TINJAUAN UMUMTENTANG PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA KORPORASI DAN ILLEGAL LOGGING
2.1. Pengertian Pertanggungjawaban
2.1.3 Pengertian Pertanggungjawaban Pidana Korporasi
2.1.3Pengertian Pertanggungjawaban Pidana Korporasi
Pertanggungjawaban pidana memiliki hubungan yang erat dengan penentuan subjek hukum pidana. Subjek hukum pidana dalam ketentuan perundang-undangan merupakan pelaku tindak pidana yang dapat dipertanggungjawabkan atas segala perbuatan hukum yang dilakukannya sebagai perwujudan tanggung jawab karena kesalahannya terhadap orang lain (korban).
Istilah “subyek hukum” sendiri memiliki arti yang luas dan tidak terbatas pada manusia saja. Kata “orang” dalam hukum perdata berarti pembawa hak atau dikatakan subyek hukum (subjectum juris), akan tetapi orang atau manusia bukanlah satu-satunya subyek hukum
(natuurlijke persoori), karena masih ada subyek hukum lain yang menurut hukum dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan-perbuatan hukum. Contohnya seperti seorang manusia, mempunyai kekayaan sendiri dan dengan perantaraan pengurusnya dapat digugat dan menggugat di muka sidang pengadilan. Subyek hukum dimaksud yaitu badan hukum (rechtpersoori), artinya orang yang diciptakan oleh hukum. Badan hukum atau korporasi itu misalnya, suatu perkumpulan dagang yang berbentuk perseroan terbatas, perserikatan orang atau yayasan, atau bentuk-bentuk korporasi lainnya. Korporasi pada awalnya merupakan suatu subyek hukum fiktif yang berbeda dari manusia yang membentuknya.
Menurut Sutan Remy Sjahdeiny12, mengenai kedudukan sebagai pembuat dan sifat pertanggungjawaban pidana korporasi, terdapat 4 (empat) sistem pertanggungjawaban korporasi yang diberlakukan, sebagai berikut:
a. Pengurus korporasi sebagai pelaku tindak pidana, sehingga penguruslah yang harus memikul pertanggungjawaban pidana;
b. Korporasi sebagai pelaku tindak pidana, tetapi penguins yang harus memikul pertanggungjawaban pidana;
c. Korporasi sebagai pelaku tindak pidana dan korporasi itu sendiri yang harus memikul pertanggungjawaban pidana; dan
d. Pengurus dan korporasi keduanya sebagai pelaku tindak pidana dan keduanya pula yang harus memikul pertanggungjawaban pidana.
Dalam hal pengurus korporasi sebagai pembuat dan penguruslah yang bertanggungjawab, kepada pengurus korporasi dibebankan kewajiban tertentu. Kewajiban yang dibebankan itu
12
sebenarnya adalah kewajiban dari korporasi. Pengurus yang tidak memenuhi kewajiban itu diancam dengan pidana. Sehingga dalam sistem ini terdapat alasan yang menghapuskan pidana. Sedangkan dasar pemikirannya adalah korporasi itu sendiri tidak dapat dipertanggungjawabkan terhadap suatu pelanggaran, melainkan selalu pengurus yang melakukan delik itu. Maka dari itu penguruslah yang diancam pidana dan dipidana.13
Korporasi hanya dapat melakukan perbuatan dengan perantaraan pengurus-pengurusnya. Dengan demikian, syarat kesalahan yang ekstemal (actus reus) pada korporasi tergantung pada hubungan antara korporasi dengan pelaku materilnya. Tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi selalu merupakan penyertaan yang dapat dipidana. Dalam hal ini, kedudukan korporasi selalu menjadi bagian dari penyertaan tindak pidana tersebut. Bahwa, tidak mungkin korporasi sebagai pelaku tunggal tindak pidana. Korporasi dapat menjadi pembuat (dadef) tetapi tidak dapat menjadi pelaku (pleger) tindak pidana”.
Menurut Barda Nawawi Arief14, ada 4 (empat) ajaran pokok yang menjadi alasan bagi pembenaran dibebankannya pertanggungjawaban pidana kepada korporasi. Ajaran-ajaran tersebut diantaranya adalah : direct liability doctrine, doctrine of strict liability, doctrine of vicarious liability dan company culture theory.
Direct liability doctrine atau sering disebut dengan identification theory yaitu doktrin pertanggungjawaban pidana langsung. Menurut teori ini bila seseorang yang cukup senior dalam struktur korporasi atau dapat mewakili korporasi melakukan suatu kejahatan dalam dalam bidang jabatannya, maka perbuatan dan niat orang itu dapat dihubungkan dengan korporasi. Korporasi dapat diidentifikasikan dengan perbuatan ini dan dimintai pertanggungjawaban secara langsung. Dalam kasus semacam ini akan selalu mungkin untuk menuntut keduanya, yaitu korporasi dan
13
Ibid, him. 125.
14
individu. Namun suatu korporasi tidak dapat diidentifikasi atas suatu kejahatan yang dilakukan oleh seorang yang berada di level rendah dalam hirarki korporasi itu. Yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah individu bukan korporasi karena perbuatannya bukan perbuatan korporasi. Timbul keberatan yang cukup signifikan atas teori ini,khususnya berkaitan dengan korporasi besar dimana terdapat kemungkinan kecil seorang senior yang melakukan perbuatan secara langsung atas suatu tindak pidana disertai dengan mens rea.
Doctrine of strict liability, merupakan bentuk pertanggungjawaban pidana dapat dibebankan kepada pelaku delik yang bersangkutan dengan tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan (kesengajaan atau kelalaian) pada pelakunya. Hal ini dalam istilah hukum di Indonesia dikenal dengan pertanggungjawaban mutlak. Pertanggungjawaban pidana dalam doktrin ini semata-mata berdasarkan pada Undang-Undang. Dalam kaitannya dengan korporasi, korporasi dapat dibebani pertanggungjawaban pidana untuk delik-delik yang tidak dipersyaratkan adanya mens rea bagi pertanggungajwaban delik itu berdasarkan doctrine of strict liability. Pelanggaran kewajiban/kondisi/situasi tertentu oleh korporasi ini dikenal dengan istilah “srtict liability offence “.
Doctrine of vicarious liability, dalam istilah hukum Indonesia dikenal dengan istilah pertanggungjawaban vikarius, yang merupakan pembebanan yang pertanggungjwaban pidana dari delik yang dilakukan, misalnya oleh A kepada B.
Menurut doktrin ini, bila seorang agen atau pekerja korporasi, bertindak dalam lingkup pekerjaannya dan dengan maksud untuk menguntungkan korporasi, melakukan suatu kejahatan, tanggung jawab pidananya dapat dibebankan kepada perusahaan. Tidak menjadi masalah apakah perusahaan secara nyata memperoleh keuntungan atau tidak, atau apakah aktivitas tersebut telah dilarang oleh perusahaan atau tidak. Dapat dikatakan bahwa suatu korporasi telah menyerahkan
kekuasaan untuk bertindak di dalam bidangnya masing-masing kepada seluruh staf-nya dan berdasarkan itu korporasi harus dimintai pertanggungjawaban atas tindak pidana yang dilakukan. Hal ini sering dijadikan alasan bahwa pencegahan yang optimal dapat tercapai dengan menerapkan doktrin vicarious liability pada korporasi tersebut.
Sedangkan, company culture theory atau teori budaya korporasi menerapkan sistem dimana korporasi dapat dipertanggungjawabkan dilihat dari segi prosedur, sistem bekerjanya, dan budayanya. Oleh karena itu teori ini sering disebut teori model/sistem atau model organisasi (organizational or system model), serta kesalahan yang dilakukan oleh korporasi dalam teori ini didasarkan pada “internal decision-making struktur”.
Berdasarkan uraian diatas, bahwa korporasi dapat dijadikan subjek tindak pidana dan bisa dipertanggungjawabkan. Namun, menurut Andi Hamzah bahwa korporasi itu tidak mungkin di pidana, karena itu jika ditentukan bahwa delik-delik tertentu dapat dilakukan oleh korporasi, delik itu harus disertai dengan ancaman pidana alternatif dendanya. Apabila korporasi dapat dipertanggungjawabkan untuk seluruh macam delik, maka seluruh rumusan delik dalam KUHP harus ada pidana alternatif denda sebagaimana halnya dengan Wvs Belanda sekarang ini.15