• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 KEBUDAYAAN ETNIK MINANG JORONG SARIAK

2.6. Sistem Kemasyarakatan dan Organisasi Sosial

Berdasarkan Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Desa, Nagari di usulkan menjadi Desa, pada tahun 1983 terbentuklah Pemerintahan Desa yang terdiri dari 5 Desa yaitu : Desa Simpang Tigo, Desa Sariak, Desa Sungai Talang, Desa Pujorahayu, Desa Mahakarya. Pemerintahan Desa berjalan dari tahun 1983 sampai tahun 2002, pada saat itu di usulkan kembali menjadi Pemerintahan Nagari 5 Desa di jadikan 1 Nagari, berdasarkan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah direvisi kembali menjadi undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

Tahun 2003 dilaksanakan pemilihan Wali Nagari Koto Baru, 5 Desa dijadikan menjadi 5 Jorong, setahun kemudian yaitu pada tahun 2004 timbulah aspirasi dari pemerintah untuk memekarkan Jorong melalui BPAN dari 5 Jorong menjadi 8 Jorong, yaitu : Jorong Simpang Tigo, Jorong Sariak, Jorong Sungai Talang, Jorong Pujorahayu, Jorong Ophir, Jorong Jambak, Jorong Mahakarya, Jorong Giri Maju.

Sistem administrasi pemerintahan sudah seragam oleh pememerintah termasuk di Jorong Sariak. Daerah Jorong Sariak dipimpim oleh Kepala Jorong yang dipilih melalui sistem pemungutan suara. Begitu juga dengan kepemimpinan Wali Nagari Kota Baru yang dipimpin oleh Kepala Wali Nagari. Dilihat dari tingkatan sistem pemrintahan Kepala Jorong termasuk dibawah naungan kepemimpinan Wali Nagari.

Tugas seorang Kepala Jorong mengatur segala bentuk keperluan adminitrasi masyarakat yang ada di wilayahnya. Kemudian kepala Jorong melanjutkan ke Kantor Wali Nagari.

Nagari sebagai kesatuan adat memiliki kebebasan untuk mengurus nagarinya sendiri sesuai ketentuan adat yang berlaku. Pemerintahan di sebuah nagari diatur menurut tingkatan sebagai berikut :

1. Suku, dipimpim oleh mamak/penghulu suku

2. Buah Paruik (kumpulan orang sekaum), dipimpin oleh

mamak/penghulu kaum

3. Kampuang (kumpulan rumah gadang yang berdekatan), dipimpin oleh tuo kampuang

43 Undang-undang dalam nagari mengatur hubungan antara nagari dengan isinya dan seseorang dengan masyarakat yang lainnya. Undang-undang dalam nagari juga menggariskan hak dan kewajiban sebagai anggota masyarakat, dapat juga menjamin keamanan dalam nagari.

Menjadi sebuah nagari yang sah harus memenuhi 5 persyaratan sebagai berikut : berlebuh, berbalai, bertepian, bermasjid,

dan bergelanggang. Bila tidak memenuhi 5 persyaratan ini belum

boleh dikatakan nagari, melainkan baru bisa dikatakan dengan sebutan dusun atau teratak, meskipun disana sudah ada penghulu yang akan menghukum menurut adatnya.

1. Lebuh itu adalah jalan yang pasa labuah nan golong (tempat orang keluar masuk di dalam nagari itu).

2. Tepian adalah tempat orang mengambil air, tempat mandi yang terletak di tepi-tepi kampung.

3. Balai adalah tempat penghulu duduk mnghukum dan memperkatan sepanjang adat, juga tempat orang berniaga jual beli yang diramaikan sekali sepekan.

4. Masjid adalah tempat perhimpunan orang bersidang Jum”at menurut syarak.

5. Gelanggang adalah suatu tanah lapangan untuk tempat berkumpul tiap-tiap pagi dan petang, bisa juga untuk tempat untuk menghilangkan hati yang rusuh, menimbulkan hati yang damai, dan tempat bermacam-macam permainan anak nagari.

Gambar 2.14. Kantor Wali Nagari Koto Baru Di

Jorong Sariak Sumber : Dokumentasi Penelitian, Mei 2015

44

Dalam mendirikan sebuah nagari harus ada tiang nagari, yang bertujuan sebagai bentuk kekuatan sebuah nagari seperti, pertama, segala penghulu yang ada dalam setiap nagari disebut dengan jiwa nagari, kedua, segala panglima hulubalang yang ada di dalam nagari, ketiga, segala manti yang biasanya disebut kaki tangan nagari, keempat, segala kadhi, imam, bikal, khatib, alim ulama, disebut ujung lidah nagari, kelima, segala oang cerdik pandai disebut ujung lidah nagari, keenam, segala orang banyak, disebut isi nagari.

Secara adat masyarakat etnik Minang Jorong Sariak sejak dahulu dipimpin oleh penghulu dengan panggilan sehari-hari datuak (Datuk), dan biasanya masyarakat etnik Minang menyebutnya Rang

Kayo (orang kaya yang banyak harta). Seorang penghulu bagi

masyarakat etnik Minang adalah orang yang sangat di muliakan karena keistimewaannya yang ada melekat padanya, dan juga merupakan seorang kepala kaum yang dituakan dalam sukunya.

Suku yang ada di Jorong Sariak ada empat yaitu, Suku Tanjung Bantai, Suku Sikumbang, Suku Melayu dan Suku Melayu Limau Manih. Dalam keseatuan suku penghulu juga berperan sebagai pengendali, pengarah, pengawas, dan pelindung terhadap anak kemenakan serta tempat keluarnya sebuah aturan dan keputusan yang dibutuhkan oleh masyarakat anak kemenakan yang dipimpin oleh penghulu.

Pak HN yang menjabat sebagai penghulu atau datuak menjelaskan tentang syarat-syarat untuk menjadi seorang penghulu sebagai berikut :

1. Laki-laki

2. Penghulu harus seorang laki-laki. 3. Baik sifatnya

Ayahnya hendaklah berasal dari orang baik, ini gunanya untuk jaminan bagi ahklak atau budi pekertinya.

4. Balig-berakal

Penghulu itu harus seorang yang telah dewasa, berakal dan berpendidikan teguh serta tegas dalam segala tindakannya.

5. Berilmu

Penghulu harus mempunyai pengetahuan tentang adat, termasuk undang-undang dan hukum adat serta memiliki ilmu pengetahuan umum.

45 6. Adil

Penghulu tidak berat sebelah, semua kemenakan adalah sama, baik terhadap yang kandung maupun yang tidak.

7. Arif bijak sana

Penghulu hendaklah mempunyai perasaan halus, berpikiran tajam, cerdik-cendikia dan paham akan yang tersirat.

8. Tablig

Penghulu hendaklah menyampaikan sesuatu yang baik kepada masyarakatnya.

9. Pemurah

Penghulu hendaklah bersedia memberi nasihat-nasihat kepada barang siapa yang berbuat salah.

10. Tulus

Penghulu itu harus lurus dan benar. 11. Sabar

Penghulu hendaklah berpandang lapang dan ber alam luas. 12. Kaya

Penghulu diharapkan adalah seorang yang berada, sehingga ia tidak akan menyusahkan anak kemanakan untuk memenuhi keperluannya sehari-hari.

Setelah penghulu atau datuak terpilih berdasarkan musyawarah mufakat melalui demokrasi moril, secara adat antara anak kemenakan dalam suatu suku atau kaum mempersiapkan acara pengukuhan pada acara baralek gadang.

Dalam acara baralek gadang pengukuhan seorang penghulu atau datuak terdapat beberapa symbol-simbol adat (Ibrahim, 2003 : 183). Mambantai Kabau, “Kabau didabiah tanduak dibanam darah

dikacau dagiang dilapah” (menyembelih kerbau, kerbau disembelih,

tanduk ditanam, darah dikacau daging dimakan), pengertian menyembelih kerbau adalah membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri seorang penghulu atau datuak, tanduk ditanam artinya membuang sifat-sifat hewani yang cenderung melukai dan membinasakan dari jiwa seorang penghulu atau datuak pemimpin adat, sedangkan pengertian darah dikacau adalah mendinginkan darah yang panas dalam hati seorang pemimpin, karena seorang

46

Pengertian daging dilapah adalah bahwa seorang penghulu atau datuak dia adalah tempat mengadu anak kemenakannya dikala susah dan kelaparan, harta pusaka tinggi dan ulayat yang diaturnya adalah untuk kemakmuran anak kemenakannya.

Marawa dipancangkan (mengibarkan umbul-umbul) dimedan

perhelatan. Marawa 3 warna yaitu kuning, merah dan hitam berdiri kokoh menjulang tinggi ke udara namun ujungnya menjulai tunduk ke bawah. Warna kuning melambangkan kekuasaan seorang penghulu atau datuak. Warna merah melambangkan keberanian. Warna hitam melambangkan kesabaran dan ketabahan seorang penghulu atau

datuak dalam mengahadapi anak kemenakannya.

Berdiri kokoh menjulang tinggi artinya seorang penghulu atau

datuak harus mempunyai wibawa dan kharismatik ditengah-tengah

kaum dan masyarakat dalam nagari. Ujung marawa menjulai tunduk ke bawah melambangkan walau penghulu atau datuak orang yang ditinggikan dan didahulukan selangkah namun dia tetap harus melihat ke bawah memperhatikan dan mengayomi orang yang dipimpinnya dengan rendah hati memakai ilmu padi semakin berisi semakin tunduk.

Dalam melaksanakan tugasnya seorang penghulu biasanya dipanggil dengan sebutan “Urang nan gadang basa batuah” dia

gadang pada kaumnya dia basa pada sukunya dan dia batuah dalam nagari, gadang dalam kaumnya artinya seorang penghulu ini

dibesarkan atau dituakan selangkah dalam kaumnya, dan basa pada sukunya artinya dia menjadi panutan dan pemimpin yang mengatur dalam sukunya, sedangkan batuah dalam nagari artinya seorang

penghulu karena dia ninik mamak maka apa-apa yang dikatakan dan

diperbuatnya juga menjadi acuan sehingga dia disegani dan dihormati dalam nagari.

2.6.2. Kelompok Sosial

Menurut informasi dari beberapa warga masyarakat etnik Minang di Jorong Sariak, ada beberapa kelompok sosial yang masih aktif yaitu, Kelompok Petani Jagung, Kelompok Petani Sawit dan Kegiatan Ibu PKK. Dengan adanya kelompok tani tersebut masyarakat etnik Minang dapat saling berinteraksi, berkomunikasi dan saling tukar menukar informasi. Kelompok tani juga merupakan suatu wadah

47 tempat musyawarah dan gotong royong, karena masyarakat etnik Minang Jorong Sariak masih menjunjung tinggi azas musyawarah mufakat dan jiwa gotong royong masih kental.

Masyarakat etnik Minang mendirikan kelompok tani ini tujuannya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pendapatan para anggota petani lainnya. Seperti ungkapan Bapak MD yang bekerja sebagai petani sawit berikut ini :

“Disini ada kelompok petani jagung ada juga kelompok petani sawit. Kalau udah berkumpul bersama dengan petani yang lainnya sering membahas masalah harga jual buah sawit, dan sering juga membahas kepunyaan lahan sawit dengan petani sawit lainnya. Apabila kita ada acara hajatan di rumah nanti kita undang petani yang ada dalam kelompok tani ini, mereka sudah seperti keluarga sendiri.”

Kegiatan sosial yang masih aktif dilaksanakan masyarakat etnik Minang adalah kegiatan Ibu-ibu yang terwadahi dalam PKK (Pembinaan kesejahteraan Keluarga). Segala bentuk kegiatan PKK di Jorong Sariak ibu jorong selaku istri kepala jorong berperan mengkoordinir seluruh kegiatan dan bertanggung jawab. Kegiatan ibu PKK di Jorong Sariak ini sering juga diperlombakan antara masyarakat Etnik Minang, perlombaanya adalah masyarakat Etnik Minang membuat suatu kelompok tanaman obat tradisonal dan tugasnya adalah melakukan penanaman berbagai jenis tumbuhan obat tradisional. Sebulan sekali perlombaan ini akan dinilai oleh staf pukesmas dan aparat pemerintah dari kantor wali nagari.

2.6.3. Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan yang berlaku di etnik Minang yang tinggal di Jorong Sariak bersifat unilineal atau unilateral, yaitu suatu sistem menghitung garis keturunan hanya mengakui satu pihak orang tua saja sebagai penghubung keturunan. Dalam hal ini hanya memakai ibu, oleh karena itu disebut dengan sistem matrilineal atau garis keturunan ibu.

Ada tiga kemungkinan mengapa orang Etnik Minang mengambil alur matrilineal (Idris S. 1992).

1) Dibawa dari kampung asal di India Selatan (Hindia Belakang), atau mungkin juga dari Vietnam bagian timur.

48

2) Direkayasa pada masa pemerintahan raja Adityawarman, bahwa raja mereka adalah orang Etnik Minang, karena ibunya adalah putri Melayu. Dengan rekayasa yang demikian, orang Etnik Minang tidak merasa diperintah oleh raja keturunan Majapahit, tetapi diperintah oleh raja dari kalangan mereka sendiri.

3) Karena Bundo Kanduang yang dihormati, tetapi ia dianggap tidak pernah bersuami, sehingga tidak mungkin ditarik garis keturunan bapak (patrilineal), maka satu-satunya kemungkinan ialah menarik garis keturunan ibu.

Masyarakat etnik Minang di Jorong Sariak menganut sistem

kekerabatan matrilineal, dimana sistem kekerabatan ini menarik garis

keturunan dari garis ibu. Jadi suku masyarakat Etnik Minang harus mengikuti suku ibunya dan seorang perempuan memiliki kedudukan istimewa di dalam kaum. Dalam suatu pernikahan orang sesuku tidak boleh menikah. Untuk pembagaian harta warisan yang menguasai adalah ibu dan yang mengikat tali kekeluargaan rumah gadang adalah hubungan dengan harta warisan dan sako (gelar). Seperti yang diungkapan Bapak Hs berikut :

“Di etnik Minang ini sistem kekerabatan matrilineal inilah yang menguasakan penggunaan harta warisan akan jatuh pada kaum perempuan, karena mereka memiliki kelebihan yaitu, teliti, hemat, dan pandai menggunakan harta warisan untuk keperluannya.” Wanita tertua di kaum dijuluki limpapeh, dan dia juga mendapat kehormatan sebagai penguasa seluruh harta kaum. Untuk pembagian harta warisan nantinya diatur olehnya. Sedangkan laki-laki tertua di kaum dijuluki tungganai, dan bertugas sebagai mamak

kapalo warih.

Tungganai hanya berkuasa untuk memelihara, mengolah,

dan mengembangkan harta milik kaum, tapi tidak untuk menggunakannya. Dalam keluarga masyarakat Etnik Minang, tanggung jawab lebih banyak berada di tangan ninik mamak (saudara laki-laki ibu atau saudara laki-laki dari ibunya ibu). Seorang

ninik-mamak wajib mengurusi kemenakannya dan mengawasi segala

sesuatu yang berhubungan dengan harta warisan. Begitu juga dengan peranan seorang suami di dalam keluarganya sendiri, yaitu mengawasi saudara perempuan dan kemenakan-kemenakannya. Namun, pada

49 masa sekarang, peranan ninik mamak semakin kecil karena hanya cenderung untuk mengurusi istri dan anak-anaknya6.

Menurut Bapak AM ada beberapa istilah dalam hubungan kekerabatan Etnik Minang sebagai berikut :

“Mamak (Saudara laki-laki dari ibu), Kemanakan (Anak saudara perempuan dari seorang laki-laki), Sumando (Hubungan seorang laki-laki dengan suami saudara perempuannya), Pasumandan (Hubungan urang sumando dengan keluarga istrinya yang laki-laki),

Minantu (Suami/istri dari anak), Mintuo (Orang tua dari

suami/istri), Induak bako (Ibu dari bapak, ibu dari para bako (saudara perempuan bapak).”

2.6.4. Adat Perkwaninan Etnik Minang Jorong Sariak

Masa perkawinan merupakan masa permulaan bagi seseorang melepaskan dirinya dari lingkungan kelompok keluarganya, dan mulai membentuk sebuah kelompok kecil atau unit tersendiri yaitu. Dalam penentuan pemilihan jodoh, dahulunya perjodohan masyarakat Etnik Minang ditentukan oleh kedua orang tua mereka. Namun, pola penentuan pemilihan jodoh itu sekarang sudah jauh berubah, mereka dapat menentukan atau memilih pasangan hidup mereka dengan sendirinya.

Dengan pilihan mereka sendiri ini nantinya orang tua akan menyetujui atas pilihan anak mereka, karena orang tua dalam hal ini beranggapan pilihan anaknya merupakan yang terbaik, dan dapat mejalani kehidupan rumah tangga dengan baik nantinya. Mengenai usia pernikahan masyarakat Etnik Minang, untuk sekarang ini rata-rata berusia hampir di atas 20 tahun.

Dalam prosesi perkawinan masyarakat etnik Minang, kedua calon mempelai harus beragama Islam dan tidak ada hubungan sedarah atau tidak berasal dari suku yang sama. Kedua calon

6

. Minangkabau menganut sistem kekerabatan matrilineal dimana wanita mempunya bbbbgi peran penting sebagai pengikat, pemelihara, dan penyimpan harta pusaka. Sedangkan laki-laki mempunyai peranan penting untuk mengatur dan mempertahankan hartapusaka.Kedudukan laki-laki dan perempuan di dalam adat Minangkabau berada dalam posisi seimbang. Laki-laki punya hak untuk mengatur segala yang ada di dalam perkauman, baik pengaturan pemakaian, pembagian harta pusaka, perempuan sebagai pemilik dapat mempergunakan semua hasil itu untuk keperluannya.

50

mempelai bisa saling menghormati dan menghargai orang tua serta keluarga kedua belah pihak. Marapulai (pengantin laki-laki) harus sudah mempunyai sumber penghasilan untuk menjamin kehidupan keluarganya setelah menikah. Perkawinan yang dilakukan tanpa memenuhi semua syarat-syarat tersebut di atas dianggap perkawinan sumbang, atau perkawinan yang tidak memenuhi syarat menurut adat masyarakat etnik Minang Jorong Sariak.

Tahap pertama dalam perkawinan masyarakat etnik Minang adalah mencari ayam (acara perkenalan antara pihak laki dan perempuan). Acara mencari ayam biasanya melibatkan niniak mamak,

urang sumando, bundo kanduang serta sanak famili dan juga tetangga

di sekitar tempat tinggal. Di acara mencari ayam ini pihak laki-laki datang ke tempat pihak calon mempelai perempuan. Dalam prosesi

mencari ayam ini membahas tentang acara antar tando (bertunangan)

atau sebaliknya tidak ada acara bertunangan.

Acara antar tando (bertunangan) biasanya berupa cincin atau gelang dan ada pula berupa pitih nikah (uang nikah). Dalam acara

tando ini (bertunangan) pihak laki-laki membawa emas gram. Setelah

dilaksanakannya pertunangan dilanjutkan kedua belah pihak untuk menentukan tanggal baralek (pesta), hari, dan bulan berapa baralek (pesta) perkawinan akan dilangsungkan.

Sebelum barelek (pesta) pekawinan dilangsungkan, ada acara duduak kaki balek (berbicang tentang penentuan panitia pesta). Pada acara ini yang terlibat ninik mamak suatu suku, bundo kanduang,

datuak serta tetangga dan kerabat terdekat membahas masalah siapa

saja yang akan membantu memanggiah (memanggil) masyarakat etnik Minang lainnya untuk hadir dalam acara pesta perkwaninan.

Kemudian dilanjutkan dengan acara duduak urang (duduk bersama-sama) yaitu acara mengumpulkan uang seperti, kalau niniak mamak diwajibkan menyubang uang sebesar Rp. 50.000, sedangkan untuk urang sumando menyumbang uang sebesar Rp. 30.000, dan masyarakat Etnik Minang lainnya bebas untuk menyumbang uang berapa saja. Di acara duduak urang yang paling berperan adalah urang sumando, tugasnya adalah mengantar makanan dan minuman untuk tamu yang datang dalam acara duduak urang.

51 Selanjutnya dilanjutkan dengan acara puncak yaitu

baralek gadang, istilah dalam bahasa minang “barek samo di

pakuo ringan samo di jinjiang”. Pada acara baralek ini ada acara

manyalang (meminjam) marapulai (pengantin laki-laki). Kalau manyalang marapulai biasa dari pukul 08.00 pagi sampai pukul

17:00 sore. Marapulai juga di dampingi oleh sumandan (saudara pihak laki-laki), biasanya sumandan terdiri dari tiga sampai lima orang.

Setelah selesai acara baralek, ada acara selanjutnya yaitu manyudahan alek (sudah pesta). Acara ini merupakan acara terakhir dari acara baralek. Tujuan acara ini diselenggarakan untuk mengetahui berapa banyak uang yang terkumpul selama baralek dan berapa banyak potong kain atau kado yang dapat dalam acara baralek ini.

Acara manyudahan alek ini juga melibatkan niniak

mamak, urang sumando, dan bundo kanduang serta tetangga di

sekitar tempat tinggal. Dalam acara manyudahan alek ini juga mendo’a sukuran dengan membuat singgang ayam dan nasi kuning yang dihidangkan untuk di makan, selesainya mendo’a ini menandakan bawha ke panitiaan baralek sudah selesai.

Gambar 2.15. Acara Pesta Perkawinan Masyarakat Etnik Minang Sumber : Dokumentasi Penelitian, Mei 2015

52

Setelah menikah masyarakat Etnik Minang akan menjalani kehidupan dalam berumah tangga, peranan kepala keluarga sangat berpengaruh sekali dalam mengambil sebuah keputusan dalam berumah tangga. Karena kepala keluarga berhak menentukan pemilihan tempat tinggal, apakah di rumah mertua atau mereka mencari rumah baru. Hal ini juga tergantung dari kehidupan ekonomi keluarga. Namun, untuk pemilihan tempat tinggal masyarakat Etnik Minang biasanya memilih tempat tinggal tidak jauh dari rumah mertuanya, dan lokasi yang dipilih lebih sering dibelakang rumah mertua dan disamping rumah mertua. Seperti ungkapan Ibu RK berikut ini :

“Rumah saya sekarang ini disamping rumah mertua saya, tanahnya luas dan disuruh bangun saja rumah disini kata mertua saya, kita membangun rumah ini berdua saja sama suami, kalau dibuatkan sama tukang kita tidak ada uang, karena keadaan ekonomi yang kurang memadai, kita buat rumah ini bertahap-tahap, nanti akan siap juga walaupun rumahnya agak kecil.”