BAB 2 KEBUDAYAAN ETNIK MINANG JORONG SARIAK
2.2. Geografi dan Kependudukan
2.2.3. Pola Tempat Tinggal (Rumah)
Namun, berdasarkan perkiraan dari hasil observasi dan pernyataan dari beberapa informan dari Etnik Minang setempat, hanya seperempat dari luas Jorong Sariak yang dijadikan lahan pemukiman penduduk, sedangkan tiga per empat lainnya merupakan persawahan, perkebunan, perladangan untuk bercocok tanam. Karena mayoritas pekerjaan masyarakat baik Etnik Minang maupun etnik lainnya adalah sebagai petani, dengan jenis tanaman sawit, jagung, coklat dan kelapa.
2.2.3. Pola Tempat Tinggal (Rumah)
Rumah menunjukkan tempat bermukim dan bertempat tinggal manusia secara menetap. Selain itu juga rumah untuk melakukan kegiatan sehari-hari penghuninya. Rumah berfungsi untuk mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan kehidupan suatu masyarakat. Sehingga rumah berfungsi mengembangkan ekonomi, sejarah dan budaya baik lingkup keluarga atau masyarakat secara luas.
Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar, namun demikian walaupun sederhana yang terpenting memenuhi syarat sebagai rumah sehat sehingga layak untuk dihuni.
Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah, pertama, sirkulasi udara yang baik, ke dua, penerangan yang cukup, ke tiga, air bersih terpenuhi, ke empat, pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran., ke lima, bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.
Pola tempat tinggal atau bentuk rumah masyarakat Etnik Minang pada masa lalu berbentuk rumah adat atau rumah
panggaung (rumah bundo kanduang).
Bahan utama pada umumnya terbuat dari papan dan kayu, termasuk lantai dasar rumah, yaitu kayu bayur, kayu sungkai, kayu
27 durian. Sebagai pondasi rumah Etnik Minang menggunakan kayu sungkai, karena kayu jenis ini mempunyai kekuatan yang sangat kuat. Untuk dinding rumah menggunakan anyaman bambu, sedangkan atap rumah menggunakan daun rumbio.
Rata-rata rumah masyarakat Etnik Minang berukuran panjang sekitar 5 meter dan lebar 6 meter. Halaman atau perkarangan bagian depan masih berupa tanah pada umumnya ditanami berbagai jenis tanaman atau tumbuhan obat tradisional. Seperti diungkapkan Ibu SN sebagai berikut :
“Dahulunya rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bambu saja, gempa Pariaman datang menghancurkan rumah disini semuanya, tapi kami diberi bantuan dari pemerintah pusat, dan bantuan ini dialihkan ke kepala Jorong terlebih dahulu, baru kepala Jorong yang menyampaikan bantuan untuk perbaikan rumah, bantuan rumah ini dapat Rp. 15.000.000 per rumahnya dan bisa juga dilihat dari bagaimana keadaan rumahnya.”
Permukiman di Jorong Sariak letaknya tidak jauh dari pegunungan yang merupakan lahan perkebunan masyarakat setempat. Sebagian besar masyarakat masih memiliki rumah belakang yang terpisah dengan rumah utama yang tidak jauh dari rumah dengan ukurannya lebih kecil. Rumah kecil ini berfungsi sebagai tempat masak atau dapur. Hanya sebagian kecil rumah yang masih bertahan dengan formasi dapur yang berada di dalam rumah. Apabila dilihat dari sudut pandang kesehatan, keberadaan dapur dibagian dalam rumah bisa memicu gangguan kesehatan seperti batuk, paru-paru dan sesak napas. Seperti ungkapan Ibu DL sebagai berikut :
“Masak sambal, masak nasi dan merebus air minum di rumah ini masih menggunakan kayu bakar masaknya, kalau udah masak asapnya sering terhirup ke hidung dan buat saya batuk-batuk sehingga susah bernapas juga. Mau pake kompor gas saya tidak berani dan beli gas nya pun saya tidak punya uang, yang pake kompor gas itu orang ekonomi berada”.
Namun dewasa ini rumah adat tersebut yaitu rumah gadang sudah sangat sulit dijumpai di Jorong Sariak, disebabkan oleh perubahan zaman. Masyarakat etnik Minang sudah merubah sedikit demi sedikit bentuk rumah mereka menjadi rumah semi permanen,
28
dimulai dari dinding rumah terbuat dari batu bata, atap rumah menggunakan seng, dan lantai dasar rumah beralaskan semen.
Dari segi fentilasi rumah masyarakat etnik Minang sudah cukup memadai. Ruangan tamu untuk tempat istirahat dan tempat berkumpul bersama keluarga. Jumlah kamar terbatas sehingga barang-barang keperluan rumah tangga tampak berantakan di dalam rumah, sehingga membuat keadaan di dalam rumah kotor. Sebagaimana diungkapkan Ibu Ik berikut ini :
“Kebersihan rumah tergantung orang yang punya rumahnnya , kalau dia bisa merawat rumahnya pasti akan bersih, tapi kalau tidak, ya binantang seperti, tikus, kecoak akan masuk”.
Rumah tinggal yang ditempati tidak terlepas dari kesehatan lingkungan. Kesehatan lingkungan merupakan bagian dari kesehatan masyarakat, yang menitik beratkan kepada kehidupan disekitar masyarakat tinggal yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dimana mereka tinggal. Hubungan antara manusia dan lingkungan fisiknya dapat mempengaruhi kualitas kondisi lingkungan.
Kondisi lingkungan rumah yang tidak bersih masih merupakan masalah kesehatan di Jorong Sariak. Kondisi demikian nantinya akan mudah terjadinya atau menimbulkan berbagai penyakit terutama penyakit yang penularannya melalui makanan, minuman, udara dan air.
Sebagian rumah masyarakat Etnik Minang tidak memiliki kakus atau kamar mandi sehingga jika berkunjung ke rumah masyarakat setempat sering mengalami kerepotan jika ingin buang hajat. Dalam pada itu sebagian besar masyarakat jika melakukan buang air besar di sungai yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Karena mungkin sudah menjadi kebiasaan dan adaptasi terhadap lingkungannya sangat kuat maka walaupun mereka memiliki kakus atau kamar mandi di rumah, mereka kadangkala buang air besar di sungai. Barangkali dengan buang air besar dan mandi di sungai lebih praktis. Masyarakat yang tidak memilik fasilitas sanitasi untuk buang air besar alasan yang dikemukakan karena tidak mempunyai uang untuk membangun kamar mandi dan wc. Untuk membangun relatif cukup mahal, maka lebih memilih BAB atau mandi di sungai.
29
Gambar 2.5.
Rumah Etnik Minang Jorong Sariak Sumber : Dokumentasi Penelitian, Mei 2015
Gambar 2.6.
Rumah yang Kesehatan Lingkungannya Kurang Memadai Sumber : Dokumentasi Penelitian, Mei 2015
30
Masyarakat Etnik Minang masih mempercayai adanya sebuah
jimek (jimat) yang dipasang di atas pintu rumah dan di atas pintu
kamar. Jimek oleh masyarakat etnik Minang dipercaya mempunyai untuk mengusir roh halus atau mahluk halus yang menganggu, selain juga sebagai pelindung dari gangguan palasik. Jimek ini biasanya di dapatkan dari datu kampuang (dukun kampung). Jimek terbuat dari bahan kemenyan, kunyit bolai dan dibungkus dengan kertas timah putih dan dilapis dengan kain puth. Ada juga dengan menggunakan
benang cerano tiga warna yaitu warna merah, pitih dan hitam.
Gambar 2.7.
Jimek di atas Pintu Rumah dan di atas Pintu Kamar Rumah
Sumber : Dokumentasi Penelitian, Mei 2015