• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

BAB 2 TINJAUANPUSTAKA,

2.3 Konsep asuhan keperawatan

2.3.1 Pengkajian

2) Tahap keluarga yang tidak terpenuhi menggambarkan tugas perkembangan yang tidak terpenuhi oleh keluarga ketika kendala menjelaskan mengapa tugas perkembangan keluarga tidak terpenuhi.

3) Riwayat keluarga inti, yaitu riwayat penyakit genetik, riwayat kesehatan setiap anggota keluarga, perhatian terhadap pencegahan penyakit, sumber pelayanan kesehatan yang dimiliki oleh keluarga, dan narasi pengalama pelayanan riwayat kesehatan keluarga inti termasuk kesehatan.

4) Riwayat keluarga masa lalu menjelaskan riwayat kesehatan suami dan istri (Slamet, 2004).

(3) Lingkungan

Ini mencakup karakteristik keluarga, karakteristik lingkungan dan komunitas RW, asosiasi keluarga dan interaksi dengan masyarakat, dan sistem dukungan keluarga.

1) Karakteristik Rumah

Ukuran rumah (area rumah), kondisi indoor dan outdoor, kebersihan rumah, ventilasi rumah, saluran pembuangan, air bersih, pengelolaan sampah, kepemilikan rumah, kamar mandi/WC, denah rumah.

2) Karakteristik Lingkungan

Lingkungan adalah semua objek yang baik yang terdiri atas benda hidup, tidak hidup yang ada disekitar kita dimana pada orang berada.

Dalam hal ini lingkungan menjadi peran aktif dalam kepatuhan pasien untuk menjalani diet, jika lingkungan mendukung, maka penderita asam urat akan lebih patuh pada dietnya. Salah satu bentuk

lingkungan yaitu lingkungan biofisis serta lingkungan psikososial (Slamet, 2004).

(4) Status Sosial Ekonomi 1) Pendidikan

Pada pendidikan tentang kesehatan adalah proses perubahan perilaku individu secara dinamis, peran keluarga sangat penting untuk pemberian pendidikan kesehatan asam urat terhadap pengetahuan dan sikap penderita Asam Urat.

2) Pekerjaan dan Penghasilan

Menurut Kartono (2008) sosial ekonomi merupakan kedudukan pada seseorang maupun keluarga di masyarakat berdasarkan pendapatannya per bulan. Status ekonomi dapat dilihat dari pendapatan yang di sesuaikan dengan harga barang pokok.

3) Status Perkembangan dan riwayat keluarga

Kerangka pengembangan keluarga oleh Evelyn Duvall 2005 memberikan panduan untuk mempelajari dan menganalisis perubahan dan perkembangan tugas-tugas mendasar yang ada dalam keluarga selama siklus hidup. Tingkat perkembangan keluarga ditunjukkan dengan usia anak sulung.

(5) Struktur keluarga 1) Pola Komunikasi

Pola komunikasi merupakan suatu sistem penyampaian pesan melalui lambing tertentu yang mengandung arti, dan pengoperan perangsang untuk mengubah tingkah laku individu yang lain. Komunikasi dalam suatu

keluarga mencerminkan peran dan hubungan antara anggota keluarga.

(Friedman,2010).

2) Struktur Kekuasaan

Kekuasaan keluarga sebagai karakteristik sistem keluarga adalah kemampuan atau potensial, aktual dari individu anggota keluarga yang lain.

3) Struktur Peran

Peran adalah perilaku yang terkait dengan seseorang dalam posisi tertentu.

Status mengidentifikasi posisi atau tempat individu dalam suatu sistem sosial.

4) Nilai ataupun norma keluarga merupakan penjelasan mengenai nilai-nilai norma yang dianut oleh keluarga yang berhubungan dengan kesehatan.

(6) Fungsi Keluarga 1) Fungsi afektif

Pada fungsi afektif ini, yang dikaji antara lain gambaran diri pada anggota keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lain, bagaimana kehangatan tercipta pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap saling menghargai.

2) Fungsi Sosialisasi

Bagaimana sosialisasi atau hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar disiplin, norma, budaya dan perilaku.

3) Fungsi kesehatan

Jaga kesehatan keluarga anda dan tetap produktif. Peran ini berkembang menjadi peran keluarga dalam perawatan kesehatan. Di sisi lain, tanggung jawab keluarga dalam perawatan kesehatan (Friedman, 1998) adalah :

1) Mengenali gangguan perkembangan setiap anggota keluarga.

2) Membuat keputusan tentang perilaku kesehatan yang tepat.

3) Merawat anggota keluarga yang sakit.

4) Memelihara suasana keluarga yang kondusif bagi kesehatan keluarga dan pertumbuhan pribadi.

5) Menjaga hubungan antara keluarga dan penyediaan layanan kesehatan.

(7) Stressor dan koping keluarga

a. Stressor jangka pendek dan jangka panjang.

1) Stressor jangka pendek adalah stressor yang dihadapi keluarga yang membutuhkan penutupan kurang dari 5 bulan.

2) Stressor jangka panjang adalah stressor yang dihadapi keluarga yang harus diselesaikan dalam waktu 6 bulan atau lebih.

b. Kemampuan keluarga untuk merespon situasi/stres .

c. Strategi koping unutk keluarga bermasalah yaitu strategi adaptasi fungsional ketika masalah muncul.

d. Strategi adaptasi fungsional yang digunakan bila menghadapi permasalahan.

(8) Spiritual

Apakah taat beribadah dan mempunyai kepercayaan yang berlawanan dengan kesehatan serta memiliki distress spiritual.

(9) Riwayat kesehatan keluarga

1) Dari ayah ibu dan anak apakah pernah memiliki riwayat kesehatan atau penyakit yang pernah diderita.

2) Apakah sudah pernah program keluarga berencana.

3) Apakah sudah melakukan imunisasi.

4) Tumbuh kembang anak dari anak pertama dan kedua.

5) Pengetahuan orangtua terhadap tumbuh kembang anak-anaknya.

(10) Pola aktivitas keluarga sehari-hari.

Pada penderita Asam Urat ia tidak merasakan gejala apapun saat tidur, tetapi saat bangun tidur akan merasakan nyeri yang hebat akibat asam urat. Karena itu lebih baik istirahat, ketika orang sakit membutuhkan lebih banyak istirahat dan tidur dari biasanya. Kegelisahan dapat menyebabkan iritabilitas, depresi, kelelahan, dan control emosi (Kozier, 2004).

(11) Faktor resiko masalah kesehatan

1) Apakah sering atau jarang melakukan pemeriksan kesehatan.

2) Apakah pada keluarga sosial ekonomi berkecukupan atau kekurangan.

3) Rumah dan lingkungan yang ditempti apakah sehat bersih atau kotor.

4) Apakah hubungan keluarga harmonis atau tidak.

5) Mengkonsumsi alkohol atau zat aditif lainnya atau tidak.

6) Apakah pernah mengalami obesitas.

7) Bagaimana status gizi pada klien.

8) Pernah merokok atau tidak.

9) Apakah kesehariannya sering minum kopi atau tidak.

10) Mengkonsumsi garam berlebih atau tidak.

11) Apakah mengkonsumsi gula berlebih atau tidak.

(12) Pemeriksaan Fisik Anggota Keluarga.

Pemeriksaan Fisik Keluarga, menjelaskan tentang pemeriksaa fisik oleh seluruh anggota keluarga meliputi (ayah, ibu, anak 1 anak 2, dan anggota keluarga yang lain), pemeriksaan fisi keluarga bersifat head to toe:

1) Keadaan Umum, biasanya klien dengan asam urat cenderung lemah 2) Kesadaran, composmentis

3) TTV : TD120/80 mmHg N 60-100 x/menit

Pernafasan 12-20 x/menit S 36,5-37,5 °C

4) Kepala

Rambut : persebaran rambut merata, tidak ada kebotakan, warna rambut hitam

Mata : pupil isokor, tidak memakai alat bantu, tidak anemis

Hidung : simetris, tidak keluar cairan, tidak terdapat benjolan, tidak adanya nyeri tekan

Mulut : tidak sumbing, bibir simetris, tidak ditemukan kesusahan menelan, gigi tidak caries, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.

5) Dada/Thorax

Inspeksi : dada simetris, tidak ada reraksi otot bantu nafas, tidak terjadi sesak nafas, pola nafas teratur tidak menggunkan alat bantu pernafasan.

Palpasi : tidak adanya nyeri tekan, vocal fremitus sama.

Perkusi : sonor.

Auskultasi : suara pernafasan reguler, tidak ada suara nafas tambahan seperti wheezing dan ronchi.

6) Perut/Abdomen

Inspeksi : tidak distensi abdomen.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak kembung.

Perkusi : normalnya timpani.

Auskultasi : normal bising usus 5-35 x/menit.

7) Genetalia/Anus.

Inspeksi : tidak ada keluar cairan, tidak ada benjolan.

Palpasi : tidak ada nyeri tekan.

8) Ekstermitas

Inspeksi : biasanya terdapat edema di daerah pergelangan kaki, lutut, pergelangan tangan pada penderita asam urat.

Palpasi : akral hangat, pada penderita asam urat biasanya mengeluh nyeri pada daerah yang terkena asam urat.

(13) Tingkat kemandirian keluarga

Pada tahap ini apakah keluarga masuk pada tahap KM I, KM II, KMIII, atau KM IV.

(14) Harapan keluarga Apa harapan yang diinginkan oleh keluarga pada pola kesehatan .

2.3.2 Diagnosa Keperawatan Keluarga Dengan Penderita Asam Urat yaitu:

2.3.2.1 Ketidakmampuan Koping Keluarga ( D.0093 )

2.3.2.2 Penurunan Koping Keluarga ( D. 0097 )

2.3.2.3 Perilaku Kesehatan Cenderung Beresiko ( D. 0099 ) 2.3.2.4 Defisit Pengetahuan.( D. 0111 )

2.3.2.5 Manajemen Kesehatan Keluarga Tidak Efektif ( D.0115 ) 2.3.2.6 Manajemen Kesehatan Tidak Efektif ( D.0116 )

2.3.3 Intervensi Keperawatan Tabel Intervensi Keperawatan.

DIAGNOSA TUJUAN SERTA

KRITERIA HASIL

INTERVENSI

Ketidakmam puan koping keluarga ( D.0039 )

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan status koping pada keluarga membaik dengan kriteria hasil :

1.perasaan diabaikan menurun.

2.kekhawatiran tentang anggota keluarga menurun.

3.kemampuan

memenuhi kebutuhan anggota keluarga meningkat.

4.komitmen pada perawatan/pengobatan meningkat.

observasi :

1.mengidentifikasi respon emosi pada keadaan pasien saat ini.

2.mengidentifikasi beban prognosis pada pasien secara psikologis.

3.meng identifikasi kepada pasien pemahaman tentang keputusan perawatan seusai pulang.

4.Identifikasi kesesuaian dengan harapan klien, tenaga medis, serta keluarga pasien.

Teraupetik :

1. mendengarkan masalah serta perasaan dan pertanyaan pada keluarga pasien.

2. menerima nilai-nilai keluarga pasien dengan cara tidak boleh menghakimi.

3.mendiskusikan perencanaan medis serta perawatan .

5.komunikasi antara anggota keluarga meningkat.

6.kepuasan terhadap perilaku meningkat.

7. bantuan anggota keluarga lin meningkat.

8. keterpaparan informasi membaik 9.perasaan tertekan menurun.

10.perilaku menyerang menurun.

11.perilaku menghasut menurun.

12.gejala pikosomatis menurun.

13.perilaku menolak perawatan menurun.

14.uterus teraba membulat menurun.

15.perilaku

bermusuhan menurun.

16.perilaku individualisme menurun.

17.ketergantungan pada anggota keluarga lain menurun.

18.perilaku

overprotektif menurun.

19.toleransi membaik.

4.fasilitasi pengungkapan perasaan antara pasien dan keluarga atau antar anggota keluarga.

Edukasi :

1.informasikan kemajuan pasien secara berkala.

2.informasikan fasilitas perawatan kesehatan yang tersedia

Kolaborasi :

1.rujuk untuk terapi keluarga, jika perlu.

20.perilaku bertujuan membaik.

21.perilaku sehat membaik.

Kesiapan peningkatan pengetahuan ( D.0113 )

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam diharapkan tingkat pengetahuan meningkat dengan kriteria hasil : 1.perilaku sesuai anjuran meningkat.

2.verbalisai minat dalam belajar meningkat.

3.kemampuan menjelaskan

pengetahuan tentang suatu topik meningkat.

4.kemampuan

menggambarkan suatu topik meningkat.

5.kemampuan menggambarkan pengalaman sebelumnya yang sesuai dengan topik meningkat.

Observasi :

1.identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi 2.Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan

menurunkan motivasi perilaku hidup bersih dan sehat.

Teraupetik :

1.sediakan materi dan media pendidikan kesehatan.

2. jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan.

3.berikan kesempatan untuk bertanya.

Edukasi :

1.Jelaskan faktor resiko yang dapat mempengaruhi kesehatan.

2.ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat.

3.Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.

6.perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat.

7.pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun.

8. persepsi yang keliru terhadap masalah menurun.

9.menjalani

pemeriksaan yang tidak tepat menurun.

10. perilaku membaik.

Gangguan pola tidur ( D.0055 )

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan pola tidur pada klien meningkat dengan kriteria hasil : 1.Keluhan sulit tidur menurun.

2.Keluhan sering terjaga menurun.

3.Keluhan tidak puas tidur menurun.

4.Keluhan pola tidur berubah menurun.

5.Keluhan istirahat tidak cukup menurun.

Observasi :

1..Identifikasi pola aktivitas tidur.

2.Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik atau psikologis).

3. identifikasi makanan dan minuman yang mengganggu tidur (mis,kopi,teh,alkohol,makan mendekati waktu tidur, minum bnyak air sebelum tidur.

4.identifikasi obat tidur yang dikonsumsi.

Teraupetik :

1.Modifikasi lingkungan misalnya pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur).

2. batasi waktu tidur siang 3.Fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur

6.Kemampuan

beraktivitas meningkat.

4.Tetapkan jadwal tidur rutin 5,lakukan prosedur untuk

meningktkan kenyamanan (mis,pijat, pengaturan posisi,terapi akupresur).

6. sesuaikan jadwal pemberian obat atau tindakan unutk menunjang siklus tidur-terjaga.

Edukasi :

1.Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit.

2. anjurkan kebiasan menepati waktu tidur.

3.Anjurkan menghindari makanan atau minuman yang bisa megganggu tidur.

4. anjurkan penggunaan obat tidur yang tidak mengandung supresor terhadap tidur REM.

5. Ajarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap gangguan pola tidur(mis, psikologi,gaya hidup, sering berubah shift bekerja).

6.Ajarkan relaksasi otot autogenik atau cara nonfarmakologis lainnya.

Gangguan integritas kulit/jaringan ( D.0129 )

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan integritas kulit dan jaringan pada klien

Observasi :

1..Identifikasi penyebab gangguan integritas kulit (mis,perubahan sirkulasi, perubahan status nutrisi, penurunan kelembapan, suhu lingkungan ekstrem, penurunan mobilitas).

membaik dengan kriteria hasil : 1.Elastisitas kulit/jaringan membaik.

2.hidrasi meningkat.

3.perfusi jaringan membaik.

4.Kerusakan jaringan menurun.

5.Kerusakan lapisan kulit menurun.

6.Nyeri menurun.

7.perdarahan menurun.

8. kemerahan menurun.

9.hematoma menurun.

10.pigmentsi abnormal menurun.

11.jaringan parut menurun.

12. nekrosis menurun.

13.abrasi kornea menurun.

14.Suhu kulit membaik.

15.sensasi membaik.

16.Tekstur kulit membaik.

17. pertumbuhan rambut membaik.

Teraupetik :

1.Ubah posisi 2 jam jika tirah baring 2..lakukan pemijatan pada area penonjolan tulang,jika perlu.

3. bersihkan perineal dengan air hangat,terutama selama priode diare 4. gunakan produk berbahan

petroleum atau minyak pada kulit kering.

5. gunakan produk berbahan ringan/alami dan hipoalergi pada kulit sensitive.

6.Hindari produk berbahan dasar alkohol pada kulit kering.

Edukasi :

1.Anjurkan menggunakan pelembab ( mis,lotion,serum).

2.Anjurkan minum air yang cukup.

3.Anjurkan meingkatkan asupan nutrisi.

4.anjurkan meningkatkan asupan buah dan sayur.

5.anjurkan menghindari terpapar suhu ekstrim.

6.Anjurkan menggunakan tabir surya SPF minimal 30 saat berda diluar rumah.

7.anjurkan mandi dan menggunakan sabun secukupnya.

2.3.4 Implementasi keperawatan

Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan perawat untuk memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi klien dan mencapai kesehatan yang lebih baik, yang menggambarkan kriteria untuk hasil yang diharapkan (Gordon, 1994, dalam Potter & Perry, 2011).

2.3.5 Evaluasi keperawatan

Evaluasi adalah tahap akhir dri proses keperawatan yang merupakan perbandingan yang sistemis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan (Asmadi, 2008).

2.4 Pathway

Faktor Genentik, Lingkungan (diet tinggi purin, alkohol, obesitas), penyakit ginjal Gangguan metabolisme

Kemampuan eksresi asam urat terganggu/menurun

Asam urat dalam serum meningkat (hiperuresemia) Terapi : obat, pengaturan diet, latihan fisik

Tugas keluarga pada kesehatan

Gambar 2.1 Kerangka Masalah (&,)

Gambar Pathway Gout Arthritis.

Keluarga sering mengingatkan untuk minum obat dan pantangan

Dokumen terkait