BAB III : BENTUK-BENTUK PELANGGARAN YANG DILAKUKAN
D. Pengertian sanksi dan Jenis sanksi yang dapat dikenakan terhadap
1. Pengertian Sanksi
Sanksi merupakan “akibat dari sesuatu perbuatan atau suatu reaksi dari pihak lain ( manusia atau organisasi sosial) atas suatu perbuatan”80. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonsia, sanksi adalah “berupa pembebanan atau penderitaan yang ditentukan dalam hukum atau untuk memaksa orang menepati perjanjian atau menaati ketentuan”.81
Menurut Djojodigoeno, sanksi dapat bersifat negatif bagi mereka yang berbuat menyimpang dari norma akan tetapi dapat juga bersifat positif bagi mereka yang menaatinya. Sanksi yang negatif misalnya pidana sedangkan sanksi yang positif misalnya hadiah.82 Sedangkan menurut W.L.G Lemaire, sanksi berupa hukuman yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus.83
2. Jenis sanksi yang dapat dikenakan terhadap pelaku usaha yang melakukan pelanggaran
Pelaku usaha yang melanggar hak-hak konsumen dikenakan sanksi. Pada dasarnya, hubungan antara konsumen dan pelaku usaha adalah hubungan
79
Happy Susanto, Op Cit, hal 42-43
80
Chainur Ar Rasjid, Dasar-dasar Ilmu Hukum, ( Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hal 23
81
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hal 997
82
Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, (Bandung : PT Alumni, 2007), hal 21
83
hukum keperdataan tetapi Undang-undang Perlindungan Konsumen juga mengenakan sanksi pidana bagi pelanggar hak-hak konsumen. Sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen Pasal 45 ayat 3, “penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagiamana dimaksud pada ayat 2 tidak menghilangkan tanggung jawab pidana sebagaimana diatur dalam undang-undang”.
Sanksi-sanksi yang dapat dikenakan yaitu : a. Sanksi Administratif
Pasal 16 UUPK :
(1) Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen berwenang menjatuhkan sanksi administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar Pasal 19 ayat 2 dan ayat 3.
(2) Sanksi administratif berupa penetapan ganti rugi paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).
(3) Tata cara penetapan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat 1 diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan.
Sanksi administratif dijatuhkan terhadap para pelaku usaha yang melakukan pelanggaran terhadap/dalam rangka :84
84
Abdul Halim Berkatulah, Op Cit, hal 101
1). Tidak dilaksanakannya pemberian ganti rugi oleh pelaku usaha kepada konsumen, dalam bentuk pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis maupun perawatan kesehatan atau pemberian santunan atas kerugian yang di derita oleh konsumen.
2). Terjadinya kerugian sebagai akibat dari kegiatan produksi iklan yang dilakukan oleh pelaku usaha periklanan.
3). Pelaku usaha yang tidak dapat menyediakan fasilitas jaminan purna jual baik dalam bentuk suku cadang maupun pemeliharaannya serta pemberian jaminan atau garansi yang telah ditetapkan sebelumnya baik yang berlaku terhadap pelaku usaha yang memperdagangkan barang atau jasa.
Pengaturan kewenangan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) untuk menjatuhkan sanksi administratif sesungguhnya bermasalah. Selama ini pemahaman terhadap sanksi administratif tertuju pada sanksi yang berupa pencabutan izin usaha atau sejenisnya. Melalui pemahaman seperti ini, praktik di lingkungan peradilan umum dalam hal menemukan adanya pelanggaran yang memerlukan dijatuhkannya sanksi administratif kepada si pelaku maka dalam putusannya memerintahkan instansi penerbit izin usaha untuk melakukan pencabutan izin usaha pihak pelaku yang bersangkutan.85
85
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op Cit, hal 273
Dalam ketentuan Pasal 60 Undang-undang Perlindungan Konsumen dinyatakan bahwa di satu sisi BPSK berwenang menjatuhkan sanksi administratif sementara di sisi lain yang dimaksudkan adalah sanksi perdata. Dari sisi penggunaan istilah sanksi administratif, BPSK tidak memiliki kewenangan untuk itu oleh karena ia bukan merupakan instansi penerbit izin ( regulatory agency), sehingga hak atau kewenangan menjatuhkan sanksi administratif oleh BPSK secara hukum tidak berdasar. Dari sisi substansi pada dasarnya adalah sanksi perdata sehingga mengenai hal ini dapat dipastikan bahwa tidak ada pihak lain yang menyangsikan kewenangan tersebut.
Adanya bukti bahwa sanksi yang dimaksud bukan sanksi administratif tetapi sanksi perdata bukan saja ditunjukkan oleh angka Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) yang ditentukan di dalam pasal tersebut, melainkan juga oleh adanya penunjukan Pasal 19 ayat 2 dan 3. Pasal tersebut adalah pasal yang menuntut tanggung jawab pembayaran ganti kerugian dari pelaku usaha kepada konsumen yang dirugikan akibat mengkonsumsi barang dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan (Pasal 19 ayat 1,2 dan 3).86
Pembatasan ganti kerugian atau yang disebut ganti kerugian subjektif terbatas itu, untuk kondisi Indonesia sebagai negara yang industrinya masih dalam perkembangan dinilai tepat. Oleh karena itu, disamping memberikan perlindungan kepada konsumen juga pelaku usaha masih terlindungi atau dapat terhindar dari kerugian yang menngakibatkan kebangkrutan akibat pembayaran ganti kerugian yang tanpa batas.
Berdasarkan Pasal 60 ayat (2) tersebut, jika produsen lalai untuk memenuhi tanggung jawabnya, maka pelaku usaha tersebut dapat dijatuhi sanksi yang jumlahnya maksimum Rp 200.000.000,00 ( dua ratus juta rupiah). Ganti kerugian tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban terbatas, sehingga secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa ganti kerugian yang terdapat dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen (UUPK) menganut prinsip ganti kerugian subjektif terbatas.
87
b. Sanksi Pidana Pokok
Sanksi pidana pokok adalah “sanksi yang dapat dikenakan dan dijatuhkan oleh pengadilan atas tuntutan jaksa penuntut umum terhadap pelanggaran yang
86
Ibid, hal 274
87
dilakukan oleh pelaku usaha. Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen memungkinkan dilakukannya penuntutan pidana terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya”.88
Dalam Pasal 61 Undang-undang Perlindungan Konsumen dinyatakan bahwa “penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan/atau pengurusnya”. Ketentuan ini jelas memperlihatkan suatu bentuk pertanggungjawaban pidana yang tidak saja dapat dikenakan kepada pengurus tetapi juga kepada perusahaan. Hal ini menurut Nurmadjito merupakan upaya yang bertujuan untuk menciptakan sistem bagi perlindungan konsumen. Melalui ketentuan pasal ini perusahaan dinyatakan sebagai subjek hukum pidana.89
Adapun bentuk-bentuk sanksi pidana dapat dibedakan sebagai berikut:90 1. Sanksi Kurungan
Apabila melanggar Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 15 dan Pasal 17 ayat 1
huruf a,b,c dan e akan dipidana penjara selama 5 tahun atau denda Rp 2.000.000.000 (dua miliar rupiah). Apabila melanggar Pasal 11, Pasal 17 ayat 1
huruf d dan f akan dipidana penjara selama 2 tahun atau denda Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).
2. Sanksi pidana lain di luar ketentuan Undang-undang Perlindungan Konsumen jika konsumen mengalami kematian, cacat berat, sakit berat, atau luka berat (Pasal 62 ayat 3).
88
Abdul Halim Berkatulah, Op cit, hal 103
89
Ahmadi Miru dan Sutarman Yodo, Op Cit, hal 276
90
Apabila sanksi pidana berupa denda yang dijatuhkan atas perbuatan pidana yang dilakukan pelaku usaha berbadan hukum hanya dipandang sebagai “ongkos” sebagaimana halnya ongkos yang harus dikeluarkan dalam rangka operasional produksi suatu perusahaan. Demikian hal ini lebih jelasnya dikemukakan oleh Susanto bahwa melihat praktek penegakan hukum terhadap pelanggaran- pelanggaran yang dilakukan korporasi, sepertinya bagi korporasi pelanggaran hukum hanya dipandang sekadar ongkos yaitu biaya atau pengurangan dari keuntungan melalui denda yang dikalkulasikan dan diperhitungkan sebelumnya dengan cara yang sama seperti halnya dengan setiap ongkos yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan dan memasarkan produk dari korporasi yang bersangkutan.
Sanksi pidana denda yang dipandang sekedar ongkos operasional produksi atau pemasaran akan mengakibatkan perusahaan sebagai subjek hukum pidana tidak menjadi jera atau sanksi pidana denda yang dimaksud tidak mengubah perilaku perusahaan yang dimaksud. Akibatnya perbuatan pidana dapat selalu berulang. Jika hal ini terjadi berarti sanksi pidana denda saja masih belum cukup apalagi sanksi denda yang diputuskan kecil jumlahnya sehingga harus ada pertimbangan terhadap kemungkinan memberikan sanksi tambahan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 63 UUPK.91
91
Abdul Halim Berkatulah, Op Cit, hal 105
c. Sanksi Pidana Tambahan
Menurut Undang-undang Perlindungan Konsumen Pasal 63, dimungkinkan diberikannya sanksi pidana tambahan di luar sanksi pidana pokok yang dijatuhkan berdasarkan Pasal 62. Sanksi-sanksi tersebut berupa :
1. Perampasan barang tertentu 2. Pengumuman keputusan hakim 3. Pembayaran ganti rugi
4. Pencabutan izin usaha
5. Dilarang memperdagangkan barang/jasa 6. Wajib menarik barang/jasa dari peredaran
Salah satu jenis hukuman tambahan dalam Pasal 63 ini adalah pembayaran ganti rugi. Pembayaran ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam pasal ini adalah kurang tetap karena ganti kerugian merupakan kajian dari hukum perdata dan bukan hukum pidana. Sedangkan sanksi pidana yang berupa pembayaran sejumlah uang bukan merupakan ganti kerugian melainkan denda. Demikian pula dengan hukuman tambahan yang berupa pencabutan izin usaha yang hal ini merupakan sanksi administratif.92
92
Ibid, hal 106