• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

4. Dampak Modernisasi terhadap Komunitas Nelayan Suku Bajo 57

Bedasarkan hasil penelitian ini, modernisasi perikanan berdampak pada kehidupan sosial nelayan maupun komunitas nelayan tersebut. Dampak tersebut adalah perubahan pola kerja dari penggunaan teknologi lama yang masih sederhana menjadi teknologi baru yang lebih modern, efektif dan efisien. Efektivitas dan efisiensi modernisasi tersebut menimbulkan diferensiasi yakni munculnya unit-unit sosial baru yang berdampak pada perubahan struktur sosial nelayan. Perubahan struktur tersebut terjadi pada level nelayan maupun komunitas. Pada level nelayan,

diferensiasi tersebut, menimbulkan nelayan terstratifikasi dalam beberapa lapisan.

Perubahan lapisan nelayan tersebut jelas berdampak pada perubahan stratifikasi pada level komunitas sehingga struktur sosial menjadi berubah. Pola kerja lebih efisien tersebut juga berdampak pada perolehan tangkapan yang mempengaruhi pendapatan nelayan. Oleh karena itu modernisasi berupa alih teknologi tersebut juga berdampak pada kesejahteraan nelayan.

Seperti yang dikatakan oleh Bapak Karim:

”Dulu waktu saya masih menggunakan teknologi lama dan juga alat tangkap yang masih sederhana saya selalu mendapatkan penghasilan yang rendah tetapi pada saat saya sudah menggunakan alat tangkap yang lebih modern kebutuhan keluarga sudah hampir terpenuhi semua.” (Wawancara, 6 Februari 2016).

Senada dengan Karim, Pak Badu juga mengemukakan pendapatnya tentang dampak modernisasi terhadap komunitas nelayan suku Bajo. Pak Badu dahulunya tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, setelah merasakan modernisasi perikanan, maka terasa sangat membantu dalam meningkatkan taraf kehidupannya.

“Waktu pertama-tama saya bekerja sebagai nelayan, saya merasa tidak percaya diri karena sebelumnya saya tidak mempunyai pengalaman kerja tapi lama kelamaan sudah percaya diri dan merasa nyaman bekerja sebagai nelayan serta saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga.” (Wawancara, 8 Februari 2016).

B. Pembahasan

Setelah dilaksanakan penelitian di masyarakat Suku Bajo di Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar, maka dapat dilihat bentuk modernisasi perikanan masyarakat Suku Bajo Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan

Selayar dapat dilihat dari semua unsur atau alat yang digunakan dalam menangkap ikan misalnya perahu bermesin tempel katinting, penampungan modern (karamba) dan mesin diesel. Komunitas nelayan tersebut mengalami perubahan social pada komunitas Suku Bajo dapat dilihat dari semakin banyaknya nelayan Suku Bajo yang menggunakan perahu bermotor dalam kegiatan melaut akan dapat merubah bagaimana adaptasi nelayan tersebut bagaimana masyarakat nelayan tidak lagi melihat kegiatan melaut sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan subsitensi tetap5 juga bagaimana dapat menyimpan uang untuk kebutuhan pendidikan, rekreasi dan kesehatan dengan adanya modernisasi perikanan di prediksi akan membawa dampak dalam sector ekonomi nelayan, yaitu peningkatan produksi perikanan, peningkatan pendapatan nelayan dan tersedianya lapangan kerja baru. Untuk mengetahui lebih lanjut perubahan yang terjadi dalam masyarakat Suku Bajo maka akan dijelaskan sebagai berikut :

1. Peningkatan Produksi Perikanan

Dengan adanya pembangunan dalam masyarakat pesisir, melalui modernisasi perikanan pada penggunaan alat-alat perikanan tangkap maupun perikanan darat.

Seperti penggunaan perahu bermotor yang lebih dapat menampung hasil tangkapan yang lebih banyak dengan kualitas produksi yang lebih baik. Potensi dalam sumber daya laut yang biasanya hanya di berskala lokal kini berubah menjadi berorientasi ada kebutuhan pasar. Dengan peningkatan hasil produksi perikanan secara tidak langsung akan memberikan daya tawar bagi para investor yang masuk. Ketika hasil produksi perikanan akan semakin mempererat hubungan kerja sama antar sesama nelayan.

Maka dalam aspek ini modernisasi tidak hanya pada dimensi ekonomi tetapi juga moral serta etika.

2. Peningkatan pendapatan nelayan.

Peningkatan pendapat nelayan ini juga tidak terlepas dari meningkatnya jumlah produksi perikanan. Namun ketika di bandingkan dengan adanya hukum permintaan dan hukum penawaran yang menyatakan bahwa ketika barang yang tersedia semakin besar maka harga akan semakin turun. Jika hal ini benar terjadi maka tetap saja nelayan akan merugi. Namun jika ini ditangani dengan baik dan dijaga elektabilitasnya maka yang terjadi adalah semakin meningkatnya pendapatan nelayan sehingga tidak akan terjadi lagi kemiskinan dalam nelayan.

3. Tersedia lapangan kerja baru.

Selama masalah modernisasi menjadi problematika karena adanya dampak yang di bawanya termasuk terjadinya kesenjangan ekonomi dan potensi konflik.

Namun hal ini tidak dapat sepenuhnya karena adanya modernisasi dalam penggunaan alat tangkap maupun penggunaan perahu bermotor. Ini berkaitan dengan mental para nelayan Suku Bajo. Sebenarnya jika modernisasi ini dinilai dan dijalankan sebagaimana mestinya akan mudah berkembang pesat dapat mengurangi para nelayan yang tidak bekerja melaut yakni dengan membuat perahu dan mengolah hasil pasca penangkapan.

Dari hasil pembahasan Perubahan Sosial Komunitas Masyarakat Nelayan Suku Bajo Kecamatan Pasimannu dapat di simpulkan bahwa dengan adanya modernisaasi perikanan pada masyarakat pasimarannu khususnya Suku Bajo

membawa perubahan sosial yang signifikan itu dapat dilihat dari meningkatnya produksi perikanan, meningkatnya pendapatan nelayan,dan tersedianya lapangan kerja baru.

Pada dasarnya setiap program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat akan berdampak pada norma serta budaya lokal setempat. Demikian pula dengan kelestarian lingkungan laut, begitu juga dengan pantai yang menjadi sumber utama mata kegiatan nelayan.

Kehidupan nelayan terutama pada lapisan buruh dalam kegiatan penangkapan ikannya tergantung pada hubungan dengan juragan (pemiliki modal dan kapal). Hal itu dikarenakan kekurangan modal atau finansial yang memadai. Kekurangan modal tersebut semakin menambah beban, tantangan serta persaingan yang besar dalam rangka pemanfaatan sumberdaya laut. Disatu sisi nelayan buruh dengan kemampuan dan keterampilan menangkap ikan yang merupakan potensi, disisi lain tidak adanya modal adalah kendala, mengingat wilayah laut adalah wilayah terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang memiliki kemampuan untuk mengolah sumber daya alam yang ada di dalamnya dan berlakunya hukum alam, siapa kuat dia adalah raha.

Pembangunan sebagai hasil dari modernisasi ini ditanggapi beragam oleh beberapa kelompok masyarakat nelayan Suku Bajo di Kecamatan Pasimarannu.

Dalam komunitas nelayan Suku Bajo perubahan yang nampak adalah berubahnya pola kerja, sistem stratifikasi baik karena dasar penguasaan alat produksi maupun mencakup pula kekuasaan. Perubahan stratifikasi juga terjadi pada organisasi

penangkapan sebagai implikasi dari alih teknologi tersebut, sehingga kelembagaan nelayan yang telah terbangun sebelumnya biasanya akan terjadi perubahan juga.

Modernisasi perikanan ini berdampak pada kehidupan sosial nelayan maupun komunitas nelayan tersebut. Dampak tersebut adalah perubahan pola kerja dari penggunaan teknologi lama yang masih sederhana yaitu perahu dayung menjadi teknologi baru berupa perahu motor tempel yang lebih modern, efektif dan efisien.

Efektifitas dan efisiensi modernisasi tersebut menimbulkan diferensiasi yakni munculnya unit-unit sosial baru yang berdampak pada perubahan struktur sosial masyarakat nelayan. Perubahan tersebut terjadi pada level nelayan maupun komunitas. Pada level nelayan, diferensiasi tersebut menimbulkan nelayan terstratifikasi dalam beberapa lapisan, misalnya nelayan pemilik kapal dan sebagainya yang dalam bahasa Bajo disebut punggawa dan pekerja disebut sawi.

Perubahan lapisan nelayan tersebut jelas berdampak pada perubahan stratifikasi pada level komunitas sehingga struktur sosial berubah yang awalnya ascribed dan achieved status menjadi hanya achieved status saja.

Dilihat dari pola kerja berdasarkan dimensi waktu yang digunakan, perubahan yang terjadi sangat signifikan. Yang mana dengan menggunakan teknologi lama, pola kerja dengan daya jelajah yang lebih dekat, waktu melaut lebih singkat, jumlah pekerja lebih sedikit serta pembagian tugas tidak ada atau ada tetapi tidak jelas.

Sedangkan penggunaan teknologi baru (modernisasi) pola kerja daya jelajah lebih jauh, waktu melaut lebih panjang, tenaga kerja lebih banyak dan pembagian tugas lebih jelas. Selain itu pembagian hasil juga lebih terorganisir, sehingga semakin baik

teknologi penangkapan ikan yang digunakan maka semakin banyak hasil yang diperoleh dan hal itu berdampak pada semakin tingginya tingkat pendapatan nelayan.

Selain kegiatan penangkapan ikan, kegiatan yang menjadi fokus perhatian saat ini adalah usahatani rumput laut. Harga rumput laut yang relatif tinggi di pasaran, menjadikannya komoditas utama pada masyarakat nelayan. Kegiatan ini dominan dilakukan oleh para wanita masyarakat Bajo. Pendampingan yang dilakukan pemerintah daerah setempat secara berkala sangat dirasakan manfaatnya, berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat pesisir. Selain memberikan pelatihan budidaya rumput laut, aparat pemerintah setempat juga mengajarkan keterampilan memanfaatkan hasil laut berupa kerang yang dapat menjadi barang bernilai ekonomis tinggi jika sudah berupa aksesoris dan sebagainya. Terbukti, saat ini beberapa kelompok wanita nelayan memanfaatkan hasil alam itu dan telah dipasarkan.

Perubahan selanjutnya yang dialami oleh masyarakat Bajo adalah mulai tumbuhnya tingkat kesadaran akan kelestarian lingkungan alam dengan adanya gerakan sukarela menghijaukan kembali terumbu karang dan bakau, dengan adanya larangan untuk tidak melakukan penangkapan ikan menggunakan bom atau racun yang sangat membahayakan keberlangsungan ekosistem alam.

BAB V PENUTUP

A. Simpulan

Adapun kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Modernisasi perikanan yang dilakukan masyarakat Kecamatan Pasimarannu khususnya Suku Bajo adalah dengan adanya perahu bermesin tempel seperti mesin katinting dan perahu bermesin diesel serta alat tangkap modern seperti, jaring porsen dan alat penampungan ikan seperti karamba dalam bahasa Bajo.

2. Perubahan sosial komunitas Suku Bajo dapat dilihat dari peningkatan produksi perikanan, peningkatan pendapatan nelayan, tersedianya lapangan kerja baru.

3. Dampak modernisasi perikanan terhadap perubahan sosial pada masyarakat nelayan Suku Bajo adalah tingginya tingkat pendapatan hasil nelayan serta tumbuhnya tingkat kesadaran akan kelestarian lingkungan alam dengan adanya gerakan sukarela.

B. Saran

Adapun saran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Agar masyarakat Kecamatan Pasimarannu khususnya komunitas nelayan Suku Bajo menggunakan alat-alat penangkapan ikan modern dengan sebaik-baiknya.

2. Semoga masyarakat Kecamatan Pasimarannu komunias nelayan Suku Bajo lebih meningkatkan produksi perikanan, pendapatan dan lebih banyak lagi menciptakan lapangan kerja.

DAFTAR PUSTAKA

Ahimsa. 1995. Analisis Structural dan Makna Cerita Suku Bajo, Yogyakarta: Kalam Karta:perdana ed 1cet 6

Aslan. 2009. Potret Masyarakat Pesisir Sulawesi Tenggara, Kendari :Unhalu Baharudin, Suratman. 2011. Pergeseran Nilai Tradisional Suku Bajo dalam

Perlindungan dan Pemanfaatan Sumberdaya Laut Taman Nasional Wakatobi.

Tesis Pascasarjana: Bogor: IPB

Deliarnov. 1997. Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta: PT Raja GRafindo Persada

Gilib. 2009. Perkembngan Ekonomi Daerah Berbasis Kawasan Andalan pada Desa Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Kabupaten Muna

Hamzah, Awaludin. 2008. Respon Komunitas Nelayan terhadap Modernisasi

Perikanan(Studi Kasus - Nelayan Suku Bajo di Desa Lagasa Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara). Tesis Pascasarjana: Bogor: IPB

Kusnadi. 2001. Pangamba’ Kaum Perempuan Fenomenal Pelopor dan Penggerak Perekonomian Masyarakat Nelayan, Bandung: Humaniora Utama Press

______. 2002. Nelayan Strategis Adaptasi dan Jaringan Social: Humaniora Utama Press Bandung

______. 2009. Keberadaan Nelayan dan Dinamika Ekonomi Pesisir, AR-RUZZ MEDIA

Martono, Nanang. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Nurani, Soyomukti. 2010. Pengantar Sosiologi, AR-RUZZ MEDIA

Piotr, Sztompka. 2011. Sosiologi Perubahan Sosial, Jakarta: Prenada, ed 1 cet 6 Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif

R&D, Bandung: Alfabeta

Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Soelaeman, M. Munandar. 2006. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial, Jakarta : Prenada Media Group

http//digilib.uin-suka.ac.id/15417/.../09540035_bab-i_iv-atau-v_daftar-pustaka http//:elearning.gunadarma.co.id/20 Juni 2014/Pengantar Sosiologi dan Ilmu Sosial

Dasar

http://journal.ipb.ac.id/index.php/sodality/article/viewFile/5885/4550 http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/.../1478/ansar%20arifin.docx http: //repository.unhas.ac.id/…/Proposal_S3_%20Mansyur%20Radjab.docxx

Ilpizukdi. 2008.www.blogspot.com Modernisasi dan Pembangunan Masyarakat di akses 5 November 2011

DOKUMENTASI

GAMBAR NELAYAN SUKU BAJO Di KECAMATAN PASIMARANNU

NELAYAN SEDANG MEMUAT ALAT PENGAWETAN

RIWAYAT HIDUP

SALMAWATI, lahir di Limbo pada tanggal 08 Oktober 1992, anak pertama dari dua bersaudara ini merupakan buah cinta dari pasangan Sani dan Galo.

Penulis pertama kali menempuh pendidikan di SD Impres No.16 Limbo, Kab.Selayar tahun 1999-2005. Pada tahun 2005 penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Pasimarannu dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 2008. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan di MAN Bontoharu dan tamat pada tahun 2011. Pada tahun yang sama penulis hijrah ke Makassar untuk melanjutkan pendidikannya dan terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar melalui jalur PMJK.

Penulis dapat menyelesaikan pendidikan atas rahmat Allah SWT, dan dukungan serta do‟a dari kedua orang tua dengan memilih judul “Modernisasi Perikanan dan Perubahan Sosial Komunitas Nelayan Suku Bajo di Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar”.

Dokumen terkait