BAB V PENUTUP
B. Penggalan Kisah Inspiratif KKN
Kisah inspiratif dari peserta KKN ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa-mahasiswa calon peserta KKN selanjutnya.
Banyak pengalaman-pengalaman yang kami alami selama kegiatan KKN berlangsung, baik pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran bagi masing-masing pribadi peserta KKN. Hal tersebut dapat dilihat dari kesan-kesan berikut:
1
SAFARI BAKTI KE PELOSOK NEGERI Mohamad Maula Asyari
Kekhawatiran Membelenggu
Memang prasangka itu merupakan suatu hal yang seharusnya dihindari, karena sebagian dari prasangka adalah buruk. Itulah yang terjadi dalam diri saya semenjak mengenal istilah KKN atau Kuliah Kerja Nyata yang diadakan oleh kampus tercinta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Saya selalu berprasangka yang sering berlabu pada titik keburukan, ya prasangka buruk atau su‟udzan. Hal itu terjadi seiring dengan bergulirnya isu-isu terkait KKN, dari mulai anggota kelompok yang ditentukan PPM, lokasi KKN yang diacak, informasi yang telat, kebijakan yang mendadak sampai perubahan jumlah dana kegiatan KKN yang dikucurkan oleh pihak PPM. Semuanya membuat resah hati saya dan mulai membuat saya jenuh, tak bersemangat untuk KKN. Bahkan sempat terbesit dalam hati untuk mengundurkan diri dari kelompok dan melakukan kegiatan KKN di tahun depan saja dengan harapan kebijakan baru yang menguntungkan.
Keresahan saya tidak hanya berhenti di situ, berlanjut dengan anggota kelompok yang baru kenal, menyatukan ide, gagasan dan pandangan tentu tidak mudah karena berbedanya karakter dan latar belakang sosial. Terlebih posisi saya adalah ketua yang dituntut mampu mengorganisir anggotanya untuk bekerja sama agar kegiatan KKN berjalan lancar. Di samping itu lokasi KKN yang tidak menguntungkan menuntut kita lebih bekerja keras untuk mengagendakan setiap kegiatan dengan baik, karena secara geografis lokasi KKN saya di lereng gunung atau di perbukitan, tentu secara akomodasi sangat menyulitkan terlebih kendaraan roda empat tak bisa masuk.
Masalah selanjutnya yang menjadi bahan pikiran saya adalah lokasi KKN yang dituju merupakan lokasi yang hampir tidak pernah diadakan kegiatan KKN kecuali pernah satu kali diadakan KKN pada tahun 1994 dan setelah itu tidak pernah lagi ada. Sehingga saya tidak memiliki acuan kegiatan KKN dari tahun-tahun lalu seperti kelompok-kelompok lain, hal ini sangat menyusahkan dalam
perumusan agenda acara. Mungkin banyak pertimbangan mengapa lokasi ini tidak dipilih sebagai lokasi KKN dan saya sangat memaklumi karena akses jalan menuju ke lokasi sangat curam, (sebelum dibangun jalan seperti sekarang) pas saya survei tepatnya bulan Mei, jalan menuju lokasi sangat ekstrem, kondisi jalan yang masih tanah liat serta jalannya tidak lebih lebar dari 1,5 meter dengan sisi sebelah tebing dan sebelahnya lagi jurang. Wajar jika lokasi ini tidak pernah diadakan KKN karena sangat berisiko bagi orang yang belum berpengalaman mengakses jalan tersebut.
Lokasi yang jauh dari segala fasilitas seperti pasar, rumah sakit, pom bensin, dan semua fasilitas umum lainnya juga menjadi pertimbangan besar bagi saya dan mungkin menjadi alasan yang lain kenapa tidak pernah diadakan kegiatan KKN. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana ketika menuju lokasi dengan menggunakan motor kemudian kempes di tengah jalan atau kehabisan bensin, tentu akan mendorong motor naik ke perbukitan atau turun ke bawah dengan jarak berkilo-kilo meter dan hal itu sangat menyusahkan sekali.
Tapi masalah terbesar saya adalah pendanaan, dengan lokasi yang sangat memprihatinkan terutama akses jalan menuju lokasi KKN sangat susah, tanah berbatu, memberi pertimbangan tersendiri bagi saya dalam masalah pendanaan. Dalam benak saya tentu akan memakan biaya yang tidak sedikit, setiap kebutuhan dan perlengkapan kegiatan akan dikalikan dua karena akses jalan yang susah akan menuntut biaya akomodasi yang besar. Contohnya saja biaya mengojek di sana bisa sampai seratus ribu hanya untuk pergi berbelanja di pasar, belum bahan-bahan lain yang diperlukan.
Semangatku dalam Keakraban
Mungkin istilah “Tak kenal maka tak sayang” berlaku bagi saya, karena dari awal bertemu dengan teman-teman baru, saya mencoba mengenal mereka luar dan dalam, dari sifatnya, karakternya, kesukaanya, yang tidak disuka dan hal-hal yang terkait dengan anggota kelompok. Dan menurut saya nama kelompok DARMADES dan filosofi lambangnya dapat memberi gambaran dari karakter anggota kelompok saya. Kata “DARMADES” (DARi MAhasiswa
untuk DESa) adalah menggambarkan pengabdian mahasiswa terhadap negeri dalam lingkup desa, itu tergambar dari kawan-kawan saya yang tidak pernah mengeluhkan atau mempermasalahkan masalah yang berkaitan dengan uang. Bahkan setiap individu pasti memiliki kontribusi secara pribadi non agenda kepada masyarakat baik untuk perorangan maupun untuk fasilitas umum. Adapun dari segi filosofi lambang kelompok DARMADES adalah wajah burung hantu dengan mata melotot, berwarna hitam dan juga wajah burung itu seperti kedua tangan menengadah ke depan. Itu menunjukan bahwa burung hantu adalah lambang kecerdasan, mata yang melotot adalah lambang kejelian, warna hitam adalah warna kejujuran dan kebijaksanaan, tangan menengadah adalah kedermawanan dan tangan berwarna hitam menunjukan kerja keras.
Sejak saat itulah aku mengenal mereka seperti aku mengenal dan paham tentang lambang kelompok DARMADES. Burung hantu menunjukan kecerdasan dan intelektual, itu tergambar dari Sri Mulyawati dan Imam Arifin, wawasannya sangat luas. Lambang mata yang melotot menunjukan tentang kejelian yang ditunjukkan oleh Silvia Puji Lestari, Rahmat Hidayat dan Tifani Shallynda Kania yang jeli dan tajam kepekaannya. Warna hitam menunjukan kejujuran dan kebijaksanaan itu ditunjukan oleh Ahmad Rifqi, Khairunnisa Maulida dan Sholihat Nurfadillah yang jujur dan lugas dalam menyampaikan sesuatu. Lambang dari semuanya seperti tangan menunjukan tentang kedermawanan, itu ditunjukan oleh Rekky Prasetyo dan Muhammad Atras Marami yang tak sungkan untuk mengeluarkan banyak uang yang ditunjukan kepada masyarakat non agenda. Terakhir adalah tangan yang berwarna hitam yang menunjukan kerja keras bagi seluruh anggotanya. Selalu bekerja sama, bahu-membahu, dan bergotong-royong.
Semua itu saya rasakan selama satu bulan hidup bersama mereka.
Pernah suatu ketika kami mengalami fase di mana anggotanya saling cuek dan saling mendiamkan satu sama lain, alias pada baperan, dengan situasi seperti itu menuntut saya untuk mencari solusi agar situasi seperti ini tidak berlarut-larut dan mengganggu agenda kegiatan. Akhirnya saya putuskan untuk membuka forum komunikasi.
mereka suka tapi dengan syarat yang ditunjuk jangan protes dan jangan sakit hati, justru harus mengoreksi diri. Ketika forum itu dimulai, maka mulailah satu persatu mereka menunjuk orang yang mereka tidak sukai dan ternyata semuanya pun menunjuk kepada saya. Mereka menuduh saya, saya sebagai ketua otoriter, egois, dan hanya memerintah saja, tidak ikut serta bekerja. Ternyata perasaan itu yang mengakibatkan mereka mendiamkan saya beberapa waktu.
Ketika selesai forum, saya meminta maaf dan tidak memberikan komentar apapun, walau dalam hati saya, saya mampu untuk mematahkan tuduhan-tuduhan mereka dan membalikannya kepada mereka, namun demi kemaslahatan saya memilih untuk diam dan tidak terlalu menanggapinya demi berjalannya kegiatan dengan baik.
Karena orientasi saya hanya pada kegiatan KKN bisa berjalan dengan sukses bukan baperan (bawa perasaan), membenci, kesal apalagi dengki, itu semua hanya membuang waktu dan tidak penting.
Hal semacam ini terjadi tiga kali selama kegiatan KKN, dan yang terakhir sempat bersitegang dan bahkan sampai adu mulut dengan intonasi tinggi. Tapi setiap selesai forum komunikasi maka selesai pula kekesalan dan kekecewaanya, situasi kembali seperti semula, kembali bercanda, kembali akrab, dan kembali senyum bersama. Saya kira memang komunikasi hal yang tidak bisa dilupakan dalam penyelesaian segala masalah, jika orang tidak mau berkomunikasi dalam menyelesaikan masalahnya dan dia memilih untuk diam maka saya yakin dia tidak akan menemukan solusi dari masalahnya, karena tahap awal dalam penyelesaian masalah adalah komunikasi.
Sekian banyak hal yang tak bisa dilupakan adalah kejadian itu, forum komunikasi adalah solusi mempersatukan kembali anggota kelompok, karena saya tau perbedaan pandangan bisa menyulut perpecahan dalam kelompok. Jadi komunikasi adalah cara cerdas dalam menanggulanginya agar tidak berlarut-larut dalam kekesalan.
Desa yang Mandiri
Kampung yang akan menjadi tempat pengabdian saya dan teman-teman kali ini adalah Kampung Cilangkap. Sebuah kampung yang berada di Desa Banyuasih, Kec. Cigudeg, Kab. Bogor. Prov. Jawa Barat.
Kampung ini berada di lereng perbukitan. Pemandangan hijau, asri,
dan tenang selalu menemani masyarakat yang tinggal di kampung ini.
Selain Kampung Cilangkap ini, juga ada beberapa kampung lainnya yang masih termasuk ke dalam wilayah Desa Banyuasih, seperti Kampung Cijambe, Kampung Panunggangan, Kampung Cisarua, Kampung Manceri dan lain-lain. Tapi Kampung Cilangkap ini berbeda dengan kampung-kampung yang lain. Perbedaaan tersebut terlihat jelas dan nyata ketika kami telah tinggal beberapa hari di kampung ini. Beberapa perbedaan tersebut meliputi sarana kampung yang masih belum lengkap, pemikiran atau keyakinan mayoritas masyarakat yang masih tradisional, kelambatan dalam menerima informasi-informasi baru, dan masih banyak yang lainnya. Keadaan yang seperti ini amat jarang saya temukan di beberapa kampung yang berada di sekitar Kampung Cilangkap. Kebanyakan kampung yang lain sudah maju dan jalan menuju kampung-kampung tersebut pun juga sudah bagus, dan enak untuk dilewati. Selain itu, sinyal, koran, dan televisi sudah banyak digunakan oleh masyarakat. Memang amat memilukan, jika Kampung Cilangkap dibanding-bandingkan dengan beberapa kampung lainnya yang sudah maju.
Sejujurnya, saya pribadi telah mengetahui keadaan seperti ini beberapa bulan sebelum kegiatan KKN ini berlangsung. Pada waktu saya dan beberapa teman melakukan survei pra-kegiatan KKN berlangsung. Ceritanya, pada waktu itu saya dan beberapa orang teman berniat untuk melakukan survei ke Desa Banyuasih. Setiba di Desa Banyuasih, kami dijamu oleh pemandangan indah Kampung Cijambe, sebuah kampung yang letak lokasinya berada dibawah Kampung Cilangkap. Jadi, sebelum memasuki Kampung Cilangkap, saya sudah disuguhi dengan alamnya Kampung Cijambe yang sudah agak lebih maju, dan dekat dari pasar dan tempat pelayanan kesehatan. Setibanya di Kampung Cijambe, kami terlena dengan suasananya yang menyejukkan, sehingga kami pun berhenti, dan melihat lingkungan kampung yang hijau, nyaman dan sejuk.
Pepohonan, sungai yang diisi bebatuan besar, serta masyarakatnya yang ramah membuat kami betah berhenti sejenak di sini. Kebetulan pada waktu itu, kami istirahat di kantor kepala desa. Setelah istirahat sebentar, saya langsung menghampiri bapak kepala desa yang sedang
tentang Desa Banyuasih. Setelah berbicara dengan bapak kepala desa, dan beberapa perangkat Desa Banyuasih, kami mendapatkan informasi bahwa Banyuasih ini memiliki banyak kampung, termasuk salah satunya adalah Kampung Cijambe yang telah kami nikmati alam pemandangannya. Salah satu informasi yang kami dapatkan adalah bahwa di atas sana (maksudnya di atas Kampung Cijambe) masih terdapat beberapa kampung yang belum pernah dilakukan kegiatan KKN dari UIN Jakarta di sana. Hal ini berbeda dengan Kampung Cijambe yang sering menerima para mahasiswa KKN setiap tahunnya.
Mengetahui informasi ini, saya sedikit terkejut. Kenapa hanya Kampung Cijambe saja yang menikmati kagiatan KKN dari kampus?
Bukankah tidak ada perbedaan antara Kampung Cijambe dengan kampung-kampung lainnya? Ternyata, setelah kami cari terus informasi-informasi terkait hal tersebut, rupanya bukan pihak perangkat desanya yang pilih kasih. Memang kondisi dan situasi harus menentukan hal yang seperti itu. Kampung Cijambe adalah salah satu kampung dari beberapa kampung yang berada dalam kawasan Desa Banyuasih. Kampung ini mempunyai beberapa kelebihan yang dapat menarik para mahasiswa yang akan KKN untuk melaksanakan kegiatan KKN di kampung ini, seperti jalan menuju kampung yang sudah bagus, dan enak untuk dilewati, mudah mendapatkan sinyal hp, koran, dan media sosial lainnnya, pusat kegiatan Kepala Desa Banyuasih, dekat dengan pelayanan kesehatan, rumah sakit, dan juga dekat dengan pasar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari.
Keadaan, dan situasi seperti ini tidak dimiliki oleh kampung-kampung lainnya, sehingga banyak mahasiswa yang mau melaksanakan kegiatan KKN memilih Kampung Cijambe sebagai tempat KKN.
Setelah mendapatkan informasi seperti tersebut, saya sadar dan baru bisa menerima kenyataan yang terlihat tidak adil tersebut. Siapa pun tentu ingin memilih kampung yang enak, nyaman, dekat dengan rumah sakit, pasar, dan pusat pemerintahan. Selain itu, sudah agak lebih maju, keadaan kampung seperti itu juga memudahkan kegiatan KKN mereka berlangsung nantinya. Tapi, saya tidak ingin keadaan seperti ini terus berjalan. Walaupun jauh, dan susah ditempuh, kampung-kampung terpencil lainnya juga harus menikmati dan mendapatkan hasil pengabdian dari pada mahasiswa. Karena,
mahasiswa adalah salah satu faktor yang dapat memajukan negeri ini dari ketertinggalan, kemiskinan, dan kebodohan.
Setelah berpikir panjang, saya menawarkan kepada teman-teman kelompok KKN 006 untuk melanjutkan survei ke kampung berikutnya. Siapa tahu, keberadaan kita di kampung tersebut lebih dibutuhkan daripada Kampung Cijambe yang telah dekat dengan pusat kegiatan kepala Desa Banyuasih. Dengan semangat yang tinggi, serta dipenuhi dengan keinginan pengabdian yang benar-benar mengabdi, beberapa waktu setelah survei pertama, saya dan beberapa orang teman melanjutkan survei kembali ke kampung di atas.
Ternyata benar, jalan yang kami lalui sangat sulit, penuh bebatuan yang bertebaran di jalan, bahkan lumpur-lumpur licin yang sangat membahayakan bagi pejalan. Sangat berat perjuangan yang kami tempuh. Sempat motor yang saya kendarai bocor di tengah jalan yang sepi, lagi terjal. Sehingga, dengan terpaksa, saya harus mendorong motor tersebut beberapa kilometer sehingga kami menemukan tempat tambal ban. Baru di sana saya dan teman-teman berhenti sejenak untuk mengistirahatkan badan yang letih mendorong motor di jalan yang rusak lagi terjang. Setelah beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan beberapa kilometer lagi, Sehingga akhirnya, kami sampai di sebuah kampung terpencil, jauh dari pusat kesehatan, dan pusat penyediaan perlengkapan sehari-hari.
Takjub, dan merasa bahagia, itulah yang saya rasakan ketika sampai di kampung terpencil ini. Walaupun jauh, dan terpencil, tapi saya merasakan suasana yang berbeda dari kampung-kampung yang lainnya. Bagaimana tidak? Setiba kami di perbatasan kampung ini dengan kampung sebelumnya, yaitu Kampung Cijambe, kami langsung disambut dengan hormat oleh warga sekitar. Kami disuruh istirahat di salah satu rumah penduduk, dan disuguhi minum, dan makanan. Pucuk dicinta, walaupun tiba. Keadaan badan kami yang sangat lelah dan haus karena melalui jalan yang sangat rusak dan mendaki, dapat kami istirahatkan di rumah warga ini. Sambil istirahat, saya bertanya-tanya kepada sang tuan rumah tentang hal-hal yang berkaitan dengan kampung ini. Menurut informasi yang saya terima, ternyata kampung ini bernama Kampung Cilangkap, salah satu
pertemuan kami di salah satu rumah warga inilah, kami sudah sangat tertarik dengan Kampung Cilangkap sebagai lokasi dari kegiatan KKN-PpMM kami mendatang.
Begitulah sedikit kisah pengalaman yang sangat berkesan bagi saya pribadi tentang Kampung Cilangkap. Walaupun jauh dari pusat pemerintahan, dan jalan menuju ke sana sangat sulit, tapi keramahan masyarakat Kampung Cilangkap dalam menyambut kami sebagai pendatang baru mengubah kekurangan itu semua menjadi kelebihan yang patut untuk ditiru.
Membangun Cilangkap
Sebagaimana paparan saya di atas, banyak sekali kenangan berharga antara saya dan Kampung Cilangkap. Walaupun masih terpencil, jauh dari pusat pemerintahan, pusat pelayanan kesehatan, pusat pendidikan yang layak, dan memiliki sarana yang tidak layak untuk dipakai, tapi saya sangat merasa beruntung bisa melaksanakan kegiatan KKN-PpMM di kampung ini. Keramahan, kebaikan, dan kemurahan hati warga Kampung Cilangkap membuat hati saya betah dan nyaman tinggal di sini.
Kalau boleh berangan-angan, jika pada suatu hari nanti saya menjadi salah satu bagian dari masyarakat Kampung Cilangkap, ingin rasanya diri ini membuat suatu bentuk pergerakan yang dapat mengubah Kampung Cilangkap ke arah yang lebih maju. Rasanya, banyak hal yang ingin saya lakukan supaya peradaban di Kampung Cilangkap dapat menyusul kemajuan peradaban yang telah lama dirasakan oleh masyarakat di kampung-kampung lainnya. Setidaknya, ada tiga bidang yang akan saya perbaiki. Pertama bidang ekonomi.
Dalam bidang ini, saya ingin bercita-cita untuk membuat sebuah bank kecil-kecilan. Di mana bank tersebut akan dikelola oleh masyarakat Kampung Cilangkap sendiri dengan cara demokrasi. Artinya, dana bank ini bersumber dari masyarakat, oleh masyarakat dan dialokasikan untuk masyarakat. Jadi, selain mandiri dan tidak selalu berharap kepada bantuan pemerintah, masyarakat juga terdidik di dalam hal menajemen keuangan dan terlatih dalam pengelolan bank itu sendiri.
Kedua bidang pendidikan. Ada dua program yang ingin saya wujudkan dalam hal pendidikan. Pertama menambah SDM guru-guru yang mengajar di SDN Cilangkap. Program ini merupakan program wajib berhubungan guru-guru yang mengajar di SDN Cilangkap sangat kurang, sehingga tak jarang para murid bermain-main saja sewaktu jam belajar berlangsung. Kedua, membangun sekolah setingkat SMA/MA. Tentu, program ini sangat membutuhkan tenaga, dan dana yang amat besar. Maka, dalam rangka mewujudkannya, saya akan meminta bantuan dari pihak pemerintah dan masyarakat.
Ketiga bidang sarana. Sebagaimana yang telah saya uraikan di atas bahwa jalan menuju Kampung Cilangkap ini sangatlah sulit. Selain jauh, dan mendaki, jalan yang amat rusak membuat setiap orang yang melewatinya kecapaian dan kelelahan, bahkan bisa trauma kalau belum terbiasa.
2
INDONESIA DI KAMPUNG CILANGKAP Sri Mulyawati
Tempat Antah Berantah
Belum selesai kuliah semester enam dilewati, persiapan KKN-PpMM sudah mulai ramai. Mulai dari mencari teman kelompok, mengikuti pembekalan yang diberikan PPM dan lain sebagainya. KKN tahun ini sedikit berbeda. Mulai dari penentuan kelompok dan lokasi KKN semua ditentukan oleh pihak PPM. Ada enak dan tidaknya.
Bagaimana menjalankan pengabdian dengan teman-teman sekelompok yang belum saling mengenal? Baiknya, saya mendapatkan teman baru yang akan melakukan pengabdian bersama. Namun seiring bejalannya waktu, saya mulai mengenal teman sekelompok walau belum begitu dekat. Mau tak mau saya harus bisa membiasakan dengan berbagai macam tingkah mereka yang belum begitu saya pahami.
Pikiran saya mengenai bagaimana kegiatan PpMM saja sudah berat dipikiran, apalagi ditambah dengan teman kelompok yang baru dan mendapat lokasi KKN yang asing kedengarannya. Kendala terbesar yang saya rasakan adalah bagaimana saya bisa bekerjasama dengan mereka. Karena saya pribadi memiliki beberapa kebiasaan yang orang pasti aneh mendengarnya. Salah duanya adalah, saya tidak suka mencuci piring dan saya tidak bisa makan nasi dingin. Entah kenapa saya tidak suka dan tidak mau mencuci piring. Kepanikan sudah menghantui jika nanti saya mendapatkan giliran untuk mencuci piring.
Harus dengan nasi yang hangat, jika tidak saya lebih memilih untuk tidak makan. Sekali tak makan tak masalah.
Untuk pengabdian nanti saya pun berpikir keras, apa yang akan saya bagikan di sana. Mudah rasanya jika mendapat lokasi KKN yang mulai maju masyarakatnya dari segi pendidikan. Kemampuan akademik yang saya miliki di bidang jurnalistik akan mudah saya bagi, tapi jika masyarakatnya saja masih terbelakang, rasanya terlalu jauh untuk mengenalkan pengetahuan mengenai jurnalistik. Tak pandai dalam mengajar anak-anak, saya sedikit bingung diawal, apa yang akan saya lakukan nanti saat pengabdian.
Saat pertama diumumkan lokasi KKN, pikirku sudah tak enak.
Benar saja, kami melakukan survey lokasi berjam-jam mencari desa yang
dituju. Membayangkan jalannya saja sudah ampun-ampunan. Ditambah lagi dengan kabar dari kelompok yang satu desa dengan kami, katanya tak ada signal. Makin berat saja untuk melakukan pengabdian di tempat seperti itu. Melewati jalananan Rumpin yang berdebu. Memasuki daerah yang asing khususnya bagi saya, sudah mulai terbayang fasilitasnya seperti apa. Survey pertama kami sampai di desa yang dituju, namun tak semua terjangkau. Ada kampung lain di dataran yang lebih tinggi yang belum sempat kami jamah akibat jalan yang sulit ditempuh oleh mobil.
Survey kali kedua, hanya berempat menggunakan dua sepeda motor. Dengan penuh perjuangan kami melewati track jalan yang sangat ekstrem. Mulai dari mendorong motor, berhenti tengah jalan, mengiringi perjalanan. Sejam berlalu, saya dan kawan lainnya sampai di kampung yang terisolir akibat akses jalan yang sangat buruk ini.
Berbagai bayangan bagaimana tinggal di daerah ini sudah bercampur membayangi. Sulit bagi saya rasanya waktu itu untuk melakukan pengabdian selama satu bulan lamanya dengan berbagai macam kendala
Berbagai bayangan bagaimana tinggal di daerah ini sudah bercampur membayangi. Sulit bagi saya rasanya waktu itu untuk melakukan pengabdian selama satu bulan lamanya dengan berbagai macam kendala