• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HAMBATAN DALAM PELAKSANAAN

1. Profil PT. Bank Sumut

Bank Pembangunan Daerah Sumatera Utara didirikan pada tanggal 4 Nopember 1961 dengan sebutan BPSU. Sesuai dengan ketentuan pokok Bank Pembangunan Daerah Tingkat I Sumatera Utara maka pada tahun 1962 bentuk badan usaha dirubah menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan modal dasar pada saat itu Rp.100.000.000.- (seratus juta rupiah) dengan sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Utara dan Pemerintah Daerah Tingkat II se Sumatera Utara.1

Pada tahun 1999, bentuk hukum BPDSU dirubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT. Bank Pembangunan daerah Sumatera Utara atau disingkat PT. Bank Sumut yang berkedudukan dan bekantor pusat di Medan, Jalan Imam Bonjol Nomor 18 Medan. Modal dasar pada saat itu menjadi Rp.

400.000.000.000 (empat ratus milyar rupiah) yang selanjutnya dengan pertimbangan kebutuhan proyeksi pertumbuhan Bank, di tahun yang sama modal dasar kembali ditingkatkan menjadi Rp.500.00.000.000 (lima ratus milyar).2

1 https://www.banksumut.co.id/ terakhir diakses pada tanggal 18 Juli 2021.

2 Ibid

Laju pertumbuhan Bank Sumut kian menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan diliat dari kinerja dan prestasi yang diperoleh dari tahun ke tahun, tercatat total asset Bank Sumut mencapai 10, 75 Trilyun pada tahun 2010.

Didukung semangat menjadi Bank Profesional dan tangguh menghadapi persaingan dengan digalakkannya program to be the best yang sejalan dengan road map BPD Regional Champion 2014, tentunya dengan konsekuensi harus memperkuat permodalan yang tidak lagi mengandalkan penyertaan saham dari pemerintah daerah, melainkan juga membuka akses permodalan lain seperti penerbitan obligasi, untuk itu modal dasar Bank Sumut kembali ditingkatkan dari Rp.1 Trilyun tahun 2008 menjadi 2 Trilyun pada tahun 2011 dengan total asset meningkat menjadi 18,95 Trilyun. 1

b. Visi dan Misi PT. Bank Sumut

Bank Sumut memiliki visi menjadi bank andalan untuk membantu dan mendorong pertumbuhan perekonomian dan pembangunan daerah disegala bidang serta sebagai salah satu sumber pendapatan daerah dalam rangka peningkatan taraf hidup rakyat. Misi dari Bank Sumut mengelola dana pemerintah dan masyarakat secara professional yang didasarkan pada prinsip-prinsip compliance.2

c. Budaya Perusahaan

1) Sinergi

1 Ibid

2 Ibid.

Bentuk Logo menggambarkan dua elemen dalam bentuk huruf “U” yang saling berkait ber-sinergy membentuk huruf “S” yang merupakan kata awal

“Sumut”. Sebuah penggambaran bentuk kerjasama yang sangat erat antara Bank Sumut dengan masyarakat Sumatera Utara sebagaimana visi Bank Sumut. 3

Warna oranye sebagai symbol suatu hasrat untuk terus maju yang dilakukan dengan energik yang sportif dan professional sebaaimana misi Bank Sumut. Warna putih sebagai ungkapan ketulusan hati untuk melayani sebagaimana statemen Bank Sumut. Jenis huruf “Platino Bold”. Sederhana dan mudah dibaca. Penulisan Bank dengan huruf kecil dan Sumut dengan huruf capital guna lebih mengedepankan Sumatera Utara, sebagai gambaran keinginan dan dukungan untuk membangun dan membesarkan Sumatera Utara.

2) Peran

Sebagai alat kelengkapan Otonomi Daerah di bidang Perbankan, PT. Bank Sumut berfungsi sebagai penggerak dan pendorong laju pembangunan di daerah, berperan sebagai Pemegang Kas Daerah yang melaksanakan penyimpanan uang daerah serta sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah dengan melakukan kegiatan usaha sebagai Bank Umum seperti dimaksudkan pada Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992, tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.

Memberikan Pelayanan Terbaik, Terpercaya, Enerjik, Ramah, Bersahabat, Aman, Integritas tinggi, Komitmen.

3 Ibid.

d. Corporate Social Responsibility

Pada tahun 2018, Bank SUMUT berhasil meraih dua trophy dari gelaran Top CSR Award 2018 dengan Kategori Top CSR Improvement 2018 untuk Bank Sumut dan Top Leader on CSR Commitment 2018 untuk Direktur Utama Bank Sumut, serta meraih Predikat Platinum pada Event Indonesia Corporate Social Responsibility Award (ICSRA)-II-2018 yang diselenggarakan oleh Majalah Economic Review yang bekerjasama dengan Indonesia Asia Institute.

Yang mengjadi motto Corporate Social Responsibility yaiu CSR for EARTH Bank Sumut:4

1) Empathy/Empati:

Kompleksitas permasalahan sosial khususnya di lingkungan dan masyarakat sekitar, tentunya menjadi perhatian dan menumbuhkan kepedulian serta rasa empati bagi Bank Sumut.

2) Awareness/Kesadaran:

Bank SUMUT menyadari bahwa keberadaan perusahaan tidak semata-mata mengejar keuntungan finansial, melainkan juga mengedepankan etika bisnis, terutama kepedulian dan kontribusinya terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

3) Responsibility/Tanggung Jawab:

Program CSR Bank SUMUT sebagai komitmen dan bentuk tanggung jawab yang lahir atas kesadaran sendiri dalam upaya mewujudkan keberdayaan masyarakat melalui peningkatan sumber daya manusia dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan serta bersinergi dengan pemangku kepentingan (stakeholder).

4) Transparency/Transparansi:

Program CSR Bank SUMUT dalam implementasinya dilaksanakan secara transparansi sesuai dengan prinsip-prinsip compliance dan Good Corporate Governance (GCG).

4 Ibid

5) Harmony/Harmonis:

Dengan Program CSR Bank SUMUT diharapkan perusahaan, masyarakat dan lingkungan sekitar dapat hidup berdampingan secara harmonis, bersama merasakan kenyamanan dan bersama menikmati kesejahteraan.

PT. Bank Sumut meraih penghargaan CSR PT. Bank Sumut yaitu Top CSR Award 2020.

2. Skema Pelaksanaan Restrukturisasi Kredit Covid-19 Di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa

Kredit yang telah diberikan oleh pihak kreditur tidak terlepas dari adanya suatu resiko kegagalan atau kemacetan dalam pelunasannya yang akan mempengaruhi kondisi kreditur itu sendiri yang pada akhirnya akan berdampak pula pada kondisi yang lebih luas, yaitu kondisi perekonomian suatu negara.

Bank dalam memberikan kredit kepada debiturnya berdasarkan kepercayaan yang ada. Untuk memupuk kepercayaan tersebut disesuaikan dengan 5C yang tertuang didalam Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, yaitu sebagai berikut : “character (kepribadian), capacity (kemampuan), capital (modal), collateral (agunan), dan condition of economy (kondisi ekonomi)”.5

Bank memastikan bahwa kebijakan yang mendukung stimulus pertumbuhan ekonomi diberikan hanya untuk debitur yang terkena dampak penyebaran coronavirus disease 2019 (COVID-19) dan diperkirakan akan tetap bertahan dari dampak coronavirus disease 2019 (COVID-19).

Persyaratan untuk mengajukan restrukturisasi kredit kepada bank yaitu debitur yang mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau bunga kredit dan

5 Lilik Prihatin, “Faktor Kredit Perbankan Bermasalah/Non Perfoming Loan Perbankan Ponorogo”, Jurnal Hukum dan Pembangunan Ekonomi, Volume 6 Nomor 1, 2018 h. 7.

debitur memiliki prospek usaha yang baik dan dinilai mampu memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi.6

Penilaian terhadap debitur antara lain terkait potensi pertumbuhan usaha debitur dan kemampuan debitur untuk memenuhi kewajiban sesuai skema restrukturisasi. Penilaian terhadap debitur dimaksud dapat dilakukan secara individu atau kolektif. Penilaian secara kolektif dapat dilakukan dengan mempertimbangkan antara lain kesamaan karakteristik dan risiko debitur.

Pelaksanaan restrukturisasi kredit bagi Bank Umum Konvensional dilakukan sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan mengenai penilaian kualitas asset bank umum.7 Berdasarkan penjelasan Pasal 53 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 Tentang Penilaian Kualitas Asset Bank Umum, “kebijakan Restrukturisasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, yang ditetapkan oleh masing-masing bank sesuai dengan prosedur dan prinsip yang berlaku”.

Dalam melakukan Restrukturisasi Kredit, Bank wajib memperhatikan prinsip:8

a. Objektivitas;

6 Farhan Asyhadi, “Analisis Dampak Restrukturisasi kredit Terhadap Pembiayaan (Leasing) Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019”, Jurnal Justisi Hukum, Volume 5 Nomor 1, September 2020, h.5

7 Penjelasan Pasal 5 ayat 2 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 48/POJK.03/2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 11/POJK.03/2020 Tentag Stimulus Perekonomian Nasioanl Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019.

8 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 40/POJK.03/2019 Tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum Pasal 55.

b. Indepedensi;

c. Menghindari benturan kepentingan; dan

d. Kewajaran.

Untuk penetapan skema restrukturisasi di Bank Sumut Tanjung Morawa, tidak sama untuk seluruh debitur yang terdampak covid-19, penetapan restrukturisasi berdasarkan hasil identifikasi bank terhadap masing-masing debitur terdampak covid-19, dengan melihat kondisi tertentu dari debitur, seperti dari kondisi usaha debitur, kinerja keuangan debitur atau penilaian prospek usaha dan kemampuan debitur untuk memenuhi angsuran yang terkena dampak Covid-19.

Bank Sumut menyesuaikan skema dengan masing-masing kondisi debitur. 9

Penentuan skema yang telah ditetapkan berdasarkan hasil identifikasi bank terhadap masing-masing debitur tersebut selanjutnya di negosiasikan dengan debitur untuk mencapai kesepakatan antara bank dan debitur dan selanjutnya dapat dituangkan dalam perjanjian restrukturisasi kredit.10

Adapun skema pelaksanaan restrukturisasi covid-19 di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa yaitu:11

9 Hasil Wawancara Dengan Informan Indra J Lumban Gaol, Account Officer Produktif PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa, Tanjung Morawa 26 April 2021.

10 Ibid

11 Ibid.

a. Pada kondisi debitur yang penurunan omset usaha atau penghasilan ≤ 25%

(dua puluh lima persen) dari kondisi normal (sebelum terdampak) :

1) Perpanjangan jangka waktu dan/atau;

2) Penurunan suku bunga/margin/bagi hasil/ujrah dan/atau;

3) Penjadwalan pembayaran tunggakan bunga/margin/bagi hasil/ujrah dan/atau;

4) Pengurangan denda.

b. Pada kondisi debitur yang penurunan omset usaha atau penghasilan ›25% (dua puluh lima persen) dari kondisi normal (sebelum terdampak) :

1) Perpanjangan jangka waktu dan/atau;

2) Penjadwalan pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga sesuai dengan cash flow debitur maksimal 6 (enam) bulan dan/atau;

3) Penjadwalan pembayaran tunggakan bunga/margin/bagi hasil/ujrah dan/atau;

4) Pengurangan denda.

c. Pada kondisi debitur yang penurunan omset usaha atau penghasilan diatas 75% (tujuh puluh lima persen) dari kondisi normal (sebelum terdampak) :

1) Perpanjangan jangka waktu dan/atau;

2) Penjadwalan pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga sesuai dengan cash flow debitur maksimal 12 (dua belas) bulan dan/atau;

3) Penjadwalan pembayaran tunggakan bunga/margin/bagi hasil/ujrah dan/atau;

4) Pengurangan denda.

d. Pada kondisi debitur yang penurunan omset usaha atau penghasilan hingga 100% (seratus persen) dari kondisi normal (sebelum terdampak) :

1) Perpanjangan jangka waktu dan/atau;

2) Penundaan pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga maksimal 6 (enam) bulan dan/atau;

3) Penjadwalan pembayaran tunggakan bunga/margin/bagi hasil/ujrah dan/atau;

4) Pengurangan denda.

Kebijakan restrukturisasi kredit juga merupakan kebijakan mitigasi kredit bagi sektor perbankan. Namun, keberhasilan kebijakan ini tidak dapat terwujud tanpa dukungan dari sector fiskal dan moneter. Oleh karena itu, sinergitas antara kebijakan sektor fiskal dan moneter dengan kebijakan restrukturisasi kredit akan menciptakan stabilitas system keuangan dan akhirnya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.12

Restrukturisasi kredit selama masa pandemi covid-19 memberikan keuntungan bagi bank yaitu peningkatan tingkat Non Perfoaming Loan yang dapat ditekan dan pengurangan pembentukan cadangan atas kredit macet. Keuntungan bagi debitur yaitu bahwa debitur dapat menangguhkan pembayaran angsuran kreditnya. Selain keuntungan ada juga kerugian bagi bank yaitu mengganggu

12 Rasbin, Op.cit, h.5.

likuiditas bank, mengingat perputaran uang yang menjadi terhambat akibat perubahan jadwal pembayaran kredit dan kerugian bagi debitur yaitu bahwa dengan debitur menyetujui untuk memperpanjang jangka waktu pembayaran kredit, maka debitur akan membayar bunga mengikuti jangka waktu tersebut.

B. Hambatan Pelaksanaan Restrukturisasi Kredit Perbankan Kepada Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Pada Masa Covid-19 Di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa

1. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Di Indonesia

UMKM di Indonesia telah menjadi bagian penting dari sistem perekonomian di Indonesia. Hal ini dikarenakan UMKM merupakan unit-unit usaha yang lebih banyak jumlahnya dibandingkan usaha industri berskala besar dan memiliki keunggulan menyerap tenaga kerja lebih banyak dan juga mampu mempercepat proses pemerataan sebagai bagian dari pembangunan.13

Usaha Mikro, kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.14 Dengan penguatan UMKM melalui komitmen pemerintah diharapkan akan meningkatkan iklim investasi dan meningkatkan gairah usaha, dengan demikian UMKM dapat menjadi pilar membagun Perekonomian bangsa.15

13 Yuli Rahmini Suci, “Perkembangan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) di Indonesia”, Jurnal Ilmiah Cano Ekonomos, Volume 6 Nomor 1, Januari 2017, h.5.

14 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

15 Sudati Nur Sarfiah, Hanung Eka Atmaja, Dian MarlinaVerawati, “UMKM Sebagai Pilar Membangun Ekonomi Bangsa”, Jurnal REP (Riset Ekonomi Bangsa), Volume 4 Nomor 2, tahun 2019, h.5.

Terdapat beberapa kriteria UMKM yaitu:16

a. Usaha Mikro memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

b. Usaha Kecil memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah).

c. Usaha Menengah memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

Secara garis besar jenis usaha UMKM dikelompokkan menjadi:17 a. Usaha Perdagangan

Keagenan:agen Koran/majalah, sepatu, pakaian dan lain-lain;

Ekspor/Impor:produk lokal dan internasional; sektor informal:pengumpul barang bekas, pedagang kaki lima, dan lain-lain.

b. Usaha Pertanian

Meliputi perkebunan: pembibitan dan kebun buah-buahan, sayur-sayuran, dan lain-lain; peternakan:ternak ayam petelur, susu sapi, dan Perkanan: darat/laut seperti tambak udang, kolam ikan, dan lain-lain.

c. Usaha Industri

Industri makanan/minuman; Pertambangan; Pengrajin; Konveksi dan lain-lain.

d. Usaha Jasa

Jasa Konsultan; Perbengkelan; Restoran; Jasa Konstruksi; Jasa Transportasi, Jasa Telekomunikasi; Jasa Pendidikan, dan lain-lain.

16 Ibid, Pasal 6

17 Hesti Respatiningsih, Op.cit, h.3

Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah merupakan bagian penting dari perekonomian suatu bangsa. Karena peran pentingnya tersebut pemerintah terus melakukan upaya mengembangkan UMKM.18

Tiga peran UMKM yang besar sumbangannya dalam kehidupan masyarakat adalah:19

a. Sebagai salah satu sarana untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

Hal ini dikarenakan tingginya angka penyerapan tenaga kerja oleh UMKM.

b. Sebagai sarana untuk lebih memeratakan tingkat perekonomian masyarakat kecil. UMKM keberadaanya tersebar di lokasi di berbagai tempat berbeda dengan perusahaan besar. Keberadaan UMKM yang tersebar di 34 provinsi mampu memperkecil jurang perbedaan tingkat ekonomi antara masyarakat miskin dengan kaya.

c. Sebagai salah satu sumber pemasukan devisa bagi negara. Peran UMKM mampu memberikan devisa yang cukup besar sebagai salah satu penerimaan bagi negara. UMKM Indonesia saat ini dapat dikatakan sudah maju dan telah mampu memasuki pangsa pasar baik skala nasional, bahkan internasional.

Kapasitas UMKM untuk dapat berperan secara maksimal di pasar juga dipengaruhi oleh iklim usaha yang menjamin kesetaraan dan kepastian usaha, perlindungan usaha, serta ketersediaan insentif untuk pengembangan usaha.20

Pertumbuhan seringkali menuntut modal besar dan untuk mendapatkan uang tersebut mengharuskan UMKM mencari pinjaman bank, pinjaman pribadi,

18 Sudati Nur Sarfiah, Hanung Eka Atmaja, Dian MarlinaVerawati, Op.cit, h.7.

19 Kadeni, Ninik Srijani, “Peran UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat”, Jurnal ilmiah Ekonomi dan Pembelajarannya, Volume 8 Nomor 2, Juli 2020, h.8.

20 Antonius Purwanto, Potret dan Tantangan UMKM di Indonesia, https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/potret-dan-tantangan-umkm-di-indonesia , Terkahir diakses pada tanggal 19 Juli 2021.

sebuah jalur kredit bergulir, kredit perdagangan, atau bentuk lain pembiayaan kredit.21

Ada beberapa faktor Perkembangan UMKM di Indonesia yaitu:22 a. Adanya Perkembangan Tekhnologi

Majunya UMKM di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan tekhnologi yang terjadi saat ini. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor yang mendukung perkembangan UMKM adalah pemanfaatan sarana tekhnologi. Para pelaku usaha mulai memanfaatkan sarana teknologi seperti smartphone untuk melebarkan pasar usahanya, serta menggunakan aplikasi komunikasi, seperti whatsapp dan media sosial untuk memasarkan produk yang dijual.

Namun, bagi pebisnis yang saat ini masih melakukan bisnis offline sebaiknya juga beralih ke online agar tidak tersingkir dalam kompetisi dunia pada pekembangan saat ini.

b. Kemudahan Peminjaman Modal Usaha

Perkembangan UMKM di Indonesia tidak bisa lepas dari dukungan perbankan di Indonesia. terbukanya akses pembiayaan perbankan serta dan kredit usaha rakyat, mendorng tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah. Oleh karena itu, semakin menarik pertumbuhan jumlah UMKM di Indonesia.

c. Adanya Penurunan Tarif Pajak

Pelaku UMKM termasuk ke dalam wajib pajak dan wajib hitung, setor, lapor pajak penghasilannya pada negara. Pajak yang harus disetor dan dilaporkan merupakan pajak penghasilan final atau PPh Final. Dengan adanya penurunan tarif PPh maka dapat mempermudah pebisnis menjalankan kewajiban perpajakan pada negara dan juga memberikan kesempatan untuk perkembangan usaha serta investasi dikarenakan adanya keringanan dari penurunan tarif pajak.

21 Hesti Respatiningsih, Op.Cit. h.8.

22 Nando Rifky, “Mengenal Jenis UMKM di Indonesia Beserta Perkembangannya”, https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/02/20/mengenal-jenis-umkm-di-indonesia-beserta-perkembangannya , Terakhir diakses pada tanggal 19 Juli 2021.

2. Hambatan Pelaksanaan Restrukturisasi Kredit Perbankan Kepada Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah Pada Masa Covid-19 Di PT. Bank Sumut Kantor Cabang Pembantu Tanjung Morawa

Bank memegang peranan penting sebagai upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Bank merupakan lembaga keuangan sebagai penghimpun dana antara lain deposito, giro, tabungan atau simpanan lain, kemudian menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan dana melalui jasa keuangan yang pada gilirannya dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak. 23

Penyaluran kredit berperan penting dalam perbankan karena selain mensejahterakan masyarakat, bank juga akan mendapatkan laba yang merupakan sumber utama pendapatannya. Kredit yang diberikan oleh bank nantinya akan menjadi sumber pendapatan karena adanya bunga atas pinjaman kredit yang wajib dibayarkan secara rutin oleh para debitur dalam kurun waktu tertentu. Pemberian kredit ini juga merupakan kegiatan yang memiliki risiko terbesar dalam aktivitas perbankan, sehingga bank harus melakukan analisis risiko kredit dan tetap mengutamakan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. oleh karena itu, pemberian kredit haruslah diimbangi dengan manajemen risiko yang ketat.24

Pandemi COVD-19 telah menyebabkan perdagangan dunia ikut menurun hingga lebih dari 15% pada paruh pertama tahun 2020. Sedangkan pasar tenaga kerja semakin membesar karena banyak pelaku binis di seluruh dunia harus

23 Ashinta Sekar Bidari, Frans Simangunsong, Karmina Siska, “Sektor Perbankan di Covid-19”, Jurnal Pro Hukum:Jurnal Penelitian Bidang Hukum, Volume 9 Nomor 1, 2020, h.4.

24 Ida Ayu Aishwarya Rai, Ni Ketut Purnawati, “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kredit Pada Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) Devisa”, E-Jurnal Manajemen Unud, Volume 6, Nomor 11, 2017,h.3.

menghentikan jalur produksi, dan mengurangi jam kerja. Inilah yang kemudian di istilahkan dengan Great Lockdown yakni berkurangnya aktivitas bisnis sejalan dengan meluasnya pandemi virus Corona sehingga perekonomian dunia ikut tergerus. Usaha produktif yang menurun sehingga pemerintah diseluruh negara berupaya memberikan dukungan langsung kepada rumah tangga, perusahaan pasar keuangan. Meski demikian, meningkatnya persebaran Covid-19 membuat banyak negara kini rentan pada risiko multi dimensi. Apalagi data penyebaran virus Corona nyatanya belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti bahkan terus bertambah.25

Dalam menghadapi tantangan selama covid-19, perbankan dituntut untuk dapat menjaga keseimbangan kinerja perusahaan. Yang dalam ini diukur dengan tingkat profitabilitas. Profitabilitas bagi Bank merupakan unsur penting, karena tujuan utama bank adalah mendapat keuntungan. Selain itu untuk mengetahui apakah bank telah menjalankan kinerjanya secara efisien. Tingkat profitabilitas suatu bank akan mempengaruhi kebijakan investor atas investasi yang ditanamkan. Kemampuan bank untuk menghasilkan laba yang tinggi dapat menarik investor untuk menanamkan dananya pada bank, dan sebaliknya jika kemampuan bank untuk menghasilkan laba rendah dapat menyebabkan investor menarik dananya.26

25 Bambang Arianto, “Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Perekonomian Dunia”, Jurnal Ekonomi Perjuangan, Volume2 Nomor 2, 2020, h.13.

26 Angelia Dwi Siskawati, Putri Kusuma Wardani, Riko Ardiansyah, Zulfa Amalia Ifadah, “Pengaruh Risiko Likuiditas, Cadangan Kas dan Risiko NPL terhadap Profitabilitas Perbankan selama Covid – 19”, Jurnal Kompetitif Bisnis Edisi COVID-19, Volume 1, Nomor 1, Agustus 2020. H.3.

Peningkatan NPL yang dialami perbankan nasional mengakibatkan bank kehilangan kemampuannya untuk menghasilkan laba yang optimum dari kegiatan operasional bank. Dana operasional bank diputar dalam bentuk kredit, namun, akibat penyebaran Covid-19 jumlah kredit bermasalah meningkat. Dengan adanya kredit yang bermasalah tidak hanya menurunkan pendapatan bank, tetapi juga dapat mempengaruhi jumlah dana operasional dan likuiditas keuangan bank, sehingga mengganggu kesehatan bank dan akhirnya berujung pada kerugian nasabah penyimpan dana.27

Secara umum ada beberapa hambatan (kendala) yang dihadapi dalam proses restrukturisasai kredit, antara lain:28

a. Tidak adanya keterbukaan antara kreditur dan debitur. Hal demikian tidak lepas dari sifat hubungan yang antagonistik antara keduanya. Pihak kreditur, dalam hal ini bank, dalam praktiknya menempatkan persyaratan yang lebih mencerminkan besarnya kerugian yang dapat ditolerirnya serta kepastian pembayaran sesegera mungkin tanpa memperhatikan kondisi bisnis dan keuangan debiturnya. Pada sisi yang lain, pihak debitur selalu berupaya memperoleh keringanan yang maksimal dengan menyerahkan agunan seminimal mungkin.

b. Adanya keterbatasan baik financial maupun tenaga staf yang ahli dibidang restrukturisasi pada lembaga-lembaga fasilitator, sementara pada sisi yang lain debitur maupun kreditur terlalu berharap banyak pada lembaga tersebut yang secara fakta sebenarnya juga tidak mempunyai kekuatan memaksa.

c. Kurangnya koordinasi antara lembaga yang terlibat sebagai fasilitator dalam restrukturisasi, karena masing-masing lembaga tersebut mempunyai agenda atau prioritas yang berbeda satu dengan yang lain.

Pemerintah Indonesia sebagai salah satu negara yang terkena penyebaran Covid-19, telah mengeluarkan berbagai macam bentuk kebijakan mulai dari penetapan status darurat bencana non alam, pembentukan Gugus Tugas

Pemerintah Indonesia sebagai salah satu negara yang terkena penyebaran Covid-19, telah mengeluarkan berbagai macam bentuk kebijakan mulai dari penetapan status darurat bencana non alam, pembentukan Gugus Tugas