BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Perilaku Kesehatan
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia, sedang dorongan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan yang ada dalam diri manusia. Terdapat berbagai macam kebutuhan diantaranya kebutuhan dasar dan kebutuhan tambahan (Purwanto, 1999).
Perilaku kesehatan adalah tindakan seseoranng yang mengerti status kesehatan mereka, mempertahankan setatus kesehatan mereka secara optimal, mencegah sakit dan luka dan mencapai kemampuan fisik dan mental secara maksimal (Kozier, et al, 1995). Tindakan seperti diet, latihan, perhatian terhadap gejala sakit, mengikuti nasehat pengobatan dan mencegah terjadinya resiko terhadap kesehatan. Perilaku kesehatan adalah suatu aktivitas yang dilakukan oleh individu yang meyakini dirinya sehat untuk tujuan mencegah penyakit atau mendeteksinya dalam tahap asimtomatik (Klas & Cobb, 1996 dalam Niven, 2000).
Dari batasan tersebut, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi : a. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintenance)
Merupakan perilaku atau usaha seseorang untuk memlihara atau menjaga kesehatan untuk tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bila sakit.
b. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan Merupakan upaya atau tindakam seseorang pada saat menderita penyakit, dimulai dari mengobati sendiri sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
c. Perilaku kesehatan lingkungan
Seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun social budaya,sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Dengan kata lain bagaimana seseorang mengelola lingkungan dan memanfaatkan lingkungan dengan baik sangat diperlukan, agar tidak mengganggu kesehatannya sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Becker (1979) dalam Notoatmodjo (2003) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini, yaitu :
a. Perilaku hidup sehat
Merupakan perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup makan dengan menu seimbang dengan kualitas makanan dan kualitas makanan terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh, olah raga teratur dengan kualitas (gerakan) dan frekuensi yang tetap, yang tergantung dari usia dan status kesehatan individu, tidak merokok dan minum – minuman keras serta memakai narkoba, istirahat
cukup dan mampu untuk mengendalikan stress serta gaya hidup yang positif bagi kesehatan
b. Perilaku sakit
Perilaku sakit mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsi terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit. Perilaku sakit merupakan aktifitas apapun yang dilakukan individu yang merasa sakit, untuk mendefenisikan keadaan kesehatannya dan menemukan pengobatan yang tepat.
c. Perilaku peran sakit
Mencakup hak dan kewajiban pasien sendiri maupun keluarganya, perilaku ini meliputi tindakan memperoleh kesembuhan, mengenal dan mengetahui hak untuk memperolah perawatan dan pelayanan kesehatan dan kewajiban untuk mengobati penyakitnya dan mencegah penularan penyakitnya pada orang lain.
2.2. Domain Perilaku
Bloom (1976), dalam Suliha (2002), mengatakan bahwa aspek perilaku yang dikembangkan dalam proses pendidikan meliputi tiga ranah yaitu : ranah Kognitif (pengetahuan), ranah afektif (sikap), dan ranah Psikomotor (keterampilan).
Perilaku manusia terbagi kedalam 3 domain, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor (Beni, bloom, 1908 dalam Notoatmodjo, 2003). Dalam
perkembangannya, teori Bloom dimodifikasi untuk mengukur hasil pendidikan kesehatan, yakni :
2.2.1. Pengetahuan (knowledge)
Menurut Bloom 1908 dalam Notoadmodjo 2003), pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkatan yaitu: Tahu (know), memahami (comprehension), aplikasi (application), analisa (analysis), sintesis ( syntesis) dan evaluasi (evaluation).
Tahu (know), diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
Memahami (comprehension ), diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
Aplikasi (application), diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasii atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hokum – hokum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
Analisis (analysis), adalah suatu kemampuan untuk menjabarkanmateri suatu objek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
Sintesis (synthesis), sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
Evaluasi (evaluation), berkaitan dengan kemmpuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian – penilaian itu didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria – kriteria yang telah ada.
2.2.2. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoadmodjo, 2003). Komponen pokok dari sikap adalah kepercayaan terhadap suatu objek, kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek, dan kecendrungan untuk bertindak.
Tingkatan dari pembentukan sikap, yakni : (1)Menerima (receiving),
dimana bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). (2)Merespon (responding), dimana individu memberikan jawaban bila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indiasi dari sikap. (3)Menghargai (valuing), dimana individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan atau masalah. (4)Bertanggungjawab
(responsible), dimana individu bertanggungjawab terhadap terhadap segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko.
2.2.3. Praktek atau Tindakan (practice)
Menurut Notoadmodjo, (2003) untuk mewujudkan suatu sikap menjadi tindakan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan. Tingkatan dari praktek atau tindakan, yaitu : (1)Persepsi
(perseption), mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama. (2)Respon terpimpin (guided response), dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah indikator praktik tingkat kedua. (3) Mekanisme (mecanism), apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga. (4)Adopsi (adoption), adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
3. PENATALAKSANAAN REHIDRASI ORAL PADA BALITA DIARE
Pengobatan diare di rumah yang efektif hanya dapat diberikan oleh ibu. Ibulah yang harus menyiapkan cairan rehidrasi oral dan memberikannya dengan benar, memberikan makanan yang disiapkan dengan benar dan memutuskan kapan harus di bawa ke tempat pengobatan. Ibu dapat melakukan tugas ini dengan benar bila dia jelas mengetahui kebutuhan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Keterlambatan untuk mendapatkan pertolongan memegang peranan dalam terjadinya kematian akibat diare tersebut, seringkali ibu yang membawa anaknya dalam kedaaan dehidrasi berat dan disertai penurunan
kesadaran atau faktor lainnya seperti kejang, sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Padahal dengan terapi awal yang tepat, diare akan mudah disembuhkan. Maka dari itu kesempatan terbaik bagi ibu untuk belajar tentang pengobatan diare di rumah adalah ketika dia membawa anaknya ke tempat pengobatan karena anaknya diare. Sayangnya, kesempatan ini sering hilang karena dokter atau petugas kesehatan tidak berkomunikasi dengan baik terhadap ibu- ibu, akibatnya ibu-ibu sering pulang ke rumah tanpa mengerti bagaimana meneruskan pengobatan anaknya dengan efektif (DITJEN, PPM & PLP 1999). Sebaiknya dokter atau petugas kesehatan memberikan informasi tentang cara penanganan diare, yaitu pertama langkah yangtepat yang harus dilakukan adal memberikan cairan secukupnya. Ibu – ibu yang balitanya diare sebaiknya memberikan ASI jika anaknya masih menyusui, selain itu anak diberi minum kuah sayur atau sup, oralit, LGG (larutan gula garam) dan sebagainya. Jika anak bisa memngkonsumsi makanan , ibu hendaknya memberi makanan harian yang di haluskan. Pengetahuan dan kesadaran orang tua terhadap masalah kesehatan anak balitanya tentu sangat penting agar anak yang sedang mengalami diare tidak jatuh pada kondisi yang lebih buruk (Kuntari, 2009).