MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)
B. Perlindungan Terhadap Industri Dalam Negeri Dalam Perdagangan Bebas di ASEAN Bebas di ASEAN
Organisasi Perdagangan Dunia atau yang lebih dikenal dengan nama the World Trade Organization (WTO) telah tumbuh dan berkembang menjadi salah
satu organisasi internasional yang paling penting dan berpengaruh dalam hubungan ekonomi dan pembangunan antar bangsa. Organisasi ini mengatur hubungan perdagangan internasional dalam rangka peningkatan pembangunan ekonomi dan standard hidup bagi negara-negara anggotanya.Setelah Indonesia meratifikasi Undang-undang Nomor 7 tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) yang membuat Indonesia menjadi anggota perdagangan dunia, membuat Indonesia harus mematuhi seluruh hasil kesepakatan dalam forum WTO, serta melakukan harmonisasi peraturan perundang-undangan nasional sesuai dengan hasil kesepakatan WTO.43
1. Anti Dumping
World Trade Organization (WTO) menerapkan prinsip dasar dalam perlindungan terhadap industry dalam negeri anggotanya, yaitu :
43 Sood, Muhammad. Hukum Perdagangan Internasional, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), halaman 1.
Dumping adalah praktik dagang yang dilakukan oleh pengekspor dengan harga jual yang kurang dari nilai wajar atau lebih rendah dari harga barang tersebut di negerinya sendiriatau dari harga jual kepada negara lain pada umumnya.44
Menurut Kindleberger dalam H.A.S. Natabaya, apabila dilihat dari segi dampak bagi konsumen dan industri dalam negeri pengimpor ada dua jenisdumping, yaitu :
Praktik ini dinilai tidak adil karena dapat merusak pasaran dan merugikan prudusen pesaing di negara pengimpor.
45
a. Dumping yang bersifat perampasan, yaitu suatu perusahaan melakukan diskriminasi dan menguntungkan pembeli untuk sementara waktu dengan tujuan untuk menghilangkan saingan, setelah saingan tersingkir maka harga dinaikkan kembali. Bentuk dumping ini sangat merugikan produk industri dalam negeri negara pengimpor.
b. Dumping yang terjadi secara terus menerus, bentuk dumping ini seperti pada dasarnya hanya akan menguntungkan konsumen negara pengimpor, karena hanya bersaing dengan produk impor lain.
Dalam perdagangan internasional, dumping dilarang karena dianggap dapat merugikan perekonomian negara lain yang menimbulkan kerugian material karena adanya diskriminasi harga tersebut.46
44 Erawati, A.F. dan J.S Badudu, Kamus Hukum Ekonomi Inggris-Indonesia (Jakarta:
Proyek ELIPS,1996) halaman 37.
45 Natabaya, H.A.S. Penelitian Hukum tentang Aspek Hukum Antidumping dan Implikasinya bagi Indonesia, (Jakarta : Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman RI, 1996), halaman 9.
46General Agreement on Tariff and Trade (GATT) 1947 Article VI
Maka, dikenakannya bea masuk anti-dumping (BMAD) untuk menutup kerugian industri dalam negeri.
Pemungutan dilakukan terhadap semua yang melakukan impor dumping yang menyebabkan kerugian. Jumlah bea masuk anti-dumping tidak akan melebihi selisih harga dumping dengan harga normal.
Negara pengimpor dapat melakukan tindakan perlawanan berupa pengenaan Bea Masuk Anti Dumping untuk mengurangi kerugian yang diderita oleh industri dalam negeri akibat dari barang dumping, dengan syarat telah terjadi kerugian (injury) yang disebabkan adanya barang dumping tersebut (causal link).47
2. Anti Subsidi
Subsidi dalam perekonomian diartikan sebagai bantuan yang diberikan pemerintah suatu negara kepada para pelaku ekonomi di negaranya. Bantuan tersebut dapat berupa keringanan dalam perpajakan dalam bentuk penangguhan pembebasan pembayaran pajak, bantuan berupa pembatasan bea masuk, atau tarif impor, bantuan berupa keringanan bunga kredit perbankan, pemberian bonus uang kepada produsen ekspor untuk setiap volume produksi yang berhasil di ekspor, bantuan biaya riset dan pengembangan teknologi, dan sebagainya.48
Setiap bentuk dukungan terhadap pendapat atau harga yang diberikan secara langsung atau tidak langsung untuk meningkatkan ekspor atau menurunkan impor dari atau ke negara yang bersangkutan yang dapat memberikan manfaat bagi penerimanya berupa pemberian dana secara langsung oleh pemerintah, penghapusan pendapatan atau tagihan pemerintah,
47Ibid.
48Muhammad Sood, Op.Cit., halaman 194.
penyediaan barang atau jasa oleh pemerintah selain infrastruktur umum atau pembelian barang, dan melakukan pembayaran pada mekanisme pendanaan , atau memberikan kepercayaan pada badan swasta untuk melaksanakan fungsi sehubungan yang terkait, yang pelaksanannya berbeda dengan biasanya yang dilakukan oleh pemerintah.49
Kelompok subsidi yang dilarang menururt World Trade Organization (WTO), yaitu :50
a. Mengakibatkan kerugian industri dalam negeri dari negeri yang mengimpor produk yang disubsidi tersebut
b. Menghilangkan atau merusak keuntungan baik secara langsung maupun tidak langsung yang seharusnya dinikmatinya oleh negara lain Dalam usaha pemberian subsidi untuk mendorong pertumbuhan ekspor, pemerintah suatu negara wajib memberitahukan terlebih dahulu secara tertulis kepada para eksportirnya. Pemberitahuan tersebut dimaksudkan untuk melindungi industri domestik negara pengimpor bagi subsidi produksi.
WTO menyediakan tindakan-tindakan yang boleh diambil oleh anggotanya untuk melindungi industri domestik yang menghasilkan barang-barang sejenis melawan akibat dampak negatif dari impor atas barang-barang-barang-barang bersubsidi dengan menerapkan bea masuk (Countervailing Duties)51
Countervailing Duties adalah tambahan bea masuk yang dikenakan untuk mengimbangi efek dari subsidi yang diberikan oleh negara pengekspor untuk perusahaan eksportir. WTO memungkinkan negara untuk
49Agreement on Subsidies and Countervailing Measures GATT/WTO1994 Article 1
50 Ibid.,Article 5
51The General Agreement on Tariffs and Trade 1947 Article 6
menempatkan countervailing duties pada impor ketika pemerintah asing mensubsidi produk ekspornya yang pada gilirannya menyebabkan cedera pada perusahaan-perusahaan impor yang bersaing.
Countervailing Duties ditempatkan jika dapat ditunjukkan bahwa subsidi memang menyebabkan cedera untuk mengimpor perusahaan yang bersaing. Countervailing Duties dikenakan terhadap barang impor setinggi-tingginya sebesar selisih antara nilai normal dengan harga ekspor dari barang tersebut.
3. Tindakan Pengamanan (Safeguard)
Negara-negara anggota WTO dapat melakukan tindakan pengamanan (safeguard) untuk melindungi industri dalam negeri dan bersifat non diskriminatif. Tindakan pengamanan (safeguard)melalui pembatasan impor diterapkan karena telah terjadi peningkatan produk impor yang menimbulkan kerugian yang serius di dalam negeri negara pengimpor. Dengan demikian, negara-negara pengekspor harus dibatasi aksesnya di pasar negara pengimpor.
Tindakan pengamanan (safeguard) merupakan salah satu instrument kebijakan perdagangan yang hampir mirip dengan kebijakan antidumping dan anti subsidi. Tindakan Pengamanan (safeguards) adalah tindakan yang diambil pemerintah untuk memulihkan atau mencegah ancaman kerugian serius industri dalam negeri sebagai akibat dari lonjakan impor barang sejenis atau barang yang secara langsung merupakan saingan hasil industri dalam negeri
dengan tujuan agar industri dalam negeri yang mengalami kerugian serius atau ancaman kerugian serius tersebut dapat melakukan penyesuaian struktural.52
WTO memperkenankan setiap negara anggota untuk menggunakan tindakan pengamanan perdagangan untuk melindungi produsen domestik dari barang impor dikarenakan terjadinya perdagangan bebas di hampir seluruh dunia.53
Tindakan pengamanan (safeguard) dilakukan apabila suatu industri dalam negeri menghadapi kesulitan karena membanjir produk impor. Hal ini sesuai dengan prinsip yang berlaku dalam perjanjian sebagai suatu masalah yang harus mendapat penyelesaian, antara lain masalah waktu safeguards yang juga masih memerlukan penyelesaian politis, demikian pula semakin banyaknya negara yang bergabung dalam free trade area dan custom union.54
Tindakan pengamanan tetap dapat ditetapkan dalam bentuk bea masuk oleh menteri keuangan atau kuota oleh menteri perdagangan. 55
Tindakan safeguard diterapkan sejauh yang diperlukan untuk mencegah atau memulihkan kerugian serius dan untuk memfasilitasi penyesuaian. Jika
Adanya kesepakatan safeguard WTO tersebut maka semua industri dalam negeri dan para eksportir mendapatkan perlindungan dan kepastian hukum yang jelas atas tindakan safeguard.
52Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 37/M-Dag/Per/9/2008 Tentang Surat Keterangan Asal (Certificate Of Origin) Terhadap Barang Impor Yang Dikenakan Tindakan Pengamanan (Safeguards) Pasal 1 ayat (2)
53 Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. Analisis Kebijakan Pengamanan Perdagangan Indonesia di Negara Tujuan Ekspor, (Jakarta: Kementrian Perdagangan, 2013), halaman 1.
54 Sood, Muhammad., Op.Cit., halaman219.
55 Yustiawan, Dewa Gede Pradnya. Perlindungan Indusri Dalam Negeri Dari Praktik Dumping, (Universitas Udayana Bali, 2011), halaman 99
nantinya direkomendasikan untuk dikenakan pembatasan kuota impor, maka jumlah kuota yang ditetapkan tidak boleh kurang jumlah rata-rata selama tiga tahun terakhir, kecuali dengan pembenaran yang jelas untuk di tetapkan pada tingkat yang berbeda dalam rangka mencegah atau memperbaiki kerugian yang serius.
Secara umum durasi tindakan pengamanan tidak boleh lebih dari empat tahun meskipun bisa diperpanjang hingga maskimal 8 tahun. Tindakan safeguard juga dapat di kenakan kembali untuk produk yang pernah dikenakan safeguard sebelumnya setelah setengah dari durasi pengenaan safeguard sebelumnya setidaknya dua tahun.
Ketentuan tentang tindakan safeguard di Indonesia diatur dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan. Tindakan Pengamanan Perdagangan diambil pemerintah untuk memulihkan Kerugian Serius atau mencegah Ancaman Kerugian Serius yang diderita oleh Industri Dalam Negeri.
Pengendalian Perdagangan Luar Negeri meliputi, perizinan, standar, pelarangan dan pembatasan. Ekspor barang dilakukan oleh pelaku usaha yang telah terdaftar dan telah ditetapkan sebagai eksportir sehingga eksportir tersebut yang akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap barang yang diekspor. Eksportir yang tidak bertanggung jawab terhadap barang yang di ekspor akan dikenai sanksi administratif berupa pencabutan perizinan, persetujuan, pengakuan dan/atau penetapan dibidang perdagangan.56
56 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan Pasal 45
C. Perlindungan Industri Dalam Negeri Dalam Perundang-Undangan di