BAB III METODE PENELITIAN
H. Teknik Pengabsahan Data
Pengecekan pengabsahan data dapat dilakukan dengan empat teknik pemeriksaan, yaitu sebagai berikut:
1. Kepercayaan (Kreadibility).
Kreadibilitas data dimaksudkan untuk membuktikan data yang berhasil dikumpulkan sesuai dengan sebenarnya.
Ada beberapa teknik untuk mencapai kreadibilitas yaitu teknik : a. Ketekunan Pengamatan
Ketekunan pengamatan dimaksudkan untuk menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur yang sangat relevan dengan persoalan yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan ketekunan pengamatan, maka peneliti dapat melakukan pengecekkan kembali apakah data yang ditemukan itu salah atau tidak dan peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.
b. Triangulasi
Triangulasi sebagai pengecekkan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu. Triangulasi dilakukan dengan menggunakan sumber, metode dan teori. (1).Triangulasi sumber digunakan dengan cara membandingkan data yang diperoleh dari seorang informan dengan informan lainnya.
(2). Triangulasi metode dilakukan dengan cara pengumpulan data yang beredar, seperti studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang diperoleh dari studi pustaka, observasi, wawancara dan dokumentasi peneliti kumpulkan kemudian dianalisa, mulai dari latar belakang, pengorganisasian dan pelaksanaan. (3).
Triangulasi teori adalah pengecekkan data dengan membandingkan teori-teori yang dihasilkan para ahli yang dianggap sesuai dan sepadan melalui penjelasan banding.
c. Kecukupan Referensi
Pendukung untuk membuktikan data yang telah ditemukan oleh peneliti.
Contohnya, data hasil wawancara perlu didukung dengan adanya foto dan gambar wawancara. Data tentang interaksi manusia atau gambaran suatu keadaan perlu didukung oleh foto-foto. Alat-alat bantu perekam data dalam penelitian kualitatif sangat diperlukan untuk mendukung kredibilitas data yang telah ditemukan oleh peneliti. Dalam laporan penelitian, sebaiknya data-data yang dikemukakan perlu dilengkapi dengan foto-foto atau dokumen autentik, sehingga menjadi lebih dapat dipercaya.
2. Kebergantungan (Depandibility)
Kriteria ini digunakan untuk menjaga kehati-hatian akan terjadinya kemungkinan kesalahan dalam mengumpulkan dan menginterprestasikan data sehingga data dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kesalahan sering dilakukan oleh manusia itu sendiri terutama peneliti karena keterbatasan pengalaman, waktu, pengetahuan. Cara untuk menetapkan bahwa proses penelitian dapat dipertanggungjawabkan melalui audit dipendability oleh ouditor independent oleh dosen pembimbing.
3. Kepastian (Konfermability)
Kriteria ini digunakan untuk menilai hasil penelitian yang dilakukan dengan cara mengecek data dan informasi serta interpretasi hasil penelitian yang didukung oleh materi yang ada pada pelacakan audit.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Pasimarannu adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia dengan koordinasi 7o18’4,23 o LU 120o58’58,15”BT/ 7,3o LS
120,96667oBT. Pasimarannu berjarak sekitar 119 mil dari kota Benteng dengan waktu tempuh perjalanan laut± 12 jam menggunakan kapal kayu bermesin diesel (jolor).
Kecamatan Pasimarannu terdiri dari 8 desa dan 17 dusun/lingkungan. Kecamatan Pasimarannu memiliki luas area 176.35 km2 (68.09 mil2).
Adapun delapan Desa yang berada di wilayah Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar adalah sebagai berikut :
Tabel 1.2
Tabel Nama Desa dan Jaraknya Dari Kota
NAMA DESA JARAK DARI KOTA (KM)
Lamantu 151
Bonerate 151
Batu bingkung 150
Majapahit 152
Sambali 153
47
Lambego 125
Bonea 150
Komba-komba 120
Adapun penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar.
Berikut adalah data tentang kondisi Geografis dan Demografis Kabupaten Selayar ;
a. Kondisi Geografis
Wilayah Kepulauan Selayar terdiri atas 123 Pulau Besar dan Pulau Kecil (Poldas, 2013). Gugusan pulau tersebut sebagian berpenduduk, sebagian lagi adalah pulau yang tidak di tinggali. Secara Geografis, Selayar terletak antara 5o42‟ - 7 o35‟ Lintang Selatan dan 120 o 15‟ - 122 o 30‟ Bujur Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Bulukumba disebelah Utara, laut Flores disebelah timur, Laut Flores dan Selat Makassar sebelah Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur disebelah Selatan. (data Pemkab. Selayar 2013). Luas Kabupaten Selayar adalah 903,35 Km2. Namun berdasarkan pengukuran secara manual oleh badan Pertanahan Nasional Kabupaten Selayar luas wilayah Selayar tercatat 1.188,28 Km2 wilayah daratan (5,321 %) dan 21.138,41 Km2 (94,68 %) wilayah lautan.
b. Kondisi Demokrafis
Menurut data tahun 2013, penduduk Kabupaten Selayar berjumlah 107.471 jiwa yang terdiri atas 50.855 jiwa laki-laki dan 56.616 jiwa perempuan.
Pertumbuhan penduduknya tergolong rendah karena adanya rata2 0,36%
pertahun selama periode 2009-2013. Dengan rata2 pertumbuhan penduduk tersebut dapat diperkirakan penduduk Kabupaten Selayar pada tahun 2017.
Angkatan kerja berdasarkan lapangan usaha yang tertinggi adalah Pertanian sebesar 67,33%, menyusul perdagangan 10.06%, keuangan dan jasa 9,60%
industri, listrik, gas dan air 5,77%, kontruksi 2,93%, angkutan dan komunikasi 2,42%, pertambangan dan penggalian 0,23% serta lain 0,00%. Bahasa lokal yang digunakan di Kabupaten Selayar kurang lebih ada 7 (tujuh) yaitu;
Bahasa Selayar, Bahasa Bugis, Bahasa Bajo, Bahasa Laiyolo, Bahasa Barang-barang, Bahasa Bonerate, Bahasa Lambego.
Adapun beberapa Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada table berikut:
Tabel 1.3
Penyebaran Penduduk Tahun 2013
Nama Kecamatan Tingkat persebaran penduduk
Kecamatan Benteng 18.860 jiwa
Kecamatan Bontoharu 11.801 jiwa
Kecamatan Bontomanai 13.642 jiwa
Kecamatan Bontomatene 13.818 jiwa
Kecamatan Bontosikuyu 14.450 jiwa
Kecamatan Buki 6.778 jiwa
Kecamatan Pasilambena 7.802 jiwa
Kecamatan Pasimarannu 8.923 jiwa
Kecamatan Pasimasunggu 7.008 jiwa
Kecamatan Pasimasunggu Timur 6.524 jiwa
Kecamatan Takabonerate 12.143 jiwa
Sumber: Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 2013
Tabel 1.4
PETA KECAMATAN PASIMARANNU
2. Bentuk modernisasi perikanan yang dilakukan komunitas nelayan suku Bajo
Adapun penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar. Pasimarannu adalah sebuah Kecamatan di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Indonesia. Pasimarannu berjarak sekitar 119 mil dari Kota Benteng dengan waktu tempuh perjalanan laut ± 12 jam. Kecamatan Pasimarannu terdiri dari 8 desa dan 17 dusun/lingkungan.
Dalam penelitian ini berfokus kepada Komunitas Suku Bajo Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar dari penelitian ini menunjukan bahwa Suku Bajo di Kecamatan Pasimarannu dengan kearifan lokal, masyarakat Suku Bajo Desa Lamantu, Kecamatan Pasimarannu, Kabupaten Kepulauan Selayar, menjaga kelestarian pesisir dan laut. Salah satu bukti, terlihat dari mata pencaharian mereka yang notabennya tak terpisahkan dari laut.
Dari hasil wawancara Bapak Suki mengatakan bahwa:
„‟Mata pencaharian mereka khususnya Suku Bajo lebih besar dilaut karena mereka kebanyakan menjadi nelayan dan itu dapat memenuhi kebutuhan mereka‟‟
Lebih lanjut Bapak Suki katakan, „‟menempatkan diri sebagai kontrol lingkungan yang dituangkan dalam sikap dan perilaku nyata kala memperlakukan alam. “Alam semesta bukan hanya sumber eksploitasi tetapi rumah hidup bersama yang terus dilindungi, dirawat, ditata, bukan dihancurkan.” ( Wawancara, 25 Januari 2016).
Dalam menangkap ikan sebagian besar Suku Bajo menggunakan alat tangkap semi modern berupa perahu kayu yang mengunakan mesin, dan sebagain kecil lagi
telah menggunakan peralatan modern berupa kapal penangkapan ikan ukuran menengah. Bagi nelayan yang menggunakan alat tangkap tradisional, wilayah penangkapan berada di sekitar perairan pulau sehingga lama waktu penangkapan tidak sampai satu hari. Sedangkan bagi nelayan yang menggunakan alat tangkap modern dan semi modern waktu penangkapan lebih dari tiga hari. Lama penangkapan biasanya 2 - 3 minggu karena menangkap ikan di sekitar Laut Flores dan hasil tangkapan langsung dijual ke pelabuhan Benteng bahkan sampai ke bagian daerah-daerah tertentu seperti Bulukumba dan Sinjai. Hasil tangkapan yang paling menguntungkan adalah lobster. Untuk pengawetan hasil ikan, menggunakan es yang sengaja dibawa sebelumnya. Hasil tangkapan sebagian besar langsung dijual, terutama hasil tangkapan yang memiliki nilai ekonomi tinggi bila dijual dalam keadaan segar seperti udang, lobster. Sebagian kecil juga mengolah hasil tangkapan sebelum dijual, atau pengolahan hasil tangkapan yang tidak habis dijual, berupa pengasapan dan pembuatan ikan asin, yang umumnya dilakukan oleh kaum ibu.
Tingkat teknologi pengelolaan perikanan yang diterapkan masyarakat bervariasi. Alat tangkap yang dominan digunakan oleh masyarakat Suku Bajo tergolong semi modern dan bahkan ada yang telah menggunakan peralatan yang tergolong modern (seperti kapal bermotor). Tingkat teknologi alat tangkap yang digunakan erat kaitannya dengan daerah jangkauan penangkapan dan jumlah hari dalam satu shift penangkapan. Dengan alat tangkap yang lebih baik (modern) masyarakat di Kecamatan Pasimarannu khususnya Suku Bajo mampu menangkap
ikan (udang Lobster) hingga ke perairan Timor timor dan kemudian menjualnya ke pasar Denpasar.
Hubungan sosial masyarakat Suku Bajo sebagian besar memiliki hubungan keluarga yang berasal dari satu nenek moyang dari Suku Bajo. Figur ayah sebagai pencari nafkah dengan pergi melaut sampai berminggu-minggu menjadi tumpuan harapan istri dan anak-anaknya. Sementara kaum ayah mencari nafkah dengan berlayar, kaum ibu memegang peranan penting dalam pengelolaan rumah tangga dan mengurus anak.
Adapun yang modernisasi penangkapan ikan yang paling menonjol pada masyarakat Kecamatan Pasimarannu khusnya Suku Bajo adalah perahu bermesin tempel seperti katinting, mesin Diesel dengan berbagai model perahu yang dihiasi masyarakat Suku Bajo biasa menyebutnya dengan perahu (balapan) karna mesin katinting dan mesin Diesel mereka dapatkan melalui pembuatan proposal kepemerintah daerah sehingga mereka banyak yang mendapat bantuan mesin-mesin tersebut dan alat-alat tangkap seperti penampungan ikan yang modern yang Suku Bajo biasa menyebutnya dengan karamba.
Hasil wawancara yang dilakukan kepada Bapak Jali mengatakan bahwa:
„‟Mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah melaui pembuatan dan memasukan proposal untuk mendapatkan mesin untuk kemudian mereka gunakan untuk menunjang mata pencaharian mereka‟‟( Wawancara, 26 Januari 2016).
Lebih lanjut lagi wawancara yang dilakukan kepada Mbo Saidi mengatakan bahwa:
„‟Dengan bantuan alat-alat tersebut akses penangkapan ikan yang dilakukan lebih jauh lagi‟‟. (Wawancara, 27 Januari 2016).
Dari hasil wawancara di atas dapat di analisis bahwa dengan dengan menggunakan mesin dan alat tangkap modern masyarakat Kecamatan Pasimarannu khususya Suku Bajo dapat menikmati modernisasi perikanan yang ada.
3. Perubahan sosial komunitas nelayan suku Bajo
Perubahan sosial dialami oleh setiap masyarakat yang pada dasarnya tidak dapat dipisahkan dengan perubahan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan.
Perubahan sosial dapat meliputi semua segi kehidupan masyarakat yaitu perubahan dalam cara berpikir dan interaksi sesama warga menjadi semakin rasional, perubahan dalam sikap dan orientasi kehidupan ekonomi menjadi makin komersial, perubahan tata cara kerja sehari-hari yang makin ditandai dengan pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan yang makin tajam. Perubahan dalam kelembagaan dan kepemimpinan masyarakat yang makin demokratis perubahan dalam tata cara dan alat-alat kegiatan yang makin modern dan efisien dan lain sebagainya.
Perubahan sosial yang terjadi di masyarakat Suku Bajo dapat diketahui dengan cara membandingkan keadaan masyarakat pada waktu tertentu dengan keadaan dimasa lampau. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat akan menimbulkan ketidaksesuaian antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat.
Sehingga akan mengubah struktur dan fungsi sosial masyarakat tersebut. Begitupun halnya yang terjadi pada masyarakat pesisir atau masyarakat nelayan Suku Bajo di Kecamatan Pasimarannu, yang mana pada tahun 2010 hingga kini telah mengalami
perubahan ke arah yang lebih baik dilihat dari pendidikan, kesejahteraan dan berdampak pada status sosialnya.
Adapun pendapat yang dikemukakan oleh Bapak Karim saat diwawancarai sebagai berikut :
“Sudah sekian lama saya menjadi nelayan namun kehidupan baru mengalami perubahan setelah adanya perahu kantinting karena pendapatan yang mulai meningkat.” (Wawancara, 29 Januari 2016).
Selain dengan Bapak Karim, Adam juga mengatakan bahwa:
“Dengan adanya mesin diesel dan perahu kantinting itu sangat membantu dalam menunjang kehidupan keluarga saya karena pendapatan dan pola kerja yang sudah menentu.” (Wawancara, 30 Januari 2016).
Keberhasilan sebagai nelayan dalam penangkapan ikan bisa menopang kesehariannya merupakan hal yang harus disyukuri pada masyarakat Suku Bajo. Dari 7 anggota masyarakat Suku Bajo yang diwawancarai semuanya telah mengalami perubahan dalam kehidupannya.
Secara kultural, orang Bajo masih tergolong masyarakat sederhana dan hidup menurut tata kehidupan lingkungan laut, dikenal sebagai pengembara lautan (sea gypsies), yaitu hidup dengan mata pencaharian yang erat hubungannya dengan laut.
Sebagai suatu sistem, masyarakat nelayan terdiri atas kategori-kategori sosial yang membentuk kesatuan sosial. Mereka juga memiliki sistem nilai dan simbol-simbol kebudayaan sebagai referensi perilaku mereka sehari-hari. Faktor kebudayaan inilah yang menjadi pembeda antara masyarakat nelayan dengan kelompok sosial lainnya. Sebagian besar masyarakat pesisir, baik langsung maupun tidak langsung,
menggantungkan kelangsungan hidupnya dari mengelola potensi sumberdaya kelautan.
Sebagai komunitas, mereka juga memiliki struktur sosial tersendiri yang menyebabkan mereka mempunyai budaya, bahasa dan adat istiadat tersendiri. Sama halnya dengan masyarakat lain, masyarakat Bajo juga memiliki masalah dalam kehidupannya, bahkan cenderung kompleks. Mulai dari kemiskinan yang membelenggu, tingkat pendidikan yang rendah, pola kehidupan yang hanya bergantung pada laut, tertinggal baik dalam pembangunan maupun mental, eksploitasi hasil laut yang semua itu menyebabkan mereka terkadang tidak ikut berpartisipasi dalam pembangunan.
Seiring dengan perkembangan zaman, kegiatan nelayan itu masih tetap ada karena sampai saat ini perkembangan global itu belum bisa merubah kondisi untuk menjadikan masyarakat setempat meningalkan proses peningkatan taraf kehidupannya disektor nelayan. Berprofesi sebagai nelayan sudah sangat memberi harapan akan peningkatan hidup dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, sebab penghasilan dari kegiatan melaut sudah sangat cukup menunjang faktor perekonomian masyarakat bajo. Dari hasil melaut, masyarakat bajo juga dapat menyekolahkan anak-anaknya guna menjadi orang-orang handal dalam bidang pendidikan. Karenanya, anak-anaknya kini sudah banyak yang berproses di dunia pendidikan.
Bapak Badu salah satu masyarakat nelayan mengatakan bahwa :
“Sudah bertahun-tahun saya menjadi nelayan tetapi penghasilan yang saya dapat dari hasil nelayan hanya begitu-begitu saja namun dengan adanya penggunan teknologi modern(perahu kantinting, alat tangkap) penghasilan saya sudah meningkat dan juga dapat memenuhi kebutuhan keluarga hingga menyekolahkan anak-anak.”(Wawancara, 1 Februari 2016).
Lebih lanjut lagi Bapak Mido salah satu juragan mengatakan bahwa:
“Dengan hasil nelayan saya sudah bisa menyekolahkan anak-anak, memenuhi segala kebutuhan keluarga dan juga hidup sejahtera”(Wawancara, 2 Februari 2016).
Dari hasil wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa dengan adanya perahu kantinting sangat menunjang kehidupan nelayan sehingga terjadi perubahan dalam kehidupannya.
Hal inilah yang menjadi pola pikir masyarakat yang semakin berkembang, sumber daya alam, dan perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat dapat menjadi faktor yang mempengaruhi terjadinya perkembangan dan perubahan bentuk maupun pola interaksinya.
4. Dampak modernisasi terhadap komunitas nelayan suku Bajo
Bedasarkan hasil penelitian ini, modernisasi perikanan berdampak pada kehidupan sosial nelayan maupun komunitas nelayan tersebut. Dampak tersebut adalah perubahan pola kerja dari penggunaan teknologi lama yang masih sederhana menjadi teknologi baru yang lebih modern, efektif dan efisien. Efektivitas dan efisiensi modernisasi tersebut menimbulkan diferensiasi yakni munculnya unit-unit sosial baru yang berdampak pada perubahan struktur sosial nelayan. Perubahan struktur tersebut terjadi pada level nelayan maupun komunitas. Pada level nelayan,
diferensiasi tersebut, menimbulkan nelayan terstratifikasi dalam beberapa lapisan.
Perubahan lapisan nelayan tersebut jelas berdampak pada perubahan stratifikasi pada level komunitas sehingga struktur sosial menjadi berubah. Pola kerja lebih efisien tersebut juga berdampak pada perolehan tangkapan yang mempengaruhi pendapatan nelayan. Oleh karena itu modernisasi berupa alih teknologi tersebut juga berdampak pada kesejahteraan nelayan.
Seperti yang dikatakan oleh Bapak Karim:
”Dulu waktu saya masih menggunakan teknologi lama dan juga alat tangkap yang masih sederhana saya selalu mendapatkan penghasilan yang rendah tetapi pada saat saya sudah menggunakan alat tangkap yang lebih modern kebutuhan keluarga sudah hampir terpenuhi semua.” (Wawancara, 6 Februari 2016).
Senada dengan Karim, Pak Badu juga mengemukakan pendapatnya tentang dampak modernisasi terhadap komunitas nelayan suku Bajo. Pak Badu dahulunya tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, setelah merasakan modernisasi perikanan, maka terasa sangat membantu dalam meningkatkan taraf kehidupannya.
“Waktu pertama-tama saya bekerja sebagai nelayan, saya merasa tidak percaya diri karena sebelumnya saya tidak mempunyai pengalaman kerja tapi lama kelamaan sudah percaya diri dan merasa nyaman bekerja sebagai nelayan serta saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga.” (Wawancara, 8 Februari 2016).
B. Pembahasan
Setelah dilaksanakan penelitian di masyarakat Suku Bajo di Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar, maka dapat dilihat bentuk modernisasi perikanan masyarakat Suku Bajo Kecamatan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan
Selayar dapat dilihat dari semua unsur atau alat yang digunakan dalam menangkap ikan misalnya perahu bermesin tempel katinting, penampungan modern (karamba) dan mesin diesel. Komunitas nelayan tersebut mengalami perubahan social pada komunitas Suku Bajo dapat dilihat dari semakin banyaknya nelayan Suku Bajo yang menggunakan perahu bermotor dalam kegiatan melaut akan dapat merubah bagaimana adaptasi nelayan tersebut bagaimana masyarakat nelayan tidak lagi melihat kegiatan melaut sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan subsitensi tetap5 juga bagaimana dapat menyimpan uang untuk kebutuhan pendidikan, rekreasi dan kesehatan dengan adanya modernisasi perikanan di prediksi akan membawa dampak dalam sector ekonomi nelayan, yaitu peningkatan produksi perikanan, peningkatan pendapatan nelayan dan tersedianya lapangan kerja baru. Untuk mengetahui lebih lanjut perubahan yang terjadi dalam masyarakat Suku Bajo maka akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Peningkatan Produksi Perikanan
Dengan adanya pembangunan dalam masyarakat pesisir, melalui modernisasi perikanan pada penggunaan alat-alat perikanan tangkap maupun perikanan darat.
Seperti penggunaan perahu bermotor yang lebih dapat menampung hasil tangkapan yang lebih banyak dengan kualitas produksi yang lebih baik. Potensi dalam sumber daya laut yang biasanya hanya di berskala lokal kini berubah menjadi berorientasi ada kebutuhan pasar. Dengan peningkatan hasil produksi perikanan secara tidak langsung akan memberikan daya tawar bagi para investor yang masuk. Ketika hasil produksi perikanan akan semakin mempererat hubungan kerja sama antar sesama nelayan.
Maka dalam aspek ini modernisasi tidak hanya pada dimensi ekonomi tetapi juga moral serta etika.
2. Peningkatan pendapatan nelayan.
Peningkatan pendapat nelayan ini juga tidak terlepas dari meningkatnya jumlah produksi perikanan. Namun ketika di bandingkan dengan adanya hukum permintaan dan hukum penawaran yang menyatakan bahwa ketika barang yang tersedia semakin besar maka harga akan semakin turun. Jika hal ini benar terjadi maka tetap saja nelayan akan merugi. Namun jika ini ditangani dengan baik dan dijaga elektabilitasnya maka yang terjadi adalah semakin meningkatnya pendapatan nelayan sehingga tidak akan terjadi lagi kemiskinan dalam nelayan.
3. Tersedia lapangan kerja baru.
Selama masalah modernisasi menjadi problematika karena adanya dampak yang di bawanya termasuk terjadinya kesenjangan ekonomi dan potensi konflik.
Namun hal ini tidak dapat sepenuhnya karena adanya modernisasi dalam penggunaan alat tangkap maupun penggunaan perahu bermotor. Ini berkaitan dengan mental para nelayan Suku Bajo. Sebenarnya jika modernisasi ini dinilai dan dijalankan sebagaimana mestinya akan mudah berkembang pesat dapat mengurangi para nelayan yang tidak bekerja melaut yakni dengan membuat perahu dan mengolah hasil pasca penangkapan.
Dari hasil pembahasan Perubahan Sosial Komunitas Masyarakat Nelayan Suku Bajo Kecamatan Pasimannu dapat di simpulkan bahwa dengan adanya modernisaasi perikanan pada masyarakat pasimarannu khususnya Suku Bajo
membawa perubahan sosial yang signifikan itu dapat dilihat dari meningkatnya produksi perikanan, meningkatnya pendapatan nelayan,dan tersedianya lapangan kerja baru.
Pada dasarnya setiap program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat akan berdampak pada norma serta budaya lokal setempat. Demikian pula dengan kelestarian lingkungan laut, begitu juga dengan pantai yang menjadi sumber utama mata kegiatan nelayan.
Kehidupan nelayan terutama pada lapisan buruh dalam kegiatan penangkapan ikannya tergantung pada hubungan dengan juragan (pemiliki modal dan kapal). Hal itu dikarenakan kekurangan modal atau finansial yang memadai. Kekurangan modal tersebut semakin menambah beban, tantangan serta persaingan yang besar dalam rangka pemanfaatan sumberdaya laut. Disatu sisi nelayan buruh dengan kemampuan dan keterampilan menangkap ikan yang merupakan potensi, disisi lain tidak adanya modal adalah kendala, mengingat wilayah laut adalah wilayah terbuka yang dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang memiliki kemampuan untuk mengolah sumber daya alam yang ada di dalamnya dan berlakunya hukum alam, siapa kuat dia adalah raha.
Pembangunan sebagai hasil dari modernisasi ini ditanggapi beragam oleh beberapa kelompok masyarakat nelayan Suku Bajo di Kecamatan Pasimarannu.
Dalam komunitas nelayan Suku Bajo perubahan yang nampak adalah berubahnya pola kerja, sistem stratifikasi baik karena dasar penguasaan alat produksi maupun mencakup pula kekuasaan. Perubahan stratifikasi juga terjadi pada organisasi
penangkapan sebagai implikasi dari alih teknologi tersebut, sehingga kelembagaan nelayan yang telah terbangun sebelumnya biasanya akan terjadi perubahan juga.
Modernisasi perikanan ini berdampak pada kehidupan sosial nelayan maupun komunitas nelayan tersebut. Dampak tersebut adalah perubahan pola kerja dari penggunaan teknologi lama yang masih sederhana yaitu perahu dayung menjadi teknologi baru berupa perahu motor tempel yang lebih modern, efektif dan efisien.
Efektifitas dan efisiensi modernisasi tersebut menimbulkan diferensiasi yakni munculnya unit-unit sosial baru yang berdampak pada perubahan struktur sosial masyarakat nelayan. Perubahan tersebut terjadi pada level nelayan maupun komunitas. Pada level nelayan, diferensiasi tersebut menimbulkan nelayan terstratifikasi dalam beberapa lapisan, misalnya nelayan pemilik kapal dan sebagainya yang dalam bahasa Bajo disebut punggawa dan pekerja disebut sawi.
Perubahan lapisan nelayan tersebut jelas berdampak pada perubahan stratifikasi pada
Perubahan lapisan nelayan tersebut jelas berdampak pada perubahan stratifikasi pada