BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.6. Penggunaan Obat yang Rasional dalam Praktek
WHO memperkirakan bahwa lebih dari separuh seluruh obat di dunia diresepkan, diberikan dan dijual dengan cara yang tidak tepat dan separuh dari pasien menggunakan obat secara tidak tepat. Tujuan penggunaan obat rasional untuk menjamin pasien mendapatkan pengobatan yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dengan harga yang terjangkau.5
Penggunaan obat disebut rasional jika diberikan untuk diagnosis yang tepat. Jika diagnosis tidak ditegakkan dengan benar, maka pemilihan obat akan terpaksa mengacu pada diagnosis yang keliru. Akibatnya obat yang diberikan juga tidak akan sesuai dengan indikasi yang seharusnya. Tepat indikasi penyakit setiap obat memiliki spektrum terapi yang spesifik. Antibiotik, misalnya diindikasikan untuk infeksi bakteri. Dengan demikian,pemberian obat ini hanya dianjurkan untuk pasien yang memberi gejala adanya infeksi bakteri.5,26
Tepat pemilihan obat adalah keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis ditegakkan dengan benar. Dengan demikian, obat yang dipilih harus yang memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit. Tepat dosis, cara dan lama pemberian obat sangat berpengaruh terhadap efek terapi obat.
Pemberian dosis yang berlebihan, khususnya untuk obat yang dengan rentang terapi yang sempit, akan sangat beresiko timbulnya efek samping. Sebaliknya dosis yang terlalu kecil tidak akan menjamin tercapainya kadar terapi.5,26
Tepat cara pemberian contohnya obat antasida seharusnya dikunyah dulu baru ditelan. Demikian pula antibiotik tidak boleh dicampur dengan susu, karena akan membentuk ikatan, sehingga menjadi tidak dapat diabsorpsi dan menurunkan efektivtasnya. Tepat interval waktu pemberian, cara pemberian obat hendaknya dibuat sesederhana mungkin dan praktis, agar mudah ditaati oleh pasien. Semakin sering frekuensi pemberian obat per hari (misalnya 4 kali sehari), semakin rendah tingkat ketaatan minum obat. Obat yang harus diminum 3 x sehari harus diartikan bahwa obat tersebut harus diminum dengan interval setiap 8 jam.5,26
Tepat lama pemberian, lama pemberian obat harus tepat sesuai penyakitnya masing masing. Pemberian obat yang terlalu singkat atau terlalu lama dari yang
seharusnya akan berpengaruh terhadap hasil pengobatan. Waspada terhadap efek samping Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi, karena itu muka merah setelah pemberian atropin bukan alergi, tetapi efek samping sehubungan vasodilatasi pembuluh darah di wajah. Pemberian tetrasiklin tidak boleh dilakukan pada anak kurang dari 12 tahun, karena menimbulkan kelainan pada gigi dan tulang yang sedang tumbuh.5,26
2.7. Penggunaan Obat Tidak Rasonal
Ciri- Ciri Penggunaan obat yang tidak rasional dapat dikategorikan sebagai Berikut:5
a. Peresepan berlebih (overprescribing)
Yaitu jika memberikan obat yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit yang bersangkutan. Contohnya, pemberian obat antibiotik pada ISPA non pneumonia (umumnya disebabkan oleh virus), pemberian obat dengan dosis yang lebih besar daripada yang dianjurkan dan jumlah obat yang diberikan lebih dari yang diperlukan untuk penyakit tersebut merupakan beberapa contoh dari peresepan berlebih. Pemberian obat berlebihan memberi resiko untuk timbulnya efek yang tidak diinginkan seperti: interaksi, efek samping dan intoksikasi.
b. Peresepan kurang (underprescribing),
Yaitu jika pemberian obat kurang dari yang seharusnya diperlukan, baik dalam hal dosis, jumlah maupun lama pemberian. Tidak diresepkannya obat yang diperlukan untuk penyakit yang diderita juga termasuk dalam kategori ini.
c. Peresepan majemuk (multiple prescribing)
Yaitu jika memberikan beberapa obat untuk satu indikasi penyakit yang sama. Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari satu obat untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis obat.
d. Peresepan salah (incorrect prescribing)
Mencakup pemberian obat untuk indikasi yang keliru, untuk kondisi yang sebenarnya merupakan kontraindikasi pemberian obat, memberikan kemungkinan resiko efek samping yang lebih besar, pemberian informasi yang keliru mengenai obat yang diberikan kepada pasien, dan sebagainya.
Dalam kenyataannya masih banyak penggunaan obat yang tidak rasional terjadi dalam praktik sehari-hari dan umumnya tidak disadari oleh para klinisi.
Hampir setiap klinisi mengatakan bahwa pengobatan adalah seni, oleh sebab itu setiap dokter berhak menentukan jenis obat yang sesuai untuk pasiennya. Hal ini bukannya keliru, tetapi jika tidak dilandasi dengan alasan ilmiah akan menjurus ke pemakaian obat yang tidak rasional.Sekarang ini, ada budaya dalam interaksi dokter-pasien yang berperanan menimbulkan penggunaan obat yang tidak rasional. Baik dokter maupun pasien memandang bahwa memberikan resep obat dipandang sebagai (1) bukti bahwa diagnosis telah ditegakkan, (2) cara untuk menutup sesi konsultasi dan (3) sarana untuk memperpanjang interaksi dokter-pasien. Dokter merasa tidak nyaman kalau perpisahan dengan pasien tidak disertai dengan pemberian resep obat, sebaliknya ada kecenderungan pada pasien untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan karena ia menggunakan system pembiayaan prabayar.27
BAB 3
KERANGKA TEORI, KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS
Peningkatan estrogen
3.2. Kerangka Konsep
Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:
o Indikasi o Jenis obat o Dosis obat o Cara pemberian o Lama
Pemberian obat
Rasionalitas Peresepan Antiemetik
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan studi deskriptif yang bersifat retrospekif untuk melihat rasionalitas penggunaan antiemetik pada mual muntah kehamilan di RSUD Dr Pirngadi Medan. Pengambilan data diambil dari data sekunder berupa rekam medis pasien.
4.2. Lokasi dan Waktu
Tempat pengambilan sampel penelitian dilakukan di bagian Rekam Medik RSUD Dr Pirngadi Medan. Waktu pengambilan data mulai dari Juli – Desember 2016.
4.3. Populasi dan Subjek Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah ibu hamil yang dirawat di RSUD Dr Pirngadi Medan tahun 2011-2015.
4.3.2. Subjek Penelitian
Sampel yang diambil pada penelitian ini adalah rekam medik ibu hamil yang datang RSUD Dr Pirngadi Medan yang mengalami mual muntah kehamilan mulai tahun 2011-2015 dengan jumlah sampel adalah dengan menggunakan metode total sampling dan jumlah pasien yang didapatkan dari survey pendahuluan di RSUD Dr Pirngadi Medan tahun 2011-2015 adalah berjumlah 99 pasien dengan diagnosa hiperemesis gravidarum.
4.3.3. Kriteria Inklusi dan Ekslusi
Kriteria Inklusi adalah rekam medik yang lengkap dengan pengobatan antiemetik di RSUD Dr Pirngadi Medan tahun 2011-2015. Kelengkapan data, meliputi:
1. Umur Ibu 2. Umur Kehamilan 3. Pekerjaan 4. Status Gravida
5. Keluhan (mual, muntah)
6. Obat yang digunakan adalah peresepan obat antiemetik 7. Dosis obat yang digunakan
8. Lama pengobatan
Kriteria Eksklusi adalah Rekam medik yang mencantumkan peresepan obat antiemetik yang tidak lengkap.
4.4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder pasien yang didapat dari rekam medik ibu di RSUD Dr Pirngadi Medan yang memenuhi kriteria inklusi. Kriteria penilaian didasarkan pada kelengkapan:
1. Indikasi 2. Jenis obat 3. Dosis
4. Cara pemberian obat 5. Lama pemberian obat
4.5. Teknik Analisa Data
Data yang diperoleh dikelompokkan berdasarkan karakteristik pasien.
Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif meliputi parameter tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, tepat cara dan lama pemberian obat, selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel, diagram, grafik dan dianalisa secara deskriptif untuk menentukan rasionalitas penggunaan obat antiemetik pada ibu hamil yang dilakukan dengan bantuan program komputer SPSS.
4.6. Variabel dan Defenisi Operasional
Rasionalitas peresepan antiemetik dikatakan rasional bila pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya, umtuk periode waktu yang adekuat dengan harga yang paling murah untuk pasien dan masyarakat.
Cara Pengukuran : Observasi Alat Ukur : Rekam medik Hasil ukur : 1. Rasional
2. Tidak Rasional Skala Ukur : Nominal
Indikasi adalah ketepatan penggunaan obat atas diagnosis yang ditegakkan Cara Pengukuran : Observasi
Alat Ukur : Rekam medik Hasil ukur : 1. Tepat indikasi
2. Tidak tepat indikasi Skala Ukur : Nominal
Jenis obat adalah macam- macam obat yang digunakan dalam terapi mual dan muntah
Cara Pengukuran : Observasi Alat Ukur : Rekam medik
Hasil ukur : Jenis Obat yang digunakan Skala Ukur : Nominal
Dosis adalah jumlah atau ukuran yang diharapkan dapat menghasilkan efek terapi pada fungsi tubuh yang mengalami gangguan
Cara Pengukuran : Observasi Alat Ukur : Rekam medik Hasil ukur : Dosis obat Skala Ukur : Nominal
Cara pemberian obat adalah teknik yang digunakan dalam mengkonsumsi obat
Cara Pengukuran : Observasi Alat Ukur : Rekam medik Hasil ukur : 1. Oral
2. Parenteral Skala Ukur : Nominal
Lama pemberian obat adalah waktu yang ditetapkan dalam mengkonsumsi obat
Cara Pengukuran : Observasi Alat Ukur : Rekam medik Hasil ukur : hari sampai minggu Skala Ukur : Interval
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr Pirngadi Medan yang berlokasi di Jalan Prof. H. M. Yamin SH No.47, Medan. Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit negeri tipe B. Rumah sakit ini mampu memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan subspesialis terbatas sehingga dapat dijumpai pasien dengan latar belakang yang cukup bervariasi.
5.1.2. Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif retrospektif dengan meneliti data-data yang diambil dari rekam medis pasien mual muntah kehamilan yang datang berobat ke RS Dr Pirngadi Medan dari Tahun 2011 hingga Tahun 2015. Pada penelitian ini didapati kasus sebanyak 99 pasien, namun yang memenuhi kriteria sebanyak 64 pasien.
5.1.3. Karakteristik Gangguan Mual Muntah pada Ibu Hamil
5.1.3.1. Distribusi Proporsi Pasien Mual Muntah Kehamilan Berdasarkan Sosiodemografi (Umur, Usia Kehamilan, Status Gravida, Tingkat
Pendidikan dan Pekerjaan)
Tabel 5.1. Distribusi frekuensi berdasarkan umur
Usia Ibu Hamil (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)
20-25 15 23,4
26-30 25 39,1
31-35 17 26,6
>35 7 10,9
Total 64 100
Sebagian besar ibu hamil berada pada kelompok usia 26-30 tahun berjumlah 25 orang (39,1%) dan sebagian kecil berada kelompok usia >35 tahun berjumlah 7 orang (10,9%).
Tabel 5.2. Distribusi frekuensi berdasarkan usia kehamilan Usia Kehamilan
(minggu) Jumlah (orang) Persentase (%)
≤16 56 87,5
>16 8 12,5
Total 64 100
Sebagian besar ibu hamil dengan keluhan mual muntah berada pada kelompok usia kehamilan ≤16 minggu berjumlah 56 orang (87,5%) dan sebagian
kecil berada pada kelompok usia kehamilan >16 minggu berjumlah 8 orang (12,5%).
Tabel 5.3. Distribusi frekuensi berdasarkan status gravida
Status Gravida Jumlah (orang) Persentase (%)
Primigravida 22 34,4
Multigravida 41 64,0
Grandemultigravida 1 1,6
Total 64 100
Terdapat kelompok ibu hamil dengan kehamilan pertama sekali atau primigravida berjumlah 22 orang (34,4%), dan kelompok ibu hamil dengan jumlah kehamilan 2-5 kali atau multigravida berjumlah 41 orang (64,0%), sedangkan kelompok ibu hamil dengan jumlah kehamilan >5 kali atau grandemultigravida berjumlah 1 orang (1,6%).
Tabel 5.4. Distribusi frekuensi berdasarkan tingkat pendidikan Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
SD 1 1,55
SMP 1 1,55
SMA 46 71,9
Perguruan Tinggi 16 25
Total 64 100
Pasien yang memiliki tingkat pendidikan SLTA dan sederajat merupakan kelompok terbanyak yaitu berjumlah 46 orang (71,9%), sedangkan pasien yang
tingkat pendidikan SD dan SMP merupakan kelompok terkecil berjumlah masing masing 1 orang (1,55%).
Tabel 5.5. Distribusi frekuensi berdasarkan pekerjaan
Pekerjaan Jumlah (orang) Persentase (%)
Ibu Rumah Tangga 36 56,25
Pegawai Swasta 6 9,37
Pegawai Negri 16 25
Wiraswasta 6 9,37
Total 64 100
Mual muntah pada kehamilan banyak diderita oleh kelompok ibu rumah tangga yaitu berjumlah 40 orang (56,25%) dan yang paling sedikit diderita oleh kelompok pegawai swasta dan wiraswasta yaitu masing-masing berjumlah 6 orang (9,37%).
5.1.3.2. Karakeristik Gangguan Mual Muntah pada Ibu Hamil Berdasarkan Penyakit Penyerta, dan Gambaran Penggunaan Terapi lain selain
Antiemetik
Tabel 5.6. Karakteristik gangguan mual muntah berdasarkan penyakit penyerta
Penyakit Penyerta Jumlah (orang) Persentase (%) Tanpa Penyakit
Penyerta 54 84,3
Gastritis 7 11
Hipertiroid 1 1,56
DM 1 1,56
Asma Bronchial 1 1,56
Total 64 100
Dapat dilihat bahwa paling banyak ibu hamil yang menderita mual muntah tidak menderita penyakit penyerta lain berjumlah 55 orang (86%), penderita penyakit gastritis didapati berjumlah 7 orang (11%), dan yang paling sedikit adalah penyakit DM, Hipertiroid, dan Asma bronchial masing-masing berjumlah 1 orang (1,56%).
Tabel 5.7. Gambaran penggunaan terapi lain selain antiemetik
Kelas Terapi Nama Obat Frekuensi Jumlah Obat tiap Kelas Terapi
Antipiretik Paracetamol 1 1
Antibiotik Ampicilin 1
2
Amoxicilin 1
Mukolitik Ambroxol 1
2
5.1.4. Rasionalitas Penggunaan Antiemetik 5.1.4.1 Tepat Indikasi
Tepat indikasi adalah ketepatan penggunaan antiemetik atas diagnosis yang ditegakkan. Dari hasil penelusuran data rekam medik terdapat jumlah pemberian antiemetik tepat indikasi sebesar (71,9%). Ketidaktepatan indikasi obat antiemetik terhadap pasien dapat terjadi apabila antiemetik yang diberikan tidak sesuai dengan diagnsosis yang dialami pasien, dijumpai (28,1%) pemberian antiemetik yang tidak tepat indikasi.
5.1.4.2 Tepat Obat
Jenis obat adalah macam- macam obat yang digunakan dalam terapi mual dan muntah. Pilihan pengobatan yang paling tepat tergantung pada penyebabnya, dan keputusan untuk penggunaan obat dilakukan setelah adanya diagnosis yang tepat. Dari analisis data yang diperoleh dijumpai penggunaan mediamer B6 saja berjumlah 20 orang (31,25%), mediamer B6 bersama dengan metoklopramide berjumlah 2 orang (3,125%), metoklopramide dan ondansentron berjumlah 4 orang (6,25%), penggunaan ondansentron tunggal berjumlah 31 orang (48,43%), serta penggunaan metoklopramide tunggal sebanyak 7 orang (10,9%). Dan ketepatan obat pada terapi mual muntah kehamilan mencapai persentase 100%.
5.1.4.3. Tepat Dosis
Dosis adalah jumlah atau ukuran yang diharapkan dapat menghasilkan efek terapi pada fungsi tubuh yang mengalami gangguan. Tepat dosis merupakan pemilihan dosis dan frekuensi pemberian obat. Dari hasil penelitian didapati ketepatan dosis sebanyak 48 kasus dengan persentase 75% dan ketidaktepatan dosis sebanyak 16 kasus dengan persentase 25%.
5.1.4.4. Tepat Lama Pemberian Obat
Lama pemberian obat adalah waktu yang ditetapkan dalam mengkonsumsi obat. Proporsi terbanyak adalah pengobatan yang rentang lama pengobatan ≤ 4 hari dengan proporsi 100%. Dari data deskriptif tersebut menunjukkan bahwa lama pemberian obat kepada pasien telah tepat yaitu sebesar 100%
5.1.4.5. Tepat Cara Pemberian Obat
Cara pemberian merupakan aturan pemakaian obat yang harus diperhatikan. Setiap obat memiliki aturan pakai yang berbeda beda. Aturan pemakaian ini meliputi waktu penggunaan obat (sebelum atau sesudah makan), frekuensi pemberian dan rute pemberian. Dari hasil penelitian dijumpai pemberian terbanyak secara oral yaitu sebanyak 45%, pemberian secara intravena sebanyak 36%, dan pemberian secara oral dan intravena sebanyak 19%. Dari data deskriptif tersebut menunjukkan bahwa cara pemberian obat kepada pasien telah tepat yaitu sebesar 100%. Namun, aturan penggunaan obat (sebelum/sesudah makan) tidak tertera pada rekam medik sehingga tidak dapat dicantumkan dan dianalisis dalam ketepatan cara pemberian obat.
5.2. Pembahasan
Sebagai hasil penelitian, dari 64 sampel yang diteliti, mayoritas pasien mual muntah kehamilan berada pada kelompok usia 26-30 tahun yaitu berjumlah 25 orang (39,1%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ruri Puriati dan Nurul Misbah tahun 2011 di RSUD Dr. Adjidarmo Rangkasbitung yang menemukan bahwa ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum pada kelompok umur 20-35 tahun sebesar 93,7%.28 Hal ini terjadi karena walaupun pada umur 20-35 tahun adalah umur yang sesuai dan bisa menerima kehamilan karena kematangan fisik serta organ-organ lainnya, tetap saja dapat dipengaruhi oleh faktor psikologis. Hubungan faktor psikologis dengan kejadian hiperemesis gravidarum belum begitu jelas tetapi besar kemungkinan bahwa wanita yang menolak hamil, takut kehilangan pekerjaan, keretakan hubungan dengan suami dan sebagainya, diduga dapat menjadi faktor kejadian hiperemesis gravidarum.29
Dari segi usia kehamilan, mayoritas kasus terjadi pada kelompok usia kehamilan ≤16 minggu dengan jumlah 56 orang (87,5%). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian ini sesuai dengn penelitian yang dilakukan oleh Silviana Sari tahun 2013 di RSUD Raden Mattaher Jambi yang menemukan bahwa prevalensi ibu dengan umur kehamilan ≤16 minggu yang mengalami kasus yaitu 85,4%.30 Mual dan muntah pada kehamilan lebih sering terjadi pada usia kehamilan ≤16 minggu ini disebabkan karena peningkatan kadar sekresi hCG dan estrogen yang dihasilkan oleh sel trofoblas blastosit pada 12-16 minggu pertama kehamilan, hCG melewati kontrol ovarium di hipofisis dan menyebabkan korpus luteum terus memproduksi estrogen dan progesteron sehingga merangsang mual dan muntah.31
Dilihat dari segi jumlah kehamilan atau gravida, paling sering mual muntah dialami pada multigravida dengan jumlah orang 41 orang (64,0%). Hal ini tidak sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa hiperemesis lebih sering terjadi pada ibu hamil primigravida bila dibandingkan multigravida yang
disebabkan karena pada primigravida memiliki kadar hormon estrogen yang lebih tinggi dibandingkan dengan multigravida. Ibu yang pertama kali hamil (primigravida) belum dapat beradaptasi dengan peningkatan human Chorionic Gonadotropin (hCG) dan estrogen yang diduga menjadi penyebab hiperemesis gravidarum.33 Elabd MM menjelaskan bahwa estrogen dapat menyebabkan peningkatan sensitivitas olfactorius (penciuman) terhadap aroma atau bau yang tidak enak yang dapat merangsang mual muntah.34 Dijelaskan pula bahwa kehamilan pertama adalah pengalaman baru bagi ibu hamil dimana ibu belum siap secara mental menghadapi kehamilannnya, cemas dan takut dalam menghadapi kehamilan dan persalinan, dan tanggung jawab sebagai ibu sehingga kondisi demikian dapat menstimulasi stress yang mempengaruhi psikologis ibu.31 Hasil yang tidak sesuai dengan literatur juga dijumpai pada penelitian Ardianti N tahun 2012 di RS Bhakti Yuda Depok yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara hiperemesis terhadap faktor resiko gravida ibu dikarenakan jumlah ibu hamil multigravida yang berkunjung lebih banyak dibandingkan ibu hamil primigravida.35
Bila ditinjau dari segi pendidikan, sebagian besar pasien berada kelompok pendidikan yang dikategorikan sebagai pendidikan yang tinggi ≥ SMA berjumlah 62 orang (97%). Secara teoritis, pendidikan sangat mempengaruhi bagaimana seseorang untuk bertindak dan mencari penyebab serta solusi dalam hidupnya.
Orang yang berpendidikan tinggi biasanya akan bertindak lebih rasional. Oleh karena itu orang yang berpendidikan akan lebih mudah menerima gagasan baru.
Demikian halnya dengan ibu yang berpendidikan tinggi akan memeriksakan kehamilannya secara teratur demi menjaga keadaan kesehatan dirinya dan anak dalam kandungannya.36 Oleh sebab itu, ibu yang memiliki pendidikan dan pengetahuan yang rendah akan lebih mudah terkena hyperemesis gravidarum daripada ibu yang memiliki pendidikan dan pengetahuan yang tinggi, di karenakan kurangnya pengetahuan dan sumber informasi tentang hyperemesis gravidarum.
Berdasarkan pekerjaan, paling sering didapatkan pasien dengan profesi sebagai ibu rumah tangga berjumlah 36 tahun (56,25%). Hasil penelitian sejalan dengan penelitian Tri Anasari tahun 2012 di RSU Ananda Purwokerto yang menemukan 88,8% dari ibu yang mengalami mual muntah tidak memiliki pekerjaan. Pekerjaan memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian hiperemesis gravidarum. Hasil penelitian Armilah tahun 2010 di RS Islam Kustati Surakarta mengungkapkan bahwa ibu yang bekerja lebih besar risikonya terhadap kejadian hiperemesis gravidarum dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.37 Hal ini sesuai dengan pendapat Winkjosastro yang mengungkapkan bahwa faktor psikologi memegang peranan penting dalam penyakit ini, misalnya, kehilangan pekerjaan, beban pekerjaan yang berat, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai pelarian kesukaran hidup. Hal ini tidak jarang dapat diatasi dengan cara memberikan suasana baru, sehingga dapat mengurangi frekuensi muntah.
Berdasarkan penyakit penyerta dijumpai sebagian besar pasien yang datang berkunjung tanpa disertai dengan penyakit penyerta sebanyak 54 orang (84,3%). Penyakit penyerta terbanyak yang dijumpai mual muntah kehamilan di RSUD Dr Pirngadi adalah Gastritis sebanyak 7 kasus (11%). Hasil ini didukung oleh penelitian Syahril Syamsuddin tahun 2014 di Puskesmas Poasia Kota Kendari yang menemukan bahwa gastritis berhubungan dengan kejadian hiperemesis gravidarum.38
Berdasarkan terapi pendukung dijumpai sebagian besar pasien diberikan cairan infus sebanyak 56 orang (87,5%) dengan total pemberian 64 kali. Muntah yang terus-menerus disertai dengan kurang minum yang berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi. Jika terus berlanjut, pasien dapat mengalami syok.
Dehidrasi yang berkepanjangan juga menghambat tumbuh kembang janin. Oleh karena itu, pada pemeriksaan fisik harus dicari apakah terdapat abnormalitas tanda-tanda vital, seperti peningkatan frekuensi nadi (>100 kali per menit), penurunan tekanan darah, kondisi subfebris, dan penurunan kesadaran.
Selanjutnya dalam pemeriksaan fisis lengkap dapat dicari tanda-tanda dehidrasi,
kulit tampak pucat dan sianosis, serta penurunan berat badan selanjutnya, pemberian terapi pengganti intravena harus segera dilakukan jika sudah ditemukan tanda tanda dehidrasi pada mual muntah kehamilan.39
Dijumpai (28,1%) pemberian antiemetik yang tidak tepat indikasi.
Keluhan muntah yang berat dan persisten tidak selalu menandakan hiperemesis gravidarum. Penyebab-penyebab lain seperti penyakit gastrointestinal, pielonefritis dan penyakit metabolik perlu diekslusi. Beberapa parameter diambil untuk membantu menyingkirkan penyebab lain mual muntah kehamilan antara lain: 1) Onset mual muntah, hampir seluruh kasus onset mual muntah dimulai pada usia kehamilan dibawah 9 minggu dan berakhir pada trimester pertama kehamilan 2) Gejala penyerta, ditemukannya gejala penyerta yang bukan khas hyperemesis gravidarum antara lain; nyeri perut, demam, sakit kepala 3) memiliki penyakit kronis.31,32,39 Terdapat 12 pasien yang didianosa hiperemesis gravidarum dengan onset mual muntah pada trimester II usia kehamilan, hal ini dianggap tidak tepat indikasi berdasarkan teori yang menyebutkan bahwa mual dan muntah yang berhubungan dengan kehamilan biasanya dimulai pada minggu ke 4 sampai minggu ke 16 kehamilan, mencapai puncaknya pada minggu ke 11-13 dan berakhir pada minggu ke-14-16. Mual dan muntah ini disebabkan karena meningkatnya kadar hormon human Chorionic Gonadotropin (hCG) yang dihasilkan oleh sel-sel trofoblas blastosit khususnya pada 12-16 minggu pertama kehamilan. hCG melewati kontrol ovarium di hipofisis dan menyebabkan korpus luteum terus memproduksi estrogen dan progesteron sehingga merangsang mual dan muntah dan berangsur-angsur akan menurun seiring dengan bertambahnya usia kehamilan karena ibu sudah dapat beradaptasi dengan kenaikan hormon akibat kehamilan.31 Terdapat 6 pasien yang memiliki gejala penyerta yang bukan khas hiperemesis antara lain nyeri ulu hati dan nyeri perut juga dianggap tidak tepat indikasi. Hal ini sejalan dengan penelitian Kenneth L koch tahun 2002 yang menyebutkan bahwa wanita hamil dengan gejala nyeri abdomen dan mual muntah harus dipertimbangkan kelainan gastrointestinal seperti gastroesofageal reflux, peptic ulcer dan kolesistitis.40
Dosis adalah jumlah atau ukuran yang diharapkan dapat menghasilkan efek terapi pada fungsi tubuh yang mengalami gangguan. Ketepatan dosis tersebut dianalisis menurut frekuensi penggunaan serta dosis obat yang digunakan.
Dosis adalah jumlah atau ukuran yang diharapkan dapat menghasilkan efek terapi pada fungsi tubuh yang mengalami gangguan. Ketepatan dosis tersebut dianalisis menurut frekuensi penggunaan serta dosis obat yang digunakan.