• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Popularitas

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: MUHAMMAD YUSRAN (Halaman 22-29)

Popularitas berarti ketenaran (Partanto,2001:601). Popularitas berasal dari kata populer, artinya dikenal dan disukai orang banyak (Poerwadarminta, 2006:907). Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia popularitas berarti ketenaran

yang dimiliki seseorang (Poerwadarminta, 2006:769). Popularitas mempunyai arti yang sama dengan familiarity. Familiarity artinya sering terlihat atau sudah terkenal. Popularitas merupakan modal yang sangat berharga yang harus dimiliki oleh siapapun untuk terjun dalam publik.

Popularitas seseorang dapat menjadi salah satu aspek yang mendukung seseorang untuk memperoleh kekuasaan Menurut Nimmo (2008), dengan adanya modal popularitas maka akan lebih mudah bagi seseorang atau figur tersebut untuk mencuri perhatian masyarakat, melalui pemberitaan media yang diharapkan nantinya akan mempunyai nilai tambah untuk meningkatkan atau mendongkrak elektabilitas. Untuk mewujudkan semua itu, perlu dibangun pencitraan yang baik ditengah masyarakat, agar nantinya timbul simpati dan keberpihakan masyarakat kepada tokoh atau figur tersebut. Popularitas juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu:

a. Popularitas Sosiometrik

Popularitas sosiometrik dapat diartikan bagaimana seseorang disukai oleh seorang individu, keinginan ini berkolerasi oleh perilaku prososial. Mereka yang bertindak dalam cara prososial cenderung lebih dianggap sociometrically popular.

Mereka sering dikenal karena perilaku interpersonal yang mereka lakukan, mereka empati untuk orang lain, dan kesediaan mereka untuk bekerja sama dengan non-agresif. Seperti apa yang dikatakan Cillessen, dkk. (2010) ini adalah sebuah penilaian yang lebih pribadi, ditandai dengan likeability (kesukaan), yang pada umumnya tidak akan dibagi dalam kelompok pengaturan.

b. Popularitas Perceived

Popularitas Perceived diartikan berguna untuk menggambarkan orang-orang yang dikenal diantara rekan-rekan mereka sebagai seorang-orang yang populer.

Tidak seperti popularitas sosiometrik, popularitas ini sering dikaitkan dengan sikap agresif dan didominasi tidak bergantung pada prososial behaviors. Seperti yang dikatakan Cillessen, dkk. (2005) di dalam penelitiannya yang berjudul

"Understanding popularity in the peer system" ,individu merasakan popularitas sering terlihat sangat sosial dan sering ditiru tetapi jarang disukai.

Dari beberapa pendapat diatas tentang popularitas maka yang dimaksud popularitas dalam penelitian ini adalah ketenaran yang banyak diminati oleh seseorang.

3. Konsep Tentang Merantau a. Pengertian Merantau

Menurut Echols dan Shadily (dalam Kato,2005:5), mengungkapkan bahwa kata kerja rantau adalah merantau, berarti pergi ke negeri lain, meninggalkan kampung halaman, berlayar melalui sungai, dan sebagainya. Dari sudut sosiologi (Naim, 2013:3). Merantau sering dikenal dengan migrasi, sebagaimana dalam kamus Sosiologi dan Kependudukan (Hartini dan G. Kartasapoetra, 1992:236) mengemukakan bahwa migrasi diartikan sebagai suatu perpindahan atau gerak penduduk secara permanen dengan melewati perbatasan Negara atau suatu perpindahan penduduk secara permanen dengan menempuh jarak tertentu. Sejalan dengan itu, (Lucas, dkk 1995:95) mengemukakan bahwa migrasi sebgai perpindahan yang relatif permanen dari suatu kelompok yang disebut kaum

migrant, dari suatu lokasi ke lokasi lainnya. Faktor yang mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan untuk migrasi ke suatu wilayah tertentu itu berkaitan dengan pandangan dan image suatu masyarakat tentang ranah budaya (Cultural Domain). Ranah budaya itu adalah wilayah yang secara kultural dipandang sebagai milik dari masyarakat pendukung kebudayaan itu, sedangkan wilayah yang berada di luar ranah budaya dipandang sebagai wilayah luar.

Lucas merupakan salah satu ahli yang mengatakan bahwa factor-faktor atau alasan yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi adalah karena perbedaan upah. Lucas (1995), berpendapat bahwa di Negara-negara yang sedang berkembang terdapat dualisme kegiatan perekonomian, yaitu di sektor ekonomi subsisten (pertanian) di pedesaan, dan sektor ekonomi modern dengan tingkat prodiktivitas yang tinggi diperkotaan. Proses pembangunan di Negara-negara sedang berkembang dimulai dari sektor subsisten dan dalam waktu yang hamper bersamaan dilakukan pembangunan besar-besaran di sektor industri modern.

Produktivitas yang tinggi di sektor industri modern, telah menghasilkan sector ini memberikan kontribusi yang besar dalam mendorong laju pembangunan ekonomi.

Sedangkan pada sektor pertanian dengan produktivitas yang relative rendah, telah menyebabkan terjadinya kelebihan tenaga kerja di sector ini. Sering dengan kondisi tersebut, pertambahan penduduk yang relative besar di pedesaan, menyebabkan luas lahan di sector pertanian semakin sempit. Akibatnya tenaga kerja di sektor pertanian akan pindah ke sektor industri perkotaan.

b. Faktor pendorong tejadinya Merantau (migrasi)

Naim, (2013: 266) dalam penelitannya tentang migrasi suku-suku besar di Indonesia, menjelaskan alasan terjadinya migrasi. Faktor yang berhasil diidentifikasi adalah sebagai berikut:

1) Tekanan Ekologis dan Intensitas Migrasi

Faktor fisik, berupa ekologi dan lokasi. Faktor fisik berupa ekologi berkaitan dengan bentuk fisik daerah, apakah itu berupa pegunungan, daratan rendah, pesisir pantai, termasuk di dalamnya sungai – sungai dan hutan yang meliputi daerah tersebut. Ekologi ini sangat berkaitan dengan kesuburan suatu tanah. Kecenderungan yang terjadi adalah suku – suku bermigrasi menuju daerah yang subur. Sedangkan faktor fisik berupa lokasi adalah jauh-dekatnya kepada pusat-pusat kegiatan politik atau kegiatan ekonomi.

2) Faktor ekonomi dan demografi (kependudukan)

Pada saat pertanian sawah tidak dapat lagi menjadi sandaran hidup, orang-orang mulai meninggalkan daerah asal menuju ke tempat migran yang dirasakan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini migrasi disebabkan oleh dorongan ekonomi untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik. Pada faktor demografi, memberi arti bahwa tekanan penduduk yang tinggi cenderung mendorong orang untuk bermigrasi. Tidak semua suku faktor demografi mendorong orang secara kuat untuk bermigrasi. Contoh nyata adalah pada suku jawa dan sunda.

Sebelum dikenalnya transmigrasi tekanan demografi tidak cukup kuat

untuk mendorong suku jawa dan sunda untuk bermigrasi. Setelah tahun 1980-an dengan program transmigrasi migrasi suku Jawa keluar Jawa meningkat tajam.

3) Faktor pendidikan

Faktor lainnya mendorong untuk bermgrasi adalah pendidikan.

Pada beberapa suku motivasi untuk mendapatkan pendididikan yang lebih tinggi mendorong mereka untuk bermigrasi. Hal ini disebabkan pendidikan tinggi yang diharapkan tidak tersedia ditempat asal.

4) Tekanan Politik dan intensitas migrasi

Keresahan politik seperti pemberontakan, kekisruhan kerajaan pada masa lalu, juga menyebabkan sebagian suku bermigrasi. Orang bugis, orang banjar, orang aceh dan sunda melakukan migrasi karena kisruh dan memberontak kepada kerajaan.

5) Daya Tarik Kota

Faktor daya tarik kota menjadi faktor kuat bagi orang untuk melakukan migrasi. Sukusuku yang termasuk dalam tipologi inovatif dengan tidak lagi mengandalkan keahlian bertani di tempat tujuan menjadi sangat relevan untuk menjelaskan mengapa mereka bermigrasi. Misalnya suku minangkabau dan batak yang umumnya bermigrasi ke daerah perkotaan, sebagai pedagang dan penyedia jasa.

6) Faktor-faktor sosial

Aspek sosial yang diperhatikan disini adalah hubungan sosial.

Misalnya seorang kepala rumah tangga yang sukses ditempat migrasi,

cenderung untuk mengajak keluarga dan tetangga untuk bermigrasi.

Sehingga migrasi suku banyak terjadi secara berkelompok. Suku bugis konon menerapkan faktor ini untuk mempengaruhi terumata sanak famili untuk bermigrasi. Kasus ini banyak ditemukan di kalimantan, bahkan hingga sekarang. Selain bugis, orang jawa melakukan hal yang sama dengan mengajak keluarga bahkan teman untuk bermigrasi terlebih lagi ketika sang pengajak dinilai sukses di tempat tujuan migrasi, misalnya kota Jakarta.

Sekalipun banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya mobilitas penduduk, pada umumnya faktor ekonomi dianggap sebagai alasan paling utama dalam berbagai studi mobilitas penduduk, kegiatan semacam ini digolongkan pada jenis mobilitas penduduk dengan dorongan ekonomi.

La Hamid (2001:38) dalam mengenai sejarah perantau orang Siompu ke Ambon bahwa penyebab utamanya adalah didorong oleh adanya dan faktor pendorong dan faktor penarik baik dari daerah asal maupun daerah tujuan.

Dimana kedua faktor tersebut bersumber dari faktor ekonomi, faktor sosial budaya dan politik. Dengan demikian faktor - faktor yang mendorong seseorang merantau untuk meninggalkan daerah asalnya yaitu untuk menambah pendapatan guna menjamin kelangsungan hidup baik untuk kehidupan pribadi maupun dalam keluarga, disamping motif ekonomi kondisi fisik dan ekologis daerah siompu serta struktur susial dan kepemilikan tanah menjadi pemicu utama seseorang melakukan perantauan.

Pada dasarnya motifasi seseorang merantau lebih bayak karena dipaksa kondisi ekonomi keluarga dan keterbatasan lapangan kerja yang ada di daerah asalnya. Oleh karena itu apa yang diperoleh dirantau lebih banyak dimanfaatkan untuk menghidupi keluarga yang memang sangat memerlukan. Kiriman remitan dari para perantau mempunyai dampak positif bagi rumah tangga pedesaan dan ekonomi pedesaan.

Dari beberapa penjelasan para ahli diatas tentang merantau maka merantau dapat disimpulkan sebagai sebuah strategi yang dilakukan oleh masyarakat dimanapun untuk meningkatkan penghidupan mereka yang kerap terjadi bilamana sumber pendapatan mereka kian terbatas dan salah satu faktor yang mendasar seseorang pergi merantau yaitu untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh: MUHAMMAD YUSRAN (Halaman 22-29)

Dokumen terkait