• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Tinjauan Kepustakaan

1. Pengertian Perdagangan Bebas

Perdagangan bebas sebagai suatu kebijakan yang dikeluarkan pemerintah untuk tidak melakukan diskriminasi terhadap impor atau ekspor atas perdagangan yang terjadi di negaranya.10

Hambatan perdagangan (trade barriers) adalah regulasi atau peraturan pemerintah yang dilakukan pemerintah yang membatasi perdagangan bebas (free trade)

Perdagangan bebas sebagai suatu sistem terhadap barang, arus modal, dan tenaga kerja secara bebas antara negara-negara, tanpa hambatan yang bisa menghambat proses perdagangan.

11, yang menghambat arus barang dan/atau jasa dalam perdagangan internasional atau menghambat arus barang, jasa, orang dan modal antar negara. Bentuk-bentuk hambatan perdangangan antara lain:12

a. Tarif atau bea cukai.

Tarif adalah pajak atau cukai yang dibebankan pemerintah untuk suatu produk yang diperdagangkan secara internasional sehingga harga barang impor menjadi lebih tinggi.13

1) Bea ekspor (export duties), yaitu pajak atau bea yang dikenakan terhadap barang yang diangkut menuju negara lain.

Tujuan penggunaan tarif untuk melindungi ekonomi dalam negeri dari kompetisi luar negeri.Tarif dapat digolongkan menjadi beberapa bagian, antara lain :

10https://global.britannica.com/topic/free-trade diakses pada 19 September 2016

11Pandika, Rusli.Sanksi Dagang Unilateral di bawah Sistem Hukum WTO, (Bandung: PT Alumni, 2010), halaman 139

12Ibid., halaman 140

13Sunandar, Taryana. Perdagangan Hukum Perdagangan Internasional dari GATT 1947 Sampai Terbentuknya WTO, (Jakarta: BPHN, Departemen Kehakiman, 1996), halaman 1

2) Bea transit (transit duties), yaitu pajak yang dikenakan terhadap barang-barang yang melalui wilayah negara lain dengan ketentuan bahwa negara tersebut bukan merupakan tujuan akhir dari pengiriman.

3) Bea impor (import duties), yaitu pajak yang dikenakan terhadap barang-barang yang masuk dalam suatu negara dengan ketentuan pemungutan pajak tersebut adalah merupakan tujuan akhir dari pengiriman barang.

4) Uang jaminan impor, yaitu persyaratan bagi importir suatu produk untuk membayar kepada pemerintah sejumlah uang tertentu pada saat kedatangan produk di pasar domestik sebelum penjualan dilakukan.

b. Kuota.

Kuota adalah suatu kebijakan yang membatasi jumlah produk impor agar jumlah produk impor yang ditawarkan di dalam negeri berkurang sehingga harga jualnya naik yang dapat memengaruhi daya beli konsumen terhadap produk impor. Kuota juga di bagi menjadi beberapa bagian, antara lain :

1) Absolute atau Unilateral Kuota, yaitu pembatasan yang hanya di lakukan untuk negara sepihak, tidak melalui persetujuan dengan negara lain.

2) Negotiated atau Bilateral Kuota, yaitu kuota yang besar kecilnya ditentukan berdasarkan persetujuan dengan 2 negara atau lebih.

3) Tarif Kuota, yaitu gabungan antara tarif dan Kuota. Suatu barang yang dimasukkan ke dalam negeri melebihi jumlah yang telah ditargetkan, maka tarifnya akan menjadi lebih mahal.

4) Mixing Kuota, yaitu pembatasan penggunaan bahan mentah yang diimpit pada proporsi tertentu dalam memproduksi barang.

c. Subsidi.

Subsidi adalah bantuan pemerintah yang dihasilkan dari pajak untuk produsen lokal dengan cara meringankan pajak, pemberian fasilitas, pemberian kredit bank yang murah ataupun pemberian hadiah atau insentif dari pemerintah. Adanya subsidi, harga barang dalam negeri menjadi murah, sehingga barang-barang hasil produksi dalam negeri mampu bersaing dengan barang-barang impor.

d. Muatan lokal.

e. Peraturan administrasi.

Setiap negara mempunyai ketentuan dan peraturan sendiri dalam mengatur perdagangan dengan negara lain. Hal inilah yang dapat menghambat perdagangan internasional, karena negara pengekspor harus mematuhi ketentuan yang berlaku di Negara pengimpor, begitu juga sebaliknya.

Seperti perizinan ekspor-impor, aturan-aturan prosedur ekspor-impor, masalah pajak, masalah penentuan harga, dan system pembayaran. Saat ini pemerintah mewajibkan penggunaan L/C Letter Of Credit sebagai alat pembayaran kegiatan ekspor untuk sejumlah industri. Ini untuk meningkatkan devisa bagi Negara. Karena dengan kewajiban membuka

L/C di dalam negeri setiap pembayaran terhadap produk ekspor diatur dalam peraturan tersebut.

f. Peraturan antidumping.

Adanya hambatan perdangan dapat mengurangi efisiensi ekonomi, karena masyarakat tidak dapat mengambil keuntungan dari produktivitas negara lain. Pihak yang diuntungkan dari adanya hambatan perdangan adalah produsen dan pemerintah.

Produsen mendapatkan proteksi dari hambatan perdagangan, sementara pemerintah mendapatkan penghasilan dari bea-bea.Dengan tidak adanya hambatan perdangan, harga produk dan jasa dari luar negeri akan menurun dan permintaan untuk produk dan jasa lokal akan berkurang. Hal ini dapat menyebabkan matinya industri lokal perlahan-lahan.

Banyak negara memiliki perjanjian perdagangan bebas, dan beberapa organisasi internasional mendorong perdagangan bebas antara anggota mereka.

Perdagangan bebas dicontohkan oleh Area Ekonomi Eropa/Uni Eropa dan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara, yang telah mendirikan pasar terbuka dengan sangat sedikit pembatasan perdagangan.14

Tujuan dilakukannya perdagangan bebas adalah untuk menurunkan harga barang dan jasa dengan mendorong kompetisi. Produsen dalam negeri tidak akan lagi dapat mengandalkan subsidi pemerintah dan bentuk bantuan lainnya, termasuk kuota yang pada dasarnya memaksa warga untuk membeli

14https://www.academia.edu/18636100/Kerugian_Pasar_Perdagangan_Bebas diakses pada 20 September 2016

dari produsen dalam negeri, sementara perusahaan asing dapat membuat terobosan di pasar baru ketika hambatan perdagangan diangkat.

Selain mengurangi harga, perdagangan bebas juga seharusnya mendorong inovasi, karena persaingan antar perusahaan memicu kebutuhan untuk datang dengan produk inovatif dan solusi untuk merebut pangsa pasar.Adapun prinsip hukum perdagangan internasional yang diatur daalm GATT/WTO, meliputi:

a. Prinsip Non-Diksriminasi (Non-Discrimination Principle), meliputi : 1) Prinsip most favoured Nation

Semua negara anggota terikat untuk memberikan negara – negara yang lainnya perlakuan yang sama dalam pelaksanaan dan kebijakan impor dan ekspor serta menyangkut biaya – biaya lainnya. Perlakuan yang sama tersebut harus dijalankan dengan segera dan tanpa syarat terhadap produk yang berasal atau yang ditujukan

2) Prinsip National Treatment b. Prinsip Resiprositas15

Prinsip yang mensyaratkan adanya perlakuan timbal balik diantara sesama negara anggota WTO dalam kebijaksanaan perdagangan internasional. Artinya, apabila suatu negara dalam kebijaksanaan perdagangan internasionalnya menurunkan tarif masuk atas produk impor dari suatu negara, maka negara yang mengekspor produk tersebut wajib

15 Sood, Muhammad. Hukum Perdagangan Internasional. (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), halaman 45.

juga menurunkan tarif masuk untuk produk dari negara pertama tadi.

Prinsip ini diterapkan terutama dalam hal terjadinya pertukaran barang antara dua negara secara timbal balik, dan menghendaki adanya kebijaksanaan atau konsesi yang seimbang dan saling menguntungkan antara negara yang satu dengan yang lainnya dalam perdagangan internasional.

c. Prinsip penghapusan hambatan kuantitatif (prohibition of quantitative rectriction)16

Hambatan kuantitatif dalam GATT/WTO adalah hambatan perdagangan yang bukan merupakan tarif atau bea masuk. Termasuk dalam katagori hambatan ini adalah kuota dan pembatasan ekspor secara sukarela. Menyadari bahwa pembatasan kuota cenderung tidak adil dan dalam prakteknya justru dikriminasi. Oleh karena itu, hukum perdagangan internasional melalui WTO, menetapkan menghendaki transparansi dan menghilangkan jenis hambatan kuantitatif. Jadi, jika ingin melakukan proteksi perdagangan internasional, tidak boleh menggunakan kouta sebagai penghambat, melainkan hanya tarif yang hanya boleh diterapkan.

d. Prinsip perdagangan yang adil (fairness principles)

Dalam perdagangan internasional, prinsip fairness ini diarahkan untuk menghilangkan praktik – praktik persaingan curang, dalam kegiatan ekonomi yang disebut dengan praktik dumping dan subsidi dalam perdagangan internasional.

16Ibid., halaman 46

Maka, apabila hal diatas terjadi negara pengimpor yang dirugikan mempunyai hak untuk menjatuhkan sanksi balasan. Sanksi balasan itu adalah berupa pengenaan bea masuk tambahan yang disebut dengan bea masuk dumping yang dijatuhkan terhadap produk – produk yang di ekspor secara dumping dan countervailing duties atau bea masuk untuk barang – barang yang terbukti telah diekspor dengan fasilitas subsidi.

e. Prinsip tarif mengikat (binding tariff principles)

Setiap negara anggota WTO harus memenuhi berapapun besarnya tarif yang telah disepakatinya atau disebut dengan tarif mengikat.

Pembatasan perdagangan bebas dengan prinsip tarif yang masih ditoleransi, misalnya melakukan tindakan proteksi terhadap industri domestik melalui kenaikan tarif (bea masuk).

Sebagian besar negara-negara saat ini adalah anggota dari perjanjian perdagangan multilateral Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Namun, sebagian besar pemerintah masih memberlakukan beberapa kebijakan proteksionis yang dimaksudkan untuk mendukung kerja lokal, seperti penerapan tarif impor atau subsidi untuk ekspor. Pemerintah juga dapat membatasi perdagangan bebas untuk membatasi ekspor sumber daya alam.17 2. Pengertian Perlindungan Pelaku Usaha

Pengertian pelaku usaha adalah setiap orang perorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum

17 https://www.academia.edu/18636100/Kerugian_Pasar_Perdagangan_Bebas diakses pada 20 September 2016

negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.18

Perlindungan pelaku usaha dalam melakukan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi berupa hak untuk menerima pembayaran yang sesuai dengan kesepakatan mengenai kondisi dannilai tukar barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. Pelaku usaha juga mendapat perlindungan hukum dari tindakan konsumen yang beritikad tidak baik dan mendapat pembelaan diri yang seharusnya ketika menyelesaikan sengketa dengan konsumen serta merehabilitasi nama baiknya.

Pelaku usaha yang termasuk dalam pengertian tersebut meliputi perusahaan, korporasi, BUMN, koperasi, importir, pedagang, distributor dan lain-lain.

19

Selain itu pelaku usaha juga mendapat perlindungan hakatas merk dari produk yang dia keluarkan selama dalam jangka waktu perlindungan merk.20Pemerintah juga dapat memberikan fasilitas dan/atau kemudahan untuk pelaksanaan kegiatan pameran dagang yang dilakukan oleh Pelaku Usaha untuk mengembangkan Ekspor komoditas unggulan nasional dalam rangka memberikan perlindungan kepada pelaku usaha.21

World Trade Organization (WTO) sendiri memberikan perlindungan terhadap pelaku usaha melalui tindakan :

18 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 1 angka 3

19Ibid., Pasal 6

20 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 Tentang Merek Pasal 28

21 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan Pasal 78

1. Anti Dumping

Dalam perdagangan internasional, dumping dilarang karena dianggap dapat merugikan perekonomian negara lain yang menimbulkan kerugian material karena adanya diskriminasi harga sehingga dikenakannya bea masuk anti-dumping (BMAD) untuk menutup kerugian industri dalam negeri.

Pemungutan dilakukan terhadap semua yang melakukan impor dumping yang menyebabkan kerugian. Jumlah bea masuk anti-dumping tidak akan melebihi selisih harga dumping dengan harga normal.

2. Anti Subsidi

World Trade Organization (WTO) menyediakan tindakan-tindakan yang boleh diambil oleh anggotanya untuk melindungi industri domestik yang menghasilkan barang-barang sejenis melawan akibat dampak negatif dari impor atas barang-barang bersubsidi dengan menerapkan bea masuk (Countervailing Duties)untuk mengimbangi efek dari subsidi yang diberikan oleh negara pengekspor untuk perusahaan eksportir.

3. Tindakan Pengamanan (Safeguard)

Negara-negara anggota WTO dapat melakukan tindakan pengamanan (safeguard) untuk melindungi industri dalam negeri dan bersifat non diskriminatif. Maka, negara-negara pengekspor dibatasi aksesnya di pasar negara pengimpor karena banjirnya produk impor di negaranya dengan mengendalikan perdagangan luar negeri meliputi, perizinan, standar, pelarangan dan pembatasan ekspor barang yang dilakukan oleh pelaku usaha yang telah terdaftar dan telah

ditetapkan sebagai eksportir sehingga eksportir tersebut yang akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap barang yang diekspor.