• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.3. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah

2.3.4 Pengolahan Bahan Pustaka Perpustakaan Sekolah

Pengolahan bahan pustaka merupakan kegiatan pokok yang ada didalam rangkaian kegiatan perpustakaan. Karena suatu bahan pustaka belum dapat disajikan atau dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan, apabila belum dilakukan pengolahan terhadap bahan pustaka tersebut. Kegiatan pengolahan bahan pustaka dilakukan agar setiap bahan pustaka yang ada di suatu perpustakaan dapat tertata secara sistematis dan dapat ditemukan kembali secara cepat dan tepat oleh pengguna. Menurut Sutarno (2006, 179) pengolahan bahan pustaka adalah : “Kegiatan yang diawali sejak koleksi diterima di perpustakaan sampai dengan penempatan di rak atau di tempat tertentu yang telah disediakan.

Untuk kemudian siap dipakai oleh pemakai.”

Sedangkan Suwarno (2007, 46) mengemukakan bahwa kegiatan pengolahan bahan pustaka adalah:

Pengolahan bahan pustaka adalah kegiatan yang diawali sejak koleksi diterima meliputi proses pengolahan, penyusunan, penyimpanan, pengemasan agar tersusun rapi, mudah di telusuri kembali (temu balik informasi) dan di akses oleh pemakai, dan merawat bahan pustaka.

Adapun jenis kegiatan pengolahan bahan pustaka dalam buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah (2000, 20) meliputi:

1. Iventarisasi;

2. Katalogisasi;

3. Klasifikasi;

4. Penyelesaian fisik bahan pustaka & pengaturan koleksi.

1. Iventarisasi

Inventarisasi merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan pada bahan pustaka yang diterima yaitu kegiatan pencatatan informasi yang ada pada bahan puataka. Menurut Bustari (2000, 41), “Iventarisasi merupakan kegiatan kerja yang berupa pencatatan koleksi bahan pustaka hal ini menunjukkan bukti bahwa koleksi bahan pustaka tersebut telah menjadi hak milik perpustakaan”.

Sedangkan menurut Rahayunigsih (2007, 35) “Inventarisasi yaitu pekerjaan mendaftar setiap buku yang diterima perpustakaan agar data mengenai penerimaan atau pemilihan buku tercatat secara teratur”.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa iventarisasi adalah kegiatan yang terdiri dari pencatatan bahan pustaka yang masuk, pemeriksaan bahan pustaka, pemeberian cap dan stempel, serta mendaftarkan bahan pustaka tersebut kedalam buku induk atau buku iventaris. Dengan tujuan dilakukan iventarisasi adalah untuk memudahkan pustakawan baik dalam melakukan pengadaan bahan pustaka, pengawasan koleksi, serta mempermudah penyusunan laporan tahunan.

2. Katalogisasi

Katalogisasi adalah kegiatan pengelompokan bahan pustaka yang ada di suatu perpustakaan. Katalogisasi akan menghasilkan katalog yang berisi keterangan tentang deskripsi fisik bahan pustaka. Menurut Qalyubi (2007, 130) katalogisasi adalah:

Proses pengolahan data-data bibliografi yang terdapat dalam suatu bahan pustaka menjadi katalog. Dalam arti lain katalogisasi merupakan proses pengorganisasian bahan pustaka dan membuatnya dapat ditemukan kembali oleh pengguna perpustakaan pada saat ia membutuhkan bahan pustaka.

Sedangkan menurut Gates yang dikutip oleh Hasugian (2001: 1) katalog perpustakaan adalah: “ Suatu daftar yang sistematis dari buku atau bahan-bahan lain dalam suatuperpustakaan dengan informasi deskriptif mengenai pengarang, judul buku, tahun terbit, bentuk fisik, ciri khas bahan, dan tempatnya”.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa katalogisasi merupakan proses pembuatan katalog yang memuat keterangan dari deskripsi fisik bahan pustaka mulai dari judul buku, pengarang, edisi, penerbit, tahun terbit, tempat terbit, penampilan fisik, bidang subjek, serta ciri-ciri khusus dari suatu bahan pustaka.

Cakupan kegiatan pengatalagan dengan pembuatan katalog untuk semua judul buku, dan menyusun kartu katalog.

3. Klasifikasi

Klasifikasi merupakan penggolongan atau pengelompokan buku berdasarakan subjek atau isi buku yang bersangkutan. Buku-buku yang memiliki subjek yang sama akan disusun saling berdeketan letaknya di rak.

Menurut Busatari (2000, 50) pengertian klasifikasi adalah:

Kegiatan kerja mengelompokkan koleksi dengan cara memberikan kode tertentu agar koleksi yang sejenis dapat berkumpul menjadi satu, klasifikasi digunakan sebagai pedoman penyusunan pustaka di rak/lemari berdasarkan urutan logis.

Sistem klasifikasi yang digunakan oleh perpustakaan sekolah pada umumnya adalah sistem klasifikasi persepuluhan dari Dewey yang dikenal dengan Dewey Decimal Classification. MenurutSyahrial (2000, 72) menyatakan bahwa dalam klasifikasi Dewey Decimal Classification (DDC) ada sepuluh kelas utama yaitu:

000 = Karya Umum

100 = Filsafat dan Psikologi 200 = Agama

300 = Ilmu-ilmu Sosial 400 = Bahasa

500 = Ilmu Murni 600 = Ilmu Terapan

700 = Kesenian, Hiburan, Olahraga 800 = Kesusasteraan

900 = Sejarah, Geografi, Biografi

Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui klasifikasi merupakan proses pengelompokan koleksi yang sistematis yang digunakan sebagai pedoman penyusunan koleksi di rak.Dewey Decimal Classification membagi ilmu pengetahuan kedalam 10 kelas utama. Dengan adanya klasifikasi, akan memudahkan pencarian dan temu kembali bahan pustaka yang ingin di dapatkan.

4. Penyelesaian Fisik Bahan Pustaka & Pengaturan Koleksi

Setelah diinventarisasi, katalog dan diklasifikasi maka selanjutnya dilakukan penyelesaian fisik bahan pustaka, mulai dari label, kartu buku, slip

tanggal kembali. Menurut Rahayuningsih (2007, 35) kegiatan pembuat kelengkapan koleksi, adalah:

1. Label Nomor Panggil

Label nomor panggil yaitu lembaran kertas persegi dengan ukuran tertentu untuk keperluan mencantumkan nomor panggil yang ditempelkan pada pungung buku.

2. Kartu Buku

Kartubuku yaitu kartu berukuran tertentu yang terisi keteranganketerangan seperti: nomor panggil, nama penggarang, judul buku, nama peminjam dan nomor anggota perpustakaan, tanggal pinjam, tanggal kembali dan tanda tangan. Kartu buku ini digunakan sebagai arsip apabila buku sedang dipinjam, bila peminjam buku sudah menggunakan komputer, kartu buku ini tidak diperlukan lagi

3. Kantong Kartu Buku

Kantong kartu buku yaitu kantong yang dibuat dari kertas yang agak tebal dan berbentuk segitiga atau persegi untuk menyimpan kartu buku bersangkutan.

4. Blanko/Slip Tanggal Kembali (data due)

Pembuatan T-Slip (Temporary-Slip atau Slip sementara), yaitu blanko/slip yang berisi kolom-kolom yang diisi nomor anggota perpustakaan dan tanggal harus kembali buku yang dipinjam.

Blanko/slip digunakan pada pelayanan sirkulasi, yaitu agar peminjam mengetahui kapan buku harus dikembalikan.

5. Barcode

Barcode yaitu kode-kode yang menunjukkan data bibliograsi buku, digunakan untuk perpustakaan yang pelayanan sirkulasinya

menggunakan program komputer.

Dengan prinsip pengaturan penempatan koleksi yang dikemukakan oleh Bustari (2000, 54) sebagai berikut:

1. Setiap buku mempunyai sandi tersendiri dan sandi tersebut menjadi dasar penempatan, maka satu lokasi digunakan untuk satu buku.

2. Setiap papan rak tidak boleh diisi penuh dan papan paling bawah dikosongkan agar bila ada penambahan koleski tidak perlu menggeser koleksi lama.

3. Urutan penempatan selalu dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, pada akhirnya deretan diberi penahan buku.

4. Setiap rak buku diberi penuntun yang menunjukkan isi dari rak yang bersangkutan

5. Sandi buku referensi biasanya ditambah huruf R yang dapat ditempatkan pada rak khusus.

Dari pendapat di atas dapat diketahui bahawa pembuatan kelengkapan koleksi mulai dari label nomor panggil, kartu buku, kantong kartu buku, blanko/

slip tanggal kembali, barcode. Dengan pengaturan penempatan koleksi menggunakan sandi pada setiap bahan pustaka menjadi dasar penempatan di rak.

Mengisi papan rak dengan teratur, mengurutkan dari kanan ke kiri, setiap buku diberi penentuan yang menunjukkan isi dari rak yang bersangkutan serta sandi buku referensi ditambah huruf R dan ditempatkan pada rak khusus.

Dokumen terkait