Sebagairrana telali diungkapkan, bahwa dasar berpijak
pendidikan Islam yang utama adalah Al-Qur’an, sunnah kemudian
ijtihad. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan Islam
mempunyai sasaran yang sejalan dengan misi Islam yang
bertujuan memberikan rahmat bagi semua makhluk.
Sasaran pendidikan Islam adalah berusaha membentuk
perilaku manusia menjadi perilaku kesadaran. Baik dari perilaku
individu maupun sosial sehingga hidupnya mempunyai “makna”
dalam hidup dan kehidupan ini secara luas.24 Lebih dari itu saran
pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
Pertama, sasaran individual, yang berkaitan dengan pembinaan individu utuh dan meliputi semua aspek kepribadian.
Penyadaran diri manusia akan fiingsi dan posisinya di tengah
kehidupan, serta tentang tanggungjawab dalam kehidupannya.
inte|ektual, keihnuan, daya kreatif, ideologi, keyakinan, spiritual,
moral dan sebagainya.
Kedua, sasaran-sasaran sosiak Hal ini berkaitan erat dengan posisi manusia sebagai makhluk sosial yang memungkinkan
baginya untuk selalu mengadakan interelasi dan interaksi dengan
sesamanya untuk kepentingan kemaslahatan manusia dan
kehidupan. Hal ini dapat dilalui dengan pembentukan aspek-aspek
seperti pembentukan semangat beraqidah Islamiyah, perilaku
terpuji, solidaritas kemanusiaan, pembentukan semangat sosial
Islam, saling menyayangi, mencintai, ukhuwah lslamiah dan
setemsnya.
Ketiga, sasaran-sasaran yang berkaitan dengan peradaban. Hal ini sejalan dengan konsepsi tentang manusia sebagai makhluk
pencipta peradaban karena kelebihan-kelebihannya yang dimiliki.
Untuk itu pendidikan yang mampu menciptakan manusia yang
dapat memahami dan menyadari realitas amatlah dibutuhkan.
Karena orang-orang yang mempunyai kesadaran realitaslah yang
dapat membangun peradaban dengan dimensi kemanusiaan yang
agung. Peradaban mengenai unsur material, yaitu kemajuan bidang
fisik. Dalam Islam Allali memberikan hak yang amat besar kepada
diciptakan-Nya di alam demi kesejahteraan hidup bersama. Untuk
mendayagunakan kekayaan alam inilah manusia berusalia
menciptakan teologi yang merupakan hasil dari proses
pendidikan.
Kemudian unsur spiritual, yaitu idiologi, akhlak, sains dan
adab yang di dalamnya tidak terlepas dari dimensi ke-Tuhanan
(religius). Ini memaknakan bahwa dalam segala aktivitas manusia
haruslalt mencenninkan tendensi diri dengan Tuhan (nilai-nilai
spiritual). Dan yang tak kalah penting lainnya adalah unsur
struktural dan perundang-undangan. Dan ini berkaitan dengan
struktur keluarga, masyarakat, negara.
Dengan gambaran di atas tampak jelas bahwa pendidikan
Islam ingin mewamai segenap aspek kehidupan manusia. Hal ini
sejalan dengan universalitas misi Islam itu sendiri sebagai agama
untuk sekalian alam.
3. Tujuan Pendidikan Islam
Kemajuan demi kemajuan dengan cepat diperoleh manusia.
Sebagai makhluk rasional mereka diberi kekuasaan tak terbatas
dan tak temilai untuk mengontrol dan mengatur alam semesta,
sehingga ia bebas memanfatkannya, tetapi tidak melupakan
peranan Tultan yang telali memberikan otoritas kepadanya.
Apabila sebaliknya, maka yang terjadi adalah eksploitasi
antara tuan dan hamba, yang menghilangkan nilai-nilai (values)
spiritual yang seharusnya dimiliki sebagai makhluk spiritual.
Dalam Islam, untuk mengetahui otoritas yang telah diberikan
Tuhan dalam kehidupan aktual manusia harus memiliki
kebijaksanaan yang mengubahnya menjadi manusia yang baik atau
menjadi seorang “tuan” yang bijaksana. Islam memandang baliwa
hidup adalah pertanggungjawaban, bukan hanya sekedar di dunia
tetapi juga pertanggungjawaban dalam hidup keabadian 2"
Dari pemyataan di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa
tujuan pendidikan adalah juga merupakan tujuan hidup itu sendiri.
Sehingga pendidikan adalah kehidupan, dan kehidupan adalah
pendidikan.
Sehingga tujuan pendidikan Islam adalah realisasi dari cita-
cita ajaran Islam itu sendiri, yang membawa misi bagi
kesejahteraan alam semesta. Konsep khalifah yang agung yang
mempunyai pengetahuan untuk memahami diri sendiri, sifat Tuhan
dan watak alam semesta, bersamaan dengan itu konsep sebagai
hamba yang taat; ’’Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku,
matiku, langkahku, pengorbananku, pemanfaatan alam dan
seterusnya semuanya hanya untuk Allah, penjaga segala dunia.
(QS. 6:162). “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali
supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. 51:56). Manusia yang
sadar bahwa semua tindakan dan prilaku dirmya adalah dalam
rangka pengabdian dan ibadah kepada Tuhan, merupakakan tujuan
asas dari pendidikan Islam.
Pendidikan Islam tidak bertujuan semata menciptakan sosok
manusia ’’perkasa” yang cerdas secara intelektualitas (intelectual
oriented) melalui proses tranfer o f knowledge yang kental, atau manusia baru yang selalu menciptakan sejarah, tetapi lebih dari itu
pendidikan melalui tranfer o f values justru bermuara pada pembentukan manusia “beragama” (Islam) yang berwatak,
beretika, berestetika sesuai cita-cita Islam, menjadi manusia yang
bersih, suci, tulus. Manusia yang di samping berpengetaliuan dan
berketerampilan, dan juga mencerminkan “citra Tulian”. Sehingga
manusia dapat kreatif pada sejarah kehidupan dengan nilai-nilai
Islam.
Dalam konferensi dunia pertama tentang pendidikan Islam di
Mekkah 1977, dikatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
untuk mencapai “kualitas hidup” dalam berbagai aspeknya :
Spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara
individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek itu
kearah kebaikan dan mencapai kesempumaan. Tetapi “kualitas
hidup” ini tidak akan mempunyai makna apabila tidak disertai
yang menyerahkan diri secara mutlak pada Allah, baik secara
pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.21’
Sedang manusia berpengetahuan tanpa keimanan adalah
tidak niempunyai kendali lagi. Kemajuan-kemajuan yang dicapai
manusia hanya kemajuan hampa tanpa tanpa makna, bahkan
terkadang berbenturan dengan misi kemanusiaannya sendiri. Di
sinilali iman akan menjadi kontrol agar manusia senantiasa
beritikad baik dalam segala tindakannya. Dalam menggunakan
kemajuan pengetahuan dan teknologi misalnya, akan selalu
menonjolkan aspek kemanusiaan, atau dengan kata lain semuanya
diperuntukkan bagi kesejahteraan manusia dan kehidupan sesuai
dengan norma yang berlaku, baik berdasar kriteria sosial, budaya,
ekonomi, politik dan seterusnya.
Selain keterangan di atas, sebenamya masih banyak lagi
rumusan tentang tujuan pendidikan Islam, ungkapan-ungkapan
yang sesungguhnya hanya berbeda dari segi redaksionalnya saja,
esensi yang dikandungnya sama. A1 Attas, misalnya, menghendaki
tujuan pendidikan Islam adalah menjadi “manusia yang baik” .
Munir Mursyi menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
26Dari pemvataan di atas, kita dapat menelaah bahwa tujuan inti dari pendidikan Islam adalah melahirkan manusia-manusia yang berpengetahuan sekaligus beriman, yang keberadaannya antara satu dengan yang lain saling menunjang. Manusia beriman tanpa pengetahuan adalah "kegelapan". laksana menyuruh orang buta untuk memilih wama yang disodorkan tanpa tahu harus memilih apa, karena manusia akan berkutat pada status quo, stagnasi, tanpa mampu berbuat dalam kehidupan, ia akan menjadi manusia tanpa harapan di dunia, manusia yang larut dalam sejarah, dan itu semua dapat berimplikasi pada kegagalan misi kekhalifannya (Lihat Ali Ashaf, Horison Bam Pendidikan Islam, Pustaka Firdaus, 1992, him.
menjadi “Manusia sempuma”. Menurut Abdul Fattah, agar
terwujud “Manusia sebagai hamba Allah”. Muhammad Qutb
merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai pembentukan
“manusia yang bertaqwa”.2' Yang ada pada saat bersamaan akan
menghasilkan manusia yang berbudaya dan ahli. Berbudaya dalam
pengertian ia tahu bagaimana menggunakan pengetahuan untuk
kemajuan spiritual, intelektual dan materialnya, dan ahli dalam arti
ia adalah seorang yang berguna dalam kehidupan masyarakat.
Dari beberapa pemyataan yang telah dikemukakan, dapat
disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam tidak lepas dari
tujuan Julian menciptakan manusia dimuka bumi ini, yaitu sebagai
khalifah di atas muka bumi ini. Sebagai manusia puma, kaffah,
manusia kamil (man compaction) yang mampu membaca, memikir dan menganalisis “tanda tanda” Tuhan, untuk dapat
diejawantahkan dalam kehidupan nyata, “merenggut” sifat-sifat
Tulian sehingga manampilkan “citra dan cita Tuhan”, berprestasi,
berkreasi, di muka bumi, dalam interaksi dan interelasinya dengan
sesama manusia, derm kesejahteraan manusia sehingga
mencerminkan dimensi pembebasan manusia, demi alam, dan
Tuhan. Walaupun sebagai khalifah, manusia tidak punya hak
untuk mengklaim atas kekuasaan absolut Tuhan, justru akan
27Ahmad Tafsir. op. cit., him. 46- 48. 28Ali Ashaf, op. cit., him. 38.
memperkukuh statusnya sebagai abdi Tuhan, yang hams tunduk
BAB IV