• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 MISTERI DIBALIK TATAGUA, PALASIK DAN

4.5. Perilaku Pencegahan dan Pengobatan Penyakit

4.5.3. Pengobatan Penyakit Untuk Ibu Hamil dan Bayi

Anggapan kesakitan disebabkan oleh gangguan makhluk halus membuat masyarakat Jorong Sariak lebih memprioritaskan pengobatan dilakukan oleh orang pintar seperti Datu ataupun bidan

kampuang. Menurut masyarakat, orang pintar adalah orang yang

mampu berkomunikasi dengan makhluk halus sehingga dianggap mampu mengatasi kesakitan yang terjadi akibat gangguan makhluk

138

halus tersebut. Kesakitan akibat gangguan makhluk halus yang umumnya terjadi pada Ibu hamil adalah tatagua, lasik, dan penyakit

burung. Kesakitan yang terjadi pada bayi dan balita pun tidak jauh

berbeda, seperti tatagua dan lasik.

Pernyataan Etek D selaku bidan kampuang di Jorong Sariak sebagai berikut :

“penyakit yang bisa kena ke Ibu hamil dan bayi itu sama aja sebenarnya. Ditegur makhluk halus juga atau kena lasik. Dampaknya aja yang tak sama. Kalo tatagua kena ke ibu itu bisa pengaruh ke anaknya bisa sampe keguguran. Lasik pun gitu juga. Kalo tatagua ke bayi bisa sakit damam anaknya itu. Kalo lasik ya mencret-mencret” Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penyebab kasus kematian bayi di Jorong Sariak adalah tatagua. Menurut masyarakat,

tatagua mungkin saja karena saat hamil si Ibu tidak memakai jimat

ataupun karena melanggar pantangan-pantangan. Pengobatan

tatagua yang terjadi pada Ibu ataupun bayi sama saja. Pengobatan tatagua ini pun bermacam-macam, tergantung siapa yang mengobati.

Kami mendapat informasi dari 2 informan yang berbeda, yaitu bidan kampuang dan Datu. Etek D merupakan bidan kampuang yang biasa menolong persalinan di Jorong Sariak, juga memiliki kemampuan untuk mangususak dan mengobati tatagua. Dalam mengobati tatagua, Etek D biasa menggunakan kunyit yang masih segar. Dalam melakukan pengobatan tatagua ini, Etek D juga menggunakan sajadah sebagai alas untuk tempat duduk dan juga sebagai tempat untuk melakukan pemotongan kunyit.

Kunyit yang masih segar tadi akan dibelah dua. Kemudian kunyit yang telah dibelah dua tersebut akan dimantrai. Dalam hal membacakan mantra ini, Etek D tidak bisa memberitahu kepada orang lain karena mantra hanya bisa diberi tahu kepada keturunan yang bisa mengobati saja. Setelah dibacakan mantra, kunyit tersebut dijatuhkan untuk menentukan apakah seseorang ini terkena tatagua atau tidak.

Apabila pelemparan pertama kunyit sudah sama-sama tertutup, maka orang tersebut belum bisa dikatakan terkena tatagua.

139 Apabila pada lambungan kedua ada diantara salah satu kunyit yang terbalik, itu pertanda bahwa memang tatagua penyebab. Untuk menentukan orang tersebut sudah berapa lama terkena tatagua, dapat dilihat dari seberapa jauh jarak kunyit tersebut jatuh. Apabila jarak antara kedua kunyit berdekatan, maka orang tersebut baru saja terkana tatagua.

Jika benar orang tersebut terkena tatagua, maka satu kunyit akan dipergunakan untuk pengobatan dan kunyit yang tidak terpilih akan dibuang. Selanjutnya, kunyit yang terpilih akan dimantrai lagi. Kemudian kunyit tersebut akan dioleskan pada kening, hidung, dada dan pusat.

Menurut Etek D, makna kunyit dioles ke kepala bertujuan agar pikiran orang yang terkena tatagua dapat bersih kembali dari gangguan dan rasukan setan. Makna dioles ke hidung bertujuan agar bau-bau roh halus tidak mudah lagi untuk masuk ke dalam tubuh dan makna dioles ke dada dan pusat bertujuan agar orang yang terkena

tatagua bisa bersih dan suci kembali tubuhnya dari roh-roh halus.

Gambar 4.13 Pengobatan Tatagua

140

Informasi selanjutnya peneliti dapatkan dari seorang Datu yang biasa disebut sebagai Kulipah. Pengobatan tatagua yang dilakukan kulipah sedikit berbeda dengan pengobatan yang dilakukan

Etek D. Kulipah tetap menggunakan kunyit sebagai bahan utama

pengobatan, namun Kulipah juga menggunakan air putih yang dibacakan do’a dan mandi ubek. Mandi ubek adalah dimandikan dengan air yang telah dibacakan do’a dan shalawat Nabi. Biasanya

mandi ubek dilakukan selama 3 hari berturut-turut.

Pernyataan Kulipah K

“Kalau pengobatan tatagua saya menggunakan kunyit kemudian dibelah dua, dilambungkan terlebih dahulu untuk menentukan apakah penyakit karena keteguran atau tidaknya, lalu ditawarkan dengan doa, dioleskan ke kepala, hidung, dan pusat. Kemudian saya juga tetap menggunakan air putih dan mandi ubek. Dalam proses pemandian ini biasanya dilakukan selama 3 hari lamanya”

Selain tatagua, penyebab kesakitan lainnya pada bayi dan balita yang sering terjadi di Jorong Sariak adalah palasik. Dalam mencari pengobatan lasik, masyarakat umumnya lebih mengutamakan pada pengobatan tradisional saja. Untuk pengobatan

palasik inipun biasanya dilakukan oleh Datu ataupun ulama. Bidan

kampuang tidak dapat mengobati lasik.

Berdasarkan informasi yang peneliti dapatkan dari Kulipah, pengobatan lasik ini pun berbeda-beda, tergantung orang pintar yang mengobatinya. Kulipah K sendiri mengobati lasik dengan menggunakan air putih saja. Air putih tersebut dibacakan shalawat, ayat kursi, dan ayat-ayat pendek. Setelah itu, dilanjutkan dengan

mandi ubek (mandi obat) yang bertujuan agar seluruh tubuh yang

terkena lasik dapat suci kembali dan bersih dari segala roh halus yang masuh ke dalam tubuhnya.

Kulipah K sudah mengobati segala macam penyakit sejak 25

tahun yang lalu. Beliau mendapatkan ilmunya dari syeh-syeh terdahulu melalui bersuluk. Seperti pernyataan Kulipah K berikut

141

“Saya mulai mengobati penyakit2 ini sudah lama juga, sekitar 25

tahun, sejarah awal saya dapat ilmu ini awalnya dari saya menuntut ilmu dari syeh-syeh terdahulu dan saya juga bersuluk atau berzikir di dalam mesjid selama 60 hari dan ada juga selama 40 hari. Ini semua tergantung ridho Allah juga. Kalau Allah menghendaki maka ilmu ini akan datang sendirinya kepada kita dan selalu ingat kepada Allah” Pengobatan palasik yang dilakukan oleh Datu P pun sedikit berbeda dengan pengobatan yang dilakukan oleh Kulipah K. Datu P menggunakan 1 botol air aqua. Air aqua tersebut dibacakan ayat-ayat suci Al-Quran dan shalawat. Kemudian diminumkan kepada bayi atau balita yang terkena lasik. Selanjutnya, air diusapkan sedikit ke kepala, tangan, dan kaki bayi sebanyak 3 kali sambil dibacakan shalawat. Setelah itu, Datu juga membisikkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an ke telinga si bayi.

Pengobatan tersebut dilakukan selama 3 kali pagi atau 3 hari berturut-turut. Pengobatan dilakukan setiap subuh sebelum Datu memijak tanah. Hal ini sudah menjadi ketentuan cara pengobatan dari nenek moyang Datu P terdahulu. Jika Datu sudah memijakkan kaki di tanah, maka pengobatan tidak bisa dilakukan. Berikut pernyataan

Datu P :

“Segala penyakit yang saya obati hanya bisa berdo’a saja pada yang maha kuasa, kalau kita yakin insyaallah penyakit ini akan sembuh nantinya. Saya mengobati penyakit palasik terhadap anak maupun bayi ini dengan cara menggunakan media air aqua satu botol saja, setelah itu air aqua ini saya bacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan shalawat, setelah itu baru saya minumkan kepada bayi dan saya usapkan sedikit air ke kepala, tangan, dan kaki bayi sebanyak 3 kali sambil membacakan shalawat dan saya juga membisikkan bacaan ayat suci Al-Qur’an ke telinga si bayi. Pengobatan ini dilakukan dengan cara 3 kali pagi atau 3 hari berturut-turut setiap hari. Pengobatan ini dilakukan setiap subuh sebelum saya memijakkan kaki ke tanah. Kalau seandainya pasien terlambat datang dan saya terlebih dahulu memijak tanah, maka pengobatan tidak akan bisa dilakukan. Ini sudah ketentuan cara pengobatan dari nenek moyang saya.”

142

Selama proses pengobatan pun terdapat pantangan-pantangan yang harus dipatuhi oleh Ibu si bayi. Pantangan-pantangannya adalah sebagai berikut :

1) tidak boleh makan pulut

2) tidak boleh melewati jemuran kain

3) tidak boleh makan nasi bilangan (nasi yang disajikan ketika orang meninggal)

4) tidak boleh makan pisang buai

5) tidak boleh menjenguk orang meninggal.

Apabila pengobatan telah selesai dan si anak telah sembuh dari lasik, selanjutnya akan dilakukan penguncian obat yang biasa disebut mati ubek. Mati ubek berguna untuk mengunci penyakit agar tidak kembali lagi. Sama halnya dengan pengobatan, mati ubek ini pun bermacam-macam caranya.

Berdasarkan informasi yang tim dapatkan dari Ibu M, mati

ubek untuk pengobatan lasik anaknya menggunakan ayam hitam, dua

buah kelapa, beras pulut dan sedikit uang yang nantinya akan diserahkan kepada datu sebagai bentuk tanda terima kasih. Dalam penguncian obat, datu membelah 3 buah limau kapeh (jeruk nipis) atau air asam untuk mandi balimau. Tujuan mandi balimau ini adalah membersihkan seluruh penyakit yang ada pada tubuh dan agar penyakit tidak kembali lagi.

Untuk mandi balimau ini si ibu nantinya harus menyediakan air bersih setengah ember. Kemudian asam limau yang sudah dibacakan do’a oleh datu dimasukkan ke dalam ember dan si bayi di mandikan dengan air yang mengalir. Ketika di mandikan, si Ibu wajib membacakan shalawat. Mandi balimau harus dilakukan dengan air mengalir agar penyakit dapat hilang dari tubuh mengikuti aliran air tersebut.

143

Gambar 4.14

Mandi Balimau Untuk Mati Ubek

Sumber: Dokumentasi Peneliti, Mei 2015

Selain tatagua dan palasik, terdapat 1 penyakit lain yang dianggap sebagai akibat dari gangguan makhluk halus, yaitu penyakit burung. Berdasarkan 2 kasus kematian Ibu yang peneliti jumpai di lapangan, penyebabnya adalah penyakit burung tersebut. Dampak yang timbul dari

penyakit burung ini pun berbeda-beda. Mulai dari kesakitan dalam diri

penderita sendiri sampai melakukan hal-hal yang dapat membahayakan orang lain, termasuk anaknya sendiri. Seperti pernyataan informan U yang pernah mengalami penyakit burung berikut:

“Menurut dukun yang ngobati saya katanya saya kena sakit burung ini karena saat hamil suka keluar malam-malam. Waktu kena sakit itu, pikiran nerawang kemana-mana, pengennya bunuh diri aja, anak saya pun hampir saya cekek. Gak tau apa yang ada di pikiran saya saat itu”

144

Ibu U untuk menyembuhkan penyakit menempuh 2 cara pengobatan, yaitu dengan dukun kampuang dan ulama. Menurutnya, pengobatan penyakit burung yang dilakukan dukun kampuang itu menggunakan kemenyan. Caranya adalah dengan menghirup kemenyan yang dibakar. Pengobatan ini dilakukan 3 kali dalam sehari, yaitu pada siang hari, maghrib, dan tengah malam. Pengobatan dilakukan pada 3 waktu tersebut karena dianggap bahwa ketiga waktu tersebut merupakan waktu yang paling rentan setan ataupun makhluk halus mengganggu manusia. Kemenyan digunakan sebagai media pengobatan karena makhluk halus tidak menyukai bau kemenyan.

Pengobatan kedua yang dilakukan Ibu U adalah dengan ulama. Ulama menggunakan air hujan dan ayat Al-Qur’an sebagai media pengobatannya. Cara pengobatan yang dilakukan ulama tersebut adalah dengan menampun air hujan di dalam sebuah botol. Kemudian potongan ayat Al-Qur’an yang ditulis di sebuah kertas, dimasukkan ke dalam botol berisi air hujan tadi dan diminum oleh Ibu U. Selain melakukan pengobatan dengan orang pintar, Ibu U juga meminum obat tradisional seperti daun capo. Menurutnya, daun capo berguna untuk menguatkan badannya.

Pengobatan penyakit burung ini pun, berbeda-beda. Tergantung kepada siapa kita berobat. Namun, menurut masyarakat, yang terpenting dalam pengobatan penyakit akibat gangguan makhluk halus ini adalah keyakinan kita kepada Allah yang maha esa bukan kepada siapa kita berobat. Orang pintar yang mengobati hanya sebagai perantara saja. Tetapi kesembuhan tetap datangnya dari Allah. Seperti pernyataan Kulipah K berikut :

“Segala penyakit yang saya obati ini kita hanya bisa berdo’a saja dengan yang maha kuasa, kalau kita yakin dan percaya insya Allah penyakit ini akan sembuh nantinya.”