• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penggalangan Dana Konservasi

Dalam dokumen ORANGUTAN BATANG TORU. Wanda Kuswanda (Halaman 176-185)

Strategi penting lain dalam pengembangan konservasi orangutan adalah ketersediaan anggaran/dana. Pelaksanaan konservasi orangutan membutuhkan pendanaan yang besar yang harus tersedia secara berkesinambungan dan dalam jangka panjang. Menurut Indrawan et al. (2007), pendanaan untuk konservasi selama ini sebagian besar masih bersumber dari dana pemerintah, baik APBN maupun APBD; dana perimbangan maupun dari pinjaman luar negeri; dan hibah. Selama ini, dana hibah untuk kegiatan konservasi terbanyak berasal dari negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (USAID), Jepang (JICA), Norwegia dan Masyarakat Uni Eropa lainnya. Perkembangan lain dalam pendanaan konservasi adalah pinjaman dari beberapa bank, seperti World Bank dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Beberapa organisasi internasional lainnya juga membentuk konsorsium untuk penggalangan dana konservasi, seperti World Wildlife Fund (WWF), Biodiversity Support Program (BSP), dan The Nature Conservancy (TNC).

Untuk waktu mendatang, ketersediaan dana konservasi tidak bisa hanya mengandalkan dari pemerintah yang anggarannya semakin terbatas maupun hibah dari luar negeri. Penggalangan dana konservasi harus terus dikembangkan karena tantangan pelaksanaan konservasi akan semakain berkembang seiring masih rendahnya kesadaran manusia dalam menjaga kelestarian hutan dan lemahnya kebijakan yang mendukung konservasi satwa liar. Sumber dana konservasi pada masa depan harus dilakukan melalui penjualan produk berupa jasa yang dihasilkan dari manfaat aktivitas konservasi itu sendiri (ekonomi kreatif). Untuk itu, solusi alternatif sumber dana bagi pelaksanaan konservasi di masa mendatang dapat dilakukan, antara lain sebagi nerikut.

1. Penerapan Pembayaran Hutan Sebagai Jasa Lingkungan (Payment for Environmental

Services/PES)

Penilaian jasa lingkungan yang dihasilkan dari kegiatan konservasi hutan sangat penting karena–seperti hasil hutan lainnya–secara bersama-sama dapat memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat, bahkan memberikan kontribusi bagi sumber pendapatan daerah dan nasional. Beragam jenis jasa lingkungan yang dihasilkan oleh keberadaan hutan yang lestari dapat digunakan sebagai dasar perhitungan manfaat hutan yang lebih realistis untuk mendapat dukungan pentingnya aktivitas konservasi. Hasil hutan nonkayu dan jasa lingkungan lainnya harus divaluasi secara ekonomi sehingga siapa pun yang memanfaatkannya harus membayar sebagai biaya kompensasi atas keberadaan hutan.

Habitat orangutan pada dasarnya memiliki manfaat jasa lingkungan yang secara tidak langsung bernilai guna untuk mendukung kebutuhan dan kehidupan manusia. Menjaga habitat orangutan berarti turut serta melindungi hutan yang memiliki beragam manfaat yang dapat dijadikan sebagai sumber dana bagi kegiatan konservasi. Pembayaran untuk jasa lingkungan yang dihasilkan (Payment for Environmental Services/PES) dari hutan harus dikembangkan dan hasilnya dikembalikan untuk kegiatan konservasi. Model PES bukan hanya diberlakukan untuk menilai hutan sebagai sumber air saja, tetapi untuk semua sektor usaha yang keberlanjutan operasional usahanya sangat bergantung dari kelestarian hutan, seperti perlindungan keragaman hayati, penyimpan karbon, dan ekowisata.

Menurut Winrock International (2004) dalam (http://pongoabelii.wordpress.com/dokumen-dasar, 2012) dinyatakan bahwa lima komponen penting yang harus ada dalam sebuah model PES, yaitu 1) penilaian pembayaran dan royalti yang didefinisikan dengan jelas, 2) dana peruntukan dengan prosedur dan proses yang transparan untuk pembayaran, 3) sebuah komite multipihak harus dibentuk secara partisipatif dan membuka konsultasi bagi para pihak, 4) mekanisme dan prioritas ditentukan secara lokal, dan 5) perencanaan yang partisipatif dan memiliki sistem pengawasan kinerja. Untuk mendukung PES di Indonesia, pemahaman menyangkut aturan PES diperlukan bagi pihak pemerintah, legislatif, dan masyarakat. Dengan demikian, sinergisme aturan perundangan dapat dilakukan untuk mengindari tumpang-tindih kebijakan dan membangun regulasi nasional ataupun lokal yang lebih fleksibel.

2. Pembayaran Jasa Hutan Sebagai Penyerap Karbon

Isu perdagangan karbon yang dihasilkan dari hutan muncul sejak ditandatanganinya Protokol Kyoto pada tahun 1997. Pengurangan dampak perubahan iklim telah disepakati bersama negara-negara di dunia untuk ditangani secara serius melalui kerangka mitigasi dan adaptasi emisi gas rumah kaca (Angelsen et al., 2010). Emisi gas rumah kaca sebagai dampak dari perkembangan industri merupakan sumber kerusakan utama dengan terbentuknya karbon di atmosfir yang menyebabkan pemanasan global (Venter, 2009). Upaya untuk mengurangi pemanasan global yang dapat dilakukan saat ini adalah meningkatkan penyerapan karbon dengan mempertahankan atau merehabilitasi kawasan hutan dan menurunkan emisi karbon (Lasco et al., 2004).

Kementerian Kehutanan, selaku pemegang kewenangan dalam pengelolaan hutan, telah mengeluarkan Permenhut Nomor P.20/Menhut-II/2012 sebagai payung hukum yang menjadi pedoman mekanisme semua kegiatan terkait penurunan emisi karbon hutan. Mekanisme ini diharapkan dapat mendukung dan mempermudah pelaksanaan proyek-proyek REDD+. Peraturan tersebut mengatur mengenai pelaksanaan kegiatan pengelolaan karbon hutan di wilayah hutan produksi, hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan rakyat. REDD+ adalah skema mitigasi perubahan iklim yang memberikan kompensasi bagi negara-negara berkembang untuk mempertahankan keberadaan hutan. Negara Indonesia telah berkomitmen untuk menurunkan emisi sebanyak 26% dari tingkat business-as-usual pada tahun 2020. Keberadaan hutan alam yang masih sangat luas tentunya memiliki prospek yang besar untuk mendapatkan tambahan anggaran

dari perdagangan karbon yang hasilnya dapat dikembalikan untuk pelaksanaan konservasi hutan dan satwa liar di dalamnya.

3. Penggalangan Dana dari Perlindungan Keindahan Lansekap

Perlindungan lansekap merupakan bentuk PES yang paling banyak dilakukan saat ini di Indonesia. Beberapa kasus di Indonesia telah menerapkan model pembayaran untuk keindahan lansekap yang dinilai berhasil, seperti di TN Komodo, TN Gunung Halimun-Salak, serta Pengembangan Ekowisata di Pulau Togean dan Pulau Gili. Pemerintah mengeluarkan perizinan untuk layanan lingkungan selama kurun waktu lebih dari 10 tahun untuk kawasan hutan di atas 1.000 ha. Mekanisme untuk pembayaran layanannya berupa bea masuk dan bea pemakai (http://pongoabelii.wordpress. com/dokumen-dasar, 2012).

Ekosistem Hutan Batang Toru juga memiliki keindahan lansekap yang lengkap; mulai dari perwakilan ekosistem hutan hujan dataran rendah dan perbukitan, hutan batuan gamping (limestone), hutan pegunungan rendah sampai hutan pegunungan tinggi. Beragam satwa langka dan endemik, yang hidup didalamnya, seperti orangutan dan harimau Sumatra tentunya menarik sebagai peluang yang dapat dijadikan untuk menggalang dana konservasi. Selanjutnya, tergantung bagaimana Pemerintah dan lembaga terkait lainnya dapat terus menyosialisasikan dan mempromosikan keindahan hutan Batang Toru sehingga menjadi perhatian dunia dan menarik negara dan masyarakat internasional memberikan dananya bagi upaya kelestarian Hutan Batang Toru sebagai warisan dunia.

4. Pengembangan Ekowisata

Prospek pengembangan ekowisata setiap tahun terus meningkat di Indonesia. Fenomena alam yang sangat berkualitas dan menarik masih cukup banyak, seperti keunikan dan kelangkaan atraksi satwa liar (Fandeli, 2002). Pengembangan ekowisata pada kawasan hutan, seperti di hutan konservasi sangat penting sebagai bagian pemanfaatan kawasan hutan secara lestari dan bernilai guna bagi masyarakat sesuai amanah UU No. 41 Tahun 1999 (Departemen Kehutanan, 1999). Kondisi alam yang alami, indah, dan langka, serta keunikan satwa liar sering menjadi tujuan utama wisatawan, yang semuanya dapat dinikmati di Hutan Batang Toru.

Pengembangan ekowisata pada kawasan konservasi tentunya memerlukan pendekatan yang sedikit berbeda dengan pengembangan konsep pada kawasan wisata massal, seperti hutan kota, kebun raya ataupun kebun binatang. Pada hutan konservasi, potensi yang dapat di jual dalam aktivitas wisata adalah jasa lingkungannya, seperti antraksi beragam jenis satwa liar langka. Kuswanda (2008b) memberikan rekomendasi strategi untuk pengembangan ekowisata di dalam dan sekitar hutan konservasi, antara lain sebagai berikut.

a. Pengembangan kegiatan yang melindungi keutuhan hutan sebagai habitat satwa liar.

b. Pemetaan sebaran satwa liar karena merupakan obyek ekowisata yang selalu bergerak.

c. Penetapan spesies satwa unggulan sebagai obyek ekowisata. Penetapan spesies unggulan dapat dijadikan dasar dan fokus dalam dalam rencana pengelolaan

kawasan konservasi secara menyeluruh. Kriteria yang digunakan dalam penetapan spesies unggulan sebagai obyek ekowisata, antara lain endemisitas, status konservasi satwa (dilindungi dan langka), keunikan dan keindahan morfologi dan perilaku; seperti orangutan. d. Peningkatan promosi dan sosialisasi obyek dan destinasi

sebagai bagian dari strategi pemasaran melalui media massa (cetak dan elektronik) dan di tempat-tempat umum atau kegiatan massal, seperti bandara dan lokasi pameran (expo).

e. Pengembangan pola kemitraan dengan melibatkan pihak swasta untuk berinvestasi dalam kegiatan ekowisata. f. Pengembangan aksesibilitas menuju destinasi ekowisata

karena keberadaan kawasan habitat satwa liar sering kali sulit untuk dijangkau, bahkan harus ditempuh dengan berjalan kaki.

g. Pengembangan obyek dan sarana pendukung ekowisata, seperti keindahan bentang alam, gejala dan fenomena alam, sistem pengelolaan hutan, mata air, sungai dan air terjun, sosial dan budaya masyarakat sekitar hutan, serta aktivitas kearifan lokal masyarakat. Sarana pendukung ekowisata yang dapat dikembangkan, antara lain base camp, shelter (tempat peristirahatan), pondok wisata, rumah jaga, dan penginapan di rumah penduduk.

h. Pengoptimalan pemanfaatan obyek dan hasil ekowisata bagi kesejahteraan masyarakat dengan membuka kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi pelaku ekonomi kegiatan ekowisata sehingga mereka dapat berperan dalam upaya konservasi yang lebih luas.

5. Pemanfaatan Dana Tanggung Jawab Sosial (Corporate

Social Responsibility/CSR) Perusahaan untuk

Konservasi Hutan

Pengertian CSR adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggung jawab terhadap sosial atau lingkungan sekitar di mana perusahaan tersebut berada. Dana CSR dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa, dan pengembangan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Perusahaan di sekitar hutan Batang Toru, seperti perusahaan pertambangan dan air minum harus diwajibkan untuk menyalurkan dana CSR untuk memperbaiki kerusakan lingkungan dan alam yang diakibatkan aktivitas perusahaannya. Kehilangan habitat akibat aktivitas pertambangan harus diperbaiki dan menjadi kewajiban perusahaan, atau dapat pula perusahaan membantu menghijaukan kembali hutan di luar wilayah kerjanya.

Dana CSR perusahan sebaiknya dipergunakan untuk melakukan rehabilitasi dan kegiatan konservasi lainnya yang secara langsung dapat menjaga fungsi kawasan Hutan Batang Toru, menyediakan pendanaan bagi kegiatan penelitian, pengembangan masyarakat di sekitar kawasan, atau membantu pengamanan keragaman hayati yang ada di dalam kawasan hutan, termasuk untuk program konservasi orangutan. Dalam hal ini, pemerintah daerah diharapkan dapat menyusun regulasi untuk menjamin kepastian hukum dan ketertiban sosial, serta mengawasi penggunaan dana CSR sehingga tepat sasaran. Pemerintah dapat berperan pula

untuk memfasilitasi, mendukung, dan memberi penghargaan pada pengusaha yang mau terlibat dalam upaya konservasi hutan.

Dalam dokumen ORANGUTAN BATANG TORU. Wanda Kuswanda (Halaman 176-185)