• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORITIS

C. Trafficking

1. Pengertian Trafficking

Perdagangan manusia merupakan kejahatan yang sistemis dan sulit diberantas. Masyarakat Internasional menyebutkan sebagai bentuk perbudakan masa kini yang merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Praktek terdagangan manusia suda lama terjadi dan modusnya mengalami perubahan dari waktu ke waktu bahkan jumlah korbannya setiap tahun mengalami peningkatan.

Pada pemahamannya, trafficking berbeda dengan perdagangan manusia. Perdagangan manusia adalah sebuah transaksi penjualan antara penjual dan pembeli dengan harga yang disepakati. Sedangkan trafficking mengandung unsur paksaan, penipuan, ancaman, kekerasan serta penyalahgunaan kekuasaan untuk tujuan-tujuan eksploitasi.

Definisi trafficking yang disepakati oleh beberapa negara sebagain besar mengambil dari protokol PBB. Pada tahun 2000 Indonesia mengadopsi definisi

trafficking ke dalam keputusan Presiden RI No. 88 tahun 2000 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (RAN P3A). Dalam protokol PBB, definisi trafficking adalah : perekrutan, pengangkutan,

pemindahan, penampungan atau penerimaan seseorang, dengan ancaman atau penggunaan kekerasan atau bentuk-bentuk paksaan lainnya, penculikan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan ataupun dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. Eksploitasi setidaknya meliputi eksploitasi lewat memprostitusikan orang lian atau bentuk-bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja atau pelayanan paksa serupa dengan perbudakan, penghambaan atau pengambilan organ-organ tubuh.12

International Labour Organisation (ILO) medefinisikan trafficking

sebagai kegiatan mencari, mengirim, memindahkan menampung atau menerima tenaga kerja dengan ancaman, kekersaan atau bentuk –bentuk pemaksaan lainnya, dengan cara menculik, menipu, memperdaya (termaksuk membujuk dan mengiming-imingi) korban, menyalahgunakan kekuasaan atau wewenang, memanfaatkan ketidaktahuan, keingintahuan, kepolosan, ketidakberdayaan dan tidak adanya perlindungan terhadap korban, atau dengan memberikan atau menerima pembayaran atau imbalan untuk mendapatkan ijin dengan persetujuan dari orang tua, wali atau orang lain yang mempunyai wewenang atas diri korban, dengan tujuan mengisap dan meremas tenaga (mengeksploitasi) korban.13

12

Syarif Darmoyo dan Rianto Adi, Trafficking Anak untuk Pekerja Rumah Tangga (Jakarta : PKPM Unika Atmajaya, 2004), h.9.

13

Fentiny Nugroho dan Johanna Debora Imelda, Perdagangan Anak Indonesia (Jakarta : ILO, 2001), h. 9

Adapun definisi trafficking menurut Undang-Undang Pemberantasan Tindakan Pidana Perdagangan Orang (UU PTPPO) No. 21 tahun 2007 adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan didalm negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.14 Sedangkan kategori anak dalam trafficking sesuai dengan Konveksi Hak Anak PBB adalah setiap orang yang berusia di bawah 18 tahun, kecuali berdasarkan Undang-undang yang berlaku bagi anak ditentukan usia dewasa dicapai lebih awal.15

Dari ketiga definisi tersebut, jika diamati maka memiliki perbedaan tersendiri. Hal ini karena setiap level (lembaga) memiliki pengalaman yang berbeda. Seperti halnya PBB (Persetikatan Bangsa-Bangsa) yang mendefinisikan trafficking secara lebih luas dibandingkan UU PTPPO No. 21 yang di buat oleh Indonesia, karena kebijakan PBB (terkait kasus trafficking) menjadi rujukan beberapa negara di dunia yang pada dasarnya memiliki berbagai macam dan bentuk kasus. Sebagai contoh kasus trafficking bermodus

14

UU PTPPO No.21 Tahun 2007, h. 2. 15

buruh migran dan berbeda dengan modus yang terjadi di negara-negara dunia lainnya.16

Adapun definisi ILO (International Labour Organisation) lebih membidik pada pelaku atau bandar trafficking, berbeda dengan definisi PBB dan UU PTPPO No. 21 yang membidik pelaku dan bagi siapa saja yang terlibat dalam kasus trafficking. Hal ini ditunjukan dengan pemakaian kata misalnya pada definisi ILO menggunakan istilah trafficking sebagai kegiatan mencari, mengirim dan memindahkan, sedangkan PBB / PTPPO No. 21 dengan menggunakan istilah trafficking adalah tindakan prekrutan, pengangkutan Dalam hal ini, ILO memakai kata predikat mencari yang berarti pelaku berperan besar atas terjadinya trafficking, sedangkan PBB?UU PTPPO No.21 memakai kata benda ejektif pencarian yang berarti semua pihak yang terlibat atas trafficking (pelaku, perantara dan sponsor atas terjadinya trafficking) maka harus ditindak.

Dalam kasus trafficking menggunakan istilah perdagangan karena hal ini sebagaimana layaknya ekonomi yang di dalamnya terdapat transaksi permintaan dan penawaran (Supply and Demand). Permintaan pasar tenaga kerja (khususnya pekerja rumah tangga) di luar negeri disebut supply dan kebutuhan para pencari kerja untuk menopang perekonomian mereka disebut

demand, telah dimanfaatkan oleh para mucikari untuk mendapatkan keuntungan

16

Lihat andi Yentriyani, Politik Perdagangan perempuan (Yakarta : Galang Press, 2004), h. 187-201

pribadi sebesar-besarnya dengan cara menipu dan memalsukan data atau identitas korban yang dikomoditaskan tersebut.

Definisi trafficking sedemikian rumit, hal ini dikarenakan keberadaan dan fenomena praktek trafficking yang sistemis dan rapi dalam menjaring para korban, sehungga definisi trafficking perlu penjelasan pasti dan detail dalam menjaring pelaku dan agar dapat ditindak dengan tegas. Rumusan Undang-undang tersebut dapat dirinci atas tiga bagian, yaitu:

1. Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengiriman, dan penyerahterimaan orang.

2. Dengan menggunakan kekerasaan atauancaman kekerasan, penipuan, penculikan penyekapan, penyalahgunaan kekuasaan, pemanfaatan posisi kerentaan atau menjerat utang.

3. Untuk tujuan mengeksploitasi atau perbuatan yang dapat

mengeksploitasi orang tersebut.17

Pelaku disini adalah siapa pun yang terlibat dalam praktek trafficking,

apakah disadari pelaku atau tidak, apakah itu orang tua korban, suami korban, saudara korban, atau orang dekat korban, jika motif pelaku adalah bertujuan untuk asas pemanfaatan dan eksploitasi terhadap korban maka pelaku tersebut tersebut terjerat hukum sebagai trafficker atau pelaku tindak trafficking.

Dalam praktek trafficking paling tidak terdapat adanya tujuan eksploitasi dapat meliputi: Pertama, eksploitasi untuk melacurkan orang lain

17

Supriyadi Widodo Eddyono, Perdagangan Manusia dalam Rancangan KUHP, (Jakarta : ELSAM, 2005), h. 18

atau bentuk-bentuk lain dari eksploitasi seksual. Kedua, kerja atau pelayanan paksa. Ketiga, perbudakan atau praktek-praktek yang serupa dengan perbudakan. Keempat, penghambaan. Dan kelima, pengambilan organ-organ tubuh.18

Kejahatan trafficking yang berupa eksploitasi prostitusi dan eksploitasi seksual tidak didefinisikan secara tuntas di Komisi Kejahatan PBB (UU Crime Commision). Dalam pembahasan protokol tersebut yang terdiri dari lebih 100 negara dunia tidak dapat mencapai kata sepakat mengenai kedua bentuk definisi ini, namun sebagai perwakilan dan NGO (Nen Goverment Organization)

negara-negara lain tetap menginginkan bahwa prostitusi dewasa (berprofesi sebagai prostitut atau prostitut yang legal) harus didefinisukan sebagai

trafficking. Sehingga dalam forum tersebut akhirnya memasukan “eksploitasi seksual” ke dalam trafficking, tetapi forum tersebut tidak mendefinisikannya secara khusus, karena tiap-tiap negara memiliki perbedaan hukum dan kebijakan yang beragam terhadap pekerja seks dewasa. Tetapi semua negara setuju bahwa trafficking merupakan kegiatan yang bersifat perbudakan, pekerjaan dengan kekerasan atau pemaksaan dan kerja paksa.19 Sehingga praktek trafficking dikategorikan sebagai kejahatan pidana transnasional, yaitu kejahatan yang melintas batas dan kepentingan suatu negara.20

18

Lihat Ann Jordan dalam The Annotated Guide to the Complete UN Trafficking Protocol, ( Washinton, DC : Internacional Human Right Law Group, 2002)

19

Supriyadi Widodo Eddyono, Perdagangan Manusia dalam Rancangan KUHP, h..10 20

Komnas Perempuan, Hukum Pidana Internasional dan Perempuan, (Jakarta: KP, 2007), Vol. I, h.2

Dokumen terkait