BAB IV PEMBAHASAN
4.3 Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebaga
4.3.1 Makna Denotasi Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi
4.3.1.4 Penggambaran Tradisi Dalam Kehidupan
Relief yang menggambarkan tradisi dalam kehidupan masyarakat Karo ini terdiri dari dua bagian yaitu sebagai berikut. Pertama, relief yang menggambarkan sebuah upacara adat dalam rangka memberikan penghormatan terakhir kepada anggota masyarakat yang meninggal dunia. Proses upacara akan dilangsungkan dan dihadiri oleh semua keluarga terdekat dan masyarakat guna menghormati dan menunjukkan tanggungjawab sebagai keluarga yang juga ikut merasakan dukacita. Kegiatan seperti ini bermakna persatuan dan
sikap yang tetap menjunjung nilai-nilai kebersamaan yang diharapkan mampu mengurangi beban keluarga yang berduka.
Kedua, relief yang menggambarkan sikap patriotisme masyarakat dalam membela kelompok atau masyarakat yang mendapat perlawanan dari kelompok atau masyarakat yang lain. Pembelaan tersebut dilakukan guna melindungi wilayah teritorial atau salah satu anggota masyarakat yang mendapat perlakuan tidak baik oleh kelompok lain. Tradisi ini lebih dikenal dengan nama Sar-sar lambe yang juga berarti perang terhadap kelompok lain yang mencoba mengganggu kelompok mereka. Tradisi seperti ini adalah sebuah perwujudan sikap patriotisme masyarakat Karo yang banyak dipengaruhi oleh prestis sebagai masyarakat yang tidak menerima perendahan oleh kelompok masyarakat lain. Namun, hal seperti ini sudah jarang ditemui pada zaman sekarang. Perubahan itu dikarenakan berkembangnya pola pikir masyarakat yang mulai menyebabkan bergesernya nilai-nilai patriotisme masyarakat Karo.
Penggambaran keadaan masyarakat Karo yang seperti ini mengandung muatan makna yang menunjukkan masyarakat Karo adalah kelompok masyarakat yang menjunjung tinggi nilai sebuah kedaulatan yang mutlak dan tidak berada dibawah tekanan ataupun intervensi dari kelompok masyarakat lain, namum pada kenyataannya, masyarakat Karo sendiri juga bukanlah sebuah kelompok masyarakat yang memberikan tekanan kepada kelompok masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat Karo adalah kelompok masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan yang diyakini menjadi dasar kehidupan karena manusia diciptakan untuk saling melengkapi..
Nilai-nilai yang dijunjung oleh masyarakat Karo itu sendiri tidak hanya berlaku bagi kelompok masyarakat lain. Masyarkat Karo juga sangat menghormati alam dan segala sesuatu yang ada di dalamnya karena menurut kepercayaan masyarkat Karo, alam adalah Tuhan itu sendiri yang juga sebagai sahabat dan pendamping hidup manusia. Namun jika
diperlakukan dengan tidak sewajarnya maka alam itu sendiri dapat menjadi musuh yang bahkan mengancam kelangsungan hidup manusia di dunia.
4.3.2 Makna Konotasi
4.3.2.1Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Sebuah Representasi Eksistensi Diri
Pada zaman Yunani kuno, ideologi konstruksi eksistensi makna menurut Uexkull (dalam Cassier, 1987: 38) adalah representasi pembentukan konotasi makna yang diawali dua orang ketika mengadakan perjanjian. Selanjutnya dalam setiap perjanjian memateraikannya dengan memecahkan sesuatu seperti lempengan, cincin, dan benda dari tanah liat menjadi dua bagian yang masing-masing menyimpan satu bagian.
Eksistensi suatu artistik dunia asosiasi barang dan benda yang memiliki makna merupakan sumber ilham tentang benda penghargaan ketika barang dan benda memiliki pemaknaan tentang hal yang dapat dicapai berkat dedikasi manusia di samping berkat usaha bersama. Akan tetapi, barang dan benda itu merupakan pusat kegiatan yang penuh daya tarik, penuh daya cipta, penuh tanggapan, dan penuh denyutan. Barang dan benda tersebut senantiasa melalui pemakaiannya dilihat lebih jauh melalui diri sendiri kepada pemaknaan cakrawala yang luas dan pengalaman-pengalaman yang lebih kaya sehingga barang dan benda tersebut memiliki makna yang vital dan sakral (Dillistone, 2001: 195).
Keberadaan relief-relief pada Pilar Tebing di Berastagi menjadi suatu representasi eksistensi masyarakat Karo. Relief tersebut telah menjadi dasar dan pusat kegiatan adat istiadat masyarakat Karo. Makna teks relief tersbut tidak hanya dilihat sekedar pahatan dan ukiran yang berupa gambar namun lebih cenderung kepada keberadaan masyarakat Karo sebagai masyarakat yang memprouksi teks relief tersebut. Kemudian teks relief tersebut telah berubah menjadi tanda pengenal atau penanda identitas yang memiliki asosiasi konotasi
makna yang lebih luas, dan mungkin akan terus berkembang sesuai pemahaman masyarakat yang juga terus berkembang akan keberadaan relief tersebut.
4.3.2.2Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Sebuah Representasi Interaksi Sosial
Masyarakat Karo mengenal sistem marga yang mengikat setiap hubungan anggota masyarakat. Hubungan antar marga tersebut menjadi dasar penentu posisi dalam adat masyarakat Karo. Keterikatan antar anggota masyarakat tersebut mengatur interaksi sosial di dalamnya.
Poerwadarminta (1989: 335) mengatakan bahwa interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis antara orang perseorangan, antara perseorangan dengan kelompok, dan antara kelompok dengan kelompok. Hubungan yang dinamis antarindividu atau antarkelompok terjadi secara otomatis dalam suatu pelaksanaan upacara adat seperti yang diwariskan oleh nenek moyang masyarakat Karo yang digambarkan melalui relief pada Pilar Tebing di Berastagi. Penggambaran relief tersebut menunjukkan adanya sebuah tujuan mewariskan kebudayaan masyarakat Karo dari generasi ke generasi yang di dalamnya mengandung makna interaksi sosial selain penggambaran relief tersebut yang juga menunjukkan adanya interaksi sosial yang tinggi dalam kehidupan masyarakat.
Kesadaran untuk tetap mempertahankan kebudayaan Karo menjadi salah satu dasar yang penting dalam meregenerasikan konsep-konsep kebudayaan dan hasil-hasil kebudayaan masyarakat Karo tersebut. Selain itu, kepedulian terhadap sesama juga merupakan sebuah unsur tambahan yang sangat penting untuk tetap kuat menjaga hubungan antar anggota kelompok masyarakat.
Tarigan (1987: 7) mengatakan bahwa makna interaksi bertugas untuk menjamin serta memantapkan ketahanan dan kelangsungan komunikasi interaksi sosial. Dalam hal ini, teks
relief pada Pilar Tebing di Berastagi merepresentasikan interaksi antaranggota masyarakat secara fisik dan mental. Makna teks relief dapat menjaga kelangsungan komunikasi interaksi imajinatif.
4.3.2.3Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Sebuah Representasi Estetis
Makna teks relief Pilar Tebing di Berastagi sebagai sebuah representasi estetis merupakan konstruksi kemasan system budaya dan sosial dengan strategi pengelolaan material. Nilai estetis selalu dihubungkan dengan nilai seni. Sebuah benda seni memiliki nilai estetis. Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi memiliki nilai seni yang ditanggapi berbeda oleh setiap masyarakat. Sastrowardoyo (1983: 37) mengatakan bahwa perbedaan dalam penghargaan seni adalah hal yang wajar. Seni tidak menjelaskan diri kepada kita. Seni merupakan penghidangan yang bisu dan tidak berarti diluar diri kita selama kita sendiri belum bersedia dengan sengaja memasukinya dan menjadikan penghidangan itu pengalaman kita sendiri. Dalam diri kita harus ada terlebih dahulu kesediaan dan persediaan diri berupa pengertian seni yang dibentuk oleh kecerdasan pikiran dan kadar pengalaman serta selera yang disepuh oleh kepekaan perasaan dan kebiasaan.
Teks relief sebagai suatu karya seni memiliki makna keindahan yang terus berkembang. Makna estetis pada teks relief didahului oleh meleburnya nilai-nilai etika menjadi nilai-nilai estetika. Relief tersebut kini telah dijadikan sebagai salah satu objek wisata tujuan para pendatang di kabupaten Karo. Hal ini menunjukkan kreasi dari para creator untuk menggunakan nilai estetis pada relief sebagai sarana untuk menarik minat para pendatang. Penggunaan teks relief tersebut sebagai salah satu objek tujuan para pendatang semakin memperkokoh relief tersebut sebagai representasi identitas kebudayaan masyarakat Karo.
Sastrowardoyo (1983: 63) mengatakan bahwa salah satu masalah pokok dalam membentuk dan mengembangkan seni dan budaya adalah kita menginginkan kehidupan seni dan budaya yang dapat diikuti dan dimengerti oleh segenap bangsa Indonesia. Seni dan budaya daerah berakar pada tradisi kehidupan sedaerah yang membawa selera dan emosi kebangsaan yang sukar diikuti dan dimengerti oleh anak daerah lain dengan seni dan budaya yang lain.
Ketertarikan kepada teks relief Pilar Tebing di Berastagi sebagai representasi identitas kebudayaan Karo menjadikan relief tersebut sebagai sebuah benda yang memiliki nilai estetis. Nilai estetis ini kemudian memperkuat eksistensi masyarakat Karo ditengah kelompok masyarakat lain.
4.3.2.4Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Sebuah Representasi Ekspresi Ideologi Kultural
Makna ekspresi ideologi kultural yang dikandung dalam teks relief Pilar Tebing di Berastagi sebagai sebuah representasi ditandai oleh kesepakatan dalam masyarakat dalam menjadikan relief tersebut sebagai dasar untuk setiap nilai-nilai dan pembentukan norma- norma yang ada dalam masyarakat. Ideologi kultural masyarakat Karo tercermin dari teks relief yang menjadi realisasi konsep yang sebelumnya bersifat abstrak. Pada dasarnya, semua kebudayaan mengandung nilai-nilai yang baik jika ditafsirkan dengan benar. Teks relief sebagai representasi identitas merupakan hasil kreasi masyarakat sebelumnya. Ideologi kultural yang diinterpretasikan dari teks relief merupakan akumulasi pengalaman terdahulu yang berkembang menjadi satu sebuah konsep norma dalam masyarakat Karo itu sendiri.
Ideologi kultural yang mendasari relief semakin menyatu dalam teks relief. Kemudian ekspresi ideologi kultural tersebut semakin jauh menembus ruang lingkup kelompok sosial
masyarakat Karo bahkan hingga kelompok sosial etnik lain yang sudah menjelma menjadi identitas.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan
Relief adalah pahatan yang menampilkan bentuk dan gambar dari permukaan rata disekitarnya, gambar timbul, dan perbedaan ketinggian pada bagian permukaan bumi. Relief bisa merupakan ukiran yang berdiri sendiri maupun sebagai bagian dari panel relief yang lain yang membentuk sebuah seri cerita atau ajaran. Relief sebagai hasil karya seni pahat dan ukiran tiga dimensi biasanya dibuat diatas medium batu berupa candi, kuil, pilar atau monumen.
Berdasarkan cerita yang diwakilinya, rangkain relief pada seri cerita Turi-turin Tembe
Doni Nina Nininta Kalak Karo dikelompokkan menjadi empat kelompok besar yaitu: Relief
yang menggambarkan perwujudan Tuhan dalam sistem kepercayaan masyarakat karo, Relief yang menggambarkan kekuatan Panglima Doukah Ni Haji, Relief yang menggambarkan proses penciptaan seorang perempuan yang berasal dari tanah liat, dan Relief yang menggambarkan tradisi yang dikenal masyarakat Karo dalam melaksanakan ritual atau prosesi berkebudayaan.
Fungsi teks relief Pilar Tebing di Berastagi sebagai representasi identitas kebudayaan Karo meliputi:
1) Fungsi Peneguh Interaksi Sosial
Fungsi teks relief secara perlahan berkembang, tidak hanya sebagai representasi norma semata, tetapi juga sebagai alat peneguh integritas sosial. Teks relief yang dijadika sebagai dasar atas konsep kebudayaan merepresentasikan integritas masyarakat Karo.
2) Fungsi Peneguh Status Sosial
Teks relief Pilar Tebing di Berastagi telah menjadi sebuah sarana yang dipakai dalam masyarakat Karo dalam melanjutkan proses berkehidupan yang teratur. Hal seperti ini dapat dengan mudah dijumpai pada setiap proses pelaksanaan kegiatan upacara adat atau ritual kebudayaan. Kepemilikan simbolik status, dalam hal ini, teks relief Pilar Tebing di Berastagi diharapkan mampu merepresentasikan sikap respek terhadap orang lain untuk mendukung identitas yang ingin direpresentasikan sesuai dengan status sosialnya.
3) Fungsi Edukatif
Teks relief sebagai representasi ideologi masyarakat Karo merupakan sarana dan pedoman dalam menuntun masyarakat untuk bertindak dan berperilaku sesuai norma yang telah dibuat dan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat Karo itu sendiri. Interpretasi pada sebuah teks relief juga berfungsi edukatif untuk saling menghargai dan menghormati antara sesama anggota kelompok masyarakat dan juga sebuah sikap penghormatan kepada Tuhan yang telah memberikan kehidupan.
4) Fungsi Pemenuh kebutuhan Ekonomi
Selain sebagai pedoman dan dasar dari norma-norma dan aturan-aturan yang ada dalam kehidupan masyarakat Karo, teks relief Pilar Tebing di Berastagi juga telah menjelma menjadi salah satu sektor usaha dalam rangka membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Lebih dari itu, promosi relief-relief tersebut sebagai representasi identitas masyarakat Karo dan juga sebagai dasar pembentukan norma dan aturan dalam kehidupan masyarakat karo telah menambah minat wisatawan untuk lebih mengenal dan mengetahui lebih dalam mengenai relief-relief tersebut.
Makna Teks relief Pilar Tebing di Berastagi sebagai representasi identitas kebudayaan Karo meliputi:
1) Makna Denotasi Terhadap Relief yang menggambarkan Konsep Tiga Tuhan dalam Sistem Kepercayaan Masyarakat Karo (Dibata Sitelu)
Keberadaan relief yang menggambarkan konsep tiga Tuhan dalam sistem kepercayaan masyarakat Karo adalah suatu representasi eksistensi masyarakat karo yang dari sejak masa awal dimulainya kehidupan sudah mengenal Tuhan dan pengenalan akan Tuhan itu juga dibangun melalui sistem kepercayaan yang sakral.
2) Makna Denotasi Terhadap Relief Yang Menggambarkan Kekuatan Panglima
Doukah Ni Haji.
Keberadaan relief tersebut menunjukkan makna yang melambangkan penggambaran kekuatan Tuhan yang jauh lebih besar dari kekuatan manusia. Makna tersebut juga menggambarkan betapa terbatasnya kekuatan manusia untuk menolak atau menghindar dari keinginan Tuhan itu sendiri karena pada kenyataannya, manusia tidak memiliki kemampuan untuk melawan kekuatan Tuhan.
3) Makna Denotasi Terhadap Relief Yang Menggambarkan Proses Penciptaan Seorang Perempuan Pertama Dari Tanah Liat
Keberadaan relief tersebut memberikan makna tentang arti seorang perempuan dalam melengkapi kehidupan dan juga sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk melanjutkan kehidupan manusia di dunia. Perempuan itu adalah awal dari segala kehidupan dan inti dari semua kehidupan. Perempuan menjadi kunci bertahan atau tidaknya siklus kehidupan di dunia.
4) Makna Denotasi Terhadap Relief Yang Menggambarkan Tradisi Dalam Kehidupan Masyarakat Karo
Tradisi ini lebih dikenal dengan nama Sar-sar lambe yang juga berarti perang terhadap kelompok lain yang mencoba mengganggu kelompok mereka. Tradisi seperti ini adalah sebuah perwujudan sikap patriotisme masyarakat Karo yang banyak dipengaruhi oleh prestis sebagai masyarakat yang sangat menjunjung tinggi nilai kebudayaan.
Makna Konotasi Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Representasi Identitas Kebudayaan Karo meliputi:
1) Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Sebuah Representasi Eksistensi Diri
Keberadaan relief-relief pada Pilar Tebing di Berastagi menjadi suatu representasi eksistensi masyarakat Karo. Relief tersebut telah menjadi dasar dan pusat kegiatan adat istiadat masyarakat Karo. Makna teks relief tersbut tidak hanya dilihat sekedar pahatan dan ukiran yang berupa gambar namun lebih cenderung kepada keberadaan masyarakat Karo sebagai masyarakat yang memprouksi teks relief tersebut.
2) Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Sebuah Representasi Interaksi Sosial
Penggambaran relief tersebut menunjukkan adanya sebuah tujuan mewariskan kebudayaan masyarakat Karo dari generasi ke generasi yang di dalamnya mengandung makna interaksi sosial selain penggambaran relief tersebut yang juga menunjukkan adanya interaksi sosial yang tinggi dalam kehidupan masyarakat.
3) Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Sebuah Representasi Estetis
Teks relief sebagai suatu karya seni memiliki makna keindahan yang terus berkembang. Makna estetis pada teks relief didahului oleh meleburnya nilai- nilai etika menjadi nilai-nilai estetika.
4) Makna Teks Relief Pilar Tebing di Berastagi Sebagai Sebuah Representasi Ekspresi Ideologi Kultural
Teks relief sebagai representasi identitas merupakan hasil kreasi masyarakat sebelumnya. Ideologi kultural yang diinterpretasikan dari teks relief merupakan akumulasi pengalaman terdahulu yang berkembang menjadi satu sebuah konsep norma dalam masyarakat Karo itu sendiri.
5.2 Saran
Relief pada Pilar Tebing di Berastagi merupakan salah satu karya masyarakat Karo yang memiliki nilai seni. Nilai seni tersebut memiliki nilai jual di pasaran. Nilai jual relief tersebut dapat digunakan untuk segala kepentingan. Misalnya, kepentingan di bidang pariwisata, kesejahteraan masyarakat, eksistensi etnik, dan juga sebagai identitas kedaerahan.
Relief dapat digunakan sebagai daya tarik dalam bidang pariwisata. Penggunaan benda etnik mampu menarik minat wisatawan yang dating berkunjung. Promosi budaya daerah secara nasional perlu ditingkatkan untuk lebih memperkokoh eksistensi diri masyarakat dan kebudayaan Karo. Hal ini dapat dilakukan dengan lebih memasyarakatkan relief dan mengemasnya menjadi sesuatu yang menarik dan dapat dimengerti secara umum sehingga diharapkan akan tetap bertahan sebagai suatu hasil kebudayaan yang sekaligus mewakili kebudayaan Karo itu sendiri.
Peningkatan kualitas dan nilai estetis relief juga haru dilakukan untuk membawa relief tersebut pada ruang lingkup yang lebih luas. Dalam hal ini, pemerintah diharapkan dapat turun tangan dalam usaha memproduksi teks-teks relief ini, baik secara moral, maupun secara material untuk berperan dalam kelangsungan pemertahanan hasil-hasil dan niliai –nilai dasar kebudayaan Karo. Usaha tersebut harus dilakukan dengan tujuan menjaga, meningkatkan, dan melindungi hasil-hasil kebudayaan seperti relief pada Pilar Tebing di Berastagi dari kepunahan dan pengakuan kepemilikan oleh kelompok, etnis atau negara lain.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan, dkk. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Anwar, Khaidir. 1990. Fungsi dan Peran Bahasa: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Arikunto, Suharsimi. 1997. Prosedur Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Bangun, Tridah. 1992. Manusia Batak Karo. Jakarta: Inti Indramayu.
Cassier, Ernst. 1987. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei Tentang Manusia. Penerjemah Alois A. Nugroho. Jakarta: PT. Gramedia.
Eddy, Firman. 2003. Kajian Fungsi Dan Sign Arsitektur Karo, Studi Kasus Rumah Raja Di
Kampung Lingga. (Jurnal Penelitian).
Herusatoto. Budiono. 2000. Simbolisme Dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita Graha Widia.
Halliday, M. A. K. dan Ruqaiyah, Hasan. 1992. Bahasa, Konteks, dan Teks. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Koentjaraningrat. 1993. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan. Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.
Lechte, John. 2001.50 Filsuf Kontemporer: dari Strukturalisme Sampai Posmodernitas. Penerjemah A. Gunawan Admiranto. Yogyakarta: Kanisius.
Liliweri, Alo. 2003. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: LKIS. Lubis, A. Hamid Hasan. 1993. Analisis Wacana Pragmatik. Bandung: Angkasa..
Maleong, L. 1998. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Poerwadarminta, W. J. S. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Sastrowardoyo, Subagio. 1983. Bakat alam dan Intelektualisme. Jakarta: PN Balai Pustaka. Santoso, R. 2003. Semiotika Sosial. Surabaya: JP Press.
Siahaan, Sryana. M. 2007. Simbol Ulos Sebagai Representasi Identitas Batak-Toba. (Skripsi). Medan: Fakultas Sastra USU.
Suharto dan Tata Iryanto. 1996. Kamus Bahasa Indonesia Terbaru. Surabaya: Indah.
Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Sulaeman, Munandar. 1998. Ilmu Budaya Dasar: Suatu Pengantar. Bandung: PT Refika Aditama.
Susilo, Hariadi. 2006. “T-shirt Sebagai Representasi Gaya Hidup Remaja Kota Medan: Perspektif Kajian Budaya”. Tesis. Denpasar: Universitas Udayana.
Takari, Muhammad. 2008. Masyarakat Kesenian Di Indonesia. Medan: Studia Kultura Fakultas Sastra USU.
Tarigan, Henry Guntur. 1987. Pengajaran Wacana. Bandung: angkasa.