BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengobatan Tradisional
2.1.1 Definisi Pengobatan Tradisional
Pengobatan tradisional adalah pengobatan atau perawatan dengan cara, obat dan pengobatannya yang mengacu kepada pengalaman, keterampilan turun temurun, dan atau pendidikan atau pelatihan, dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat (Kemenkes RI, 2003). Berdasarkan pengobatannya, pelayanan pengobatan tradisional terbagi menjadi dua jenis yaitu pelayanan kesehatan tradisional yang menggunakan ketrampilan dan ramuan (Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA, 2012)
2.1.2 Pengobat Tradisional
Pengobat tradisional (Battra) adalah orang yang melakukan pengobatan dan atau perawatan dengan cara, obat, dan pengobatnya yang mengacu pada pengalaman, keterampilan turun temurun, dan atau pendidikan/pelatihan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku. Klasifikasi dan jenis pengobatan tradisional menurut Kemenkes RI (2003):
a. Battra Pijat Urut adalah seseorang yang melakukan pelayanan pengobatan dan/atau perawatan dengan cara mengurut/memijat bagian atau seluruh tubuh. Tujuannya untuk penyegaran relaksasi otot hilangkan capai, juga untuk mengatasi gangguan kesehatan atau menyembuhkan suatu keluhan atau penyakit. Pemijatan ini dapat dilakukan dengan menggunakan jari tangan, telapak tangan, siku, lutut, tumit atau dibantu alat tertentu antara lain pijat yang dilakukan oleh dukun/tukang pijat, pijat tunanetra, dan sebagainya.
10
b. Battra Patah Tulang adalah seseorang yang memberikan pelayanan pengobatan dan/atau perawatan patah tulang dengan cara tradisional.Disebut Dukun Potong (Madura), Sangkal Putung (Jawa), Sandro Pauru (Sulawesi Selatan).
c. Battra Sunat adalah seseorang yang memberikan pelayanan sunat (sirkumsisi) secara tradisional. Battra sunat menggunakan istilah berbeda seperti Bong Supit (Yogya), Bengkong (Jawa Barat). Asal ketrampilan umumnya diperoleh secara turun temurun.
d. Battra Dukun Bayi adalah seseorang yang memberikan pertolongan persalinan ibu sekaligus memberikan perawatan kepada bayi dan ibu sesudah melahirkan selama 40 hari. Jawa Barat disebut Paraji, dukun Rembi (Madura), Balian Manak (Bali), Sandro Pammana (SulawesiSelatan), Sandro Bersalin (Sulawesi Tengah), Suhu Batui di Aceh.
e. Battra Pijat Refleksi adalah seseorang yang melakukan pelayanan pengobatan dengan cara pijat dengan jari tangan atau alat bantu lainnya pada zona-zona refleksi terutama pada telapak kaki dan/atau tangan.
f. Akupresuris adalah seseorang yang melakukan pelayanan pengobatan dengan
pemijatan pada titik-titik akupunktur dengan menggunakan ujung jari dan/atau alat bantu lainnya kecuali jarum.
g. Akupunkturis adalah seseorang yang melakukan pelayanan pengobatan
dengan perangsangan pada titik-titik akupunktur dengan cara menusukkan jarum dan sarana lain seperti elektro akupunktur.
h. Chiropractor adalah seseorang yang melakukan pengobatan kiropraksi
(Chiropractie) dengan cara teknik khusus untuk gangguan otot dan
11
i. Battra lainnya yang metodenya sejenis 2.1.3 Balian
1. Definisi Balian
Battra bali merupakan salah satu Battra yang biasa disebut Battra paranormal atau Battra ramuan, karena dalam pelaksanaannya Battra bali ini juga menggunakan ramuan dan menggunakan kekuatan supranatural. Balian adalah sebutan untuk pengobat tradisional di Bali, yaitu orang yang mempunyai kemampuan untuk mengobati orang sakit. Kemampuan Balian diperoleh dengan berbagai cara, dilihat berdasarkan tujuan dan pengetahuan yang dimiliki balian (Idward 2013).
2. Jenis balian menurut Idward ( 2013): a. Berdasarkan tujuan
Ada dua jenis balian, yaitu Balian Panengen (baik) dan Balian Pangiwa (jahat). 1) Balian Penengen adalah balian yang tujuannya mengobati orang yang sakit sehingga menjadi sembuh. Balian ini sering pula disebut Balian Ngardi Ayu (dukun kebaikan). Balian ini pada umumnya bersifat ramah, terbuka, penuh wibawa dan suka menolong. Siapapun akan ditolongnya tidak membedakan apakah dia orang baik atau orang jahat, orang yang miskin atau kaya semua dilayani sesuai dengan penyakit yang dideritanya.
2) Balian Pengiwa adalah balian yang tujuannya membuat orang yang sehat menjadi sakit dan orang yang sakit bertambah menjadi sakit, bahkan sampai meninggal. Itulah sebabnya balian tipe ini sering disebut balian aji wegig, dukun yang menjalankan kekuatan membencanai orang lain, berbuat jahil, usil, terhadap orang lain. Balian jenis ini amat sukar
12
dilacak, pekerjaannya penuh rahasia, tertutup dan misterius. Sering pula balian ini mengganggu balian penengen pada waktu pengobati orang sakit sehingga tidak sembuh-sembuh, jahil dan usil (Idward, 2013) b. Berdasarkan pengetahuan
Berdasarkan pengetahuan balian terbagi dalam 4 jenis balian menurut Idward ( 2013) yaitu balian Kapican, Katakson, Usadha dan Campuran.
1)Balian kapican adalah balian yang mendapat keahlian karena memperoleh suatu pica atau benda bertuah dan berkhasiat yang dapat dipergunakan untuk menyembuhkan orang sakit. Mungkin benda-benda tersebut didapat dari fiirasat baik berupa mimpi atau petunjuk yang lainnya. Pica ini dapat berupa batu permata, lempengan logam, keris, cincin, kalung, tulang dan benda lainnya.
2)Balian katakson (tetakson) adalah balian yang mendapat keahlian melalui taksu, roh atau kekuatan gaib yang memiliki kecerdasan, mukzijat ke dalam dirinya. Taksu adalah kekuatan gaib yang masuk kedalam diri seseorang dan mempengaruhi orang tersebut, baik cara berpikir, berbicara maupun tingkah lakukanya. Karena kemasukan taksu inilah orang tersebut mampu untuk mengobati orang yang sakit.
3)Balian usada adalah seseorang dengan sadar belajar tentang ilmu pengobatan, baik melalui guru waktra, belajar pada balian, maupun belajar sendiri melalui lontar usada dan belajar dengan benar cara mendiagnosis ataupun osmosis pasien. Balian golongan ini tidak terbatas hanya mempergunakan ramuan obat dari tumbuhan saja, tetapi termasuk balian patah tulang, pijat, lulur, urut, melahirkan.
13
4)Balian Campuran, pada umumnya campuran antara balian katakson maupun balian kapican yang mempelajari usada. Dengan demikian balian katakson maupun kapican kemampuannya tidak hanya mengandalkan taksu atau pica, tetapi juga memberikan ramuan obat-obatan berdasarkan lontar usada. Balian jenis ini dapat disebut balian katakson usada atau balian kapican usada, juga dikenal dengan istilah balian ngiring pekayunan atau menjadi tapakan Widhi atau tapakan dewa.
3. Dharma Sesana Balian.
Seluruh balian di Bali bekerja berdasarkan “Dharma Sasana Balian”, dimana :
a. Semua rahasia dari orang yang sakit harus disimpan, tidak boleh disebarluaskan atau dibicarakan dengan orang lain.
b. Hidup para balian harus suci dan bersih, terlepas dari sifat loba, sombong dan asusila. Didalam lontar tutur bhagawan çiwa sempurna ditegaskan bahwa, seorang balian tidak boleh berlaku sombong, harus bertingkah laku yang baik sesuai dengan dharma, serta semua nafsu hendaknya ditahan didalam hati. c. Seorang balian tidak boleh was-was, ragu-ragu, apalagi malu-malu dalam hati
harus teguh dan mantap serta penuh keyakinan pada apa yang dikerjakan. Tidak goyah terhadap segala hambatan, rintangan, gangguan, dan godaan yang datang dari dalam diri sendiri, yang mengakibatkan gagalnya usaha yang sedang ditempuh. Tidak akan mundur sebelum berhasil mendapatkan apa yang sedang dihayati, apa yang diinginkan yaitu kesembuhan dari orang yang sakit.
Seorang balian tidak boleh pamrih. Semua pengobatan berlangsung dengan tulus ikhlas tanpa pamrih. Sebab semua balian yang benar-benar balian di Bali tahu
14
akan akibat dari kelobaan akan sesantun dan materi lainnya. Para balian harus tahu akan hak dan kewajibannya, rendah hati tidak sombong, membatasi diri terhadap apa yang dapat dilakukannya, menghormati kehidupan manusia, karena didalam raga sarira atau tubuh manusia, bersemayam Sang Hyang Atma, Sang Hyang Bayu Pramana karena beliu dapat mengutuk balian yang melanggar dharma sesana.Dan bila terkutuk kesaktian atau kesidiannya dalam hal mengobati orang sakit dapat menurun dan luntur. Dan yang lebih parah lagi ia akan menerima kutuk dari Sang Hyang Budha Kecapi sehingga hidupnya akan menderita, termasuk anak cucunya. Ketahuilah adanya tata cara menjadi balian jangan disalah artikan atau disalahgunakan, memang sangat berbahaya menjadi balian. Barang siapa berkehendak menjadi balian sakti mawisesa, tidak dikalahkan oleh kesaktian mantra dapat menjalankan semua pengobatan, dapat mengobati segala penyakit dan tenung. Maka, hendaklah selalu astiti bhakti ring Ida Batara Tiga, khususnya ring Ida Batara Dalem, Desa dan Puseh. Sebagai jalan untuk memohon kesaktiannya, Ida I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, yang merupakan pepatih bersama saudara-saudaranya yang lain. Ida I ratu Nyoman sakti Pengadangan adalah dewan balian sejagat, wajib dibuat pelinggih penyawangan biasa dalam bentuk kamar suci, dibuatkan daksina linggih, ditempatkan pada pelangkiran. (Liputan : Survey Pijat Tradisional Indonesia, Bali Juli 2013) (Idward, Juli 2013)
2.1.4 Obat Tradisional
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) , atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat ( PP RI 2014). Pelayanan kesehatan tradisional merupakan potensi besar karena dekat
15
dengan masyarakat, mudah diperoleh dan relatif murah daripada obat modern. Pengetahuan tentang obat tradisional dan pemanfaatan tanaman obat merupakan usul penting dalam meningkatkan kemampuan individu dan keluarga untuk memperoleh hidup sehat (Zulkifli, 2004)
2.1.5 Peraturan Tentang Pengobat Tradisional Bali (Balian)
Penyelenggaraan tentang pengobatan tradisional di Indonesia diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1076/MENKES/SK/VII/2003. Tujuan pengaturan penyelenggaraannya adalah membina upaya pengobatan tradisional, memberi perlindungan kepada masyarakat, dan inventarisasi jumlah pengobat tradisional, jenis dan cara pengobatannya.
Semua pengobat tradisional yang menjalankan pekerjaan pengobatan tradisional wajib mendaftarkan diri kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat untuk memperoleh STPT dan SIPT. SIPT dan STPT diterbitkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berdasarkan permohonan yang diajukan oleh pengobat tradisional, berlaku hanya untuk satu lokasi selama lima tahun dan dapat diperpanjang selama memenuhi persyaratan sebagai pengobat tradisional. Kelengkapan pendaftaran untuk memperoleh STPT adalah:
a. Biodata pengobat tradisional b. Foto copy kartu tanda penduduk
c. Surat keterangan Kepala Desa/ Lurah tempat melakukan pekerjaan sebagai pengobat tradisional/balian.
d. Rekomendasi dari asosiasi atau organisasi profesi dibidang pengobat tradisional/balian.
e. Surat pengantar dari Puskesmas setempat f. Pas foto ukuran 4x6 cm sebanyak 2 lembar
16
Pengobat tradisional yang metodenya telah memenuhi persyaratan, penapisan, pengkajian, penelitian, dan pengujian serta terbukti aman dan bermanfaat bagi kesehatan dapat diberikan SIPT oleh Kepala Dinas Kesehatan setempat di lokasi pengobat tradisional melakukan pekerjaan pengobatan. Kelengkapan permohonan SIPT adalah:
a. Biodata pengobat tradisional b. Foto copy kartu tanda penduduk
c. Surat keterangan Kepala Desa/ Lurah tempat melakukan pekerjaan sebagai pengobat tradisional/balian.
d. Peta lokasi usaha dan denah ruangan.
e. Rekomendasi dari asosiasi atau organisasi profesi dibidang pengobat tradisional/balian.
f. Foto copy sertifikat atau ijazah pengobat tradisional /balian g. Surat pengantar dari Puskesmas setempat
h. Pas foto ukuran 4x6 cm sebanyak 2 lembar
2.1.6 Pembinaan dan Pengawasan Pengobat Tradisional/Balian
Pembinaan dan pengawasan pengobat tradisional/balian diarahkan untuk meningkatkan mutu, manfaat, dan keamanan pengobatan tradisional yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota, Puskesmas atau unit pelaksana teknis yang ditugasi berdasarkan pola pembinaan sebagai berikut:
a. Pola Toleransi yaitu terhadap semua jenis pengobatan tradisional yang diakui keberadaannya di masyarakat, pembinaannya diarahkan pada limitasi efek samping
17
b. Pola Integrasi yaitu pembinaan terhadap pengobatan tradisional yang secara rasional terbukti aman bermanfaat, dan mempunyai kesesuaian dengan hakekat ilmu kedokteran dan merupakan bagian integrasi pelayanan kesehatan.
c. Pola Tersendiri yaitu pembinaan pengobatan tradisional yang secara rasioanal terbukti aman bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan , memiliki kaidah tersendiri, dan dapat berkembang secara tersendiri.
Dalam pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga pengobat tradisional peran dinas kesehatan dan puskesmas adalah sebagai berikut (Hulwan, 2010):
1. Peran Dinas Kesehatan
a. Memberikan STPT/SIPT kepada Battra
b. Koordinator pembinaan dan pengawasan pelayanan kesehatan tradisional tingkat kabupaten/kota :
a). Pembinaan dan pengawasan tenaga kesehatan alternative komplementer b). Pembinaan dan pengawasan Battra
c. Membina, mengembangkan, pemanfaatan TOGA dan selfcare secara tradisional d. Pencatatan atau pengumpulan data dan pelaporan
2. Peran Puskesmas
a. Pengumpulan data pelayanan kesehatan tradisional di wilayahnya b. Pembinaan dan pengawasan langsung Battra
c. Menyelenggarakan pelayanan tradisional alternative komplementer sesuai kebutuhan dan ketersediaan tenaga
d. Memberikan surat pengantar Battra untuk pengurusan STPT dan SIPT e. Mengirimkan laporan secara berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
18
2.1.7 Perkembangan Pengobatan Tradisional di Indonesia
Perkembangan dunia kedokteran modern saat ini memang tumbuh sangat pesat. Segela jenis penemuan baru dalam dunia medis sudah bisa mengobati banyak macam penyakit, yang sebelumnya tidak bisa disembuhkan. Selain itu, dukungan peralatan canggih dengan teknologi terkini, juga membuat pelayanan kesehatan semakin baik dan mampu memberikan solusi terbaik bagi pasien. Meskipun demikian, masih banyak masyarakat yang mempercayai pengobatan alternatif di Indonesia.
Masyarakat yang dahulu memilih sistem pengobatan modern untuk mengobati penyakitnya, saat ini mulai ada kecenderungan untuk beralih menggunakan pengobatan tradisional kembali, baik pengobatan tradisional melalui ramuan/jamu, maupun pengobatan tradisional dengan ketrampilan. Rasionalitas memilih pengobatan tradisional disebabkan oleh banyak faktor. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat lebih memilih pengobatan tradisional dibandingkan pengobatan modern, yaitu faktor sugesti, pelayanan yang cepat, efektif dan murah (Lifawati ,2015). Pengobatan tradisional telah berkembang pesat di seluruh dunia. Berdasarkan data WHO tahun 2002, 75% penduduk Perancis menggunakan pengobatn alternative, 95% Rumah Sakit di China memiliki Klinik pengobatan tradisional dan 70% penduduk India menggunakan pengobatan tradisional, di Belanda 64%, di Inggris 74%. Presentasi penduduk yang menggunakan pengobatan alternative komplementer di Canada 70%, Amerika 42 % dan Belgia 38% (WHO, 2002 dalam Supriadi, 2014)
Di Indonesia menurut data Kemenkes tahun 2013 cakupan pengobatan kesehatan sudah mencakup 53,6 % Kabupaten /Kota dari 416 Kabupten/Kota di
19
Indonesia. Dan menurut Hasil Survey social ekonomi nasional/Susenas 2007 menunjukkan penduduk Indonesia yang mengeluh sakit dalam waktu kurun satu bulan ada sebanyak 30,90%, dari penduduk yang mengeluh sakit 65,01% memilih pengobatan sendiri menggunakan obat dan atau obat tradisional. Ada sebanyak 82,28% penduduk yang menggunakan obat untuk pengobatan sendiri. Dari seluruh penduduk yang memiliki keluhan kesehatan selama sebulan penuh dan memutuskan untuk berobat jalan sebagian besar berada di provinsi Bali yaitu 55,04% yang diikuti oleh Sumatra Barat 50,75% dan DKI Jakarta sebesar 50,71 %. Sedangkan daerah dengan persentase terendah adalah Sulawesi Tenggara sebesar 28,03%, Kalimantan Tengah sebesar 28,10% dan Maluku sebesar 31,97%. Persentase penduduk yang mengobati diri sendiri selama sebulan penuh di Provinsi Lampung adalah 21,3% (Susenas, 2007 dalam Kristiani,2013)
Hasil penelitian Reni Kutsyana (2012) menyebutkan bahwa per hari pengguna/pengunjung Poliklinik Desa Ibul Barat mencapai 4 sampai 5 orang. Sedangkan pengguna jasa dukun masih terbilang lebih meningkat, dalam satu hari terkadang di satu dukun tersebut mencapai 6 pengunjung dengan berbagai keluhan yang ada.
Sejak tahun 2009, Menteri Kesehatan telah memasukan pengobatan tradisional, alternative dan komplementer sebagai bagian dari subsistem upaya kesehatan dan telah masuk dalam rencana strategis kementerian kesehatan 2010-2014 berupa peningkatan penelitian, pengembangan dan pemanfaatan obat tradisional Indonesia. Namun, pada kenyataannya belum banyak penerapan pengobatan tradisional di unit pelayanan kesehatan walaupun pemerintah telah mendorong pemanfaatannya dalam perlindungannya melalui Peraturan Menteri