BAB II MEKANISME PELAKSANAAN RESTRUKTURISASI
A. Restrukturisasi Kredit Perbankan
2. Pengertian Restrukturisasi Kredit Perbankan
Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor yang berhubungan dengan berbagai kegiatan keuangan selalu membutuhkan jasa bank.
Oleh karena itu, saat ini dan di masa yang akan datang tidak akan lepas dari dunia perbankan, jika hendak menjalan akivitas keuangan, baik perorangan maupun lembaga, baik sosial atau perusahaan.10
Bank dalam menyalurkan kredit atau memberikan pinjaman kredit kepada debitur sesuai dengan tujuan kredit yaitu profitability dan safety. Profitability yaitu “tujuan untuk memperoleh hasil dari kredit berupa keuntungan yang didapatkan dari bunga yang harus dibayar oleh nasabah”. Safety yaitu “tujuan
9 Dhevi Nayasari Sastradinata, Bambang Eko Muljono, Op.cit, h.8.
10 Kasmir, Dasar-Dasar Perbankan, Cetakan ke-12, PT. Rajagrfindo Persada, Jakarta 2014, h.3.
yang diharapkan terhadap sebuah prestasi dalam mengembalikan uang yang diberikan sehingga keuntungan yang diharapkan dapat terwujud”.11
Unsur-unsur yang terkandung dalam pemberian suatu fasilitas kredit yaitu:12
a. Kepercayaan, merupakan suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang diberikan baik berupa uang, barang atau jasa akan benar-benar diterima kembali dimasa tertentu di masa datang.
b. Kesepakatan, kesepakatan dituangkan dalam suatu perjanjian dimana masing-masing pihak menandatangani hak dan kewajibannya.
c. Jangka waktu, setiap kredit yang diberikan pasti memiliki jangka waktu tertentu, jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati.
d. Resiko, faktor resiko dapat diakibatkan oleh dua hal yaitu resiko kerugian yang diakibatkan nasabah sengaja tidak mau membayar kreditnya padahal mampu dan resiko kerugian yang diakibatkan karena nasabah tidak sengaja yaitu akibat musibah seperti bencana alam.
e. Balas jasa, balas jasa dapat berbentuk bunga, biaya provisi dan komisi serta biaya administrasi kredit.
Kegiatan perkreditan merupakan proses pembentukan asset Bank. Kredit merupakan risk asset bagi Bank karena asset Bank itu dikuasai pihak luar Bank yaitu Debitur. Setiap Bank menginginkan dan berusaha keras agar kualitas risk asset ini sehat dalam arti produktif dan collectable namun kredit yang diberikan kepada debitur selalu ada resiko berupa kredit tidak dapat kembali tepat pada waktunya yang dinamakan kredit bermasalah atau Non Perfoming Loan (NPL).13
11 Achmad Chosyali,Tulus Sartono, “Optimalisasi Peningkatan Kualitas Kredit Dalam Rangka Mengatasi Kredit Bermasalah”, Law Reform, Volume 15, Nomor 1, 2019, h.4.
12 Lina Mayasari, Luluk Musfiroh, Ambarwati, Op.cit, h.4.
13 Sutarno, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, Cetakan ketiga, Alfabeta, CV, Bandung, 2005, h.263.
Pihak bank harus lebih selektif dalam memilih calon debitur, teliti dan tertib dalam menerapkan prinsip pemberian/penyaluran kredit dalam hal terjadinya persaingan untuk mempertahankan eksistensinya. Hal ini bertujuan untuk kelangsungan usaha bank dalam mengelola resiko kredit agar dapat meminimalisir potensi kerugian dan mendapatkan kualitas kredit yang baik sesuai yang diharapkan bank.14
Untuk menyelesaikan kredit bermasalah atan non-perfoaming loan itu dapat ditempuh dengan dua cara atau strategi yaitu penyelamatan kredit dan penyelesaian kredit. yang dimaksud dengan penyelamatan kredit adalah “suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui perundingan kembali antara bank sebagai kreditor dan nasabah peminjam sebagai debitor”, sedangkan penyelesaian kredit adalah “suatu langkah penyelesaian kredit bermasalah melalui lembaga hukum”.15
Sebagaimana dimaklumi bahwa dalam dunia usaha acapkali dijumpai seorang debitur (yang berutang) mengalami kesulitan untuk membayar utang-utangnya atau mengembalikan kreditnya akibat dari suatu keadaan yang overmacht suatu kondisi yang sulit diduga sebelumnya, misalnya akibat kebakaran dan bencana alam.16
Penyelesaian kredit melalui tahap penyelamatan kredit ini dinamakan penyelesaian melalui restrukturisasi kredit. Langkah penyelesaian melalui
14 Achmad Chosyali,Tulus Sartono, Op.cit, h.2.
15 Fakhri Firmanto, ”Penyelesaian Kredit Macet Di Indonesia”, Jurnal Pahlawan, Volume 2 Nomor 2, Tahun 2019, h.3.
16 Zainal Asikin, Op.Cit., h.196.
restrukturisasi kredit ini diperlukan syarat-syarat yang ditentukan bank karena dalam penyelesain kredit melalui restrukturisasi lebih banyak negosiasi dan solusi yang ditawarkan bank untuk menentukan syarat dan ketentuan restrukturisasi.
Penataan kembali (restructuring), yaitu “upaya berupa melakukan perubahan syarat-syarat perjanjian kredit berupa pemberian tambahan kredit, atau melakukan konversi atas seluruh atau sebagian kredit menjadi perusahaan, yang dilakukan dengan atau tanpa Rescheduling dan atau Reconditioning”.17
Berdasarkan Pasal 1 angka 25 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum, Restrukturisasi kredit adalah “upaya perbaikan yang dilakukan Bank dalam kegiatan dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya”.18
Restrukturisasi adalah “upaya yang dilakukan bank dalam usaha perkreditan agar Debitur dapat memenuhi kewajibannya”. Jadi tujuan restrukturisasi adalah:19
a. Untuk menghindarkan kerugian bagi bank karena bank harus menjaga kualitas kredit yang telah diberikan.
b. Untuk membantu meringankan kewajiban debitur sehingga dengan keringanan ini debitur mempunyai kemampuan untuk melanjutkan kembali usahanya dan dengan menghidupkan kembali usahanya akan memperoleh pendapatan yang sebagian dapat digunakan untuk
17 Zainal Asikin, Op.Cit., hal.200.
18 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum.
19 Sutarno, op.cit., h.266.
membayar hutangnya dan sebagian untuk melanjutkan kegiatan usahanya.
c. Dengan restrukturisasi maka penyelesaian kredit melalui lembaga-lembaga hukum dapat dihindarkan karena penyelesaian melalui lembaga hukum dalam prakteknya memerukan waktu, biaya dan tenaga yang tidak sedikit dan hasilnya lebih rendah dari piutang yang ditagih.
Restrukturisasi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh bank sebagai upaya dalam kondisi terpaksa. Kemudian muncul kendala dimana debitur tidak dapat menjalankan usahanya, sehingga debitur tidak mampu untuk membayar pokok dan/atau bunga.20
2. Bentuk Restrukturisasi Kredit Perbankan
Pada dasarnya hubungan antara bank dan nasabah di dasarkan pada dua unsur yang paling terkait yaitu hukum dan kepercayaan.21 Suatu bank hanya bisa melakukan kegiatan dan mengembangkan banknya, apabila masyarakat percaya untuk menempatkan uang, pada produk-produk perbankan yang ada pada bank tersebut.
Kredit bermasalah adalah “suatu kredit dikatakan bermasalah karena debitor wanprestasi atau inkar janji atau tidak menyelesaikan kewajibannya sesuai dengan perjanjian baik jumlah maupun waktu, misalnya pembayaran atas perhitungan bunga maupun utang pokok”.22
20 Bondan Seno Aji, Made Warka, Evi Kongres, “Penerapan Klausula Force Majeure Dalam Perjanjian Kredit Di Masa Pandemi Covid 19”, Jurnal Akrab Juara, Volume 6, Nomor 1, Februari 2021, h.15.
21 Mikhael Tooy, “Pelaksanaan Perjanjian Kredit Terhadap Kreditur dan Debitur Pada Bank Rakyat Indonesia”, Lex Privatum, Volume IV Nomor 1, Januari 2016, h.1.
22 S.Mantayborbir, Iman Jauhari, Agus Hari Widodo, Hukum Piutang dan Lelang Negara Indonesia, Pustaka Bangsa , Medan, 2002, h.23.
Kredit bermasalah berawal dari wanprestasi debitur. Pada umumnya jenis-jenis wanprestasi dapat berupa tidak memenuhi prestasi, terlambat melakukan prestasi atau melakukan namun tiak sebagaimana mestinya. Adanya wanprestasi menjadi indikator dari adanya kredit bermasalah. Suatu kredit dikatakan bermasalah apabila ada keterlambatan pembayaran dari jadwal angsuran yang telah disepakati, atau kurangnya dana untuk melakukan pembayaran (terutama bila pembayaran dilakukan dengan sistem autodebet) dan tidak membayar sama sekali.23
Program restrukturisasi kredit umumnya telah banyak diterapkan dalam dunia perbankan. Dimana, bank yang menyalurkan kredit memiliki program restrukturisasi yang diatur pada kebijakan perkreditan pada masing-masing bank.24
Kredit bermasalah dalam jumlah besar dapat mendatangkan dampak yang tidak menguntungkan bagi bank pemberi kredit, dunia perbankan pada umumnya, dan juga terhadap kehidupan ekonomi dan moneter suatu negara. 25
Restrukturisasi Kredit dilakukan antara lain dengan cara:26
23 Putu Eka Trisna Dewi, Op.cit, h.6.
24 Vido Novianggie, “Optimalisasi Restrukturisasi Kredit Sebagai Relaksasi Kredit Pelaku UMKM Pada Masa Pandemi Corona”, The 2nd Seminar Nasional ADPI Mengabdi Untuk Negeri Pengabdian masyarakat Di Era New Normal Prosiding, Volume 2, Nomor 2, 2021, h.2.
25 Siswanto Sutojo, Menangani Kredit Bermasalah, Damar Mulia Pustaka, Jakarta, 2008, h.25
26 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum
a. Penurunan suku bunga Kredit;
Penurunan suku bunga kredit merupakan salah satu bentuk restrukturisasi yang bertujuan memberikan keringanan kepada Debitur sehingga dengan penurunan bunga kredit besarnya bunga yang harus dibayar Debitur setiap tanggal pembayaran menjadi lebih kecil dibanding suku bunga yang ditetapkan sebelumnya.27
b. Perpanjangan jangka waktu Kredit;
Perpanjangan jangka waktu kredit merupakan bentuk restrukturisasi kredit yang bertujuan memperingan debitur untuk mengembalikan hutangnya. Misalnya hutang yang seluruhnya yang seharusnya dikembalikan selambat-lambatnya bulan Januari 2003 diperpanjang menjadi Januari 2005.
Dengan memperpanjang jangka waktu kredit, maka kualitas kredit debitur digolongkan menjadi perfoming loan (tidak bermsalah) dan dengan perpanjangan jangka waktu memberikan kesempatan kepada debitur untuk melanjutkan usahanya. Pendapatan usaha yang seharusnya digunakan untuk membayar hutang yang jatuh tempo dapat digunakan untuk memperkuat usaha dan dalam jangka waktu tertentu mampu melunasi seluruh hutangnya.
c. Pengurangan tunggakan pokok Kredit;
Sejumlah pinjaman uang yang diberikan kreditur/bank kepada Debitur inilah yang disebut pokok kredit. misalnya bank meminjamkan uang kepada debitur sebesar satu milyar rupiah dan debitur telah menarik seluruh pinjaman ini
27 Sutarno, op.cit.,h.267
maka satu milyar rupiah inilah yang disebut pokok kredit yang harus dibayar kembali oleh debitur sesuai jangka waktu yang ditentukan dalam perjanjian kredit.
Salah satu tanda kredit bermasalah adalah adanya tunggakan bunga kredit lebih dari tiga kali pembayaran. Bunga kredit yang seharusnya dibayar setiap bulan atau dalam jangka waktu tertentu sesuai perjanjian kredit, tidak dibayar sehingga tunggakan bunga kredit lama kelamaan menjadi menumpuk yang jumlahnya menyamai hutang pokok.
d. Penambahan fasilitas Kredit;
Penambahan kredit diharapkan usaha debitur akan berjalan kembali dan berkembang yang akan menghasilkan pendapatan yang dapat digunakan untuk mengembalikan hutang lama dan tambahan kredit baru.
Untuk memberikan tambahan fasilitas kredit harus dilakukan analisa yang cermat, akurat dan dengan perhitungan yang tepat mengenai prospek usaha debitur karena debitur mananggung hutang lama dan hutang baru. Usaha debitur harus mampu menghasilkan pendapatan yang dapat digunakan untuk melunasi hutang lama dan tambahan kredit baru dan masih mampu mengembangkan usaha ke depan.
e. Konversi Kredit menjadi Penyertaan Modal Sementara.
Konversi kredit menjadi modal dalam perushaan Debitur merupakan salah satu bentuk restrukturisasi kredit. Konversi kredit menjadi modal artinya sejumlah nilai kredit dikonversikan menjadi sahampada perusahaan debitur ini disebut Dept
Equity Swap. Mengenai besarnya nilai saham yang berasal dari konversi kredit tergantung hasil kesepakatan Kreditur dan Debitur.
B. Mekanisme Pelaksanaan Restrukturisasi Covi-19 Di PT.Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa
1. Kriteria Debitur yang Mendapatkan Restrukturisasi Kredit Covid-19 di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa.
Pengaruh COVID-19 terhadap ekonomi global utamanya Indonesia sangat parah sedangkan pencegahan dan pengendalian COVID-19 ke depan masih menjadi tahap yang krusial dan menentukan kondisi Negara dalam menyesuaikan strategi menghadapi masalah ini. Berfokus profitabilitas perusahaan perbankan ditengah peningkatan restrukturisasi akibat COVID-19, industri perbankan menjadi penggerak perekonomian selama masa pandemi.28
Sebagaimana diketahui dalam praktek penyelesaian masalah kredit macet diawali dengan upaya-upaya dari bank sebagai pihak kreditur dengan berbagai cara antara lain dengan melakukan penagihan langsung oleh bank kepada debitur yang bersangkutan atau mengupayakan agar debitur menjual agunan kreditnya sendiri untuk pelunasan kreditnya di bank.29
Ketentuan mengenai kriteria debitur yang dapat diberikan restrukturisasi oleh Bank tertuang dalam Pasal 53 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
28 Bagaskara Adhinugroho, “Dampak Peningkatan Restrukturisasi Utang Akibat Covid-19 Terhadap Prifitabilitas Perusahaan Perbankan”, The 2nd Seminar Nasional ADPI Mengabdi Untuk Negeri Pengabdian Masyarakat di Era New Normal Prosiding, Volume 2, Nomor 2, 2021, h.5.
29 Fakhri Firmanto, Op.cit, h.4.
40/POJK.03/2019 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum, kriteria tersebut ialah:30
a. debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau bunga Kredit; dan b. debitur masih memiliki prospek usaha yang baik dan dinilai mampu
memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi.
Kriteria debitur yang memperoleh perlakuan khusus/restrukturiasi akibat covid-19 di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa adalah:31
a. Memiliki usaha atau penghasilan namun debitur memiliki kesulitan, namun memiliki kesulitan untuk memenuhi kewajiban kepada bank karena usaha atau penghasilan debitur terdampak penyebaran Covid-19 baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
b. Seluruh debitur existing, termasuk debitur yang telah direstrukturisasi dengan kolektibilitas lancar, atau dalam perhatian khusus (DPK) pada posisi akhir bulan Februari 2020.
c. Memiliki potensi dan prospek usaha penghasilan serta di prediksi mampu terus bertahan dari dampak covid-19 apabila kredit di restrukturisasi, dan yang lebih penting debitur tersebut mempunyai sifat demokratif dan beritikad baik.
d. Pemberian relaksasi tanpa melihat batasan plafond kredit atau pembiayaan.
e. Dilakukan secara bertanggung jawab agar tidak terjadi moral hazzard dan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
f. Memiliki itikad baik untuk melanjutkan angsuran kreditnya.
Moral hazard dan pemberian restrukturisasi yang tidak bertanggung jawab antara lain adalah kebijakan restrukturisasi diberikan kepada debitur yang sebelum merebaknya Covid-19 sudah bermasalah, namun memanfaatkan stimulus ini
30 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum.
31 Indra J Lumban Gaol, Account Officer Produktif PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa, Tanjung Morawa 26 April 2021.
dengan memberikan restukturisasi agar status debiturnya menjadi lancar.
Tindakan tidak terpuji ini yang harus dihindari oleh Bank.
Hal tersebut juga tertuang dalam Pasal 54 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum, Bank dilarang melakukan Restrukturisasi Kredit dengan tujuan untuk:
a. Memperbaiki kualitas kredit; dan/atau
b. Menghindari peningkatan pembentukan PPKA tanpa memperhatikan kriteria debitur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53.
2. Jangka Waktu Restrukturisasi Kredit Covid-19 di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa
Bank dapat menerapkan kebijakan yang mendukung stimulus pertumbuhan ekonomi untuk debitur yang terkena dampak penyebaran (COVID-19) termasuk debitur usaha mikro, kecil dan menengah.32
Namun perlu diperhatikan, kebijakan restrukturisasi/pembiayaan keringanan kredit diserahkan kepada Bank. Dalam hal ini Bank akan melakukan self assessment dengan pedoman yang sekurang-kurangnya memuat kriteria debitur dan sektor terkena dampak Covid-19.33
Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Usaha Mikro adalah “usaha produktif milik orang
32 Pasal 2 ayat 1 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 Tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 yang telah diubah dengan POJK Nomor 48/POJK.03/2020
33 Sri Dewi, Sriono, Elviana Sagala, “Perjanjian Kredit Perbankan di Masa Covid-19”, Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal), Volume IV, Nomor 2, h.13.
perorangan/badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini”. Usaha Kecil adalah :
Usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.34
Jangka waktu restrukturisasi kredit yaitu maksimal 1 (satu) tahun dengan ketentuan sebagai berikut:35
a. Kelonggaran 1 (satu) tahun mengacu pada jangka waktu restrukturisasi sebagaimana ditur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang stimulus perekonomian nasional sebagai kebijakan Countercyclical dampak penyebaran coronavirus disease 2019.
b. Dalam periode 1 (satu) tahun terebut, debitur dapat diberikan penundaan/penjadwalan pokok dan/atau bunga dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan ataupun penilaian Bank.
c. Kebijakan penundaan/penjawalan yang diberikan berkaitan erat dengan dampak covid-19 terhadap debitur termasuk masa pemulihan dan/atau kemajuan penanganan/penurunan wabah covid-19.
3. Mekanisme dan Proses Pengajuan Restrukturiasi Kredit Covid-19 di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa Restrukturisasi kredit bermasalah adalah :
suatu upaya penyelamatan kredit perbankan dan juga upaya menyehatkan kembali keuangan nasabah kredit termasuk penyehatan asset bank sehingga dengan lancarnya kembali pembayaran kredit oleh debitur maka akan menciptakan suatu penyelamatan dan penyehatan di kedua sisi yaitu bank sebagai pihak kreditur dari segi penyelamatan kredit dan penyehatan
34 Tatik, “Analisis Pengambilan Keputusan Taktis Pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah) Di Masa Pandemi Covid’19”, Relasi Jurnal Ekonomi, Volume 17, Nomor 1, Januari 2021, h.3.
35 Hasil Wawancara Dengan Informan Indra J Lumban Gaol, Account Officer Produktif PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa, Tanjung Morawa 26 April 2021.
asset bank dan dari sisi nasabah kredit penyehatan kembali kelangsungan usahanya sehingga dapat berjalan sebagaimana mestinya.36
Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penanganan kredit bermasalah yakni:37
a. Keinginan debitur untuk menyelesaikan kewajiban.
b. Tingkat kerjasama dan keterbukaan debitur.
c. Kemampuan finansial debitur.
d. Sumber pengembalian pinjaman.
e. Prospek usaha debitur.
f. Mudah tidaknya menjual jaminan.
g. Kelengkapan dokumentasi jaminan.
h. Ada tidaknya tambahan jaminan baru.
i. Sengketa tidaknya jaminan.
j. Ada tidaknya sumber pembayaran dari usaha lain.
Namun, sebelum mengajukan restrukturisasi kredit nasabah baik bank, leasing ataupun produk keuangan lain di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan harus mempertimbangkan dampak ikutannya sebagai berikut:38
a. Keringanan cicilan melalui restrukturisasi tidak menghapus kewajiban.
Keringanan kredit melalui restrukturisasi dilakukan dalam sejumlah bentuk seperti memperpanjang tenor kredit atau waktu pinjaman penerapan grace periode, pengurangan suku bunga oleh lembaga pembiayaan, pengurangan
36 Johannes Ibrahim, Aneka Jenis Perjanjian Kredit Perbankan,Mitra Ilmu, Surabaya, 2010, h.69.
37 Badriyah Harun, Penyelesaian Sengketa Kredit Bermasalah Solusi Hukum (Legal Action) dan Alternatif Penyelesaian Segala Jenis Kredit Bermasalah, Pustaka Yustisia, Yogyakarta, 2010, h.117.
38 Anggara Pernando, Restrukturisasi Kredit, Ini 4 Hal yang Mesti Dipertimbangkan
Sebelum Minta Keringanan Cicilan,
https://finansial.bisnis.com/read/20200414/90/1227121/restrukturisasi-kredit-ini-4-hal-yang-mesti-dipertimbangkan-sebelum-minta-keringanan-cicilan., 01 Juni 2021.
tunggakan pokok (cut loss), pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit serta konversi utang menjadi saham.
b. Restrukturisasi membuat cicilan mengecil.
Restrukturisasi tidak menghapus utang. Program keringanan ini hanya mendesain skema pembayaran cicilan menjadi lebih sesuai dengan kemampuan. Jika dijumlahkan dengan perpanjangan waktu, maka nasabah terhitung membayar lebih mahal jika bank atau leasing tidak mengurangi suku bunga dalam perjanjian restrukturisasi. Sejumlah restrukturisasi menggunakan pola anuitas sehingga pokok dan bunga kembali ke model awal kredit baru dicairkan. Pokok utang menjadi lebih kecil pemotongannya akibat restrukturisasi.
c. Setelah mampu dapat dipulihkan kembali ke perjanjian sebelum restrukturisasi.
Restrkturisasi kredit memberi ruang bagi nasabah untuk menata kembali keuangannya karena melambatnya perekonomian. Setelah kondisi pulih, maka program restrukturisasi dapat diakhiri dengan meminta kembali ke perjanjian awal. Meski kembali ke perjanjian awal, pokok utang akan mengacu kepada jumlah terakhir restrukturisasi. Saat ini sebagian besar bank menerapkan skema anuitas dalam pembayaran angsuran. Dampaknya pokok utang akan kembali besar dan bank mendahulukan pendapatan bunga.
d. Sebaiknya lanjutkan kredit secara normal.
Kondisi perekonomian yang tertekan membuat sebgaian besar usaha juga terhambat. Dampaknya sejumlah cicilan harus dilakukan restrukturisasi untuk member ruang ekonomi tetap bergerak. Meski begitu, seperti imbauan ketua OJK Wimboh Santoso, nasabah sebaiknya melanjutkan cicilan dengan normal menggunakan fasilitas alternatif seperti menggunakan tabungan atau meminta bantuan kepada keluarga. Namun jika tidak memungkinkan restukturisasi adalah jalan yang tidak salah untuk dipilih dengan segala dampaknya hingga keadaan kembali normal.
Sebelum mengambil keputusan untuk melakukan restrukturisasi kepada debitur, Bank Sumut akan melakukan tindakan yang mendasar terlebih dahulu, yaitu bank melakukan penagihan secara intensif secara berkala yang dilakukan dengan cara mengunjungi langsung ketempat debitur atau komunikasi melalui telepon disesuaikan dengan kondisi, dimana apabila debitur kooperatif mau membayar angsurannya setelah ditagih melalui telepon, maka pihak bank tidak lagi melakukan kunjungan untuk penagian, namun apabila debitur tidak kooperatif
dan tidak dapat dihubungi melalui telepon, maka bank akan melakukan penagihan ke tempat usaha maupun tempat tinggal debitur.39
Apabila pembayaran angsuran kredit masih belum mengalami perbaikan, maka pihak bank akan memberikan surat peringatan pertama mengenai keterlambatan pembayaran yang dilakukan oleh debitur, dimana debitur harus memenuhi kewajibannya membayar angsuran kreditnya sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam surat tersebut. Jika setelah pemberian surat peringatan pertama debitur masih belum memenuhi kewajibannya, maka bank akan memberikan surat peringatan kedua sampai dengan ketiga. Apabila sampai peringatan yang ketiga debitur masih belum memenuhi kewajibannya, maka bank akan melakukan restrukturisasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.40
Pelaksanaan Mekanisme dan proses pengajuan restrukturisasi kredit perbankan Kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) pada masa Covid-19 yaitu berdasarkan Surat Edaran Bank Sumut tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 yang tetap mengacu kepada Surat Edaran Bank Sumut Tentang Pelaksanaan Restrukturisasi Kredit, adalah:41
39 Hasil Wawancara Dengan Informan Indra J Lumban Gaol, Account Officer Produktif PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa, Tanjung Morawa 26 April 2021.
40 Ibid.
41 Hasil Wawancara Dengan Informan Indra J Lumban Gaol, Account Officer Produktif PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa, Tanjung Morawa 26 April 2021.
a. Debitur mengajukan surat permohonan restrukturisasi kepada Bank pengelola Restrukturisasi Kredit.
b. Bank akan melakukan melakukan penilaian dan analisa apakah debitur
b. Bank akan melakukan melakukan penilaian dan analisa apakah debitur