatah Jalal misalnya berpendapat bahwa pengertian ta ’lim lebih universal dari pada tarbiyah. Karena ketika Rasul SAW mengajarkan bacaan A1 Qur’an tidak dimaksudkan hanya sebatas membaca tanpa ada
perenungan. Tetapi membaca berarti proses pemberian pengetahuan.
pemahaman, tanggungjawab, penanaman amanah, sehingga terjadi
proses takziyah (penyucian) untuk menerima al-hikmah, serta sesuatu yang bennanfaat untuk diketahui. Ta'lim juga tidak berhenti pada pengetahuan lahiriyah, juga tidak pada pengetahuan taklid. Ta 'lim juga mencakup pengetahuan teoritis, aspek pengetahuan lainnya serta
keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan.5 6
5Ahmad Tafsir, op. cit.. him. 28.
Sedangkan pengertian tarbiyah menunit Jalal, berdasarkan pada QS Al-Isra’ : 24 dan Al-Syu’ara; 18, yang menjelaskan bahwa tarbiyah adalah proses pengasuhan pada fase pemulaan pertumbuhan manusia,
atau dengan kata lain fase kanak-kanak.7 *
Selanjutnya adalah ta'bid merupakan istilah yang paling tepat. Menurut Naquib Al-Attas istilah ta'bid merupakan istilah yang paling tepat dalam menggambarkan pengertian pendidikan. Sedangkan
tarbiyah dikatakan terlalu luas, karena juga mencakup “pelatihan” pada hewan. Setelah itu ia menjelaskan t a ’bid (pendidikan) sebagai suatu proses penanaman sesuatu ke dalam diri manusia secara bertahap
seliingga terjadi pengenalan dan pengakuan yang tepat dari segala
sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, seliingga hal itu
membawa pada pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat di
dalam tatanan wujud tersebut.s
Demikianlah beberapa pengertian pendidikan Islam berdasarkan
ketiga term tersebut. Kalau kita korelasikan dengan berbagai pendapat
pendidikan secara umum yang telah dikemukakan, sebenamya tidak ada
perbedaan yang tajam. justru saling menguatkan. Bagaimanapun juga
pengembangan potensi-potensi manusia, seliingga dapat
“menyesuaikan” sekaligus “mempermasalahkan” interelasi diri dengan
kekuatan lain di luamya seliingga merasa bersama dengan
1lbid.
sMenurul pengertian ini pendidikan pada hakikalnva merupakan upaya orang agar mampu mengenali dan mengakui tempat Tuhan dalam kehidupanya. Atau berarti juga usaha pendidikan adalah pencarian diri agar diri manusia bisa menampilkan sebagai "citra" Tuhan. Sesuatu pengertian yang menggambarkan “terlalu teoritis untuk dipraktekkan” •
kehidupannya, mampu mencipta dan mengembangkan kebudayaannya,
memfonnulasikan pengalaman bagi kehidupan, dan menjadi sesuatu
yang urgen dalam pendidikan. Hanya yang membedakan adalah
pendidikan Islam pada hakikatnya berusaha mengaralikan semua itu
dengan cita-cita Islam yang dilandasi iman, dan pengakuan akan
kebesaran Tulian.
Sebagaimana yang dinyatakan dalam rekomendasi umum
Konferensi Pendidikan Islam yang pertama bahwa pendidikan Islam
adalah pendidikan yang berusaha menciptakan “Manusia yang baik dan
benar”, yaitu manusia yang berbakti kepada Allah dalam pen genian
yang sebenar-benamya, membangun stniktur kehidupan sesuai dengan
hukum dan menjalani sesuai dengan iman yang diyakininya.
Selanjutnya karena pendidikan merupakan salah satu bentuk
ibadah, yaitu membina keimanan, maka pendidikan harus mengejar dua
hal pokok, bagaimana pendidikan memungkinkan manusia memahami
Tuhannya sedemikian mpa sehingga manusia dapat berbakti kepada-
Nya, juga harus memungkinkan manusia memahami jalan-jalan Allah di
alam semesta, dan menggunakan semua yang diciptakan Allah untuk
melindungi iman dan memperkuat agamanya.9
B. Konsep Pendidikan Islam
Hubungan yang erat antara Islam dan pendidikan dapat dirasakan
ketika membaca wahyu pertama yang disampaikan kepada Rasulullah
SAW, yang mengandung perintah ‘membaca’ kepada beliau secara
berulang-ulang (QS. 96 : 1-5). Perintah pengulangan untuk membaca
memaknakan perlunya manusia belajar yang berarti juga menekankan
pentingnya masalah ilmu dan pendidikan.111
Membaca secara terminologi tidak hanya diartikan sebagi proses
membaca ayat-ayat Tuhan textual, tetapi juga menekankan kepada
manusia agar juga “membaca” ayat-ayat Tuhan yang kontekstual,
“membaca” alam, “membaca” kehidupan, “membaca” diri sendiri,
bahkan “membaca” hasil ciptaannya sendiri. Seperti teknologi. Dalam
proses “membaca” inilah berlangsung proses pembelajaran. Manusia
dituntut untuk belajar sehingga menjadi “tabu”. Tahu untuk menguak
alam, kehidupan, serta mampu mengeksplorasi serta memanfaatkannya
demi kehidupan yang baik di muka bumi ini, dan “Tahu” bahwa itu
semua dilakukan sebagai realisasi ibadah kepada Tuhan.
Proses “membaca” yang dilakukan manusia adalah membutuhkan
waktu yang lama atau justru berlangsung terus menerus tanpa batas
waktu. Karena pemahaman manusia atas ayat-ayat Tuhan sebenamya
adalah sedikit pengetahuan atas “ayat-ayat” yang Maha Luas ini.
Apakah pemahaman seperti ini dapat dihubungkan dengan bahasa
metamor ketika malaikat mengajar Nabi SAW untuk membaca wahyu
bertanya secara berulang-ulang? 10
10M. Athivah A1 Abrasv, Dasar-dasar Pendidikan Islam, Edisi terjemah.A. Gani dan Djohar Bahiy. Institut Pendidikan Darussalam Gontor. Gonlor Ponorogo. 1991, him. 33.
memanfcatkan alam demi kehidupannya. Sebab Allah telah
“menundukkan” segala yang ada di langit dan di bumi ini, memang
untuk manusia. Tetapi yang harus disadari bahwa Islam memandang
alam sebagai mahluk yang pada intinya merupakan teofani yang
menyelubungi sekaligus menyingkapkan Tuhan. Tuhan selalu “hadir” di
dalamnya.
Oleh karena itu, llmu pengetahuan yang merupakan karunia agung
dari Tuhan harus dapat memanfaatkan alam dengan mencerminkan
kehannonisan dirinya dengan Tuhan sang maha pencipta. Sebab tidaklah
mungkin di suatu saat, manusia yang menyatakan dirinya sebagai wakil
Tuhan dengan mengandalkan kacanggihan basil karyanya, dalam
prakteknya tidak lagi mencerminkan wakil Tuhan yang sesungguhnya.
Ia bisa saja berlaku destruktif terhadap lingkungannya, alam, dan
kehidupannya sendiri. Dengan konsep Islam seperti ini, tidaklah apabila
pangeran Charles mengeluarkan pemyataan seperti disinggung di atas.
Konsep pendidikan sebenamya tidak terlepas dari potensi-potensi
yang dimiliki manusia. Pendidikan banyak dimaknai sebagai proses dan
usaha dalam membina dan mengembangkan potensi-potensi yang
dimiliki manusia, hingga bennuara pada terciptanya aspek-aspek
kemanusiaan yang integral pada diri manusia. Dan dari konsep inilah
khusus apa sebenamya pendidikan Islam itu? Namun sebelum kita
membahas tentang pengertian pendidikan Islam secara khusus, kita juga
harus membahas pengertian pendidikan secara umum.
Pendidikan ada yang menyatakan sebagai proses interelasi dari
tiap pribadi manusia dalam “penyesuaian“ dirinya dengan alam, dengan
sesama relasi sosial, dengan alam semesta, bahkan sampai tabiat
tertinggi dari kosmos yaitu Tuhan. Dan arti penyesuaian di sini tidak
mengandung makna kepasifan manusia menghadapi alam, kehidupan,
maupun dalam membaca krberadaan Tuhan. Tetapi justru
mencerminkan keaktifan manusia dalam selalu mempermasalahkan
interelasi dirinya dengan kekuatan di luamya, sehingga sesuai dengan
fungsi kekhalifahan di bumi dan gambaran diri sebagai makliluk
pencipta sejarah.
Dalam rangka “penyesuaian” manusia dengan kekuatan luar yang
melingkunginya itu dibutuhkan pengembangan potensi bawaan yang
dimilikinya. Hal ini dimaksudkan agar manusia tidak hanya “ada” dalam
kekuatan-kekuatan itu, tetapi selalu bersama alam dan kehidupan. Untuk
itu pendidikan hams dimaknai sebagai usaha dan proses pengembangan
potensi-potensi manusia dalam berbagai aspek untuk tujuan tertentu.
Kemudian apa dan bagaimana sebenamya hakikat pendidikan
Islam? Dan mengenai pertanyaan-pertannyaan tentang hakikat
pendidikan Islam memang tidak pemah terputus-putusnya, sehingga
Seperti telah dikemukakan sebelumnya bahwa manusia sejak
dilahirkan sudah membawa potensi-potensi yang membuktikan
kemuliaan manusia sebagai wakil Tuhan di alam ini. Dengan potensi-
potensi itu manusia mampu melahirkan ilmu penetahuan yang sangat
penting artinya bagi kehidupan sebagai wakil Tuhan tersebut. Manusia
dapat memanfaatkan alam ini yang Tuhan memang “menundukkannya”
untuk kemanfaatan manusia.
Sejalan dengan berbagai pengertian yang dikeluarkan oleh para
tokoh dalam pendidikan Islam, agaknya sangat layak kalau kita kaitkan
antara rumusan konsepsi baru tentang pendidikan Islam yang
dikemukakan berdasarkan konverensi pertama pada tahun 1977 di
Mekah, yang menyatakan bahwa :
“Istilah pendidikan Islam tidak lagi hanya berarti pengajaran
teologik atau pengajaran Al-Quran, Hadist, fiqh, tetapi memberi arti di
semua cabang ilmu pengetahuan yang diajarkan dari sudut pandangan
Islam.”"
Islam adalah agama ilmu dan cahaya, bukanlah suatu agama
kebodohan dan kegelapan. Begitu pentingnya pendidikan bagi kehidupan
manusia sehingga wahyu yang pertama-tama diturunkan kepada
Muhammad SAW mengandung perintah membaca. Pengulangan atas
perintali tersebut dan penyebutan kembali mengenai masalah ilmu dan
pendidikan itu dapat kita rasakan dalam menghubungkan soal pendidikan
dengan Tuhan.
_
i \ j .jjlp
■ j*jil^- -<3-^“
d J q j*—>3 '31
* b> (3-^-. ^ £
Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciplakan, Dia telah tneneiptkan martusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengerjakan kepada manusia apa-apayang tidak diketahuinya.(Al-Alaq :l-5) 12
Begitu pentingnya pendidikan, Islam mewajibkan pendidikan bagi
setiap manusia, Islam menentang setiap bentuk-bentuk dikriminasi, karena
padu dasamya setiap manusia mempunyai peluang yang sama-untuk
mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Dalam pandangan Islam, seseorang
yang berpendidikan, tetap memiliki kedudukan tinggi walaupun ia berasal
dari ‘golongan rendah’, Islam tidak memandang kepada darah dan
keturunan akan tetapi ilmu, amal, taqwa dan kejujuran serta kesucian.
Untuk itu proses pendidikan harus dilakukan secara merata tanpa
membedakan jenis kelamin laki-laki dan perempuan
Dari uraian di atas jelas nilai-nilai pemerataan diakui dalam Islam.
Keadilan, kata kunci yang digunakan dalam Al-Qur’an adalaii adl dan qisi. ‘Adi dalam bahasa Arab bukan berarti keadilan, tetapi mengandung pengertian yang identik dengan sawiyyat. Kata itu juga mengandung makna penyamarataan (equalizing) dan kesamaan (levelling).
Penyamarataan dan kesamaan ini berlawanan dengan kata zulm dan jaur (kejahatan dan penindasan). Oist mengandung makna "distribusi, angsuran, jarak yang merata, dan juga keadilan, kejujuran dan kewajaran.
Taqassata salah satu kata turunannya. juga bennakna ‘distribusi rata bagi masyarakat. dan qislas, kata mnman lainnya berarti ‘keseimbangan berat. Sehingga kedua kata di dalam A1 Quran yang digunakan untuk menyatakan
keadilan, yakni ‘adl dan qist, mengandung makna distribusi yang merata 1' termasuk distribusi bagi kesempatan mendapatkan pendidikan.