BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Pengertian Pengembangan Sumber Daya Manusia
Pengembangan sumber daya manusia, sebenarnya dapat dilihat dari dua aspek, yaitu kuantitas dan kualitas. Pengertian kuantitas menyangkut jumlah sumber daya manusia.Kuantitas sumber daya manusia tanpa disertai dengan kualitas sumber daya manusia yang baik akan menjadi beban suatu perusahaan.
Organisasi harus memperhatikan skills, konowledge dan ability atau kompetensi yang harus dipenuhi. Pengembangan sering kali dilakukan secara tumpang tindih dengan arti pelatihan atau pendidikan. Pengertian pengembangan sumber daya manusia menurut Singodimedjo (2000),
pengembangan sumber daya manusia adalah proses persiapan individu-individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau lebih tinggi di dalam organisasi, biasanya berkaitan dengan peningkatan kemampuan intelektual untuk melaksanakan pekerjaan yang lebih baik. Pengembangan mengarah pada kesempatan-kesempatan belajar yang didesain guna membantu pengembangan para pekerja.
Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia, pengembangan dipandang sebagai peningkatan SDM melalui program-program pelatihan dan pendidikan. Apa yang dapat dijelaksan dari pengembangan sumber daya manusia adalah tentang developmental pratice dan membutuhkan kolaborasi-kolaborasi dengan program-program manajemen sumber daya manusia untuk mencapai hasil yang diinginkan. Pelatihan yang membantu karyawan dalam memahami suatu pengetahuan praktis dan penerapannya, guna meningkatkan keterampilan, kecakapan, dan sikap yang diperlukan organisasi dalam usaha untuk mencapai tujuan.
D. Bentuk-Bentuk Pengembangan SDM
Dalam program pengembangan harus dituangkan sasaran, kebijaksanaan prosedur, anggaran, peserta, kurikulum, dan waktu pelaksanaannya. Program pengembangan harus berprinsipkan pada peningkatan efektifitas dan efisiensi kerja masing-masing karyawan pada jabatannya. Program pengembangan suatu organisasi hendaknya diinformasikan secara terbuka kepada semua karyawan atau anggota supaya
9
mereka mempersiapkan dirinya masing-masing. Hasibuan( 2008 : 72 ) bentuk pengembangan dikelompokkan atas : Pengembangan secara informal,dan pengembangan secara formal. Untuk lebih jelasnya kedua jenis pengembangan diatas dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pengembangan secara informal
Pengembangan secara informal yaitu karyawan atas keinginan dan usaha sendiri melatih dan mengembangkan dirinya dengan mempelajari buku-buku literatur yang ada hubungannya dengan pekerjaan atau jabatannya.
Pengembangan secara informal menunjukkan bahwa karyawan tersebut berkeinginan keras untuk maju dengan cara meningkatkan kemampuan kerjanya. Hal ini bermanfaat bagi perusahaan karena produktivitas kerja karyawan semakin besar, disamping efisiensi dan produktivitasnya juga semakin baik.
b. Pengembangan secara formal
Pengembangan secara formal yaitu karyawan ditugaskan perusahaan untuk mengikuti pendidikan atau latihan, baik yang dilakukan perusahaan maupun yang dilaksanakan oleh lembaga–lembaga pendidikan atau pelatihan. Pengembangan secara formal dilakukan diperusahaan karena tuntutan perkerjaan saat ini ataupun masa datang, sifatnya non karier atau peningkatan karier seorang karyawan. Pelatihan dan pengembangan (training dan development) memang memerlukan biaya yang cukup besar, namun investasi dibidang manusia tersebut (human investment) akhirnya akan menyumbangkan produktivitas yang
sangat tinggi bagi organisasi atau perusahaan. Untuk itu organisasi atau perusahaan tentunya akan memetik laba yang berlipat ganda di waktu yang akan datang.
E. Pengerian Materi Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Secara garis besar dapat dikemukakan bahwa materi pembelajaran (instructional material) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam rangka memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan. menurut Veithzal Rivai (2004:240) tentang materi pengembangan sumber daya manusia adalah :
”Materi disusun dari estimasi kebutuhan tujuan latihan, kebutuhan dalam bentuk pengajaran keahlian khusus, menyajikan pengetahuan yang diperlukan”.
Menurut National Center for Vocational Education Research Ltd ada tiga pengertian materi pembelajaran yaitu:
1) merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/ instruktur untuk perencanaan dan penelaah inplementasi pembelajaran.
2) segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/ instruktur dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
3) seperangkat substansi pembelajaran yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok yang utuh dari kompetensi yang akan dikuasai siswa dalam prosespembelajaran. Materi pembelajaran menempati posisi yang sangat penting dari keseluruhan kurikulum, yang harus dipersiapkan agar
11
pelaksanaan pembelajaran dapat mencapai sasaran yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Artinya materi yang ditentukan untuk kegiatan pembelajaran hendaknya materi yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar serta indicator.
2. Jenis-Jenis Materi Pelajaran
Jenis-jenis materi pembelajaran dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Fakta adalah segala hal yang berwujud kenyataan dan kebenaran, meliputi nama-nama objek, peristiwa, lambang, nama tempat, nama orang dan lain sebagainya. Contoh :mulut, paru-paru
b. Konsep adalah segala yang berwujud pengertian-pengertian baru yang bisa timbul sebagai hasil pemikiran, meliputi definisi, pengertian, cirri khusus, hakikat, inti/isi dan sebagainya. Contoh: Hutan hujan tropis di Indonesia sebagai sumber plasma nutfah, Usaha-usaha pelestarian keanekargaman hayati Indonesia secara in-situ dan ex-situ, dsb.
c. Prinsip adalah berupa hal-hal pokok dan memiliki posisi terpenting meliputi dalil, rumus, paradigm, teori serta hubungan antar konsep yang menggambarkan implikasi sebab akibat. Contoh: hukum Handy-Weinberg d. Prosedur merupakan langkah-langkah sistematis atau berurutan dalam
melakukan suatu aktivitas dan kronologi suatu sistem. Contoh: langkah-langkah dalam menggunakan metode ilmiah yaitu merumuskan masalah, observasi, hipotesis,melakukan eksperimen dan menarik kesimpulan.
e. Sikap atau nilai merupakan hasil belajar aspek sikap.
Contoh: Pemanfaatan lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan, yaitu pengertian lingkungan, komponen ekosistem, lingkungan hidup sebagai sumberdaya, pembangunan berkelanjutan
3. Prinsip-Prinsip Penentuan Materi Pelajaran
Prinsip – prinsip yang dijadikan dasar dalam menentukan materi pembelajaran adalah:
a. Relevansi (kesesuaian) Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan dikuasai peserta didik berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis materi lain. Contoh: kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ”mendeskripsikan sistim gerak pada manusia dan hubungannya dengan manusia”
b. Konsistensi (keajegan) Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik ada dua macam maka materi yang diajarkan juga harus meliputi dua macam. Contoh: kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik adalah ”pengajaran mengenai sistem panca indera”.
c. Adquency (kecukupan) Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu peserta didik menguasai konpetensi dasar yang diajarkan.
Materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu sedikit maka kurang membantu tercapainya standar kompetensi dan
13
kompetensi dasar. Sebaliknya jika terlalu banyak maka akan mengakibatkan keterlambatan dalam pencapaian target kurikulum.
Dalam pengembangan materi belajar guru harus mampu mengidentifikasikan dan mempertimbangkan hal-hal berikut:
a. Potensi peserta didik meliputi potensi intelektual, emosional, spiritual, sosial dan potensi vokasional.
b. Relevansi dan karakteristik daerah. Jika peserta didik bersekolah dan berlokasi di daerah pantai, maka pengembangan materi pembelajaran diupayakan agar selaras dengan kondisi masyarakat pantai.
c. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial dan spiritual peserta didik.
d. Kebermanfaatan bagi peserta didik. Pengembangan materi pembelajaran diupayakan agar manfaatnya dapat dirasakan peserta didik dalam waktu yang relative singkat setelah suatu materi pembelajaran tuntas dilaksanakan.
e. Struktur keilmuan yang sesuai dengan materi pembelajaran suatu ilmu.
f. Aktulaitas, kedalaman dan keluasan materi pembelajaran.
Mengembangkan materi pembelajaran hendaknya mempertimbangkan potensi peserta didik, tingkat perkembangan peserta didik, kebermanfaatan bagi peserta didik, alokasi waktu dan perkembangan peradaban dunia g. Relevansi kebutuhan peserta didik dan tuntunan lingkungan
h. Alokasi waktu.
4. Cakupan Materi Pelajaran
Dalam cakupan atau ruang lingkup materi pembelajaran harus memperhatikan beberapa aspek berikut:
a. Aspek kognitif, aspek afektif atau aspek psikomotor, karena ketika sudah diimplementasikan dalam proses pembelajaran maka tiap-tiap jenis uraian materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang berbeda-beda. Selain memperhatikan jenis materi juga harus memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materi b. Keluasan materi berarti menggambarkan seberapa banyak materi-materi
yang dimasukkan ke dalam suatu materi pembelajaran. Kedalaman materi yang menyangkut rincian konsep-konsep yang terkandung di dalamnya yang harus dipelajari oleh peserta didik.
c. Kecakupan atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan.
Memadainya cakupan aspek materi pembelajaran akan sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui apakah materi yang akan diajarkan terlalu banyak, terlalu sedikit atau telah memadai sehingga terjadi kesesuaian dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.
15
E. Pengertian Kompetensi.
Kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Kompetensi menunjukkan keterampilan atau pengetahuan yang dicirikan oleh profesionalisme dalam suatu bidang tertentu sebagai sesuatu terpenting sebagai unggulan bidang tersebut.Wibowo (2007:110) menjelaskan bahwa kompetensi adalah suatu kemampuan untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut.
Menurut Veithzal Rivai dan Ella Jauvani Sagala (2010:301) :
“Kompetensi adalah karakteristik dasar individu yang berhubungan dengan unjuk kerja (kinerja) yang efektif atau kompetensi terbaik (superior) yang beragam dan berbeda dengan pengunjuk kerja lain yang tingkat kompetensinya rata-rata.”
Berikut adalah penjelasan lebih rinci mengenai kompetensi menurut Veithzal Rivai dan Ella Jauvani Sagala (2010:301) :
a. Keterampilan : keahlian/kecakapan melakukan sesuatu dengan baik.Contoh: kemampuan mengemudi.
b. Pengetahuan: informasi yang dimiliki/dikuasai seseorang dalam bidang tertentu. Contoh :mengerti ilmu manajemen keuangan.
c. Peran sosial : citra yang diproyeksikan seseorang kepada orang lain.
Contoh :menjadi seorang pengikut atau oposan.
d. Citra diri : persepsi individu tentang dirinya.
Contoh :melihat/memosisikan dirinya sebagai seorang pemimpin.
e. Trait : karakteristik yang relative konstan pada tingkah laku seseorang.
Contoh :seorang pendengar yang baik.
f. Motif : pemikiran atau niat dasar yang konstan yang mendorong individu
Untuk bertindak atau berprilaku. Contoh : ingin selalu dihargai, dorongan untuk mempengaruhi seseorang. Keterampilan dan pengetahuan lebih mudah untuk dikenali. Dua kompetensi ini juga lebih relative lebih mudah dibentuk dan dikembangkan Melalui proses belajar dan pelatihan yang relative singkat. Sebaliknya, peran sosial, citra diri, dan motif tidak mudah dan lebih sulit untuk diidentifikasi serta membutuhkan waktu lebih lama untuk memperbaiki dan mengembangkannya.
F. Kerangka Pikir
Adapun kerangka pikir yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
17
Keterangan :
Balai latihan Kerja Industri (BLKI) Makassar sesuai dengan tugas pokoknya melaksanakan program pelatihan tenaga kerja, Uji coba program pelatihan uji kompetensi dibidang industri untuk para pencari kerja yang dibutuhkan dimasyarakat,Industri dan instansi/lembaga dalam meningkatkan Kompetensinya dibidang profesinya melalui pelatihan berbasis kompetensi, dimana dalam menjalankan aktivitasnya maka perlu memperhatikan mengenai materi pengembangan sumber daya manusia terhadap masing-masing siswa pelatihannya.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut adalah dengan melakukan tingkat kesesuaian materi pengembangan sumber daya manusia pada Balai Latihan Kerja Industri Makassar.
H. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan masalah pokok yang telah di uraikan, hipotesis Penelitian ini adalah di duga bahwa tingkat kesesuaian materi pengembangan sumber daya manusia berpengaruh signifikan terhadap kompetensi siswa pelatihan pada Balai Latihan Kerja Industri Makassar.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Peneltian.
Adapun tempat yang dilakukan untuk mengadakan penelitian adalah Jl. Taman Makam Pahlawan, No 4 Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penelitian ini sampai dengan Penyusunan Laporan diperkirakan kurang lebih dari dua (2) bulan yaitu bulan juni sampai Juli 2016 .
B. Tehnik Pengumpulan Data.
Dalam penyusunan penelitian, penulis menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
1. Penelitian Pustaka (library research) yaitu cara pengumpulan data melalui perpustakaan, baik berupa buku-buku literature dan bahan kuliah yang relevan dengan masalah yang akan diteliti.
2. Penelitian Lapang (field research) yaitu pengamatan langsung terhadap obyek yang diteliti dengan menempuh cara sebagai berikut:
a. Observasi, yaitu cara pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung terhadap obyek yang akan diteliti.
19
b. Kuesioner Yaitu penelitian Yang dilakukan dengan menyebarkan angket pertanyaan kepada sejumlah responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
C. Jenis dan Sumber Data.
1. Jenis Data.
Adapun jenis data yang dipergunakan dalam penulisan Skripsi penelitian ini adalah :
a. Data Kualitatif, yaitu data dalam bentuk informasi baik secara lisan maupun secara tertulis tentang Tingkat kesesuaian materi pengembangan sumber daya manusia dan Kompetensi siswa Pelatihan.
b. Data Kuantitatif, yaitu data dalam bentuk angka-angka yang diperoleh langsung dari sumber berapa Jumlah responden.
2. Sumber Data.
Sumber data yang dipergunakan dalam penulisan skripsi penelitian ini adalah :
a. Data Primer, yaitu data yang dikumpulkan secara langsung yang bersumber dari Balai Latihan kerja Makassar melalui pengamatan dan wawancara dengan para siswa.
b. Data Sekunder, yaitu data diperoleh dari sumber-sumber data terkait yang menunjang penulisan.
21
D. Populasi dan Sampel A . Populasi
Menurut Sugiono (2005 : 90), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini sebanyak 51 orang. Yaitu seluruh siswa pelatihan BLKI Makassar.
B . Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi yang digunakan sebagai sumber data. Dalam penelitian ini teknik penentuan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh. Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel, atau penelitian yang ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil. Istilah lain sampel jenuh adalah sensus, dimana anggota populasi dijadikan sampel (Sugiyono, 2005), biasanya hal ini terjadi karena jumlah populasi sedikit.
Mengutip pendapat Arikunto (2008), apabila populasi kurang dari 100 orang, maka diambil keseluruhannya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Berdasarkan pendapat tersebut yang menjadi sampel penelitian ini adalah seluruh siswa pelatihan BLKI Makassar, yaitu sebanyak 51 orang di karenakan populasinya kurang dari 100 orang.
E. Metode Analisis Data
Metode analisis yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Metode Deskriptif.
Suatu metode yang menjelaskan tentang tingkat kesesuaian materi pengembangan sumber daya manusia (SDM) terhadap kompetensi siswa pelatihan pada Balai Latihan kerja industri Makassar.
2. Metode Kuantitatif.
Dalam hal ini penulis menggunakan metode kuantitatif dengan least square (kuadrat terkecil) atau analisis regresi sederhana, menurut Husein umar dalam Fudin Zainal (2013:60) untuk mencari pengaruh tersebut maka di gunakan rumus Analisis regresi sederhana dengan formulasi sebagai berikut :
Y = a + bX
a = (Σy) (Σx²) – (Σx) (Σxy) n(Σx²) – (Σx)² b = n(Σxy) – (Σx) (Σy)
n(Σx²) – (Σx)² Dimana :
Y = Kompetensi Siswa Pelatihan X = Materi Pengembangan SDM b = Koefisiensi regresi
a = Konstanta
23
Selanjutnya Husein Umar (2003 : 133), menyatakan bahwa dalam suatu table mengenai koefisien korelasi pearson, arah hubungan dan taksiran koefisien untuk lebih memudahkan dalam analisa hubungan antara dua variable yang satu dengan yang lainnya dalam suatu kegiatan penelitian.
Tabel 1.
Koefisien Korelasi Pearson dan Taksirannya Koefisien Korelasi
0.00-0.19 +/- Hubungan bisa diabaikan
0.20-0.39 +/- Hubungan Rendah
0.40-0.59 +/- Hubungan Cukup
0.60-0.79 +/- Hubungan Kuat
0.80-1.00 +/- Hubungan sangat Tinggi
Sumber: Husain Umar (2003:133)
3. Kemudian untuk mengukur kekuatan hubungan antara Materi Pengembangan SDM dan Kompetensi siswa pelatihan digunakan analisis korelasi sederhana dengan formulasi sebagai berikut :
Dimana :
X = Materi Pengembangan SDM Y = Kompetensi siswa pelatihan n = Jumlah populasi/sampel r = Koefisiensi Korelasi
n∑ XY – (∑X)(∑Y) r =
n ∑ X² - (∑X)² - n∑Y² - (∑Y)²
4. Dan kemudian untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Tingkat Kesesuaian materi pengembangan SDM terhadap kompetensi siswa latihan, maka digunakan formula sebagai berikut :
r² = r² x 100 % Dimana :
r² = Koefisiensi determinasi r = Koefisiensi korelasi
Nilai Koefisien Penetu berada Antara 0 sampai 1 ( 0 ≤ KD ≤ 1 ).
Maka kriteria koefisien diterminasi :
(a) Jika nilai KD mendekati = 0, berarti tidak ada pengaruh Antara variable X (Materi Pengembangan SDM ) Terhadap Y (Kompetensi).
(b) Jika nilai KD mendekati =1, berarti pengaruhnya kuat Antara variable X (Materi Pengembangan SDM ) Terhadap Y (Kompetensi).
25
F. Defenisi Operasional
Adapun defenisi operasional dalam penelitian ini adalah : Tabel 2. yang di perlukan. Veithzal Rivai (2004:240) 2. Kompetensi ( Y) Suatu kemampuan untuk
melaksanakan suatu pekerjaan atau tugas yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. Wibowo (2007:110)
A. Sejarah singkat Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Makassar
Balai Latihan Kerja Industri (BLKI) Makassar diresmikan pada tanggal 30 maret 1977 oleh Presiden Republik Indonesia, Bapak Soeharto, Pada awalnya lembaga pelatihan ini bernama Pusat Latihan Tenaga Kerja (PLKI) yang didirikan atas kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan pemerintahan Jepang.
Pada tanggal 29 april 2011 berdasarkan peraturan mentri tenaga kerja dan transmigrasi republik Indonesia Nomor PER. 07/MEN/IV/2011 Balai latihan kerja industri Makassar menjadi unit pelaksana tehnis pusat (UPTP) di bidang pelatihan kerja yang berada dibawah naungan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas kementrianTtenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia.
Balai Latihan Kerja Industri Makassar telah disertifikasi ISO 9001 : 2008 untuk dibidang sistem manajemen mutu.
Kebijakan Mutu
Sebagai salah satu unit pelatihan di bawah naungan kementerian Tenaga kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia , BLKI Makassar bertekad menjadi lembaga pelatihan keterampilan yang mandiri dan tangguh dalam program
25
26
pelatihan yang dapat memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja untuk mencapai sasaran tersebut, kami seluruh jajaran manajemen , instruktur dan staf BLKI Makassar berkomitmen untuk :
a) memahami dan melaksanakan visi misi yang telah disepakati bersama dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing pegawai, dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan.
b) Melaksnakan dan mengembangkan sistem , metode pelatihan berbasis kompetensi, secara konsisten untuk meningkatkan jaminan mutu pelatihan.
c) Membentuk keperibadian peserta pelatihan yang tangguh, disiplin, mandiri, dan tanggung jawab.
d) Meningkatkan kerja sama dengan dunia usaha dan industri dalam rangka pemenuhan kebutuhan tenaga kerja kompeten, lulusan BLKI Makassar.
B. Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas BLKI Makassar
Balai latihan kerja industri mempunyai tugas melaksanakan pelatihan, uji kompetensi, sertifikasi, dan kerjasama kelembagaan dibidang pelatihan kerja.
Visi, Misi, Motto, Dan Janji Pelayanan 1. Visi
Terwujudnya tenaga kerja kompeten yang berdaya saing melalui
pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi.
2. Misi
Menyelenggarakan dan mengembangkan program pelatihan sesuai kebutuhan pasar kerja.
Penguatan institusi dibidang pelatihan dan pengembangan tempat uji kompetensi.
Menyelenggarakan dan mengembangkan system, metode pelatihan, serta sertifikasi kompetensi.
Membangun jejaring dengan stakeholder dibidang ketenagakerjaan.
3. Motto
Menjadikan anda kompeten bekerja.
4. Janji Pelayanan
Memberikan pelatihan kerja sampai kompeten adalah kewajiban kami.
C. Struktur Organisasi Dan Sumber Daya Manusia
Dalam melaksnakan tugas dan fungsi Balai latihan kerja industry (BLKI) dalam struktur organisasi sesuai peraturan Menaketrrans Nomor :
Per 04/MEN/II/2012 tanggal 23 Februari 2012 terdiri atas : a) Subbagian Tata Usaha
b) Seksi Program dan Evaluasi c) Seksi Penyelenggaraan
d) Seksi Kerja Sama dan Pemasaran
28
e) Kelompok Jabatan Fungsional
Saat ini BLKI Makassar telah memegang sertifikat ISO 9001 : 2008 untuk dibidang quality management system, dengan nomor sertifikat QEC29494.
STRUKTUR ORGANISASI BLKI MAKASSAR
Kepala BLKI Makassar Muhammad Akbar ,SH, MM
NIP. 19600525 198603 1 001
Kasub.Bag Tata Usaha Hardiansyah, ST, MM NIP. 19690407 199803 1 002
Kasi Kerjasama Dan Pemasaran As’adiya, ST, MT NIP. 19700516 199803 2 001 Kasi Penyelenggara
Marjono Istianto P,ST,MM NIP. 19611113 198203 1 001 Kasi Program Dan Evalusai
Bakhtiar Hammade, ST NIP. 19660316 199803 1003
KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL
A. Deskripsi Responden Penelitian
Deskripsi identitas responden adalah gambaran identitas responden yang menjadi sampel dalam penelitian, dimana dalam deskripsi identitas responden dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok responden yaitu : umur responden, jenis kelamin, status perkawinan, dan tingkat pendidikan. Selanjutnya perlu ditambahkan bahwa dalam deskripsi identitas responden maka yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 51 orang siswa pada Balai Latihan kerja industri Makassar.
Dalam deskripsi identitas responden, terlebih dahulu akan disajikan deskripsi berdasarkan usia responden yang dapat dilihat pada tabel 1 yaitu sebagai berikut :
Tabel 1 : Jumlah Siswa Pelatihan Berdasarkan Usia
No Usia Jumlah (orang) Persentase (%)
1 20 - 25 Tahun 42 82
2 26 – 35 Tahun 9 18
3 36 – 45 Tahun
-4 > 45 Tahun -
-Jumlah 51 100
Sumber : Hasil pengolahan data 2016
29
30
Dari tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa dari hasil kuisioner yang diedarkan pada 51 responden Siswa pada Balai Latihan Kerja industri Makassar berdasarkan umur, yaitu responden umur 20 – 25 tahun sebanyak 42 orang dengan tingkat persentase 82%, diikuti usia 26 - 35 tahun yaitu sebanyak 9 orang dengan tingkat persentase 18%.
Selanjutnya akan disajikan deskripsi responden menurut tingkat jenis kelamin yang dapat dlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 2 : Jumlah Siswa Pelatihan Berdasarkan Jenis Kelamin
No Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Laki – laki 26 51
2 Perempuan 25 49
Jumlah 51 100
Sumber : Hasil pengolahan data 2016
Dari tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa dari hasil kuisioner yang diedarkan pada 51 responden Siswa pada Balai Latihan Kerja industri Makassar berdasarkan jenis kelamin, yaitu dari jenis kelamin laki-laki lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Dari hasil pengolahan data dapat dilihat bahwa siswa yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 26 orang dengan tingkat persentase 51% dan perempuan sebanyak 25 orang dengan tingkat persentase 49%.
Selanjutnya akan disajikan deskripsi responden menurut status
perkawinan, yang dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 3 : Jumlah Siswa Pelatihan Berdasarkan Status Perkawinan
Sumber : Hasil pengolahan data 2016